BERTEMU ORANG ‘GILA’ DI COP SCHOOL

Jika ada yang bertanya kegiatan ‘gila’ yang pernah saya ikuti, maka salah satu jawabannya adalah COP School!!! Hey, kenalkan, nama saya Desti Ariani asal Aceh. Saya adalah salah satu yang beruntung karena berhasil menjadi siswa COP School Batch 7 di tahun lalu yang diselenggarakan di camp APE Warrior Yogyakarta. Bukan hanya itu, mendapatkan saudara dan keluarga baru dari berbagai suku, latar belakang dari hampir seluruh daerah di Indonesia adalah bagian dari keberuntungan saya mendaftar COP School.

10-16 Mei 2017, hampir setahun kegiatan COP School Batch 7 berlalu. Artinya hampir setahun juga saya menjadi alumni COP School. Masih teringat jelas pengalaman dan keseruan yang luar biasa saya dapatkan mulai dari tahap seleksi untuk menjadi siswa, perjuangan untuk bisa berangkat ke Yogya, kegiatan selama masa COP School berlangsung bahkan sampai sekarang setelah menjadi alumni masih banyak hal seru lainnya yang saya dapatkan dalam melaksanakan tugas mandiri.

Semua di atas ekspektasi saya, mata dan pikiran saya terbuka lebar setelah mendapat pengetahuan tentang kondisi dan permasalahan satwa liar di Indonesia. Mengetahui dunia konservasi lewat materi yang disampaikan orang-orang ‘gila’ yang jadi idola. Berbagai pengalaman, diskusi, presentasi hingga praktek langsung ke lapangan menjadi rutinitas kami para siswa. Bosan? Tentu saja tidak. Karena kami belajar bukan dengan cara konvensional seperti di kampus pada umumnya. Permainan seru yang membuat kami semakin dekat, cemilan dan minuman anti ngantuk selalu ’nyempil’ disela kegiatan kami.

Sudah menjadi ritual bagi siswa COP School, berlomba-lomba bangun lebih pagi, mengambil bahan makanan untuk dimasak dan dimakan bersama. Saling pinjam peralatan masak, menyicip masakan dari kelompok lain dengan segala keriuhannya menjadi salah satu hal yang sangat dirindukan. Hal lain yang terbaik menurut saya, tidak ada perbedaan gender di sini, semua kegiatan bisa dikerjakan oleh siapapun dengan porsi yang sama, setara.

Tujuh hari berlalu, ditandakan dengan maraknya api unggun, memberikan cahaya ke wajah-wajah siswa COP School yang mulai sendu. Samar-samar suara gitar yang dimainkan oleh Faruq (siswa COP School Batch 7 lainnya) mengantarkan kami pada salam perpisahan serta ucapan rasa syukur dan terimakasih atas semua yang telah kami lewati bersama. COP School Batch 7 telah berakhir. Tapi itu adalah awal bagi kami untuk menjadi anak muda yang peduli dan mau berbuat untuk menjaga dan melindungi satwa dan menyebarkan nilai konservasi seluas-luasnya.

Sampai jumpa di COP School Batch 8, kalian wajib daftar!!! (Desti, copschool7)

ORANGUFRIENDS BANDUNG: AIR MATA PRIMATA

Aksi damai di halaman Gedung Sate Bandung, Selasa (30/01) untuk memperingati hari Primata Nasional oleh sekelompok animal defender merupakan hasil dari keresahaan mereka yang peduli pada primata seperti orangutan, owa jawa, lutung, monyet dan yang lainnya. Sejak pukul 10 hingga tengah hari, Orangufriends Bandung, Indonesia Rainbow, Mapak Alam Universitas Pasundan dan dihadiri juga oleh seniman Bandung dari Sekolah Rakyat ibu Inggit Garnasih dan Wanggi Hoed dengan dikoordinir Jakarta Animal Aid Network (JAAN) terfokus pada Indonesia Bebas Topeng Monyet.

