ANTAK AKAN KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Hampir setahun, orangutan Antak berada di kandang. Kalah bersaing dengan orangutan jantan lainnya adalah penyebab utama dia harus kembali ke kandang. Awalnya adalah laporan dari teknisi yang mengawasi pulau orangutan. “Sudah tiga hari Antak tidak terlihat. Biasanya Antak akan muncul saat pakan orangutan diberikan pada pagi maupun sore hari. Ini sama sekali tidak muncul.”, ujar Danel. Pencarian Antak pun segera dilakukan. “Sebelumnya, Antak terlihat berkelahi dengan Nigel.”, tambah Danel, taknisi orangutan yang mengawasi pulau pra-rilis COP Borneo.

Akhir Januari 2017, Antak ditemukan dalam kondisi kurus dengan luka-luka di bagian kepala, pinggul dan bibirnya. “Perkelahian antar orangutan jantan.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Selanjutnya tim medis COP Borneo akan mengobati luka-luka pada Antak dan memperbaiki berat badannya yang menurun drastis.

Awal tahun 2018 ini, tim medis memutuskan untuk mengembalikan Antak kembali ke pulau. Berat badannya sudah kembali, luka-lukanya sudah pulih. Jika Antak lebih lama lagi di kandang ini akan semakin membuatnya mundur. Bagaimana pun, kandang sangat membatasi geraknya.

Pulau pra-rilis orangutan adalah bagian dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Di pulau ini, orangutan nyaris tidak bertemu dengan manusia. Pemantauan orangutan dari seberang pulau dan patroli mengelilingi pulau dengan perahu untuk mengecek aktivitas orangutan, selain pada pagi dan sore hari saat memberi pakan orangutan. Ini adalah tahapan akhir orangutan sebelum dilepasliarkan kembali ke hutan.

AUTOPSY NEEDED FOR ORANGUTAN BODY

Once again, an orangutan body was found in Barito River, Buntok, Central Kalimantan. The body’s condition was heartbreaking to see: no head, no hair all over the body.

This is the second time a body of orangutan was found floating in a river, the first case was back in May 2016 in Sangatta River, East Kalimantan. Back then, the body was secured by the local police and a necropsy was conducted to investigate the cause of death, however it won’t reveal who did it.

Today, the body found in Barito River by BKSDA Central Kalimantan was burried, no necropsy conducted. This is very unfortunate, since a thorough examination by veteranarians would be highly beneficial to investigate what was the cause of death, especially when the body found was in a very unsual condition.

Centre for Orangutan Protection dissatisfied with the swift action taken by BKSDA, burrying the adult male orangutan body found floating with no head in Kalahien back in January 15th 2018. It is expected for BKSDA Central Kalimantan to act proactively to solve this serious crime. Autopsy is the first step to solve the crime, and BKSDA have the qualified partners such as BOSF, OFI and COP. COP has involved in similar case in the past, supporting BKSDA East Kalimantan and Bontang Police.

“The immediate burrial sent a message as a hurried burrial to make it impossible to investigate the possible suspects,” said Ramadhani, Program Manager of Habitat Protection COP.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

MAYAT ORANGUTAN PERLU OTOPSI
Lagi, ditemukan satu mayat yang diduga adalah satwa liar yang dilindungi yaitu orangutan di Sungai Barito, Buntok, Kalimantan Tengah. Kondisi yang sangat mengenaskan ialah mayat ditemukan tanpa kepala, rambut atau bulu diseluruh tubuh sudah tidak ada.

Penemuan mayat orangutan ini menjadi catatan yang kedua ditemukan mengapung di sungai, yang mana pada bulan Mei 2016 ditemukan juga satu mayat orangutan di Sungai Sangatta, Kalimantan Timur. Saat itu mayat diamankan oleh pihak Kepolisian dan dilakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Namun tidak bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhannya.

Hari ini mayat yang ditemukan di Sungai Barito oleh pihak BKSDA Kalimantan Tengah tidak dilakukan nekropsi namun langsung dikubur. Sangat disayangkan sebenarnya karena dengan pemeriksaan mayat oleh dokter hewan akan menjadi data tambahan yang sangat ilmiah dalam mengungkap penyebab kematian. Apalagi mayat yang ditemukan sangat tidak wajar.

