GOING RAFTING AND HELPING ORANGUTANS

“Exciting! Playing together in water, hanging with friends and meeting new friends.”, That was the participants said about Fun Rafting For Orangutan, on Sunday February 21. The idea of this Fun Rafting is to donate for Orangutans in COP’s Orangutan Rehabilitation Center in a fun way. This fun rafting was initiated by Orangufriends. Orangufriends is COP’s supporting group, which always has thousands ways to help orangutans.

Experienced instructors guided the participants to go rafting in Elo River, Magelang. The participants learn the safety procedure before going down to the river. How to paddle in passing the rapids, even if they fell out of the boat.

“Thirty eight participants took part in this fund raising event. Before going rafting, we presented some photos and videos about COP’s efforts in saving Orangutans and other wildlife in Indonesia. We hope that Orangutan rescue could be performed by anyone and in any way, one of them is by donating in a fun way.”, said Zakia, the Orangufriends Coordinator.

“I love water, I like rafting and I like animals.”, That was the reason why Charlotte Garnier, a student of Faculty of Economics UGM from France participated in this Fun Rafting. Let’s see Orangufriends’ next unique idea in helping Orangutans! (DAN)

BERMAIN ARUNG JERAM DAN MEMBANTU ORANGUTAN

“Seru! Main basah-basahan, berkumpul dengan teman dan ketemu teman baru.”, itu adalah sebagian ungkapan peserta Fun Rafting For Orangutan pada Minggu 21 Februari yang lalu. Konsep arung jeram berdonasi untuk Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur yang menyenangkan ini digagas oleh Orangufriends. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection yang bergabung di Orangufriends, yang memang punya seribu satu cara untuk membantu orangutan.

Instruktur berpengalaman memandu peserta mengarungi derasnya sungai Elo, kabupaten Magelang. Peserta mendapatkan materi safety procedur sebelum turun ke sungai. Bagaimana mendayung melewati jeram, bahkan jika peserta terjatuh dari perahu.

“Ada tigapuluh delapan peserta yang ikut. Sebelum berarung jeram, acara having fun, while raising fund dengan melihat foto-foto dan video tentang upaya COP menyelamatkan orangutan dan satwa liar di Indonesia. Kita berharap upaya penyelamatan orangutan bisa dilakukan siapa saja dan dengan cara apa saja, salah satunya berdonasi dan menyenangkan.”, kata Zakia, Koordinator Orangufriends COP.

“Saya suka air, saya suka rafting dan saya suka binatang.”, itulah yang menjadi alasan kenapa Charlotte Garnier, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta asal Perancis ini ikut dalam fun rafting kali ini. Kita tunggu cara unik Orangufriends untuk menyebarkan peduli orangutan. (DAN)

A WILDLIFE TRADER WAS ARRESTED IN BANTUL

COP bersama Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia dan Jakarta Animal Aid Network berhasil menyelamatkan bayi beruang madu dari tangan pedangang satwa liar di Bantul, Yogyakarta. Pada 8 Februari 2016 itu, tim juga mengamankan tiga ekor Ular Sanca Bodo, tigabelas anakan Merak, satu Elang Bondol Hitam, satu binturong dan satu bayi Lutung yang semua barang bukti tersebut dititipkan ke Lembaga Konservasi Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta.

Tim Mabes Polri menangkap MZ di tempat tinggalnya Bantul, Yogyakarta. Diduga, MZ adalah pedagang besar satwa liar ilegal untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

“Tersangka akan menghadapi pasal 21 ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumbaer Daya Alama Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).”, kata Daniek Hendarto, manajer Anti Wildlife Crime Centre for Orangutan Protection.

OWI’S DIARY Part I

My name is Owi, I realized it since every time they wanted to give me fruits or asked me to play, they always said that word and I became familiar with the word. It has been almost one year since I was away from home, its colour, its smell, its exuberance, its hustle, its silence; and during that time I have been apart from my mother.

