PUSAT PERLINDUNGAN ORANGUTAN BANTU SATWA BENCANA ALAM

Organisasi orangutan kok bantu sapi, anjing, kucing dan lainnya? Nyinyiran itu selalu datang kalo bencana datang. Nama lembaga kami, Pusat Perlindungan Orangutan atau lebih sering disebut Centre for Orangutan Protection (COP) memang memiliki tim khusus bantuan satwa bencana. Tim ini bernama APE Warrior yang sudah bekerja sejak tahun 2010 membantu satwa yang terdampak bencana alam.

Tahun 2010 tepat saat Gunung Merapi erupsi besar, tim ini menyelamatkan satwa yang membutuhkan pertolongan seperti ternak dan hewan peliharaan yang ditinggal pemiliknya mengungsi. Erupsi Gunung Agung, Gunung Sinabung, Gunung Kelud, gempa Aceh, tsunami Banten bahkan likuifaksi dan tsunami Palu, tim ini dengan cepat memberi bantuan. Tim ini di dukung penuh para relawan orangutan yang tergabung di Orangufriends baik secara fisik maupun finansial.

Apa saja yang dikerjakan APE Warrior? Setiap nyawa sangat berarti! Penyelamatan satwa yang terkurung tanpa pakan maupun minum yang cukup, ada yang dibawa ke pengungsian satwa, ada juga pemberian pakan dan minum di tempat, pengecekkan kesehatan satwa, apakah ada yang membutuhkan perlakuan khusus seperti operasi. APE Warrior membangun tempat penampungan sementara yang sering disebut shelter. “Karena jamak terjadi ketika bencana terjadi di Indonesia bantuan pertolongan manusia adalah utama. Kekosongan bantuan satwa bencana inilah yang kami isi dengans egala kemampuan kami.”, ujar Daniek Hendarto, direktur COP.

“Tentu saja karena keahlian kami di satwa ya kami membantu sesuai keahlian kami. Ya tetap budheg (tuli) saja kalo ada yang bilang cari populer, memperkaya diri dan lainnya. Karena menyelamatkan makhluk lain di luar manusia dalam kondisi darurat adalah mulia.”, tambah Daniek lagi. Saat ini, relawan satwa Siaga Merapi tanpa membedakan gender saling bahu membahu membantu satwa masyarakat yang membutuhkan. Kamu juga mau membantu? (NIK)

PANGGILAN UNTUK MENJADI RELAWAN SATWA SIAGA MERAPI

Sejak 2010, Centre for Orangutan Protection (COP) telah mulai membangun tim bantuan satwa untuk Tanggap Darurat bencana. Sebagaimana kita thu, di Indonesia sudah jamak ketika bencana terjadi, prioritas bantuan masih ditujukan ke manusia.Sementara perhatian terhadap satwa korban bencana, masih menjadi hal yang terabaikan. Padahal, satwa yang menjadi ternak masyarakat adalah sumber utama bagi pemulihan ekonomi mereka kelak paska bencana.

Tak sedikit masyarakat yang tidak mau mengungsi karena masih ada sapi atau hewan ternak peliharaan lainnya yang harus ditinggal di rumah mereka. Mereka merasa tidak ada jaminan keamanan terhadap hewan-hewan ternak mereka, saat diharuskan mengungsi oleh aturan standar keselamatan tanggap darurat bencana. Sementara, jika proses mengungsi ditunda, potensi terjadi korban menjadi lebih besar, baik korban manusia maupun satwa.

Pagi ini, relawan COP yang terdiri dari Orangufriends Yogyakarta kembali naik ke Gunung Merapi. Kegiatan tanggap darurat menyelamatkan satwa ternak warga yang ditinggal mengungsi ini sudah berjalan seminggu. Mereka membantu melakukan evakuasi satwa, memberi suplai air minum, memberikan pakan hijauan hingga mencari opsi bantuan satwa lainnya.

