ORANGUFRIENDS: ELEVEN OUTSTANDING YEARS

It’s began when I’m still wearing the White-Gray Uniform
(Indonesian High School Uniform Color is white top and gray skirt/pants- read),
Far beyond COP, fourteen years ago innocently, approaching one of three COP founder, “What can I do for Orangutans?”.

Since then, I, who can only help from behind a computer and makeshift mobile phone. From setting aside a little of the allowance, take to the streets for a campaign. Until finally I had to split up with my beloved country also COP and had to study to neighboring country. The Jakarta-Sydney line for two years did not escape an all day event with COP. An annual Charity concert Sound for Orangutan or Wild Trip. Up to monitoring friends from the other side of Mount Merapi (Mt. Merapi Eruption 2011). Until I returned to my homeland and again I asked, “ What can I do as a Graphic Designer for Orangutans?”

I was finally called to join COP School in 2016. Meeting new friends from all around the country and abroad with different backgrounds. Learn from the coolest and great mentors/people and you can not possibly get a lesson in any textbook. Although I had not had chance to go to Kalimantan, one day it will happen.

Not Stopping there, my job just started. And will continue to support COP as Orangufriends. I am not alone… I have new friends and family who care for orangutan and conservation.

I am Amadhea Widoretno Kaslan. I’m a Graphic Designer and Artist, Orangufriends from Jakarta, and COP School Batch#6 Alumni wishing Center for Orangutan Protection its 11th Annivesary and thank you for this eleven outsanding years.

Keep on.. Fighting, Protecting.. Never Stop, Never Give Up… One APE One Sound.(Dhea_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS: SEBELAS TAHUN YANG LUAR BIASA
Saya memulainya saat saya masih mengenakan seragam putih abu-abu. Jauh sebelum COP berdiri, 14 tahun yang lalu dengan lugu menghampiri salah satu dari tiga pendiri COP, “Apa sih yang bisa saya lakukan untuk orangutan?”.

Semenjak itu, saya hanya bisa bantu dari balik komputer dan handphone seadanya. Dari menyisihkan sedikit dari uang jajan, turun ke jalan untuk kampanye. Sampai akhirnya saya harus berpisah sementara dengan negara tercinta juga COP dan harus berkelana ke negeri tetangga. Jalur Jakarta-Sydney selama dua tahun tak luput dari waktu seharian bersama COP. Acara tahunanan Sound for Orangutan atau kegiatan Wild Trip. Sampai memantau teman dari sisi lain gunung Merapi. Hingga saya kembali ke tanah air dan kembali saya bertanya, “Apa sih yang bisa saya lakukan sebagai Graphic Designer untuk Orangutan?”.

Saya akhirnya terpanggil untuk ikut COP School di tahun 2016. Bertemu teman-teman baru dari penjuru tanah air dan mancanegara yang berlatar belakang berbeda-beda. Belajar dari mentor-mentor yang paling keren di bidangnya, belajar dari orang-orang hebat di lapangan dan tidak mungkin kalian dapat di buku teks pelajaran mana pun. Walaupun belum sempat ke Kalimantan, suatu saat nanti pasti terlaksana.

Tidak berhenti di sana, tugas saya baru mulai. Dan akan terus mendukung COP sebagai Orangufriends. Saya tidak sendiri… saya memiliki sahabat dan keluarga baru yang ikut peduli terhadap orangutan dan konservasi.

Saya Amadhea Widoretno Kaslan. Saya Graphic Designer dan Artist, Orangufriend Jakarta, Alumni COP School Batch 6 mengucapkan Selamat Ulang Tahun Centre for Orangutan Protection ke-11 dan terimakasih untuk 11 tahun yang luar biasa ini.

Keep on, Fighting, Protecting… Never stop, Never give up… One APE One Sound. (Dhea_Orangufriends)

THE SPIRIT OF ELEVEN COP

Today, just eleven years ago, three young Indonesians poured their concerns on the growing number of orangutans suffering from the loss habitat as their home and life. Capitalize the determination that they do is true and continue to spread it until 2018.

Hardi Baktiantoro, COP’s founder said, “Hardi, Yuyun and Hery established COP as an emergency response to stop orangutans massacre in Central Kalimantan. Over time, this native Indonesian organization grew stronger, becoming one of the most active orangutan conservation organizations in the world. All can happen because of the support of militant volunteers like you. Just one word, THANK! “.

