MICHELLE TERPAKSA MASUK KANDANG

“Mereka tumbuh menjadi lebih besar… kuat… dan pintar. Kami semakin kesulitan menangani Icel. Dua bulan terakhir ini, Icel terpaksa tidak ke sekolah hutan.”, ujar Wety dengan sedih. Michelle atau lebih sering dipanggil Icel adalah orangutan betina yang berusia 7 tahunan. Dengan tubuhnya yang semakin besar, Icel semakin sulit dikontrol bahkan menyerang animal keeper. Icel juga sering menyakiti orangutan lainnya yang jauh lebih kecil darinya.

Inilah kenyataan di orangutan. Saat masih bayi, semua orang berkeinginan untuk memeliharanya, seperti boneka. Saat orangutan tumbuh besar dan kuat dengan munculnya insting liarnya, maka kebebasannya pun harus berakhir.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang terletak di kabupaten Berau, Kalimantan Timur hanya memiliki pulau orangutan pra-rilis untuk orangutan jantan. Orangutan-orangutan jantan yang semakin besar dan mandiri, akan dilepaskan di pulau itu. Sementara untuk orangutan betina, belum memiliki pulau. Para animal keeper secara bergantian memberikan enrichment pada Michelle agar dia tetap senang dan tidak bosan selama di kandang.

Bantu COP untuk berbuat yang terbaik untuk orangutan-orangutan betina yang semakin besar. Selain itu ada orangutan-orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan kembali ke alam yang membutuhkan tempat terbaik selain kandang karantina. Mereka tidak bisa dilepasliarkan lagi karena penyakit yang bisa menularkan ke orangutan liar lainnya seperti Memo yang menderita hepatitis.

APE CRUSADER DISKUSI RINGAN BERSAMA SISWI SMA 1 KUMAI

Awal November 2017, 37 siswi SMA 1 Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah melakukan kunjungan rutin dalam pembelajaran materi penyemaian bibit untuk penanaman pasca kebakaran hutan yang terjadi tahun 2015. Siswi binaan dari program FNPF ini tergabung dalam ekstra kulikuler MIPA yang bernama Water Air Forest School Conservation (WAFSC). APE Crusader bergabung untuk diskusi orangutan, konflik satwa liar dan habitatnya.

WAFSC aktif dalam kegiatan biopori, pembuatan kompos organik, karya ilmiah remaja dan penanaman kembali hutan. Basuki Budi Santoro, manajer FNPF Kalimantan mengapresiasi semangat siswi binaannya yang aktif berkegiatan konservasi, “Kepedulian akan lingkungan untuk menjaga dan melestarikan hutan adalah modal dasar untuk mencapai tujuan jangka panjang konservasi berkelanjutan.”.

Peran aktif para siswi ditunjukkan pada semakin banyaknya pertanyaan mengenai dunia konservasi satwa liar, mulai dari habitatnya yang semakin tergusur dan hilang akibat alih fungsi hutan, perluasan atau pembukaan baru perkebunan kelapa sawit, kebakaran, perburuan liar, perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal.

Jesika, salah satu siswi SMA 1 Kumai menuturkan, “Kami di sini hidup berdampingan dengan hutan dan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kami sangat butuh informasi apa, kenapa dan bagaimana kami memperlakukan satwa liar khususnya orangutan ini. Diskusi kali ini, semoga menambah peran aktif kami dalam perlindungan lingkungan.”.

Kesempatan dalam diskusi santai kali ini menjadi semangat tersendiri untuk tim APE Crusader. “Selalu ada ide baru saat kunjungan edukasi dan penyadartahuan. Semangat mereka yang muda seperti vitamin untuk kami, menyelamatkan orangutan dan habitatnya.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader. (PETz)

UNTUNG ‘THE LUCKY’ IN COP BORNEO

A while ago, that little 18-months-old baby had to live inside a prison.. We called him ‘Untung’ – Indonesian word for lucky – because he was lucky he could survive since he’s lost some part of his fingers. He was also lucky to survive since he suffered from Hepatitis, but he still has got chance to go back where he came from, the wild. He was lucky he was small, since his cage was a bird cage. Untung was found by orangufriends Samarinda, COP Borneo volunteers that never got tired, running away from campus activities and work, to care for orangutans at Mulawarman University park, Samarinda. Untung ‘the lucky’ is lucky now he has grown into his adolescent.

His hesitation to climb trees is not unreasonable, his fingers are not perfect therefore it makes him difficult to hold on to branches. Untung can only perch on the branches like birds.. sitting.. crying. Once.. twice.. we don’t give up on him and take him to the trees. Come on Untung, you can climb it! Get your food! Bananas are the prize for him for climbing.

