WAITING FOR THE DECISION OF THE ORANGUTAN DEATH CASE WITH 130 BULLETS

Compiled data from 8 orangutan organizations recorded that at least 48 cases of orangutans shot with air rifles and a total of 805 bullets. This small, 4.5 mm air rifle bullet, made of tin cannot kill orangutans directly. But the number and location of the bullet can make it the main cause of death for all animals.

The case of an orangutan’s death with 130 air rifle bullets on February 6, 2018, has entered the third trial. Sangatta District Court in East Kalimantan has also heard the defense of the suspect.

After a long holiday of Eid Fitr, Sangatta District Court will decide the verdict on the four suspects of the orangutan shooting with 130 air rifle bullets. “Let’s keep on guarding the case so that the verdict is given according to their actions,” told Ramadhani, the COP manager of habitat and orangutan protection. (IND)

MENUNGGU PUTUSAN KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU
Data bersama dari 8 organisasi orangutan mencatat setidaknya telah terjadi 48 kasus orangutan ditembak dengan senapan angin dan total 805 peluru. Peluru senapan angin yang berukuran kecil, 4,5 mm yang terbuat dari timah ini memang tak bisa membunuh secara langsung. Tapi jumlah dan lokasi bersarangnya peluru bisa menjadikannya penyebab utama kematian mahkluk hidup.

Kasus kematian orangutan dengan ditemukannya 130 peluru senapan angin pada 6 Februari 2018 yang lalu sudah memasuki sidang ketiga. Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur juga telah mendengarkan pembelaan dari tersangka.

Setelah libur panjang hari raya Idul Fitri, Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur akan memutuskan vonis kepada keempat tersangka pelaku penembakan orangutan dengan 130 peluru senapan angin tersebut. “Yuk kita kawal terus, agar putusan yang diberikan sesuai dengan perbuatannya.”, ajak Ramadhani, manajer perlindungan habitat dan orangutan COP.

UNYIL, ONE MORE STEP TOWARDS HIS HABITAT

Unyil is the name of one of orangutans in orangutan rehabilitation centre located in Berau regency, East Kalimantan. Unyil has his own story that is quite unbelievable. This young orangutan which once kept as pet by locals in Muara Wahau, was living in a bathroom for 3 years. He was only 2 years old at that time.. still a cute and adorable baby. He was bought by Ngau family for IDR 1.500.000,00 from others.

“We didn’t expect that unyil’s progress would be that fast. From a spoiled baby orangutan which had to be fed by Ngau family to eat, even we were surprised seeing his hair straight as if his hair was just straighten. The first time he joined the forest school, he was just shuffling on the ground and confused when he was given orangutan food. Until finally, he successfully climbed the trees and moved from one tree to another. And his courage to survive on the orangutan island convinced us that Unyil deserves the real forest.”, said Reza Kurniawan, COP primate observer.

The release of orangutans is not as easy as people think it is, like just open the transit cage and let the orangutan free. There are a very detailed medical test to ensure the orangutan is in a good condition of health without any infectious disease. Therefore, COP Borneo medical team carried out a series of medical check-up which included a complete blood test, and several infectious diseases tests such as hepatitis, herpes, and tuberculosis.

Thankfully, laboratory results state that Unyil is clear. Unyil prepares for the next step, waiting for administration from the authorities to release him to his habitat. (SAR)

UNYIL, SELANGKAH LAGI AKAN KEMBALI KE HABITATNYA
Unyil adalah nama orangutan di pusat rehabilitasi orangutan yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Unyil punya cerita tersendiri yang membuat orang tak percaya. Anak orangutan yang dipelihara warga Muara Wahau, selama 3 tahun hidup di dalam kamar mandi. Saat itu dia berusia 2 tahun… masih bayi yang lucu dan menggemaskan. Dibeli keluarga Ngau sebesar Rp 1.500.000,00 dari orang lain.