Centre for Orangutan Protection menyesalkan gerak cepat BKSDA Kalteng dalam menguburkan jenazah 1 (satu) orangutan jantan dewasa yang ditemukan tewas mengapung tanpa kepala di Kalahien pada tanggal 15 Januari 2018. Sudah seharusnya BKSDA proaktif untuk membongkar kasus kejahatan serius ini. Otopsi adalah langkah awal untuk itu dan BKSDA Kalteng memiliki mitra – mitra yang memiliki kemampuan dalam hal ini seperti Yayasan BOSF, OFI dan COP. COP sendiri pernah membantu aparat BKSDA Kaltim dan Polres Bontang dalam penanganan kasus kejahatan seperti ini.

“Penguburan segera jenazah orangutan terkesan seperti penguburan segera kasus ini sehingga tidak bisa dilacak lagi kemungkinan tersangkanya,” kata Ramadhani, Program Manager Perlindungan Habitat dari COP.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
081349271904

RELAWAN COP BORNEO SAAT NATAL DAN TAHUN BARU 2018

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu liburan. Contohnya ya menjadi relawan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Jadi selama libur hari Natal, para karyawan COP Borneo ada yang libur untuk menjalankan ibadah. Sementara kegiatan di pusat rehabilitasi harus tetap berjalan. Untuk mengantikan tugas beberapa karyawan inilah para relawan sangat dibutuhkan.

Setelah melalui beberapa tahapan, baik secara administrasi maupun pemeriksaan kesehatan, para relawan akhirnya bisa bertugas di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Apa saja sih yang menjadi tanggung jawab mereka? Salah satunya ya menyediakan makanan orangutan. Mulai dari belanja pakan di pasar dan ladang masyarakat, menimbang buah, memotong-motong dan mengantarkan makanan tersebut ke pulau orangutan. Selain itu juga mengawasi aktivitas orangutan di pulau, apakah mereka bertingkah laku wajar, apakah mereka mendapatkan makanan semua sampai ada perkelahian atau tidak.

“Seru sih pastinya.”, ujar Nur dan Oniel yang merupakan orangufriends Samarinda. Yang pasti, kamu harus siap hidup tanpa signal telepon apalagi internet. Kamu juga harus siap hidup terbatas dengan aliran listrik. Terimakasih Nur, Oniel dan Danang (Surabaya). Semoga pengalaman kali ini menjadikan liburan akhir tahunmu lebih berarti dan mengajak teman-temanmu untuk ikut peduli pada kerabat kera besar kita yang satu ini.

CRUCIAL , ORANGUTAN IN LESAN RIVER PROTECTED FOREST

Deforestation of forested areas to open Palm Oil plantations around the Lesan Ricer Protected Forest allegedly threatened the orangutan population of the sub-species of Pongo Pygmaeus Morio. Recent surveys show that the orangutan population within the Lesan River Protected Forest continues to decline year by year.

The Lesan River Protected Forest covering 13,565 hectares is an important habitat for orangutans and various rare wildlife species and protected by laws such as sun bears, leopards and Grafts. Unfortunately, its conservation efforts are sabotaged by palm oil companies so that forested areas that should be the connecting corridor between Lesan River Protected Forest and other otangutan habitats are running out.

On July 8th and August 2nd 2017 the Center for Orangutan Protection (COP) together with the East Kalimantan BKSDAE section was forced to transplant orangutans in areas that were supposed to be corridors but had been cut off by palm oil plantation and settlement activities. Sadly, 1 (one) individual orangutan found on August 2nd 2017 suffered serious head injuries. Most likely hacked with sharp weapons such as machetes.

A Serious focused effort is absolutely necessary to maintain the remaining population. BKSDAE of East Kalimantan has released 1 (one) individual 15-year-old male orangutan ex-rehabilitation Center for Orangutan Protection on September 16th, 2017. The release was followed by monitoring and securing the area involving the local community. At least 5 (five) orangutans will again be released in the region. However, such efforts will be in vain if the palm oil companies around the area have no intention of participating in safeguarding Indonesia’s wildlife.

