IF ONLY ORANGUTANS COULD SHARE TALES OF THE KALIMANTAN FOREST FIRES

Fires are always going to occur, whether deliberate or not, and they can also be caused by El Nino effects. We have every reason to prepare ourselves and be on full alert. The orangutan rescue centre that we run stands upon coal deposits a mere few metres below the surface. This forest region is also divided by the trans-Kalimantan road, where careless road users can just throw out their still-lit cigarette butts, starting fires in the dry grass and leaves.

With the resources that we have, we have created a system to prevent the orangutans in our care from suffering during these fires. We have bought several new water pumps, connected taps at a number of locations and prepared hoses at each site. Through radio and internet, we have been monitoring the movement of fires and hot spots. Fire patrols are in place and firebreaks have been created.

That grave day finally arrived – fire ripped along the trans-Kalimantan road that passes through our centre. Little more could be done than to defend ourselves so that the fire did not spread to our location. The situation late that night felt like hell. Fire danced and licked at the sky, as though giving us a warning – we are nothing in this great big universe.

We prayed with everything that we had. We called to all the spirits and ghosts that dwell in the forests. It seems that somebody was listening. The wind changed direction and slowly died down, though the fires that week had destroyed at least 800 hectares of the rich and biodiverse Labanan Research Forest. The good news is, we were safe, the orangutans were safe, and all of our supporting facilities were also unharmed.

All the same, we couldn’t sit by and watch the fires burning through other areas. Almost the entire island of Kalimantan was burning, the fires depleting the forests and threatening the wildlife. We had to set priorities for our teams. We chose the Tanjung Puting National Park in Central Kalimantan, and the Wain River Protected Forest. Tanjung Puting National Park is a home for 6000 orangutans, and our associates there – the Friends of the National Park Foundation (FNPF) and Orangutan Foundation International (OFI), were putting their lives on the line to extinguish the fires. The first hurdle for us was distance. The APE Crusader team drove for 3 days non-stop from Berau to Pangkalan Bun. The APE Warrior team flew to Balikpapan in Kalimantan, the only city with an airport still open, despite the thick smoke obstructing pilots’ vision. From Balikpapan, the team drove across South Kalimantan, headed for Central Kalimantan.

We began working at Beguruh Camp, where FNPF has been restoring the region since 2003. The trees that had been planted there were wiped out in a fire in 2006, but FNPF did not give up. With the help of the local community, they again replanted the area, to only be burned down again this time. But they have a good reason not to give up. As well as being a vital habitat for orangutans, Tanjung Puting National Park also gives life to the local community through the ecotourism sector. Sixteen thousand tourists visit the area each year to see the orangutans. Orangutans need forest, so they must ensure that the forest remains.

Our determination to save the forest and the orangutans from fire has truly been tested. While we were fighting to extinguish the fires, the house of one of our team members, Paulinus, was burnt to the ground. The forest fire crept its way into the village and engulfed a number of houses. Sadly, Paulinus’ grandfather lost his life in this tragedy. But will we give up? No!

We flew out a drone to monitor the situation and record the damage. We found that there are still a number of fire hotspots and smoke billowing. Hopefully they will soon die out, because the rain has begun to fall. Our estimate is that at least 91,000 hectares of the Tanjung Puting National Park region has been burnt down, 7,000 hectares of which are forest areas. This equates to the combined total of the destruction caused by the fires of both 1997 and 2006. The biggest task is yet to come – replanting. COP has decided to carry out an investigation. Somebody must be held accountable, particularly since we received a report from a water bomber pilot, that he witnessed 3 people fleeing from a place where they should not have been. It is suspected that these people were paid by the palm oil industry.  In that region, 500 hectares of land are held and defended by the local community, who refuse to sell to the palm oil companies. If the land has all been burnt down like this, what is left to defend?

