ONE MORE ORANGUTAN BECAME A VICTIM OF CONFLICT IN EAST BORNEO

Tuesday, May 3, 2016 Kutai National Park received information from local people of Kandolo village, Teluk Pandan, East Kutai that an orangutan was entangled nearby their village.
The veterinarian of APE Crusader team, Centre for Orangutan Protection (COP) gave first aid to the wound on its left foot which was caused by the rope.
“We are currently doing an observation to watch the healing of its left ankle for the next 3 to 5 days to make sure if there is any dead tissue or infection. In order to quicken the tissue growing on the wound and to bring its body back to normal, we will provide medicines and vitamins.”, explained Vet Ade Fitria Alfiani, the veterinarian of APE Crusader team.
His right eye is already damaged and it could not function any more (old wound, no inflammation around the eye) and the sclera of the left eye is getting red-brown but it can still function.
Some wounds are found.
“The findings of this injured orangutan as a victim of human-wildlife conflict, and the bullet which is suspected to be air rifle bullet, prove that the conflict between human and wildlife in East Borneo is a serious matter.”.
Selasa, 3 Mei 2016 Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi dari warga Desa Kandolo, Kec.Teluk Pandan, Kutai Timur tentang adanya orangutan yang terjerat disekitar kampung mereka. Balai TNK langsung bergerak dan membawa orangutan tersebut ke Kantor Seksi TNK di Sangkima.
“Sekarang, kami akan terus melakukan observasi untuk melihat kesembuhan pergelangan kaki kirinya sekitar 3 hingga 5 hari ke depan untuk melihat apakah terjadi kematian jaringan atau infeksi. Untuk membantu mempercepat penumbuhan jaringan pada lukanya kami akan memberikan obat dan vitamin serta menjaga agar kondisi tubuhnya normal kembali.” penjelasan drh.Ade Fitria Alfiani, dokter hewan dari tim APE Crusader.
“Dengan ditemukannya orangutan terluka akibat konflik dengan manusia dan ditambah adanya peluru yang diduga jenis senapan angin ini membuktikan bahwa konflik manusia dan satwa liar di Kalimantan Timur cukup tinggi. Ini kalau menurut panduan Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan yang dikeluarkan oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) disebabkan salah satunya karena hilangnya hutan dengan konservasi tinggi. Orangutan hidupnya menjadi ‘bergabung’ dengan manusia dan terjadilah korban yang kita lihat hari ini.”, ungkap Paulinus Kristianto, Kapten APE Crusader dari COP.

ONE MORE ORANGUTAN BECAME A VICTIM OF CONFLICT IN EAST BORNEO

Bontang, one more human-wildlife conflict occurred in East Borneo. Tuesday, May 3, 2016 Kutai National Park received information from local people of Kandolo village, Teluk Pandan , East Kutai that an orangutan was entangled nearby their village. Balai TNK took an action directly and brought this orangutan to TNK Office in Sangkima.

APE Crusader team made a coordination and left to check the orangutan, then it was brought by Balai TNK to TNK Office in Bontang. The veterinarian of APE Crusader team, Centre for Orangutan Protection (COP) gave first aid to the wound on its left foot which was caused by the rope.

The results of the physical and medical examination on Wednesday, May 4, 2016 are:
1.       It is a male orangutan, indicated to be 20 years old with a skinny body, approximately 20 kg in weight.

2.       The right eye is already damaged and it could not function any more (old wound, no inflammation around the eye) and the sclera of the left eye is getting red-brown but it can still function.

3.       There is an open wound and scars on its left foot. The open wound is very deep up into the bone with a width of 5 cm around the wrist, and there are 400-500 fly larvae on it. The blood is still flowing; tissue seems to be still functioning, although some parts of skin and flesh are decaying.

4.       Some wounds are found:
4.1.       below its right ear and it suspected that there is an air rifle bullet in it.
4.2.       3 cm long on the skin of its shoulder.
4.3.       2 cm wide on the skin of the left side of its stomach
4.4.       3 cm long on the skin of its back
4.5.       two (2) 1 cm long wounds on the skin of its left hand
4.6.       2 cm long on the skin of its hip.

“We are currently doing an observation to watch the healing of its left ankle for the next 3 to 5 days to make sure if there is any dead tissue or infection. In order to quicken the tissue growing on the wound and to bring its body back to normal, we will provide medicines and vitamins.”, explained Vet Ade Fitria Alfiani, the veterinarian of APE Crusader team.

