COURT DECISION IN ORANGUTAN KILLED IN CENTRAL BORNEO CASE

January 30, 2018, South Barito Resort Police confirmed 2 men as suspects accused over the death of orangutan found decapitated in Kalahien bridge, South Barito district, Central Borneo. After several trials, on Sunday, May 14, 2018,  Buntok District Court affirmed the conviction of M bin Landes and T bin Ribin for killing critically endangered animal, sentenced to 6 months in prison and fined 500,000 (IDR) with subsidiary 1 month imprisonment as stated in Case Number 26/Pid.B/LH/2018/PN BNT and 27/Pid.B/LH/2018/PN BNT.

In addition to the orangutan case in Central Borneo at the beginning of 2018, the case of orangutan died with 130 bullets in Teluk Pandan Village, East Kutai, East Borneo finally met the final round after East Kutai Resort Police previously confirmed 4 suspects namely A bin Hambali, R Bin H. Nasir, M bin Cembun, and H. N bin Sakka. It takes 70 days and undergoes 9 trials until Tuesday, July 3, 2018, the Sangatta District Court ruled the four suspects were found guilty by sentenced each of them 7 months imprisonment and a Rp50,000,000(IDR) fine with subsidiary 2 months imprisonment. The verdict stated in Case Number 130/Pid.B/LH/2018/PN Sgt and 131/Pid.B/LH/2018/PN Sgt.

COP expresses its gratitude for the Police’s fast response in investigating thoroughly the case of orangutan killing occurred in the early 2018, but on another subject the punishment on these two cases are way too low that it may not reduce recidivism for offenders or other communities to do so. Moreover, The Judge did not consider the economic cost of biodiversity loss of orangutan conservation efforts which has been done for a long time in Kutai National Park.

“Act of The Republic of Indonesia No. 5 of 1990 concerning Conservation of Living Resouces and their Ecosystem should be seen as a highly important law to maintain the sustainability of conservation in Indonesia.”, Ramadhani said.
 
Contact:
Ramadhani (+62 813 4927 1904)
Habitat Protection Project Manager

PUTUSAN PENGADILAN ORANGUTAN DIBUNUH DI KALIMANTAN
Tanggal 30 Januari 2018 Kepolisian Resort Barito Selatan berhasil menetapkan 2 tersangka atas kasus pembunuhan orangutan tanpa kepala di Jembatan Kalahien, Kab. Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Setelah beberapa kali persidangan Senin, 14 Mei 2018 Pengadilan Negeri Buntok menyatakan terdakwa M bin Landes dan T bin Ribin terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana membunuh satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) subsider 1 bulan yang tertera pada Nomor Perkara 26/Pid.B/LH/2018/PN BNT dan 27/Pid.B/LH/2018/PN BNT

Selain kasus Orangutan di Kalimantan Tengah diawal tahun 2018, kasus pembunuhan orangutan dengan 130 peluru di Desa Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur juga menemui babak akhir setelah di mana sebelumnya Kepolisian Resort Kutai Timur telah menetapkan 4 tersangka yaitu A Bin Hambali, R Bin H. Nasir, M Bin Cembun dan H. N Bin Sakka. Dibutuhkan 70 hari dan menjalani 9 kali persidangan hingga pada Selasa 3 Juli 2018 pengadilan Negeri Sangatta memutuskan bahwa ke empat tersangka di nyatakan bersalah dengan menjatuhkan pidana terhadap para terdakwa tersebut masing-masing dengan pidana penjara 7 (tujuh) bulan dan denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) subsider 2 bulan Putusan tersebut tertera dalam Nomor Perkara 130/Pid.B/LH/2018/PN Sgt dan 131/Pid.B/LH/2018/PN Sgt.

COP mengucapkan terimakasih atas kerja cepat pihak Kepolisian dalam mengusut tuntas kasus pembuhan orangutan yang terjadi awal tahun 2018 ini, namun juga menjadi catatan tersendiri adalah putusan yang sangat ringan pada kedua kasus tersebut sehingga menimbulkan kekhawatiran tidak adanya efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lainnya. Serta Hakim tidak mempertimbangkan efek kerugian nilai dari upaya pelestarian orangutan di Taman Nasional Kutai yang dilakukan sudah sejak lama.

“Semestinya UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai Undang-Undang yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan konservasi di Indonesia.”, ujar Ramadhani.

