PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN

Berau, Minggu (20 Juni 2021) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection-Bornean Orangutan Rescue Alliance (COP-BORA) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur pada hari Sabtu, 19 Juni 2021, melakukan pelepasliaran 1 (satu) individu orangutan yang telah menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi BORA Labanan yang dikelola oleh BKSDA Kaltim dengan COP. Orangutan tersebut dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) yang memiliki luasan 11.238 hektar. Kawasan ini telah menjadi pilihan sebagai lokasi pelepasliaran orangutan sejak 2017. Hingga saat ini telah terdapat 7 (tujuh) individu orangutan yang dilepasliarkan di HLSL dan masih terus dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap populasi orangutan yang berada di kawasan tersebut. Kegiatan pelepasliaran orangutan ini merupakan upaya untuk memberikan kesempatan kedua setelah rehabilitasi agar orangutan tersebut dapat hidup secara bebas di habitat alaminya.

Sebelumnya, orangutan betina yang diberi nama Gisel (diperkirakan berumur kurang lebih 4-5 tahun), dilaporkan berkeliaran di wilayah pemukiman warga di daerah Sangatta Selatan, Kutai Timur. Awalnya, orangutan Gisel diselamatkan dan ditranslokasi ke kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) Resort Sangkima sekitar bulan Januari 2021. Akan tetapi, tidak berselang lama, orangutan tersebut dilaporkan kembali mendatangi petugas TNK di Resort Sangkima. Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur bnersama Balai TNK kembali melakukan upaya penyelamatan pada bulan Februari 2021 dan kemudian mengirimkannya untuk menjalani rehabilitasi ke BORA. Tahapan rehabilitasi tersebut dilakukan dengan harapan bahwa orangutan Gisel dapat kembali menjadi liar dan hidup bebas tanpa tergantung pada manusia.

Setelah dilakukan pengamatan intensif oleh tim perawat dan medis satwa, orangutan Gisel masih memiliki kepekaan sebagai satwa liar yang ditunjukkan dengan perilaku dan kemampuannya untuk membuat sarang dengan baik. Kemampuan dasar membuat sarang ini merupakan salah satu indikator yang harus dimiliki oleh orangutan rehabilitasi sebelum menjalani proses pelepasliaran. Dari hasil pengamatan perilaku tersebut dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap, orangutan Gisel dinyatakan memenuhi standar untuk dilepasliarkan.

Plt. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Nur Patria Kurniawan, sesaat setelah melepasliarkan orangutan Gisel menyampaikan pernyataan bahwa kegiatan pelepasliaran merupakan tahapan penting dari kegiatan penyelamatan populasi Orangutan Kalimantan sekaligus sebagai indikator utama keberhasilan rehabilitasi orangutan. Hal penting berikutnya setelah orangutan dilepasliarkan adalah monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kemampuan kawasan tersebut untuk menampung orangutan maupun perkembangan populasinya dalam jangka panjang. BKSDA Kalimantan Timur bersama COP terus melakukan monitoring rutin terhadap populasi orangutan di kawasan tersebut dengan harapan bahwa kehidupan orangutan dikawasan ini dapat hidup bebas alami sesuai dengan daya dukung dan daya tampung kawasan,

Manajer Pusat Rehabilitasi BORA, Widi Nursanti mengatakan bahwa BORA terwujud atas kemitraan multipihak BKSDA Kalimantan Timur dengan Centre for Orangutan Protection (COP) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD). Di BORA saat ini merehabilitasi 24 (dua puluh empat) individu orangutan dengan latar belakang berbeda-beda antara lain orangutan korban perdagangan satwa ilegal hingga kepemilikan ilegal. “Rehabilitasi orangutan sampai pada tahap pelepasliaran merupakan kerjasama kolektif yang panjang serta melalui proses yang kompleks. Namun upaya yang panjang ini tetap harus dilakukan untuk memberikan kesempatan kedua yang lebih baik bagi orangutan”, tambah Widi Nursanti.

