10 MERAK AKAN KEMBALI KE ALAM

Masih ingat operasi tangkap tangan pedagang satwa liar di Bantul, Yogyakarta pada 7 Februari 2016 yang lalu? Pedagang atas nama M. Zulfan telah menjalani hukuman 9 bulan penjara. Dalam komentarnya di Instagram orangutan_COP, dengan akun jovan_joyodarsono, “Wah jadi inget waktu dulu digrebek cop sama jaa..sekarang dah tobat..sukses ya cop.”. Sungguh penegakkan hukum bukanlah hal yang sia-sia.

Satwa yang berhasil diselamatkan adalah 13 merak hijau, 1 beruang madu, 2 ular sanca bodo, 1 lutung jawa, 1 elang hitam dan 1 binturong dan dititipkan di Wildlife Rescue Centre Yogyakarta. Tahun 2017 ini adalah tahun kebebasan untuk satwa-satwa tersebut. 10 merak hijau ini tumbuh menjadi merak-merak yang siap untuk dirilis. 19 Februari 2017 nanti, kesepuluh merak yang berhasil bertahan akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.

Selain merak hijau, 3 ular dan 2 landak dari operasi pasar burung Muntilan, Jawa Tengah tahun 2012 akan ikut dilepasliarkan juga. Suryanto, pedagang dengan satwa dilindungi elang brontok, alap-alap sapi, bubo sumatranus, kucing hutan, anakan kijang, landak, trenggiling, walang kopo, anakan elang, kukang dan buaya telah menjalani hukuman 9 bulan penjara.

Persiapan pelepasliaran kembali ini membawa semangat untuk APE Warrior yang telah bekerja keras menginisiasi operasi-operasi penegakkan hukum tersebut. “Tak ada yang tidak mungkin. Jangan beli satwa liar. Jangan jual satwa liar!”, Daniek Hendarto manajer Aksi Centre for Orangutan Protection. (YUN)

EVACUATION ORANGUTAN MELY, DONE!

Pagi 8 Februari 2017, APE Crusader bergegas ke BKSDA Sampit untuk menyelamatkan satu orangutan kecil. Orangutan ini ditemukan seorang pelajar SMA Kuala Pembuang di tengah kebun milik warga desa Pematang Panjang, kecamatan Seruyan Hilir Timur, kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Gufron Maulana (17 tahun) lalu menyerahkan orangutan tersebut ke kantor TNTP Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kuala Pembuang.

“Kemungkinan orangutan ini sebelumnya sempat dipelihara ilegal, dikarenakan terdapat bekas ikatan pada leher dan sangat jinak.”, ujar Muriyansah, kepala Pos BKSDA Sampit. Berdasarkan informasi penemu orangutan yang diberi nama Mely ini, Mely diberi makan nasi dan kecap. Mely juga menyukai buah rambutan dan langsat.

“Ini adalah orangutan pertama di tahun 2017 yang APE Crusader evakuasi. Hilangnya hutan sebagai habitat orangutan menyebabkan satwa liar pintar ini mendekati pemukiman. Usia Mely yang tergolong bayi ini membuat orang tidak takut dan memeliharanya. Namun orangutan adalah satwa yang dilindungi hukum Indonesia, memeliharanya tergolong melanggar hukum (ilegal) dan kriminal.”, tegas Satria, kapten APE Crusader.

Saat ini Mely berada di BKSDA SKW II Pangkalan Bun dan diterima langsung oleh pak Muda, polhut yang sedang bertugas. “Orangutan Mely akan masuk pusat rehabilitasi untuk mendapatkan kesempatan keduanya, hidup di alam.”, ujar Agung Widodo, kepala BKSDA Pangkalan Bun.

Peran aktif masyarakat untuk ikut melindungi orangutan sebagai satwa liar kebangaan Indonesia sangat dibutuhkan. Email kami di info@orangutanprotection.com untuk melaporkan kepemilikan ilegal satwa liar yang ada di sekitar anda. (PET)

SEKOLAH KONSERVASI SATWA LIAR

This is the aerial view of our COP School. We are raising fund to develop a new class room. COP School is training centre for new generations of animal advocate. COP School has graduated 145 activist that currently working on a very effective personal network. This is a strategic investment for environmental and social network. Please donate through:
kitabisa.com/copschool

Inilah foto udara COP School, hanya setengah bagian saja.
Terletak di dusun Gondanglegi Kabupaten Sleman. Dari airport hanya 30 menit mengemudi. Di sinilah generasi pelindung satwa liar selama 6 tahun terakhir.