Kontak :
Ramadhani (+62 813 4927 1904)
Manager Perlindungan Habitat COP

7 MONTHS OF PRISON PUNISHMENT FOR DECAPITATED ORANGUTAN KALAHIEN CASE

Floating body case in Barito river, Kalahien, Central Borneo on January 15, 2018 was quite shocking. Turned out that corpse was a headless orangutan corpse. Its death invited suspicion so that the grave had to be dug up and the autopsy was conducted.

Necropsy report stated that 17 air gun bullets found in its body, one bullet in left thigh, two in the back, and fourteen in the front body. There’s more than three wounds by sharp object found causing its neck cut off, got slashed. Seven left ribs broken. Its stomach ruptured, bruises on left side of the chest struck by blunt object. While the hair was lost in the flow of water.

Only 14 days after the finding, Central Borneo Regional Police arrested two suspects along with the evidence. “Such an outstanding hard work of the police!”, says Ramadhani, COP Manager of Orangutan Protection program.

And on Monday, May 14, 2018, Buntok District Court declared that the defendants, M bin Lades and T bin Ribin, proven to be legally guilty and convincingly commit the crime of killing protected animal alive and imposed to 6 months prison and RP 500,000 (IDR) subsidiary 1 month imprisonment.

VONIS 7 BULAN PENJARA UNTUK KASUS ORANGUTAN TANPA KEPALA KALAHIEN
Kasus mengapungnya mayat di sungai Barito, Kalahien, Kalimantan Tengah pada 15 Januari 2018 cukup menggemparkan. Ternyata mayat yang dimaksud adalah mayat orangutan tanpa kepala. Kematiannya mengundang kecurigaan hingga kuburan terpaksa digali kembali dan otopsi pun dilakukan.

Hasil nekropsi, ditemukan 17 peluru senapan angin di tubuh orangutan tersebut, satu peluru di paha kiri, dua di punggung, dan empatbelas peluru di badan depan. Ada lebih dari tiga luka yang disebabkan benda tajam sehingga lehernya putus, kena tebasan. Tujuh tulang rusuk kiri patah. Lambungnya pecah, bagian dada kiri terdapat luka lebam akibat benda tumpul. Sementara rambutnya hilang akibat arus air.

Hanya dalam waktu 14 hari dari ditemukannya mayat, Polda Kalteng berhasil menangkap 2 tersangka beserta barang buktinya. “Suatu kerja keras luar biasa dari pihak kepolisian.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan COP.

Dan pada hari Senin, 14 Mei 2018 Pengadilan Negeri Buntok menyatakan terdakwa M bin Landes dan T bin Ribin terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana membunuh satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) subsider 1 bulan.

ORANGUTAN DIED WITH 7 AIR RIFLE BULLET

From the microchip implant on the dead body of orangutan found in PT. WSSL, Seruyan, Central Borneo, known that the orangutan was named Baen. Baen was an orangutan who was being translocated back in 2014.
When found on Monday, July 2, 2018, many wounds found on the leg, arm, back, and his thumbnail was gone. While the abdoment and neck was found riddled by 7 bullets in his body. “Two bullets in the left waist, one in left leg middle finger, two in the head, and two in the right arm.” Fajar Dewanto explained.

Fajar Dewanto also explained that, “The right arm thumb was gone, open wounds on right hand index finger, left wrist, left and right sole, left foot index finger, back of right hand, waist and left side of body, left side of the back, left arm, left calf, ligature marks on back of right hand, and stab wound on right side of the back.”.

Likely, Baen Orangutan was dead due to violence that occured 1 to 2 weeks. “The existence of airgun bullets trapped in the orangutan body can be confirmed caused by human. Once again, air gun has been a terror for orangutan.” said Ramadhani, Manager of Orangutan and Habitat Protection Program COP.

Based on The Chief of Police Regulation No. 8 of 2012 regarding Supervision and Control of Firearms for Sport Interest, air rifles are only used for shooting target purpose (article 4, paragraph 3) and are only used in the location of games and excercises (article 5, paragraph 3). “Thus, all activities of wildlife hunting by using air rifles are against The Chief of Police Regulation.” Ramadhani affirmed. Since 2003, Centre for Orangutan Protection has been campaigned on air rifles terror because of increasing number of orangutan and other wildlife affected by its bullets. “This regulation should be improved, for the survival of Indonesian wildlife.”