Untuk wawancara dan informasi bisa menghubungi:

Dheny Mardiono,
Kepala Seksi Konservasi Wilawah 1 BKSDA Kalimantan Timur
HP: +62 812 3487 467

Widi Nursanti,
Manajer Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA)
HP: +62 813 3501 3032
Email: info@orangutanprotection.com

KOLA KE SEKOLAH HUTAN LAGI!

Apakah kamu mengenalinya? Dia adalah Kola, orangutan repatriasi Thailand pada akhir tahun 2019 yang lalu. BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) adalah tempat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kalimantan Timur memiliki kurikulum sekolah hutan terunik yang ada. Setiap orangutan dipantau perkembangannya dan diberi tantangan lebih lagi jika berhasil melaluinya. Jika gagal, orangutan akan tetap diberi kesempatan untuk mencoba lagi.

Seperti Kola, yang awal tahun 2021 yang lalu sempat membuat para perawat satwa menginap di hutan karena dia tak kunjung turun dari pohon yang dipanjatnya. Kola terpaksa dibius keesokan harinya untuk bisa membawanya turun dari pohon. Saat itu, Kola tidak berani turun bahkan untuk mengambil makanannya.

Kola mendapatkan kembali kesempatannya berkembang, kali ini para perawat satwa dengan perseiapan terburuk harus menginap lagi di hutan dan bersiap memanjat pohon untuk menjemputnya. Persiapan dan skenario matang akhirnya hanya sekedar rencana. Saatnya kembali ke kandang usai waktu sekolah hutan, Kola pun turun.

“Lega!!! Walau tak semudah itu”, ujar Linau, kordinator perawat satwa di BORA.

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (4)

Tim APE Crusader juga mengecek lokasi video viral orangutan menyeberang jalan. Video yang sempat ramai di media sosial ini dibuat pada akhir Februari 2021 yang lalu. Menurut saksi, orangutan tersebut menyeberang jalan dari arah kawasan konsesi pertambangan milik PT. KPC menuju kebun masyarakat di balik bukit. Orangutan tersebut memporak-porandakan kebun pepaya, mangga dan pisang warga.

Konflik seperti ini memang sulit dihindari. PT. KPC sendiri memiliki kebijakan untuk meminimalisir konflik satwa liar, salah satunya dengan mengganti rugi kerusakan yang disebabkan orangutan tersebut. Namun karena kebun yang dirusak posisinya sudah di seberang jalan, PT. KPC menolak untuk mengganti ruginya. Padahal, orangutan tidak pernah tahu, kebun siapa dan masih berbatasan langsung dengan pertambangan atau tidak. Orangutan hanya mencari makan di habitatnya. Saat habitatnya menjadi pertambangan, bukankah seharusnya tanggung jawab perusahaan?

Usaha PT. KPC yang menyelamatkan orangutan karena ada orangutan yang terluka juga bukanlah solusi jangka panjang. “Tapi saya pikir KPC omong kosong juga itu. Hutannya aja dihabisinya, gimana mau orangutannya selamat”, kata warga sekitar jalan Poros Bontang, Kalimantan Timur.

Selama penelusuran, tim APE Crusader juga menemukan satwa lain. Sepasang Elang Bondol (Haliastur indus) sedang bertengger di cabang kayu yang sudah kering. Selain itu, sepasang rangkong (Rhinoplax sp) sedang bertengger di ujung ranting pepohonan tinggi dan berjarak sekitar 70 meter dari jalan aspal. Kawanan Beruk juga dengan mudah terlihat di pinggir jalan. Beruk-beruk ini tidak takut dengan aktivitas manusia. Ketika didekati, mereka tidak lari menjauh. Selain karena sifat alami beruk yang agresif, tentu saja karena mereka sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar.