“Kami tak menyangka, perkembangan Unyil begitu pesat. Dari anak orangutan yang begitu manja yang untuk makan saja selalu didulangi keluarga Ngau bahkan waktu itu kami heran sekali dengan rambutnya yang seperti baru saja direbonding. Masuk kelas sekolah hutan hanya bisa ngesot di lantai hutan/tanah dan kebingungan saat diberi makanan orangutan. Hingga akhirnya dia berhasil memanjat pohon dan berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Dan keberaniannya bertahan di pulau orangutan membuat kami yakin, Unyil pantas untuk hutan yang sesungguhnya.”, ujar Reza Kurniawan, pengamat primata COP.

Pelepasliaran orangutan tak semudah yang diperkirakan orang awam. Buka kandang transit dan orangutan bebas lepas. Ada tes kesehatan yang sangat detil, untuk memastikan orangutan yang dilepasliarkan dalam keadaan sehat tanpa penyakit menular. Untuk itu, tim medis COP Borneo melakukan serangkaian tes kesehatan yang meliputi darah lengkap, dan beberapa penyakit menular seperti hepatitis, herpes hingga Tuberkulosis.

Syukurlah, hasil laboratorium menyatakan Unyil bersih. Unyil bersiap ke langkah selanjutnya, menunggu administrasi dari pihak berwenang untuk pelepasliarannya ke habitatnya.

BULLIYING ON THE FIRST DAY OF ANNIE

Geez … at the beginning of the class of COP Borneo forest school, East Kalimantan, one participant has made a riot. Annie, the newcomer looked at Happi fiercely. Not only Happi, Annie also showed an attitude of unfriendly to Owi. Owi even got a hit from Annie on the way to the forest school.

But once in the forest school, the situation becomes turned 180 degrees. Annie who always wanted to challenge Happi and Owi could not do much. Happi always tried to bite and pursue Annie, wherever Annie went. Owi did not want to lose. The first day of school became more and more difficult for Annie.

The forest school has lasted half a day. Animal keeper is busy continuously separating Annie and Happi fights. Annie also looked very tired and wanted to give up. But Happi continued to approach Annie and invite a fight. Maybe this is a welcome statement to Annie from Happi. (WET)

BULLYING DI HARI PERTAMA ANNIE
Ya ampun… di awal kelas sekolah hutan COP Borneo, Kalimantan Timur, satu orang peserta telah membuat kericuhan. Annie, si pendatang baru menatap Happi dengan galaknya. Tak hanya Happi, Annie pun menunjukkan sikap tidak ramahnya pada Owi. Bahkan Owi sempat mendapatkan satu pukulan dari Annie dalam perjalanan menuju sekolah hutan.

Tapi sesampainya di sekolah hutan, situasi menjadi berbalik 180 derajat. Annie yang selalu ingin menantang Happi dan Owi tak bisa berbuat banyak. Happi selalu berusaha menggigit dan mengejar Annie, kemana pun Annie pergi. Owi pun tak mau kalah. Hari pertama sekolah menjadi semakin sulit buat Annie.

Sekolah hutan telah berlangsung setengah hari. Animal keeper sibuk terus menerus memisahkan perkelahian Annie dan Happi. Annie pun terlihat sangat capek dan ingin menyerah. Namun Happi terus mendekati Annie dan mengajak berkelahi. Mungkin ini adalah ucapan selamat datang untuk Annie dari Happi. (WET)

JONI, THE RAMBO FROM COP BORNEO

There are 3 animal keepers who have joined the COP Borneo, Berau, East Kalimantan orangutan rehabilitation center for a long time. One of them is Joni. He grew up in the Merasa Village, near from the location of COP Borneo.

Since November 2015, Joni has now become adept at using tulup (blowpipe), drug gun and taking care of orangutans. Joni is also good at carrying ketinting (little machine boat) on a various kind of river courses. Now, he holds the responsibility for the care of orangutans and logistics. In addition, Joni also has a stake in the construction of quarantine cages for orangutans and renovation of the wood bridge.