ORANGUTAN TEWAS DENGAN 7 PELURU SENAPAN ANGIN
Dari microchip yang ada di mayat orangutan yang ditemukan di PT WSSL, Seruyan, Kalimantan Tengah diketahui bahwa orangutan ini bernama Baen. Baen adalah orangutan yang pernah ditranslokasi pada tahun 2014 yang lalu.

Saat ditemukan pada hari Senin, 2 Juli 2018, terdapat luka pada bagian kaki, tangan, punggung dan jempol sudah tidak ada. Sementara bagian perut dan leher ditemukan berlubang dengan tujuh butir peluru bersarang di sekujur tubuhnya. “Dua peluru di pinggang kiri, satu di jari tengah kaki kiri, dua di kepala dan dua peluru di lengan kanan.”, jelas Fajar Dewanto, direktur lapangan OFI.

Fajar Dewanto juga menjelaskan bahwa, “Jempol tangan kanan hilang, luka terbuka di jari telunjuk tangan kanan, luka terbuka di pergelangan tangan kiri, luka terbuka di telapak kaki kiri, luka terbuka di telunjuk kaki kiri, ada bekas ikatan di punggung tangan kanan, luka terbuka di telapak kaki kanan, luka terbuka di punggung tangan kanan, luka terbuka di pinggang dan tubuh bagian kiri, luka terbuka di punggung kiri, luka terbuka di lengan kiri, luka terbuka di betis kiri, luka tusukan di punggung kanan.”.

Kemungkinan, orangutan Baen mati disebabkan kekerasan yang terjadi 1 sampai dengan 2 minggu. “Adanya peluru senapan angin yang bersarang di tubuh orangutan tersebut dapat dipastikan karena ulah manusia. Sekali lagi, senapan angin telah menjadi teror bagi orangutan.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dari COP.

Berdasarkan Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3). “Dengan demikian, seluruh kegiatan perburuan satwa liar dengan menggunakan senapan angin adalah menyalahi Peraturan Kapolri.”, tegas Ramadhani lagi. Sejak tahun 2015, Centre for Orangutan Protection mengkampanyekan Teror Senapan Angin karena semakin bertambahnya korban orangutan maupun satwa liar lainnya yang terkena peluru senapan angin. “Sudah seharusnya Peraturan Kapolri ini ditingkatkan lagi, untuk kelangsungan hidup satwa liar Indonesia.”.

SUPPORT KLHK TO REVEAL THE DEATH OF ORANGUTAN BAEN

The finding of male orangutan rotten corpse at July 1, 2018 in PT WSSL II area, Central Borneo, with autopsy report from OFI states that there’s human cruelty factor as cause of the death. The necropsy report identifies that at least 7 (seven) airgun bullets and open wounds cause by sharp-edged object, dominantly found on the arm. The orangutan identified as Baen Orangutan, a translocated orangutan in 2014.

Center for Orangutan Protection (COP) is very sorry for the cruelty happened to this orangutan because we can certainly say that the cause of the death must be human activity. In COP’s note, at least there’s 14 orangutans found dead unusually ( in the form of corpse and bones) around Tanjung Puting National Park (TNTP). From the 14 orangutan found dead cases, not even a single case have completely revealed. 

“The finding of orangutans allegedly died unusually must be completely investigated to a litigation so that there will no more orangutan killing. The previous unusual orangutan death cases are mostly left unfinished, so finally the perpetrator think that there’s no law against it. Lets support The Ministry of Environment and Forestry of Indonesian Republic to reveal all those cases, including the death of this Baen Orangutan.’, Ramadhani, COP’s Manager of Orangutan and Habitat Protection Program says.

For more information and interview, please contact:
Ramadhani
Manager of Orangutan and Habitat Protection Program
HP: 081349271904
Email: info@orangutanprotection.com

DUKUNG KLHK UNGKAP KEMATIAN ORANGUTAN BAEN
Temuan mayat orangutan jantan dewasa yang sudah membusuk pada tanggal 1 Juli 2018 di PT WSSL II, Kalimantan Tengah dengan hasil otopsi yang dilakukan oleh OFI menyatakan penyebab kematian adanya faktor kekerasan oleh manusia. Hasil nekropsi memperlihatkan paling tidak ada 7 (tujuh) peluru senapan angin dan disertai luka terbuka oleh benda tajam yang dominan posisinya berada di tangan. Orangutan tersebut diidentifikasi sebagai orangutan Baen, orangutan translokasi di tahun 2014.