“Kita seharusnya sadar bahwa pentingnya menjaga kelestarian habitat satwa liar. Satwa liar tidak butuh gedung tinggi, uang maupun materi. Investasi bagi mereka adalah habitat yang lestari. Mungkin mereka bisa bertahan hidup di antara lahan-lahan hutan yang semakin hari tergantikan menjadi lahan tambang, perkebunan dan pemukiman. Tapi apakah kehidupan mereka layak? Bumi diciptakan untuk kepentingan semua makhluk, bukan hanya manusia. (FEB)

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (3)

Kondisi habitat orangutan di kawasan tambang batubara ini merupakan hutan sekunder karena tidak ditemukan lagi pohon besar. Macaranga gigantea, Macaranga triloba dan beberapa jenis Macaranga spp lainnya, Puspa (Schima wallichii), Dipterocarpaceae, Fabaceae, serta banyak ditemukan tumbuhan liana dan perdu. “Bisa sih orangutan hidup di hutan sekunder seperti ini, namun paling baik ya hutan primer”, ujar Febrina Mawarti Andarini, tim APE Crusader yang merupakan ahli Biologi COP.

Sepanjang jalan poros Bengalon banyak ditemukan sarang orangutan yang sudah mengering. Temuan ini bisa dibilang wajar karena dengan luasan kawasan yang tidak terlalu besar, orangutan tidak memiliki ruang jelajah yang luas, bahkan terbatas hutan sekunder sepanjang kanan dan kiri jalan karena bagian tengahnya sudah menjadi tambang batubara.

Di antara banyak sarang yang ditemukan terdapat 3 (tiga) sarang yang masih baru dengan tipe sarang A dan B dengan posisi 1 dan 2. Sarang yang masih baru ditandai dengan batang ranting dan daun yang masih hijau segar serta belum mengering. Salah satu sarang tersebut berada di atas pohon Trembesi (Samanea saman). Keberadaan sarang baru menandakan masih adanya aktivitas orangutan di kawasan tersebut.

Centre for Orangutan Protection menghimbau pengguna jalan Poros Bengalon untuk berhati-hati ketika melintas di jalan ini. Karena Orangutan bahkan satwa liar lainnya bisa saja sewaktu-waktu menyeberang. Tim APE Crusader berencana memasang beberapa papan peringatan di beberapa titik. “Jangan beri makan orangutan karena dikawatirkan orangutan akan terbiasa. Orangutan bukan hewan peliharaan. Jangan disakiti karena orangutan bukan hama”. (FEB)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (3)

Hanya drh. Putri Larasati yang bisa satu pesawat dengan kedua orangutan untuk penerbangan Semarang ke Cengkareng. Dua orang BKSDA Jateng bersama tiga orang Centre for Orangutan Protection terpaksa terbang dengan maskapai yang berbeda karena pada tanggal tersebut tiket penerbangan telah habis. Untungnya, waktu kedua penerbangan tersebut tidak terpaut jauh, bahkan karena sempat tertunda, kedua maskapai mendarat dalam waktu yang bersamaan.

Waktu makan siang, hampir semua tempat makan di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta penuh bahkan habis. Tim akhirnya menuju Periplus BookCafe and Playground. Kebetulan chef Juna (junior Rorimpadey) sedang makan juga. Sedikit ulasan dari nya, makanan yang disajikan enak termasuk cara penyajiannya yang menarik. Tapi terbilang mahal untuk kami yang biasa bekerja di lapangan.

Waktu transit telah usai. Penerbangan dari bandara Cengkareng ke Kualanamu akan ditempuh hampir tiga jam. Kali ini, semua tim satu pesawat dengan kedua orangutan. Bedanya hanya letaknya saju, orangutan berada di kargo. Dokter hewan kembali mengingatkan pramugari agar suhu ruangan untuk kargo disesuaikan dengan suhu ruangan pada umumnya. Tentu saja agar membuat kedua orangutan nyaman selama perjalanan.