6 years later, Untung is not a baby anymore. No one is brave enough to go near him. Untung is one of the resident of pre-release island in COP Borneo. He is frequently seen on top of the tree. Sitting there and monitoring the situation. When he finds orangutan Novi, he’d chase her and start a fight. That is Untung, the lucky one.

UNTUNG YANG BERUNTUNG DI COP BORNEO
Saat itu, bayi yang berumur 18 bulan itu harus tinggal dalam penjara kecil… Menyebutnya dengan Untung karena beruntung tanpa jarinya yang sempurna dia masih bisa hidup. Beruntung juga walaupun menderita hepatitis tapi itu berasal dari alam dan Untung pun masih punya harapan untuk kembali ke alam. Beruntung dengan tubuh kecilnya meskipun diletakkan di kandang burung, Untung bertemu kami, relawan COP (Orangufriends) Samarinda yang tak kenal lelah, melarikan diri dari kampus maupun kerjaan ke KRUS untuk merawat orangutan-orangutan di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda. Beruntung lah Untung yang tanpa harapan kini tumbuh menjadi orangutan remaja.

Keragu-raguan mengajaknya memanjat pohon bukanlah tanpa alasan. Jarinya tak sempurna, bagaimana menggenggam dahan yang akan menjadi tumpuan. Untung pun hanya bisa bertengger seperti burung… diam… menangis. Sekali… dua kali tak putus asa mengajaknya ke pohon… “Ayo panjat! Ambil makananmu!”. Pisang pun menjadi iming-iming agar Untung mau berusaha memanjat, meraih makanannya.

Enam tahun berlalu, Untung bukanlah bayi lagi. Tak seorang pun berani mendekatinya. Untung adalah penghuni pulau pra-rilis COP Borneo. Dia lebih sering terlihat di atas pohon. Duduk-duduk di sana dan mengamati sekitarnya. Jika dia berhasil menemukan orangutan Novi, Untung akan mengejarnya dan mengajaknya berkelahi. Itulah Untung yang akan terus beruntung seperti namanya.

SANTRI PEDULI ORANGUTAN

Selasa, 31 Oktober yang lalu, APE Crusader melakukan kegiatan Ponpes Visit dalam rangka penyadartahuan dan pengenalan tentang orangutan dan satwa liar lainnya. Pondok Pesantren SMP IT Al-Huda Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah dengan 83 santrinya diajak untuk lebih peduli pada satwa liar yang terancam kepunahan akibat tergusurnya habitat satwa tersebut.

Melalui slide materi dan pemutaran video tentang orangutan dan habitatnya, APE Crusader mengisi sore hingga malam hari kegiatan di Ponpes Al Huda ini. “Mari kita berikan perhatian lebih pada satwa liar yang dilindungi khususnya orangutan yang menjadi satwa khas pulau Borneo ini.”, ujar Gusti Samudra, SE sebagai ketua Yayasan Ponpes SMP IT Al-Huda.

Rasa ingin tahu tentang sifat dan karateristik orangutan menjadi pertanyaan para santri paling banyak. Hilangnya habitat orangutan menjadikan kunjungan kali ini menjadi lebih berarti. Seperti kata salah seorang santri yang bernama Yudha, ”Menjaga dan melestarikan lingkungan dan menyelamatkan orangutan adalah salah satu cara kita bersyukur dan bertaqwa kepada Allah SWT.”. (PETz)

THE CALM SEPTI

Her name is Septi. This 13-year-old female orangutan is a very calm orangutan, never attacks or hurts the keeper. Septi will only pay attention to the animal keeper when the cage is cleaned. Septi will also wait for the animal keeper to finish putting her food in her place, then she takes the food.

Septi is an orangutan who entered the COP Borneo orangutan rehabilitation center at the end of October 2015. That means, for the past two years, Septi has been at the COP Borneo quarantine cage. However, lately, Septi is seen often bumping her legs into the cage next to her. Maybe she wants to invite other orangutan to communicate.

“I like watching Septi the most when coconut enrichment time. Septi really enjoyed it. Yes … she really likes coconut. Septi will eat all the contents of the coconut until it’s finished with her horrible teeth. “Said Wety Rupiana. “I can’t imagine if those teeth landed in my arms … will be torn apart,” added Wety spooky. (WET)

SI KALEM SEPTI

Septi namanya. Orangutan betina yang berusia 13 tahun ini adalah orangutan yang sangat kalem, tidak pernah melakukan penyerangan atau melukai keeper. Septi hanya akan memperhatikan animal keeper saat kandangnya dibersihkan. Septi juga akan menunggu animal keeper selesai meletakkan makannya di tempatnya, baru dia mengambil makanannya.

Septi adalah orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo pada akhir Oktober 2015. Itu berarti, sudah dua tahun ini, Septi berada di kandang karantina COP Borneo. Namun, akhir-akhir ini, Septi terlihat sering membentur-benturkan kakinya ke kandang sebelahnya. Mungkin dia ingin mengajak komunikasi orangutan lainnya.