Meanwhile, other teams moved out to Wain River Protected Forest, an area of vital habitat to orangutans and sunbears only 15 kilometres from Balikpapan, East Kalimantan.  Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation have released 80 orangutans in this area. For this reason, we decided to help out here. Wain River is managed by the Protected Forest Management Body, a technical implementation unit from the Balikpapan city government. Compared to other regions, perhaps the handling of issues in this area is better. The local government assigned 150 soldiers to extinguish the fires. We endeavoured to prevent the spread of fires into this area. Firebreaks were created to isolate the fires and prevent spreading. A team was put on patrol in order to ensure no fires were able to creep in, and to put out the remaining fires that could potentially reignite. We stayed at Jamaludin camp, approximately 4 hours on foot from the forest entrance.

The rain has now fallen, put out the fires, and washed away the community’s anger and the evidence of crimes that may have been committed here by forest felons. There is one big question that is always asked of us by the media and journalists: How many orangutans have become victims of the forest fires? We don’t know. What is certain is, at the time that you are reading this, our rescue centre has gained two new residents. One more has just arrived at the Forest Ministry facility in Tenggarong, East Kalimantan. As usual, we have little information of their backgrounds. If only orangutans could speak a human language, they would surely have much to tell us.

We express our thanks to The Orangutan Project, Monkey Business, International Fund for Animal Welfare, The Forest Trust and Indonesia Orangutan Forum, who have all supported us with funds and equipment for this operation.

 

ANDAI ORANGUTAN BISA BERCERITA,

KISAH YANG TERSISA DARI KEBAKARAN HUTAN DI KALIMANTAN

Kebakaran pasti akan terjadi, baik disengaja atau tidak. Bisa juga karena  gejala alam El Nino. Kami memiliki semua alasan untuk mempersiapkan diri dan bersiaga penuh. Pusat Penyelamatan Orangutan yang kami jalankan berdiri di atas deposit batubara, hanya beberapa meter saja dalamnya. Jalan trans Kalimantan, juga membelah kawasan hutan itu. Para sopir yang ceroboh bisa saja membuang puntung rokoknya yang masih menyala dan membakar serasah daun serta rerumputan kering.

Dengan sumber daya seadanya, kami menciptakan system untuk mencegah agar orangutan yang berada dalam perawatan kami tidak terpanggang dalam panggang. Kami membeli beberapa mesin pompa air baru, membuat dan menghubungkan  titik – titik kran dan menyiapkan selang di lokasi. Dari radio kami memantau pergerakan api, dari internet kami memantau trend hot spot. Patroli api dijalankan. Sekat api juga dibuat.

Hari besar itu akhirnya terjadi. Api membakar sepanjang jalan trans Kalimantan yang melewati pusat kami. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain mempertahankan diri agar api tidak merambat ke lokasi kami. Malam – malam itu situasinya seperti neraka. Api menari dan menjilat langit, terlihat memberikan peringatan kepada kami: bahwa kami bukanlah apa – apa di alam raya ini.

Kami berdoa dengan semua doa yang kami ingat. Kami memanggil semua arwah binatang dan hantu yang mendiami hutan. Nampaknya, ada yang mendengarnya. Angin berubah arah dan menjauh, pelan – pelan meredup dan mati. Kebakaran minggu itu telah menghancurkan setidaknya 800 hektar hutan penelitian Labanan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Berita baiknya, kami selamat, orangutan selamat dan seluruh fasilitas pendukung juga selamat.

Namun demikian kami tidak bisa berdiam diri melihat kebakaran di tempat lain. Hampir seluruh Kalimantan sedang terbakar. Api menghabiskan hutan – hutan dan mengancam satwa liar. Kami harus menentukan prioritas untuk menerjunkan tim. Kami memilih Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dan Hutan Lindung Sungai Wain. Taman Nasional Tanjung adalah rumah bagi 6000 orangutan dan sekutu kami di sana, yakni FNPF dan OFI sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api. Rintangan pertama yang menghadang adalah jarak. Tim APE Crusader harus mengemudikan mobilnya dari Berau ke Pangkalan Bun. Jaraknya 3 hari non stop mengemudi. Tim APE Warrior harus terbang dulu ke Balikpapan di Kalimantan, satu – satunya kota yang bandaranya tidak ditutup karena asap benar – benar sudah menghalangi pandangan. Dari Balikpapan, tim mengemudi melintasi Kalimantan Selatan dan lalu menuju Kalimantan Tengah.