“The findings of this injured orangutan as a victim of human-wildlife conflict, and the bullet which is suspected to be air rifle bullet, prove that the conflict between human and wildlife in East Borneo is a serious matter. According to the Human-Orangutan Conflict Mitigation guidelines issued by Forum Orangutan Indonesia (FORINA), one of the causes of this conflict is the disappearance of the forest which has a high conservation value. Orangutans subsequently live ‘together’ with human and became victims as we see nowadays.”, said Paulinus Kristianto, the captain of APE crusader COP.
 
For more information and interview, please contact:
Paulinus Kristianto (Captain of APE Crusader)
082152828404 / linus@cop.or.id
 
drh. Ade Vitria Alfiani (Veteranarian of APE Crusader)
085643000253

SATU LAGI ORANGUTAN KORBAN KONFLIK DI KALIMANTAN TIMUR

Bontang, konflik manusia dan satwa liar kembali terjadi di Kalimantan Timur. Selasa, 3 Mei 2016 Balai Taman Nasional Kutai (TNK) mendapat informasi dari warga Desa Kandolo, Kec.Teluk Pandan, Kutai Timur tentang adanya orangutan yang terjerat disekitar kampung mereka. Balai TNK langsung bergerak dan membawa orangutan tersebut ke Kantor Seksi TNK di Sangkima.
Tim APE Crusader berkoordinasi dan melihat langsung orangutan tersebut, kemudian oleh Balai TNK dibawa ke Kantor TNK di Bontang. Pagi ini dokter hewan dari tim APE Crusader, Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan pertolongan pertama untuk luka di kaki kiri yang di akibatkan oleh tali jerat.
Dari pemeriksaan fisik dan tindakan medis pada Rabu, 4 Mei 2016, diketahui :
1. Orangutan berkelamin jantan, usia diperkirakan lebih dari 20 tahun dengan berat badan yang cukup kurus hanya 30 kg.
2. Mata bagian kanan sudah rusak susunannya dan tidak dapat difungsikan kembali (luka sudah lama dengan ditandai tidak ada peradangan di sekitar mata) dan mata kiri bagian sclera sedikit merah kecoklatan namun masih berfungsi.

3. Kaki sebelah kiri ada luka terbuka dan masih terlihat adanya tali bekas jerat. Luka terbuka ke dalam sampai tulang dengan lebar 5 cm melingkar pada pergelangan tangan, dan dipenuhi larva lalat sebanyak 400-500 ekor. Masih ada aliran darah, jaringan terlihat masih hidup, meski terdapat beberapa yang membusuk pada kulit dan daging.
4. Ditemukan luka pada :
1. Luka menonjol pada bawah telinga sebelah kanan dan ditemukan 1 (satu) yang di duga peluru jenis senapan angin di dalamnya.
2. Luka pada kulit bahu 3 cm
3. Luka pada kulit perut bagian kiri selebar 2cm.
4. Luka pada kulit bagian punggung 3cm.
5. Terdapat 2 (dua) luka di kulit telunjuk tangan kiri 1 cm.
6. Luka pada kulit pinggul kanan 2 cm.

“Sekarang, kami akan terus melakukan observasi untuk melihat kesembuhan pergelangan kaki kirinya sekitar 3 hingga 5 hari ke depan untuk melihat apakah terjadi kematian jaringan atau infeksi. Untuk membantu mempercepat penumbuhan jaringan pada lukanya kami akan memberikan obat dan vitamin serta menjaga agar kondisi tubuhnya normal kembali.” penjelasan drh.Ade Fitria Alfiani, dokter hewan dari tim APE Crusader.

“Dengan ditemukannya orangutan terluka akibat konflik dengan manusia dan ditambah adanya peluru yang diduga jenis senapan angin ini membuktikan bahwa konflik manusia dan satwa liar di Kalimantan Timur cukup tinggi. Ini kalau menurut panduan Mitigasi Konflik Manusia dan Orangutan yang dikeluarkan oleh Forum Orangutan Indonesia (FORINA) disebabkan salah satunya karena hilangnya hutan dengan konservasi tinggi. Orangutan hidupnya menjadi ‘bergabung’ dengan manusia dan terjadilah korban yang kita lihat hari ini.”, ungkap Paulinus Kristianto, Kapten APE Crusader dari COP.