For Information and Interviews:

Ramadhani
Habitat Protection Program Manager
Email : ramadhani@orangutan.id
Mobile : 081349271904

GAWAT, ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN
Pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit di dan sekitar Hutan Lindung Sungai Lesan diduga kuat telah mengancam populasi orangutan Kalimantan sub spesies Pongo pygmaeus morio. Survey terbaru menunjukkan bahwa populasi orangutan di dalam kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan terus menurun dari tahun ke tahun.

Hutan Lindung Sungai Lesan yang luasnya mencapai 13.565 ha merupakan habitat penting bagi orangutan dan beraneka jenis satwa liar langka dan dilindungi undang-undang seperti beruang madu, macan dahan dan rangkok. Sayangnya, upaya konservasinya disabotase oleh perusahaan-perusahaan kelapa sawit sehingga kawasan-kawasan berhutan yang seharusnya menjadi koridor penghubung antara Hutan Lindung Sungai Lesan dengan habitat orangutan lainnya semakin habis.

Pada tanggal 8 Juli dan 2 Agustus 2017 Centre for Orangutan Protection (COP) bersama seksi BKSDAE Kalimantan Timur terpaksa mentranslokasi orangutan di kawasan yang seharusnya menjadi koridor tetapi telah terpotong dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Yang menyedihkan, 1 (satu) individu orangutan yang ditemukan pada tanggal 2 Agustus 2017 mengalami luka serius pada bagian kepala. Kemungkinan besar dibacok dengan senjata tajam seperti parang.

Sebuah upaya terfokus untuk serius mutlak diperlukan untuk mempertahankan populasi yang tersisa. BKSDAE Kaltim telah melepasliarkan 1 (satu) individu orangutan jantan berusia 15 tahun eks-rehabilitasi Centre for Orangutan Protection pada tanggal 16 September 2017. Pelepasliaran tersebut diikuti dengan pemantauan dan pengamanan kawasan yang melibatkan masyarakat setempat. Setidaknya 5 (lima) orangutan lagi akan dilepasliarkan di kawasan tersebut. Namun demikian, upaya tersebut akan sia-sia jika perusahaan kelapa sawit di sekitar kawasan tidak memiliki niat untuk turut menjaga satwa liar kebanggaan Indonesia ini.

Untuk informasi dan wawancara:

Ramadhani
Manajer Program Perlingungan Habitat
email : ramadhani@orangutan.id
HP : 081349271904

MICHELLE BUTUH KELAS BARU

Memasuki bulan ke-delapan Michelle tidak mengikuti sekolah hutan lagi. Michelle tumbuh menjadi besar dan menunjukkan keliarannya. Icel panggilan akrabnya sulit untuk dikontrol dan cenderung sesukanya. Tidak mudah menyuruhnya untuk berlatih di hutan, malah sebaliknya dia mendekati animal keeper dan menyerang. Icel juga seperti memberi keburukan pada kelas sekolah hutan. Icel sering menyakiti orangutan kecil lainnya. Itulah sebabnya Icel harus menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi.

Namun… animal keeper semakin sering membuatkannya enrichment agar Icel tidak bosan selama di kandang. Bagaimana tidak, makanan harus selalu diberikan dalam bentuk penuh tantangan. Kalau tidak, Icel akan ngambek ketika animal keeper membawakan makanan ke kandang orangutan-orangutan kecil terlebih dahulu. “Kalau sudah begitu, Icel mulai menarik-narik sarung tangan siapa pun yang bisa dijangkaunya.”, ujar Jevri.

“Sangat memprihatinkan melihat orangutan-orangutan yang berada di kelas sekolah hutan tumbuh menjadi besar dan liar. Seperti Icel yang sudah bisa memanjat 35 meter, menyelesaikan panjatan pohon besarnya hingga ujung bahkan Icel lah satu-satunya orangutan di kelas sekolah hutan yang bisa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Kami tidak bisa lagi mengajaknya ke sekolah hutan karena dia semakin sering kembali ke kandang saat sekolah hutan dan Icel menganggu orangutan-orangutan kecil lainnya. Kami berharap ada pulau lagi yang bisa kami gunakan untuk orangutan betina seperti pulau pra-rilis yang dihuni orangutan jantan.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo penuh harapan.