Kami mulai bekerja di Camp Beguruh, dimana FNPF merestorasi kawasan ini sejak tahun 2003. Pohon – pohon yang pernah ditanami, pernah ludes terbakar pada tahun 2006. Mereka tidak putus asa. Dengan bantuan masyarakat setempat mereka kembali menanami kawasan itu. Kali ini terbakar lagi. Mereka punya alasan kuat kenapa tidak boleh menyerah. Selain menjadi habitat penting bagi orangutan, Taman Nasional Tanjung Puting juga  memberikan penghidupan bagi masyarakat setempat dari sektor ekowisata. Setidaknya, 16.000 wisatawan datang berkunjung setiap tahunnya: untuk melihat orangutan. Orangutan butuh hutan dan mereka harus memastikan bahwa hutan itu tetap ada.

Semangat kami untuk menyelamatkan hutan dan orangutan dari kobaran api, kali ini benar – benar diuji. Di saat kami sedang berjuang memadamkan api, rumah salah satu anggota tim kami, Paulinus, terbakar habis. Api kebakaran hutan menjalar ke kampungnya dan melalap beberapa rumah. Kakeknya tewas dalam tragedi itu. Menyerah? Tidak!

Kami menerbangkan drone, memantau situasi menginventarisasi kerusakan. Kami menemukan masih ada beberapa titik api dan asap yang mengepul. Semoga lekas padam, karena hujan mulai turun. Perkiraan kami, setidaknya 91.000 hektar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting telah terbakar, 7.000 hektar diantaranya adalah kawasan berhutan. In setara dengan kombinasi 2 kebakaran yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2006. Tugas berat lainnya sudah menunggu: menanaminya kembali. COP memutuskan untuk melakukan investigasi. Harus ada yang  bertanggung jawab, terutama setelah kami mendapatkan laporan dari pilot helikopter pengebom air, bahwa dia melihat 3 orang berlarian di tempat yang tIdak semestinya. Diduga, mereka adalah orang – orang bayaran perusahaan perkebunan kelapa sawit. Di kawasan itu, terdapat hutan seluas 500 hektar yang sedang dipertahankan oleh masyarakat setempat. Mereka menolak untuk menjualnya ke perusahaan kelapa sawit. Jika sudah terbakar habis seperti ini, apa lagi yang harus dipertahankan?

Sementara itu, tim lainnya bergerak ke Hutan LIndung Sungai Wain, habitat penting bagi orangutan dan beruang. Jaraknya hanya 15 km dari kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Yayasan BOS melepasliarkan 80 orangutan di sini. Karena itulah kami memutuskan untuk membantu di sini.  Sungai Wain dikelola oleh Badan Pengelola Hutan Lindung, sebuah Unit Pelaksana Teknis dari pemerintah kota Balikpapan. Dibandingkan kawasan lain, mungkin penanganan di sini lebih baik. Pemerintah kota setempat menerjunkan 150 orang tentara untuk memadamkan api. Kami memilih untuk mencegah meluasnya api ke dalam kawasan. Sekat api dibuat untuk mengisolasi apai agar tidak merambat. Tim berpatroli untuk memastikan tidak ada api yang merambat dan mematikan sisa api yang mungkin bisa berkobar lagi. Kami tinggal di camp Jamaludin, kira – kira 4 jam berjalan kaki dari pintu masuk kawasan.