Pertunjukkan monyet yang sedang sedih, ketakutan dan merasa terancam saat dilakukan penyiksaan diharapkan dapat menjelaskan di balik ‘hiburan’ topeng monyet selama ini. Ekspresifnya pantomime dan long march dari Indonesia Rainbow di jalan Dago hingga Gedung Sate juga semakin mencuri perhatian dengan atribut topeng kukangnya. Tak ketinggalan Orangufriends Bandung mengedukasi masyarakat tentang keberadaan orangutan Indonesia yang terancam punah.

“Aksi gabungan beberapa organisasi dan perorangan ini jadi pengalaman berharga di awal tahun 2018 ini. Kita peduli dan kita tidak sendirian… ini semakin memberi semangat untuk semakin peduli pada primata. Kalau bukan kita yang bicara… siapa lagi?”, ujar Gadis, orangufriends Bandung.

Centre for Orangutan Protection bangga pada orangufriends (kelompok pendukung COP) yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia. Orangufriends terus menyuarakan kepeduliannya pada satwa maupun lingkungannya, tak terbatas tempat dan waktu. Orangufriends adalah agen perubahan dunia konservasi. (Gadis, Orangufriends)

TERUNGKAP, KASUS PEMBUNUHAN ORANGUTAN DI KALTENG

​Untuk kali pertama dalam sejarah konservasi Orangutan, kasus pembunuhan orangutan yang rumit bisa diungkap dengan serius. “Kami sangat mengapresiasi dan mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk Polri, dalam hal ini tim Polda Kalimantan Tengah. Seminggu yang lalu kami bertemu dan berkoordinasi di lapangan dalam rangka sama-sama mencari informasi, kami melihat langsung bagaimana Polres Barito Selatan dan dua Polsek yaitu Dusun Selatan dan Dusun Utara bekerja keras dan serius untuk mengejar dan menyelesaikan kasus ini”.

​Dengan tertangkapnya pelaku pembunuhan orangutan ini maka kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum akan semakin tinggi. Efek jera juga akan menjadi perhatian masyarakat. Masyarakat akan menjadi lebih peduli dan tidak berani untuk menangkap, memelihara dan membunuh orangutan.

​Ini adalah kasus yang kedua COP temui mayat orangutan mati di sungai. Tahun 2016 pernah ditemukan satu individu mayat orangutan mengapung di Sungai Sangatta dan kasusnya hingga sekarang belum terungkap. Kasus-kasus pembunuhan orangutan sebenarnya hanya mengenai seberapa besar kemauan dari pihak penegak hukum.

​COP dalam hal kasus ini akan terus memantau hingga putusan pengadilan nantinya.

Informasi dan wawacara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP: 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

UPDATE ORANGUTAN KALAHIEN CASE

The head of decapitated orangutan body that was found in Barito river, Buntok, Central Kalimatan back in January 15th 2018, was finally found. In the location the head was found, there were also air rifle and machette found.
There are 2 suspects, and they have been captured by local police of Central Kalimantan

Kepala orangutan yang hilang dari mayat orangutan yang ditemukan di sungai Barito, Buntok, Kalimantan Tengah pada 15 Januari 2018 akhirnya ditemukan. Di lokasi kepala orangutan jantan Kalahien itu juga ditemukan senapan angin dan parang.

Ada 2 orang pelaku yang keduanya laki-laki saat ini sudah diamankan Polda Kalimantan Tengah.

KACANG PANJANG KESUKAAN DEBBIE

Kriuk… kriuk… kriuk… terdengar suara dari mulut Debbie yang sedang mengunyah kacang panjang segar. Dari suaranya, berasa sangat gurih dan renyah mungkin seperti kita juga, kalau sedang makan kerupuk.

