KATA JHONY, BELAJAR!

Namanya Jhoni. Lahir 20 tahun yang lalu dan dibesarkan dengan kultur Dayak di kampung Merasa, kabupaten Berau, kalimantan Timur. Slah satu animal keeper pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang cepat menanjak walaupun hanya berijasah setingkat SMP.

Jhoni adalah salah satu keeper yang mengikuti COP School Batch 6 di bulan Mei 2016 di Yogyakarta dengan biaya sendiri. Dia menabung setiap bulan setelah menerima gaji dan menitipkan uangnya kepada staf lain untuk disimpan. Semangat belajar itu akhirnya mengantarkan Jhoni untuk pertama kalinya keluar pulau Kalimantan.

“Yang penting mau baca, belajar dan belajar. Kita orang Dayak harus bisa buktikan kepada dunia kalau kita bukan pemakan orangutan. Kita harus buktikan pada mereka yang pintar-pintar itu kala kita yang bodoh dan tidak bersekolah juga bisa menyelamatkan orangutan. Itu pesan paulinus kepada saya yang membuat saya mau belajar dan belajar di COP”, ujar Jhoni dengan semangat.

Apa buku terakhir yang kamu baca?
“Sejarah Tuhan dan Bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer. (DAN)

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

SCHOOL VISIT AT SD 009 LESAN DAYAK

Ini adalah salah satu kegiatan tim relawan yang bertugas di tim APE Guardian. APE Guardian adalah tim yang bertanggung jawab pada kegiatan pasca pelepasliaran orangutan. Orangutan Oki yang pertengahan bulan lalu dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Lesan berbatasan langsung dengan beberapa desa. Untuk berjaga-jaga adanya konflik satwa liar dengan manusia, maka tim ini pun bergerilya edukasi ke sekolah-sekolah.

26 Oktober 2017, relawan APE Guardian menuju SD 009 Kelay yang berada di kampung Lesan Dayak, Kalimantan Timur. Tak banyak muridnya, hanya 18 siswa yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Cukup dikumpulkan dalam satu kelas, dan edukasi orangutan pun berjalan selama satu jam.

Melalui gambar-gambar satwa yang menghuni Hutan Lindung Sungai Lesan, para relawan memulai edukasi yang diawali dengan sikap malu-malu para siswa. “Mungkin karena para siswa masih bingung dengan kunjungan edukasi baru kali ini.”, cerita Yanto. Tim pun tak kalah akal… lagi-lagi games/permainan berhasil menarik perhatian siswa. Dan permainan tebak gambar menjadi pemecah kemalu-maluan itu. Ipeh, relawan APE Guardian juga semakin bersemangat mengajak para siswa benyanyi bersama di kelas. Sebelum diakhiri dengan foto bersama, Ipeh dan Yanto membagi-bagikan poster dan stiker untuk siswa dan guru. (EJA)

ANAK MUDA DI KONSER AMAL ORANGUTAN

Perahu dengan mesin kecil berkekuatan 15 PK ini kami sebut ketinting. Perahu pertama kami dengan warna dominan jingga atau oranye ini dibuat tahun 2015 dengan nama “WAY BACK HOME”. Banyak orang bertanya kenapa bernama Way Back Home?

13 Oktober 2015 relawan COP yang bergabung dalan Orangufriends kota Yogyakarta membuat konser musik amal tahunan yang dikenal dengan Sound For Orangutan (SFO). SFO 2015 Yogyakarta saat itu bertema ‘Way back Home’. Sejalan dengan program pembangunan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur saat itu.

Dari kegiatan SFO 2015 yang dikerjakan anak muda terbaik dan didominasi panitia perempuan, konser amal ini menghadirkan band-band anak muda Indonesia seperti FSTVLST, Down For Life, Broken Rose, Seringai, Sri Plecit dan Miskin Porno. Keuntungan penjualan tiket dari SFO 2015 inilah yang digunakan untuk membeli mesin ketinting dan membuat perahu Way back Home. Selama masih ada anak-anak muda Indonesia peduli satwa liar, kami yakin perjuangan menyelamatkan orangutan tidak akan berhenti.