Saat ini Merapi sudah di level 3 atau Siaga, jika teman-teman ada waktu dan bisa curi-curi waktu, teman-teman di Yogyakarta sangat butuh bala bantuan lebih banyak lagi untuk kegiatan ini. Jika kalian merasa tertantang untuk bisa ambil bagian, ditunggu kedatangannya di camp APE Warrior Jogja! (Novi_Orangufriends)

KESIAPAN PENAMPUNGAN PENGUNGSI TERNAK GUNUNG MERAPI

Kesiapan tempat penampungan hewan ternak yang terdampak peningkatan erupsi Gunung Merapi terus diperhatikan. Hari ini, tim APE Warrior dibantu Orangufriends (relawannya) menelusuri shelter pengungsian sapi selain di Singlar, Glagaharjo, Cangkringan, Yogyakarta. Air adalah kebutuhan utama di setiap shelter (penampungan). Selain minum ternak tentunya untuk membersihkan kandang. Kebersihan berkaitan erat dengan kesehatan. Di masa pandemi ini menjadi titik berat yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Segala cara dilakukan termasuk mengirim tangki air.

Usai memastikan tangki air datang dan mengisi tempat penampungan air, tim naik ke dusun Kali Tengah Lor. Ini adalah dusun yang paling dekat dengan Merapi. “Masih banyak sapi yang tidak mau diungsikan oleh pemilik. Hitung cepat dengan hewan peliharaan lainnya seperti anjing dan kucing pun dilakukan Angel (orangufriends). Untuk dusun ini, anjing terlihat lebih banyak.”, ujar Hary Susanto, kapten Tim APE Warrior COP.

Warga Kali Tengah Lor belum semuanya mengungsi, masih kaum rentan saja yang mengungsi. Kemudian kami pun melanjutkan ke Kinahrejo dan bunker Kaliadem untuk mengecek informasi banyak satwa liar yang turun dari G. Merapi, namun kami juga tidak melihat tanda-tanda tersebut. Selanjutnya tim ke Tlogo Putri di Kaliurang, wisata masih buka untuk umum walaupun sepi pengunjung. Warung masih banyak yang buka. Sekelompok monyet ekor panjang masih beraktivitas seperti biasanya.

Centre for Orangutan Protection memanggil para relawan untuk bersiap membantu. Tim APE Warrior yang telah 10 (sepuluh) tahun membantu satwa terdampak bencana berharap ‘kita lebih siap’. Bencana datang sewaktu-waktu. Siapa pun kamu dimohon untuk berperan aktif. Bantu kami lewat kitabisa.com Kami membutuhkan masker, sarung tangan medis, disinfektan, satu tangki air, pakan ternak, makanan anjing dan kucing. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com atau kirim pesan lewan sosial media COP. (HER)

GUNUNG MERAPI MEMANGGIL ORANGUFRIENDS

Pagi ini APE Warrior menerima pesan singkat, “Aku pak Widya, rencananya hari ini evakuasi satwa ternak. Ada 95, semua bergabung di kelompok ternak.”. Pesan segera berlanjut ke Orangufriends (kelompok relawan COP) Yogyakarta. “Semua siap? Siapa saja?”.

Peningkatan aktivitas vulkanik G. Merapi menjadi dasar bagi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta menaikkan status Gunung Merapi dari Waspada (level II) ke Siaga (level III) pada 5 November 2020.

Tim APE Warrior menuju shelter ternak di dusun Gading, Yogyakarta. Penanganan sebelum bencana erupsi Gunung Merapi diawali dengan kordinasi dengan tim Puskewan Cangkringan, PDHI, ISPI (Ikatan Sajana Peternakan Indonesia). Para relawan orangutan pun langsung membersihkan shelter yang berada di kelurahan Glagaharjo, kecamatan Cangkringan.

Ada 49 sapi yang telah mengungsi, semuanya dari Kalitengah Lor. Sementara kapasitas shelter Kandang Singlar bisa menampung 150 ekor. “Centre for Orangutan Protection memang konsentrasi untuk mengungsikan ternak warga, bercermin pada tahun 2006, para pengungsi tetap bolak-balik ke rumahnya untuk memberi pakan ternak. Ini sangat membahayakan keselamatan mereka. Tapi jika ternak tidak diberi makan, ternak akan mati. Matinya ternak adalah lonceng kematian ekonomi para peternak. Usai bencana, apa yang bisa mereka lakukan? Itu sebabnya, kami memikirkan ternak pada zona merah. Menolong satwa sama saja menolong kehidupan manusia.”, jelas Daniek Hendarto, direktur COP.