At that time, my vision was still poor and I was always stuck on her chest, before someday in the afternoon a small boom shocked us, right after a flash of light from below, from something that was held by a creature standing on two legs instead of climbing tree, he stayed on the ground.  It was so quick, in a sudden I felt my mother wobbled. Her grip on the tree branches weakened, staggered and slowly slumped before falling to the ground. Fresh red blood flowed from my mother’s chest, just one knuckle from my head. Her heartbeats were getting weaker, her body was getting cold, her face was pale. He tried hard to look at me and say one or two words, but she could not. Tears flowed slowly on her cheeks before mother did not move at all. I just shivered in my helplessness.

The creatures moved slowly approaching us, his steps were voiced by leaves and small twigs crushed by his feet which seemed have no fingers, something seemed to cover and weigh them. He took me, lifted my body, drowned me in his arms and took me away, stepped away from my mother after telling her friend to take care of my mother’s body. I cried, simply because I didn’t understand. At that time, I had no idea at all that that’s going to be my last time I saw my mother and felt her warm caress. (MBO)

CATATAN HARIAN OWI bagian 1

Namaku Owi, aku menyadarinya sejak setiap mereka ingin memberiku buah-buahan atau mengajakku bermain, mereka selalu mengucapkan kata itu dan aku pun menjadi akrab dengan kata itu. Sudah hampir satu tahun aku merasa jauh dari rumah, warnanya, bebauannya, kerimbunannya, keramaiannya serta kesenyapannya, dan selama itu pula aku berpisah dengan Ibu.

Waktu itu mataku masih remang untuk sanggup melihat dan aku masih selalu menempel pada dadanya, sebelum pada suatu sore suara dentuman mengagetkan kami, tepat setelah kilatan cahaya kecil dari bawah, dari sesuatu yang dipegang suatu makhluk yang berdiri dengan dua kakinya dan bukannya memanjat pohon, dia malah di tanah. Kejadian itu seperti kilat, seketika aku merasakan tubuh Ibu goyah, pegangannya terhadap cabang pohon melemah, terhuyung dan perlahan menggelosor sebelum akhirnya jatuh ke permukaan tanah. Cairan merah segar mengalir deras dari dada Ibu, hanya berjarak satu ruas jari dari kepalaku berada. Detak di dadanya semakin melemah, badannya terasa semakin dingin, sayup-sayup wajahnya kosong dan pucat. Tampak dia berusaha keras menatapku dan mengucapkan satu dua kata, namun tak sanggup. Air mata mengalir pelan menjadi ngarai-ngarai kecil pada pipinya sebelum Ibu tidak bergerak sama sekali. Aku hanya menggigil diam dalam ketidakberdayaanku.

Langkah makhluk itu perlahan mendekat, disuarakan oleh daun dan ranting kecil yang remuk oleh pijak kakinya yang nampak tidak berjari, sepertinya sesuatu menyelimuti serta membebani kaki berdirinya. Dia mengambilku, mengangkat tubuh kecilku, menenggelamkanku dalam pelukannya dan membawaku pergi, melangkah menjauhi Ibu setelah menyuruh sebangsanya mengurus tubuh itu. Aku menangis di antara sejenak, hanya karena tidak paham. Sama sekali pada waktu itu tidak ada pikiran bahwa hari itu adalah terakhir kalinya aku melihat Ibuku dan hari terakhir aku merasakan hangat peluknya. (MBO)

THIS IS WHAT SHOULD BE DONE FOR WILD ANIMALS BY THE MINISTER FOR INTERNAL AFFAIRS

Indonesian cyberspace has blown up after TV ONE aired an interview with the Minister for Internal Affairs, Cahyo Kumolo. In this program, the Indonesian Democratic Party of Struggle politician proudly displayed his collection of preserved tigers, leopards and bears, and shared the story of how he came to own the collection. This immediately sparked a great protest and was promptly dealt with in a positive way. The minister’s entire collection was surrendered to the Jakarta Conservation and Natural Resources Agency to be destroyed. But is this ‘problem solved’?