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

EKOWISATA UNTUK JAGA ALAM

Namanya Susilawati Jalung. Dua tahun lalu diwisuda sebagai sarjana sastra Inggris. Kami memanggilnya Uci. Lahir dari orangtua yang keduanya suku Dayak. Uci dibesarkan di kampung Merasa yang merupakan kampung Dayak di kabupaten Berau, kalimantan Timur. Satu tahun terkahir ini, Uci bersama anak-anak muda di kampung Merasa membangun dan menjalankan kelompok ekowisata.

Perempuan muda nan tangguh yang dimiliki COP ini tidak hanya menjalankan pendampingan masyarakat tapi juga mengelola edukasi, mengatur jadwal pengobatan medis satwa domestik yang dilakukan tim medis COP Borneo di kampung Merasa.

“Dengan adanya ekowisata kami berharap ada masyarakat yang terbantu ekonominya. Dari situ mereka bisa akan berusaha untuk menjaga lingkungan sekitar aset wisatanya.”, semangat Uci di atas perahu Ecotripnya.

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

UNYIL DAN SARANGNYA

Siapakah orangutan yang sering membuat sarang di pulau orangutan? Jawabannya adalah orangutan Novi dan Unyil. Kalau Novi sering membuat sarang ketika selesai feeding sore, sementara Unyil membuat sarang pada siang hari.

Di pulau pra-rilis orangutan banyak terdapat pohon ara. Orangutan Unyil sangat suka sekali makan buah ara dan biasanya orangutan Unyil akan membuat sarang di pohon ara. Penasaran seperti apa sarang buatan orangutan Unyil? Sama seperti sarang orangutan pada umumnya. Sarang Unyil pun terdiri dari tumpukan daun dan ranting yang dipatah-patahkan dan terlihat nyaman untuk dijadikan tempat istirahat.

Tapi… saat sarang sudah selesai dibuat. “Unyil akan meninggalkannya begitu saja. Sering juga ranting dan daun-daun penyusun sarang dihamburkan lagi.”, ujar Idam teknisi pos pantau pulau orangutan. Dan itu tidak hanya kelakuan Unyil, orangutan lainnya yang menghuni pulau pra-rilis orangutan COP Borneo juga tak menggunakan sarang sebagai tempat istirahatnya saat siang hari. “Mereka membuat sarang hanya untuk bermain, seperti Unyil. Mungkinkah mereka meniru Unyil?”, gumam Idam lagi.

Ketika sore semakin pekat, semua orangutan di pulau akan mencari pohon favoritnya dan sibuk membuat sarang untuk tidur, tak terkecuali Unyil. Unyil akan mencari kembali bekas sarang buatannya, merenovasinya dengan tambahan daun maupun ranting baru. (WET)

KAKAK PEMANJAT ULUNG COP BORNEO

Namanya Jevri. Namun di KTP (Kartu Tanda Penduduk) tertulis Jeuri. Entah siapa yang memulai kesalahan penulisan dalam rekam administrasi pemerintahan. Umurnya saat ini baru 18 tahun. Namun Jevri adalah animal keeper terbaik yang dimiliki pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur.

Keahliannya adalah mengajak orangutan yang sudah terlanjur jinak dan tidak mengerti arti pohon dan memanjat pohon. Jevri adalah salah satu keeper yang bisa memanjat pohon tinggi dan bahkan bisa berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Jangan berpikir semua orangutan bisa memanjat, karena orangutan yang masuk pusat rehabilitasi adalah korban konflik yang salah satunya lama dipelihara manusia dah tak pernah mengenal pohon lagi.

Keahlian semacam memanjat pohon dan bertahan hidup di hutan adalah hal mutlak yang harus dikuasai oleh anak-anak muda Dayak di perkampungan. Pengalaman itulah yang membawanya bergabung di program rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia.

