TOLONG ANJING KUCING DI GUNUNG AGUNG

Ketika terjadi bencana alam seperti gunung meletus, apa yang terjadi dengan satwa peliharaan? Sebagian dari mereka akan tewas saat itu juga dan yang bertahan hidup akan mati kelaparan dan kehausan karena ditinggal pemiliknya yang mengungsi.

Seperti kata penyumbang di https://kitabisa.com/anjingkucingbali ,”Anjing dan kucing adalah anggota keluarga kita, namun sering sekali tertinggal ketika kita menyelamatkan diri dari bencana alam.”.

Sejak tahun 2010, COP dengan tim APE Warriornya bekerja menyelamatkan binatang apapun, baik yang liar maupun domestik di berbagai bencana alam seperti lutusan gunung Merapi di Yogyakarta, gunung Sinabung di Sumatera Utara maupun gunung Kelud di Kediri. Kini tim sedang bekerja di gunung Agung, Bali.

Kami memberikan pengobatan, makan, minum dan memelihara dalam shelter darurat serta menguburkan yang sudah mati dengan layak. COP memanggil Orangufriends untuk terlibat langsung menangani satwa bencana gunung Agung, Bali. Bantu kami lewat https://kitabisa.com/anjingkucingbali

MALAM HARI DI CAMP LEJAK

Saat teman-teman pulang dari monitoring adalah saatnya makan malam bersama. Rejeki bagi penyuka ikan, di sinilah tempatnya. Herlina, sang juru masak tinggal minta tambahan lauk maka abang Bit dan abang Yusak segera turun ke sungai di depan camp Lejak. Sesaat menebar jala dan lauk tambahan pun tersedia di dapur.

Lelah berjalan di hutan ketika mengikuti orangutan Oki berkurang dengan sambutan hangat teman-teman di camp Lejak. Begitulah kami saling mendukung satu sama lainnya. Bercerita maupun mendengarkan cerita dan bercanda-gurau menjadikan camp Lejak hangat.

Malam berganti pagi, penat kemarin pun berakhir. Meja ini adalah saksi kekeluargaan APE Guardian. Terimakasih pendukung COP dimana pun berada, dukungan kalian adalah semangat kami. Kami tidak sendiri. (NIK)

APE WARRIOR UNTUK SATWA GUNUNG AGUNG

Gunung tertinggi di pulau Bali ini dinyatakan berstatus Waspada pada 14 Juli 2017 yang lalu. Ini berarti berada di level II untuk gunung berapi yang aktif. Radius 3 kilometer dari kawah gunung pun menjadi steril, tidak boleh ada aktivitas pada radius tersebut.

Sejak itu pula, intensitas kegempaan menjadi lebih sering. Dan pada Senin, 18 September, Gunung Agung yang terletak di kabupaten Karangasem, Bali ditetapkan berstatus Siaga. Penduduk sekitar gunung mulai mengungsi secara mandiri.

Terhitung Jumat, 22 September 2017 pukul 20.30 WITA, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Kementrian ESDM mengumumkan kenaikan status gunung Agung ke level IV yaitu menjadi Awas. Radius larangan untuk tidak beraktivitasi di 9 kilometer hingga wilayah sektoral 12 kilometer pun dikeluarkan.

Keesokan paginya, Centre for Orangutan Protection (COP), Animals Indonesia, JAAN dan Bali Dong Adoption Rehabilitation Centre (BARC) langsung turun ke lapangan dan memberi pertolongan pada satwa-satwa yang membutuhkan. Berkoordinasi dengan pihak terkait pun dilakukan agar bantuan lebih tepat sasaran.

APE Warrior dengan pengalamannya menangani bencana gunung berapi pun meluncur ke pulau dewata ini bersama satu relawan. Peralatan dan perlengkapan pun memenuhi tim legendaris ini. Semoga sampai ditujuan dan segera bisa membantu satwa yang terdampak bencana gunung Agung.

