DEBBIE IS MISSING FROM THE ISLAND

March 1st is a very historic day for Center for Orangutan Protection. The day that COP stands to address the orangutans and habitat problems by documenting the conditions in the field where orangutans lose their habitat. In the year 2018 is also the history of zoo orangutans who have dozens and even tens of years will learn to live without the iron bars that restrict movement. The lucky orangutan is Ambon and Debbie.

Debbie, a 20-year-old female orangutan, after waiting in the quarantine cage for 2 years and 9 months at the orangutan rehabilitation center COP Borneo, Berau, East Kalimantan, finally enjoys his freedom. One … the first two weeks, Debbie still struggling downstairs. Make a nest / hideout from the leaves it finds underneath. Calling Debbie to the feeding platform while feeding also keeps track of her progress. Debbie climbed the first tree. He survives at a height of 15 meters. The next day, March 25, 2018, Debbie is still in the same tree, just above the feeding platform and dear, it was the last encounter with Debbie when the team finished feeding in the afternoon.

Debbie’s search was immediately made. When feeding morning at 09.00 WITA (26/3/2018) Debbie is not seen. The team toured the island until it got darker. The next day the team searched Debbie by sweeping the orangutan island, and checked out the usual place Debbie had visited. Unfortunately the search still has not produced results.

The addition of personnel to search Debbie was done, sweeping the island repeated, down river began to be done up to Nyapak village and Long Lanuk village. The village is about 4 hours down of the river with ketinting / boat from the orangutan island where Debbie lives. A whole week, Debbie is in searched and the team loses Debbie.

Not desperate, the team still continue to check the details on every corner of the island and the riverside. But there is no sign of its existence. Debbie is missing without a trace. (LSX)

DEBBIE HILANG DARI PULAU
1 Maret adalah hari yang sangat bersejarah untuk Centre for Orangutan Protection. Hari dimana COP berdiri untuk menjawab permasalahan orangutan dan habitatnya dengan mendokumentasi kondisi di lapangan dimana orangutan kehilangan habitatnya. Di tahun 2018 ini pula sejarah orangutan kebun binatang yang telah belasan bahkan puluhan tahun akan belajar hidup tanpa jeruji besi yang membatasi gerakannya. Orangutan yang beruntung itu adalah Ambon dan Debbie.

Debbie, orangutan betina yang berusia 20 tahun, setelah menanti di kandang karantina selama 2 tahun 9 bulan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur, akhirnya bisa menikmati kebebasannya. Satu… dua minggu pertama, Debbie masih berkutat di bawah. Membuat sarang/tempat persembunyian dari daun-daun yang ditemukannya di bawah. Memanggil Debbie ke feeding platform saat memberi makan juga untuk terus memantau perkembangannya. Debbie pun memanjat pohon pertamanya. Dia bertahan di ketinggian 15 meter. Keesokan harinya, 25 Maret 2018, Debbie masih berada di pohon yang sama, tepat di atas feeding platform dan sayang, itu adalah perjumpaan terakhir dengan Debbie saat tim selesai melakukan feeding di sore hari.

Pencarian Debbie pun langsung dilakukan. Saat feeding pagi pukul 09.00 WITA (26/3/2018) Debbie tidak terlihat. Tim berkeliling pulau hingga hari semakin gelap. Keesokan harinya tim mencari Debbie dengan menyisir pulau orangutan, dan mengecek tempat yang biasa Debbie kunjungi. Sayang pencarian masih belum membuahkan hasil.

Penambahan personil untuk pencarian Debbie pun dilakukan, penyisiran pulau diulang, penyusuran sungai mulai dilakukan hingga kampung Nyapak dan kampung Long Lanuk. Kampung tersebut sekitar 4 jam menyurusuri sungai dengan ketinting/perahu dari pulau orangutan tempat Debbie tinggal. Seminggu penuh, Debbie dalam pencarian dan tim kehilangan Debbie.