Untuk informasi dan wawancara silahkan hubungi:

Paulinus Kristianto (Kapten APE Crusader)
082152828404 / linus@cop.or.id

drh.Ade Fitria Alfiani (Dokter Hewan tim APE Crusader)
085643000235

INDONESIAN POLICE INVESTIGATE THE DEATH ORANGUTAN ON SANGATTA RIVER

Based on COP’s report, Indonesian Police will conduct legal investigation to the death of adult male orangutan that found on the Sangata river, East Kalimantan.

Berdasarkan laporan COP, Polri akan melakukan penyelidikan atas tewasnya ORANGUTAN jantan dewasa yang ditemukan di sungai Sangata, Kalimantan Timur.
http://www.suarakutim.com/polisi-selidiki-kematian-orang-utan/

HASIL OTOPSI COP PADA MAYAT ORANGUTAN DARI SUNGAI SANGATTA

Minggu siang (1/5) Centre for Orangutan Protection (COP) mendapatkan informasi dari Polres Sangatta bahwa telah ditemukan 1 (satu) individu orangutan yang telah mati mengapung di Sungai Sangatta, sekitar Jl. Rawa Indah, Kec. Sangatta Utara, Kab. Kutai Timur, Kalimantan Timur. Setelah berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Timur, tim APE Crusader (tim reaksi cepat COP) langsung berangkat dari Berau menuju Sangatta dengan seorang dokter hewan.

Senin siang (2/5) drh. Ade Fitria Alfiani dari COP bersama dengan Polres Sangatta dan Balai TNK melakukan nekropsi untuk mayat Orangutan di RSUD Kudungga, Sangatta atas permintaan dari Polres Sangatta untuk bahan awal dilakukan penyidikan jika ditemukan adanya indikasi kematian oleh sebab manusia. Kesimpulan dari nekropsi atau otopsi adalah :

1 Dipastikan adalah satwa primata jenis Orangutan.
2 Berkelamin jantan dengan perkiraan berumur di atas 25 tahun, ditandai dengan gigi M3 dan Cheekpad.
3 Estimasi berat badan 60-80 Kg.
4 Kematian diperkirakan sudah sekitar 5-7 hari lalu hal ini dimungkinkan setelah dianalisa dari waktu Orangutan mengapung di air dan larva yang ada pada mayat Orangutan.
5 Ditemukan luka lebam sebanyak 5 (lima) titik di bagian tubuh orangutan diantaranya sebagai berikut Luka Lebam pada: 
a Cheekpad diameter 3 cm, 
b punggung bagian kiri diameter 15 cm, 
c betis bagian kiri, 
d bagian bahu kanan, 
e dada bagian depan.
6 Ditemukan luka terbuka sebanyak 4 (empat) titik, diantaranya  pada: 
a lengan kanan bagian atas, 
b punggung tangan kiri, 
c bagian telapak kaki dan 
d bagian ibu jari (lingkaran diameter 1 cm).
7 Ditemukan luka sayatan pada
a betis kanan, 
b dada samping kiri dan 
c lengan kiri sepanjang 15 cm dalam 1 cm.
8 Luka bakar pada lengan kanan bagian bawah dengan panjang 20 cm dan lebar 5 cm.
9 Semua kulit/epidermis serta rambut pada orangutan mengelupas, hal ini disebabkan oleh air dan lama mengapung di air.
10 Diduga orangutan ini mati sebelum tenggelam dengan indikasi terapungnya paru-paru dan tidak ditemukan adanya pasir atau kerikil  yang berada di dalam paru-paru.

“Hasil nekropsi hari ini akan kami serahkan secepatnya kepada Polres Sangatta dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam hal ini Balai KSDA Kaltim dan Balai TNK. Kami berharap temuan satu mayat orangutan ini menjadi temuan terakhir yang berada tidak jauh dari pemukiman penduduk. Setelah kita cukup dikejutkan dengan tiga orangutan terbakar di Bontang akhir Februari lalu.”, ucap Paulinus Kristianto, Kapten tim APE Crusader dari COP.

drh. Ade Fitria Alfiani dari COP menjelaskan, “Setelah dilakukan nekropsi tadi siang, betul yang ditemukan di sungai Sangatta kemarin adalah satwa orangutan, berkelamin jantan dan diperkiraan umurnya 25 tahun. Ada beberapa lebam di bagian tubuhnya seperti di pipi/cheekpad, punggung bagian kiri, betis bagian kiri, bahu sebelah kanan dan dada bagian depan.“

Setelah dilakukan nekropsi mayat orangutan dikuburkan di dalam kawasan Taman Nasional Kutai, Senin sore bersama dengan tim Polres Sangatta, TNK dan COP.