APE GUARDIAN MONITORING OKI

Kegiatan pasca pelepasliaran orangutan rehabilitasi adalah monitoring orangutan tersebut. Ini adalah bagian terberat yang harus dilakukan. Harus punya fisik kuat, kemampuan survival memadai dan mental yang tangguh. Inilah kemampuan tim APE Guardian COP untuk memastikan orangutan Oki, mampu bertahan di alam.

Monitoring dilakukan setiap hari mulai pukul 04.00 WITA hingga 19.00 WITA. Saat matahari belum muncul hingga matahari hilang di ufuk Barat. Tim mencatat setiap hasil pengamatan sepanjang waktu itu. Jenis sarang yang dibuat Oki, makan apa saja, cuaca, lokasi dan aktivitas Oki keseluruhan. Bukan hal mudah mengikuti pergerakan orangutan yang selalu berada di atas pohon. Sementara tim harus mencari jalan namun tak boleh kehilangan orangutan Oki.

Tim Monitoring didukung tim logistik. Tanpa kerjasama ini, mustahil sukses. Perjalan mengikuti dan kembali camp sudah sangat menguras tenaga, itu sebabnya, tim logistik mendukung penuh tim monitoring ini, termasuk konsumsi dan tidurnya tim monitoring.

Anen dan Jhonny dengan supervisi Reza Kurniawan mengisi formulir data dan catatan penting lainnya. Mereka berdua adalah dua orang yang paham karakter Oki selama di pulau orangutan. Sementara dua orang lokal bertanggung jawab sebagai pemandu jalur lapangan.

Seperti apa hasil monitoring Oki? Ikuti terus #OKIisOK! ya. (NIK)

PELIHARA ELANG MELANGGAR HUKUM

Pemberitaan media cetak dan online tentang penangkapan pedagang elang brontok pada 11 September menyadarkan ibu Masriah, bahwa dia melanggar hukum. Ibu Masriah pun akhirnya menyerahkan dua elang laut (Haliaeetus heucogaster) kepada BKSDA Pos Sampit dibantu Manggala Agni dan APE Crusader.

Menurut keterangan warga kecamatan Mentaya Baru Ketapang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah ini, kedua elang dipeliharanya selama enam bulan. Kedua elang dimasukkan ke dalam kandang berukuran 5×6 meter dan diberi makan ikan setiap pagi dan sore hari.

“Serah-terima ini adalah contoh kesadaran masyarakat dalam memahami bahwa elang adalah satwa yang termasuk dilindungi UU No. 5 Tahun 1990.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

Keesokan harinya, elang-elang dibawa ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun dan bersiap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya untuk menjalani perannya dalam rantai makanan. “Elang adalah predator puncak pada rantai makanan yang mempunyai peran sangat penting di alam liar. Membiarkan satwa liar di alam adalah tindakan terbaik manusia untuk kelestarian alam.”, kata Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP. (Petz)

HAPPI WON’T COME DOWN

Lina walk faster to the Clinic. She took a bottle, pour in warm water and four spoon full of milk then stir it. Milk for luring Happi the orangutan that won’t come down were made in the speed of tlight.

This is not the first time Happi the orangutan won’t come down from the tree. Usually when the time to come home, Owi the orangutan came down and not long after other orangutans will follow, Happi not exception. But this time when all the orangutans had come down, back to the cage and all the hammocks had been packed, Happi the orangutan still did not want to go down. it’s had been 45 minutes for Herlina, animal keeper yelled for Happi but ignored. Happi was busy eating the fruit of the forest, sitting in the nest at the tip of the tree.

Climb to catch up.. not possible. The tree is to high, almost 25 meters. Desperate, Herlina sat at the root of the tree waiting for Happi the orangutan. The milk she made was also useless, Happi the orangutan did not look down at all. But Lina did not give up, her eyes always looked up, hoping Happi will saw it.