Tak kenal putus asa, tim pun masih terus melakukan pengecekkan detil di setiap sudut pulau dan pinggiran sungai. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya. Debbie hilang tanpa bekas.

RAJU, ORANGUTAN WHO WAS SAVED FROM EAST KUTAI

Since 2014, Raju forced to lived in this cage. Like any other small orangutan stories who lived with humans, Raju was found in a palm plantation, East Kutai district, East Borneo. According to Mr. Ibrahim, Raju’s mother was being bitten by other orangutan and Raju was left behind in his palm plantation.

If Raju is currently 4 years old, that means Raju had just been born when he was separated from his mother. Orangutan babies are very dependent upon their mother. They will live with their mother until the age of 6 to 8 years. With their mom, they will learn how to live in nature. How to recognize the food, build a nest, and survive from the predators. And now? His long road back home has just begun.

Raju, the young orangutan will start living his life in COP Borneo rehabilitation center. On April 4, 2018, COP’s rapid response team called APE Crusader, saved him as they passed by a suspected palm plantation related to the case of a man get attacked and bitten by orangutan. Not only Raju, APE Crusader found out that there’s another 2 orangutans more who was kept by East Kutai resident. “I don’t know what happened here in 2014. So that Raju and friends are being kept by human.” said Paulinus Kristianto.

Large-scale land clearing for palm oil plantation in the last two decades have made the orangutans lose their home. COP prediction in 2008 that orangutans outside conservation areas will be extinct is in sight. Saving orangutans and forest has been done by COP since 2007. Sustainable palm oil certification do not save the orangutan either. The certificate only makes a ‘good image’ of palm oil industry. While in the field, orangutans are become homeless in their home.

RAJU, ORANGUTAN YANG DISELAMATKAN DARI KUTAI TIMUR
Sejak tahun 2014, Raju terpaksa hidup di kandang ini. Seperti cerita orangutan kecil lainnya yang hidup dengan manusia, Raju ditemukan di kebun sawit, kecamatan Kutai Timur, Kalimantan Timur. Menurut pak Ibrahim, induk Raju digigit orangutan lainnya dan Raju tertinggal di kebun sawit miliknya.

Jika saat ini Raju berusia 4 tahun, itu berarti Raju baru saja lahir saat terpisah dengan induknya. Bayi orangutan adalah bayi yang sangat tergantung dengan induknya. Anak orangutan akan hidup bersama induknya hingga usianya 6-8 tahun. Bersama induknya, dia akan belajar hidup di alam. Mengenali makanannya, membuat sarang dan bertahan hidup dari para predator. Dan sekarang? jalan panjang Raju untuk kembali akan dimulai.

Raju, anak orangutan ini akan memulai hidupnya di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. 4 April 2018 yang lalu, tim gerak cepat COP yang bernama APE Crusader menyelamatkannya saat menelusuri perkebunan kelapa sawit yang diduga terkait dengan kasus orangutan menyerang manusia hingga menyebabkan korban tergigit. Tak hanya Raju, ternyata APE Crusader pun menemukan 2 orangutan lainnya yang dipelihara warga Kutai Timur. “Entah apa yang terjadi di tahun 2014 di daerah sini. Raju dan lainnya harus hidup dalam peliharaan manusia.”, ujar Paulinus Kristanto.

Pembukaan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran dalam 2 dekade telah membuat orangutan kehilangan habitatnya. Prediksi COP di tahun 2008 bahwa orangutan yang berada di luar kawasan konservasi akan punah sudah di depan mata. Menyelamatkan orangutan dan hutan sudah sejak tahun 2007 COP lakukan. Sertifikat minyak kelapa sawit yang berkesinambungan tak juga menyelamatkan orangutan. Sertifikat hanya membuat ‘citra baik’ industri kelapa sawit. Sementara di lapangan, orangutan menjadi gelandangan di rumahnya.

