KEAJAIBAN DI BALIK RENDA HUTAN

Di tengah rapatnya tegakkan pohon yang menjulang tinggi dan akar-akar yang memenuhi lantai hutan, saya dengan hati-hati melangkah menyusuri kawasan hutan yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kami sedang melakukan survei mencari lokasi yang cocok untuk pelepasliaran orangutan. Suara burung bersahutan, sementara gemerisik dedaunan menjadi latar alami perjalanan tim. Tiba-tiba, langkah salah satu anggota tim terhenti, “Eh, tunggu sebentar! Ini apa, ya?”, seru Raffi dengan mata berbinar, tangannya menunjuk ke tanah.

Yang lain segera mendekat. Di hadapan tim, di antara lumut dan dedaunan lembab, berdiri sebuah jamur unik. Tudung hijau kecil bertengger di atasnya, sementara jaring putih tipis menjuntai ke bawah, menyerupai renda halus. Dimi membungkuk, matanya berbinar penuh antusias. “Wah, ini Jamur Tudung Pengantin!”, serunya. “Jarang-jarang bisa lihat ini langsung di habitat aslinya!”. Jamur Tudung Pengantin (Phallus indusiatus) memang bukan jamur biasa. Bentuknya yang indah sering membuatnya tampak seperti keajaiban kecil di lantai hutan. Namun, lebih dari sekadar unik, jamur ini berperan penting sebagai dekomposer alami, membantu mengurai bahan organik yang jatuh dari pepohonan raksasa di hutan.

“Berarti kawasan ini benar-benar masih terjaga ya.”, ujar Dimi, suaranya penuh semangat. “Kalau jamur ini bisa tumbuh, berarti kondisi ekosistemnya masih sehat!”. “Betul sekali.”, Raffi pun mengangguk setuju. “Hutan primer seperti ini memang habitat yang ideal, mereka bukan hanya soal jamur, tapi juga buat orangutan yang akan kita lepas-liarkan.”.

Mereka saling berpandangan, senyum kecil tersungging di wajah mereka. Temuan kecil ini semakin menguatkan keyakinan tim bahwa hutan ini layak untuk menjadi rumah baru bagi orangutan. Dengan semangat yang lebih besar, mereka melanjutkan perjalanan, berjanji dalam hati untuk terus menjaga dan melindungi keajaiban yang tersembunyi di balik renda hutan. (DIM)

JEJAK-JEJAK BERUANG DI HUTAN KERANGAS

Berbeda dari hutan Dipterokarpa yang biasa kami jelajahi di Kalimantan, kali ini kami berkesempatan menjelajahi tipe ekosistem hutan kerangan (heath forest) di Tabang, Kutai Kartanegara. Warga lokal setempat menyebut tipe ekosistem hutan ini sebagai hutan Peringit. Setiap langkah kami saat melintasi hutan ini terasa seperti menapaki permadani alam yang lembut, dimana akar-akar merah menjalin permukaan tanah menjadi hamparan yang memukau. Vegetasi penyusun hutan ini cenderung homogen dengan didominasi satu jenis pohon, karena tanahnya yang miskin hara dan tertutupi akar-akar berwarna merah. Hampir semua pohon di sini diselimuti oleh lumut yang tebal dan lembab, menciptakan suasana misterius, seolah-olah kami melangkah ke dalam hutan Mirkwood dalam kisah The Hobbit. Rasa kagum dan penasaran menyelimuti kami saat menyadari betapa unik dan misteriusnya hutan ini dibandingkan dengan tipe hutan-hutan lain yang biasa kami jelajahi.

Di tengah perjalanan kami menyusuri hutan Kerangas, meski tak ada tanda-tanda primata yang tampak, jejak-jejak beruang madu justru menjadi penanda yang mencolok. Selama dua hari kami menjelajahi tipe ekosistem ini, jejak-jejak beruang madu tersebar seperti teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan. Lubang galian yang dalam menghiasi tanah, sementara cakaran tajam menggores batang pohon, dan tapak kuku yang tertinggal di beberapa batang pohon seolah-olah berbisik tentang kehadiran makhluk bercakar ini. Setiap kali kami menemukan jejak baru, rasa penasaran dan kekaguman kami semakin dalam, seolah-olah beruang madu ini mengundang kami untuk mengikuti jejaknya. Keberadaan mereka tidak hanya menambah misteri hutan Kerangas, tetapi juga menunjukkan peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang rapuh ini. Menurut Tamen Enjau, pemandu lokal yang berusia sekitar 70 tahun,”Yang paling kami takuti di hutan ini beruang, kalau musim kawin bisa sampai ada puluhan”.