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan
#sumpahpemuda

PENELITI ORANGUTAN AMANAH

Reza Dwi Kurniawan, akrab dipanggil Ejak. Saat ini menajadi Manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Berau Kalimantan Timur. Sarjana Antropologi dari Universitas Airlangga, Surabaya tahun 2015 ini merupakan orang tertua di COP Borneo.
“Yaa… kami semua muda dan sayalah yang tertua umurnya di COP Borneo.”
Apa mimpi kamu?
“Saya ingin melanjutkan studi Master Antropologi jika ada yang mau memberikan saya beasiswa. Saya ingin jadi peneliti orangutan yang amanah. Hahahahaha.”
Apa maksudnya amanah?
“Saya ingin menjadi peneliti orangutan berkewarganegaraan Indonesia yang tidak melacurkan diri ke perkebunan kelapa sawit.”

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

ORANGUTAN COMPETITION 2017

Serunya babak pertama pertandingan Futsal For Orangutan yang merupakan rangkaian acara Orangutan Competition baru saja usai. Futsal Score, jalan Kaliurang km 9,5 Yogyakarta pada 24 Oktober kemaren mempertandingkan tim futsal putri BOPKRI, UPN, SMA Stella Duce 2, YKPN, Protect A, Denti Medos, PALAPA, TRACTOR FC, GADJAH MADA, QUEEN COBRA, PSIKOLOGI UGM dan FFYK. Pertandingan dimulai sejak pukul 16.00 WIB menjadi saksi sportivitas dan kepedulian pada orangutan. Hari ini, pertandingan babak kedua akan di mulai pukul 15.00 WIB. Jangan sampai ketinggalan ya… pertandingan 2×10 menit akan menentukan tim mu akan masuk semifinal atau tidak.

Futsal For Orangutan tahun ini adalah tahun ketiganya. Kelincahan anggota tim tak terlepas dari latihan dan disiplin yang luar biasa. “Ngak kebayang bisa bantu orangutan dengan bertanding futsal. Hanya di sini nih!”, ujar salah seorang peserta.

Tahun ini juga peserta lebih banyak karena panitia juga mengundang Sekolah Menangah Atas untuk berpartisipasi. “Tahun sebelumnya sebatas mahasiswa saja.”, ujar panitia. Tahun ini ada yang berbeda juga. Basket For Orangutan pun hadir bergabung di Orangutan Competition. Masih dengan tim basket putri. Kenapa putri ya? “Ya biar konflik ngak terlalu tinggi lah.”, ujarnya lagi.

Pertandingan basket akan digelar pada hari Kamis, 26 Oktober 2017 pukul 16.00 WIB. Tim yang ikut bertanding datang dari UTY, Psikologi UII, YKPN B, SMAN 1 Kalasan, SMAN 4 Yogyakarta, Kehutanan, SMA Stella Duce 2 dan YKPN A.

“Sungguh mengharukan melihat semangat merekat. Bahkan panitia bersungguh-sungguh mensukseskan Orangutan Competition ini. Melalui media sosial dan door to door mereka mengajak pemain futsal dan basket untuk peduli orangutan sejak jauh hari. . Kaos panitia itu juga menjadi begitu ekslusif, hasil kerja keras mereka.”, ujar Ramadhani, manajer komunikasi COP. “Benar-benar acara yang unik dan menginspirasi! Olahraga sambil berdonasi? Bagaimana caranya? Pemenang Orangutan Competition ini akan mendonasikan kemenangannya untuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kami haru sekali dengan usaha Orangufriends Yogyakarta.”, ujar Ramadhani sambil mempromosikan merchandise yang bisa didapat di tengah acara.

MOVIE SCREENING ORANGUTAN MUDA

Akhir bulan Oktober akan ada pemutaran film tentang orangutan. Suatu karya yang jarang sekali kita temui dari karya anak bangsa sendiri. Pemutaran dua film yang mengangkat isu orangutan terkini akan dimeriahkan oleh Nona Sepatu Kaca. Bangkai Kota yang berasal dari Yogyakarta dengan karyanya berjudul Solu dan Gladys Adityafitriani dengan karyanya yang berjudul Lara Pongo.