Hujan kini telah turun. Api kebakaran padam, membasuh semua amarah masyarakat dan bukti – bukti kejahatan yang mungkin pernah dilakukan para kriminal kehutanan. Ada 1 pertanyaan besar yang selalu ditanyakan kepada kami oleh para jurnalis: berapakah orangutan yang menjadi korban dari kebakaran hutan? Kami tidak tahu. Yang pasti, saat anda membaca ini, Pusat Penyelamatan kami sudah terisi 2 penghuni baru. Ada 1 lagi yang baru datang di fasilitas milik Kemenhut di Tenggarong, Kalimantan Timur. Seperti biasa, tidak banyak informasi mengenai latar belakang mereka. Anda orangutan bisa bahasa manusia, tentu dia akan bercerita banyak.

Kami mengucapkan terima kasih kepada The Orangutan Project, Monkey Business, International Fund for Animal Welfare, The Forest Trust dan Forum Orangutan Indonesia yang telah mendukung kami dana dan peralatan untuk operasi ini.

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Hingga akhir bulan Oktober 2015, jumlah titik panas yang terdeteksi di atas peta Taman Nasional Tanjung Puting adalah 2.366. Luasan kawasan yang terbakar mencapai 91.000 hektar, 7000 diantara merupakan kawasan berhutan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kerusakan ini merupakan yang terbesar yang pernah ada, setara dengan kombinasi kebakaran tahun 1997 dan 2006. Titik api diperkirakan berasal dari luar kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan melakukan investigasi mendalam atas kasus ini.

Diperkirakan, setidaknya 6000 orangutan mendiami kawasan konservasi seluas 400.000 hektar ini. Menyempitnya habitat sebagai dampak langsung kebakaran telah menjadikan kompetisi untuk ruang dan makanan menjadi semakin berat. Diperkirakan, kedepannya akan semakin banyak orangutan yang keluar dari kawasan dan mencari makan di areal masyarakat, terutama orangutan jantan yang tidak dominan. Konflik dengan manusia menjadi tak terhindarkan. Tim – tim rescue orangutan seperti dari Orangutan Foundation International (OFI) dan Centre for Orangutan Protection (COP) dipastikan akan bekerja lebih keras agar korban orangutan dapat dicegah. Orangutan yang terluka harus dirawat agar bisa bertahan hidup. Pusat Penyelamatan terdekat, yang dikelola oleh Orangutan Foundation di Pasir Panjang, saat ini dihuni oleh 330 orangutan.

Upaya instan untuk menyelamatkan orangutan yang berkonflik adalah dengan translokasi, yakni memindahkan mereka dari kawasan konflik ke kawasan berhutan yang jauh dari pemukiman masyarakat. Upaya ini sangat sulit dan berbiaya tinggi.

Kebakaran ini berdampak sangat buruk pada perekonomian setempat yang bergantung pada industri ekowisata. Sepanjang tahun 2014, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 16.689 orang, yangmana 10. 986 diantaranya adalah wisatawan asing. Jumlah kunjungan wisatawan asing selama kebakaran terjadi turun drastis hingga ke titik nol. Bandara Pangkalan Bun seringkali ditutup karena kabut asap yang ditimbulkan. Akibatnya, perjalanan – perjalanan wisata yang sudah dipesan oleh wisatawan harus dibatalkan. Kerugian yang diderita oleh para pelaku ekowisata di Tanjung Puting diperkirakan sejumlah 6 milyar rupiah selama 2 bulan terakhir.

Upaya pemadaman telah dilakukan dengan sangat keras oleh Balai Taman Nasional dengan dukungan dari Friends of National Park Foundation (FNPF), Orangutan Foundation International (OFI) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan seperti Sekonyer dan Teluk Pulai juga membantu upaya pemadaman. Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan dukungan teknologi untuk menginventarisir kerusakan.