Tepat saat azan magrib berkumandang, tim telah keluar dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan. Perjalanan Rambo dan Rimbi belum selesai. Setelah dilepas Bapak Sugeng (Kepala Resort Bandara Kualanamu), tim translokasi dikawal BBKSDA Sumatera Utara untuk melakukan perjalanan darat menuju Besitang, kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Tepat pukul 00.00 WIB, Minggu, 11 April 2021, Rambo dan Rimbi berpindah dari kandang angkut ke kandang klinik Sumatran Rescue Alliance. Keduanya dalam keadaan sehat. Selanjutnya, kedua orangutan akan menjalani masa karantina di SRA. Keduanya akan menjalani tes medis lengkap untuk mengetahui sejarah kesehatan medisnya. Kedua orangutan akan menjalani rehabilitasi yang waktunya tergantung kemampuan keduanya. Rambo dan Rimbi akan mengenal pakan alaminya, berlatih membuat sarang dan bertahan hidup atau mengenali predatornya.

“O iya, Rambo dan Rimbi berganti nama menjadi Asto dan Asih ya. Nama yang diberikan Menteri KLHK, ibu Siti Nurbaya. Semoga Asto dan Asih bisa lekas kembali ke habitatnya, bebas bertualang di antara pepohonan di hutan Sumatera”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection. (RIS)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (2)

Jumat 9 April 2021, tim translokasi dua bayi Orangutan Sumatera batal berangkat. Kemarin malam tim gagal mengumpulkan dokumen legal untuk mengangkut dan memindahkan satwa yang telah ditetapkan Balai Karantina setempat.

Rapid Antigen untuk kedua orangutan malam itu juga dilakukan setelah berhasil menyajikan dokumen dengan lengkap. “Ini syarat tambahan untuk mencegah penyebaran wabah Corona”, ujar drh. Larasati Putri sembari mengambil darah orangutan Rimbi.

Sabtu, 10 April, usai subuh, Rimbi dan Rambo berpindah kandang ke kandang angkut. Kedua orangutan akan masuk Kargo Garuda Indonesia terlebih dahulu. Setelah melalui pemeriksaan, tim segera bergeser ke Bandara Udara Internasional Ahmad Yani, masih satu kawasan. Tas medis dokter hewan Sumatran Rescue Alliance (SRA) sempat tertahan dan harus dibongkar karena ada beberapa perlengkapan yang tidak diperbolehkan naik ke pesawat.

Kendala tak hanya sampai di situ. Penerbangan Garuda yang seharusnya terbang lebih dahulu terlihat tertahan di landasan karena pengecekan dari pihak maskapai. Tim yang menggunakan penerbangan lain pun hampir membatalkan penerbangan agar ada yang mengurus orangutan nantinya jika gagal terbang hari itu. Tim APE Warrior beserta relawan yang ikut mengurus orangutan selama di Semarang pun menunda kepulangan mereka ke Yogyakarta. “Syukurlah, akhirnya kami mendapat kepastian Garuda siap terbang”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection.

Transit di Jakarta, tim Garuda telah siap menyambut dokter hewan yang bertugas mengecek orangutan Rimbi dan Rambo. “Luar biasa Garuda. Kemarin, COP juga menerbangkan dua orangutan ke Kalimantan. Hari ini, dua orangutan lagi ke Sumatera Utara. Crew Ground Garuda juga memastikan selama 5 jam transit, orangutan bahkan drh. Laras dan BKSDA Jateng tidak kekurangan suatu apa pun”, kata Daniek Hendarto lagi. (RIS)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (1)

Siang yang sumuk dan terik diselingi angin sepoi-sepoi dari balik kerangkeng besi pelan-pelan kedua kelopak matanya turun dan terlelap. Rimbi, begitu kami menamainya. Satu individu orangutan betina. Tak jauh dari tempatnya terlelap, Rambo juga tengah menopang kepala dengan lengan kirinya dan tampak merasai rasa kantuk yang juga menyerang.

Jumat, 9 April 2021, siang itu tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection (COP) melakukan shift berjaga menemani Rimbi dan Rambo yang sehari sebelumnya berhasil dipindahkan dari kandang di Agrowisata Sidomuncul menuju Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Dua hari sebelumnya BKSDA Jateng menyita kepemilikan ilegal kedua orangutan tersebut berdasarkan laporan tim APE Warrior COP pada 27 Maret 2021 di salah satu vila di daerah Bandungan, kabupaten Semarang.