Bertempat di AOA Resto & Creative Space yang berada di Jl. Selokan Mataram No. 427, Condong Catur, Yogyakarta pada hari Minggu, 29 Oktober 2017 dari pukul 19.00 WIB hingga selesai. “Centre for Orangutan Protection bangga dengan anak-anak muda yang semakin kreatif dan peka terhadap permasalahan lingkungan terutama orangutan. Usaha orangufriends (kelompok pendukung COP) yang tiada hentinya, menularkan virus kepedulian pada orangutan tak hanya sebatas pada dunia akademis, tapi juga ke dunia perfilman.”, ujar Ramadhani, manajer komunikasi COP.

Solu adalah simbol orangutan Indonesia yang merupakan karya Bangkai Kota. Saat Solu kehilangan rumah dan temannya, ia yang kemudian pergi ke kota untuk mencari kehidupan baru. Namun ternyata kota tidak bersahabat dengan Solu, sehingga banyak kejadian buruk yang ia lihat, rasakan dan alami sampai akhirnya Solu memutuskan untuk pulang. Kemanakah Solu akan pulang?

Gladys Adityafitriani dari Jakarta dengan film dokumeternya menceritakan tentang orangutan Kalimantan Timur yang terancam punah. Lara Pongo bercerita tentang kegiatan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur. Dalam film dokumenter ini juga disampaikan faktor-faktor penyebab orangutan sampai masuk ke pusat rehabilitasi. Ini adalah sebuah proses panjang mengembalikan insting liar orangutan yang merupakan korban konflik manusia dan satwa liar.

“Luangkan waktumu untuk menikmati hasil karya anak muda Indonesia. Tunjukkan kepedulianmu pada orangutan dengan hadir di pemutaran film Orangutan Muda.”, ajak Ramadhani.

SAAT SI BOS KECIL MENGGEMASKAN KAMI

Dia memang orang yang paling kecil di pulau orangutan COP Borneo. Suatu pulau yang dihuni para orangutan yang menjalani rehabilitasi untuk dikembalikan ke alam. Tubuh kecilnya bukan berarti dia dengan gampang di “bully” oleh orangutan lain. Sebaliknya, Leci mendapat perlakuan yang baik dari semua penghuni orangutan pra-rilis. Bahkan Hercules, si penguasa pulau pun bisa dikatakan takluk dengan Leci.

Biasanya, saat feeding, orangutan Hercules selalu berusaha merampas makanan dari semua orangutan, namun Hercules tak pernah sekalipun merebut makanan Leci. Malah sebaliknya, Leci lah yang merebut makanan Hercules. Kalau sudah begitu, orangutan Hercules hanya bisa pasrah dan menyerahkan makanan ke orangutan Leci. Mungkinkah karena Leci dianggap anak kecil yang harus selalu dituruti? Atau anak kecil yang tak peduli dengan keberadaan orangutan yang lainnya?

Saat para laki-laki berada di satu tempat, mustahil tanpa perkelahian. Seperti halnya di pulau pusat rehabilitasi orangutan yang berpenghuni orangutan jantan. Perkelahian pun tak bisa terelakan lagi. Perebutan makanan atau sekedar ketidak-sukaan bisa memicu perkelahian. Dan ketika ada orangutan yang berkelahi, biasanya Leci akan mendekat lalu dengan santainya tidur-tiduran di antara mereka yang berkelahi. Kalau sudah begitu, mereka tidak jadi berkelahi lalu satu per satu pergi dengan sendirinya dan Leci tetap di situ untuk bermain.

Memang dasar anak kecil, umurnya masih sekitar 5 tahunan. Umur dimana anak orangutan seharusnya masih bersama induknya, bermain… dan bermain… tanpa peduli bahaya yang mengincar. (WET)