Untuk informasi dan wawancara silahkan hubungi:
Paulinus Kristianto (Kapten APE Crusader) 
082152828404 / linus@cop.or.id

WILDTRIP COP: LEARNING AND FUN

Suka jalan-jalan? Suka nikmati alam? Bingung ngak punya teman ngelakuin jalan-jalan ke alam? Kamu harus ikut orangufriends. Orangufriends itu adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection. Selama ini, kegiatan yang sering muncul adalah kehebatan orangufriends mengorganisir kegiatan. Mulai dari school visit, campus visit, pameran, acara musik, kampanye dan lain sebagainya. Ternyata orangufriends punya kegiatan yang ringan juga, yaitu WILDTRIP.

Wildtrip kali ini dilaksanaka di Plunyon, tepatnya di kaki Merapi Yogya. Tapi ya namanya berkegiatan alam, sesaat setelah tenda berdiri, tenda diterjang hujan dan angin kencang. Dinginnya malam minggu di kaki gunung Merapi pun menghampiri. Ini tantangan tersendiri. Tubuh harus tetap hangat, dan di mulailah cerita pengalaman hidup masing-masing keluar. Tentu saja ini menambah keakraban orangufriends yang ikut.

Tapi yang namanya COP, ngak mungkinlah hanya senang-senang aja. Kita belajar untuk mengamati burung atau bahasa kerennya Bird Watching. Kenal mas Panji dari Paguyuban Pengamatan Burung Yogya kan? Ya itu dia, mentor yang bersedia berbagi pengetahuan tentang seluk beluk bird watching. Identifikasi burung langsung di alam. Senengnya kita, saat melihat elang terbang bebas di alam. Ini adalah keberuntungan luar biasa bagi peserta wildtrip 16 April 2016 ini.

Lagi-lagi… ini ngak sekedar acara senang-senang. Wildtrip ditutup dengan tanam pohon bersama ACICIS (The Australian Consorsium for ‘In-Country’ Indonesian Studies). Maaf ya… kegiatan COP ya seperti itu. Saat bersenang-senang, kita tetap harus belajar menghargai sesama manusia dan juga alam. (AGA – Orangufriends Yogya).

SAVE BONTI

Even protected conservation forest is not safe for orangutan. Our team collect her from Kutai National Park Office in Bontang after a local handed over this baby. His dog chased an orangutan and this baby separated from mom. We heard this very similar stories very often.
Kutai National Park is one of the most threatened protected area in Indonesia. An illegal road have triggered illegal settlement. This is the National Park where we can find illegal school, government offices and gasoline station as well as brothel houses.
This picture taken this morning, while our APE Crusader Team take a break. Still halfway from 20 hours drive to our rescue centre COP Borneo in Berau, North East Kalimantan.
Masih separuh perjalanan dari duapuluh jam perjalanan orangutan Bonti ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Berau Kalimantan Timur.
“Bayi orangutan betina ini terpisah dari induknya saat anjing mengejar induk orangutan ini.”, ujar penyerah orangutan Bonti.
Ibu mana yang akan melepaskan bayinya begitu saja… ini adalah kisah pilu yang terpaksa tim APE Crusader dengarkan.
‪#‎forestwars‬ ‪#‎saveordelete‬

STOP SAWIT IN EARTH DAY

“Stop Palm Oil!”, said Paulinus Kristanto. “April 16, 2016 COP found one (1) baby orangutan using old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the ground in Palma Serasih’s oil palm plantation.”, he explained.
“The location where we found the orangutan was a fragmented forest. Orangutan will be more pressured because their living space is getting narrower. They could die of starvation, be killed by workers of the plantation because it is considered as pest, be killed by local people because they endanger the safety or be killed by traditional hunters to be eaten or to be sold.
‪#‎StopSawit‬ ‪#‎ForestWars‬ ‪#‎ConflictPalmOil‬
This year, COP along with Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim, Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, RASI Foundation, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-biduk and Gusdurian commemorated the Earth Day which falls on April, 22 each year.
‪#‎HariBumi2016‬ ‪#‎EarthDay2016‬
“Stop Sawit!”, tegas Paulinus Kristanto. “16 April 2016 COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit Palma Serasih.”, jelasnya.
“Lokasi tempat ditemukan kedua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. Orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual.
Tahun ini, COP bersama Jatam Kaltim Gmni Samarinda FNKSDA Kaltim, KOPHI Kaltim Plankthos FPIK UNMUL, JAM PMII IAIN, Forum Peduli Teluk Balikpapan, LMND Kaltim, TKPT Jatam, MAPLOFA UNMUL, POKJA 30, WALHI Kaltim, Yayasan RASI, AMAN Kaltim PKD Kaltim, Forum Mahasiswa Kec. Biduk-Biduk dan Gusdurian bersatu dalam FORUM SATU BUMI KALIMANTAN TIMUR dalam memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya.