When transferring orangutans, translocations and orangutan rescue, Joni is always on the front line with the COP Borneo medical team. He is the reliable executor of anesthesia that the medical team has always trusted. Joni got the nickname, Joni Rambo, like the heroic Hollywood movie with his gun.(IND)

JONI, RAMBO DARI COP BORNEO
Ada 3 animal keeper yang sudah cukup lama bergabung dengan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Salah satunya bernama Joni. Dia tumbuh dan besar di kampung Merasa yang tak jauh dari lokasi berdirinya COP Borneo.

Sejak November 2015, Joni pun sekarang sudah mahir menggunakan tulup, senapan bius dan menagani orangutan. Joni juga jago membawa ketinting dalam jalur sungai yang berat sekalipun. Kini tanggung jawab perawatan orangutan dan logistik pun dipegangnya. Selain itu, Joni juga punya andil dalam pembangunan kandang karantina untuk orangutan serta renovasi titian.

Saat pemindahan orangutan, translokasi dan penyelamatan orangutan, Joni selalu di garis depan bersama tim medis COP Borneo. Dialah, eksekutor handal pembiusan yang selalu dipercaya tim medis. Joni pun mendapat julukan, Joni Rambo, seperti di film Hollywood yang heroik dengan senjata apinya. (WET)

WELCOME TO OUR FOREST SCHOOL, ANNIE

Two months ago Annie arrived at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Kalimantan. “Annie’s behavior for two months had made us believe, Annie would immediately climb a tree and disappear in the canopy. Not only that, but we also estimate we will have difficulty asking Annie back to the cage,” said Reza Kurniawan, a primate anthropologist of COP.

But what we have predicted is missed. Annie looks confused at the forest school. He just walked around the animal keeper and climbed no higher than 3 meters. Yes, this is the first day he is free from the cage.

Annie is a male orangutan who was rescued from Merapun village, East Kalimantan. He was an illegal pet for three years before we rescue him. The owner made his behavior became tame. He was still a baby when the owner brought him, around 1 year old. At that age, orangutan babies suppose to be under parental care. The babies will continue to be attached to their mothers until they are 6 years old. After that, the mother will start weaning her child to live alone. Orangutans are basically solitary animals.

Annie’s first day at forest school will be a special note for us. We hope that COP supporters also follow Annie’s development at COP Borneo and give support to her through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Wait for her three-month report in August. (IND)

SELAMAT DATANG DI SEKOLAH HUTAN, ANNIE
Dua bulan sudah Annie tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. “Perilaku Annie selama dua bulan itu sempat membuat kami yakin, Annie akan langsung memanjat pohon lalu menghilang di dedaunan. Tak hanya itu, kami juga memperkirakan, kami akan kesulitan mengajak Annie kembali ke kandang.” ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Namun apa yang telah kami prediksi, meleset. Annie terlihat bingung di lokasi sekolah hutan. Dia hanya berjalan-jalan di sekitar animal keeper dan memanjat tidak lebih tinggi dari 3 meter. Iya, ini adalah hari pertamanya bebas dari kandang.

Annie adalah orangutan jantan yang diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di desa Merapun, Kalimantan Timur. Tiga tahun masa pemeliharaan tersebut membuat prilakunya menjadi jinak. Terlebih lagi di usianya yang masih bayi, saat itu sekitar 1 tahun. Usia bayi orangutan yang sedang berada dalam pengawasan ketat induknya. Anak orangutan akan terus menerus melekat pada induknya hingga berusia 6 tahun. Setelah itu, induk akan mulai menyapih anaknya agar bisa hidup sendiri. Orangutan pada dasarnya adalah mahkluk soliter.

Hari pertama Annie akan menjadi catatan tersendiri untuk kami. Kami berharap, para pendukung COP juga mengikuti perkembangan Annie selama di COP Borneo dan memberikan dukungannya lewat Tunggu rapot tiga bulanannya di bulan Agustus ya.

ORANGUTAN IN THE BANDUNG ZOO

This male orangutan was seen sitting on the grass. Cages without bars is a modern kind of cage recommended for
conservation institutions, it’s often known as enclosure. Generally, conditions of the Bandung Zoo enclosure was pretty good. There were one shelter in the form of gazebo that should be better if it was in the form of tree house to force orangutans to climb and train their muscles.