Komitmen FNPF sejak tahun 2003 untuk merestorasi kawasan di dan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting tidak akan berubah, meskipun ancaman kebakaran terus terjadi. COP berkomitmen untuk melakukan kerja – kerja advokasi agar orangutan di TNTP terlindungi dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kegiatan ekonomi yang kontraproduktif dengan misi konservasi dan ekonomi kerakyatan. OFI tetap berkomitmen mendukung Balai TNTP untuk melindungi orangutan kawasan konservasi TNTP.

Untuk wawancara dan informasi lebih mendalam, silakan berkomunikasi dengan:

Basuki Budi Santoso, Manager FNPF Kalimantan.

Telepon : 08125490673

Email : b4s_uki@yahoo.com

Fajar Dewanto, Manager Orangutan Foundation International

Telepon : fajarmadani@yahoo.com

Email : 081349749208

Hardi Baktiantoro, Ketua Centre for Orangutan Protection

Telepon : 08121154911

Email : orangutanborneo@mac.com

AMBON IS A GENTLE SOUL

Hi… i’m Ambon. Do you still remember me? I’m not cute anymore. Yes… i’m the oldest and the biggest resident at the sanctuary. Ambon is 3 times the size of us. But don’t be fooled by his greatness, this one is a gentle soul.

Animal keeper said that Ambon loves to play with the butterflies, that he loves to watch them land on his hairy arm.

Unfortunately Ambon will never be returned to be wild as he has been incorrectly for too long. Ambon will need our care for the rest of his life.

Click here to ADOPT Ambon http://www.withcompassion.com.au/apps/webstore/products/show/5688153

JABRICK IS THE YOUNGEST ORANGUTAN COP LABANAN

I never believed in love at the first sight but the moment I met Jabrik (Indonesian for spiky hair) that exactly what happened! The youngest and the tiniest of the bunch, Jabrick is the most enthusiast student at the forest school, COP Labanan, East Kalimantan. I am not to mention the most independent regarding his age, he would climbs up the tree so high and refuse to come down. He knows how to make his own nest (out of leaves and branches the way orangutans do) now that is incredible for he’s only just a baby right now.

He also got the best table manner of them all, his favorite is definitely cucumber, while the other orangutans would split the cucumber and eats only the peeps and inner flesh and throw away the rest, Jabrik would bite the cucumber from one corner very thoroughly and eat the whole cucumber with the high level of seriousness on his baby face which always make me laugh every time I watched him ate.

When it comes to drinking milk (Orangutans absolute favorite drink!) most of them would gulp down the milk in no time and looking for other’s to steal, but not Jabrik, he would go to a safe corner and drink his milk out of the cup slowly and surely and if the other happens to rob his milk off him, he won’t cry, instead he just look at the keeper calmly knowing he’ll get justice by getting another cup of fresh milk. There is no denying that he is my favorite of the bunch, and when I left the sanctuary I felt good knowing that he’s got a bright future ahead of him and someday maybe my great grand children would be as lucky as I am to witness Jabrick and friends swinging freely and happily from tree to tree.

Saya tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama sampai akhirnya saya bertemu dengan Jabrick (Jabrik = rambut yang naik ke atas/jigrak). Dia adalah yang termuda dan yang terkecil dari kelompok orangutan sekolah hutan di COP Labanan, Kalimantan Timur. Jabrick adalah murid yang paling antusias di sekolah hutan. Dia memanjat pohon tinggi dan menolak untuk turun. Dia tahu bagaimana membuat sarang sendiri (dari daun-daun yang ditumpuk diantara cabang seperti orangutan dewasa) di usianya yang masih kecil.

Jabrick juga memiliki cara makan terbaik dibandingkan orangutan lainnya di sekolah hutan COP Labanan. Makanan favoritnya adalah timun, dengan cara mengigit ujungnya dan secara perlahan memakan timun tersebut hingga tidak bersisa dengan wajah bocah seriusnya, yang membuat saya tertawa setiap kali memperhatikannya. Berbeda dengan orangutan lainnya yang membagi dua timun lalu memakan bagian dalamnya lalu membuangnya.