Di ekosistem hutan kerangas ini, vegetasi didominasi oleh pohon-pohon dari genus Syztgium (kelompok jambu-jambuan). Selain itu, kami juga menemukan spesies lain yang lebih jarang, seperti Caralia borneensis, Litsea sp., Artocarpus sp., dan Shorea sp., yang menambah keragaman flora di sini. Daris egi fauna, selain jejak-jejak beruang yang kami temui, kami juga menemukan jalur perlintasan landak yang membentuk jalan setapak yang unik. Kicauan merdu murai batu dan suara kepakan sayap enggang yang melintas di atas kanopi hutan menambah keindahan pengalaman kami. Setiap penemuan baru seolah mengundang kami untuk lebih mendalami keajaiban alam yang tersembunyi di balik pepohonan ini, menunjukkan bahwa hutan Kerangas, meskipun tampak sederhana, menyimpan banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap.

Sebagai penutup petualangan kami di hutan Kerangas, kami menyadari bahwa keindahan dan kompleksitas ekosistem ini jauh melampaui apa yang terlihat di permukaan. Setiap bekas cakaran beruang, setiap suara burung, dan setiap tanaman yang kami temui mengisahkan cerita tentang kehidupan yang saling terhubung dalam harmoni yang rapuh. Hutan ini bukan hanya sekedar kumpulan pohon dan hewan; ia adalah rumah bagi keanekaragaman hayati yang unik dan sumber daya alam yang tak ternilai. Dalam pengalaman kami menjelajahi tipe ekosistem lain, kami belum pernah menemukan jejak-jejak beruang sebanyak dan serapat di sini, yang menunjukkan betapa vitalnya hutan kerangas sebagai habitat bagi spesies ini. (RAF)

FELIX, ANGGOTA BARU SEKOLAH HUTAN

Saat pertama kali ikut sekolah hutan, Felix masih sangat bergantung pada babysitter. Ia mendekap erat dan enggan dilepaskan, bahkan harus dipancing dengan buah agar mau menjauh. Jika buah habis, ia kembali merajuk sambil menangis dengan ekspresi melas yang mengundang rasa kasihan. Sementara itu, Arto dan Harapi tetap cuek, terus memanjat pohon dan memanen buah tanpa peduli pada “bocah cengeng” ini. Sesekali, jika mendekat ke babysitter, mereka menyempatkan diri untuk menjahili Felix. Tak berani memanjat, Felix hanya menunggu buah yang jatuh. Namun, semakin sering ikut sekolah hutan, ia mulai berani bertahan di atas pohon lebih lama, meskipun setiap kali harus dipancing dengan buah agar mau melepaskan dekapan.

26 Maret menjadi titik balik bagi Felix. Untuk pertama kalinya, ia berani menjelajah sendiri tanpa harus dipaksa atau dipancing dengan buah. Saat babysitter duduk, Felix tiba-tiba memanjat jalinan liana untuk mengikuti Harapi. Sesekali ia menoleh ke bawah, memastikan babysitter tetap ada di dekatnya, lalu kembali memanjat mesi masih terlihat terseok-seok. Tiba-tiba terdengar suara keras, “Cttakkk kkreeekk bruuuk!”, sebuah batang pohon ambruk. Babysiter panik karena Felix sedang memanjat di sekitarnya. Namun, ternyata Felix sendiri yang sengaja menjatuhkan batang pohon untuk menikmati kulit kayunya.

Perlahan, Felix semakin aktif. Ia tidak hanya memanjat dan memakan buah dari pohon ara (Ficus sp.), tetapi juga mulai bermain dengan Harapi. Ketika melihat Harapi bermain di genangan air, Felix mendekat dan ikut menceburkan kakinya. Bahkan, ia tampaknya sengaja menyeringai, mungkin untuk menantang Harapi, hingga akhirnya mereka saling menggigit dalam permainan. Momen ini menunjukkan bahwa Felix mulai benar-benar beradaptasi dan membentuk interaksi sosial dengan teman-temannya.

Tiga jam berlalu, melewati jadwal pemberian susu. Felix dan teman-temannya sudah cukup puas bermain dan menjelajah di sekolah hutan. Saat kandang dibersihkan dan makanan disiapkan, Felix tertidur di hamocknya. Babysitter yang membangunkannya untuk sesi pemberian susu terakhir tak bisa menyembunyikan rasa takjub. Dari bayi orangutan yang lemah dengan luka bernanah, diare, dan demam tinggi, kini Felix tumbuh menjadi individu yang lebih mandiri dan percaya diri.

