DARI THAILAND KE RUMAH, KISAH REPATRIASI JAY, BOW, NOON, DAN RAIKING

Pada 24 Desember 2025, empat bayi orangutan akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah air setelah melalui proses repatriasi lintas negara. Jay, Bow, Noon, dan Raiking mendarat dengan selamat di Bandara Kualanamu dan kini menjalani masa karantina di pusat rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA), Langkat.

Keempatnya merupakan korban perdagangan satwa liar ilegal. Jay, Bow, dan Noon lebih dahulu tiba di pusat penyelamatan satwa Praptuchang pada Januari 2025. Nama mereka terinspirasi dari trio penyanyi perempuan Thailand yang sempat viral pada masa pandemi COVID-19, yaitu Jane, Bow, dan Noon. Nama “Jane” kemudian diadaptasi menjadi Jay untuk menyesuaikan identitas Jay sebagai individu jantan. Raiking, jantan lainnya, tiba menyusul pada Mei 2025. Namanya berarti “raja di hutan”, sebuah ironi pahit bagi bayi orangutan yang kehilangan hutannya sejak dini.

Saat pertama kali kami melihat mereka, keempatnya berada dalam kondisi waspada. Mereka selalu bergerombol dan saling berpelukan, seolah mencari rasa aman satu sama lain. Di alam, usia mereka seharusnya masih dihabiskan dalam dekapan ibu, menyusu, bergelantungan di antara dahan, serta belajar mengenali dedaunan, buah, dan kulit kayu yang aman dimakan. Semua pelajaran itu terhenti terlalu cepat.

Raiking segera mendapat julukan “ketua geng”. Ia nyaris tak pernah mendekati manusia, bahkan ketika ketiga temannya mengambil potongan buah dari tangan kami. Ia akan merebut buah milik teman-temannya lalu makan dengan tatapan selalu awas. Ia juga kerap mengusir kami dengan gerakan agresif, menggoyang hammock, atau mengeluarkan suara kiss squeak dan grunt, seolah menjalankan peran pelindung meski dirinya sendiri masih bayi.

Perjalanan pulang mereka dimulai pada 23 Desember 2025 dari Bangkok menuju Jakarta. Setelah bermalam satu malam di Jakarta, mereka melanjutkan penerbangan ke Medan pada 24 Desember dan tiba di pusat rehabilitasi di Besitang, Langkat, Sumut pada sore hari menjelang malam Natal. Pengumuman awak Garuda masih terngiang-ngiang, saat itu para penumpang pesawat Garuda bersorak gembira ketika pramugari mengumumkan bahwa 4 orangutan ikut serta dalam penerbangan GA867 Bangkok-Jakarta. Kami tidak dapat menahan airmata haru. Akhirnya perjalanan panjang dari ibunya yg tewas, labirin gelap perdagangan satwa liar ilegal. (TYT)

CATATAN AKHIR TAHUN APE WARRIOR 2025

Tahun 2025 menjadi perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus penguatan komitmen bagi APE Warrior dalam memperjuangkan keselamatan dan keberlanjutan satwa. Sepanjang satu tahun terakhir APE Warrior hadir di berbagai situasi krisis, konflik antara manusia dan satwa, hingga ruang edukasi publik, memastikan bahwa satwa tidak lagi menjadi pihak yang terabaikan dalam setiap bencana dan perubahan lingkungan.

Pada September 2025, APE Warrior melakukan asesmen dampak banjir di Bali sebagai upaya menyelamatkan satwa yang membutuhkan pertolongan serta menghadirkan kehidupan yang lebih baik, termasuk memberikan kesempatan kedua untuk kembali hidup bebas di alam liar. Selanjutnya pada November, tim terjun langsung menangani satwa terdampak erupsi Gunung Semeru. Ada sekitar 300 satwa terdampak, sterilisasi bangkai ternak untuk mencegah risiko kesehatan, distribusi pakan darurat baik untuk ternak maupun satwa kesayangan, pembangunan kandang komunal, serta layanan medis kolaborasi dinas terkait, Orangufriends, dan relawan lokal untuk mempercepat penanganan.

Konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi isu berulang, khususnya di kawasan urban, Sepanjang tahun 2025, APE Warrior menerima dan menangani 8 laporan konflik satwa liar dari masyarakat. Dari penanganan terebut, dilakukan evakuasi dan pelepasliaran terhadap 5 ekor monyet panjang. Edukasi kepada masyarakat, upaya mitigasi konflik, serta advokasi perlindungan satwa terus dilakukan agar keselamatan manusia dan satwa dapat berjalan beriringan.

Selain respons darurat, APE Warrior secara konsisten melawan perburuan, perdagangan, dan kepemilikan ilegal satwa melalui kerja investigasi, penegakan hukum, serta upaya konservasi dan pemulihan lingkungan. Sepanjang 2025, APE Warrior mengumpulkan 17 data investigasi dan melaksanakan 4 kasus penegakan hukum yang berhasil mendorong proses hukum hingga para pelaku kejahatan satwa liar dijatuhi hukuman penjara.

Upaya perlindungan ini juga diwujudkan melalui translokasi satwa dilindungi sebanyak 3 kali. Pada Januari 2025 dilakukan translokasi 1 ekor owa sumatra. Pada Juli 2025, APE Warrior melakukan translokasi 1 individu orangutan Kalimantan yang telah dipelihara selama 25 tahun. Selanjutnya, pada November 2025 dilakukan penegakan hukum atas laporan kepemilikan ilegal 2 ekor owa jawa di salah satu bangunan di Malang, Jawa Timur. Sebagai bagian dari upaya pencegahan perdagangan satwa liar, APE Warrior juga melaksanakan survei pasar burung di 16 lokasi serta melakukan kunjungan pemantauan ke 15 kebun binatang.

Berbagai kegiatan edukasi dan kampanye penyadartahuan publik dilaksanakan dengan rincian, siaran radio sebanyak 10 kali, kelas bulanan Dating APES sebanyak 9 kali, latihan perahu sebanyak 2 kali, serta kali kunjungan ke sekolah. Selain itu, APE Warrior turut berpartisipasi dalam berbagai acara publik dengan total audien lebih dari 300 orang. Pada tahun ini pula, APE Warrior menyelenggarakan event tahunan COP School Batch 15 serta Animal Disaster Relief Training Batch 3 sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan komunikasi dalam isu perlindungan satwa dan kebencanaan.

Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, APE Warrior membuka stand merchandise di berbagai acara komunitas dan konser amal sepanjang tahun. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana, tetapi juga menjadi sarana memperluas jejaring, memperkenalkan isu perlindungan satwa kepada audiends yang lebih luas, serta mengajak publik terlibat langsung dalam upaya perlindungan satwa.

Menutup tahun 2025, APE Warrior menyadari bahwa perjuangan ini masih panjang. Setiap operasi lapangan, penegakan hukum, edukasi, dan kampanye menjadi pengingat bahwa satwa membutuhkan suara yang konsisten dan tindakan nyata. Dengan dukungan relawan, mitra, dan masyarakat, APE Warrior melangkah ke tahun berikutnya dengan komitmen untuk menghadirkan respons yang lebih cepat, advokasi yang lebih kuat, serta masa depan yang lebih aman bagi satwa dan alam. (DIT)

INFORMASI UNTUK KONSERVASI

Debu dan lubang di jalan poros Wahau-Berau, Kalimantan Timur menjadi saksi bisu perjalanan tim APE Crusader dalam menjalankan tugasnya. Pekerjaan ini bukan hanya tentang patroli atau operasi penyelamatan yang mengharuskan kami keluar-masuk hutan, tetapi juga tentang mengumpulkan informasi krusial dari masyarakat setempat. Banyak dari mereka membuka ladang di dekat hutan, rumah bagi orangutan.

Informasi mengenai interaksi negatif manusia-orangutan, pemeliharaan ilegal, serta berbagai kejadian terkait lainnya tidak luput dari perhatian kami. Tak jarang, bayi orangutan dipelihara sebagai hewan piaraan karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan. Data dan cerita seperti ini sangat penting untuk pemetaan hotspot interaksi negatif, penyusunan program edukasi, hingga perencanaan operasi penyelamatan bersama BKSDA jika diperlukan.

