Orangufriends

APE GUARDIAN UNTUK ORANGUTAN LESAN

“Kami berharap anak-anak bisa menceritakan ke orang yang lebih besar, seandainya ada satwa liar yang masuk dan merusak tempat tinggal mereka.”, ujar Yanto saat mengunjungi SD Negeri 02 Kelay Merapun di kampung Merapun kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Sabtu, 4 November yang lalu, para relawan APE Guardian mengedukasi 82 murid kelas 3 sampai kelas 6.

Konflik masyarakat dan satwa liar masih sangat tinggi terutama mereka yang tinggal berbatasan langsung dengan hutan. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan seperti kecelakaan dan kerusakan, tim APE Guardian bersama Operasi Wallacea Terpadu (OWT) bekerja sama mensosialisasikan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) beserta satwa endemiknya. “Masyarakat sekitar sudah seharusnya bangga dengan kekayaan lingkungannya dan menjaga kekayaan alami ini.” ujar Ipeh.

Sambil bernanyi dengan nada lagu Ampar-Ampar Pisang, Ipeh dan relawan lainnya menyanyikan lagu Orangutan Lesan. Anak-anak menjadi lebih bersemangat lagi. Permainan demi permainan yang berisikan materi betapa pentingnya hutan dan satwa liar yang menghuninya bagi kehidupan diharapkan bisa lebih dimengerti anak-anak. “Kami senang menjadi relawan. Kami senang berbagi. Jika ada kesempatan lagi, kami akan kembali lagi.”, ujar relawan COP yang lebih terkenal dengan sebutan Orangufriends. (REZ)

★ ORANGUTAN SUNGAI LESAN ★

KERA BESAR APA YANG TINGGALNYA DIHUTAN ?
MEREKA ADALAH BINATANG ORANGUTAN
ORANGUTAN..ORANGUTAN..BINATANG KHAS KALIMANTAN
MEREKA PENGHUNI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN 2X
ORANGUTAN..ORANGUTAN..STATUSMU RENTAN
AYOO SELAMATKAN..SELAMATKAN ORANGUTAN !! 2X

HALLO SDN 15 KELAY MERAPUN

Anak-anak SD Negeri 15 Kelay Merapun, Kalimantan Timur terlihat berlari sambil bercanda di halaman sekolah. Canda tawa mereka tak lepas dari nyamannya sekolah tempat mereka menuntut ilmu. Semuanya terlihat dengan tertatanya lingkungan sekolah dan pemeliharaan kebersihan, tak heran 136 muridnya menjadi betah berada di sekolah.

Akhirnya, Yanto dan Ipeh pun menyapa mereka di kelas. “Siapa yang pernah ketemu satwa liar di dekat rumah?”, tanya Ipeh penuh semangat. Dan jawaban mereka pun tak kalah semangatnya hingga kami sulit mendengar dengan jelas satwa yang mereka sebutkan, kenang Yanto. Selasa, 3 November 2017 yang lalu, Yanto dan Ipeh yang merupakan relawan APE Guardian di Hutan Lindung Sungai Lesan mengunjungi SDN 15 Kelay Merapun di kampung Merapun luar RT 04 kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. “Letaknya kampung yang berbatasan langsung dengan HLSL inilah yang mengantarkan kami edukasi ke SDN 15 ini dan bertatap muka dengan para tokoh masyarakat setempat sambil membagikan poster dan stiker. “Konflik manusia dan satwa liar memang tak terelakan. Tapi kami berharap dengan sosialisasi ini, masyarakat jadi tahu, mereka bisa melaporkan kemana saja.”, ujar Ipeh lagi.

Yanto, Ipeh, Danel dan Samuel pun terpaksa mengakhiri perjumpaan kali ini. Cerianya anak-anak masih terbawa sampai sekarang. Yanto bahkan berjanji untuk kembali lagi mengisi waktu luangnya untuk menjadi relawan di APE Guardian. Walaupun tanpa listrik, sinyal telepon apalagi internet, bahagia menjadi begitu sederhana. (REZ)

SEMANGAT SDN 01 KELAY SELAMATKAN ORANGUTAN

Ketigapuluh tujuh anak-anak SD Negeri 01 Kelay Muara Lesan , kecamatan Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur menatap kami. Bersama Samuel dari Operasi Wallacea Terpadu (OWT), kedua relawan COP menyapa murid-murid dari kelas I hingga VI sekolah dasar ini. Dalam kesederhanaan, mereka belajar penuh semangat.