Pemberian pakan harian orangutan di COP Borneo tidak hanya sebatas buah tetapi juga ditambah sayuran, salah satunya adalah kacang panjang. Sayur yang kaya manfaat ini sangat disukai para orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo, tidak hanya Debbie saja yang menyukainya, bahkan si kecil Popi juga sangat suka dengan kacang panjang.

“Saat feeding kami dahulukan sayuran baru kemudian buah diberikan ke orangutan. Biasanya ketika buah terlebih dahulu yang diberikan ke orangutan, mereka sudah merasa kenyang dan ketika sayur diberikan paling terakhir mereka tidak akan memakannya bahkan membuangnya.”, ujar Jevri, animal keeper COP Borneo.

Tapi lain Debbie, ketika semua buah sudah ditaruh di tempat feeding, dia hanya akan berdiam diri menunggu buah ataupun sayuran favoritnya dihidangkan. Ya… Debbie menunggu kacang panjang.(WET)

COP SCHOOL TAHUN DEPAN? NYESAL!

Namaku Hedi Dwilaily, asal dari Jakarta. Aku ikutan COP School Batch 7 tahun lalu. Sudah lama sebenernya pengen ikutan COP School dari tahun-tahun sebelumnya tapi cuman minta formulir trus gak jadi daftar. Tapi pas pembukaan COP School tahun lalu, gak mikir panjang lagi trus daftar deh. Kesempatan itu tidak datang berulang-ulang.

Aku dulu mikirnya ini kegiatan buat anak-anak muda di Yogyakarta aja, ternyata pesertanya dari mana aja, bahkan dari Sumatera dan Kalimantan. Dan sejak ikutan COP School aku jadi lebih banyak punya peluang buat bantu satwa. Terakhir aku membantu tim COP di penanganan bencana erupsi Gunung Agung di Bali. Peluang ikut dalam kegiatan-kegiatan COP lebih banyak karena setahuku diprioritaskan adalah siswa-siswa COP School.

Yang paling berkesan buat aku itu ditahun 2017 kemarin, selain bisa ikutan COP School Batch 7 adalah aku bisa menjadi relawan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Berau, Kaltim. Aku mendaftar untuk 30 hari saja awalnya, namun suasana “juara” didalam hutan dan kekeluargaan disana membuat aku menambah hari hingga hampir dua bulan disana. Memutuskan untuk balik ke Jakarta sangat susah saat itu.

Setelah ikutan COP School kegiatan aku lebih dinamis, tepatnya sih lebih random. Ketemu teman-teman baru yang sama-sama menyukai satwa liar, ke Kalimantan merasakan bagaimana sebuah rehabilitasi orangutan, setiap pagi dan sore membuatkan susu untuk bayi-bayi orangutan. Dan tidak melulu tentang satwa liar loh. Di Bali kami memberi makan kucing dan anjing yang ditinggal menggungsi karena letusan Gunung Agung.

Buat kalian yang sudah punya niat, segera saja mendaftar di COP School Batch 8 ini. Cukup aku saja yang menyesal tidak mendaftar dari tahun-tahun sebelumnya.

PISANG MOLI NENEK NUN UNTUK ORANGUTAN

Orang-orang di kampung Merasak, Berau, Kalimantan Timur, memanggilnya Pouy Nun. Pouy dalam bahasa Dayak Kenyah bisa diartikan kakek ataupun nenek. Setiap hari saat cuaca cerah, nenek Nun menghabiskan waktunya di kebun walau sekedar membersihkan rumput ataupun mengambil sayur untuk dimasak.

Orang bilang tanah kita, tanah surga… sepertinya benar. Hampir semua warga kampung Merasa memiliki kebun dan di kebun mereka banyak tumbuh pohon buah-buahan, tidak terkecuali di kebun nene Nun. Pisang, pepaya, rambutan, durian, langsat dan buah-buahan lainnya. Tapi anehnya, pohon buah di kebun nenenk Nun tidak semuanya ditanam, misalnya pepaya. “Pepaya yang tumbuh di depan pondok nenek ini, bukan nenek yang tanam. Burung terbang bawa makanan lewat di atas kebun nenek, tidak sengaja menjatuhkannya, kalau tumbuh dan berbuah berarti rejeki nenek.”, cerita nenek Nun gembira.