Seperti biasa, saya memulai dengan mendatangi lokasi-lokasi yang disinyalir masih memiliki keberadaan individu orangutan. Bertamu ke rumah-rumah warga, duduk di teras, mengobrol ringan, hingga makan bersama orang-orang yang sebelumnya bahkan belum saya kenal. Awalnya suasana ramah. Namun begitu saya mulai melempar pertanyaan tentang konflik dengan orangutan, atmosfer langsung berubah. Tatapan mata menghindar, jawaban menjadi singkat dan kabur.

“Jarang lihat, Mas” atau “Sudah lama gak ada”.

Saya paham betul alasannya, takut. Takut dianggap terlibat, takut memicu konflik dengan tetangga, atau takut pada hukum yang tegas dalam perlindungan satwa liar.

Saat patroli, saya sering melihat di kebun sawit pohon-pohon muda yang rusak. Bukan buah sawitnya yang dimakan, melainkan umbut muda yang baru tumbuh – sumber makananbagi orangutan yang kelaparan karena habitatnya kian menyempit. Hutan yang dulu menyediakan beragam pakan kini berubah menjadi perkebunan monokultur dengan sangat sedikit pohon pakan alami.

Petani pun frustasi. Mata pencaharian mereka terancam. Beberapa kali saya menangkap cerita-cerita tersirat tentang orangutan yang “hilang”, mungkin diusir dengan parang atau bahkan sesuatu yang lebih buruk. Namun detil lokasi, waktu kejadian, maupun pelakunya hampir selalu disembunyikan atau benar-benar tidak diketahui. Budaya saling melindungi di desa-desa kecil membuat dinding informasi itu semakin tebal.

Ketika pertama kali turun ke lapangan, yang kami miliki hanyalah potongan-potongan cerita dan dugaan. Namun itulah realitas kerja lapangan. Bekerja dengan informasi setengah-setengah adalah hal yang biasa, sekaligus tantangan dan bagian paling menarik. Bagaimana kami menyusun kepingan-kepingan informasi itu menjadi sebuah puzzle, lalu merangkainya menjadi peta aksi yang valid untuk langkah konservasi orangutan.

Basah kuyup diguyur hujan, terjatuh dari motor saat melintasi jalan berlumpur, hingga tapir tersasar di tengah perkebunan kelapa sawit atau hutan rimba adalah risiko yang sudah biasa kami hadapi. Namun setiap kali teringat bahwa satu potong informasi dapat menyelamatkan satu nyawa orangutan, kami terus melangkah maju.

Di Kalimantan Timur, orangutan bukan sekadar satwa. Mereka adalah penjaga sekaligus petani hutan yang perannya sangat penting bagi keseimbangan bumi ini. (WIB)

PAKAN TERNAK UNTUK BENCANA GALODO DI PALEMBAYAN, SUMBAR

Palembayan menyambut kami tanpa banyak pilihan jalan. Banjir bandang dan galodo meninggalkan batu-batu besar dan batang pohon yang berhenti begitu saja di tengah akses warga, memisahkan satu kampung dengan kampung lainnya. Kami masuk ke ruang yang terputus, mengikuti langkah tim Animal Rescue COP yang lebih dahulu bergerak. Bersama bergerak dari apa yang bisa dijangkau, dari cerita yang lebih dulu kami dengar di lapangan.

Di antara rumah yang masih berdiri, kehidupan tetap berjalan meski dengan ritme yang berbeda. Sapi dan kambing terlihat bertahan, sementara kucing dan anjing banyak yang tertatih, kakinya terinfeksi lumpur dan basah. Penanganan dilakukan, dibantu dokter hewan yang ikut turun langsung. Di sela-sela itu, suasana tidak terlalu berat, mencuri istirahat sejenak. Candaan kecil muncul dari warga, dari relawan, juga dari kawan-kawan patroli dari Sontang Cibadak yang biasanya menjaga hutan Pasaman, dan kali ini ikut membantu di kampung. Obrolan singkat, tawa yang muncul kala-kala, lalu kembali bekerja lagi. Begitulah hari-hari kami berjalan di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat tepat di titik bencana.