Here are the comments of the Orangufriends who milling about in cyberspace.

“Eleven years, being an inhibitor between orangutans and extinction. Unravel the problem from its roots by strengthening the roots of its members. Go forward, ride it up and there COP Stepping. Eight Spirit! Stay crazy and spit madness! Anniversary Center for Orangutan Protection!”, said Kemal, orangufriends of Jakarta who is an alumni of COP School 7.

Saifullah, alumni of COP School Batch 1, after getting the internet signal just say, “Happy Birthday COP… Great in jungle, victorious in the city. Cheers…”. Ipul has followed Sumatran Mission, a tour on the island of Sumatra starting from school visit to accompany the zoo to make enrichment for the animals. Currently Ipul is in the rehabilitation center of orangutan COP Borneo to build the orangutan quarantine cage that will be released back to nature.

Meanwhile, Imam Arifin, one of the veterinarians who once joined the COP, said, “Happy birthday COP, where we all learn, stay victorious and understated.”.

Even Riastri did not hesitate to pray, “May more and more imprison the animal criminals.”. Including Risma who expressed his hope, “The spirit of timelessness. Stay solid!”. (LSX)

SEMANGAT SEBELAS COP!
Hari ini, tepat sebelas tahun yang lalu, tiga orang anak muda Indonesia menuangkan keprihatinnya pada semakin banyaknya orangutan menderita karena kehilangan habitat sebagai rumah dan hidupnya. Bermodal tekad yang mereka lakukan adalah benar dan terus menularkannya hingga 2018 ini.

Hardi Baktiantoro, pendiri COP menyampaikan, “Hardi, Yuyun dan Hery mendirikan COP sebagai respon darurat untuk menghentikan pembantaian orangutan di Kalimantan Tengah. Seiring waktu, organisasi asli Indonesia ini tumbuh semakin kuat, menjadi salah satu organisasi koservasi orangutan paling aktif di dunia. Semua bisa terjadi karena dukungan para relawan militan seperti anda.Hanya satu kata, TERIMAKASIH!”.

Berikut komentar para orangufriends yang berseliweran di dunia maya.

“Sebelas tahun, menjadi inhibitor antara orangutan dan kepunahan. Mengurai masalah dari akarnya dengan menguatkan akar dari anggota-anggotanya. Maju itu ke depan, naik itu ke atas dan ke sana COP Melangkah. Semangat Sebelas! Tetaplah gila dan tularkan kegilaan! Dirgahayu Centre for Orangutan Protection!”, ujar Kemal, orangufriends Jakarta yang merupakan alumni COP School 7.

Saifullah, alumni COP School Batch 1, setelah mendapatkan signal internet langsung saja mengucapkan, “ Selamat Ulang Tahun COP… Jaya di rimba, jaya di kota. Cheers…”. Ipul panggilan akrabnya telah mengikuti Sumatran Mission, suatu tour di pulau Sumatera mulai dari school visit sampai mendampingi kebun binatang membuat enrichment bagi satwanya. Saat ini Ipul berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk membangun kandang karantina orangutan yang akan dilepasliarkan kembali ke alam.

Sementara itu Imam Arifin, salah satu dokter hewan yang pernah bergabung di COP mengucapkan, “Selamat ulang tahun COP, tempat belajar kita semua, tetap jaya, tambah sangar dan bersahaja.”.

Bahkan Riastri tak segan-segan memanjatkan doa, “Semoga makin banyak memenjarakan animal criminals.”. Termasuk Risma yang mengucapkan harapannya, “Semangat tak lekang waktu. Tetap solid!”.

AMBON OUT OF CAGE COP BORNEO

Thursday, March 1st 2018 at the same time with Center for Orangutan Protection (COP) 11th anniversary, Ambon the orangutan, an adult male who he spent twenty years of live inside the cage has been transferred to the island. Physical check up to Ambon run smoothly even the cloudy and showered rain made us more aware.

The dose should be appropriate. The distance of quarantine cage to orangutan island is quite far. The path to transit cage quite difficult. When rain the path is slippery, although previously the transport team had had enough physically training with afternoon workout, but still, Ambon gained weight makes the team stagger.

Not only stopping there… Ambon has entered the transit cage.. then? Let’s carry the transit cage again plus Ambon weight… This time should be foursome, Get the spirit!!! under the dock, the ‘ Way Back Home’ boat the result of orangufriends concern awaited. This boat brought Ambon to feel his new home.

