February 2017

BONTI AFRAID OF CATERPILLAR

Bayi Bonti masih perlu bimbingan. Namanya juga bayi orangutan yang baru berusia 2 tahun. Bertemu dengan serangga maupun satwa lain di sekolah hutan membuatnya takut. Ketakutannya pada ulat bulu membuat animal keeper tertawa terpingkal-pingkal. Tentu saja badan Bonti lebih besar dari ulat bulu itu. Kalaupun Bonti lari, ulat bulu itu pasti tertinggal jauh. Belum lagi saat Bonti bertemu dengan belalang kayu dan kaki seribu. Itu sebabnya, Bonti tak pernah melepaskan Owi. Dia selalu mengikuti bahkan merangkul Owi kemana pun Owi pergi atau bermain di hutan.

Bonti dan Owi sangat suka bermain di pepohonan. Tapi ya itu tadi, Bonti tidak akan turun jika Owi masih asik bermain di atas pohon. Kemana pun Owi berayun, Bonti pasti mengikutinya.

Bayi Bonti dan Owi seharusnya berada dengan ibunya. Belajar dari ibunya, makanan apa yang bisa mereka makan, bagaimana jika bertemu dengan satwa lain, apa saja yang perlu mereka takuti yang mengancam diri mereka, bagaimana memanjat pohon, membuat sarang yang nyaman dan masih banyak hal lainnya yang seharusnya mereka dapatkan dari ibu mereka.

Kini, peran ibu digantikan animal keeper yang tidak 100% sama bisa menggantikan peran ibu mereka. Mari dukung kami, untuk memberikan kesempatan kedua untuk bayi Bonti dan Owi. Hubungi kami di email info@orangutanprotection.com

KELANJUTAN PERDAGANGAN TOKO OLD & NEW BANDUNG

Masih ingat penggerebekan toko souvenir barang antik di RE. Martadinata Bandung? Tim gabungan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Dit Tipidter Rekrimsus Polda Jabar, Centre for Orangutan Protection dan Jakarta Animal Aid Network menemukan bagian-bagian satwa yang dilindungi dalam bentuk awetan pada 30 Juli 2015.

Kamis, 16 Februari 2017 pukul 14.19 WIB, kasus lanjutan toko Old & New Bandung dengan barang bukti offset kepala beruang, lengan harimau, ekor harimau, tengkorak buaya memasuki sidang dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

Terdakwa menyampaikan bahwa barang-barang yang dijual di tokonya semuanya barang titipan. Toko Old & New Bandung mendapat komisi 10% dari penitip barang. Toko Old & New telah berdiri sejak tahun 2004, selama ini semua offset terbuka, bisa dilihat semua orang. Terdakwa tidak tahu kalau offset satwa tersebut tidak boleh dijual dan dilindungi.

Atas perbuatannya, terdakwa akan dijerat pasal 21 ayat 2 huruf b dan d junto pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

LAW ENFORCEMENT ON PROGRESS

Police have grilled 10 people and arrest 4 of perpetrator of an orangutan died and slaugthered in camp Tapak, PT Susatri Permai in Kapuas, Central kalimantan. Unfortunately, they are all just small people in the field. They are just worker. Keep share this petition https://www.change.org/p/this-oil-palm-plantation-company-alleged-to-killed-an-orangutan-perusahaan-sawit-ini-diduga-telah-membunuh-orangutan to make this case BIG and force the RSPO to play its role against this multinational company.

Polres Kapuas bergerak cepat menindaklanjuti informasi orangutan yang dibunuh dan dimakan di camp Tapak, PT Susantri Permai, Kapuas, Kalimantan Tengah. Ada 10 orang yang dimintai keterangan dan 4 orang yang ditangkap karena diduga memiliki peran dalam pembantaian orangutan.

“Perannya antara lain sebagai penembak, pengambil gambar, pengangkat mayat orangutan, pemotong daging orangutan dan pengakut serta pemindah jenazah orangutan dari TKP.”, ujar AKBP Jukiman dalam keterangannya.