Saat kebutuhan paling mendesak mulai terlihat, kami membuka posko pembagian pakan untuk ternak dan makanan pendamping bersama Puskewan Palembayan. Bantuan tersalurkan sembari cerita yang terus mengalir, tentang apa yang hilang dan apa yang masih bisa disyukuri. Beruntungnya, Palembayan sedang berada di musim panen. Lansat, jambu, dan durian yang cukup melimpah masih bisa ditemukan, ikut menompang kebutuhan pangan warga pasca bencana. Dari tempat ini, ami melanjutkan langkah ke lokasi lain dengan satu catatan sederhana, dalam situasi darurat, hadir tepat waktu dan bekerja bersama sering kali jauh lebih berarti daripada rencana yang terdengar sempurna. (VID)

SATU TAHUN FELIX DI BORA

Tak terasa, sudah satu tahun lamanya Felix kami rawat di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dalam kurun waktu tersebut, begitu banyak perubahan dan perkembangan positif yang terlihat pada diri Felix.

Sebelum bercerita tentang Felix yang sekarang, aku ingin mengajak kilas balik sejenak ke masa awal kedatangan di BORA. Felix adalah bayi orangutan hasil konfiskasi. Sebelumnya, ia dipelihara sebagai hewan peliharaan oleh warga setempat. Kami sangat bersyukur Felix akhirnya berhasil di-rescue.

Saat pertama kali tiba, kondisi Felix sangat memprihatinkan. Tubuhnya kecil, lemah, dan dipenuhi luka. Ia hampir tidak memiliki energi untuk bergerak, sehingga hanya bisa duduk di pangkuan babysitter. Felix bahkan sempat mengalami demam yang membuatnya harus mengonsumsi obat hingga larut malam. Masa-masa itu menjadi periode yang berat, bagi Felix maupun bagi kami yang merawatnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Felix berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Kini Felix telah tumbuh menjadi orangutan yang aktif, dan gemar bermain serta mengeksplorasi pepohonan tinggi. Selama satu tahun berada di pusat rehabilitasi, Felix bertemu banyak teman sesama orangutan yang membantunya belajar dan bertumbuh untuk benar-benar “menjadi” orangutan.

Salah satu teman terdekat Felix adalah Pansy, kawan satu kandangnya. Felix yang awalnya terlihat takut-takut pada Pansy, kini hampir selalu beraktivitas bersama, baik di dalam kandang maupun di sekolah hutan. Felix bahkan akan menangis ketika keeper hanya mengajak Pansy ke sekolah hutan tanpa dirinya. Ada momen-momen lucu ketika Pansy yang lebih lihai berpindah dari satu pohon ke pohon lain, sementara Felix kesulitan mengikutinya dan hanya bisa dia melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya hanya bisa diam melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya seperti tidak terpisahkan.

Selain Pansy, Felix juga memiliki orangutan favorit lainnya, yaitu Harapi dan Ochre. Bersama dua sahabat ini, Felix lebih sering bermain berguling-guling di tanah. Hal ini berbeda saat ia bersama Pansy yang cenderung mengajaknya berkeliling area sekolah hutan dari atas pohon. Ada kalanya Felix sudah berhasil memanjat ke atas pohon, namun begitu melihat Harapi atau Ochre di bawah, ia akan langsung memilih turun dan bermain di lantai hutan, sesuatu yang sering kali membuat babysitter sedikit kesal.

Felix memang telah berkembang pesat selama satu tahun terakhir. Meski begitu, masih banyak keterampilan liar yang perlu ia pelajari ke depannya. Perjalanan Felix masih panjang dan kami akan terus mendampingi setiap langkahnya menuju kehidupan yang lebih mandiri sebagai orangutan liar. (JAN)

JEJAK SUNYI, MENELISIK SATWA LIAR DI MALAM HARI

Malam itu, kabut menggantung rendah di antara pepohonan ketika tim APE Guardian melangkah masuk ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Berbekal headlamp, kamera, dan sepatu yang setia menemani perjalanan, kami kembali menyusuri hutan yang sudah akrab namun selalu menyimpan kejutan. Malam bukan sekedar waktu beristirahat bagi hutan, melainkan saat kehidupan lain perlahan menampakkan diri.

