COP BORNEO NEED HANDY TALKIE

Smart phones have mushroomed into the primary needs that will always be prioritize to travel anywhere. Office, shop, beach or to the place of a girlfriend. Even for some people, prefer to miss his wallet than missed his smart phone. The needs of the function of the smart phone itself is considered very important in maintaining communication in the work sector and personal life. Almost all things can be done with smart phones like SMS, talk, watch TV, edit photos or even video to work on reports. Communication is the most important thing for life now. This all depends on the availability of telephone and internet signals. So what about the fate of the people who live in the forest?

The absence of signals makes the smart phone function less than 50%. Smart phones only serve to be cameras, listening to music, playing games and typing reports. For people living in the forest and without signal, human-to-human conflicts are particularly vulnerable, due to frequent miscommunication among them. We can only communicate at close range. If different locations, can only convey messages through friends who will meet with the person. “To immediately shout? Wow … impossible because of a considerable distance.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo. “This is quite a hindrance to the work, because they have to wait for each other waiting.”, he added.

In the near future, COP Borneo will release 2 of the best orangutan individuals. There will be 2 release location points with 2 monitoring teams. Handy Talkie will be one vital thing to launch this activity. Help us through KITABISA

COP BORNEO MEMBUTUHKAN HT
Smart Phone sudah menjamur menjadi kebutuhan primer yang akan selalu diutamakan untuk bepergian kemana saja. Kantor, warung, pantai ataupun ke tempat pacar. Bahkan bagi beberapa orang, lebih memilih ketinggalan dompetnya dibandingkan ketinggalan smart phone miliknya. Kebutuhan fungsi dari smart phone sendiri sudah dirasa sangat penting dalam menjaga komunikasi di sektor pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Hampir seluruh hal bisa dilakukan dengan smart phone seperti SMS, berbicara, nonton TV, edit foto maupun video bahkan untuk mengerjakan laporan. Komunikasi menjadi hal yang sangt penting bagi kehidupan sekarang. Ini semua tergantung dengan ketersediaan sinyal telepon maupun internet. Lantas bagaimana dengan nasib orang-orang yang tinggal di hutan?

Tidak adanya sinyal membuat fungsi smart phone berkurang lebih dari 50%. Smart phone hanya berfungsi menjadi kamera, mendengarkan musik, main game dan mengetik sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup di hutan dan tanpa sinyal, konflik antar manusia sangatlah rentan terjadi, hal ini disebabkan seringnya mis komunikasi diantara mereka. Kami hanya bisa berkomunikasi jarak dekat. Jika berbeda lokasi, hanya bisa menyampaikan pesan lewat teman yang akan bertemu dengan orang tersebut. “Untuk langsung berteriak? Wah… mustahil karena jarak yang lumayan jauh.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. “Ini cukup menghambat pekerjaan, karena harus saling tunggu menunggu.”, tambahnya lagi.

Dalam maktu dekat ini, COP Borneo akan melepasliarkan 2 individu orangutan terbaiknya. Akan ada 2 titik lokasi rilis dengan 2 tim monitoring. Handy Talkie akan menjadi satu hal vital untuk melancarkan kegiatan ini. Bantu kami yuk lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

VOLCANIC ASH ENVELOPED PAKEM, YOGYAKARTA

The eruption of Mount Merapi on Friday morning seen from the APE Warrior camp in Yogyakarta apparently has a column height of 5,500 m from the top of the crater. Mount Merapi located in the districts of Klaten, Magelang, Boyolali and Sleman was throwing volcanic ash, sand and meterial piroklatik.

“The eruption is a phreatic eruption that is caused by a boost of water vapor pressure caused by the contact of water masses with heat under the crater of Mount Merapi,” said Sutopo Purwo Nugroho, head of the Information Data and Public Relations Center of the National Disaster Relief Agency.

“The status of Mount Merapi to date is still normal (level I) with a dangerous radius at 3 km from the top of the crater.”