Bukti-bukti yang menyertai adalah senapan angin, panci masak, ember, telepon seluler serta tulang dan daging orangutan.

Silahkan tanda tangani petisi berikut https://www.change.org/p/this-oil-palm-plantation-company-alleged-to-killed-an-orangutan-perusahaan-sawit-ini-diduga-telah-membunuh-orangutan

EXCITING EXPERIENCE BECOMING KITCHEN ANGEL IN COP SCHOOL

Hi! My name is Nita Istikawati, you can call me Nita. I am a COP Supporter from Yogyakarta.
The story began in 2010 when I decided to join COP as a volunteer. At that time, I was a university student doing an Accounting degree. It can be said that my education didn’t have any correlation with orang-utans at all. So, I wasn’t surprised when some college friends bullied me about my bizarre activities outside of campus. They often said that I was a very odd person because I liked to go to the zoo to make enrichments and better enclosures for the animals, joined an orang-utan demonstration (campaign), and also spoke out loudly against the destruction of rainforests for palm oil plantations. They thought it was extremely peculiar behaviour for a student from the Faculty of Economics. Well, it never ever stopped me raising awareness and helping orang-utans through COP. From my own experience, I know that everyone can help the orang-utan and its habitat without limits and boundaries. Everything that begins from your heart will come back to your heart again.
There are so many exciting experiences I gained when I was working as a volunteer in orangutan protection. There were lots of unforgettable memories. One of them is when I became a COP School organiser. My favourite position was as part of the kitchen team or kitchen angel. First, because I could taste the food before the other people did. Second, I could taste again and then third I could do food tasting again and again (LOL). On the other hand, I love cooking. Perfect. But please take it easy, I just wanted to make sure that all of the food that we provided at COP School was healthy, free from formaldehyde and safe for consumption by participants and also the presenters. I called it working on the front line. Alibi.
Hmmm… actually becoming part of the kitchen team meant that we should be facing the reality of the lack of sleeping time. Imagine this: the kitchen angels have to wake up very early in the morning before the cock crows and are already moving in the direction of the rising sun. Meanwhile, others were still soundly resting in bed.
As a kitchen angel during COP School, I had to wake up no later than 3.30am every day, because we had to boil water for drinking and then go off to the market to buy vegetables. After that, we picked up food for the catering and also had to prepare anything else. Morning rush hour. From this activity, I learnt a lot about time management and of course became more responsible with my job.
The kitchen is the most strategic place to meet up with everyone. While the participants were making tea or a cup of hot coffee, I got lots of chances to talk with them. Warm conversation in the morning made us feel closer to each other. The participants of COP School are very multicultural. They come from various backgrounds. There is a veterinary student, biology, design, law, economy, communication, etc. Well, I came to understand a wide range of characters and it made me easier to adapt to the new environment. Yes, COP School is a place where I gained a new family, who inspire and strengthen each other. Thanks, COP.