SEMANGAT DAN IMPIAN BARU LEWAT COP SCHOOL

Nama saya Alex Sander, sebelum mengikuti COP School Bacth 6 saya telah aktif sebagai Animal Keeper di Animals Indonesia, sebuah Pusat Penyelamatan Satwa di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan sejak satu tahun yang lalu. Suatu kebanggaan besar bagi saya untuk bisa bergabung dan aktif dalam upaya penyelamatan satwa. Saya memperoleh kesempatan besar untuk mengikuti COP School Batch 6 pada bulan Mei 2016.

Pada awalnya saya masih ragu mengikuti kegiatan ini, namun atas dasar saran dari kawan kawan seperjuangan, saya mencoba memberanikan diri untuk mengikuti kegiatan ini. Keputusan ini merupakan hal yang berat karena saya belum pernah berpergian jauh apalagi keluar luar pulau dan ijin orang tua yang belum juga merestui keberangkatan saya. Hampir satu minggu saya galau seperti orang yang tidak waras, namun saya tetap bersikeras untuk datang di kegiatan tersebut karena menurut saya  COP school  adalah kegiatan yang akan memberikan banyak hal positif bagi saya dan memberikan pelajaran hidup yang bisa memotivasi saya menjadi lebih baik.

Seminggu setelah galau, saya berangkat menunju Yogja pada hari Rabu tanggal 11 Mei 2016 dengan niat, kemauan dan modal yang pas-pasan, hanya pas untuk ongkos pulang pergi. Sebagai informasi buat kalian, bahwa perjalanan dari Lubuk Linggau menuju Yogyakarta membutuhkan waktu selama tiga hari tiga malam, mungkin kalau satu hari lagi saya berada dalam bis pasti saya sudah menjadi mumi saat tiba di Yogya.

Pada saat bus tiba di Yogya, saya malah tidak sadarkan diri dan seseorang membangunkan saya kalau bis yang saya tumpangi telah menuju Solo. Pada saat itu saya bingung harus bagaimana namun supir bis memberikan bantuan untuk ikut dengan bis lain yang menuju kearah Yogya dan akhirnya saya tiba di tempat tujuan yaitu “Y.O.G.Y.A.K.A.R.T.A.!!!”.

Sebelum kegiatan COP School dimulai, saya dan beberapa kawan animal keeper dari COP Borneo berkesempatan menjadi relawan di Wildlife Rescue Center Yogyakarta selama 2 hari. Saya berkesempatan untuk merawat Siamang, berbagai jenis burung, orangutan dan membuat enrichment.

Pada tanggal 18 – 22 Mei 2016 saya mengikuti COP School Batch 6, hal yang pertama kali saya rasakan adalah seperti saya bukan siapa – siapa mengingat saya sangat awam dalam kegiatan konservasi dibandingkan dengan kawan-kawan lainya. Namun itu bukan penghalang bagi saya untuk belajar karena saya bertemu kawan-kawan dan tim seperjuangan (Kelompok 6) yang selalu mendukung saya walaupun saya paling bodoh dan dekil. Hahahaha…

Selama lima hari kegiatan saya mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga dari narasumber yang sangat menginspirasi dan memotivasi saya menjadi lebih baik lagi dalam dunia konservasi. Hal yang tidak terlupakan ketika tenda kelompok kami kebanjiran karena tenda kami bocor dan akhirnya kami tidur seadanya dan kami harus memakan kerak nasi karena nasi yang kelompok kami masak terlalu matang.

Banyak Hal yang saya peroleh pada saat kegiatan COP school Batch 6 dan tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Terimakasih kepada keluarga besar COP yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar tentang dunia konservasi. Pada tanggal 23 Mei saya harus pulang kembali ke Lubuk Linggau dan kembali menekuni aktivitas yang saya lakukan dengan penuh semangat dan impian yang baru. (Alex_Orangufriends)

RUANG KELAS UNTUK SEKOLAH KONSERVASI SATWA LIAR

Namanya Wety, dari Purwodadi – Jawa Tengah. Dia adalah satu dari ribuan anak muda Indonesia yang menggilai tayangan Animal Planet dan ingin terlibat langsung di dalamnya. Wety menemukan jalannya di COP School Batch 1 pada tahun 2011. Kini, dia bersama dengan para alumni COP School lainnya, dari Batch 1 – 6 menjalankan Pusat Penyelamatan Orangutan COP Borneo di Hutan Penelitian Labanan, Kalimantan Timur.