The enclosure area estimated to be around 15×15 meters equipped with 2 trap cages that’s enough for the orangutans when the enclosure must be cleaned regularly. Inside the trap cages was seen enrichment to entertain them whenever they’re inside the cage.

The information board was also quite communicative. There was also a prohibition to not to feed the animals. “It demands the visitors to be more disciplined in obeying the existing regulations.”, said Hery Susanto, coordinator of COP’s Anti Wildlife Crime unit. “Moreover, holiday season is coming soon which usually will increase the number of visitors with various backgrounds.”.

Unfortunately, the water inside the pond that surrounds the enclosure looked dry. The pond should be a distance between the orangutans and visitors besides the wall. So if there’s visitor trying to throw something, it can’t directly hit the orangutans. The water can be also used to drink for the orangutans whenever they are thirsty. (SAR)

ORANGUTAN DI KEBUN BINATANG BANDUNG
Orangutan jantan ini terlihat duduk-duduk di antara rerumputan. Kandang tanpa jeruji adalah kandang modern yang direkomendasikan untuk lembaga konservasi umum atau sering disebut juga enclosure. Secara umum, kondisi enclosure Kebun Binatang Bandung ini cukup baik. Ada satu tempat berteduh berbentuk gazebo yang seharusnya bisa lebih berbentuk rumah pohon yang bisa memaksa orangutan memanjat agar bisa melatih otot-otot tangannya.

Luas enclosure yang diperkirakan sekitar 15×15 meter dilengkapi dengan 2 buah kandang jebak cukup bisa mengatasi orangutan saat enclosure harus dibersihkan secara berkala. Di dalam kandang jebak sendiri terlihat enrichment untuk mengatasi kebosanan saat berada di kandang jebak.

Papan informasi juga cukup komunikatif. Tak lupa juga himbauan untuk tidak memberi makanan maupun minuman. “Ini menuntut para pengunjung untuk lebih disiplin mematuhi peraturan yang ada.”, ujar Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP. “Apalagi ini akan memasuki musim liburan yang biasanya akan terjadi peningkatan jumlah pengunjung dengan latar belakang yang berbagai macam.”.

Sayang air yang seharusnya mengelilingi enclosure terlihat kering. Kolam keliling itu seharusnya bisa menjadi jarak untuk orangutan dan pengunjung selain tembok. Sehingga jika ada pengunjung nakal yang melemparkan sesuatu ke orangutan tidak bisa langsung sampai pada orangutannya. Air itu juga bisa dimanfaatkan orangutan sebagai air minumnya saat dia kehausan.

WILDLIFE CONFISCATED WILDLIFE TRADERS RETURN WILD IN THEIR HABITAT

The attempt to rehabilitate wildlife from trade is not as easy as turning a palm. The confiscated animals from the joint Police and Center for Orangutan Protection operations with other organizations in 2013 can only be returned to nature by 2018. “Like the five pandanus weeds (Paradoxurus hermaphroditus) that were entrusted and rehabilitated in the Wildlife Rescue Center of Jogja, since 18 September 2013.”, explained Daniek Hendarto, COP ex situ program manager.

Not just rehabilitate, the location search for release is also a problem in itself. “The network must be strong enough for the process to run quickly. For that, not infrequently we also must include evidence such as photographs that the release location is the habitat of these animals.”, added Daniek Hendarto.

May 19, 2018 There are eight wild animals from illegal trade seizure trade of 5 wild pandanus, 2 forest cats (Prionailurus bengalensis) and one Javanese hedgehog (Hystrix Javanica). The eight animals have shown the feasibility to be returned to their habitat both in terms of health and behavior. “All the animals are healthy, there is no disease and the behavior is feasible to be returned to nature.”, said drh. Irhamna Putri Rahmawati., M.Sc.