Mari bantu kami untuk mencari pulau kecil yang bisa menjadi tempat orangutan betina berlatih sebelum dilepasliarkan kembali ke hutan. Sebarkan dan bantu kami lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

ARTI LIANA UNTUK ORANGUTAN

Bisakah kamu menemukan bayi orangutan di antara tumbuhan Liana? Inilah sekolah hutan untuk bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. “Kalau sudah bergelantungan di sini, mereka akan lupa waktu dan kami yang menunggu di bawah sini.”, ujar Wety Rupiana.
Liana adalah tumbuhan memanjat yang banyak ditemukan di hutan tropis. Liana adalah tumbuhan yang merambat, memanjat bahkan menggantung. Akar Liana akan tetap berada di tanah. Liana akan bersaing dengan pohon lainnya untuk mendapatkan cahaya matahari. Dan Orangutan akan semakin mudah berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain melalui batang Liana ini. “Popi suka sekali diajak ke sini.”, ujar Wety lagi.
Popi akan masih dalam perawatan COP Borneo untuk beberapa tahun ke depan. Kamu bisa mengadopsi Popi secara virtual lewat tautan http://www.orangutan.id/adopt/#4

RENCANA UNTUK UNTUNG DI TAHUN 2018

Ini dia orangutan tanpa jari yang lengkap. Awal tahun 2010, COP bertemu dengan di Kebun Raya UNMUL Samarinda. Tubuh kecilnya meringkuk di sudut kandang. Setelah diamati penuh, ternyata dia tidak memiliki 2 jari di tangan kirinya. Kami pun memanggilnya dengan Untung. Karena dengan kondisi jari seperti itu, dia masih mampu memanjat dengan baik.

Kini Untung berada di pulau pra-rilis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo sejak akhir 2015. Untung adalah orangutan yang paling sering berada di atas pohon. Sarang-sarang buatan Untung setinggi 10-15 meter. Sayangnya, Untung tidak takut pada manusia. Bahkan dia sangat tertarik dengan manusia.

Bersama Unyil, orangutan yang diselamatkan dari toilet yang lembab, Untung sering terlihat merampas makanan orangutan lainnya. Sesekali menganggu Unyil. Untung juga sering terlihat mencari makanan di pulau. Kambium pohon dan buah ara adalah pakan alami yang sering dimakannya.

Pada tahun 2018 ini, COP Borneo berencana melepasliarkan kembali orangutan eks-kebun binatang. Salah satu kandidat utamanya adalah orangutan Untung. Apakah Untung bisa mempertahankan pencapaian penilaiannya selama ini? Kita tunggu kabarnya ya! Kamu bisa bantu pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan orang Indonesia lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

NIGEL KABUR DARI KANDANG

Saat memberikan makanan di sore hari untuk orangutan yang berada di kandang, tak terkecuali di kandang karantina tempat Nigel berada. Kandang ini cukup jauh dari kandang yang lain, karena ini adalah kandang dimana orangutan menjalani evaluasi medis akhir untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Nigel, orangutan yang paling siap secara perilaku terpaksa menunda kebebasannya karena herpes yang dideritanya kembali terdeteksi.

Nigel tidak ada di kandang! Kandang kosong! Nigel keluar dengan cara membuka baut kandang bagian atas… tidak melewati pintu. Pencarian Nigel pun segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga. Beruntung Nigel belum terlalu jauh meninggalkan kandang yang berarti belum terlalu lama kami akhirnya mengetahui dia tidak ada di kandang.

Hari mulai gelap, sekali lagi kami berpacu dengan waktu. Nigel ditembak bius… pingsan dan kembali masuk kandang. Maafkan kami Nigel. “Akhir tahun 2017 yang menegangkan bagi tim APE Defender.”, ujar Reza Kurniawan. (REZ)

KOKOHNYA SARANG ORANGUTAN LIAR

Informasi adanya konflik orangutan dengan perkebunan kelapa sawit pertengahan Desember 2017 yang lalu mengingatkan saya dengan sarang orangutan yang berhasil kami temukan. Sarang yang terletak di ujung pohon atau sering juga disebut sarang orangutan bertipe 3 berada di pucuk pohon dengan kelas 2 karena daun yang ada sudah mulai tidak segar bahkan berwarna coklat, namun bentuk sarang masih utuh.