“Pucuk di cinta, ulam pun tiba” (shoots in loved, dish arrived – Indonesian words means : gaining something more than what been hope for/ dream for – Ed). Herlina waited was not in vain. Happi the orangutan sees it and immediately looks for ways to get off. It took about 10 minutes for Happi to get off the tree. “Happi is to cool to play, not realizing that all other orangutans are back in the cage,” said Lina. “Happi, if you want to climb later on, remember the time ya, Nak! Your mother is not able to climb to get you,” she added. (Dhea_Orangufriends)

HAPPI TIDAK MAU TURUN
Kaki Lina melaju cepat menuju klinik. Lina mengambil botol, mengisinya dengan air hangat dan memasukkan empat sendok susu lalu mengaduknya. Susu untuk memancing orangutan Happi yang tak mau turun pun jadi secepat kilat.

Ini bukan kali pertama orangutan Happi tidak mau turun pohon. Biasanya ketika waktunya pulang, orangutan Owi akan turun lalu tak lama kemudian orangutan yang lain akan mengikutinya, tidak terkecuali Happi. Namun kali ini ketika semua orangutan sudah turun, kembali ke kandang dan semua hammock sudah dikemasi, orangutan Happi masih saja tidak mau turun. 45 menit sudah Herlina, animal keeper teriak-teriak memanggil Happi tetapi tidak juga dihiraukannya. Happi sibuk memakan buah hutan, duduk di sarang buatannya di ujung pohon.

Memanjat untuk menyusulnya… tidak mungkin. Pohonnya terlalu tinggi, hampir 25 meter. Seperti putus asa, Herlina duduk di akar pohon menunggu orangutan Happi. Susu yang dibuatnya pun juga seperti tidak berguna, orangutan Happi tidak melihat ke bawah sama sekali. Tapi Lina tidak menyerah, matanya selalu melihat ke atas, berharap orangutan Happi melihatnya.

Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Penantian Herlina tidak sia-sia. Orangutan Happi melihatnya dan segera mencari cara untuk turun. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk Happi bisa turun dari pohonnya. “Happi terlalu asik main, tidak sadar kalau teman-temannya sudah kembali ke kandang semua.”, ujar Lina. “Happi, besok-besok kalau manjat, ingat waktu ya nak. Ibumu ini ngak bisa manjat nyusulin kamu.”, tambahnya. (WET)

SAAT KANDANG ANGKUT DIBUKA

Inilah waktu yang di nanti. Mengangkat pintu kandang angkut dan menyaksikan orangutan OKI meraih batang pohon pertamanya di hutan yang akan menjadi rumah barunya. Bapak Sunandar, kepala BKSDA Kalimantan Timur lah yang membukakan pintu kebebasan itu kepada Oki. Oki yang sejak 2010 yang lalu dikenal COP di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS) akhirnya bebas dalam arti sesungguhnya.

“Awalnya, kami hanya berani bermimpi untuk Oki yang saat itu berada satu kandang dengan dua orangutan lainnya. Di dalam kandang 3x3x1 meter yang terlihat sempit, Oki berbagi kandang dengan Hercules dan Antak yang mulai terlihat stres. Ya saat itu Antak mulai memainkan air liurnya sendiri dan memakan kotorannya sendiri. Sebulan kemudian, kadang bertambah satu penghuni, yaitu Nigel yang terlihat sangat murung. Mimpi kami, membongkar jeruji besi. Kandang dengan teralis besi berganti kandang terbuka atau enclosure.”, kenang Ramadhani, manajer Komunikasi COP.

Januari 2010, Ramadhani bertugas pertama kali ke Kalimantan Timur tepatnya di KRUS. Perlahan tapi pasti, Centre for Orangutan Protection mencoba untuk membantu KRUS dalam hal perawatan satwanya. Kandang-kandang satwa dipenuhi enrichment, orangufriends (kelompok pendukung COP) Samarinda secara bergantian menjadi interpreter atau pemandu bagi pengunjung di kebun binatang dengan harapan pengunjung turut diedukasi karena mereka juga turut bertanggung jawab. Selain itu juga ada program peningkatan kapasitas para perawat satwanya dan meningkatkan kesejahteraan satwanya menjadi fokus utama. Suatu kebun binatang yang tanpa pengelolaan yang baik hanya akan membuat satwa penghuninya menderita.