WRC Jogja under the Yogyakarta Nature Conservation Foundation is located in Paigan, Pengasih, Kulon Progo currently cares for 170 protected wildlife. Everything is the result of BKSDA seizure operations as well as Police assisted by COP, Animals Indonesia and other non-governmental organizations. Trade in wildlife is still quite high, this is due to the awareness of the community to maintain and have wild animals as very low maintenance animals. The Center for Orangutan Protection is looking forward to the role of Orangufriends (a group of COP supporters) who have been running education and awareness to schools and communities. “Wildlife … yes in the nature of his home.”. (LSX)

SATWA SITAAN PEDAGANG ILEGAL KEMBALI LIAR DI HABITATNYA
Usaha merehabilitasi satwa liar dari perdagangan tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Satwa hasil sitaan dari operasi gabungan Kepolisian dan Centre for Orangutan Protection bersama organisasi lainnya pada tahun 2013 baru bisa dikembalikan ke alam di tahun 2018 ini. “Seperti kelima ekor musang pandan (Paradoxurus hermaphroditus) yang dititipkan dan direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre Jogja, sejak 18 September 2013 ini.”, jelas Daniek Hendarto, manajer program eks situ COP.

Tak hanya sekedar merehabilitasi, pencarian lokasi pelepasliaran juga menjadi permasalahan tersendiri. “Jaringan harus cukup kuat agar proses bisa berjalan dengan cepat. Untuk itu, tak jarang kami juga harus menyertakan bukti seperti foto bahwa lokasi pelepasliaran merupakan habitat satwa tersebut.”, tambah Daniek Hendarto.

19 Mei 2018 ini ada delapan satwa liar dari operasi penyitaan perdagangan ilegal satwa liar yaitu 5 musang pandan, 2 kucing hutan (Prionailurus bengalensis) dan satu landak jawa (Hystrix Javanica). Kedelapan satwa sudah menunjukkan kelayakan untuk dikembalikan ke habitatnya baik dari sisi kesehatan dan perilakunya. “Semua satwanya sehat, tidak ada penyakit dan perilakunya layak untuk dikembalikan lagi ke alam.”, kata drh. Irhamna Putri Rahmawati., M.Sc.

WRC Jogja yang berada di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta berlokasi di Paigan, Pengasih, Kulon Progo saat ini masih merawat 170-an satwa liar yang dilindungi. Semuanya merupakan hasil operasi penyitaan BKSDA maupun Kepolisian dibantu COP, Animals Indonesia dan lembaga swadaya masyarakat lainnya. Perdagangan satwa liar memang masih cukup tinggi, ini disebabkan kesadaran masyarakat memelihara dan memiliki satwa liar sebagai hewan pelihara sangat rendah. Centre for Orangutan Protection berharap besar pada peran Orangufriends (kelompok pendukung COP) yang selama ini menjalankan edukasi dan penyadartahuan ke sekolah maupun masyarakat. “Satwa liar… ya di alam rumahnya.”.(NIK)

HOW IS AMBON NOW?

Ambon, an adult male orangutan who has lived behind bars for decades has managed to survive for a month on the orangutan island. At the island, Ambon lives without any artificial boundaries. The fast flowing river is the natural fence for him to limiting orangutan interaction with humans.

Ambon has also succeeded in climbing trees. Previously, he made the team worried about his climbing ability because he almost had no experience lived outside the cage. Unexpectedly, in just 3 hours, Ambon was already in the tree he chose.

A month passed. The monitoring team did not see Ambon go down to eat. The team called Ambon, but Ambon never went down to eat. Natural food on the island is not enough to support orangutans, that’s why the COP Borneo team every morning and evening always puts orangutan food while checking the presence of orangutans on the island.

Three days passed, the team began to plan to take Ambon back to the cage. Mid-April 2018, Ambon returned to the quarantine enclosure. The medical team observed Ambon in more detail. Reza Kurniawan, the manager of the rehabilitation center who also a primate anthropologist is also involving to observe Ambon.

“Finally Ambon wants to eat.” Ambon looks more comfortable in his cage. It is not easy to change a habit. Moreover, it has been inside the cage for decades. The team is still planning when Ambon can return to the island. However, Ambon has the right to live without iron bars. (IND)

BAGAIMANA KABAR AMBON?
Ambon, orangutan jantan dewasa yang sudah puluhan tahun hidup di balik jeruji telah berhasil bertahan hidup selama satu bulan di pulau orangutan. Pulau, dimana Ambon hidup tanpa pembatas buatan. Sungai beraliran deraslah yang menjadi pagar alami untuknya sebagai batas interaksi orangutan dengan manusia.