It seems that giving gifts to government officials, in the form of both live and preserved exotic animals, has become tradition in Indonesia. This is a portrait of an indifferent and arrogant attitude. As if government officials are not aware of the rules and regulations! It must be admitted that one of Indonesia’s social problems is a lack of good role models.

Nevertheless, COP and Animals Indonesia believe that we as the citizens of Indonesia have to keep moving forward. Don’t just keep pointing the finger. Cahyo Kumolo, as Minister for Internal Affairs, should have taken full advantage of this incident as best he could to correct his mistake and assist in efforts for wildlife conservation.

The easiest way would be to put in place a policy which would prohibit all national officials from giving or receiving gifts of wild animals, or keeping collections.

If this was carried out, it would be a huge step forward as the number of government employees is at least 5 million, and it would surely make a great impact.

INI YANG HARUSNYA DILAKUKAN MENDAGRI PADA SATWA LIAR

Dunia maya Indonesia geger setelah TV ONE menyiarkan wawancaranya dengan Menteri Dalam Negeri, Cahyo kumolo. Dalam tayangan tersebut, politisi PDIP itu memamerkan koleksi awetan harimau, macan dan beruang. Dia menceritakan bagaimana mendapatkan koleksinya. Hal ini mengundang protes besar dan hebatnya lagi langsung ditanggapi dengan positif. Seluruh koleksinya diserahkan ke BKSDA Jakarta untuk dimusnahkan. Apakah persoalan selesai?

Nampaknya, memberikan hadiah kepada seorang pejabat, baik berupa satwa hidup dan awetan sudah menjadi tradisi di Indonesia. Ini adalah potret sikap masa bodoh dan arogansi. Tidak mungkin para pejabat tersebut tidak tahu pada aturan dan perundang-undangan. Harus diakui bahwa salah satu masalah sosial di Indonesia adalah krisisnya keteladanan baik.

Namun demikian, COP dan Animals menilai bahwa kita sebagai bangsa harus terus bergerak maju. Jangan berhenti pada saling tuding. Sudah seharusnya Cahyo Kumolo selaku Mendagri memanfaatkan momen ini sebaik baiknya untuk mengkoreksi kesalahan dan membantu upaya konservasi satwa liar. Cara yang paling mudah adalah dengan membuat kebijakan yang melarang seluruh aparatur negara memberikan dan menerima hadiah berupa satwa liar, termasuk mengkoleksinya.

Jika ini dilaksanakan, ini bakal menjadi sebuah gerakan besar yang berdampak besar karena jumlah pegawai negeri di Indonesia setidaknya mencapai lima juta orang.

SOUND FOR ORANGUTAN MELBOURNE

February 6 at Rubix, Melbourne, Hardi Baktiantoro (COP Principle) talked about the general work that The Centre for Orangutan Protection (COP) do all over Indonesia and Vet Imam Arifin’s presentation showed the progress so far of the Orangutan Rescue & Rehabilitation Centre COP were building in Labanan, East Kalimantan.
COP would like to thank all who came and supported the Melbourne SOUND for ORANGUTAN, SAVE the ORANGUTANS Fundraiser to help us help orangutans, and big thanks to all the DJ’s, Lighting Talent & Tech Talent who donated their amazing skills, the venue and the biggest thank you to Lukey from Universal Tribe Records and Bev from With Compassion & Soul.

THEM , AFTER COP SCHOOL

Elizabeth, Syaifulloh and Satria are alumni of COP School Batch #1. Along with Alivia, which is an alumni of COP School Batch #5, they are currently attending a training on Enrichment Facility to Improve Animal Welfare held by BOS Foundation. Now they run the Animal Rescue Center in South Sumatra and East Kalimantan .