PENGALAMAN SERU MENJADI TEAM DAPUR DI COP SCHOOL
Hai! Nama saya Nita Istikawati biasa dipanggil Nita. Salah satu pendukung COP dari Yogyakarta.
Cerita bermula di tahun 2010 ketika saya bergabung menjadi volunteer COP. Waktu itu saya masih berstatus sebagai mahasiswa aktif di jurusan Akutansi. Bisa dibilang latar belakang saya memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan orangutan. Jadi, tidak heran jika sering diejek teman-teman mengenai kegiatan-kegiatan saya di luar kampus. Saya dibilang orang aneh yang suka keluar masuk kebun binatang, ikut kegiatan demo (kampanye) dan teriak-teriak tentang sawit. Menurut mereka tidak wajar dilakukan oleh anak ekonomi. Namun hal itu tidak pernah mematahkan semangat saya untuk terus membantu COP. Menurut saya menyelamatkan orangutan dan habitatnya itu tanpa batas dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua yang berawal dari hati akan kembali ke hati.
Ada banyak sekali pengalaman seru selama berkecimpung di dunia perlindungan orangutan yang tidak akan pernah terlupakan. Salah satunya adalah setiap kali menjadi panitia kegiatan COP School. Saya paling senang menjadi bagian dari tim dapur. Pertama bisa cicip makanan, kedua cicip lagi, ketiga cicip lagi, dan lagi (hehe). Selain itu saya suka makan. Cocok ya. Eitsss tapi jangan salah persepsi. Saya cuma mau memastikan makanan di COP School semuanya sehat, bebas dari formalin dan aman dikonsumsi oleh peserta juga para pengisi acara. Ini namanya adalah bekerja di garda depan. Alibi.
Hmmm… sebenarnya menjadi tim dapur itu artinya harus menghadapi kenyataan bahwa jatah tidur sangat berkurang. Bayangkan pagi buta sebelum ayam berkokok kami para kitchen angels sudah bergerak menuju arah matahari terbit. Di saat yang lainnya masih nyenyak tidur di dalam sleeping bed.
Rutinitas selama COP School, setiap hari paling lambat bangun sekitar pukul 3.30 pagi karena wajib memasak air untuk kebutuhan minum dan pergi ke pasar membeli sayur mayur. Mengambil makanan di catering dan juga harus menyiapkan ini dan itu. Pagi yang sangat sibuk. Dari kegiatan ini saya menjadi banyak belajar tentang bagaimana mengorganisir waktu yang baik dan bertanggung jawab dengan pekerjaan.
Dapur adalah tempat paling strategis untuk bertemu dengan semua orang. Sembari para peserta membuat teh atau secangkir kopi panas, saya banyak mendapat kesempatan untuk berbincang. Obrolan hangat di pagi hari membuat susana menjadi lebih dekat dengan para peserta. Para peserta COP School sangat multikultural. Mereka datang dari berbagai macam latar belakang. Ada mahasiswa kedokteran hewan, biologi, desain, hukum, eknonomi, komunikasi, bahasa, dsb. Secara tidak sadar saya menjadi memahami berbagai macam karakter orang dan membuat lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Ya, COP School adalah tempat dimana saya mendapatkan keluarga baru, saling menginspirasi dan menguatkan satu sama lain. Terimakasih COP.

KICK GENTING PLANTATION BERHAD OUT FROM RSPO

An orangutan being shot to die between block F11- 1F12 and then being slaugthered in the Camp Tapak, PT Susantri Permai in Kapuas, Central Kalimantan. This company is subsidiary of the Genting Plantation Berhad, a member of RSPO. This is a serious crime in Indonesia. This is serious a serious violation of principles and criteria of RSPO. This is an evidence that this company location is overlapping with orangutan habitat. RSPO has enough reasons to KICK Genting Plantation OUT from RSPO.

Please sign petition https://www.change.org/p/this-oil-palm-plantation-company-alleged-to-killed-an-orangutan-perusahaan-sawit-ini-diduga-telah-membunuh-orangutan

PECAT GENTING PLANTATION BERHAD DARI RSPO

Orangutan ditembak di antara Blok F11 – F12, lalu disembelih di Camp Tapak, PT. Susantri Permai di Kapuas. Perusahaan sawit ini merupakan anak perusahaan Genting Plantation Berhad, anggota RSPO. Ini adalah pelanggaran hukum yang serius di Republik Indonesia. Ini adalah pelanggaran serius prinsip dan kriteria RSPO. Ini juga menunjukkan bahwa kawasan konsesi mereka tumpang tindih dengan habitat orangutan.

RSPO sudah memiliki cukup alasan untuk menendang Genting Plantation Berhad dari kenggotaan RSPO.

Anda peduli? Silahkan tanda tangani petisi https://www.change.org/p/this-oil-palm-plantation-company-alleged-to-killed-an-orangutan-perusahaan-sawit-ini-diduga-telah-membunuh-orangutan

SELAMA COP SCHOOL BERLANGSUNG

Hi, namaku Shaniya asal Surabaya. Di foto itu aku yang paling depan dengan jilbab hitam. Aku adalah salah satu dari 40 orang yang lolos tahap seleksi untuk mengikuti COP School Batch 6 yang diadakan pada 18-22 Mei tahun lalu di Yogyakarta. Saat ini, statusku sudah menjadi Alumni dari kegiatan tersebut.