Arriving at orangutan island… let’s lift the cage again. Ambon is still sleeping, though we began to see movement toward consciousness. When all is ready to get away, the cage is slowly opened .. Ambon!! Yes, Ambon ran to the forest.. is he hiding? Observe us to be exact. We also decided to step back from him… took a long time to be able to capture this photo. Ambon steps in to the grass… in land without human!

AMBON KELUAR KANDANG COP BORNEO
Kamis, 1 Maret 2018 bertepatan dengan ulang tahun Centre for Orangutan Protection (COP) yang ke-11, orangutan Ambon, jantan dewasa yang telah puluhan tahun hidup di dalam kandang telah dipindahkan ke pulau. Pemeriksaan fisik terhadap orangutan Ambon pun berjalan lancar walaupun cuaca mendung dan gerimis membuat kami lebih waspada.

Ukuran dosis bius harus tepat. Lumayan jauh jarak kandang karantina ke pulau orangutan. Perjalanan dari kandang karantina untuk ke kandang transit cukup sulit. Jalanannya menjadi licin saat gerimis, walau sebelumnya tim pemindahan sudah cukup berlatih fisik dengan olahraga di sore hari, namun tetap saja, ketambahan berat badan Ambon bikin tim jalan sempoyongan.

Tak hanya sampai di situ saja… Ambon sudah masuk kandang transit… lalu? Yuk gotong lagi berat kandang transit plus berat badan Ambon… kali ini harus berempat. Semangat… semangat!!! Di bawah dermaga, perahu ‘Way Back Home’ hasil dari kepedulian Orangufriends sudah menanti. Perahu ini mengantarkan Ambon merasakan rumah barunya.

Sesampai di pulau orangutan… angkat kandang transit lagi. Ambon masih tidur, walau mulai terlihat gerakan-gerakan menuju kesadaran. Saat semua sudah bersiap untuk menjauh, kandang secara perlahan dibuka… Ambon!!! Ya, Ambon berlari ke hutan… bersembunyi? Mengamati kami tepatnya. Kami pun memutuskan menjauh darinya… lama sekali hingga akhirnya kani bisa mendapatkan foto ini. Ambon menginjakkan kaki di rumput… di tanah tanpa manusia!

PENARIKAN LECI DAN UNTUNG DARI PULAU ORANGUTAN

Jalan untuk pulang ke rumah di mulai. Leci dan Untung mulai dipindahkan dari pulau orangutan ke kandang karantina. Berpacu dengan waktu, saat bius mulai mempengaruhi kesadaran kedua orangutan yang sudah tak jinak lagi. Tik tok tik tok… angkat dan masukkan ke kandang lalu naikkan ke perahu… menyeberangi sungai Kelay, Berau, Kalimantan Timur.

Tak kalah gesitnya, tim medis di seberang pulau bersiap untuk mengambil sample darah untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan kesehatan. Membawa orangutan di dalam kandang yang cukup berat tentu saja menguras tenaga. “Tapi kami harus bergerak cepat, bius tak bisa bertahan lama. Membawa kedua orangutan ke kandang karantina benar-benar menguras tenaga.”, ujar Danel Jemy.

“Iya taruh di alas itu. Yuk siap mencatat ya… jumlah gigi, lingkar perut, panjang tangan, kaki, tulang belakang dan saatnya mengambil darah.”, demikian instruksi drh. Flora Felistitas. 28 Februari 2018 adalah hari kedua pemindahan orangutan dari pulau ke kandang karantina untuk pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Bantu COP Borneo untuk mengembalikan orangutan ke habitatnya lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Kita orang Indonesia bisa untuk orangutan Indonesia.

DEBBIE PUN AKAN PINDAH KE PULAU

O iya… kebahagiaan kami tak hanya untuk Ambon. Tapi juga untuk si cantik Debbie. Debbie, orangutan yang hampir tiga tahun di kandang karantina karena menunggu pulau orangutan siap dihuni, akan juga pindah ke sana.

Debbie adalah orangutan betina dewasa yang berasal dari Kebun Raya Samarinda. Perkenalan COP dengannya di awal 2010 menjadikan PR (pekerjaan rumah) tersendiri bagi kami. “Prihatin dengan kondisinya. Seperti tak ada semangatnya lagi.”, begitu kata Daniek Hendarto, manajer program Ex-Situ COP.