Kamis ini akan jadi kamis yang berbeda. Lewat alunan lagu ampar-ampar pisang yang dirubah liriknya, Yanto dan Ipeh mengajak anak-anak mengenal orangutan dan hutan. Ya, mereka adalah anak-anak yang bertempat tinggal berbatasan langsung dengan Hutan Lindung Sungai Lesan. HLSL dimana hutan yang merupakan rumah baru untuk orangutan Oki. Orangutan Oki adalah orangutan pertama yang berhasil dilepasliarkan oleh COP Borneo setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Oki adalah orangutan yang berasal dari kebun binatang. Tidak mudah untuk merubah kebiasaan tinggal di kebun binatang yang selalu menghadapi tatapan bahkan sentuhan pengunjung. Lalu bagaimana dengan kabar Oki?

Satwa-satwa endemik yang menjadi penghuni asli hutan pun diperkenalkan. Peran setiap satwa diceritakan, anak-anak pun menjadi paham kenapa harus melindunginya. Bersama-sama mengenal sekeliling, membuat anak-anak semakin tertarik untuk ikut menjaga hutan dan isinya. Suatu semangat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Anak-anak pun bisa menyelamatkan hutan. (REZ)

RELAWAN COP DI SMP NEGERI 10 BERAU

Dua orang relawan APE Guardian mengunjungi SMP Negeri 10 Berau, Muara Lesan, Kalimantan Timur. Ipeh dan Yanto dengan tulus berbagi dengan keduapuluhsatu siswa SMPN 10 Berau ini. Memang tak banyak karena 92% muridnya sudah pada pindah ke kampung Muara Lesan yang baru. Bersama OWT (Operasi Wallacea Terpadu), kedua relawan memperkenalkan pentingnya orangutan untuk Hutan Lindung Sungai Lesan yang berbatasan langsung dengan tempat tinggal para murid.

Tujuh puluh lima menit menjadi begitu singkatnya. Melalui nyanyian dan permaianan, Ipeh dan Yanto mengajak anak-anak kelas VII hingga IX ini rileks. “Tak ada ujian ataupun hukuman di kedatangan kami.”, ujar Ipeh dengan semangat mengawali pertemuan ini. Gambar, poster dan stiker menjadi alat pendukung mereka. “Listrik sangat sulit di sini.”, ujar Yanto prihatin.

Pengenalan satwa endemik Kalimantan khususnya HLSL menjadi materi utama school visit. Tentu saja dengan harapan, meminimalisir konflik antara manusia dan satwa liar. Mereka adalah harapan untuk melindungi lingkungannya. Suatu masa depan yang menentukan keberlangsungan satwa liar di alam. (REZ)

JAMBORE ORANGUFRIENDS 2017 DI OMAH PARI

Ini adalah sebuah tradisi. Para relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends akan bertemu, berkumpul, berdiskusi di Jambore Orangufriends. Sebuah reuni para relawan yang pernah saling mengenal bahkan berkenalan dengan relawan yang baru kenal. Pertemuan ini juga mengumpulkan kembali lintas angkatan COP School. Untuk COP School angkatan terakhir seperti COP School Batch 7, pada saat Jambore akan dilakukan wisuda ala COP.

Jambore Orangufriends 2017 akan diisi para orangufriends yang berkegiatan di daerahnya masing-masing. Kegiatan kolektif dengan orangufriends lainnya atau kegiatan individu seperti bergabung menjadi relawan di COP Borneo maupun disaster relief gunung Agung. Bercerita… berbagi… dan merencanakan kembali.

Ini adalah acara untuk saling menguatkan sebagai agen perubahan satwa liar Indonesia yang masih sangat langka. Sabtu, 9 Desember 2017, pukul 10.00 WIB bertempat di Omah Pari, Jl. Gito-Gati, Sleman, Yogyakarta atau berjarak sekitar 300 meter di utara camp APE Warrior Yogyakarta. Acara akan berakhir keesokan harinya pada hari Minggu, 10 Desember 2017 pukul 15.00 WIB.