Selamat belajar Felix! Kami siap terus dibuat takjub oleh perkembanganmu. (ARA)

HUSEIN DAN PERJALANANNYA: BELAJAR PERCAYA DI DUNIA YANG GELAP

Sejak pertama kali tiba di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Husein sudah berbeda dari orangutan lain. Kedua matanya buta. Dunia yang dikenalnya hanyalah kegelapan. Di alam liar, kondisi ini membuatnya mustahil untuk bertahan hidup sendiri. Karena itulah, Husein diberi tempat di pusat rehabilitasi, bukan untuk dilepasliarkan kembali, tetapi untuk mendapatkan perawatan dan kehidupan yang lebih aman. Namun, hidup di pusat rehabilitasi juga punya tantangan tersendiri. Salah satunya adalah bagaimana Husein bisa dipindahkan dengan aman jika suatu hari ia harus dipindahkan ke tempat lain. Inilah alasan training dimulai.

Pada 6 Maret 2025, pelatihan pertama Husein dimulai. Di depan kandangnya, trainer dan rekan-rekan keeper meletakkan sebuah kandang angkut, kandang besi dengan pintu geser yang digunakan untuk memindahkan orangutan. Husein tidak bisa melihatnya, tapi ia bisa merasakannya. Husein ragu-ragu di awal, namun entah bagaimana, ia berhasil melangkah masuk ke dalam kandang angkut secara penuh. Semua orang terkejut sekaligus senang. Sebuah awal yang baik!

Namun perjalanan ini tidak selalu semudah itu. Di hari-hari berikutnya, Husein mulai menunjukkan kehati-hatian yang lebih besar. Setiap kali mencoba masuk ke kandang angkut, tangannya tetap erat menggenggam besi, seakan takut sesuatu akan terjadi jika ia benar-benar melepaskan diri. Trainer mencoba berbagai cara untuk membantunya. Karena Husein tidak bisa melihat, mereka menggunakan air, menyemprotkan sedikit ke wajahnya untuk mengarahkan gerakannya. Husein mengikuti semprotan itu, melangkah perlahan ke dalam kandang angkut.

Masalh lain pun muncul. Husein mulai merasa curiga terhadap botol spray yang digunakan. Sampai akhirnya, Husein menolak masuk ke dalam kandang angkut. Trainer tidak menyerah. Mereka mencari cara lain agar Husein mau mengikuti arahan tanpa merasa terpaksa. Kali ini mereka mengganti botol spray dengan botol kecap. Bentuk dan suara semprotan yang berbeda tampaknya membuat Husein tidak terlalu curiga. Selain itu, ada satu hal yang selalu disukai Husein, yaitu pisang. Setiap kali ia mengikuti arahan dan masuk ke kandang angkut, ia mendapatkan pisang sebagai hadiah. Perlahan-lahan, kepercayaannya mulai tumbuh kembali.

Kini, setelah beberapa minggu pelatihan, Husein telah membuat kemajuan besar. Ia sudah bisa bertahan diam di dalam kandang angkut selama satu menit penuh. (JAN)

MISI PENCARIAN RUMAH BARU UNTUK ORANGUTAN

Di bulan Maret 2025, tim Centre for Orangutan Protection (COP) yang berada di Kalimantan Timur melakukan survei kawasan pelepasliaran orangutan. Selain ketiga tim yaitu APE Crusader, APE Defender, dan APE Guardian, tim BKSDA Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan, serta peneliti BRIN juga menjadi bagian dari tim besar pencarian rumah baru untuk orangutan. Sebanyak 27 laki-laki dan 4 perempuan, dan satu anjing setia bergabung dalam ekspedisi menuju pedalaman hutan primer di kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Misi ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi upaya besar untuk menemukan habitat yang aman dan ideal bagi orangutan yang siap kembali ke alam.

Karena medan yang begitu berat, tim harus melakukan penerjunan dalam dua tahap. Tim advance diberangkatkan lebih dulu untuk membawa logistik dan mendirikan camp di tengah hutan, memastikan bahwa tim utama nantinya dapat bergerak lebih efektif. Saat tim inti berangkat, mereka menggunakan 5 mobil double gardan untuk menghadapi jalur berbatu dan berlumpur selama 14 jam perjalanan. Tak berhenti di situ, tim juga harus menyeberangi sungai dengan 8 perahu ketinting, menerjang arus deras selama 3 jam, sebelum melanjutkan perjalanan kaki sejauh puluhan kilometer menembus hutan belantara.