Meanwhile, veterinarian Ade Fitria, an alumni of COP School Batch #2 is attending a training on Animals Eye Treatment on IAR ORANGUTAN Rescue Center in Ketapang. Her colleague, Paulinus, an alumni of Batch #1 is currently in Japan to meet up with the supporters and to present about forest protection from fire and palm oil .

For those who want to seriously engage to the world of nature conservation , COP School is the right choice . Please contact hery@cop.or.id for more informations and registration.

MEREKA, SETELAH COP SCHOOL

Elizabeth, Syaifulloh dan Satria adalah siswa COP School Batch 1, bersama Alivia yang merupakan siswa COP School Batch #5 saat ini sedang mengikuti pelatihan Pengkayaan Fasilitas untuk Meningkatkan Kesejahteraan Satwa di Yayasan BOS. Mereka adalah para alumni COP School yang sekarang mengelola Pusat Penyelamatan Satwa di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur.

Sementara itu, dokter hewan Ade Fitria siswa COP School Batch #2 sedang berada di Pusat Penyelamatan ORANGUTAN IAR di Ketapang untuk menjalani pelatihan Pengobatan Mata Satwa. Rekannya yang lain, PAULINUS siswa COP School Batch #1 sedang berada di Jepang untuk bertemu dengan para pendukung dan mempresentasikan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran. 


Bagi kalian yang ingin serius terjun dalam dunia konservasi alam, COP School adalah pilihan yang tepat. 
E-mail ke : hery@cop.or.id untuk mendaftar.

ONE WORLD FESTIVAL JAPAN

2015 was the year that Kalimantan burned. The airports of five Kalimantan provinces were almost completely out of action. The COP Borneo Rehabilitation Centre was on standby. Centre for Orangutan Protection even stepped in to help extinguish fires at Wein River, East Kalimantan, and alongside Hutan Group with the Friends of the National Parks Foundation, in Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan.

In the annual event One World Festival in Osaka, Japan, COP and Hutan Group had the opportunity to speak about the fires that had engulfed the whole of Kalimantan, on the 6th and 7th of February 2016. In addition, Hutan Group also made efforts during the event to raise funds and campaign for the protection of natural forests from Palm oil and fires.

Tahun 2015 adalah tahun dimana Kalimantan terbakar. Bandara lima provinsi Kalimantan hampir lumpuh total. Pusat Rehabilitasi COP Borneo siaga. Centre for Orangutan Protection pun turut membantu memadamkan kebakaran di sungai Wein, Kalimantan Timur dan bersama Hutan Group dengan FNPF di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Pada kegiatan tahunan, One World Festival di Osaka, Jepang, COP dan Hutan Group berkesempatan menceritakan kebakaran yang melanda Kalimantan keseluruhan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016. Selain itu HUTAN Group berusaha menggalang dana sekaligus mengkampanyekan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran di acara tahunan itu.

A BEAR CUB SAVED FROM ILLEGAL WILDLIFE TRADE

COP applaud Bali Wildlife Authority for rapidly response our report. A bear cub have saved from illegal wildlife trade. During 2015, COP saved 4 orangutan babies and another 78 wildlife, including bears and clouded leopard from black market. Wildlife trade is one of the main threat for Indonesian wildlife. According to Interpol, this illicit business is biggest one after drug trade and then weapons.

FUN RAFTING FOR ORANGUTAN

No idea where to go for vacation? Let’s join orangufriends’ activity! They always have creative ideas to help Orangutans! Yes, this is one of many ways to raise fund for COP Borneo! COP Borneo is an Orangutan Rehabilitation Center in Labanan, East Borneo. There are 16 Orangutan which are being rehabilitated and need financial support. You can help them just by taking part in Fun Rafting for Orangutan on February 21, 2016 at Elo River. “This is an easy and fun way to help Orangutans,” said Zakia, Orangufriends coordinator. Please feel free to contact her: 089617027148 (WA), 081221810049 (SMS)