“Ayo Oki… ekplore terus sekitarmu. Carilah makan terbaik mu di hutan. Jangan dekati lagi manusia.”, teriak Daniek, manajer aksi COP dengan semangat.

EX-ZOO INHABITAT ORANGUTAN RELEASE TO NATURAL HABITAT

East Kalimantan Natural Resource Conservation Center (BKSDA KALTIM) release 1 (one) individual orangutan ex-rehabilitation in Lesan River Protected Forest (HLSL), Berau District, East Kalimantan. Soon to be released are 15 years old male Orangutan. The Orangutan named Okibhas undergone all stages of rehabilitation at the COP Borneo Orangutan Rhabilitation Center for 2,5 years.

Oki was evacuated from a zoo in Samarinda with ten other orangutans back in April 2015. In general, those ten orangutans has undergo a rehabilitation process excellently and achieve ready status to be released.
Their readiness were shown by their wild behavior, such as their way of foraging fot foods, their movements in the canopy, and building nests. The release actions will be conducted in several phases. We expected, by the end of December 2017, all of the rescued orangutans has return to the natural habitat.
The rehabilitation process includes Quarantine in early Arrivals, the they started to learn about natural foods and how to collect them, building nests, recognizing dangers as well as predators, and then taken back to quarantine to made sure that they don’t carry any pathogens and disease such as hepatitis an tuberculosis. This process is crucial to avoid any infections that may have impacted other orangutans in the natural habitat.
All the rehabilitation process was conducted inside Labanan research forest area and an isle under the supervision of the Assembly of Research and Development for Dipterocarp Forest Ecosystem (BP2THP).

To ensure the safety of orangutans and post- release survival, Centre for Orangutan Protection and the communities of several villages around HLSL form and place 1 (one) joint team in HLSL. The team will monitor and submit periodic progress reports to the Ministry of Environtment and Foresty for evaluation. The team is strategically established for working together with KPHP West Berau which serves as a ranger thatsecures the area from illegal legging and hunting threats.

Siaran Pers

ORANGUTAN EKS KEBUN BINATANG DILEPASLIARKAN KE HABITAT ALAMINYA

Untuk disiarkan segera 16 September 2017

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA KALTIM) melepasliarkan 1 (satu) individu orangutan eks rehabilitasi di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Orangutan yang dilepasliarkan berumur kurang lebih 15 tahun dan berjenis kelamin jantan. Orangutan bernama Oki tersebut telah menjalani seluruh tahapan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo selama 2,5 tahun.

Oki dievakuasi dari sebuah kebun binatang di Samarinda bersama 10 (sepuluh) orangutan lainnya pada bulan April 2015. Secara umum, 10 (sepuluh) orangutan tersebut menjalani proses rehabilitasi dengan baik dan telah siap untuk dilepasliarkan. Kesiapan tersebut ditunjukkan dengan perilaku mereka yang sudah sangat liar, mulai dari mencari makan, pergerakan di kanopi hingga membangun sarang. Pelaksanaan pelepasliaran akan dilakukan secara bertahap. Diharapkan, pada akhir bulan Desember 2017, seluruhnya telah kembali ke habitat alaminya. Proses rehabilitasi meliputi karantina di awal kedatangan, kemudian belajar mengenal dan mencari pakan alami, membuat sarang dan mengenali bahaya termasuk pemangsa dan kemudian kembali lagi ke karantina untuk memastikan bahwa orangutan tidak mengidap penyakit berbahaya seperti hepatitis dan tubercolusis. Hal ini penting dilakukan guna mencegah penularan penyakit yang memungkinkan kepada orangutan lainnya di habitat alaminya. Seluruh proses rehabilitasi dilaksanakan di dalam kawasan Hutan Penelitian Labanan dan Pulau Bawan Kecil di bawah supervisi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD).

