SURAT TERBUKA BUAT CHELSEA ISLAN

Chelsea Elizabeth Islan yang baik, perkenalkan nama saya Ramadhani. Saya salah satu dari jutaan orang di Indonesia yang sangat mengagumi karya Tuhan melalui kecantikan kamu. Saya bekerja disebuah lembaga penyelamatan satwa liar. Mimpi kami hanya satu “satwa liar Indonesia tetap ada”, yaa paling gak punahnya gak cepet-cepet amatlah.

Orangutan, elang, kukang dan banyak satwa asli Negara kita sekarang jadi bahan koleksi peliharaan layaknya anjing dan kucing. Dipelihara dalam rumah dengan alasan lucu dan sayang. Itu yang diperkotaan Chels. Kalau dipelosok satwa-satwa itu bisa saja jadi rica-rica…

Capek loh Chels bikin anak-anak kecil agar mengerti pentingnya satwa liar. Teman-teman relawan harus cari link guru agar tembus surat permohonan edukasi disekolah. Trus kita juga harus mikir dan kreatif agar edukasi yang cuman 1-2 jam kami lakukan bisa diingat mereka sepanjang hayatnya.
Kalo tantangan untuk orang dewasa diperkotaan, mereka sangat pintar (*baca: sekolah), jadi mereka sangat bisa sekali ngeles kalau kita bilang “elang jangan dipelihara”. Alasan mereka bisa seribu bahkan sejuta. Lain lagi dengan warga yang jauh dari kota. Kita gak bisa asal bacot “Selamatkan Orangutan”, “Selamatkan Hutan”, “Selamatkan Beruang Madu”. Buat mereka itu lauk dan uang. Kami harus kerja keras lagi muter otak gimana caranya agar mereka mendukung. Gak bisa cuman dikerjain dalam 6 bulan, setahun apalagi sebulan bahkan sehari rapat kampung. Mereka harus didampingi dan kita ubah mata pencaharian mereka dari berburu satwa menjadi bekerja lain. Tau kan Chels beratnya… Makanya foto kamu didompet itu penyemangat saya kala lelah.

Sampe keluarga saya aja nanya “Dhani, kerjaan kamu itu apa sih?”. Karena di Negara kita kerja penyelamatan satwa itu kerjaan kasta paria. Capek loh Chels kerja ngurus satwa liar dan gak didukung. Itu cuman dibagian edukasi loh, belum teman-teman dibagian ngurus satwa yang berdarah-darah, tengkorak dan tangan orangutan hampir putus karena jerat. Kerja Edukasi gak bisa dilakukan dalam setahun. Panjaaaang sekali.

Namun perjuangan kami yang bertahun-tahun itu bisa bubar, rusak dan hancur gara-gara hanya satu foto seorang model yang sangat cantik dan terkenal berfoto bareng dengan orangutan. Ulah tim kreatif dan tukang fotonya bolos pas kami edukasi disekolahnya. Orang yang liat foto itu akan mayoritas berpikir kalau satwa liar bisa dipelihara dan dimiliki dalam rumah. Mereka bisa saja beli asal ada duit dan perburuan dihutanpun terjadi lagi. Semua HANCUR dan RUNYAM.

Chels, kamu jangan kaya gitu yaa. Bisa hancur hati saya. Saya percaya hati dan kepintaran kamu lebih baik dari model mantan presenter dahsyat itu. (DAN)

PENYELAMATAN ORANGUTAN ALOI

Minggu pagi bukanlah hari untuk berlibur. Satu orangutan jantan berusia 2 tahun menanti untuk diselamatkan APE Crusader. Bersama BKSDA Pos Sampit, tim segera meluncur ke desa Eka Bahurui, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Menurut bapak Opik yang menemukan bayi orangutan tersebut, orangutan terpisah dari induknya ditemukan di tengah kebun yang kemudian dirawat selama enam bulan. Orangutan ini pun diberi nama Aloi. Selama dirawat bapak Opik, Aloi diberi makan apa saja seperti biskuit, buah bahkan nasi.

“Sangat disayangkan, bayi orangutan sampai terpisah dengan induknya di sebuah kebun warga. Hilangnya hutan karena alih fungsinya yang merupakan habitat orangutan merupakan penyebab utama, orangutan mendekati manusia. Anak orangutan akan selalu menempel pada induknya hingga berusia 6-8 tahun. Terpisahnya induk dan anak dapat dipastikan induknya tewas.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader sambil mengamati Aloi yang terlihat ketakutan.