The ash rain reached the APE Warrior camp. APE Warrior Team with Orangufriends Yogyakarta immediately coordinate with related parties and conduct initial assessment for disaster management if needed later. The team raised the drones in Pakem sub-district, Sleman district, Yogyakarta Special Region in the afternoon. Volcanic ash has enveloped this district. (LSX)

ABU VULKANIK MENYELIMUTI PAKEM, YOGYAKARTA
Letusan gunung Merapi pada Jumat pagi yang terlihat dari camp APE Warrior Yogyakarta ternyata mempunyai tinggi kolom 5.500 m dari puncak kawahnya. Gunung Merapi yang berada di kabupaten Klaten, Magelang, Boyolali dan Sleman itu melontarkan abu vulkanik, pasir dan meterial piroklatik.

“Letusan yang terjadi adalah letusan freatik yaitu akibat dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah gunung Merapi.”, kata Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui rilis.

“Status gunung Merapi hingga saat ini masih tetap normal (level I) dengan radius berbahaya di 3 km dari puncak kawah.”.

Hujan abu pun sampai di camp APE Warrior. Tim APE Warrior bersama Orangufriends Yogyakarta segera berkoordinasi dengan pihak terkait dan melakukan assessment awal untuk penanggulangan bencana jika diperlukan nantinya. Tim menaikkan drone di kecamatan Pakem, kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada siang harinya. Abu vulkanik telah menyelimuti kecamatan ini.

“WAY BACK HOME” BOAT BACK ON DUTY

After undergoing repair, “Way Back Home” boat is back on duty. This boat is the first boat obtained from the profit of Sound For Orangutan, a charity music event, coordinated by Orangufriends (COP support group). The boat functions like a motorcycle on land. The boat delivers orangutan food on the island, even transports orangutan to be taken to quarantine cage before release. This boat is also pacing patrol the island to ensure the orangutan safety.

The boat leakage has been patched, repainting has make the boat looks like new. Enthusiasm of the monitoring team can’t be hold any longer. “ Curious, either the boat has completely repaired or there’s still water trying to get in.”, said Danel curiously.

When the boat started to be lowered, the engine installed, and… “Yes.. welcome back! Get ready for a great duty of the release of orangutan Untung, Novi, Unyil, and Leci!”. (SAR)

PERAHU “WAY BACK HOME” KEMBALI BERTUGAS
Setelah menjalani perbaikan, perahu ‘Way Back Home’ kembali bertugas. Perahu ini adalah perahu pertama yang diperoleh dari hasil keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang dikoordinir Orangufriends (kelompok pendukung COP). Perahu ini berfungsi seperti sepeda motor jika di daratan. Perahu ini mengantarkan makanan orangutan yang berada di pulau, bahkan mengangkut orangutan untuk dibawa ke kandang karantina sebelum dilepasliarkan nantinya. Perahu ini juga mondar-mandir berpatroli untuk memastikan keselamatan orangutan di pulau.

Kebocoran perahu sudah ditambal, pengecatan ulang juga membuat perahu terlihat seperti baru. Semangat tim di camp monitoring untuk kembali mengendarai perahu tak bisa dibendung lagi. “Penasaran, perahu benar-benar sudah sembuh atau masih ada air yang berusaha masuk.”, ujar Danel penasaran.

Saat perahu mulai di turunkan, pemasangan mesin dan… “Yes… selamat datang kembali! Bersiap untuk tugas berat pelepasliaran orangutan Untung, Novi, Unyil dan Leci ya!”. (NOY)

BREAKING NEWS: FREATIC ERUPTION Mt. MERAPI YOGYAKARTA

Terlihat letusan gunung Merapi, Yogyakarta dari camp APE Warrior pada Jumat pagi. Gempa yang terjadi juga dirasakan dan membuat tim APE Warrior langsung bersiap. Tim APE Warrior adalah tim yang lahir saat gunung Merapi meletus pada tahun 2010 yang lalu. Hingga saat ini, setiap ada bencana alam, tim APE Warrior bersama Orangufriends (kelompok pendukung COP) membantu penanggulangan bencana untuk satwa yang terdampak.

Informasi terkait Letusan Freatik Gunung Merapi, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang. Jauhi radius 3 km dari puncak gunung Merapi.
Silahkan menghubungi Call Center PUSDALOPS BPBD Kabupaten Magelang di:
Telp dan Fax : (0293) 789999
Hotline/WA : +62293789999
Website :
Facebook : BPBD KabMagelang
Twitter : @BPBDMagelang
Instagram : @bpbdkabmagelang
Frekwensi Radio : RX =169.575 MHz
TX = 164.575 MHz ( dupleks -5000 )
Tone = 88,5
Email : pusdalopsbpbdmagelangkab@gmail.com
Sistem Informasi :

CAMP MONITOR ORANGUTAN WITH SOLAR POWER

The destruction of generator sets at monitoring stations or monitoring camps of the orangutan island of Borneo COP became the night conditions on the island of pitch darkness. The team had to go back and forth to the village to fill the flashlight batteries and other communication devices by riding in people’s houses in turn. Of course this slows down the work.