LECI WILL ALSO RELEASED

Leci is the lively…certainly hard to get caught on camera. His tiny body also easily hides behind trees. Lucky to be photographing it on a tree and staring at the camera. It is the happiness of a photographer who awaits his object.

This year, the COP Borneo Orangutan Rehabilitation Center will release the orangutans from pre-release island. One of the candidates is Leci. Although his age is fairly young, but so far Leci able to compete with other male orangutans. More exactly hanging out with other orangutans.

Leci is a wild male orangutan when the APE Defender team rescues him. A farmer found him in the middle of the orchard in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. April 2, 2016, exactly two years ago Leci entered COP Borneo. Shortly thereafter, Leci was transferred to pre-release island to keep her ability to remain wild.

“Until now Leci will stay away from humans. When the patrol team sounded approaching, Leci immediately climbed the tree.”, said Ibnu Azhari who oversees the island everyday. “It would be nice if Leci could finally be released back into her habitat. He will definitely explore the various trees and try the food available in the forest.”. (L)

LECI JUGA AKAN DILEPASLIARKAN
Leci si lincah… tentu sulit sekali tertangkap kamera. Tubuh mungilnya juga dengan mudah bersembunyi di balik pohon. Beruntung sekali bisa memotretnya sedang di atas pohon dan menatap kamera. Itu adalah kebahagiaan seorang fotografer yang menantikan objeknya.

Tahun ini, Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo akan melepasliarkan orangutan-orangutan penghuni pulau pra-rilis. Salah satu kandidatnya adalah Leci. Walau usianya yang terbilang muda, selama ini Leci sanggup bersaing dengan orangutan jantan lainnya. Lebih tepatnya bergaul dengan orangutan lainnya.

Leci adalah orangutan jantan yang cukup liar saat tim APE Defender menyelamatkannya. Seorang petani menemukannya di tengah kebun buah di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur. 2 April 2016, tepat dua tahun yang lalu Leci masuk COP Borneo. Tak lama kemudian, Leci dipindahkan ke pulau pra-rilis untuk menjaga kemampuannya untuk tetap liar.

“Hingga kini Leci tetap akan menjauh dari manusia. Saat tim patroli terdengar mendekat, Leci segera menaiki pohon.”, ujar Ibnu Azhari yang bertugas mengawasi pulau sehari-hari. “Senang sekali jika Leci akhirnya bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Dia pasti akan menjelajahi berbagai macam pohon dan mencoba makanan yang tersedia di hutan.”.

3 YEARS OF COP BORNEO

This is the only orangutans rehabilitation center founded by the sons and daughters of Indonesia. Began with the concerns for orangutans have no future in human hands, this rehabilitation center built step by step. In September 2014, armed with courages and firmness, also supports from orangufriends, Centre for Orangutan Protection built its quarantine cage. A rugged camp was being a place to rest. The construction progress was running slowly because of its site conditions. The road to the construction site could only be taken by walking. It’s not all plain path, but steep yet slippery derivatives and steep climbs are its own struggle. “Without burden of bulding materials, irons, cements, woods, stones… it’s quite hard to walk through this road, moreover to carry all the building materials!”, Ramadhani recalled.

The first cage finished, followed by the second cage which is a socialization cage for small orangutans. The construction cost was higher because the price of building materials in Berau region’s different from other cities. Luckily, the development continued to run until the construction of kitchen and permanen camp. “The eyes of orangutans staring at us was our own strength.”.

April 1st, 2015, Orangutans transfer began. Twelve orangutans from Unmul Botanical Garden, Samarinda, entered orangutan rehabilitation center COP Borneo. Hadn’t finished organized yet, there was another 3 orangutans entered the rehab center which was consfiscated from the community and deposited to COP Borneo by BKSDA Kaltim. At the end of 2015, eight orangutans from KRUS migrated to orangutan pre-release island. It was continued the following year with the entry of orangutan babies to the class of forest school. By the end of 2016, COP Borneo released orangutan Lana, a wild orangutan just arrested by the people.