Usia kedua orangutan Sumatera ini berkisar 2-5 tahun. Usia yang masih sangat muda dan memiliki peluang besar untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Pertimbangan konservasi inilah yang mengantarkan BKSDA Jateng melakukan translokasi ke pusat rehabilitasi orangutan dan primata dilindungi lainnya yang bernama Sumatra Rescue Alliance (SRA) yang berada di Besitang, Langkat, Sumatera Utara. SRA yang baru beroperasi Januari 2021 ini dikelolah oleh BBKSDA Sumatera Utara bersama Orangutan Information Center dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Setelah tertunda satu hari karena ada dokumen legal yang menjadi acuan dalam proses pengangkutan dan pemindahan satwa yang harus dipenuhi, akhirnya Sabtu 10 April, Rimbi dan Rambo berhasil terbang ke Medan. (RIS)

KEDUA ORANGUTAN DARI WRC JOGJA TELAH TIBA DI BORA

Begitu banyak orang yang menunggu berita ini. Kapan Ucokwati dan Mungil mendapatkan kesempatan keduanya kembali ke habitatnya. Induk dan anak yang telah bertahan hidup di seberang pulau yaitu pulau Jawa, sebuah pulau dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Tentu saja itu akan menjadi hari yang mengharukan. Ternyata tidak semudah itu, keduanya tetap harus menjalani proses panjang yang mendebarkan.

Januari 2021, pemeriksaan medis di tengah pandemi COVID-19 menguras energi tersendiri. Tim medis dan lainnya harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Pemakaian baju hazmat menjadi tantangan tertentu, tetap harus lincah dan berpikir cepat. Pengiriman sampel juga tidak semudah sebelumnya, sampel harus aman. Syukurlah hasil medis yang tidak sekaligus keluar itu membawa kabar gembira. Pemindahan Ucokwati dan Mungil tinggal menunggu waktu.

8 April 2021, kedua orangutan dalam pengaruh bius dimasukkan ke kandang angkut. Sifat agresif keduanya sempat membuat ciut tim. Tengah hari tim melaju kendaraan ke kargo Garuda Indonesia di bandara Yogyakarta Internasional Airport. Perencanaan dua minggu sebelumnya benar-benar diuji. BKSDA Yogyakarta tak putus-putus berkordinasi dengan BKSDA Kaltim. COP sendiri sangat terbantu dengan Garuda Indonesia dan kargo Garuda Indonesia. “Sayang penerbangan ke Balikpapan-Berau tak bisa dilalui jalur udara karena ukuran kandang tak bisa masuk kargo. Tim menempuh jalur darat yang menguras tenaga”, ujar Ramadhani, kordinator pemindahan orangutan dari Yogya ke Berau.

10 April, setelah melalui transit di Jakarta selama delapan jam dan melalui perjalanan darat 24 jam, Ucokwati dan Mungil tiba di Bornean Orangutan Rescue Alliance, Berau-Kalimantan Timur. Keduanya tampak tenang. “Ucokwati dan Mungil kini berada di kandang karantina, kami berharap dalam dua minggu ini dapat mengumpulkan data prilakunya selama di kandang karantina. Semoga keduanya dapat melalui masa karantina dengan baik”, jelas Widi Nursanti, manajer BORA.

GAPURA DAN POS JAGA DI KHDTK LABANAN SEBAGAI IDENTITAS

Ada lima orangutan yang akan ikut sekolah hutan hari ini. Owi, Happi, Berani dan Annie dengan pengawasan bang Linau, Amir, Steven, Simson sementara Aku yang bertugas mengawasi setiap behaviour atau tingkah laku orangutan bernama Aman. Setelah para perawat satwa memberi makan orangutan yang tidak ikut sekolah hutan, cerita sekolah hutan pertama saya dimulai.