April 2015, Debbie akhirnya dipindahkan ke COP Borneo. Di dalam kandang karantina, Debbie menghabiskan hari-harinya. Walau ukuran kandangnya lebih kecil dibandingkan kandang sebelumnya di KRUS. “Lega, akhirnya Debbie bisa menikmati kandangnya sendiri, tanpa berbagi dengan Ambon.”, ujar Daniek lagi.

Penantiannya akhirnya berbuah manis. Walaupun dia harus menjadi lebih waspada dengan orangutan Ambon. Tepat di tahun ke-11 Centre for Orangutan Protection mengabdi pada orangutan, Debbie keluar dari kandangnya. “Rumput pertama yang diinjaknya dalam 20 tahun ini adalah masa-masa yang paling mengharukan bagi kami. Setiap kali melihatnya berada di kandang karantina membuat kami sedih karena ruang geraknya menjadi sangat terbatas. Tapi kini… ini adalah masa paling indah bagi kami.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter orangutan di COP Borneo.

Bagaimana Debbie menjalani hari-hari nya di pulau orangutan? Bantu kami terus memonitornya ya. Kamu bisa ikut membantu proses ini lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan
(Foto adalah saat Debbie berada di KRUS 2010)

TOP PREDATOR KEMBALI KE HABITATNYA

Pelepasliaran Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) bernama Wira yang sudah direhabilitasi selama empat tahun oleh Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY) di Wildlife Rescue Centre (WRC) telah dilakukan pada hari Minggu, 25 Februari 2018 di Stasiun Flora dan Fauna Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Elang merupakan satwa pemangsa, persiapan utama saat rehabilitasi adalah bagaimana elang bisa berburu sendiri. Proses habituasi pun dilakukan agar elang dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Tak lupa proses penandaan sayap dengan wingmarker berwarna kuning dan pemasangan satelit tracking untuk pemantauan paska pelepasliaran.

Tauhid dari Fakutas Kedokteran Hewan UGM menyampaikan satelite tracking dapat memberikan data ketinggian jelajah, wilayah jelajah, kecepatan terbang dan suhu lingkungan. Penggunaan baterai tenaga surya pada satelit dapat bertahan dua sampai tiga tahun selama sinar matahari cukup.

Direktur Jenderal (Dirjen) Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bapak Wiratno secara langsung melepasliarkan Elang Brontok tersebut. Beliau mengatakan bahwa Elang berhak hidup di ekosistemnya. Terimakasih juga atas kerja bersama para LSM, pecinta satwa dengan pemerintah, karena pemerintah tidak mampu bekerja sendirian dan ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Ini adalah kali kedua tim gabungan pelepasliaran elang Yogyakarta setelah pelepasliaran Elang Bido dan Alap-Alap Sapi di kawasan Jatimulyo, Kulon Progo pada 25 januari lalu. BKSDA DIY, FKH-UGM, RAIN, PPBJ, COP, YKEI, WRC_YKAY, Yayasan Kutilang dan komunitas konservasi lainnya bahu membahu melakukan pemeriksaan medis elang, survei habitat, pembuatan kandang habituasi hingga pemantauan paska lepasliar.

Elang Brontok adalah salah satu jenis elang yang dilindungi UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Tetapi bukan berarti Elang Brontok ini menjadi aman walau dengan status least concern. Semakin menyempitnya habitat dengan tingkat perburuan dan perdagangan liar yang tinggi, ditambah dengan kemampuan bertelurnya yang hanya satu butir dalam satu musim berbiak, Elang Brontok membutuhkan perhatian kita semua agar tidak terjadi kepunahan. (PETz)

PEMINDAHAN NOVI DAN UNYIL KE KANDANG KARANTINA

Masih ingat orangutan Novi? Orangutan dengan leher terikat rantai yang berada di bawah kolong rumah dan berteman seekor anjing. Tahun ini pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo akan melepasliarkan orangutan-orangutan penghuni pulau orangutannya dan Novi adalah salah satu kandidat terbaiknya. “Sungguh luar biasa perkembangan Novi selama di pulau. Itu sebabnya kami akan mengevaluasi kesehatannya untuk selanjutnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya.”, ujar Reza Kurniawan, primatologist COP.