Pertama, aku mau bilang. Sama sekali nggak bakal rugi kamu daftar dan ikut seleksi COP School. Kalau kamu lolos, kamu akan dapat salah satu pengalaman yang ngak akan kamu dapatkan di tempat lain. Kalau belum lolos, kamu masih punya banyak kesempatan untuk coba daftar lagi tahun depan, dan tahun depannya lagi, dan seterusnya.

Setelah lolos seleksi, kamu pun nggak perlu takut bakal ‘terdampar’ ketika kamu sampai di Yogyakarta sebelum waktu yang ditentukan untuk kumpul di Camp COP. Kalau tahun lalu, teman-teman Batch 6 yang memang tinggal di Yogyakarta dengan senang hati membantu siapa saja yang membutuhkan akomodasi sementara sebelum kegiatan dimulai.

Siang pertama kegiatan mulai, kami kumpul di Camp COP dan menyerahkan tugas yang harus dibawa. Sorenya semua membangun tenda sesuai kelompok masing-masing dan berkenalan dengan semua yang ada di Camp. Di sini, menurutku sebaiknya kamu ngak cuma kenalan sama COP School angkatanmu aja, tapi juga sama alumni-alumni yang ada, baik yang jadi panitia maupun pendamping kelompok. Setelah semuanya kenal satu sama lain, malamnya dipilih siapa yang jadi Ketua Kelas dari Batch 6.

Hari kedua kumpul, kami sudah dapat materi sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kedua. Nah setelah materi pertama ini serunya bener-bener dimulai. Di sini, fisik kamu bakal diuji juga ketahanannya. Longmarch bersama, yaa lumayanlah kalau buat yang jarang olahraga. Jadi, ada baiknya juga kamu latihan fisik sebelum berangkat ikut COP School.

Selama kegiatan di lokasi kedua tidur di tenda, kita bakal dapat banyak banget materi, nggak cuma tentang konservasi dan satwa liar, tapi juga jurnalistik dan bahkan bagaimana jadi investigator kasus perdagangan satwa liar! Keren kaaan! Selain itu, materi yang paling aku suka adalah tentang animal welfare. Karena di sini kamu bakal ditantang untuk bikin design kandang dan enrichment untuk satwa yang ada di kandang rehabilitasi maupun di kebun binatang. Dalam satu hari, ada sekitar 3 sampai 4 materi diselingi istirahat dan berbagai games yang seru semua. Games yang paling seru menurutku, saat kita diajak keluar pendopo buat melakukan pengamatan, ada binatang apa aaja di sekitar kita. Ini gak asal lho, karena panitia udah menyiapkan boneka berbagai binatang yang disembunyikan di sekitar jalur yang ditentukan. Di sini mata kita dituntut buat jeli sama keadaan sekitar. Dan nanti bakal di cek, apakah hewan yang kamu tulis itu bener atau bukan bagian dari binatang yang udah disembunyiin dan ditentuin sama panitia kegiatan.

Selain itu, kamu juga dituntut untuk bisa kerjasama sama kelompok kamu. Kalian bakal bagi tugas setiap harinya. Siapa yang ambil bahan masakan, yang masak, yang cuci piring, cuci alat masak, dan lain-lain, karena kita bakal masak sendiri buat sarapan dan makan malam.

Selama COP School, aku dapat banyak banget pengalaman berharga yang aku yakin berguna banget buat diriku ke depannya. Juga buat kamu yang memang ingin banget punya peran dalam membantu kelangsungan satwa liar di negara kita, kamu mungkin harus coba ikut kegiatan yang satu ini. Teamwork kamu teruji, public speaking-mu terlatih, dan kamu dapat banyak materi mengenai satwa liar, jadi ke depannya saat kamu terjun ke dunia konservasi, kamu nggak asal ikut-ikutan orang lain karena kamu punya dasar yang kamu dapat selama COP School.