Saat minum susu tiba (Orangutan sangat menyukai susu), kebanyakan mereka menelan susu dalam waktu singkat dan mencari cara untuk mencuri susu yang lain. Dan Jabrick tidak seperti itu. Jabrick akan pergi ke sudut yang aman dan minum susu dari cangkir secara perlahan dan jika yang lainnya merampok susunya, dia tidak menangis, dia hanya melihat ke animal keeper dengan tenang karena dia yakin akan  mendapat keadilan dengan secangkir susu pengganti. Tak terbantahkan lagi, Jabrick adalah orangutan favorit saya. Saat saya harus meninggalkan COP Labanan, saya merasa tenang mengetahui bahwa Jabrick memiliki masa depan yang cerah dan suatu hari nanti mungkin cucu dan cicit saya akan seberuntung saya, bisa menyaksikan Jabrick dan teman-temannya berayun bebas dan bahagia dari pohon ke pohon lainnya di hutan.

UPDATE #PEDAGANG3ORANGUTAN

Hari ini, 29 Oktober 2015 adalah sidang kedua kasus #pedagang3orangutan di kota Langsa, Aceh. Dalam operasi penyitaan pada tanggal 1 Agustus 2015 yang lalu, tim BKSDA Aceh menyita tiga orangutan, dua elang bondol, satu kuau raja dan satu awetan macan dahan. Ramadhani ditangkap tangan di jalan PDAM Tirta Pondok Kemuning, Desa Pondok Kemuning, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh Timur.

Kasus #pedagang3orangutan terdaftar dengan nomor perkara 190/PID.SUS/2015/PN LGS dihadiri terdakwa Ramadhani, tiga orang jaksa penuntut umum dan tiga orang hakim. Sidang kedua ini dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi.

Pada persidangan yang dipimpin Ismail Hidayat, SH., terdakwa membenarkan semua dakwaan dan keterangan para saksi. Terdakwa juga mengakui kalau satwa yang disita merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang. Terdakwa menyampaikan motivasinya berjualan satwa yang dilindungi tersebut karena keuntungan yang mengiurkan dari menjual satwa tersebut.

Daniek Hendarto, Manager Anti Kejahatan Satwa Liar dari Centre for Orangutan Protection (COP) menyampaikan, “Terdakwa tidak takut menghadap jerat hukum karena keuntungan berjualan sangat besar jika dibandingkan dengan resikonya. Kejaksaan Negeri Langsa memegang peranan kunci dalam kasus ini, untuk tuntutan maksimal. Sesuai Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yakni penjara 5 tahun dan denda 100 juta rupiah.”

TIDAK CUKUP BUKTI?

Kasus Ida yang mengunggah fotonya memegang 2 ekor kucing hutan dalam keadaan mati, lantas dibebaskan dengan alasan kurangnya bukti. Ini bukti bahwa hukum di Indonesia belum ditegakkan dengan benar.

Dalam UU no. 5 tahun 1990 pasal 21 ayat (2) huruf a jelas disebut bahwa,”Setiap orang dilarang untuk menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.”. Dengan adanya bukti foto yg diunggah Ida ke akun facebooknya maka unsur memiliki satwa dilindungi dalam keadaan mati telah terpenuhi. Memiliki dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat juga diartikan dengan “mengambil secara tidak sah untuk dijadikan kepunyaan”, karenanya jelas tindakan Ida memiliki kucing hutan dalam keadaan mati tersebut merupakan suatu perbuatan melanggar hukum.

Kepemilikan ini dipertegas dengan dimasak dan dimakannya kucing hutan tersebut oleh Ida berdasarkan pengakuannya sendiri. Tanpa kepemilikan terhadap kucing hutan tersebut, Ida tidak mungkin memasak atau memakan kucing hutan tersebut.