Centre for Orangutan Protection (COP) sangat menyayangkan kejahatan pada orangutan ini terjadi karena kematian orangutan dipastikan ulah manusia. Di catatan COP setidaknya sudah ada 14 (empatbelas) orangutan ditemukan mati tidak wajar (berupa mayat dan tulang belulang) dari sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Dari keempatbelas temuan mayat ini tidak ada satu pun yang berhasil diungkap sampai tuntas.

“Temuan-temuan mayat orangutan yang diduga mati tidak wajar sebelumnya harusnya diusut secara tuntas hingga proses peradilan agar tidak ada lagi kasus pembunuhan terhadap orangutan. Kasus-kasus temuan kematian orangutan yang telah lalu banyak tidak tuntas, akhirnya pelaku merasa tidak ada hukum yang berlaku. Mari dukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia untuk mengungkap kasus-kasus kematian orangutan tersebut, termasuk kematian orangutan yang bernama Baen ini.”, kata Ramadhani, Manajer Program Perlindungan Habitat dan Orangutan dari COP.

Untuk informasi dan wawancara silahkan hubungi:
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan
HP: 081349271904
Email: info@orangutanprotection.com

LITTLE FOREST FOR JOJO

Jojo is a baby orangutan who was rescued last April 2018. At this time Jojo supposes to attend forest school, but the medical check-up results are not good. It makes Jojo must be isolated from other orangutans. “Sadly we must accept the fact that Jojo cannot join other orangutans. Jojo was detected with hepatitis B”, said vet Flora Felistita.

We don’t want to see Jojo spend his day in the cage. Every morning after checking the orangutans in the cage, drh. Flora, a doctor and Jojo’s mother at the same time, invited Jojo to play at the baby house.

The baby house that was built in 2016 by Angle’s Team coordinated with Australia’s Compassion and Soul has begun to decay. There are many broken ropes that need repairment. But this did not break the spirit of drh. Flora to invite Jojo to play. This morning, the enclosure in front of the clinic was transformed by drh. Flora to become a very cool playing area like a small forest with the addition of leaves and twigs.

From inside the cage, Jojo looks very impatient to play. After arriving at the baby house, Jojo looked confused because he had previously only hung on ropes without branches, twigs or leaves. “It’s natural. This is the first day Jojo played in the forest. Jojo had fallen to the ground because he chose the tree branch wrongly and was really shocked, but he quickly woke up again”, explained drh. Flora proud.

Compared to the beginning of Jojo’s arrival at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Jojo showed a very good progress. Jojo is very active when given leaves and twigs in a cage. He tries to arrange it like making a nest. “Hopefully someday Jojo will have an enclosure and can feel living and sleeping in a real tree.” (IND)

HUTAN KECIL UNTUK JOJO
Jojo, si bayi orangutan yang diselamatkan pada bulan April 2018 yang lalu. Seharusnya, saat ini Jojo sudah mengikuti kelas sekolah hutan. Namun hasil tes yang tidak bagus membuat Jojo harus diisolasi dengan orangutan yang lain. “Dengan sedih kami harus menerima kenyataan bahwa Jojo tidak dapat bergabung dengan para orangutan yang lain. Jojo terdeteksi hepatitis B.”, kata drh. Flora Felistita.

Kami tidak mau melihat Jojo menghabiskan harinya di kandang. Setiap pagi selesai mengecek para orangutan di kandang, drh. Flora, dokter sekaligus merangkap ibu bagi orangutan Jojo mengajak Jojo untuk bermain di baby house.

Baby house yang dibangun tahun 2016 oleh Angle’s Team yang dikoordinir With Compassion and Soul Australia sudah mulai lapuk. Tali temali yang ada banyak yang putus dan membutuhkan perbaikan. Tapi ini tidak mematahkan semangat drh. Flora untuk mengajak Jojo bermain. Pagi ini, enclosure yang berada di depan klinik disulap drh. Flora menjadi area bermain yang sangat sejuk layaknya hutan kecil dengan penambahan daun-daunan dan ranting.

Dari dalam kandang, terlihat Jojo sangat tidak sabar untuk bermain. Namun setelah sampai di baby house, Jojo terlihat bingung karena sebelumnya dia hanya bergelantungan di tali-tali tanpa dahan, ranting maupun daun. “Wajar… ini adalah hari pertama Jojo bermain di ‘hutan’nya dan Jojo sempat jatuh ke tanah karena salah memilih ranting pohon untuk bergelantung dan sungguh mengejutkan, dia dengan sigap langsung naik lagi.”, urai drh. Flora bangga.