Gimana, seru banget kan? Tahun ini aku berharap aku punya waktu untuk jadi pendamping kelompok selama kegiatan berlangsung. Kalau kamu bener-bener tertarik, saranku kamu harus sesegera mungkin daftar karena kalau ketinggalan ya sudah, kamu harus tunggu tahun depan lagi.
Jadi sampai ketemu ya di COP School Batch 7 nanti! See you soon! (Shaniya_Orangufriends)

COP CONDEMNED ORANGUTAN SLAUGHTER OCCURRED WITHIN CONCESSION ZONE OF GENTING BERHAD

Centre for Orangutan Protection condemned the slaughter of orangutan that allegedly occurred within concession zone of PT. Susantri Permai, subsidiary company of Genting Berhad, located at Kapuas, Central Kalimantan. Based on information collected by COP on the ground, this tragedy occurred at January 27th 2017. Orangutan shot, slaughtered and mutilated.

Reflected to similar occurrence at Makin Group, East Kalimantan at 2011, police department should take immediate law reinforcement action. Based on Indonesia Law No.5/1990 about Conservation of Biodiversity and Ecosystem, the perpetrators are subject to be arrested for 5 years and 100 million rupiah penalty.

This tragedy should not happened if the members of Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) members fully comply with its own principal and criteria.

Hardi Baktiantoro, Principal of COP, release the statement,

“This slaughter indicates that there are failure, upstream through downstream, comprehensively. From permit issuance to evaluation. It also indicates that concession provided was within orangutan habitat. Reports of evaluation submitted by RSPO most probably failed to represent the reality on the ground. It makes RSPO’s credibility questionable. RSPO must revoke the membership of Genting Berhard, the Malaysian company, immediately.”

Information of the company can be access through link below:
http://www.bloomberg.com/research/s…

For information and interview, please contact:
Hardi Baktiantoro
08121154911
hardi@orangutan.id

For ground visit, please contact:
Ramadhani
Communication Manager
0813 49271904
dhani@orangutan.id

COP MENGUTUK PEMBUNUHAN ORANGUTAN YANG TERJADI DI KAWASAN KONSESI GENTING BERHAD

Centre for Orangutan Protection mengutuk pembunuhan orangutan yang diduga terjadi di dalam kawasan konsesi PT. Susantri Permai anak perusahaan Genting Berhad di Kapuas, Kalimantan Tengah. Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh COP dari lapangan, kejadian ini terjadi pada tanggal 27 Januari 2017. Orangutan ditembak di antara Blok F11 – F12 dengan senapan angin dan setelah tewas dibawa ke Camp Tapak. Di camp tersebut, orangutan disembelih dan dipotong – potong.

Berkaca pada kejadian serupa di Makin Group, Kalimantan Timur pada tahun 2011, polisi hendaknya segera bertindak menegakkan hukum. Orangutan adalah salah satu spesies yang paling dilindungi di Indonesia. Berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya, pelaku bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda 100 juta.

Pembunuhan ini tidak perlu terjadi jika anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini menjalankan prinsip dan kriterianya.

Hardi Baktiantoro, Principal COP memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Pembunuhan ini menunjukkan bahwa telah terjadi kesalahan dari hulu ke hilir dalam segala hal, mulai dari perijinan hingga penilaian. Ini menunjukkan bahwa konsesi yang diberikan berada dalam habitat orangutan. Laporan – laporan penilaian yang disampaikan ke RSPO diduga kuat tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Ini menjadikan kredibilitas RSPO diragukan. RSPO harus segera menendang Genting Berhard, perusahaan asal Malaysia ini dari keanggotaan.”

Informasi mengenai perusahaan ini bisa dilihat di:
http://www.bloomberg.com/research/stocks/private/snapshot.asp?privcapId=58833630

Untuk informasi dan wawancara:
Hardi Baktiantoro
08121154911
hardi@orangutan.id

Untuk koordinasi kunjungan ke lapangan, hubungi:
Ramadhani
Communication Manager
0813 49271904
dhani@orangutan.id

APE CRUSADER’S VISITING SMPN 4 KUMAI

Empat puluh siswa berkumpul di perpustakaan sekolahnya. APE Crusader bersama Friends of National Parks Foundation Kumai datang untuk berbagi informasi tentang orangutan dan habitatnya. Ternyata masih ada yang bingung membedakan orangutan dengan primata lainnya.