Untuk memastikan keamanan orangutan dan kelangsungan hidup paska pelepasliaran, Centre for Orangutan Protection dan masyarakat beberapa desa sekitar HLSL membentuk dan menempatkan 1 (satu) tim gabungan di HLSL. Tim ini akan memantau dan menyampaikan laporan perkembangan secara berkala ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk dievaluasi. Tim ini secara strategis dibentuk atas kerja bersama dengan KPHP Berau Barat yang berfungsi sebagai ranger yang mengamankan kawasan dari ancaman pembalakan liar dan perburuan.

Narasumber :
1. Ir. Sunandar Trigunajasa (Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur).
2. Ir. Ahmad Saerozi (Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Ekosistem Hutan Dipterokarpa / B2P2EHD).
3. Ir. Syafruddin (Kepala UPT DKPHP Berau Barat).
4. Hardi Baktiantoro (Ketua Centre for Orangutan Protection)

PENYERAHAN BERUANG MADU DARI ANTANG KALANG

Seseorang akan langsung jatuh hati pada satwa. Biasanya karena lucunya. Lucunya pada saat masih bayi. Dan pada saat bayi itulah, satwa diculik dari induknya. Bagaimana dengan induknya? Kecarian anaknya… atau mati saat mempertahankan anaknya. Inilah nasib beruang madu. Kalung yang melingkar di lehernya adalah tanda unik dari jenis beruang dengan tubuh yang tak terlalu besar.

Selasa, 12 September 2017, bayi beruang madu berusia 1 tahun diserahkan warga Parenggean, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Timur. Beruang madu yang berasal dari desa Sungai Keruh, kecamatan Antang Kalang ini ditemukan pak Cuandi saat mencari batu akik. Bayi beruang madu dipelihara seseorang. Setelah Pak Cuandi datang untuk yang ke-5 kali nya, beruang madu akhirnya diserahkan ke kantor BKSDA Pos Sampit. “Terimakasih pak Cuandi atas bantuannya menyerahkan beruang madu yang termasuk satwa dilindungi UU No. 5 Tahun 1990.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

“Selanjutnya dari arahan BKSDA Pos Sampit, Bayi beruang madu akan kami antar ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP. “Selain beruang madu, kami akan mengantarkan 1 ekor anakan burung elang yang berasal dari perdagangan ilegal hasil operasi tangkap tangan 11 Agustus 2017 yang lalu.”, tambah Faruq. Selanjutnya, kedua satwa diharapkan dapat melalui rehabilitasi untuk dilepasliarkan kembali ke alam. (PETz)

HUTAN, RUMAH BARU OKI

Oki adalah orangutan pertama dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS) yang akan dilepasliarkan oleh Centre for Orangutan Protection setelah melalui rangkaian rehabilitasi di COP Borneo.

“Kami mengenal Oki sejak tahun 2010. Jalan panjang yang dilalui untuk membawanya kembali ke hutan tak lepas dari peran serta banyak pihak. Bukan kerja sendiri. Bukan pula usaha sendiri. Kepedulian banyak orang dan organisasi yang mendukung COP yang membawanya pulang, ke rumahnya, hutan.”, ujar Hardi Baktiantoro, pendiri COP.

Di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), kabupaten Berau, Kalimantan Timur akan menjadi rumah baru untuk Oki. Hutan dengan luas sebelas ribu hektar dengan status Hutan Lindung diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi perlindungan orangutan dan hutan. “Ya, orangutan adalah satwa yang sangat membantu dalam regenerasi tumbuhan di hutan. Daya jelajah dan variasi makanannya akan menjaga keberlangsungan tumbuhan dengan cepat. Melestarikan hutan lewat orangutan.”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.