The COP Borneo orangutan rehabilitation center continues to grow. The construction of feed warehouse was an attempt at frequent forest animals taking orangutan foods in the storage areas. Orangutan clinic became indispensable. The nearest cage to the clinic was built for orangutan babies. 2017 was a stressful year. Preparation to the release of orangutan which was living in a zoo would be the first in Indonesia. Some candidates and stages before release entered the quarantine period. Unfortunately, the results of medical checkup forced Nigel to remained in the quarantine cage and underwent treatment because of herpes. While Oki, successfully released in mid-September 2017. “It’s such an achievement for COP Borneo, this is the first orangutan from the zoo that was successfuly released. Escape from iron bars into the real freedom.” said Reza Kurniawan, COP Borneo’s Manager.

2018 becomes a year full of surprises. Right on COP’s 11th birthday, Ambon and Debbie orangutans who have lived behind iron bars for decades, live in the sanctuary island. “Ambon was very surprising, in just 3 hours he decided to climb a tree. While Debbie, decided to make a nest under.” said Reza Kurniawan who is also COP’s primate anthropologist.

This year, COP Borneo is 3 years old. Still to young but dreaming of continuing to return orangutans back to their habitat. Orangutan Untung who has finger defects, Novi who was rescued from under the house, chained by her neck and befiriended the dog, Unyil who was rescued from the toilet, small yet lively Leci, and Nigel the stressful orangutan who eats his own feces, will be back to their habitat soon. Currently, they’re undergoing quarantine and final medical evaluation. The release of five orangutans requires a lot of money. Let’s help these five orangutans to return to their habitat, so they can perform their function to preserve the forest. Indonesian people, surely you can!

Thank you With Compassion & Soul​ Orangutan Outreach​ The Orangutan Project ORANGUTAN APPEAL UK​ and Orangufriends in the world for supporting COP Borneo. (SAR)

CATATAN 3 TAHUN COP BORNEO
Ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Berawal dari keprihatinan pada orangutan tanpa masa depan di tangan manusia, pusat rehabilitasi ini dibangun setahap demi setahap. September 2014, bermodal keberanian dan keteguhan Centre for Orangutan Protection dengan dukungan para orangufriends nya, membangun kandang karantina. Camp ala kadarnya menjadi tempat istirahat. Kondisi lapangan membuat pembangunan berjalan lambat. Jalanan menuju lokasi pembangunan hanya bisa dilalui dengan berjalan. Tidak hanya secara mendatar, tapi turunan yang terjal nan licin dan tanjakan curam merupakan perjuangan tersendiri. “Tanpa beban berupa bahan bangunan, besi, semen, kayu, batu… sudah cukup sulit melalui jalan ini, apalagi dengan bahan bangunan itu!”, kenang Ramadhani.

Kandang pertama selesai, dilanjutkan kandang kedua yang merupakan kandang sosialisasi untuk orangutan-orangutan kecil. Biaya pembangunan pun menjadi lebih besar karena harga bahan bagunan di kota Berau berbeda dengan kota lain. Beruntung sekali pembangunan terus berjalan hingga pembuatan dapur serta camp permanen. “Mata-mata orangutan yang menatap kami adalah kekuatan tersendiri.”.

1 April 2015, Pemindahan orangutan pun dimulai. Kedua belas orangutan dari Kebun Raya Unmul Samarinda masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Belum selesai tertata, sudah masuk lagi 3 orangutan hasil sitaan dari masyarakat yang dititipkan BKSDA Kaltim ke COP Borneo. Akhir 2015, kedelapan orangutan dari KRUS berpindah ke pulau pra-rilis orangutan. Dilanjutkan tahun berikutnya dengan masuknya bayi-bayi orangutan ke kelas sekolah hutan. Diakhir tahun 2016, COP Borneo melepasliarkan kembali orangutan Lana, orangutan liar yang baru saja ditangkap warga.

Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo terus berkembang. Pembangunan gudang pakan menjadi usaha atas seringnya satwa hutan mengambil makanan orangutan di tempat penyimpanan. Klinik orangutan menjadi sangat diperlukan. Kandang terdekat dengan klinik pun dibangun untuk bayi orangutan. Tahun 2017 menjadi tahun yang menegangkan. Persiapan untuk melepasliarkan kembali orangutan bekas kebun binatang akan menjadi yang pertama di Indonesia. Beberapa kandidat dan tahapan sebelum dirilis memasuki masa karantina. Sayang, hasil cek medis memaksa Nigel untuk tetap di kandang karantina dan menjalani pengobatan karena herpes. Sementara Oki, berhasil dilepasliarkan pada pertengahan September 2017. “Sungguh prestasi tersendiri untuk COP Borneo, ini adalah orangutan pertama dari kebun binatang yang berhasil dilepasliarkan kembali. Lepas dari kandang jeruji besi menuju kebebasan yang sesungguhnya.”, ujar Reza Kurniawan, Manajer COP Borneo.

2018 menjadi tahun penuh kejutan. Tepat di hari ulang tahun COP yang ke-11, orangutan Ambon dan Debbie yang sudah puluhan tahun hidup dibalik jeruji besi hidup dalam pulau sanctuary. “Ambon sangat mengejutkan, hanya dalam 3 jam, dia memutuskan untuk memanjat pohon. Sementara Debbie, memutuskan membuat sarang di bawah.”, ujar Reza Kurniawan yang juga merupakan antropolog primata COP.

Tahun ini, COP Borneo berusia 3 tahun. Masih terlalu muda namun bermimpi untuk terus mengembalikan orangutan kembali ke habitatnya. Orangutan Untung yang cacat jarinya, Novi yang diselamatkan dari bawah kolong rumah dengan rantai yang selalu menghiasi lehernya dan berteman anjing, Unyil yang diselamatkan dari toilet, Leci si kecil nan lincah, dan Nigel si orangutan stres yang memakan kotorannya sendiri akan segera kembali ke habitatnya. Saat ini mereka sedang menjalani karantina dan evaluasi medis akhir. Pelepasliaran lima orangutan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Yuk bantu kelima orangutan ini untuk kembali ke habitatnya, agar bisa segera menjalankan fungsinya di hutan, menjaga kelestarian hutan. Bantu COP Borneo lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Orang Indonesia, pasti bisa!

Terimakasih With Compassion & Soul​ Orangutan Outreach​ The Orangutan Project ORANGUTAN APPEAL UK​ dan seluruh #orangufriends yang berada di seluruh dunia atas kepercayaan dan dukungannya pada COP Borneo.

DEBBIE DO NOT APPEARS FOR TWO DAYS

The Kelay river where we have orangutan island is the habitat of crocodile. We spot them several time around the island whenever they are sunbathing. They are out neighbour with all risks. Here we would like to confirm that Debbie, one of the resident in our island, do not appears for 2 days. We tried our best to find her. Apparently, she has been eaten by crocodiles as she share the same favorite spot with the crocodiles.

PEDAGANG ELANG DITANGKAP DI BANDUNG

Bandung – Tim gabungan Tipidter Polda Jawa Barat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) mengamankan RA  warga Cijerah Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat terkait jual beli satwa liar dilindungi pada tanggal 28 Maret 2018. Tersangka ditangkap di rumahnya dengan barang bukti 5 ekor elang yang hendak diperjualbelikan secara online. 