Dibandingkan dengan awal kedatangan Jojo di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Jojo menunjukkan perkembangan yang baik. Jojo sangat aktif bahkan ketika diberi daun dan ranting di dalam kandang, dia berusaha menatanya layaknya membuat sarang. “Semoga suatu saat nanti Jojo mempunyai enclosure dan bisa merasakan tinggal dan tidur di pohon sesungguhnya.”. (WET)

LEARNING CONTRACEPTION WITH ORANGUTAN

Today is National Family Planning Day or HARGANAS. Every June 29 to be exact, the Indonesian government expects the public to understand more about the ideal family by limiting the number of births and the use of contraceptives to form family planning. Then what is the connection with orangutans?

Do you know, orangutans only give birth to one baby? But there are also cases of baby orangutan twins, such as the Sumatran orangutan. But the majority, orangutans only give birth to one baby orangutan. Then? Yes, orangutans will care for their babies until the age of their children ranges from 5-8 years. As long as the mother takes care of her child, the orangutan mother will not be associated with male orangutans. “Wow!”

That means that the orangutan parent will not have another child in the past 8 years? Yes! If the age of the orangutan parent is only 50 years, at most he will have 4 children. Not to mention predators that threaten baby orangutans who are very weak. Naturally, the breeding is very low. Even orangutans are endangered animals.

Should we learn how orangutans regulate their breeding? Not related during that time? At the very least, you know and are a little embarrassed about orangutans. How the responsibility of the orangutan parent is very heavy and the important role of the parent. Happy HARGANAS. This year, the National Population and Family Planning Board (BKKBN) has the theme “Love of the Planned Love Family”. (LSX)

BELAJAR KB PADA ORANGUTAN
Hari ini adalah Hari Keluarga Berencana Nasional atau HARGANAS. Setiap tanggal 29 Juni tepatnya, pemerintah Indonesia mengharapkan masyarakat dapat lebih faham mengenai keluarga ideal dengan membatasi jumlah kelahiran serta penggunaan alat-alat kontrasepsi untuk membentuk keluarga berencana. Lalu apa hubungannya dengan orangutan?

Tahukah kamu, orangutan hanya melahirkan satu bayi? Tapi ada juga ditemui kasus bayi orangutan kembar seperti pada orangutan Sumatra. Namun mayoritas, orangutan hanya melahirkan satu bayi orangutan. Lalu? Ya, orangutan akan merawat bayinya hingga usia anaknya berkisar 5-8 tahun. Selama induk merawat anaknya, induk orangutan tidak akan berhubungan dengan orangutan jantan. “Wow!”.

Itu berarti, induk orangutan tidak akan punya anak lagi dalam kurun waktu 8 tahun tadi? Ya! Kalau usia induk orangutan hanya 50 tahun, paling banyak dia akan punya 4 anak. Belum lagi predator yang mengancam bayi-bayi orangutan yang memang sangat lemah sekali. Wajar kalau perkembangbiakannya sangat rendah sekali. Bahkan orangutan menjadi satwa yang terancam punah.

Haruskah kita belajar bagaimana orangutan mengatur perkembangbiakannya? Tidak berhubungan selama itu? Paling tidak, kamu jadi tahu dan sedikit malu pada orangutan. Betapa tanggung jawab induk orangutan sangat berat dan peran penting induknya. Selamat HARGANAS. Tahun ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengangkat tema “Cinta Keluarga Cinta Terencana”.

OWI AND LIANA PLANT

Finally, Own played by himself. Apparently, his followers weren’t always near him. Owi who had a loyal follower named Bonti, had to learn independently. It’s because Bonti was busy exploring his forest school class.

Owi grabed Liana plant. Liana that hanging in the forest school of COP Borneo area is a mainstay for orangutan to climb, hang, and move from one big tree to another tree. The movements of little orangutans are so agile and the animal keepers must be more alert when they are busy playing with this Liana plant. The exploration of little orangutans know no time.