Sejak diinisiasi pada tahun 2011, COP School telah meluluskan 145 orang, yang kini tersebar di berbagai organisasi perlindungan alam dan gerakan sosial. Mereka membangun jaringan kerja yang efektif untuk Indonesia yang lebih hijau. Sayangnya, hingga menjelang COP School Batch 7 yang akan diselenggarakan bulan Mei 2017 ini, COP School belum memiliki ruang kelas, meskipun lahannya sudah tersedia di Yogya.

Bantuan Anda akan digunakan untuk membangun ruang kelas dan mendukung program pelatihan COP School. Ini adalah investasi strategis untuk gerakan perlindungan satwa liar dan habitatnya di Indonesia.

Klik https://kitabisa.com/copschool

WHOEVER YOU ARE, LET’S JOIN COP SCHOOL BATCH 7

Halo! My name is Zahra and I am an employee of a private company in Jakarta. I am an alumni of COP School Batch 6 which was held last year. Since I was a kid, I have always loved animals. But since I do not have any background related to animal conservation, I thought all I can do was just watch animal planet, donate, and like and share some posts in social media.

I was wrong! Last year, I saw a facebook post about COP school, and I thought this was perfect for me. At first I was a bit scared. I did not know anybody in the program! I did not have background and experience related to animal conservation. I was completely new on this field. I also had to spend some time writing the pre-program tasks between works. But with determination, I managed to get picked as one of COP school student.

When I arrived at COP camp, I met new friends which were very open and welcome. COP school students had various backgrounds, age, and even nationality! All those differences did not stop us to feel like home.

During COP school, I learned and experienced a lot of new things: outside class (for example how to build tent, long march along with friends) and inside class. The classes were presented by experts from well-known animal and environmental conservation organizations. What a chance of a lifetime!
COP school was only for a few days, but it gives me a lot of things: new experiences, new knowledge, new friends, and the most important thing was a channel to get involved more about animal conservation, wherever you are, whatever your background is. For example, I can help with translating some COP activities articles for publication.

So whoever you are, as long as you have passion for animal conservation, let’s join COP school batch 7! (Zahra_Orangufriends)

SIAPA PUN KAMU, IKUT COP SCHOOL BATCH 7

Halo! Perkenalkan, namaku Zahra dan saat ini berprofesi sebagai karyawan di perusahaan swasta di Jakarta. Aku adalah siswa COP School Batch 6 yang diadakan tahun 2016 lalu. Sejak kecil aku punya kecintaan terhadap satwa. Tapi berhubung aku tidak punya latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan pelestarian satwa dan aku tinggal di Jakarta, aku sempat berpikir passion-ku terhadap pelestarian satwa tidak bisa disalurkan selain dengan nonton animal planet, berdonasi, atau like dan share post di media sosial.

Ternyata aku salah! Tahun lalu, aku lihat post di facebook tentang COP School, dan aku merasa ini adalah sarana yang tepat untuk aku. Memang awalnya agak takut, aku belum kenal siapa pun! Aku benar-benar baru di bidang ini.  Belum lagi ada tugas-tugas saat proses seleksi, yang membuat aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan pekerjaan di kantor. Tapi, dengan tekad (dan nekad) aku maju terus dan ternyata berhasil lolos seleksi.

Ketika aku sampai di camp COP, aku langsung bertemu dengan teman teman baru yang sangat open dan welcome. Siswa COP School juga sangat beragam, berbagai background, umur, bahkan kewarganegaraan! Semua perbedaan tersebut tidak menghalangi kita untuk merasa seperti berada di rumah. Selama COP School berlangsung, aku mempelajari dan mengalami banyak hal baru, mulai dari hal di luar kelas (contohnya cara mendirikan tenda, long march bersama teman – teman), hingga materi yang disampaikan di kelas. Materi pun dibawakan langsung oleh ahli dari berbagai organisasi besar. Betul betul pengalaman sekali seumur hidup.

COP School memang hanya berlangsung beberapa hari, tapi bekal yang aku bawa pulang rasanya banyak sekali. Pengalaman baru, ilmu baru, teman-teman baru, dan yang terpenting adalah ruang yang tepat bagi setiap alumninya untuk membantu pelestarian satwa, dimanapun mereka berada dan apapun profesi mereka. Contohnya aku yang berprofesi sebagai karyawan swasta, bisa membantu pelestarian satwa melalui penerjemahan beberapa tulisan untuk publikasi kegiatan COP.