“Tersangka RA sudah terpantau sejak 1,5 tahun melakukan jual beli satwa liar dilindungi di sosial media Facebook. RA merupakan spesialis penjual burung elang dan alap-alap. Saat ditangkap, tim gabungan menemukan barang bukti 5 ekor elang di rumahnya tanpa ada perlawanan.”, Hery Susanto Manager Anti Wildlife Crime COP

Dalam upaya operasi ini tidak mudah karena RA selalu menyembunyikan identitas asli dan tidak pernah mau melakukan pertemuan secara langsung dengan para calon pembeli. Pedagang ini cukup aktif melakukan posting dagangan di sosial media untuk jenis satwa kategori dilindungi. Tersangka mendapat pasokan barang dari pulau Jawa dan Sumatera terutama untuk jenis elang yang memiliki habitat di laut. Ini adalah elang ke 51 yang kami evakuasi dari perdagangan ilegal satwa liar selama 5 tahun terakhir. Banyaknya pemelihara dan penghobi elang menyebabkan penangkapan terus terjadi dan perdagangan tetap ada. Elang dan alap-alap adalah burung pemangsa tertinggi dalam rantai makanan dan semua keberadaannya dilindungi di Indonesia. 

“Selama kurun waktu 5 tahun terakhir COP membantu Polri dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), setidaknya sudah mengamankan 51 elang dari perdagangan ilegal satwa liar.  Dari pengakuan para tersangka, mereka memperjualbelikan satwa tersebut karena masih adanya permintaan dan banyaknya kelompok penghobi elang yang menyebabkan perburuan dan perdagangan terus ada dan terjadi.”, Hery Susanto Manager Anti Wildlife Crime COP.

Kami mengapresiasi Tipidter Polda Jawa Barat dan BKSDA Bandung yang secara tegas melakukan upaya penegakan hukum kasus ini. Dan kita menunggu babak baru terkait vonis hukuman pengadilan bagi tersangka bisa lebih maksimal. Barang bukti elang saat ini masih diamankan di BKSDA Jawa Barat dan akan segera dikirim menuju ke Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) guna perawatan dan rehabilitasi bagi elang tersebut.

Untuk wawancara dan komunikasi lebih lanjut silahkan menghubungi

Hery Susanto
COP Anti Wildlife Crime Coordinator
Mobile Phone:  081284834363
Email: info@orangutanprotection.com

ANTAK READY TO GO BACK TO THE ISLAND

The black Antak who always has trouble with his hair, now a bit different. The darker-colored hairs on the bodies of other orangutans are very encouraging. “Antak started longish!”, Exclaimed Idham happy. “It means as long as it is pulled into the cage, you are in an effort to dye your hair ya Antak?”.

January 2017, Antak was withdrawn from pre-release orangutan island to the quarantine cage. Three days earlier, the animal keeper saw Antak fight with Nigel and after that never saw him. Worries made the team search for it to decide to withdraw Antak. At that time Antak injured and experienced mal nutrition.

The medical team is working hard to improve Antak’s physical health. Antak’s weight is slaughtered and the injuries are improving. Surprisingly, Antak began to make his bedding from the leaves and twigs given animal keeper. “It’s amazing to see the development.”, Idham said smilingly.

Antak looks enjoying the given coconut. His sturdy fingers gouged the coconut meat … when impatiently, he began to use his teeth. Krauk … krauk … krauk … coconut is a favorite fruit of Antak. “Antak … next I can not see you this close. Only now is my chance to see your expression up close. When on the island … you become so fierce.”.

ANTAK SIAP KEMBALI KE PULAU
Si hitam Antak yang selalu bermasalah dengan rambutnya yang sedikit kini berbeda sekali. Rambut-rambut di tubuhnya yang berwarna lebih gelap di banding orangutan lain sungguh menggembirakan. “Antak mulai gondrong!”, teriak Idham senang. “Berarti selama ditarik ke kandang, kamu dalam usaha melebatkan rambut-rambut mu ya Antak?”.

Januari 2017, Antak ditarik dari pulau pra rilis orangutan ke kandang karantina. Tiga hari sebelumnya, animal keeper melihat Antak berkelahi dengan Nigel dan setelah itu tak pernah melihat nya. Kekawatiran membuat tim melakukan pencarian hingga memutuskan menarik kembali Antak. Saat itu Antak terluka dan mengalami mal nutrisi.