Para peternak dengan usia rentan, ibu hamil dan anak-anak sudah memasuki tempat pengungsian. Hingga saat ini, ada 49 ternak yang masuk ke shelter Kandang Singlar, Sleman, Yogyakarta. Shelter ini adalah tempat ternak warga dusun Singlar, Cangkringan berteduh dan masih ada tempat untuk sapi dari dusun lainnya yang mau mengungsi.

APE WARRIOR BERSIAP UNTUK GUNUNG MERAPI

Usai melihat pesan singkat berisi peningkatan status aktivitas Gunung Merapi dari Waspada (Level II) ke Siaga (Level III), pandangan mata tak lepas dari G. Merapi yang tak jauh dari camp APE Warrior Centre for Orangutan Protection. “Tepat sepuluh tahun yang lalu, tim relawan COP yang dipimpin Daniek Hendarto bolak-balik menurunkan pakan ternak ke kandang-kandang sapi. Rumput sebagai pakan sapi tersebut mereka potong sendiri dari daerah Bantul. Tidak ada rumput yang luput dari abu Merapi. Paginya ngarit, setelah truk penuh langsung bawa ke daerah Sleman. Utara ke Selatan dan Selatan ke Utara menjadi jalur tim penyedia pakan ternak. Begitu keesokan harinya. Sampai akhirnya membuat shelter atau tempat pengungsian untuk ternak di tempat yang lebih aman.”.

Tidak hanya ternak maupun hewan peliharaan. Satwa liar yang terkurung di kandang-kandang penduduk pun turut disisir, rumah tak berpenghuni karena ditinggal mengungsi. Burung-burung di dalam sangkar ada yang bertahan, tapi ada pula yang tidak. Yang mati dikuburkan, tentu saja dengan identifikasi dan dokumentasi agar tidak terjadi kesalah-pahaman. COP tidak sendiri, ada Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Animal Friend Jogja (AFJ) yang juga fokus menyelamatkan hewan. “Merapi 2010 tidak mungkin terlupakan. Siapa pun kamu dengan keahlian apapun, bisa menjadi relawan. Yang bisa masak, langsung bergabung di dapur yang menyediakan makanan untuk para relawan satwa. Kebetulan, rumah Daniek adalah rumah terdekat di batas zona aman dari Merapi.

Untuk satwa-satwa yang terkurung dan masih hidup, lagi-lagi tim harus mencari pemiliknya. Meminta ijin untuk dievakuasi. Seperti nasib Elang kepala abu, kera ekor panjang yang ditinggal pemiliknya mengungsi. Bukan pekerjaan mudah, sembari tetap waspada akan turunya awan panas Merapi yang bisa membinasakan apapun yang dilewatinya. “Nyawa taruhannya, tapi kami terus berhitung, berbagi peran. Ada yang memantau informasi dari bawah, ada yang memperhatikan Merapi itu sendiri dan ada juga yang bergerak mencari korban (satwa), mendata, mendokumentasikan, membawa kandang atau juga membawa makanan hewan peliharaan. Kami juga memberi makan anjing, kucing dan ayam yang terkadang tidak mungkin kami evakuasi karena keterbatasan.”, ingat Daniek Hendarto yang kini telah menjadi Direktur Centre for Orangutan Protection.

Hela nafas panjang diiringi doa agar Merapi tak semarah 2010. Tim APE Warrior bersiap. Centre for Orangutan Protection memanggil relawannya. Orangufriends, kami akan mendata kemampuan dan kesedianmu. Tak menunggu lama, grup whatsapp menjadi ramai. COP bangga pada Orangufriends!