Ambon juga telah berhasil memanjat pohon, yang sebelumnya sempat membuat tim kawatir akan kemampuan memanjatnya, mengingat sejarah Ambon yang tak pernah hidup di luar kandang. Di luar perkiraan, hanya dalam hitungan 3 jam, Ambon sudah berada di atas pohon yang dipilihnya.

Sebulan berlalu. Tim pemantau tak melihat Ambon turun untuk makan. Tim memanggil-manggil Ambon, namun Ambon tak kunjung turun untuk makan. Pakan alami di pulau tidak cukup untuk menompang orangutan, itu sebabnya, tim COP Borneo setiap pagi dan sore selalu meletakkan makanan orangutan sembari mengecek keberadaan orangutan di pulau.

Tiga hari berlalu, tim mulai menyusun rencana untuk menarik Ambon ke kandang. Pertengahan April 2018, Ambon kembali ke kandang karantina. Tim medis mengamati Ambon lebih detil lagi. Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi yang merupakan ahli antropologi primata juga tak lepas dalam mengamati Ambon.

“Akhirnya Ambon mau makan.”. Ambon terlihat lebih nyaman berada di dalam kandangnya. Memang tidak mudah merubah sebuah kebiasaan. Apalagi sudah terbiasa selama puluhan tahun. Tim hanya bisa merencanakan kembali, kapan Ambon bisa kembali ke pulau. Bagaimana pun, Ambon berhak hidup tanpa jeruji besi.

THE SECOND TRIAL OF ORANGUTAN DEATH CASE WITH 130 BULLETS

The case of orangutan death with 130 bullets in his body has entered the second trial. Wednesday, May 16, 2018 at the Sangatta District Court, East Kalimantan session with the agenda of listening to the testimony of expert witnesses presents drh. Felisitas Flora S.M from Center for Orangutan Protection and Yoyok Sugianto from BKSDA Kaltim.

The autopsy of orangutans on 6 February 2018 ensured that orangutans were male of 5-7 years old. From the results of x-rays found 74 bullets on the head, 9 bullets in the right hand, 14 bullets in the left hand, 10 bullets on the right leg, 6 bullets on the left leg and 17 bullets on the chest. But the autopsy team was only able to remove 48 bullets air rifle.

“This is the largest number of orangutan cases ever. The easy possession of this air gun is one of the causes of wildlife being the target of air rifle brutality. Terror air rifle occurs anywhere. The bullet of the air rifle is not directly deadly, but if the numbers are so much ends up making the orangutans helpless.”, said Ramadhani, manager of orangutan protection and habitat COP.

The orangutan is also shot in the area where it should be protected. Kutai National Park with the status of conservation area still can not protect wild animals protected by Law No. 5 of 1990. The four suspects will still undergo a follow-up trial which will be held next week with the agenda to hear the information of the suspect. (LSX)

SIDANG KEDUA KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU
Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya sudah memasuki sidang kedua. Rabu, 16 Mei 2018 di Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli menghadirkan drh. Felisitas Flora S.M dari Centre for Orangutan Protection dan Yoyok Sugianto dari BKSDA Kaltim.

Kematian orangutan yang diotopsi pada tanggal 6 Februari 2018 yang lalu memastikan bahwa orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun. Dari hasil rontgen ditemukan 74 peluru pada kepala, 9 peluru pada tangan kanan, 14 peluru pada tangan kiri, 10 peluru pada kaki kanan, 6 peluru pada kaki kiri dan 17 peluru pada dada. Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru senapan angin.