Cukup dengan kontribusi Rp 100.000,00 dengan fasilitas menginap, makan, camilan, permainan dan tanda kelulusan khusus siswa COP School Batch 7, akan membuat energi mu kembali penuh. Suasana santai di lingkungan persawahan Omah Pari yang dikelola alumni COP School tentu akan sangat berbeda dengan Jambore sebelumnya. Jadi kalau kamu mau ikut lagi, silahkan! Mari berbagi tawa, senang dan haru di Jambore Orangufriends 2017. Daftar ke Ramadhani dengan mengirim sms/wa 081349271904 dengan cara ketik JO17_Nama lengkap_Nama kota sebelum tanggal 5 Desember 2017. Sampai ketemu di Yogyakarta… (DAN)

TIM BENCANA GUNUNG AGUNG PULANG

Sejak 2010, Centre for Orangutan Protection bekerja membantu satwa yang terdampak bencana alam. Tahun itu adalah saat COP pertama kali turun menyelamatkan hewan ternak dan peliharaan yang ditinggal pemiliknya mengunggsi karena bencana alam. Tahun ini pula lahir APE Warrior yang didukung Orangufriends (kelompok pendukung COP) di Yogyakarta saat gunung Merapi meletus dengan hebatnya. Menghadapi bencana tak bisa hanya sendiri. Bekerja sama adalah kunci utama keberhasilan bangkit dari bencana.

Selama satu bulan secara bergantian relawan COP membantu anjing, kucing maupun sapi yang berada di zona berbahaya gunung Agung, Bali. Sejak status gunung berapi ini menjadi awas pada 22 September yang lalu, tim penolong satwa ini bergerak cepat ke desa-desa yang ditinggal penduduk mengungsi. Tim ini bergerak dengan penuh perhitungan. Koordinasi dengan pemerintahan setempat dan Polsek suatu keharusan untuk menjaga keselamatan tim. Tentu saja koordinasi lintas organisasi untuk menghindari tumpang tindih bantuan harus diterapkan.

COP, BARC dan JAAN saling bahu membahu menyalurkan bantuan pakan satwa. “Luar biasa bantuan yang mengalir. Ada yang berbentuk pakan anjing kucing, ada juga dalam bentuk uang. Yang membantu kebutuhan tim juga ada. Di sinilah manajemen bencana berlaku. Uniknya, manajemen ini sangat dinamis dan cepat.”, jelas Hery Susanto, kapten APE Warrior COP.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada 29 Oktober 2017 mengumumkan penurunan status gunung agung dari level IV (Awas) menjadi level III (Siaga). “Dengan status gunung Agung menjadi Siaga, COP menarik timnya dari Bali. Tapi kami tetap memantau situasi dan kondisi, agar dapat bergerak cepat jika dibutuhkan bantuan lagi.”, ujar Hery lagi.

Terimakasih semua pihak yang bekerja bersama dalam bencana gunung Agung ini. “Para donatur di kitabisa.com/anjingkucingbali kami berkemas untuk pulang kembali ke Yogya. Para pengungsi sudah mulai berdatangan kembali ke desa. Anjing dan kucing kembali bertemu dengan pemiliknya.”, kata Hery Susanto. Terimakasih International Fund for Animal Welfare (IFAW), BARC, Animals Indonesia, JAAN, Polsek setempat, BNPB dan penduduk desa yang mempercayakan kami membantu satwa bencana gunung Agung. Kami pulang.

KATA JHONY, BELAJAR!

Namanya Jhoni. Lahir 20 tahun yang lalu dan dibesarkan dengan kultur Dayak di kampung Merasa, kabupaten Berau, kalimantan Timur. Slah satu animal keeper pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang cepat menanjak walaupun hanya berijasah setingkat SMP.

Jhoni adalah salah satu keeper yang mengikuti COP School Batch 6 di bulan Mei 2016 di Yogyakarta dengan biaya sendiri. Dia menabung setiap bulan setelah menerima gaji dan menitipkan uangnya kepada staf lain untuk disimpan. Semangat belajar itu akhirnya mengantarkan Jhoni untuk pertama kalinya keluar pulau Kalimantan.