TANGISAN INDUK PRIMATA TANPA AIR MATA

Pernah melihat induk primata yang tidak ingin melepaskan anaknya bahkan ketika anak tersebut sudah mati? Perilaku ini memang benar ada dan disebut sebagai infant-corpse-carrying behavior. Tidak semua satwa memiliki perilaku ini, hanya anthropoid primates atau primata tingkat tinggi yang biasa melakukannya. Induk tersebut dapat membawa jasad anaknya selama beberapa hari, namun simpanse dan monyet jepang pernah terobservasi membawa anaknya selama lebih dari satu bulan, mulai dari jasadnya membusuk hingga akhirnya mengeras seperti mumi.

Sang induk memperlakukan anaknya seolah-olah mereka masih hidup. Merawat, mengusir lalat bahkan menjerit kesedihan ketika tidak sengaja menjatuhkan jasad anaknya dan meletakkannya di tanah secara pelan-pelan. Seorang pelajar Campfire Academy (Tracey) yang melihat kejadian itu mengatakan, “Dia (induk) tampak sedih seolah-olah sedang berduka dan terus mencoba melatakkannya di pohon seolah-olah mendorongnya untuk bergerak dan berpegangan.”. Walaupun dari jauh kita sudah dapat mencium bau yang tidak sedap, tetapi sang induk tampak tidak menghiraukannya.

Tidak diketahui secara pasti penjelasan mengapa perilaku itu muncul. Namun, peneliti mempercayai beberapa hipotesis. Pertama, “unawareness hypothesis’ yang menunjukkan sang induk tidak memiliki kemampuan kognitif untuk membedakan kondisi ‘mati’ pada anaknya. Hipotesis ini masih perlu dipertanyakan karena pada faktanya induk primata memperlakukan anaknya yang sudah mati berbeda dengan ketika anak tersebut asih hidup, contohnya anak yang sudah mati lebih sering digendong dan diseret, dimana perilaku ini tidak pernah dilakukan pada anak yang masih hidup.

Kedua, ‘unresponsive but alive’, menganggap bahwa anaknya hanya sakit dan akan pulih seperti normal kembali. Ketiga, ‘social-bonds hypothesis’ yang menyatakan bahwa sang induk melakukannya karena ikatan sosial terhadap anaknya yang sangat kuat hingga sulit untuk diputuskan. Ikatan antara induk dan anak ini memang sudah terbentuk sejak lahir dan tidak akan hilang begitu saja begitu anaknya mati. Terakhir, hipotesis yang dipercaya peneliti paling kuat dan masuk akal adalah ‘grief-management hypothesis’ yang menyatakan hal itu dilakukan sebagai cara untuk mengatasi kehilangan yang dirasakan sang induk secara emosional.

Kita memang tidak tahu pasti apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh setiap satwa. Namun jelas sekali bahwa mereka juga memiliki perasaan dan dapat kehilangan layaknya manusia. Tidak sepantasnya manusia terus menerus mengeksploitasi kehidupan mereka. Penting sekali untuk diingatkan bahwa manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang sangat menyayangi anaknya dan akan melakukan apapun demi melindungi, mengasuh dan membesarkan anaknya. Ancaman hidup terhadap satwa harus dihentikan karena kehidupan mereka sama pentingnya seperti kehidupan kita (manusia). (Amandha_Orangufriends)

Sumber:
https://www.sciencedaily.com/releases/2020/03/200311082942.htmhttps://mol.im/a/7621385

ORANGUTAN BUKAN MAINAN, ORANGUTAN DI HUTAN AJA

Kurang lebih 97% DNA orangutan memang sama dengan manusia, namun bukan berarti mereka memiliki kebiasaan yang sama dengan manusia. Beredar beberapa hari belakangan, sebuah video singkat yang entah darimana asal-usulnya tiba-tiba banyak dibagikan di media sosial oleh beberapa akun. Dalam video ini nampak beberapa orang sedang berada di dalam sebuah mobil sambil merekam orangutan yang terlihat sedang minum dari minuman kaleng sambil memegang buah pisang. Lalu terdengar tawa orang-orang yang menonton setiap kali melihat orangutan tersebut minum dari kaleng minuman.