Keberadaan Aloi ini merupakan informasi dari masyarakat. “Pada hari Jumat (29/11) ada yang melaporkan orangutan dipelihara. Setelah kami periksa kebenarannya, tim pun segera meluncur ke lokasi untuk mengevakuasi.”, ujar pak Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

Sosialisasi orangutan adalah satwa yang dilindungi Undang-undang akan semakin digalakkan. ”Kami berharap masyarakat dapat dengan sukarela melaporkan atau memberitahu keberadaan pemeliharaan satwa liar dilindungi UU No 5 tahun 1990 ini.”, tambah pak Muriasyah.

Aloi akan dibawa ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun untuk menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitas. Ini akan menjad kesempatan keduanyanya untuk kembali ke hutan yang merupakan habitatnya dan menjadikannya satwa dengan peran penghijauan alami terbaik. (Petz)

SEKOLAH HUTAN COP BORNEO UNTUK BAYI

Ketika mendengar kata sekolah hutan pasti banyak diantara kita yang bertanya apa itu sekolah hutan? Sekolah kok di hutan! Sekolah apa itu?

Sekolah hutan adalah rutinitas setiap hari para animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ketika selesai bersih kandang dan feeding pagi biasanya para bayi orangutan akan dibawa ke hutan untuk sekolah hutan. Untuk apa mereka dibawa ke sekolah hutan?

Rata-rata bayi orangutan yang datang di COP Borneo masih berusia sangat muda, di bawah satu tahun. Di COP Borneo para bayi orangutan wajib untuk mengikuti sekolah hutan. Di sekolah hutan mereka akan belajar dan bermain, belajar mengenali alam liar tempat tinggal mereka kelak dan juga bermain untuk membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka. Di alam liar para bayi orangutan akan selalu bersama induknya sampai sekitar umur 6-7 tahun dan selama itu pulalah mereka akan belajar bertahan hidup dari induknya. Di COP Borneo para keeperlah yang mengajari dan menemani mereka bermain di hutan. Lalu para bayi orangutan ini bermain apa di sekolah?

Bermacam-macam aktivitas selama bayi orangutan berada di sekolah hutan. Arena sekolah hutan seperti tempat untuk mengekspresikan diri mereka, sekedar berguling-guling di tanah atau berayun-ayun di akar. Akar yang menggantung di antara pepohonan adalah mainan idola bagi para bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo karena dengan bantuan akar tersebut mereka dapat naik ke ujung pohon. Bonti adalah salah satu orangutan yang sangat suka bermain di akar, biasanya dia akan berayun-ayun di akar dan ketika sudah bosan dia hanya akan bergelantungan di akar sambil memandangi keeper dari atas pohon. (WET)

SEMINGGU SEJAK AWAS GUNUNG AGUNG

Tepat seminggu COP membantu penanganan satwa pada bencana gunung Agung, Bali. Bekerja sama dengan Animals Indonesia, Bali’s Pet Crusader, BARC dan JAAN membangun penampungan sementara untuk satwa yang terdampak, mendistribusikan pakan ke anjing kucing maupun hewan ternak di desa-desa yang ditinggal mengungsi warganya. Ini bisa terlaksana setelah berkoordinasi dengan BNPB, Dinas terkait dan mendapat pengawalan dari Polsek setempat.

Terimakasih orangufriends yang telah bergabung langsung ke lokasi dan donasi melalui https://kitabisa.com/anjingkucingbali Tim APE Warrior adalah tim disaster relief yang telah bekerja sejak tahun 2010 untuk menangani bencana gunung Merapi di Yogya, gunung Kelud di Kediri, gunung Sinabung di Sumatera Utara. Tak hanya penanganan satwa pada bencana gunung berapi saja, tetapi juga gempa Bantul di Yogya, tanah longsor hingga banjir. APE Warrior dibantu orangufriends adalah tim tanggap bencana kebanggaan COP yang bergerak cepat dengan berkoordinasi dengan pihak terkait.

DICARI RELAWAN UNTUK CAMP LEJAK

Camp ini adalah camp yang telah kosong selama beberapa tahun. Camp yang dibangun dari program kerja Dinas Kehutanan/KPH dengan TNC ini sejak bulan Maret 2017 diperbaiki tim APE Guardian COP. Posisinya yang tepat di pinggir sungai Lejak ini pun kembali hidup dengan program monitoring dan patroli kawasan. Dalam seminggu ada 2-3 patroli kawasan untuk pengamanan kawasan sekaligus memantau pergerakan orangutan Oki dan menelisik potensi wisata.