Jadi siapapun kamu, selama kamu punya passion untuk pelestarian satwa, ayo segera daftar ke COP School Batch 7.

SAYA DAYAK DAN IKUT COP SCHOOL

Saya dilahirkan di kota Sintang dan menjalani masa kecil di kampung Laung, Kapuas Hulu. Saya besar di kaki bukit Merangat dan mandi di sungai Batang Seberuang. Sejauh ini saya masih hafal bau getah karet yang menempel di punggung saat kami memikulnya dari kebun dan dibawa ke desa Seneban. Saya meninggalkan kampung Laung hanya supaya saya bisa menerjemahkan cover buku Sinar Dunia 32 lembar.

Perjalanan mengantarkan saya lebih dalam dan jauh ke dunia yang bahkan saya tidak pernah bayangkan. Semua dimulai dari taik/kotoran ayam di kandang yang jumlahnya 20 karung setiap hari yang saya ambil. Namun karena joroknya taik ayam saya dipercaya untuk membersihkan kandang orangutan setiap hari, alasannya sederhana karena saya tidak jijik dengan banyak macam jenis taik. Bersama taik-taik di kandang saya mulai belajar banyak hal, mulai dari penanganan orangutan, membangun kandang, sekolah hutan orangutan, hingga politik konservasi.

2011 masih berbekalkan kemampuan menangani permasalahan taik, saya mengikuti COP School Batch 1. Saya hanya berani duduk di pinggir ruangan karena memang tidak ada yang saya pahami selain taik di kandang dan hutan tempat saya tinggal dulu. Sampai saya menyadari bahwa hutan tempat saya tinggal sedang dihancurkan. Bermodalkan pengalaman tentang taik saya bersumpah akan menyelamatkan hutan yang sudah menyelamatkan saya sewaktu kecil melalui sebuah ladang yang menjadi beras, lewat sungai yang mengantarkan saya ke SD, melalui ikan lauk yang saya sukai, dan melalui karet yang membelikan buku dan baju sekolah saya.

Saya menjelajahi Borneo untuk menceritakan kepada siapa pun, bah orang dayak kita harus menyelamatkan roh hutan kita sebelum ia hilang bersama ekskavator perusahan. Saya mengabdikan hidup saya untuk masyarakat, hutan dan isinya karena saya masih orang DAYAK. Oleh karena itu saya berharap ada lebih banyak orang dayak bisa ikut COP School. Malu kita yang bilang penyelamatan hutan Kalimantan selalu orang Jawa. (NUS)

ORANGUFRIENDS YOGYA MERAMAIKAN ACICIS YOGYAKARTA

Ada puluhan LSM dengan fokus kemasyarakatan, pendidikan, anak dan satwa yang berada di kota Yogyakarta meramaikan Non Goverment Organization (NGO) Fair di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jumat siang.

Acara ini adalah usaha Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies untuk memperkenalkan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) kepada mahasiswa baru yang sedang melakukan studi di Indonesia terutama yang berasal dari beberapa negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris dan Belanda.

Selama tiga tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection bersama Orangufriends Yogyakarta secara rutin memenuhi undangan ACICIS untuk berpartisipasi. Acara yang berlangsung selama dua jam ini memberi kesempatan seluas-luasnya pada LSM untuk memperkenalkan kinerjanya dan para mahasiswa bebas memilih akan membantu di LSM yang cocok dengan dirinya. ACICIS berharap para mahasiswa tidak hanya menjalani studinya, tetapi juga bisa berkembang dan bergabung dengan LSM yang ada.

Terimakasih Orangufriends Yogya, Kharin, Shinta, Syaidar, Bukhori, Okto dan Zainuri yang telah membantu NGO Fair ini. (DAN)

BERANI DAN BANGGA BERSAMA COP SCHOOL

Nama saya Kharina Waty, Alumni COP School Batch 6. Di tahun 2015 saat membuka Facebook, muncul poster tentang COP School Batch 5. Ya… Saat itu, saya tertarik ikut COP School, tetapi baru ikut di COP School Batch 6 tahun lalu. Waktu itu yang terlintas dibenak saya adalah orangutan terancam punah dengan habitat yang benar-benar akan hilang. Seharusnyalah saya berada di depan untuk melawan kekejaman dan kejahatan satwa liar terutama orangutan, karena saya lahir dibesarkan di Pulau Kalimantan dan sekarang sedang kuliah di Yogyakarta.