Orangutan hingga sekarang masih sering dijadikan sebagai obyek, padahal statusnya kritis terancam punah menurut IUCN. Orangutan juga termasuk dalam satwa dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.106 tahun 2018. Lalu, menurut UU No. 5 tahun 1990, setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi baik dalam keadaan hidup ataupun mati.

Selain itu, pengecualian dari larangan tersebut, hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan dan atau upaya penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan. “Sayangnya dalam video yang dimaksud, orangutan hanya menjadi sebuah obyek hiburan bagi orang-orang tersebut. Padahal orangutan di alam atau habitatnya sangat jauh lebih besar daripada sekedar menjadi hiburan.”, kata Liany Dianita Suwito, manajer program konservasi eks-situ Centre for Orangutan Protection. Orangutan adalah salah satu spesies payung yang memiliki peranan sangat penting dalam menyebar biji-bijian dan menjaga regenerasi hutan. Dan banyak spesies lainnya yang hidup bergantung pada peranan orangutan di alam.

Kecerdasan orangutan membuat mereka mudah untuk belajar dan bahkan meniru perilaku manusia (Russon&Galdikas, 2014). Dan ketika orangutan dipelihara oleh manusia maka tentu perilaku alaminya pun terpengaruh. Di sinilahsebab mengapa orangutan tidak seharusnya menjadi hewan peliharaan. Ketika kecerdasan hewan ini disalahgunakan dan dieksploitasi maka tenta tak hanya berakibat buruk bagi orangutan tersebut secara fisik dan mental, tetapi juga menurunkan kemungkinannya untuk dilepasliarkan kembali ke alam. (LIA)

MARAKNYA JUAL-BELI MACACA DI PLATFORM ONLINE SHOP

Macaca atau yang disebut dengan monyet ekor panjang (MEP) ramai diburu untuk diperjualbelikan oleh masyarakat luas. Setidaknya di setiap pasar burung atau pasar hewan di kota besar maupun kecil terdapat pedagang yang menjual macaca. Di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), bahkan terdapat pedagang yang menjual 8-11 ekor macaca pada kiosnya. Padahal, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) memiliki batas atas jumlah maksimal per tahunnya dalam memanfaatkan macaca, yaitu sebanyak 20.000 ekor. Jumlah tersebut sudah termasuk kuota untuk diekspor ke beberapa negara, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat (Aditya, 2019).

Di sisi lain, saat ini macaca menjadi salah satu primadona masyarakat untuk dipelihara. Tren memelihara macaca ini juga semakin meningkat dengan adanya influencer-influencer di media sosial yang memamerkan berbagai satwa liar peliharaannya. Seperti Irfan Hakim dan Lukman Hakim yang memamerkan macaca albinonya. Pemahaman yang diterima masyarakat dari influencer menjadi bias, terutama keurgensian dalam memelihara macaca. Mereka yang mengidolakan para influencer tersebut tentunya memilih mengikuti jejak memelihara satwa liar. Sayangnya, tidak semua orang memiliki pengetahuan dan juga biaya yang cukup untuk memeliharanya.

Dampak dari pameran influencer atas kepemilikan satwa liarnya, permintaan masyarakat terhadap macaca sebagai hewan peliharaan naik secara signifikan. Dalam kondisi pandemi COVID-19, platform jual-beli online menjadi alternatif penjualan yang digemari. Penelusuran Orangufriends platform seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, FJBKaskus, Jualo.com dan Carousell banyak memperdagangkan bayi macaca. Bayi macaca dengan usia 1-3 bulan dijual mulai dari harga Rp 80.000,- hingga Rp 1.200.000,00 per ekornya.

Apa yang bisa kita lakukan? Jika kamu peduli, laporkan toko online tersebut pada platform nya. Satwa liar, di hutan aja. Biarkan macaca menjalankan perannya di habitatnya. Bukan dalam pelukanmu! (Rakyan_Orangufriends)

STOP PASANG JERAT!