Di camp Lejak inilah tim monitoring beristirahat malam hari. Camp Lejak dapat menampung 20 orang loh. Empat kamar dengan empat toilet serta satu dapur membuat camp lejak adalah tempat yang nyaman untuk disinggahi. Siapa nih yang tertarik untuk jadi relawan di sini?

COP memanggil orangufriends untuk menjadi relawan tim APE Guardian. Edukasi ke sekolah dan desa yang berbatasan dengan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), mitigasi konflik satwa liar, pemetaan potensi wisata alam dan budaya serta patroli pengamanan kawasan HLSL adalah tugas yang akan dikerjakan para relawan. Segera hubungi info@orangutanprotection.com ya.

RELAWAN SATWA GUNUNG AGUNG

Hari ke-6 berada di Bali untuk satwa gunung Agung yang berstatus Awas. Animals Indonesia, Bali’s Pet Crusader, BARC, Centre for Orangutan Protection dan JAAN hari ini ’street feeding’ di desa Jungutan dan Buana Giri kecamatan Bebandem, Bali. Wilayah dengan zona kuning di sisi tenggara gunung Agung atau radius sekitar 9 km dari kawah. Tidak seperti sebelumnya, kami tidak menemukan banyak anjing di wilayah ini.

Koordinasi dengan Polsek setempat adalah prosedur standar operasional tim #disasterreliefbali Selalu saja ada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencari kesempatan di saat bencana terjadi. Beberapa hari yang lalu, warga menangkap pencuri dan relawan gadungan di desa yang ditinggal mengungsi. Itu membuat warga curiga jika ada orang asing yang masuk ke desa mereka. Pendampingan dari Polsek setempat juga untuk menjaga keselamatan tim karena gunung Agung bisa sewaktu-waktu meletus.

Terimakasih orangufriends Yogya dan Jakarta yang sudah bergabung untuk membantu APE Warrior dalam penanganan satwa bencana. “Keselamatan diri adalah yang utama.”, ujar Yulfianto Angga dari COP. “Namun satwa-satwa yang ditinggal pemiliknya juga makhluk bernyawa yang harus dibantu.”, tambahnya.

Kamu bisa bantu anjing kucing bencana gunung Agung Bali lewat https://kitabisa.com/anjingkucingbali Siapapun kamu, dan dimana pun kamu, bisa menjadi relawan sesungguhnya. (ANG)

WHEN BONTI SEPERATED WITH OWI

Even baby Bonti the Orangutan always with baby Owi, not that he always stuck like a glue in stamps on the envelope. Owi always had a way to get rid of his loyal followers… Bonti. The way Owi.. escaped and approached the animal keeper who was then invited him to go to the forest school. Bonti is most is most afraid of the animal keeper. Maybe Bonti traumatized with humans. “The baby’s orangutan is separated from her mother when the dog is pursuing the mother.”, Bonti’s founder said when asked by the APE Crusader team.

Over the past three months, Bonti has been practicing more often in the trees. “Climbing the tree though not too high is enough to make us happy,” said Wety Rupiana. Just look at how he tried to move from one tree to another. The movement of his feet make the animal keeper stand their ground, worrying Bonti might fell. “Too Bad, Bonti still can not make a nest. He just broke the twigs and turned it into a toy.”, added Wety.

Hopefully the weather will be more friendly, to keep the forest schools running every day. “We believe. The more they practice in the forest school, the orangutan babies will accelerate more quickly. They must have their natural instincts, “said Reza Kurniawan, manager of the COP Borneo. (dhea_orangufriends)

SAAT BONTI TERPISAH DENGAN OWI
Walaupun bayi orangutan Bonti selalu bersama bayi orangutan Owi, bukan berarti dia selalu menempel seperti perangko menempel pada amplop. Owi selalu ada cara untuk lepas dari pengikut setianya… Bonti. Caranya… Owi melarikan diri dan mendekati animal keeper yang saat itu mengajaknya ke sekolah hutan. Bonti memang paling takut dengan animal keeper. Mungkin, Bonti trauma dengan manusia. “Bayi orangutan betina ini terpisah dari induknya saat anjing mengejar induk orangutan ini.”, ujar penemu orangutan Bonti saat ditanyai tim APE Crusader.

Selama tiga bulan terakhir, Bonti semakin sering berlatih di pohon. “Memanjat pohon walau tak terlalu tinggi sudah cukup membuat kami bahagia.”, ujar Wety Rupiana. Lihat saja bagaimana dia mencoba berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Gerakan kakunya membuat para animal keeper berjaga-jaga, kawatir Bonti terjatuh. “Sayang, Bonti masih belum bisa membuat sarang. Dia hanya mematah-matahkan ranting dan dijadikan mainan.”, tambah Wety.