“Ini adalah kasus orangutan dengan peluru terbanyak yang pernah ada. Mudahnya kepemilikan senapan angin ini adalah salah satu penyebab satwa liar menjadi sasaran kebrutalan senapan angin. Teror senapan angin terjadi dimana saja. Peluru senapan angin tidak langsung mematikan, namun jika jumlahnya sebegitu banyak akhirnya membuat orangutan tak berdaya.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

Orangutan tersebut juga ditembak pada kawasan dimana seharusnya dia terlindungi. Taman Nasional Kutai dengan status kawasan konservasi masih juga tak bisa melindungi satwa liar yang dilindungi UU Nomor 5 Tahun 1990. Keempat tersangka masih akan menjalani sidang lanjutan yang akan dilaksanakan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan tersangka. (REZ)

HERCULES LOOKS RENOVATED THE OLD NEST

It was already a month that Hercules inhabited the orangutan island alone. Without the greater and dominant Ambon orangutan, Hercules becomes more freely exploring the island. Exciting news from the development of Hercules. Hercules is seen fixing the old nest of former the orangutan Novi.

“Shortly after Hercules was busy in the old nest of Novi, the day became dark. And Hercules is still there and immobile. Chances are he really slept in this nest.”, Inoy said while watching the island from the camp monitor.

“This is exciting news. A good start for the development of Hercules. That hope never broke, we in COP Borneo became more excited again. That nothing is impossible!.”, said Reza Kurniawan, manager of COP Borneo rehabilitation center.

Hercules is a male orangutan from the zoo, precisely Botanical Garden Unmul Samarinda/ KRUS. In 2010, Hercules was a very naughty orangutan who repeatedly came out of the cage without the iron bars/ enclosures to eat from the stalls. His large body could have scared the other animal keeper. But the development of Hercules is like quitting, the orangutan whose age are growing more rapidly in line with their survival abilities. Like making nests, climbing, looking for natural food and even survive by fighting with other orangutans. Other orangutans, who previously inhabited the orangutan island along with Hercules are undergoing quarantine period for reintroduction back into their habitat. While Hercules is left behind because of its survival ability is considered not fulfilling the pre-release prerequisites. “Now, we can return to hope, Hercules also have hope to return to their habitat.”, Inoy said with enthusiasm. (LSX)

HERCULES TERLIHAT RENOVASI SARANG LAMA
Sebulan sudah Hercules menghuni pulau orangutan sendirian. Tanpa orangutan Ambon yang terlihat lebih besar dan dominan, Hercules menjadi lebih leluasa menjelajah pulau. Berita menggembirakan dari perkembangan Hercules. Hercules terlihat memperbaiki sarang lama bekas orangutan Novi.

“Tak lama setelah Hercules sibuk di sarang lama bekas Novi, hari menjadi gelap. Dan Hercules masih tetap disitu dan tak bergerak. Kemungkinan dia benar-benar tidur di sarang ini.”, ujar Inoy saat mengamati pulau dari camp pantau.

“Ini adalah berita yang menggembirakan. Permulaan yang baik untuk perkembangan Hercules. Harapan itu tak pernah putus, kami di COP Borneo pun menjadi lebih bersemangat lagi. Bahwa tak ada yang tak mungkin!”, tegas Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi COP Borneo.

Hercules adalah orangutan jantan dari kebun binatang, tepatnya Kebun Raya Unmul Samarinda/KRUS. Tahun 2010 yang lalu, Hercules adalah orangutan yang sangat nakal hingga berulang kali keluar dari kandang tanpa jeruji besi/enclosure untuk makan dari warung. Tubuhnya yang besar sempat membuat takut animal keeper yang lain. Namun perkembangan Hercules seperti berhenti, orangutan yang seumuran dengannya berkembang lebih pesat lagi seiring dengan kemampuan bertahan di alam mereka. Seperti membuat sarang, memanjat, mencari pakan alami bahkan bertahan hidup dengan berkelahi dengan orangutan lainnya. Orangutan lainnya, yang sebelumnya menghuni pulau orangutan bersama Hercules sedang menjalani masa karantina untuk pelepasliaran kembali ke habitatnya. Sementara Hercules ditinggal karena kemampuannya bertahan hidup dianggap tidak memenuhi prasyaratan pelepasliaran tersebut. “Kini, kami bisa kembali berharap, Hercules pun punya harapan untuk kembali ke habitatnya.”, ujar Inoy dengan semangat. (NOY)