“Aku paling suka mengamati Septi saat enrichment kelapa. Septi sangat menikmatinya. Ya… dia memang suka sekali dengan kelapa. Septi akan memakan seluruh isi kelapa sampai habis dengan giginya yang mengerikan.”, ujar Wety Rupiana. “Tak terbayangkan kalau gigi itu sampai mendarat di tangan ku… pasti koyak.”, tambah Wety seram. (WET)

BANTUAN MEDIS DARI OVAID TIBA DI KLINIK COP BORNEO

Senyum bahagia menerima barang-barang medis baru tak lepas dari kedua wajah dokter hewan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru yang telah lama diimpikannya. Ya… ini adalah mainan baru yang akan menemani Ryan dan Flora di klinik COP Borneo. Klinik mungil yang akan menjadi saksi kesehatan orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi orangutan pertama yang didirikan putra-putri Indonesia.

“Ini adalah autoclave… pekerjaan mensterilisasi alat-alat medis akan semakin mudah dengan alat ini. Tak perlu secara manual lagi.”, jelas drh. Flora penuh semangat. Ryan pun dengan semangat memeluk autoclave. “Aku peluk autoclave kamu clippernya ya Flo….”, ujar Ryan, “Dan jangan lupa difoto ya Wety!”.

OVAID adalah organisasi yang diawal kelahirannya telah mendukung kegiatan COP, terutama dibidang medisnya. Ini adalah tahun ke-3 nya secara teratur membantu COP mewujudkan beberapa peralatan yang memang dibutuhkan untuk menyelamatkan orangutan. Selain itu, OVAID juga turut membantu COP membangun sumber daya manusia di bidang medis lewat komunikasi jarak jauh dan terlibat menjadi pemateri di COP School. COP School adalah sebuah pelatihan untuk mereka yang peduli pada perlindungan orangutan secara khusus dan lingkungan secara umum.

Lalu… membantu Centre for Orangutan Protection bisa dengan banyak carakan! Seperti Orangutan Veterinary Aid lakukan yaitu membelikan peralatan medis. Yuk bantu orangutan Indonesia dengan caramu sendiri. Orangutan Indonesia membutuhkan bantuan mu.

SARANG HERCULES DI TANAH?

Setiap individu unik? Termasuk orangutan Hercules? Orangutan Hercules adalah orangutan yang sangat jarang membuat sarang di pulau pra-rilis COP Borneo. Ketika sore tiba, saat orangutan Novi, Unyil dan Untung sibuk memilih pohon untuk membuat sarang, orangutan Hercules juga sibuk memilih bekas sarang orangutan lain untuk dijadikan tempat tidurnya. Lalu… apa perkembangan Hercules di bulan Oktober ini?

Akhir-akhir ini, Hercules sering membuat sarang. Namun sarang yang dibuatnya bukanlah di pohon, melainkan di tanah. Ya, sangat berbeda dengan sarang orangutan di pohon. Sarang yang Hercules buat terdiri dari rumput-rumput, tidak ada daun maupun ranting dan tak bisa dikatakan untuk tempat beristirahat. Hercules terlihat hanya bermain dengan menumpuk-numpuk rerumputan.

Hercules adalah orangutan yang paling besar saat dia berada sekandang dengan Oki, Antak dan Nigel di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS), Kalimantan Timur di tahun 2010. Dia terkenal dengan sikapnya agresif dan suka merebut makanan ketiga orangutan yang sekandang dengannya. Saat diajak ke sekolah hutan, Hercules adalah orangutan besar yang takut ketinggian.

Perkembangannya yang lambat itulah yang membuatnya masih belum menjadi calon orangutan yang akan dilepasliarkan pada tahun 2017 ini. Tapi sarang buatannya kali ini memberikan harapan pada kami, semoga Hercules bisa terus belajar dan berkembang agar kelak kembali ke hutan yang merupakan habitatnya. (WET)

TIM BENCANA GUNUNG AGUNG PULANG

Sejak 2010, Centre for Orangutan Protection bekerja membantu satwa yang terdampak bencana alam. Tahun itu adalah saat COP pertama kali turun menyelamatkan hewan ternak dan peliharaan yang ditinggal pemiliknya mengunggsi karena bencana alam. Tahun ini pula lahir APE Warrior yang didukung Orangufriends (kelompok pendukung COP) di Yogyakarta saat gunung Merapi meletus dengan hebatnya. Menghadapi bencana tak bisa hanya sendiri. Bekerja sama adalah kunci utama keberhasilan bangkit dari bencana.