ORANGUTANS COUNT DOWN TO DEATH IN OIL PALM PLANTATION OF PT. AE

Today, Centre for Orangutan Protection (COP) published the latest conditions : The fate of orangutans affected by deforestation for oil palm plantations allegedly committed by PT. AE in East Kalimantan. There are some important things in the report:

COP found one (1) baby orangutan in an old nest. At the same time, COP found one (1) adult orangutan walking on the oil palm plantation. Both were found on April16, 2016 between 17:00 to 17:30 in a fragmented forest.
The forests seem to be fragmented through clearing and burning process. Thus, the orangutan will be increasingly pressured because their living space more is getting narrower. They would starve to death, be killed by workers of the plantation because they are considered as pests, be killed by local people because they endanger the safety, or be killed by traditional hunters to be eaten or sold.

This report reinforces the previous reports submitted by COP on March 10, 2016, with reference number 06/HQ-03/COP/2016. The report mentions that 13 (thirteen) orangutans were threatened. The report has been followed up by the BKSDA Kaltim, Secretariat of the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), The Forest Trust (TFT), Golden Agri Resources (GAR) and Gawi Plantation. Unfortunately, the Ministry of Agriculture, Palm Oil Association Indonesia (GAPKI) and the Indonesian Sustainable Palm Oil decided to cover this crime by ignoring the report from COP. Counterproductive action was taken by PT AE by providing information that suggests that there is nothing wrong with the company’s operations and orangutans in its concession. Other action that is more counterproductive is to bribe the media Bisnis Indonesia to release a unilateral opinion. COP deplores the attitude of PT. AE suggesting that the effort taken by COP is a kind of Black Campaign in the palm oil industry. PT. AE should be focus to resolve the problem with the orangutans. It will build a good
image for national palm oil industry.

Ramadhani, Managing Director COP states:
“BKSDA Kaltim should be proactive to deal with these cases so that victims (orangutan) can be prevented early. The Ministry of Forestry should learn from the previous cases that the lack of law enforcement has led to more casualties (orangutan). 5 Orangutan rescue center in Borneo Orangutan with more than 2000 orangutans is a valid proof on manmade disaster caused by irresponsible palm oil industry.”.

“PT AE should admit their mistakes and focus to find a solution so that
orangutans could be saved. Irresponsible palm oil companies like PT AE
affects the image of the palm oil industry company. COP believes that TFT
and RSPO will eagerly help PT. AE to grow into a company that is friendly
towards orangutans and forests.”.

For further information and interviews, please contact:
Ramadhani
HP :081349271904
email :dhani@cop.or.id

ORANGUTAN MENGHITUNG MUNDUR KEMATIAN DI KEBUN SAWIT PT. AE

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini mempublikasikan kondisi terkini : nasib orangutan yang terdampak pembabatan hutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit yang diduga dilakukan oleh PT. AE di Kalimantan Timur. Ada beberapa hal penting dalam laporan tersebut, yakni: 

COP menemukan 1 (satu) anak orangutan yang menggunakan sarang lama. Pada saat yang bersamaan, COP menemukan 1 (satu) orangutan dewasa yang berjalan di tanah perkebunan sawit. Keduanya ditemukan pada tanggal 16 April 2016 jam 17.00 – 17.30. Lokasi tempat ditemukan ke dua orangutan tersebut merupakan kawasan berhutan yang sudah sangat terfragmentasi. 
Hutan – hutan yang terfagmentasi tersebut nampak dalam proses dibabat dan dibakar. Dengan demikian, orangutan akan semakin terdesak karena ruang hidupnya semakin sempit. Mereka bisa mati kelaparan, tewas dibunuh pekerja sawit karena dianggap hama, dibunuh masyarakat setempat karena dianggap membahayakan keselamatan dan atau dibunuh pemburu tradisional untuk dimakan atau diambil bayinya untuk dijual. 