Bermacam jenis pisang tumbuh di kebun nenek Nun, salah satunya pisang Moli. Buahnya yang manis, dengan panen yang cepat membuat pisang Moli jadi idola. Dulu pisang Moli hanya dijadikan hidangan untuk keluarga di rumah. Sekarang karena banyak tumbuh di kebun, nenek Nun memilih berbagi pisang Moli dengan para orangutan di COP Borneo. “Setiap 2 minggu sekali nenek Nun akan memberitahu kami kalau ada pisang yang sudah siap panen di kebunnya dan tidak tanggung-tanggung, sekali panen biasanya sampai 10 tandan, cukup untuk persediaan orangutan selama satu minggu lebih.”, ujar Wety Rupiana.

Nenek Nun sengaja menanam banyak pisang Moli di kebunnya untuk disajikan ke orangutan. Sebuah perbuatan sangat mulia, semoga kesehatan selalu menyertainya, Amin. (WET)

AUTOPSY RESULT OF ORANGUTAN KALAHIEN: SHOT AND BEHEADED

On Thursday evening, January 18th, 2018, held an autopsy or necropsy of an orangutan that found dead four day ago in the Barito river, Buntok Distik, Central Kalimantan. An Autopsy was conducted by the Central Kalimanta Regional Police by deploying its forensic team and assisted by the BOSF medical team, Center for Orangutan Protection (COP). The Autopsy was conducted at the site, the location of the orangutan was buried.

From an autopsy that ran for about two hours, the autopsy team revealed:

1. Confirmed it was an adult male orangutan.
2. At the neck, found 3 more injuries caused by sharp objects and makes the neck broke or cut.
3. Found 17 air rifle bullet: 1 bullet in left thigh, 14 bullets in the front of the body and 2 bullets at the back of the body.
4. There are 7 broken ribs on the left side.
5. Estimated death when found on Monday it’s have been 3 days prior.
6. The hull broke because of air rifle bullets.
7. The Heart is exposed to air rifle bullets
8. Lungs hit by the bullets
9. The chest on the left there is a bruise due to blunt object that cause the broken ribs.
10. The losses of hair caused by the flow of water.
11. No Microchip or clarified as wild orangutans.
12. Digestion is Normal, there are bark and leaves that have not been digested perfectly.

“Today’s autopsy result have proven that orangutan death due to humans, as evidence by the discovery of many air rifle bullets. Our strong suspicion of the death is because it was shot using an air rifle that went through the heart, lungs and stomach. Then the head was cut. Broken ribs and the cut of the head due the trim should make the Police and especially KLHK to be more excited about revealing this case. The authority of KLHK in this case is at stake, “said Ramadhani, COP’s Habitat Protection Manager.
The bodies of the orangutan after the autopsy were taken and buried in BOSF Nyaru Menteng for security reasons.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

HASIL OTOPSI ORANGUTAN KALAHIEN: DITEMBAK DAN DIPENGGAL
Kamis petang tanggal 18 Januari 2018 telah dilakukan otopsi atau nekropsi terhadap mayat orangutan yang ditemukan tanpa kepala di sungai Barito, Kab. Buntok, Kalimantan Tengah setelah empat hari lalu ditemukan. Otopsi dilakukan oleh Polda Kalimantan Tengah dengan menurunkan tim forensiknya dan dibantu oleh tim medis BOSF, Centre for Orangutan Protection (COP). Otopsi dilakukan di tempat, dimana lokasi orangutan dikubur.