Selama satu bulan secara bergantian relawan COP membantu anjing, kucing maupun sapi yang berada di zona berbahaya gunung Agung, Bali. Sejak status gunung berapi ini menjadi awas pada 22 September yang lalu, tim penolong satwa ini bergerak cepat ke desa-desa yang ditinggal penduduk mengungsi. Tim ini bergerak dengan penuh perhitungan. Koordinasi dengan pemerintahan setempat dan Polsek suatu keharusan untuk menjaga keselamatan tim. Tentu saja koordinasi lintas organisasi untuk menghindari tumpang tindih bantuan harus diterapkan.

COP, BARC dan JAAN saling bahu membahu menyalurkan bantuan pakan satwa. “Luar biasa bantuan yang mengalir. Ada yang berbentuk pakan anjing kucing, ada juga dalam bentuk uang. Yang membantu kebutuhan tim juga ada. Di sinilah manajemen bencana berlaku. Uniknya, manajemen ini sangat dinamis dan cepat.”, jelas Hery Susanto, kapten APE Warrior COP.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 29 Oktober 2017 mengumumkan penurunan status gunung agung dari level IV (Awas) menjadi level III (Siaga). “Dengan status gunung Agung menjadi Siaga, COP menarik timnya dari Bali. Tapi kami tetap memantau situasi dan kondisi, agar dapat bergerak cepat jika dibutuhkan bantuan lagi.”, ujar Hery lagi.

Terimakasih semua pihak yang bekerja bersama dalam bencana gunung Agung ini. “Para donatur di kitabisa.com/anjingkucingbali kami berkemas untuk pulang kembali ke Yogya. Para pengungsi sudah mulai berdatangan kembali ke desa. Anjing dan kucing kembali bertemu dengan pemiliknya.”, kata Hery Susanto. Terimakasih International Fund for Animal Welfare (IFAW), BARC, Animals Indonesia, JAAN, Polsek setempat, BNPB dan penduduk desa yang mempercayakan kami membantu satwa bencana gunung Agung. Kami pulang.

KATA JHONY, BELAJAR!

Namanya Jhoni. Lahir 20 tahun yang lalu dan dibesarkan dengan kultur Dayak di kampung Merasa, kabupaten Berau, kalimantan Timur. Slah satu animal keeper pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang cepat menanjak walaupun hanya berijasah setingkat SMP.

Jhoni adalah salah satu keeper yang mengikuti COP School Batch 6 di bulan Mei 2016 di Yogyakarta dengan biaya sendiri. Dia menabung setiap bulan setelah menerima gaji dan menitipkan uangnya kepada staf lain untuk disimpan. Semangat belajar itu akhirnya mengantarkan Jhoni untuk pertama kalinya keluar pulau Kalimantan.

“Yang penting mau baca, belajar dan belajar. Kita orang Dayak harus bisa buktikan kepada dunia kalau kita bukan pemakan orangutan. Kita harus buktikan pada mereka yang pintar-pintar itu kala kita yang bodoh dan tidak bersekolah juga bisa menyelamatkan orangutan. Itu pesan paulinus kepada saya yang membuat saya mau belajar dan belajar di COP”, ujar Jhoni dengan semangat.

Apa buku terakhir yang kamu baca?
“Sejarah Tuhan dan Bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer. (DAN)

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

SCHOOL VISIT AT SD 009 LESAN DAYAK

Ini adalah salah satu kegiatan tim relawan yang bertugas di tim APE Guardian. APE Guardian adalah tim yang bertanggung jawab pada kegiatan pasca pelepasliaran orangutan. Orangutan Oki yang pertengahan bulan lalu dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Lesan berbatasan langsung dengan beberapa desa. Untuk berjaga-jaga adanya konflik satwa liar dengan manusia, maka tim ini pun bergerilya edukasi ke sekolah-sekolah.

26 Oktober 2017, relawan APE Guardian menuju SD 009 Kelay yang berada di kampung Lesan Dayak, Kalimantan Timur. Tak banyak muridnya, hanya 18 siswa yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 6. Cukup dikumpulkan dalam satu kelas, dan edukasi orangutan pun berjalan selama satu jam.

Melalui gambar-gambar satwa yang menghuni Hutan Lindung Sungai Lesan, para relawan memulai edukasi yang diawali dengan sikap malu-malu para siswa. “Mungkin karena para siswa masih bingung dengan kunjungan edukasi baru kali ini.”, cerita Yanto. Tim pun tak kalah akal… lagi-lagi games/permainan berhasil menarik perhatian siswa. Dan permainan tebak gambar menjadi pemecah kemalu-maluan itu. Ipeh, relawan APE Guardian juga semakin bersemangat mengajak para siswa benyanyi bersama di kelas. Sebelum diakhiri dengan foto bersama, Ipeh dan Yanto membagi-bagikan poster dan stiker untuk siswa dan guru. (EJA)