Secara bersamaan, tim APE Defender juga memindahkan orangutan Unyil. Unyil adalah orangutan yang dipelihara di dalam kamar mandi. “Unyil lebih unik lagi. Perkembangan pesat yang berhasil ditunjukkannya memaksa kami harus memindahkannya ke pulau orangutan, padahal saat dia pertama kali datang ke COP Borneo dengan rambutnya yang direbonding, sempat membuat kami pesimis. Apalagi pola makannya yang selama pemeliharaan ilegal itu, sama persis dengan makanan manusia. Untuk makan saja, Unyil didulangi seperti anak kecil sama pemeliharanya. Awalnya saya pikir ini akan jadi PR besar. Seperti saat Unyil memakan telur dengan cangkangnya, dia juga tak bisa mengupas buah-buahan berkulit yang kulitnya tak bisa dimakan.”, kenang Reza Kurniawan tentang Unyil.

Novi dan Unyil pada 27 Februari 2018 dipindahkan dari pulau orangutan ke kandang karantina. Kedua orangutan ini menjalani tes kesehatan dan pengukuran data fisik lengkap. “Ini adalah kerja besar yang selama seminggu ini. Ada dua orangutan lainnya yang akan ditarik dari pulau juga untuk menjalani pemeriksaan akhir sebelum dilepasliarkan ke habitatnya.”, demikian penjelasan Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP dengan bersemangat.

Bantu COP Borneo lewat Bahwa orang Indonesia peduli pada satwa liar endemiknya terutama orangutan.

THREE RESCUED BINTURONGS

Malang (East Java), three protected wild species with vulnerable status, shaped like a big civet, called Binturong (Arctictis binturong) was rescued for being kept illegally in a co-working space in Kenanga Indah, Malang. Ironically, this co-working space has a green concept, however they kept a protected wildlife within their premise. The Binturong was obtained from illegal trader; it was worth 1 million Rupiah. Based on the owner’s story, the binturongs lived with them for 15 years, and they did not know that binturongs are protected species. However, they stated the have the license to keep them.

Orangufriends Malang promptly reported the issue to Animals Indonesia and Centre for Orangutan Protection, after that the report was then followed up by BKSDA Malang and on February 23rd they recued the three binturongs and evacuated them to Conservation of Natural Resources Chamber of East Java (BKSDA).

Not only binturongs, but two civets (luwak) were also rescued, they were kept to produce luwak coffee. There were also rumors flying about the binturongs were also exploited to produce ‘luwak’ coffee as well, as it was believed that binturong can pick better coffee than luwaks. It was believed that the luwak coffee from binturong has a distinguished taste.

Behind the unique taste for coffee lovers, there are tragic stories for the animals. Animals are supposed to live in the wild to protect the ecosystem, now they have been moved to small cages and fed only coffees every day to produce luwak coffee.

It was found that 75% of communicable disease are zoonosis (can be contagious from human to animal vice versa), and there are a lot of animals acting as natural reservoir of diseases such as anthrax, avian flu, hepatitis, rabies, ebola, toxoplasmosis, and other diseases still unknown since they are rapidly changed like virus.

Viverridae like binturong is potential to carry rabies, HPAI H5N1, SARS, leptospirosis, salmonellosis, leishmaniosis and toxoplasmosis. Not only for health reasons, animals wellbeing and freedom are also need to be a concern. Wild animals are often kept inside small cages. Binturong, for example, have 6.9 km square roaming area. So forcing them to live inside small cages is abuse, no matter how much care they put into them and how expensive the food is.

The other concern is abnormality and lack of wellbeing; inside small cage animal would feel stressful, and the sign of their stress can be seen from walking in circle and biting the cage. This issue still happening around us.

Protected wildlife like binturong, forest cat, lutung, Javan hawk, cockatoo, are still available on online media and animal market. People awareness to not keep or buy protected animal are apparently still low. Prestige and life style turned keeping wildlife into a sign of wealth that needs to be flaunted, despite the fact that wild animals are not easy to take care of and could potentially spread disease.

Moreover, keeping wild animals on a co-working space or café that will increase human contact. It is very dangerous to keep wild animals! We need to raise people awareness and educate them on this issue. Hopefully, those three binturongs can get a second chance on the wild.