Indonesia merupakan salah satu wilayah yang memiliki tingkat keragaman hayati yang tinggi, berbagai macam flora dan fauna endemik yang khas dapat ditemui. Kekayaan alamnya banyak dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat pedalaman untuk menjadikannya sebagai tumpuan hidup. Namun masih banyak masyarakat yng memanfaatkannya dengan tidak bertanggung jawab, salah satunya perdagangan satwa liar yang mana MABES POLRI mencatat pada pekan ke-27 tahun 2020 tingkat kriminalisasi tertinggi ke-3 adalah penggelapan termasuk penggelapan satwa dilindungi.

Tingginya nilai jual bagian tubuh satwa liar menyebabkan besarnya ancaman terhadap satwa liar. Dampak yang terjadi karena meningkatnya perdagangan satwa liar adalah perburuan. Berbagai cara dilakukan agar mendapat satwa incaran. Salah satunya dengan memasang jerat. Jerat masih menjadi cara lain yang digunakan untuk berburu satwa karena mudah didapat dan dimodifikasi. Jerat lebih berbahaya karena tidak memiliki target spesifik. Satwa apapun bisa menjadi korban. Pada awal bulan September lalu, satu Harimau Sumatera di kabupaten Siak, Riau ditemukan mati dengan kondiri leher terjerat tali kawat baja. Selain hutan, Taman Nasional juga menjadi incaran pemburu. Dalam surat siaran yang dikeluarkan KLHK 12 September 2020, tim Gabungan Ditjen Gakkum adan Balai TN Bukit Tiga Puluh menemukan dan mengamankan 24 jerat yang dipasang pemburu untuk menangkap satwa dilindungi di dalam kawasan TN Bukit Tiga Puluh. Operasi pembersihan jerat ini dilakukan sejak 27 Agustus sampai 7 September 2020.

Memasang jerat termasuk dalam kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa liar dilindungi melanggar pasal 21 ayat (2) huruf a jo pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukum pidana penjara maksimum 5 tahun dan denda maksimum Rp 100 juta. #JeratJahat (Netu_Orangufriends)

KERJA SUKARELA UNTUK SATWA LIAR DI JOGJA

Di tengah pandemi COVID-19 yang tak kunjung reda, ada satu sisi pekerjaan yang tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Bekerja sukarela untuk satwa liar yang terpaksa hidup di dalam kandang. Angel, relawan orangutan yang secara berkala meluangkan waktunya membantu tim APE Warrior COP, kali ini berkesempatan menjadi perawat satwa di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja selama dua hari. Tentu saja tidak sendirian, dia bersama Jogi dan Santini.

Pagi ini, kandang-kandang burung elang, nuri dan kakatua akan dibersihkan. Lalu, si predator tingkat tinggi itu pun diberi pakan berupa kadal dan mencit. “Seram loh, lihat betapa cepatnya elang menyambar kadal hidup yang disediakan untuk makanannya.”. Tapi para relawan yang tergabung di Orangufriends ini tanpa ragu mengerjakan satu per satu tugas hari pertama ini. Tak lupa memberikan enrichment untuk orangutan berupa batang pisang.

Setelah makan siang, pekerjaan lainnya pun menanti. Potong-memotong buah membuat enrichment es buah untuk primata kecil seperti owa dan siamang. Tentu saja ketujuh orangutan yang berada di sana juga mendapatkan es buah itu. “Cara buatnya, mudah saja. Setelah berbagai macam buah dipotong dadu, masukkan ke dalam gelas bekas, beri air dan masukkan ke dalam lemari es. Tunggu beberapa saat, dan berikan ke orangutan. Aku aja pengen koq.”, ujar Oktaviani Safitri, salah satu staf COP yang ikut mendampingi para relawan.

Santini, mahasiswa yang kebetulan sedang tidak ada jadwal kuliah berharap, bisa mengikuti kegiatan seperti ini lagi. “Ini pengalaman baru.”, ujarnya. Sementara Jogi melihat sisi lain dari satwa liar, “Prihatin, apalagi orangutan-orangutan dewasa yang terlihat stres dan satwa liar lainnya yang harus hidup di kandang.”. Bagaimana pun, satwa liar sesungguhnya lebih baik hidup di alam. (LIA)