Kegiatan kali ini berfokus pada pengamatan reptil, amfibi, dan burung. Pada malam hari, banyak sekali burung sedang beristirahat sehingga lebih mudah diamati dan didokumentasikan. Kami berjalan perlahan menyusuri jalur setapak dan aliran anak sungai yang jernih, menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan satwa yang bersembunyi di balik rimbun dedaunan. Suara serangga berpadu dengan gemerisik air, menciptakan suasana sunyi yang hidup. Setiap gerakan kecil kami amati dengan seksama, seolah menjadi petunjuk keberadaan makhluk malam yang kami cari.

Tak lama berselang, seekor Paok delima terbang melintasi saat tersorot cahaya headlamp. Kami segera mematikan lampu dan menunggu dengan sabar. Benar saja, burung itu kembali hinggap di sebuah ranting, memberi kami kesempatan untuk mendokumentasikannya. Beberapa langkah kemudian, suara ranger memanggil dari depan, “kini unsuwi”, dalam bahasa Dayak Kenyah yang berarti “ke sini ada burung”. Kami segera menghampiri dan di hadapan kami tampak seekor Seriwang asia bertengger tenang di atas liana. Burung ini jarang terlihat di siang hari, lebih sering melintas cepat dan menghilang di balik semak.

Perjalanan berlanjut menyusuri aliran sungai kecil yang menjadi rumah bagi katak dan ular. Dengan langkah pelan, kami menyusuri air dingin yang membasahi pinggang. Di tepian sungai yang sunyi, dua ekor katak bersahut-sahutan, suaranya lembut seperti nyanyian alam yang mengiring turunnya hujan malam. Suasana hutan terasa semakin rapat, seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Tiba-tiba, langkah kami terhenti. Di balik anyaman akar pohon tua, tampak seekor ular kobra bersembunyi dalam diam. Anggun dan waspada, sisiknya yang gelap berkilau lembut terkena cahaya senter. Dalam momen itu, waktu seakan melambat. Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa di hadapan kami berdiri salah satu penjaga sunyi hutan malam, hadir tanpa suara namun penuh wibawa. (LUT)

DARI ABU MERAPI KE GARIS DEPAN BENCANA

Bencana selalu datang dengan urutan yang sama, sirene – evakuasi – angka korban – lalu senyap. Tapi di balik daftar penyita manusia, ada barisan nyawa lain yang nyaris tak pernah masuk laporan satwa. Letusan, banjir, gempa, kebakaran, hingga angin ekstrem terus berulang, memperlihatkan pola lama yang tak kunjung dibenahi. Ketika manusia menyelamatkan diri, hewan ditinggalkan. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing, mereka menjadi korban bisu dari sistem tanggap darurat yang belum menganggap nyawa non-manusia sebagai prioritas.

Kesadaran itu mencapai titik balik pada letusan besar Gunung Merapi 2010. Ribuan ternak mati bukan hanya karena awan panas dan abu, tetapi juga karena kelaparan dan ketiadaan penanganan setelah pemiliknya mengungsi. Negara sibuk menghitung kerugian infrastruktur, sementara kandang-kandang kosong dipenuhi bangkai dan hewan yang sekarat. Di celah itulah, Centre for Orangutan Protection (COP) yang dikenal lewat konservasi orangutan memutuskan turun tangan ke desa-desa terdampak, mengevakuasi ternak, mendistribusikan pakan hijau, serta merawat anjing dan kucing yang ditinggal menjaga rumah dan kandang.

Dari pengalaman lapangan itulah APE Warrior lahir, sebuah tim tanggap darurat satwa yang hadir ketika perhatian publik dan kebijakan sering berhenti pada manusia. APE Warrior bukan sekadar relawan, melainkan sistem respons berbasis data satwa, logistik pakan, penanganan medis, hingga sterilisasi bangkai untuk mencegah wabah. Dan satu hal yang kerap disalahpahami, kami tidak berjalan sendiri. Setiap langkah dilakukan secara resmi, berkoordinasi dan berada di bawah arahan Dinas Peternakan setempat agar kerja penyelamatan berjalan aman, terukur, dan bertanggung jawab.