The presence of two Samarinda residents who happened to live in the village of Merasa, East Kalimantan managed to repair the solar panels to turn on electricity. “Thank you bang Simangunsong and bang Siregar! Now the monitor power monitor has been on for 24 hours. Of course this is increasingly support our activities.”, Inoy said happy because no need to pace back to the village again.

We also still need some solar panels for camp at COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. The required electricity in the COP of Borneo is greater because to turn the water machine to clean the orangutan cages. Yuk help orangutans with the procurement of solar panels through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (LSX)

CAMP PANTAU ORANGUTAN TERANG DENGAN TENAGA SURYA
Rusaknya mesin genset di pos pantau atau camp monitoring pulau orangutan COP Borneo menjadi kondisi malam hari di pulau gelap gulita. Tim terpaksa bolak balik ke kampung untuk mengisi baterai senter maupun alat komunikasi lainnya dengan menumpang di rumah-rumah warga secara bergantian. Tentu saja ini memperlambat pekerjaan.

Kehadiran dua orang warga Samarinda yang kebetulan tinggal di kampung Merasa, Kalimantan Timur berhasil memperbaiki surya panel untuk menghidupkan listrik. “Terimakasih bang Simangunsong dan bang Siregar! Sekarang listrik camp pantau sudah menyala 24 jam. Tentu saja ini semakin menunjang aktivitas kami.”, ujar Inoy senang karena tak harus mondar-mandir ke kampung lagi.

Kami juga masih memerlukan beberapa panel surya untuk camp di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Listrik yang diperlukan di COP Borneo lebih besar karena untuk menghidupkan mesin air untuk membersihkan kandang-kandang orangutan. Yuk bantu orangutan dengan pengadaan panel surya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (NOY)

SPUTUM SAMPLING OF  PRE-RELEASE ORANGUTAN

Finally, the taking of sample of pre-release orangutan sputum is running. This step aims to examine Tuberculosis in orangutan. Sputum sampling was done to four orangutans who will be released in the near future. They are orangutan Leci, Novi, Unyil, and Untung. The process of sampling was done in 2,5 hours. The plan is, tomorrow, samples will be delivered directly by medical team  to the Microbiology lab of Universitas Indonesia, which is a recommended by the Ministry of Health to examine Tuberculosis with high standards.

Sputum samples are only last for 24 hours and with the temperature of 6-8 degrees celcius. “That’s why, we will fly directly to deliver this samples. The document that is involved  will be completely taken as well.” said drh. Ryan Winardi.

COP Borneo is an orangutan rehabilitation center founded by Centre for Orangutan Protection. In its 3rd year, there’s 4 orangutans that are  located in sanctuary island of orangutan will be released soon to their habitat. The four orangutans have different background. Leci was own by locals, she was still wild since found. Novi is an orangutan who was illegally own by Kongbeng villager whose neck was always chained and was living under the house befriended by a dog. While Unyil was an orangutan living in a toilet. And Untung is an orangutan with imperfect fingernails. “The result of sputum examination will determine either they are going to be released to their habitat or not, hopefully the results are negative.”, said drh. Felisitas Flora with full of hope. (SAR)

PENGAMBILAN SPUTUM ORANGUTAN PRA-RILIS
Akhirnya pengambilan sampel dahak/sputum orangutan pra-pelepasliaran berjalan. Tahapan ini adalah untuk pemeriksaan Tuberculosis pada orangutan. Pengambilan sampel dahak ini dilakukan pada 4 orangutan yang akan dilepasliarkan kembali dalam waktu dekat ini. Mereka adalah orangutan Leci, Novi, Unyil dan Untung. Proses pengambilan berlangsung selama 2,5 jam. Rencananya, keesokan hari, sample akan dibawa langsung tim medis ke laboratorium Mikrobiologi UI, yang merupakan laboratorium rekomendasi Kementrian Kesehatan untuk pemeriksaan Tubercolosis dengan standar tinggi.