We need to stop keeping wild animal as pet! Let them freely roam the nature, and it will be more beautiful to see when they run around in nature. (Zahra_Orangufriends Malang)

TIGA BINTURONG YANG TERSELAMATKAN
Malang, tiga satwa liar yang dilindung Undang-Undang dan berstatus rentan jenis mammalia seperti musang dan bertubuh besar, Binturing (Arctictis binturong) berhasil diselamatkan dari pemeliharaan ilegal di salah satu Co-Working Space di jalan Kenanga Indah, Malang. Ironisnya sebuah tempat yang bernuansa di tengah kebun asri nan hijau dan dengan konsep arsitektur alam terdapat satwa liar yang dilindungi. Anakan Binturong yang diperoleh dari pedagang ilegal ini awalnya didapatkan dengan harga kisaran 1 juta rupiah. Menurut cerita pemilik, binturong sudah dipelihara hampir lima belas tahun lamanya dan tidak mengetahui satwa tersebut dilindungi Undang-Undang, namun mengaku memiliki surat-surat kepemilikan Binturong.

Orangufriends Malang yang mendapatkan informasi kepemilikan ilegal tersebut memberitahukan kepada Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection, lalu laporan tersebut dilanjutkan ke BKSDA Resort Malang. Pada Jumat, 23 Februari 2018 laporan ditindak lanjuti dengan mengevakuasi tiga Binturong tersebut untuk diamankan di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Surabaya.

Tidak hanya Binturong, tapi ada juga dua ekor musang atau luwak yang dimanfaatkan untuk menghasilkan biji kopi yang dimakannya. Dengan adanya tiga Binturong beredar isu bahwa Binturong dimanfaatkan juga untuk jadi pemakan kopi seperti kopi luwak karena Binturong dipercaya dapat memilih biji kopi yang sangat berkualitas untuk menjadi makanannya dibandingkan musang luwak.

Biasanya seduhan kopi yang diambil dari sisa kotoran musang luwak, dengan hasil kotoran yang didapatkan dari Binturong diyakini memiliki cita rasa yang berbeda setelah dimakan melewati saluran pencernaannya menjadi biji kopi. Di balik rasanya yang nikmat dan memiliki kemasyuran bagi pecinta kopi ada kisah tragis yang dirasakan oleh satwa-satwa tersebut. Satwa yang semestinya berada di alam liar dan membantu menjaga ekosistem, kini kian hilang dan berpindah pada kandang-kandang sempit dan kecil yang hanya diberi makan biji kopi setiap harinya untuk diambil kotorannya.

Diketahui 75% penyakit menular pada manusia bersifat zoonosis (dapat ditelurkan dari hewan ke manusia dan manusia ke hewan), sehingga banyak juga satwa liar menjadi reservoir (pembawa penyakit) dari alam yang dapat juga ditularkan ke manusia seperti anthraks, flu burung, hepatitis, rabies, wabah virus ebola yang ditelurkan ke manusia, toxoplasmosis dan juga penyakit-penyakit baru yang belum diketahui karena mudahnya penyakit berubah seperti virus.

Famili viverridae seperti Binturong, potensial membawa penyakit seperti virus rabies, HPAI H5N1, virus SARS, leptospirosis, salmonellosis, leishmaniasis dan toxoplasmosis. Selain masalah penyakit, kebebasan satwa juga harus diperhatikan. Satwa liar yang dipelihara terpaksa tinggal di andang sempit. Seperti Binturong saja memiliki daerah jelajah hingga 6,9 km2. Jadi mengekang dalam kandang sempit juga bentuk penyiksaan terhadap satwa mau sebagus apapun perawatan dan pemberian pakannya.

Tak hanya itu, berperilaku tidak normal dan hilangnya kesejahteraan hewan terhadap lingkungannya pun menjadi permasalahan utamanya. Berada pada kandang kecil hanya dapat membuatnya stes dengan bergerak mondar-mandir, berputar-putar dan menggigit kerangkeng kandang.

Kejadian seperti ini sangat masif dan masih banyak terjadi di sekitar kita. Satwa liar yang dilindungi Undang-Undang seperti Binturong, kucing hutan, lutung jawa, elang hingga burung kakak tua masih dapat diperoleh dari penjualan di media online dan pasar burung atau hewan. Kesadaran masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar rupanya masih jauh. Gengsi dan gaya hidup menjadikan satwa liar sebagai materi yang harus dimiliki dan dipameri.