Lima belas tahun setelah Merapi 2010, APE Warrior masih berdiri di garis depan. Bukan karena bencana berhenti datang, melainkan karena ia terus berulang. Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat yang tak nyaman, selama sistem tanggap darurat masih memandang satwa sebagai urusan sampingan. APE Warrior akan tetap turun bersama negara, di lapangan. Dan selama bumi terus memberi peringatan, pertanyaannya tetap sama, “Apakah kita masih mau berpura-pura lupa bahwa keselamatan seharusnya tidak hanya milik manusia?”. (DIT)

ORANGUTAN, DURIAN, DAN TUGAS APE GUARDIAN

Di kedalaman Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat yang masih berselimut kabut pagi, tim APE Guardian sudah siap dengan teropong-teropongnya dan buku catatan. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah puncak musim buah, dan aroma yang memenuhi udara tak lain adalah aroma durian. Sang raja buah sedang dicari oleh penghuni hutan, termasuk orangutan.

Di bawah langit hutan yang lembab, terekam satu individual orangutan betina tengah menggendong anaknya. Mata cokelatnya yang sayu tertuju pada sebuah durian yang tergeletak di tanah, buahnya sudah mulai merekah tanda matang. Bagi orangutan, durian adalah sumber energi yang luar biasa. Rasanya manis dan kaya nutrisi. Dengan jemari dan gigi yang kuat, ia membuka buah berduri tajam itu tanpa kesulitan, lalu dengan lap menikmati daging buah berwarna kuning mentega bersama buah hatinya.

Dari layar kamera, tim mengamati perilaku orangutan tersebut dengan sasana. Tugas kami sangat krusial bagi kelestarian primata ini. Setiap gerak-geriknya dicatat, mulai dari jenis pakan yang dimakan, titik koordinat, hingga lokasi tempat orangutan menikmati durian itu.

“Lihat itu, Lut”, bisik Igo sambil menunjuk ke pohon bayur di sebelah pohon durian. Di sana terlihat sebuah sarang orangutan yang diindikasikan sebagai sarang kelas 3, ditandai dengan daun-daunnya yang sudah layu. “Dia tidak akan pindah sebelum buah durian ini habis”, ujar Igo. Kami tersenyum samba mencatat koordinat dan mendokumentasikan sarang tersebut. “Itulah indahnya tugas kita. Dengan menjaga pohon durian ini, kita sebenarnya sedang menaga rumah dan masa depan orangutan”.

Di sekitar lokasi, kami menemukan lima buah durian yang sudah habis dimakan, jaraknya tidak jauh dari pohon induk. Orangutan adalah petani hutan. Ia berpindah dari satu dahan ke dahan lain, lalu menjatuhkan biji durian yang telah bersih dari daging buah ke lantai hutan. “Itu poin penting”, ujar kami memotret sisa kulit buah di bawah pohon. Tanpa orangutan, regenerasi pohon di area seluas ini akan berjalan sangat lambat. Dialah yang membawa dan menyebarkan benih durian untuk tumbuh dan kelak kembali menjadi sumber pakan.

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga di sela-sela dedaunan pohon menggerus yang menjulang tinggi. Tanda-tanda kehadiran satwa diurnal perlahan menghilang, dan kami pun berkemas. Tugas hari ini terasa berat, namun menemukan jejak kehadiran orangutan serta hasil foto dari kamera jebak memberi kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Besok kita kembali lagi. Kita pasang kamera di sini dan di pohon durian lainnya”, ujar salah satu dari kami. “Kami pastikan petani hutan ini bisa menyebarkan benihnya lebih jauh”. (LUT)

COP HADIR PADA DISKUSI PUBLIK MONYET EKOR PANJANG DI PAKEM

Aula Kelurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman menjadi lokasi digelarnya Dialog Bersama Masyarakat pada Selasa 11 November 2025. Kegiatan ini diadakan sebagai respons meningkatnya laporan gangguan monyet ekor panjang di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta dan desa penyangganya. Konflik yang hampir terjadi setiap bulan ini dinilai semakin merugikan masyarakat, terutama dari sisi perekonomian.