Laporan ini menguatkan laporan COP sebelumnya yang dikirimkan pada tanggal 10 Maret 2016 dengan nomor surat 06/HQ-03/COP/2016. 13 (tiga belas) orangutan dilaporkan terancam dalam laporan tersebut. Laporan tersebut sudah ditindaklanjuti oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, Sekretariat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) , The Forest Trust (TFT), Golden Agri Resources (GAR) dan Gawi Plantation. Sayangnya, Kementerian Pertanian, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dan Indonesian Sustainable Palm Oil memilih untuk melindungi kejahatan ini dengan mengabaikan laporan COP. Tindakan kontraproduktif malah diambil pihak PT AE dengan memberikan keterangan yang mengesankan bahwa tidak ada yang salah dengan operasional perusahaan dan orangutan di kawasan konsesinya. Tindakan kontraproduktif lainnya adalah dengan membayar media Bisnis Indonesia untuk memuat opini sepihaknya. COP menyesalkan sikap PT. AE yang mensankan bahwa upaya COP adalah Black Campaign pada industri kelapa sawit. Sudah seharusnya PT. AE fokus menyelesaikan masalahnya dengan orangutan. Ini akan membangun citra yang baik bagi industri kelapa sawit nasional. 

Ramadhani, Direktur Pelaksana COP memberikan pernyataan sebagai berikut: 

“BKSDA Kaltim hendaknya proaktif dalam menangani kasus ini agar korban orangutan bisa dicegah lebih dini. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan belajar dari kasus – kasus sebelumnya bahwa nihilnya penegakan hukum telah menyebabkan korban orangutan terus berjatuhan. 5 Pusat Penyelamatan Orangutan di Kalimantan dengan 2000 lebih orangutannya adalah bukti yang valid atas bencana buatan industri kelapa sawit yang tidak bertanggung jawab.” 

“Sebaiknya PT AE mengakui saja kesalahannya dan fokus ke solusi sehingga orangutan dapat diselamatkan. Yang merusak citra industri kelapa sawit adalah perusahaan – perusahaan tak bertanggung jawab seperti PT AE inilah. COP yakin, TFT dan RSPO akan bersemangat membantu perusahaan PT. AE untuk tumbuh menjadi perusahaan yang ramah orangutan dan ramah hutan.” 

Untuk informasi lebih lanjut dan wawancara, harap menghubungi 
Ramadhani
HP : 081349271904
email : dhani@cop.or.id

WILD TRIP PLUYON, MT MERAPI YOGYA

Apa sih enaknya ikut ‪#‎Orangufriends‬ ?
Kamu suka jalan-jalan dan sedikit bertualang? Ini salah satu kegiatan Orangufriends. ‪#‎Wildtrip‬ di Plunyon tepatnya di kaki gunung Merapi Yogyakarta, 16-17 April 2016.
Tidak hanya sekedar foto-foto, wild trip juga diisi dengan praktek ‪#‎BirdWatching‬ yang didampingi oleh Panji dari Paguyuban Pengamat Burung Yogya.
Serius ya kegiatannya? Yang pasti tidak hanya senang-senang. Selain itu kegiatan tanam pohon bersama ACICIS (The Australian Conseortium for In-Country Indonesian Studies).
Tunggu apalagi? Daftar jadi Orangufriends ya, dengan mengirim email ke info@orangutanprotection.com melalui iuran tahunan minimal Rp 100.000,00 kamu akan mendapatkan Orangufriends Kit dan bisa mengikuti kegiatan Orangufriends lainnya.

BAZZAR AT SELYCA KINDERGARTEN

Kreatifitas dimulai dari usia dini. Luar biasa sekali anak-anak TK Selyca, Samarinda, Kalimantan Timur ini. Mereka membuat kerajinan tangan dan mengadakan bazar di sekolahnya. Hasil dari penjualan kerajinan tangan itu, mereka donasikan untuk orangutan di COP Borneo. Mereka prihatin dengan kondisi orangutan yatim yang harus berpisah dengan induknya.
Hebatnya… mereka yang masih kecil peduli Orangutan Indonesia.
Seperti Elang, salah satu murid, menyerahkan celengannya untuk orangutan di COP Borneo. Ini sangat mengharukan, anak dengan usia 4 tahun mengajarkan kepada kita untuk peduli pada orangutan, satwa endemik Kalimantan, Indonesia. Sikap Elang menginspirasi kita untuk tetap semangat.
Terimakasih Orangufriends Samarinda… Kalian juga hebat… mengajak generasi penerus lebih peka pada sekitarnya.