Sampel dahak hanya bertahan selama 24 jam dan dengan suhu 4-8 derajat celsius. “Itu sebabnya, kami akan terbang langsung membawa sampel dahak ini. Dokumen yang akan menyertainya juga dengan lengkap akan dibawa.”, ujar drh. Rian Winardi.

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang dibangun oleh Centre for Orangutan Protection. Di tahun ke-3 nya, ada 4 orangutan yang berada di pulau orangutan akan segera dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Keempat orangutan tersebut memiliki latar belakang yang berbeda. Leci yang dipelihara warga, sejak ditemukan memang masih liar. Novi adalah orangutan yang dipelihara secara ilegal oleh warga Kongbeng dengan leher yang selalu dirantai dan tinggal di bawah kolong rumah berteman seekor anjing. Sementara Unyil adalah orangutan yang hidup di dalam toilet. Dan Untung adalah orangutan yang jari-jarinya tak sempurna. “Hasil pemeriksaan sputum ini akan menentukan mereka akan dilepasliarkan ke habitatnya, semoga hasilnya negatif.”, ujar drh. Felisitas Flora dengan penuh harapan. (RYN)

WOUND OF THE CRESTED HONEY BUZZARD IMPROVED

One day after the operation, a joint medical teamof WRC Jogya and COP did a bandage replacement for post-operation wound on a crested honey buzzard. One bullet that was on its left wing was successfully removed, but the broken bone fractures could not be cleaned entirely.

“For now, the wound is good and dry. It shows a good healing process. Until today, the bird is still being given medicine and being fed.”, explained drh. Felisitas Flora.

Afterwards, the bird’s condition will continue to be monitored for its development. The healing process of its left wing will certainly takes time. We can not ensure how long. This crested honey buzzard is an animal deposited by BKSDA Yogya. The bird was probably migrating from its habitat that was entering winter season and got shot by irresponsible people in Yogyakarta. The air rifle bullets that nest on its wings were evidence how weal the supervision of airguns utilisation.

Based on the Regulation of the Chief of Police Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for Sports Interest, air rifles are only used for the purpose of shooting targets (article 4 paragraph 3) and are only used at the location of matches and training (article 5 paragraph 3).(SAR)

LUKA ELANG SIKEP MADU MEMBAIK
Satu hari setelah operasi, tim medis gabungan WRC Jogja dan COP melakukan penggantian perban untuk luka paska-operasi pada Elang Sikepmadu. Satu butir peluru yang berada di pangkal sayap kirinya telah berhasil diambil, namun pembersihan serpihan tulang yang hancur tidak dapat dilakukan secara keseluruhan.

“Untuk saat ini, kondisi luka bagus dan kering. Ini menunjukkan proses penyembuhan yang baik. Hingga hari ini, Elang Sikepmadu masih diberi obat dan diberi makan dengan cara ‘diloloh’.”, demikian penjelasan drh. Felisitas Flora.

Selanjutnya Elang akan terus dipantau untuk perkembangannya. Proses pemulihan fungsi dari sayap kirinya tentunya akan memakan waktu. Kami sendiri tidak bisa memastikan berapa lama. Elang Sikepmadu ini adalah satwa titipan BKSDA Yogya. Elang Sikepmadu kemungkinan besar sedang masa bermigrasi dari habitatnya yang sedang memasuki musim dingin dan tertembak orang tak bertanggung jawab di Yogyakarta. Peluru senapan angin yang bersarang di sayapnya adalah bukti lemahnya pengawasan penggunaan senapan angin.

Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3). (FLO)

THERE IS A BULLET IN THE BODY OF CRESTED HONEY BUZZARD

This is a migratory bird that moving when the winter arrives. He survived in mimicking a stronger predatory bird. His is a crested honey buzzard (Pernis ptilorhynchus) . He looks less active and rarely uses his left wing. “Apparently, someone has shot him. There is a bullet in his left wing,” said drh. Flora Felisitas, COP veterinarian in Yogyakarta.