Empat narasumber dari berbagai lembaga hadir memberikan pandangan lintas perspektif. Lenny Hapsari Dewi dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kemenhut, Prof. Sena Adi Subrata dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Heri Wijayanto dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, serta Satria Wardhana dari Centre for Orangutan Protection memaparkan kondisi habitat, perilaku satwa, aspek kesehatan hewan, dan kebutuhan intervensi berbasis kolaborasi. Diskusi berlangsung aktif, terutama saat warga menyampaikan bahwa upaya yang mereka lakukan kerap tidak cukup tanpa dukungan kebijakan yang kuat. Desakan agar pemerintah menindaklanjuti rekomendasi forum pun mengemuka.

Sekitar lima puluh peserta dari berbagai instansi, seperti DLHK DIY, Dinas Kehutanan Kabupaten Sleman dan Magelang, BPBD Sleman, UPTD BPPTPH, Dinas Pariwisata Sleman, serta perangkat desa dan masyarakat sekitar turut hadir. Forum ini menghasilkan kesepahaman bahwa menyelesaikan konflik manusia dan satwa lereng Merapi memerlukan kolaborasi lintas sektor. Semua pihak sepakat bahwa langkah bersama perlu segera diwujudkan agar konflik tidak lagi menjadi kejadian bulanan, melainkan dapat dikelola menuju kondisi yang lebih seimbang antara masyarakat dan alam. (DIT)

DI TENGAH ABU LERENG SEMERU, COP BERGERAK UNTUK SATWA!

Selama dua minggu berada di lereng Gunung Semeru, tim APE Warrior hidup dalam ritme yang ditentukan oleh abu, suara relawan, dan panggilan warga yang menemukan satwa terluka. Setiap langkah membawa jejak debu vulkanik tetapi juga menghadirkan harapan kecil bahwa masih ada nyawa yang bisa diselamatkan. Di Sumbersari, Gumuk Mas, Kamar A, dan Kandang Komunal Huntap, tim bergerak dengan satu keyakinan yang sama, yaitu tidak meninggalkan siapa pun, termasuk satwa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Hari-hari pertama dipenuhi temuan ternak yang sudah tidak diselamatkan. Sterilisasi bangkai menjadi tugas paling berat, bukan hanya jumlahnya tetapi karena setiap hewan pernah menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang kini harus merelakan. Setiap bangkai menyimpan kisah kehilangan yang tidak terlihat dan tim belajar menghadapi duka itu dengan ketenangan dan rasa hormat.

Di sela kesedihan, harapan perlahan muncul dari distribusi pakan. Hijauan, konsentrat, dan pakan untuk satwa liar dibawa ke titik-titik yang masih dihuni ternak dan satwa yang bertahan. Ada kambing yang berlari kecil saat mencium aroma hijauan segar, ada kucing yang akhirnya mau makan setelah berhari-hari menggigil ketakutan. Momen kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tetap berusaha bertahan meski dikelilingi abu dan ketidakpastian.

Ruang medis lapangan menjadi tempat lain dimana harapan dirawat dengan sungguh-sungguh. Beberapa kambing yang terluka dan sejumlah kucing yang lemah menerima perawatan intensif. Salah satunya adalah seekor kucing yang masih sangat kecil dan hampir tidak bersuara. Ketika matanya akhirnya terbuka dan iii mulai menyusu dengan tenang, seluruh tim merasakan kelegaan yang sulit digambarkan, seolah semangat mereka ikut hidup kembali.

Bagian terakhir dari perjalanan ini adalah proses evakuasi. Puluhan kambing dan beberapa kucing berhasil dibawa keluar dari zona berbahaya satu per satu dengan perjuangan yang tidak ringan. Ketika status tanggap darurat berakhir pada 2 Desember, tim berdiri di bawah langit Semeru dalam keadaan lelah dan berdebu tetapi penuh rasa bangga. Tim pulang dengan keyakinan bahwa di tengah bencana mereka telah membantu menjaga kehidupan yang mungkin tidak terdengar oleh banyak orang namun sangat berarti bagi mereka yang berhasil selamat. (DIT)