“Owi, be careful!”, Simon shouted. Owi turned around for a moment, looked at Samson (animal keeper) and continued to climb. Simson’s tasks will be even harder. Following Owi’s movement and having to get ready when Owi refused to go down. That’s right, every animal keeper in COP Borneo orangutan rehabilitation centre must have the ability to climb also. “We are far behind when it comes to climb compares to orangutans. Sometimes I feel these little orangutas mocked us because of our slowness. But I am happy, they are indeed have to be better.”, he added.(SAR)

OWI DAN TANAMAN LIANA
Akhirnya Owi pun bermain sendirian. Ternyata tak selamanya para pengikut itu selalu berada di dekatnya. Owi yang mempunyai pengikut sejati bernama Bonti akhirnya harus belajar mandiri. Karena Bonti juga sekarang lebih sibuk dengan mengeksplore kelas sekolah hutannya.

Owi meraih tanaman Liana. Liana yang bergelantungan di sekolah hutan COP Borneo memang menjadi andalan para orangutan untuk memanjat, bergelantungan dan berpindah dari satu pohon besar ke pohon yang lain. Pergerakan orangutan-orangutan kecilnya sangat lincah, dan para animal keeper harus lebih waspada saat meraka sudah asik dengan tanaman Liana ini. Karena penjelajahan orangutan kecil ini tak mengenal waktu.

“Owi! Hati-hati ya!”, begitu teriak Simson. Owi pun berbalik sesaat, menatap Simson (animal keeper) dan kembali memanjat. Tugas Simson akan semakin berat. Mengikuti perpindahan Owi dan harus bersiap saat Owi tak mau turun. Benar, setiap animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo juga harus bisa memanjat. “Kita sih kalah jauh kalau urusan memanjat dibandingkan orangutan. Kadang juga merasa diejek orangutan-orangutan kecil ini karena kelambatan kita. Tapi senang, mereka memang harus lebih jago.”, tambahnya lagi.

DART FROM ORANGUFRIENDS AUSTRALIA

Kamu bingung bisa bantu apa? Ini adalah Kelsie Prabawa, salah satu alumni COP School yang berasal dari Australia. Dia menanyakan ke teman-teman nya, apa yang bisa dia bawa dari Australia untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Dalam sekejap, barang-barang titipan pun sampai di rumahnya dan siap untuk dibawa ke Indonesia.

Simpel ya! Tapi tau ngak, ini sangat membantu sekali. “Perlengkapan untuk membius ini harus pesan dulu kalau di Indonesia. Bisa 3-4 bulan baru barang bisa sampai tujuan. Selain itu, jumlahnya juga kadang tidak sebanyak yang kita pesan karena keterbatasan barang.”, kata Ryan Winardi, dokter hewan COP. “Peralatan ini bisa digunakan berulang kali loh untuk menghemat.”, tambah Ryan lagi.

Nah, sudah tahu kan? Mau membantu orangutan, ngak usah bingung. Siapa pun kamu, tentu saja bisa membantu orangutan Indonesia, si kerabat merah kita yang memiliki kesamaan DNA 97%. Terimakasih mbak Kelsie dan orangufriends Australia.

ANNIE ANNOYING SIMSON

“Annie! Climb Up! “, Simson shouted, the animal keeper staring at Annie, who began to approach the hammock where she was waiting for the orangutans in the COP Borneo forest school class. But the name orangutans with the age of five … like a human child in general. They are very dependent on their mother. Very eager to be close to her mother. Maybe that’s what Annie felt. Being in a foreign place for the first time, he sought the protection of Simson, the animal keeper who took him to a jungle school.

For four years Annie was kept illegally in the village of Merapun. Living in a 3 x 3m wooden cage makes it very dependent on its keepers. Meals like humans, become the daily menu. Of course this will make it difficult for COP Borneo orangutan rehabilitation center in the process of returning Annie to live in her habitat. “Yes, this will be a challenge for the team. We will urgently need the support of all parties.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo.

Not only Annie, at the orangutan rehabilitation center is the only one that was founded by the Indonesian children and there are also small orangutans with various backgrounds. Such as Popi, which since September 2016 entered the orangutan rehabilitation center located in Berau, East Kalimantan. Popi is a female orangutan who just loose his umbilical cord. Her little body is still very weak. Even to hold the bottle alone, he has not been able. Now Popi grew and developed into a hopeful orangutan. Playing in a jungle school was able to drown it into the afternoon. Please help rehabilitation orangutan of COP Borneo through DONATE (LSX)

ANNIE MENGGANGGU SIMSON
“Annie! Naik!”, hardik Simson, si animal keeper sambil menatap Annie yang yang mulai mendekati hammock tempatnya menungguin orangutan-orangutan di kelas sekolah hutan COP Borneo. Tapi yang namanya orangutan dengan usia balita… seperti anak manusia pada umumnya. Mereka sangat tergantung pada ibunya. Sangat ingin selalu dekat dengan ibunya. Mungkin itulah yang dirasakan Annie. Berada di tempat asing untuk pertama kalinya, dia berusaha mencari perlindungan Simson, si animal keeper yang membawanya ke sekolah hutan.