Saya terbiasa memiliki satu kenalan saat ikut suatu acara, tetapi di COP School tahun lalu saya bertemu banyak teman baru. Menjadi siswa COP School adalah keberanian dan kebanggan tersendiri buat saya. Bagaimana tidak? Mayoritas siswa-siswi berasal dari luar Yogyakarta yang tak satu orang pun saya kenal. Memulai pertemanan dengan orang-orang baru, beradu argumen dan saling dukung yang bahkan watak aslinya masih kasat mata. Dalam waktu lima hari kami semua tersadar akan pentingnya menjaga satwa liar dan habitatnya dengan segala fakta dan data yang sudah kami ketahui.

COP School selesai dan masing-masing kota membawa rencana program kerja yang akan dilaksanakan 6 bulan ke depan. Rapat koordinasi teman-teman di Yogyakarta diselenggarakan beberapa hari kemudian untuk mematangkan rencana 6 bulan ke depan bersama Orangufriends Yogyakarta lainnya. Banyak kegiatan terlaksana seperti school visit, campus visit, fundraising, pameran Art for Orangutan, wildtrip, pameran Batik for Orangutan bahkan hal-hal di luar itu ikut kami laksanakan bersama Orangufriends lainnya.

Bagi yang beruntung punya banyak waktu akan ikut dalam Penugasan Mandiri bersama Orangufriends lain. Seperti yang pernah saya lakukan yaitu berkampanye tentang Justice Animal di Pengadilan Negeri Bantul, kampanye gabungan Senapan Angin dan penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Tentu saja saat belajar di COP School saya sudah mendapatkan materi berkampanye yang baik dan melakukan penangkapan bersama dengan aman.

Saya tidak akan pernah lupa operasi penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Puji syukur, dalam tiga hari banyak hal saya pelajari termasuk kesabaran, rasa lelah, dan kebanggaan. Benar ada yang berkata, “Suatu hal yang dilakukan dengan perjuangan dan keikhlasan akan berbuah manis.”. Satu bayi lutung dan dua kukang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal. Lutung dan kukang dibersihkan dan diberi buah-buahan, lalu diamankan di Polsek Lamongan.

Perjalanan masih menunggu untuk dua jenis satwa liar tersebut dimana akan diserahkan ke pusat rehabilitasi di Malang. Teman siswa COP School Batch 6 di kota lain berkegiatan dengan caranya masing-masing dan terus terhubung. Saya disini masih berproses bersama Orangufriends. Saya masih belajar dan mencari pengalaman, memantapkan hati menjadi seorang yang peduli akan satwa liar dan habitatnya.

Pelajaran ini tidak akan didapat jika usaha untuk belajar pun nol. Mencari dan berani terjun bersama aktivis lain menjadi keharusan, karena saat itulah kamu akan menemukan pembenaran atas apa yang kamu bela. Memulainya dari “pintu” COP School adalah jalan masuk terbaik. (Kharin_Orangufriends)

COP SCHOOL BATCH 7

“Indonesia memanggil anda untuk terlibat langsung dalam perlindungan satwa liar dan habitatnya. Di COP School kita akan belajar pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi alam bersama para pakar dan praktisinya. Beasiswa tersedia bagi peserta yang lulus seleksi.”
10 – 16 Mei 2017, YOGYAKARTA, INDONESIA.
SIAPA SAJA YANG BOLEH IKUT ?
– Usia minimal 18 tahun, siap mengikuti seluruh sesi pelatihan
– Menghargai kesetaraan gender dan multikultur
– Bukan eksploitator satwa (pemburu, pedagang, dan hobi memelihara satwa liar).
– Membayar sebagian biaya pelatihan sebesar Rp 500.000,-. (makan, kaos, transportasi selama pelatihan). Tidak termasuk transportasi penjemputan.
BAGAIMANA CARA MENDAFTAR ?
– Formulir dan informasi di copschool@orangutan.id
– Pendaftaran 1 Februari s/d 10 Maret 2017.
– Pengumuman Calon Siswa yang diterima tanggal 11 Maret 2017.
– Calon Siswa yang tidak lolos seleksi, dana yang sudah ditransfer akan dikembalikan sebesar Rp 400.000,- dan terdaftar sebagai anggota Orangufriends dan mendapatkan kartu anggota dan newsletter.
#copschool7
SAVE THE ORANGUTAN FROM DELETE