X-rays show a foreign object at the base of his left wing. At 3 May 2018, a surgery was conducted by drh. Irna Irhamna Putri, MSc (WRC) with drh. Flora Felisitas (COP). One bullet was removed from its body. “When the bullet is released, there is some pieces of a broken bone. The bullet is alleged to have been in the eagle’s body for more than a month,” said drh. Flora again.

The bullet destroyed the bone at the base of the wing. “We cannot clean the broken bone fragments as a whole, because it can affect the healing time of these surgical wounds,” added drh. Flora.

This crested honey buzzard was found by the people in Kulon Progo, Yogyakarta. Then it handed over to the BKSDA Yogyakarta and entrusted to the Wildlife Rescue Center Yogya. Currently, the condition of the bird is still under an intensive supervision of veterinarians to ensure it conditions remain conducive and improved. (IND)

ADA PELURU DI TUBUH ELANG SIKEP MADU
Burung ini adalah burung migrasi saat musim dingin tiba. Dia bertahan hidup dengan menyamar menyerupai burung pemangsa yang lebih kuat. Elang Sikep Madu namanya. Dia terlihat kurang aktif dan jarang menggunakan sayap kirinya. “Ternyata, seseorang telah menembaknya. Ada peluru di sayap kirinya.”, ujar drh. Felisitas Flora, dokter hewan COP yang kebetulan sedang berada di Yogyakarta.

Hasil rontgen memperlihatkan adanya benda asing di pangkal sayap kirinya. Siang 3 Mei 2018 dilakukan operasi oleh drh. Irna Irhamna Putri, MSc (WRC) bersama drh. Felisitas Flora S. M (COP). Satu butir peluru berhasil dikeluarkan dari tubuh Elang Sikep Madu ini. “Saat peluru dikeluarkan, ada nanah yang berwarna putih keruh. Peluru diduga sudah berada di dalam tubuh elang lebih dari satu bulan.”, ujar drh. Flora lagi.

Peluru tersebut menghancurkan tulang dibagian pangkal sayap. “Kami tidak dapat membersihkan serpihan tulang yang hancur secara keseluruhan, karena dapat berpengaruh terhadap lamanya penyembuhan luka pembedahan ini.”, tambah drh. Flora.

Elang Sikep Madu ini adalah hasil temuan warga Kulon Progo, Yogyakarta yang diserahkan ke BKSDA Yogyakarta lalu dititipkan kepada Wildlife Rescue Centre Yogya. Saat ini kondisi elang masih dalam pengawasan dokter hewan secara intensif untuk memastikan kondisinya tetap kondusif dan membaik. (PETz)

PENGURUS RUMAH TANGGA COP BORNEO

Biasa dipanggil Nia. Sania namanya, merupakan staf bagian rumah tangga pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sejak April ini, dia menyediakan segala keperluan yang berhubungan dengan dapur dan perawatan rumah COP Borneo. Warga desa Merasa dari RT IV ini juga bertanggung jawab dengan menu masakan untuk seluruh penghuni COP Borneo kecuali orangutannya.

“Senang sih bisa bergabung.”, ujar Sania malu-malu.

Selamat bergabung Nia… dan selamat menjalankan tugas.(WET)

ANOTHER UNYIL FROM MERATAK

Tubuh kurusnya menempati kotak kayu berukuran 100 cm x50 cm x 50cm. Orangutan jantan ini diperkirakan berusia 5 tahun. Sikapnya tak begitu liar lagi. Sejak 2014 yang lalu dia dipelihara warga Meratak, Kalimantan Timur. Unyil, begitu warga sekitar memanggilnya.

Centre for Orangutan Protection kembali menemukan orangutan yang dipelihara secara ilegal. Orangutan ini adalah orangutan ketiga yang ditemukan tim APE Crusader dalam perjalanan mendokumentasikan pembabatan hutan untuk perkebunan kelapa sawit. “Perkebunan yang kami dokumentasi sudah pada tahap penanaman bibit kelapa sawit. Empat tahun yang lalu, tentu saja berbeda sekali dengan keadaan sekarang. Hutan sebagai habitat orangutan benar-benar tergusur. Unyil saat itu masih berusia 1 tahun, terlalu kecil dan tak mungkin terpisah dengan induknya begitu saja. Entah apa yang terjadi dengan induknya dan orangutan lainnya. Satwa liar lainnya? Ini adalah pemusnahan keanekaragaman hayati dan satwa besar-besaran.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.