Selama empat tahun Annie dipelihara secara ilegal di desa Merapun. Hidup di dalam kandang kayu berukuran 3 x 3m membuatnya sangat tergantung dengan pemeliharanya. Makanan layaknya manusia, menjadi menunya sehari-hari. Tentu saja ini akan menyulitkan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo dalam proses mengembalikan Annie untuk bisa hidup di habitatnya. “Ya, ini akan jadi tantangan tersendiri untuk tim. Kami akan sangat membutuhkan dukungan semua pihak.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Tak hanya Annie, di pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia ini juga ada orangutan-orangutan kecil dengan berbagai latar belakang. Seperti Popi yang sejak September 2016 masuk pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Popi adalah orangutan betina yang baru saja lepas tali pusarnya. Tubuh kecilnya masih sangat lemah. Bahkan untuk memegang botol minumnya saja, dia belum mampu. Kini Popi tumbuh dan berkembang menjadi orangutan yang penuh harapan. Bermain di sekolah hutan mampu menenggelamkannya hingga sore hari. Yuk bantu rehabilitasi orangutan COP Borneo lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

THE NIGHTMARE OF ORANGUTAN IN KASANG KULIM ZOO

Again, I had the opportunity to visit Kasang Kulim zoo which is located in the suburban area of Pekanbaru city, Kampar district, Riau. Most of its animal collections are caged in iron bars with cement floor.

As I came to orangutan enclosure, I got greeting from orangutan named Lisa. Lisa spat as she reached out to me. And then, Lisa coughed as if she was going to throw up and not long after that she throwed up. Turned out, Lisa has a habit to spit out the food she ate and re-eat it. And she did it over and over again. While the other two orangutans didn’t show any better condition. All those three looked pretty stressed.

Not much that those three orangutan could do, there was only an used tire hung by steel chain in each of the enclosure they live in. One block filled with a pair of orangutan, and the block next to them was a female orangutan, which was Lisa. Tin roof and cement floor turned these cages into prison of orangutan.

I am an  orangufriends from Padang who accidentally became a witness to all this. This nightmare haunted me all night long. My urge to fix the life of orangutan in Kasang Kulim zoo is so strong. The help from other orangufriends obviously will become more real through ttps://kitabisa.com/orangindo4orangutan Let’s help Lisa!

MIMPI BURUK ORANGUTAN DI KASANG KULIM ZOO
Kembali saya berkesempatan mengunjungi kebun binatang Kasang Kulim yang berada di pinggiran kota Pekanbaru, kabupaten Kampar, Riau. Hampir seluruh koleksi satwanya berada di dalam kandang berbentuk kerangkeng yang terbuat dari besi dengan lantai semen.

Begitu tiba di kandang orangutan, saya langsung mendapat salam perkenalan dari orangutan yang bernama Lisa. Lisa meludah sambil mengulurkan tangannya ke arah saya. Selanjutnya, Lisa terbatuk-batuk seperti hendak muntah dan tak lama kemudian diapun muntah. Ternyata Lisa memiliki kebiasaan memuntahkan makanan untuk kemudian dimakannya kembali. Dan kejadian itu dilakukannya berulang-ulang. Sementara dua orangutan lainnya juga tak menunjukkan kondisi yang lebih baik dari Lisa. Ketiganya terlihat stres.

Tak banyak yang bisa dilakukan ketiga orangutan ini, sebuah ban bekas digantungkan dengan rantai baja dimasing-masing bilik yang mereka huni. Satu bilik diisi sepasang orangutan dan di sebelahnya terlihat orangutan betina lainnya yaitu Lisa. Atap seng dan lantai semen menjadikan kandang ini penjara orangutan.

Saya, adalah orangufriends Padang yang tak sengaja menjadi saksi ini semua. Mimpi buruk ini menghantui saya sepanjang malam. Keinginan saya memperbaiki kehidupan orangutan di Kasang Kulim Zoo begitu besar. Bantuan orangufriends lainnya tentu saja akan lebih nyata lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan
Yuk bantu Lisa! (Novi_OrangufriendsPadang)