Tim medis berusaha keras memperbaiki kesehatan fisik Antak. Berat badan Antak dipantai terus dan luka-luka pun membaik. Hal yang mengejutkan, Antak mulai membuat alas tidurnya dari daun-daun dan ranting yang diberikan animal keeper. “Luar biasa rasanya melihat perkembangannya.”, ujar Idham tersenyum.

Antak terlihat menikmati kelapa yang diberikan. Jari-jarinya yang kokoh mencongkel daging kelapa… saat tak sabar, dia mulai menggunakan giginya. Krauk… krauk… krauk… kelapa adalah buah kesukaan Antak. “Antak… selanjutnya aku ngak bisa lihat kamu sedekat ini. Hanya sekarang kesempatanku melihat ekspresimu dari dekat. Saat di pulau… kamu menjadi begitu galak.”.

ANCAMAN PASCA PENANGKAPAN PEDAGANG ELANG DI BANDUNG

Pesan masuk lewat media sosial Centre for Orangutan Protection. Tanpa menunggu lama, informasi ini langsung ditindak lanjuti tim APE Warrior, tim yang selama ini menangani perdagangan satwa. Sehari, seminggu, sebulan, tim terus memantau informasi ini. Kali ini sesepuh falconari Bandung yang menjadi target.

Operasi gabungan untuk memproses secara hukum kepemilikan elang ilegal sudah dilakukan COP bersama Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementrian Kehutanan Republik Indonesia. Operasi gabungan bersama organisasi satwa lainnya juga melibatkan Kepolisian Republik Indonesia karena kepemilikan tersebut melanggar hukum yang berlaku. Media massa juga berperan serta mempublikasikan kejahatan ini. Namun, kejahatan ini terus berlangsung.

“Kami melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Satwa dan hukum menjadi prioritas kami. Sekarang keluarga tersangka pedagang elang mengejar-ngejar kami. Salah kami apa?”, ujar Hery Susanto bingung.

Tidak mungkin tersangka tidak mengerti satwa elang adalah satwa yang dilindungi Undang-Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Kenapa Elang dilindungi juga bukanlah hal yang baru. Fungsi elang sebagai predator tingkat tinggi menjadikannya satwa yang sangat penting dalam rantai makanan yang sejak jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak sudah diajarkan. Ataukah hukum dan pelajaran biologi ini salah semua?

“Terimakasih orangufriends yang telah menguatkan kami. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan berbuat untuk alam ini. Hukum harus ditegakkan!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

THE NEWS OF QUIET SEPTI

Septi has now entered adulthood. This female orangutan looks calm and reserved. The quarantine enclosure becomes a room that limits its motion. “Sad … every time we stop at Septi’s cage to deliver her food and a little enrichment for her. The cage really limited her movement. But we were not brave enough to take him to a jungle school. Calm in the cage is not necessarily the same, when he was in the tree. “, Said Jhony Senju concerned.

Today Septi gets coconut fruit. Wow … his teeth easily peeled off the kalapa fibers. Soon she began to break the coconut shell by banging on the iron cage. The water was immediately drunk … and the white part began to bite. “Septi uses his abilities! Good Septi.”, Jhony shouted with delight. (L)

KABAR SI PENDIAM SEPTI
Septi kini sudah memasuki usia dewasa. Orangutan betina ini terlihat kalem dan pendiam. Kandang karantina menjadi kamar yang membatasi geraknya. “Sedih… setiap kali kami mampir ke kandang Septi untuk mengantarkan makanannya dan sedikit enrichment untuknya. Kandang benar-benar membatasi geraknya. Tapi kami tidak cukup berani untuk membawanya ke sekolah hutan. Kalem di kandang belum tentu sama, saat dia berada di pohon.”, ujar Jhony Senju prihatin.