Bingung mau liburan kemana? Nyobain acara kreatifnya orangufriends Yogyakarta yang merupakan siswa COP School. Ide mereka itu ngak pernah ada habisnya. Apa saja yang bisa mereka bantu, mereka akan segera bergerak. Ya, ini adalah salah satu acara untuk mencari dana untuk COP Borneo. COP Borneo adalah nama pusat rehabilitasi orangutan di Labanan, Kalimantan Timur. Pusat yang saat ini dihuni 16 orangutan, masih memerlukan dukungan dana dari semua pihak.
Jadi liburan kali ini diisi dengan berarung jeram ya. 21 Februari di sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. “Cara mudah dan menyenangkan membantu Orangutan.”, ujar Zakia, koordinator Orangufriends.
Silahkan hubungi Zakia di 089617027148 (WA) atau di 081221810049 (SMS/Telp)

ME, COP SCHOOL AND KALIMANTAN

Saya hidup di Kalimantan dan saya mengenal begitu baik budaya hidup di Kalimantan. Saya di besarkan di tengah-tengah hutan di Kaki bukit Merangat, yang terletak di Desa Laung, Kecamatan Seberuang. Saya sangat memahami sistem alam di sekitar mulai dari air jatuh di puncak bukit Merangat hingga sampai di Muara Sungai Batang Seberuang. Saya memahami setiap pohon yang tumbuh hingga ia berbuah dan burung berkumpul di atasnya serta babi membuat kubangan di bawahnya.

Suatu hari saya naik di atas puncak Bukit Merangat, di atas sana saya bisa melihat hutan yang begitu luas di depan ladang kami. Hutan yang tidak ada hujungnya seperti di dalam buku IPS yang mengajarkan tentang Kalimantan adalah Lautan Hutan.

Tahun 2004 saya meninggalkan desa Laung, dan sepanjang perjalanan hanya terlihat hutan dan sungai yang membelahnya hingga tiba di kota Sintang.

Tahun 2010 aku kembali ke sana, tepat setelah 6 tahun aku tidak pernah melewati jalan tersebut. Sungguh apa yang aku lihat adalah perkebunan kelapa sawit serta tankI CPO melintas membelah hutan. Tidak aku pahami apa yang terjadi sampai suatu hari saya keluar dari Kalimantan untuk melihat semua itu dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata semua TIDAK BAIK-BAIK SAJA.

Tahun 2011 saya memiliki kesempatan untuk mengikuti COP School Bacth #1 di Jogjakarta, sebuah pelajaran yang saya terima tentang tanah dimana saya di lahirkan. Saat itu saya satu-satunya peserta COP School yang berasal dari Kalimantan. Di sanalah mata saya terbuka bahwa hutan yang hidup bersama saya di pedalaman Kalimantan secara perlahan telah menghilang dan akan terus seperti itu jika tidak dihentikan. Saya sangat memahami apa yang akan terjadi dengan orang di pedalaman seperti saya ketika hutan hilang. Bahan bangunan rumah kami berkurang, sungai-sungai kami tercemar, kampung kami masuk di dalam ijin usaha perkebunan dan di sana tidak ada cara untuk bertahan hidup dengan sistem lama yang diajarkan oleh leluhur kami.

Wahyuni, salah satu pendiri Centre for Orangutan Protection pernah berkata kepada saya, “Kita tidak harus menang, yang kita harus lakukan adalah membuktikan.”. COP School mengajarkan saya untuk melihat sisi lain dari Konservasi Orangutan bukan hanya tentang membantu menyelamatkan populasI orangutan, tetapi juga hutan sebagai sumber dari banyak kehidupan.

Saya adalah Paulinus Kristianto, putra pedalaman Kalimantan Barat.
Bergabunglah bersama COP School Bacth #6, dan buktikan kita melawan untuk hutan di tanah KALIMANTAN, INDONESIA. (NUS)