“Yang penting mau baca, belajar dan belajar. Kita orang Dayak harus bisa buktikan kepada dunia kalau kita bukan pemakan orangutan. Kita harus buktikan pada mereka yang pintar-pintar itu kala kita yang bodoh dan tidak bersekolah juga bisa menyelamatkan orangutan. Itu pesan paulinus kepada saya yang membuat saya mau belajar dan belajar di COP”, ujar Jhoni dengan semangat.

Apa buku terakhir yang kamu baca?
“Sejarah Tuhan dan Bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer. (DAN)

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

ANAK MUDA DI KONSER AMAL ORANGUTAN

Perahu dengan mesin kecil berkekuatan 15 PK ini kami sebut ketinting. Perahu pertama kami dengan warna dominan jingga atau oranye ini dibuat tahun 2015 dengan nama “WAY BACK HOME”. Banyak orang bertanya kenapa bernama Way Back Home?

13 Oktober 2015 relawan COP yang bergabung dalan Orangufriends kota Yogyakarta membuat konser musik amal tahunan yang dikenal dengan Sound For Orangutan (SFO). SFO 2015 Yogyakarta saat itu bertema ‘Way back Home’. Sejalan dengan program pembangunan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur saat itu.

Dari kegiatan SFO 2015 yang dikerjakan anak muda terbaik dan didominasi panitia perempuan, konser amal ini menghadirkan band-band anak muda Indonesia seperti FSTVLST, Down For Life, Broken Rose, Seringai, Sri Plecit dan Miskin Porno. Keuntungan penjualan tiket dari SFO 2015 inilah yang digunakan untuk membeli mesin ketinting dan membuat perahu Way back Home. Selama masih ada anak-anak muda Indonesia peduli satwa liar, kami yakin perjuangan menyelamatkan orangutan tidak akan berhenti.

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

EKOWISATA UNTUK JAGA ALAM

Namanya Susilawati Jalung. Dua tahun lalu diwisuda sebagai sarjana sastra Inggris. Kami memanggilnya Uci. Lahir dari orangtua yang keduanya suku Dayak. Uci dibesarkan di kampung Merasa yang merupakan kampung Dayak di kabupaten Berau, kalimantan Timur. Satu tahun terkahir ini, Uci bersama anak-anak muda di kampung Merasa membangun dan menjalankan kelompok ekowisata.

Perempuan muda nan tangguh yang dimiliki COP ini tidak hanya menjalankan pendampingan masyarakat tapi juga mengelola edukasi, mengatur jadwal pengobatan medis satwa domestik yang dilakukan tim medis COP Borneo di kampung Merasa.

“Dengan adanya ekowisata kami berharap ada masyarakat yang terbantu ekonominya. Dari situ mereka bisa akan berusaha untuk menjaga lingkungan sekitar aset wisatanya.”, semangat Uci di atas perahu Ecotripnya.

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan

KAKAK PEMANJAT ULUNG COP BORNEO

Namanya Jevri. Namun di KTP (Kartu Tanda Penduduk) tertulis Jeuri. Entah siapa yang memulai kesalahan penulisan dalam rekam administrasi pemerintahan. Umurnya saat ini baru 18 tahun. Namun Jevri adalah animal keeper terbaik yang dimiliki pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur.

Keahliannya adalah mengajak orangutan yang sudah terlanjur jinak dan tidak mengerti arti pohon dan memanjat pohon. Jevri adalah salah satu keeper yang bisa memanjat pohon tinggi dan bahkan bisa berpindah dari pohon satu ke pohon lainnya. Jangan berpikir semua orangutan bisa memanjat, karena orangutan yang masuk pusat rehabilitasi adalah korban konflik yang salah satunya lama dipelihara manusia dah tak pernah mengenal pohon lagi.

Keahlian semacam memanjat pohon dan bertahan hidup di hutan adalah hal mutlak yang harus dikuasai oleh anak-anak muda Dayak di perkampungan. Pengalaman itulah yang membawanya bergabung di program rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia.

#KamiMuda_Indonesia_PenyelamatOrangutan
#sumpahpemuda