Semoga saja cuaca semakin bersahabat, agar sekolah hutan tetap berjalan setiap hari. “Kami berkeyakinan, semakin sering mereka berlatih di sekolah hutan, bayi-bayi orangutan akan semakin cepat menyesuaikan diri. Mereka pasti punya insting alaminya.”, kata Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

COP BORNEO ORANGUTAN FUNDRAISING TOUR – MARCH 2018

Ini adalah salah satu cara kamu berdonasi untuk orangutan. Ikut perjalanan COP Borneo Orangutan Fundraising di bulan Maret 2018. Selama delapan hari dengan grup kecil akan menyaksikan orangutan, beruang madu dan kehidupan satwa liar lainnya termasuk mengamati burung. Tak hanya menikmati hutan hujan tropis Kalimantan, tapi keindahan dan keunikan budaya Dayak yang merupakan suku asli Kalimantan pun ikut menyapa kamu.

Orangutan adalah satwa unik yang mirip sekali dengan manusia. Kunjungan ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang merupakan satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan oleh putra putri Indonesia akan membawa kita ke suasana lokal yang kental. COP Borneo dijalankan oleh anak muda lokal dengan mimpi untuk mengembalikan orangutan ke alam sebagi rumah terbaik orangutan.

Hardi Baktiantoro si pendiri Centre for Orangutan Protection (COP), akan menemani perjalananmu di COP Borneo Orangutan Fundraising. Tak hanya Hardi, tapi Leif Cocks yang juga merupakan pendiri The Orangutan Project (TOP) akan berbagi pengalaman denganmu, bagaimana menyelamatkan orangutan dan melepasliarkan kembali orangutan ke alam. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa bertemu dengan keduanya, mendengarkan pengalaman nyata mereka di dunia konservasi orangutan.

Tunggu apalagi? Segera daftarkan keikutsertaanmu di COP Borneo Orangutan Fundraising Tour. Just click http://www.orangutanodysseys.com/EXPEDITIONS/INDONESIA/Expeditions/Detail/COP%20Borneo%20Orangutan%20Fundraising%20Tour%20-%20March%202018&xpdkey=COPBOFT/referrer_source=COP

TOLONG ANJING KUCING DI GUNUNG AGUNG

Ketika terjadi bencana alam seperti gunung meletus, apa yang terjadi dengan satwa peliharaan? Sebagian dari mereka akan tewas saat itu juga dan yang bertahan hidup akan mati kelaparan dan kehausan karena ditinggal pemiliknya yang mengungsi.

Seperti kata penyumbang di https://kitabisa.com/anjingkucingbali ,”Anjing dan kucing adalah anggota keluarga kita, namun sering sekali tertinggal ketika kita menyelamatkan diri dari bencana alam.”.

Sejak tahun 2010, COP dengan tim APE Warriornya bekerja menyelamatkan binatang apapun, baik yang liar maupun domestik di berbagai bencana alam seperti lutusan gunung Merapi di Yogyakarta, gunung Sinabung di Sumatera Utara maupun gunung Kelud di Kediri. Kini tim sedang bekerja di gunung Agung, Bali.

Kami memberikan pengobatan, makan, minum dan memelihara dalam shelter darurat serta menguburkan yang sudah mati dengan layak. COP memanggil Orangufriends untuk terlibat langsung menangani satwa bencana gunung Agung, Bali. Bantu kami lewat https://kitabisa.com/anjingkucingbali

MALAM HARI DI CAMP LEJAK

Saat teman-teman pulang dari monitoring adalah saatnya makan malam bersama. Rejeki bagi penyuka ikan, di sinilah tempatnya. Herlina, sang juru masak tinggal minta tambahan lauk maka abang Bit dan abang Yusak segera turun ke sungai di depan camp Lejak. Sesaat menebar jala dan lauk tambahan pun tersedia di dapur.

Lelah berjalan di hutan ketika mengikuti orangutan Oki berkurang dengan sambutan hangat teman-teman di camp Lejak. Begitulah kami saling mendukung satu sama lainnya. Bercerita maupun mendengarkan cerita dan bercanda-gurau menjadikan camp Lejak hangat.

Malam berganti pagi, penat kemarin pun berakhir. Meja ini adalah saksi kekeluargaan APE Guardian. Terimakasih pendukung COP dimana pun berada, dukungan kalian adalah semangat kami. Kami tidak sendiri. (NIK)