Kelas 7 hingga 9 SMPN 4 Kumai merupakan sekolah binaannya FNPF Kumai. APE Crusader tidak susah lagi menceritakan fungsi hutan untuk manusia. Tinggal mengingatkan siswa untuk menjaga satwa liar yang berada di hutan, karena satwa tersebut memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Seperti orangutan yang merupakan spesies payung bagi satwa liar lainnya. Kemampuannya menjaga keberlangsungan hutan belum tergantikan. Ini berkaitan dengan daya jelajah orangutan yang sekitar 3 km per hari dan variasi makanannya. Orangutan yang merupakan satwa arboreal juga membantu tumbuhan untuk mendapatkan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan.

Dalam satu hari ini, APE Crusader melakukan school visit di dua jenjang sekolahan. SDN 1 Sungai Kapitan dengan murid kelas 3 dan 4 serta SMPN 4 Kumai kelas 7 sampai 9. “Ya materi yang kami sampaikan memang harus berbeda. Harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang ada. Cara penyampaiannya juga berbeda. Untung saya ikut COP School Batch 6. Jadi sudah tidak canggung lagi untuk school visit.”, kata Septian sambil tersenyum.

ORANGUTAN DIBUNUH DAN DIJADIKAN MAKANAN DI KAPUAS, KALTENG

Satu orangutan dijadikan makanan diduga terjadi di perkebunan PT Susanti Permai, desa Tumbang Puroh, kecamatan Sei Hanyo, kabuaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

Kejadian bermula dari seorang pekerja tengah mengambil buah sawit pada 28 Januari 2017. Operator Jhondare yang sedang bekerja melangsir buah sawit, saat itu bertemu orangutan dan dikejar orangutan. Setelah tiba di camp Tapak, Jhondare menceritakan ke beberapa teman dan warga desa sekitar. Arianto tertarik untuk mencari keberadaan orangutan tersebut. Arianto dan Cunong tiba di blok F11 atau F12 bertemu dengan orangutan tersebut. Arianto menembak orangutan dengan senjata angin rakitan. Bersama teman dan warga sekitar dibawa ke camp Tapak, dikuliti dan dipotong-potong kemudian dikonsumsi oelh beberapa warga setempat. Tempat pembuangan tengkorak dan sisa tubuh orangutan tidak diketahui karena beberapa karyawan yang menjadi saksi takut bercerita setelah mendapatkan ancaman dari pihak perusahaan.

APE Crusader, tim gerak cepat Centre for Orangutan Protection yang saat ini sedang berada di Kalimantan Tengah segera menuju lokasi.

#conflictpalmoil

SCHOOL VISIT AT SDN 1 SUNGAI, KAPITAN

Kurangnya informasi tentang satwa liar mengantarkan APE Crusader masuk dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Tidak peduli jenjang pendidikan yang menjadi prioritas. Memastikan informasi pentingnya satwa liar dan hutan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal para siswa adalah tantangan tersendiri.

Bersama FNPF (Friends of National Parks Foundation) Kumai, Kalimantan Tengah, APE Crusader mengunjungi SDN 1 Sungai, Kapitan. Siswa kelas 3 dan 4 sekolah dasar yang berjumlah 60 siswa terlihat sangat antusias sekali. “Waduh, sebenarnya ini terlalu banyak. Bisa dijadikan 2 kelompok. Karena keterbatasan waktu, kegiatan jadinya disesuaikan untuk kelompok besar. Salah satunya menonton film.”, ujar Faruq dari APE Crusader.

Biasanya FNPF mengajak siswa menanam dan mengenal hutan lebih dalam. Kali ini bersama COP, para siswa diajak untuk mengenal satwa liar terutama satwa liar yang dilindungi. Khusus satwa orangutan, APE Crusader mengajak siswa untuk bangga pada satwa yang tergolong kera besar ini, yang hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Orangutan adalah kebanggan Indonesia.

Page 2 of 41234