Dari otopsi yang berjalan sekitar dua jam, tim otopsi mengungkapkan :
1. Dipastikan adalah satwa jenis orangutan berjenis kelamin jantan dewasa.
2. Pada bagian leher ditemukan lebih 3 luka yang disebabkan oleh benda tajam sehingga leher putus atau tebasan
3. Ditemukan 17 peluru senapan angin : 1 peluru senapan angin di paha kiri, 14 peluru senapan angin di badan bagian depan dan 2 peluru senapan angin dibagian belakang badan atau punggung.
4. Terdapat 7 tulang rusuk sebelah kiri yang patah.
5. Perkiraan kematian ketika ditemukan pada hari Senin sudah 3 hari.
6. Lambung pecah karena peluru senapan angin.
7. Jantung terkena peluru senapan angin.
8. Paru-paru terkena peluru senapan angin.
9. Bagian dada sebelah kiri terdapat luka lebam akibat benda tumpul yang menyebabkan tulang rusuk patah.
10. Hilangnya rambut atau bulu disebabkan oleh arus air.
11. Tidak ditemukan adanya microchip atau dipastikan orangutan liar.
12. Pencernaan normal, terdapat kulit kayu dan daun-daunan yang belum tercerna sempurna.
“Hasil otopsi hari ini telah membuktikan bahwa kematian orangutan karena manusia, itu dibuktikan dengan ditemukannya banyak peluru senapan angin. Dugaan kuat kami kematian orangutan ini karena ditembak menggunakan senapan angin menembus jantung, paru-paru dan lambung. Kemudian kepala ditebas. Patah tulang iga dan putusnya kepala karena tebasan harusnya membuat Kepolisian dan terutama KLHK untuk bisa lebih bersemangat mengungkap kasus ini. Kewibawaan KLHK dalam kasus ini dipertaruhkan.”, kata Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP.

Mayat orangutan setelah otopsi dibawa dan dikubur di BOSF Nyaru Menteng untuk alasan keamanan.

Informasi dan Wawancara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

HERCULES, SANG PELINDUNG ORANGUTAN LECI

Ini dia orangutan yang cinta damai… namanya Leci. Dia memang orangutan yang paling kecil di pulau pra-rilis. Tapi dia bisa berdekatan dengan siapa saja, mulai dari Nigel, Hercules, Untung dan lainnya. Memang, Leci paling sering terlihat bersama Hercules. Hercules sendiri terlihat seperti menjaga Leci. Leci terlihat tidur bersama Hercules beberapa kali.

Perkelahian antar orangutan jantan memang tidak bisa dihindari. Perbutan makanan pastinya yang memicu perkelahian. Saat yang mendebarkan seperti itu, Leci dengan santainya mendekati mereka dan bersikap manja dengan menjatuhkan badannya dan berguling-guling di situ. Mereka yang berkelahi, biasanya satu persatu akan pergi. Apakah ini kode etik tidak berkelahi di depan anak kecil? Hahaha… yang pasti, kami yang mengawasi dari seberang pulau menjadi lega. Perkelahian lebih hebat tertunda.

Leci juga sudah bisa mengekspresikan dirinya. Beberapa kali terlihat melakukan vokalisasi marah. Sayangnya, Leci tidak takut pada manusia. Dia sering nongkrong di dermaga pakan orangutan, menunggu makanan dilemparkan. Kemampuan Leci membuat sarang akan terus berkembang, saat ini dia membuat sarangnya di ketinggian 15 meter. Leci… semoga usia dan tubuh mu tidak menghalangi mu kembali ke habitatmu ya. Bantu COP Borneo menjalankan pusat rehabilitasi orangutan dengan donasi ke Terimakasih.

COMPLETE THE CASE OF KALAHIEN ORANGUTAN CORPSE

There is still time to dismantle the cemetery and perform an autopsy on the corpse of the orangutan.
Do not let BKSDA Central Kalimantan regretting this in the future. The results of the autopsy will assist BKSDA to conduct further investigation. It will be known whether this is a wild orangutan or ex-rehabilitation. Why can his head be decapitated ?. Was there a bullet in his body? And many other questions that can be answered from the autopsy results.