Jika Ida menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa kucing hutan merupakan hewan dilindungi, ini bukanlah suatu alasan untuk menghindari sanksi atas perbuatannya. Karena ketidaktahuan bukanlah alasan pengecualian dari terbebasnya seseorang atas pelanggaran tersebut seperti yang tercantum dalam pasal 22.

Bukti foto dan pengakuan Ida merupakan 2 alat bukti yang kuat untuk menyatakan bahwa Ida pantas untuk dipidana sesuai dengan bunyi pasal 40 ayat (2) dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

ANTHILL FOR THE ORANGUTANS

Akhirnya hujan turun setelah kemarau selama 6 bulan. Sekolah hutan tampak lebih hijau dan udara terasa basah. Biasanya akan banyak sekali sarang semut yang muncul. Salah satu pakan orangutan penghasil protein yang sangat disukai mereka. Ini bukan makanan yang baru untuk mereka yang dulunya berada di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda, karena COP sering memberikan sarang semut ke mereka karena mudah didapat di sekitaran kebun raya.

 

Berbeda dengan #orangutanJabrick. Dia memakannya dengan perlahan, mungkin dia mengingat ibunya pernah memberikan sarang semut kepadanya. Mengorek lubang-lubangnya, menggapai telur-telur semut yang bersembunyi di dalamnya dan menghisapnya. Ketika makin sulit untuk menggapai larva semut, Jabrick mulai memukul-mukul sarang dan mengupasnya. Hampir seharian dia menghabiskan waktunya dengan sarang semut ini. Terhitung hanya dua kali memanjat pohon, itu pun tidak terlalu tinggi. Padahal biasanya, Jabrick menghabiskan waktunya di rimbunnya pepohonan.

 

 

ONE STEP CLOSER FOR BETTER LIFE

Elin and her team from COP’s Orangufriends has started the renovation of the cages in Banjarbaru Town Park. Soon, these gibbons and several other primate will have better life. A life without chain in their waist. Elin also enrich the cage with essential furnitures so the animals can play and sleep comfortly. Thanks for you all who buy the shirts and SFO Borneo tickets. This project will never happen without your support. We still need some more additional money, about $ 1000 to complete this project. Please hit the donation link below. Help Elin, help ANIMALS. https://www.facebook.com/saveordelete/app_415675701824636

Elin dan timnya dari ‪#‎Orangufriends‬ telah memulai renovasi kandang – kandang di Taman Kota Banjarbaru. Segera, para gibbon dan berbagai jenis primata akan mendapatkan hidup yang lebih baik. Sebuah hidup tanpa rantai di pinggang. Elin juga memperkaya kandang dengan perabotan dasar yang memungkinkan satwa bisa bermain dan tidur dengan nyenyak. Terima kasih kepada kalian yang telah membeli tiket SFO BOrneo dan kaos. Proyek ini tidak akan berjalan tanpa dukungan anda.
Kami masih membutuhkan tambahan dana sekitar 10 juta-an agar proyek ini benar – benar bisa diselesaikan sempurna. Mohon sumbangannya, KLIK DI SINI: https://www.facebook.com/saveordelete/app_415675701824636

ORANGUTAN AT AFA 2015

Asia for Animals conference starting October 6th-10th in Kuching on the island of Borneo, with a packed programme of presentations covering a huge range of issues. More than 400 delegates from 26 countries are attend that event. But so many of delegates can’t come because to much hazz and some of airport just closedown. Some of speaker just cancel to come in last day because the airport close specialy has plan transit at Pontianak west Borneo, Indonesia.
To much scedule change in firstday of conference.

This Conference talk about animal wildlife trade and some of them talk about animal farm, animal right and animal welfare in many place of this world. There have 3 speaker talk about orangutan, 2 from International Animal Rescue and 1 from Centre for Orangutan Protection.