Hari ini Septi mendapatkan buah kelapa. Wow… gigi-giginya dengan mudah mengupas serabut kalapa. Tak lama kemudian dia mulai memecahkan batok kelapa dengan memukulkan ke besi kandang. Airnya langsung diminumnya… dan bagian putihnya mulai digigitinya. “Septi menggunakan kemampuannya! Bagus Septi.’, teriak Jhony dengan senangnya.

Septi juga tak pernah menyia-nyiakan daun maupun ranting yang diberikan animal keeper kepadanya. Walau terlihat masih bingung, dia mulai menyusunnya untuk menjadi alas duduknya. Membuat sarang sepertinya kemampuan alamiah orangutan. Jika saatnya dia berada di pohon, Septi pasti bisa membuat sarang yang bagus dan nyaman untuk dirinya. “Septi… kami masih bermimpi untuk mu… kembali ke hutan… bergelantungan dari satu pohon ke pohon dan memilih pohon terbesar untuk tidurmu.”.

5 EAGLES RESCUED FROM MERCHANTS

Tuesday, March 27, 2018 has caught one suspected hawk merchant in Nanjung village, Margaasih sub-district, Bandung regency, West Java. From joint operation of COP with team of Ditipidter Polda West Java, BKSDA West Java and assisted Orangufriends Bandung to secure 5 (five) eagles. According to the suspect, the supply of hawk eagles and sea eagles comes from the province of Bangka Belitung.

“The suspect is one of the Falconary elders of Bandung. Every week, his home becomes the training ground for eagles’ lovers to learn together, “explained Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime COP.

The ‘Lovers’ Eagle is unlikely not to know the status of the eagle which is a protected animal of the Act. Position of suspect houses that are in densely populated people’s attention. “We hope people can learn firsthand, that maintaining and trading protected animals is illegal. A maximum of 5 years imprisonment and a fine of 100 million is a punishment that the perpetrator must undergo. But this punishment is still too light, that’s why there are still illegal keepers and wildlife traders protected. This business is still profitable, even if cut penalties and fines. “, Added Hery Susanto.

Thank you Orangufriends Bandung for helping with this joint operation. The Center for Orangutan Protection support group is a special force for the COP. The extent of the Orangufriends network has been shown to repeatedly save both protected and unprotected wildlife and other pets from abuse and cruelty. #proudoforangufriends (L)

5 ELANG DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Selasa, 27 Maret 2018 telah tertangkap satu orang tersangka pedagang elang di desa Nanjung, kecamatan Margaasih, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dari operasi gabungan COP bersama tim Ditipidter Polda Jawa Barat, BKSDA Jawa Barat dan dibantu Orangufriends Bandung mengamankan 5 (lima) elang. Menurut tersangka, pasokan elang pemburu dan elang laut berasal dari provinsi Bangka Belitung.

“Tersangka merupakan salah satu sesepuh Falconary Bandung. Setiap minggu, rumahnya menjadi tempat latihan para ‘pecinta’ elang untuk belajar bersama.”, urai Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

‘Pecinta’ Elang tidak mungkin tidak mengetahui status elang yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang. Posisi rumah tersangka yang berada di padat penduduk sempat menjadi perhatian warga. “Kami berharap warga bisa belajar langsung, bahwa memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi melanggar hukum. Penjara maksimal 5 tahun dan denda 100 juta adalah hukuman yang harus dijalani pelaku. Tapi hukuman ini masih terlalu ringan, itu sebabnya masih saja ada pemelihara ilegal dan pedagang satwa liar dilindungi. Bisnis ini masih menguntungkan, sekali pun dipotong hukuman dan denda.”, tambah Hery Susanto.

Terimakasih Orangufriends Bandung yang telah membantu operasi bersama ini. Kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection adalah kekuatan tersendiri bagi COP. Luasnya jaringan Orangufriends telah terbukti berulang kali menyelamatkan satwa liar baik dilindungi maupun yang tidak dilindung dan hewan peliharaan lainnya dari perlakuan kekejaman maupun kejahatan. #proudoforangufriends