Padahal satwa liar bukanlah peliharaan yang mudah diurus dan merugikan sendiri jika tertular penyakit dari satwa tersebut. Apalagi dengan membuat co-working space atau cafe yang memperbanyak kontak manusia untuk tertular. Maka jelaslah bahaya kesehatan untuk memelihara satwa liar! Masyarakat harus paham akan hal ini. Semoga ketiga binturong yang sudah dewasa ini dapat memperoleh kesempatan kedua untuk menikati alam liarnya.

Stop pelihara satwa liar! Biarkan bebas di alam dan lebih indah menyayangi dengan melihat mereka berlari bebas di hutan. (Nathanya_Orangufriends Malang)

MARI BATALKAN LOMBA BERBURU HAMA

Baru juga panitia Lomba Berburu Hama Burung Emprit mendapatkan pembinaan dari Balai KSDAE Jawa Tengah dan memutuskan untuk membatalkan lomba tersebut, muncul lagi poster baru untuk Lomba Berburu Hama atau HUNBAR alias Hunting Bareng. Kali ini Rang_Rang Community yang mengadakannya. Dengan iming-iming hadiah satu unit senapan angin.

Sekali lagi kami sampaikan, “Berdasarkan Peraturan KAPOLRI No. 8 Tahun 2012, Senapan Angin hanya untuk latihan menembak sasaran di arena. Dengan demikian penggunaanya untuk berburu jelas salah!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP. “Menurut Peraturan Kepala Kepolisian RI, kepemilikan senapan angin harus mendapatkan izin dari Kepolisian. Jadi saat lomba siap-siap ditangkap ya!”, tambah Hery lagi.

Keprihatinan lomba berburu “hama” semakin bertambah saat anak-anak SD mulai membicarakan tentang rantai makanan yang mereka pelajari pada mata pelajaran IPA. Para orangtua semakin kesulitan menjawab bagaimana predator tingkat tinggi akan mendapatkan makanannya. Lalu konflik antara manusia dengan predator tingkat tinggi akan semakin sering terjadi.

Centre for Orangutan Protection memanggil seluruh Orangufriends dimana pun kamu berada. Suarakan kepedulianmu dengan menghubungi Laras Sport 082313914759 , Abilawa 082134997798 dan Falls Djarot 085781555146, mereka adalah panitia lomba tersebut. Dan jangan lupa SMS ke Call Center Balai Konservasi Sumber Daya Alam 082299351705. Bersama kita bisa lakukan yang terbaik untuk alam ini.

KITA DI COP SCHOOL BATCH 7

Awalnya kita tak saling kenal. Tahapan seleksi yang membuat kita jadi mulai mengenal satu sama lain. Walaupun sebagian dari kita selalu berkomunikasi di dunia maya… namun saat berkumpul di Yogyakarta tetap saja terasa asing. Latar belakang, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin bahkan usia kita tak ada yang sama. Semua perbedaan itu justri melebur menjadi satu keluarga besar dan semakin besar.

Seolah tak ingin sekalipun melewatkan setiap kegiatan menjadi siswa COP School Batch 7 yang ‘bersejarah’ itu, maka tiap detik kebersamaan dan kebahagiaan kita jalani saat di Camp APE Warrior selalu diabadikan dengan ber ‘selfie’ ria, istilah zaman NOW nya. Meski tiap hari kita dicekoki dengan materi-materi seputar dunia konservasi yang bikin ekspresi kita dalam hitungan detik bisa berubah-ubah. Dari awalnya pengen nangis, tiba-tiba berubah jadi bengong, tak lama setelah itu berubah menjadi terpana. Kadang muncul juga ekspresi bengis bercampur kebencian. Pokoknya campur aduklah, seperti es tebak yang ketika sedang “Long March” paling kita idam-idamkan kehadirannya. Atau seperti ketoprak, yang suka hadir berseliweran di khayalan kita bila malam makin larut dan perut lapar, tapi kita masih saja bandel ngerumpi di camp tetangga. Kita sungguh menikmati itu semua dan sungguh bahagia!

Pada akhirnya, kita memang kembali ke ruitnitas masing-masing setelah 1 minggu bersama. Meski awalnya sulit untuk mengendalikan kerinduan yang tentu saja menguap paska kebersamaan itu. Tugas usai COP School di Yogya dilanjutkan dengan berkarya sesuai kemampuan masing-masing. Dan kesempatan untuk saling bertemu kembali di Jambore Orangufriends sekaligus wisuda bagi siswa COP School. Semangat COP pun kembali bersama Orangufriends. (Novi_Orangufriends)