Paulinus Kristianto from the Centre for Orangutan Protection in East Kalimantan on Indonesian Borneo called for an end to the ravages being caused to orangutan habitat by palm oil companies. Paulinus say, enough is enough no more palm oil, RSPO is biggers lie there is no sustainable in palm oil. Forest conservation by palm oil and recomendation by RSPO in reality is nothing. He say forest conservation recomendation by rspo just make legal palm oil company can distroy more and more high conservation forest in borneo.

Juanisa Andiani from International Animal Rescue Indonesia spoke about habitat destruction and told delegates that orangutans were being pushed onto rubber and oil palm plantations because they are desperate for fruit and water. “There used to be a lot of forest around the rubber plantations in Ketapang, but the trees have burnt down and suddenly the orangutans have to come and eat the rubber trees,” she said.

Adi Irawan, also from International Animal Rescue Indonesia, said there had been a 50 percent decline in orangutan populations in Indonesia over the past 60 years and most of the animals were now living outside protected areas. There are more than 1,000 orangutans in rescue and rehabilitation centres in Indonesia, Adi says. Hundreds of the animals are displaced or killed every years

This conference close at October 9th night and October 10th all delegate  have trip to some of rescue centre at Kuching.

MENDESAK, EVAKUASI SATWA DARI BUMI KEDATON LAMPUNG

Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengevakuasi seluruh satwa dari Taman Satwa dan Wisata Bumi Kedaton Bandar Lampung. Desakan ini didasarkan pada kualitas hidup satwa yang sangat mengenaskan di Lembaga Konservasi tersebut.

Daniek Hendarto, Area Manager Jawa dan Sumatera dari COP, menyatakan sebagai berikut:

“Bukan hanya manusia yang memiliki hak. Satwa pun juga memiliki standar minimum kesejahtera-an yang dikenal dengan 5 Kebebasan Satwa, diantaranya bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan fisik, bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit, bebas untuk mengekspresikan perilaku alaminya dan yang terakhir bebas dari rasa takut dan tertekan.”

“Beruang madu menunjukkan perilaku stress dengan menjilati jeruji dan memakan tahi-nya sendiri. Hal ini disebabkan kandang yang terlalu sempit, ditambah tidak ada air minum serta fasilitas bermain. Kuku beruang mulai panjang melengkung yang dapat menyebabkan telapak tangannya akan terluka nantinya. Kandang beruang juga tidak dalam posisi terkunci, hal ini sangat membahayakan pengunjung.”

“Kukang yang merupakan satwa nokturnal yaitu satwa yang aktif di malam hari tidak memiliki tempat untuk bersembunyi dari paparan sinar matahari. Miskinnya fasilitas di dalam kandangnya akan memperburuk kondisi kukang yang dapat berakibat pada kematian.”

“Siamang dan Owa adalah dua jenis gibbon yang membutuhkan kandang yang luas dan tinggi yang memungkin dia mengeksresikan perilaku alaminya. namun pengelola tidak menyediakannya, sehingga kedua gibbon ini terpaksa duduk di atas tanah.”

Daniek menambahkan, “Semua kandang tanpa jarak dengan pengunjung, yang memungkinkan pengunjung maupun satwa berinteraksi. Ini sangat membahayakan pengunjung maupun satwa melalui penyebaran zoonosis mengingat kondisi satwa sebelumnya karena kandang maupun fasi-litas kandang yang tidak terpenuhi.”

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No: P.31/Menhut-II/2012 mengenai Lembaga Konservasi, Taman Satwa dan Wisata Bumi Kedaton tidak memenuhi syarat. Akibatnya, satwa koleksinya berada dalam kondisi di bawah standar kesejahteraan yang disepakati oleh berbagai asosiasi seperti Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) dan World Association of Zoo dan Aquaria (WAZA). Manajemen harus segera memperbaiki fasilitasnya atau harus menghadapi ancaman penutupan.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut harap menghubungi:

Daniek Hendarto

Area Manager Jawa dan Sumatera COP

HP : 081328837434

email : daniek@cop.or.id