Tanpa ragu, Danel memanjat pohon dan sesaat sudah berada di sarang tersebut. “Jalinan ranting-ranting pohon yang kokoh ini jadi PR (pekerjaan rumah) kami saat sekolah hutan”, ujar Danel terkagum-kagum.

Umumnya, orangutan liar yang hidup di hutan akan membuat sarang setiap harinya. Biasanya pada siang hari, orangutan akan membuat sarang yang cukup membuat istirahat siangnya nyaman. Dan akan membuat sarang yang lebih besar pada sore hari untuk tidur malamnya. Orangutan adalah satwa yang sangat tergantung pada pohon, aktivitasnya hampir sepanjang hari dihabiskan di atas pohon, karena itu orangutan disebut satwa aboreal. Dapat dibayangkan saat pohon-pohon hutan yang besar berganti menjadi pohon sawit yang tak bisa dipanjat atau dirangkai menjadi sarang.

“Masih terbayang betapa bingungnya induk orangutan dan anaknya tanpa pohon. Perayaan Natal tahun ini menjadi begitu menyedihkan.”, ujar Wety Rupiana. Bantu Centre for Orangutan Protection menyelamatkan orangutan dan habitatnya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

REGENERASI ALA CENTRE FOR ORANGUTAN PROTECTION

Tumbuh dan berkembangnya organisasi perlindungan orangutan asli Indonesia ini dapat dilihat dari caranya menghasilkan generasi muda yang akan melanjutkan nafas konservasi ini. Centre for Orangutan Protection menjalankan sekolah konservasi tahunannya yang disebut dengan COP School. Dua ratus dua puluh satu orang dengan dasar konservasi orangutan sudah bergabung selama tujuh tahun terakhir ini. Mereka juga dengan aktif membantu COP dengan caranya masing-masing.

“Kami bangga dengan para alumni COP School. Mereka membantu COP dengan caranya yang unik. Mulai dari membuat acara-acara amal seperti musik (Sound For Orangutan/SFO), seni (Art For Orangutan/AFO) bahkan bulan November lalu ada kelas melukis dengan berdonasi untuk orangutan, olahraga seperti Futsal For Orangutan, Rafting For Orangutan, Yoga Orangutan, membuat kelas memasak (Cooking For Orangutan) dan mengikuti pameran-pameran dengan membantu penjualan merchandise COP yang keuntungannya untuk perlindungan orangutan. Selain acara amal, mereka juga aktif di edukasi dan penyadartahuan kenapa orangutan dan COP hadir.”, jelas Ramadhani disela-sela kegiatan Jambore Orangufriends.

Jambore Orangufriends adalah acara berbagi cerita orangufriends (kelompok pendukung COP) dari seluruh Indonesia bahkan dunia. Mereka semua berkumpul untuk saling berbagi pengalaman dan ide untuk perlindungan orangutan Indonesia. “Bahkan mereka merencanakan kegiatan di Jambore Orangufriends dan dilanjutkan dengan komunikasi lewat grup whatsapp, line maupun facebook untuk melanjutkan ide-ide tersebut. Dan pada harinya, mereka akan saling datang untuk mendukung kegiatan orangufriends lainnya.”, ujar Dhani, panggilan akrab kepala sekolah COP School Batch 7.

Keunikan kegiatan ini tak lepas dari keahlian para orangufriends. “Jadi dulunya ada pemateri dari With Compassion and Soul, suatu organisasi dari Australia yang berbagi pengalaman bagaimana mengumpulkan dana untuk kegiatan perlindungan orangutan. Yang paling utama adalah, gali kesukaan dan kemampuan diri, lalu hasilkan atau buatlah kegiatan dari kesukaan kita tersebut. Maka lahirlah berbagai acara amal untuk mendukung COP.”, kata Hery Susanto, kapten APE Warrior yang bertugas menggali dukungan publiknya COP.

Kalau kamu? #proudoforangufriends