Ketika kandang orangutan jantan dibuka, keempat orangutan tersebut sudah paham dan mengerti kalau hari ini adalah giliran mereka yang ke sekolah hutan, tetapi tidak bagi orangutan Aman dengan tubuhnya yang kecil dan terlihat masih takut-takut hingga harus dipaksa keluar kandang. Buah pepaya kesukaannya tak cukup membawanya keluar kandang sebagai pancingan, akhirnya bang Linau, kordinator perawat satwa pun masuk dan menariknya keluar kandang. Selanjutnya bang Linau menyerahkan Aman kepadaku, tak disangka Aman langsung memelukku dengan kuat. Di situlah untuk pertama kalinya aku menggendong orangutan. “Lupa, berapa beratnya Aman yang tertera di dinding gudang pakan orangutan, hanya perkiraan saja seperti berat dua buah galon air minum”, gumam Yudi sambil mengatur nafas yang mulai terengah-engah.

Tidak mudah berjalan di hutan sambil menggendong bayi orangutan. Sebenarnya jarak lokasi sekolah hutan dari kandang tidak terlalu jauh, melewati akar pohon besar, tanah berlumpur dan becek bercampur emosiku yang melayang membayangkan apa yang terjadi dengan induknya. Sesampai di sekolah hutan, para orangutan segera bergerak menjauhi perawat satwa untuk langsung memanjat pohon yang tinggi. Aman masih tak mau melepaskan pelukannya dariku.

“Taruh saja di pohon ini, nanti dia naik sendiri”, ujar salah satu perawat satwa. Tak disangka Aman mulai memanjat. Lagi-lagi, ini adalah pertama kalinya aku melihat orangutan memanjat dari bawah menuju puncak pohon. Aman begitu tenang di atas sambil sesekali memetik beberapa daun untuk dimakannya, bergerak ke sana-sini mencari daun muda yang bisa dimakan hingga bergerak ke ujung pohon. “Baiklah Aman… aku mengawasimu”. (YUD)

PELETAKKAN BATU PERTAMA KLINIK DAN KARANTINA BORA

Berita bahagia dari Berau, Kalimantan Timur menjelang tahun ke-14 Pusat Perlindungan Orangutan atau yang lebih dikenal Centre for Orangutan Protection (COP). COP akan membangun klinik dan karantina Bornean Orangutan Rescue Alliance di tempat yang lebih mudah dijangkau dan dengan fasilitas yang nantinya akan lebih memadai. “Klinik Pusat Rehabilitasi Orangutan yang berada KHDTK Labanan telah berdiri selama lima tahun ini tidak cukup berkembang karena keterbatasan fasilitas. Kami berharap, lokasi yang baru ini dapat lebih memfungsikan klinik untuk menyelamatkan lebih banyak lagi satwa liar Indonesia”, kata Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection.

Sabtu, 27 Februari 2021 peletakkan batu pertama klinik dan karantina BORA di Desa Tasuk oleh Ir. Sunandar Trigunajasa N., MM yang menjabat Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur. Dukungan dari pemerintah setempat yaitu Kepala Desa Tasuk, Ibu Hj. Faridah beserta masyarakat sekitar juga memberi semangat COP agar dapat memulai dan mengoperasikan klinik dan karantina ini dengan baik. Dalam sambutannya Pak Nandar maupun Ibu Faridah berharap semoga pembangunan klinik dan karantina BORA berjalan dengan lancar, ke depannya bisa bermanfaat bagi satwa maupun masyarakat sekitar.

Kesempatan berkumpul yang cukup jarang terjadi ini diisi dengan penanaman pohon juga. Tak hanya Kepala BKSDA Kaltim dan Kepala Desa saja yang kebagian menanam pohon, namun seluruh hadirin akhirnya menandai kehadirannya dengan menanam pohon. Secara keseluruhan acara berjalan dengan lancar dan tetap mematuhi protokol kesehatan sejak pandemi COVID-19 ada. Semoga pohon-pohon tersebut dapat hidup dan tumbuh dengan baik seiring pembangunan dan dapat menghasilkan untuk pakan satwa dan memberi keteduhan di lingkungan klinik dan karantina BORA. (WET)