The finding of orangutan corpses with unusual conditions is not the first thing that happened in Central Kalimantan. Based on records from the Center for Orangutan Protection (COP) at least there are about 5 (five) cases occurred. And that successfully revealed until the court process is the last case that occurred in PT. SP, Tumbang Puroh Village, Kapuas District, Central Kalimantan where one orangutan is killed and then cooked.

“The case of orangutan death should be a priority by conducting a serious investigation and make it a deterrent effect against the perpetrators so that in the future it will not happen again. Past deaths cases of orangutans are not complete. Not to mention the case of shooting of orangutans. Nothing is running. The authority of BKSDA Central Kalimantan is at stake in this case, “said Ramadhani, Manager of Habitat Protection Program of COP.

Field observations from the COP team on Tuesday, January 16, 2018 is known where the orangutan corpse is found in some oil palm plantation concessions. The orangutan habitat area overlaps with the permits of oil palm plantation companies. The loses are certainly on orangutans side.

We appreciate the actions of the South Dusun Kapolsek AKP Budiono by ordering Babinkamtibmas to socialize and explore information related to the discovery of the orangutan carcass to three villages in Mampun Bay, Tanjung Java and Kahalien.

For Information and Interviews:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
HP : 081349271904
Email : ramadhani@orangutan.id

USUT TUNTAS KASUS MAYAT ORANGUTAN KALAHIEN
Masih ada waktu untuk membongkar kuburan dan melakukan otopsi terhadap mayat orangutan tersebut. Jangan sampai dalam hal ini BKSDA Kalimantan Tengah menyesal dikemudian hari. Hasil otopsi akan membantu BKSDA untuk melakukan penyelidikan selanjutnya. Akan diketahui apakah ini orangutan liar atau eks rehabilitasi. Kenapa kepalanya bisa terlepas?. Apakah ditemukan peluru dalam tubuhnya? Dan banyak pertanyaan lainnya yang bisa terjawab dari hasil otopsi.

Temuan mayat orangutan dengan kondisi tidak wajar bukanlah hal yang pertama terjadi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan catatan dari Centre for Orangutan Protection (COP) paling tidak ada sekitar 5 (lima) kasus terjadi. Dan yang berhasil diungkap sampai proses pengadilan adalah kasus terakhir yang terjadi di PT. SP, Desa Tumbang Puroh, Kab. Kapuas, Kalteng yang mana satu orangutan dibunuh kemudian dimasak.

“Kasus kematian orangutan sudah seharusnya menjadi prioritas dengan melakukan penyelidikan secara serius dan menjadikannya sebagai efek jera terhadap pelakunya agar dikemudian hari tidak terulang lagi. Kasus-kasus temuan kematian orangutan yang telah lalu banyak tidak tuntas. Belum lagi kasus penembakan terhadap orangutan. Tidak ada yang berjalan. Kewibawaan BKSDA Kalimantan Tengah dipertaruhkan dalam kasus ini.”, kata Ramadhani, Manager Program Perlindungan Habitat dari COP.

Hasil pengamatan lapangan dari tim COP hari Selasa 16 Januari 2018 ialah diketahui memang dimana lokasi ditemukan mayat orangutan terdapat beberapa konsesi perkebunan kelapa sawit. Kawasan habitat orangutan menjadi tumpang tindih dengan ijin-ijin perusahaan perkebunan kelapa sawit. Yang kalah dipastikan ialah orangutan.

Kami mengapresiasi tindakan dari Kapolsek Dusun Selatan AKP Budiono dengan memerintahkan Babinkamtibmas melakukan sosialisasi dan menggali informasi terkait penemuan bangkai orangutan tersebut untuk tiga desa di Teluk Mampun, Tanjung Jawa dan Kahalien.

Informasi dan Wawancara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP : 081349271904
Email : ramadhani@orangutan.id