Setelah dua minggu eksplorasi penuh tantangan, akhirnya tim menemukan kawasan hutan yang masih sangat alami, kaya akan sumber makanan, memiliki kanopi yang kuat, dan jauh dari aktivitas manusia, tempat yang sempurna untuk orangutan yang akan dilepasliarkan. “Semua kerja keras ini terbayar sudah”, ujar Ferryandi Saepurohman yang menjadi koordinator survei kali ini. Keberhasilan ini bukan hanya sebuah pencapaian besar dalam dunia konservasi, tetapi juga bukti bahwa dengan kerja sama, dedikasi, dan semangat, manusia bisa berperan sebagai penjaga alam yang sesungguhnya. Tim pun kembali dengan kebanggaan dan harapan baru akan pelestarian orangutan serta alam dan habitatnya. (DIM)

RUBY… WAKTUNYA PULANG SEKOLAH!

“Ruby turun yuk…”
“Sudah selesai nih sekolahnya…”
Begitulah teriakan para keeper ketika memanggil Ruby untuk turun ketika waktu sekolah hutan selesai. Seperti biasa, kami tak datang dengan tangan kosong, buah-buan dan susu sudah siap sebagai pancingan.

Aku bersama 4 orang rekan keeper lainnya masih bertahan di sekitar kandang, menunggu dan mencoba berbagai cara agar Ruby turun. Tapi tak semudah itu. Hari semakin sore, sudah pukul 16.30 WITA dan Ruby tetap tidak menunjukkan tanda-tanda mau turun. Dari bawah, kami bisa melihatnya duduk santai di antara dahan, sesekali mengunyah daun atau mengelupas kulit kayu dengan tenang. Tak sedikit pun ia tertarik pada buah-buahan yang kami tawarkan, apalagi susu. Sesekali ia hanya melirik ke arah kami, lalu kembali sibuk dengan aktivitasnya sendiri.

Tapi kami tidak menyerah, kami terus mengikuti Ruby dan terus menyodorkan buah pancingan serta susu berharap Ruby akhirnya tertarik. Segala jenis pancingan dikeluarkan, kelapa, durian, pisang, bahkan susu yang biasanya jadi jurus pamungkas. Biasanya, anak-anak orangutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) langsung mau turun begitu melihat botol susu, tapi kali ini Ruby tetap bertahan di atas.

“Ruby… Ruby!”

Panggul kami sekali lagi, dan lagi-lagi Ruby hanya menengok sebentar dan kembali asik dengan aktivitasnya di atas pohon. Seperti sedang menguji kesabaran kami.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WITA, waktunya aku sebagai babysitter bertugas memberikan susu sore untuk anak-anak orangutan, termasuk Ruby. Dede, salah satu keeper yang ikut pun mendapat ide, “bikinin aja susunya sekalian, siapa tahu kali ini dia mau”, katanya. Aku segera bergegas ke baby house, membuat susu, lalu kembali ke lokasi Ruby.

Tapi Ruby sudah berpindah lagi, kali ini ke belakang kandang karantina. Aku mengikutinya sendiri, sementara rekan-rekan keeper lainnya menunggu di kejauhan agar Ruby tak curiga.

Jujur, aku mulai pesimis. Ruby terlihat masih santai di atas, menikmati waktunya sendiri. Tapi tepat saat aku mulai berpikir bahwa ia benar-benar tak akan turun, terdengar suara gemerisik dari atas. Aku mendongak dan di sanalh Ruby, meluncur turun dengan lincah.

Ternyata susu tetaplah godaan yang tak bisa ditolak. Aku membiarkannya minum dulu sebelum akhirnya membawanya kembali ke kandang, dimana teman-teman keeper sudah menunggu. Semua terlihat kaget sekaligus lega karena akhirnya Ruby mau turun. (JAN)

FELIX MENGENAL ORANGUTAN LAINNYA

Sejak 13 Maret 2025, Felix resmi keluar dari masa karantina setelah hasil pemeriksaan kesehatannya menunjukkan kondisi yang baik. Ini berarti ia bisa bermain bersama orangutan lain di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Proses perkenalannya dimulai dengan mendekatkannya ke kandang Arto dan Harapi. Sesuai dugaan, kedua sahabat itu langsung menjahili Felix, menarik-narik tubuhnya hingga ia semakin mendekap babysitter.

Beberapa hari kemudian, Felix akhirnya ditempatkan dalam kandang yang sama, keduanya pun terus mengusilinnya dengan menyentuh, memukul pelan, dan berguling-guling seolah bergulat. Felix pun tak tinggal diam, ia menyeringai dan mencoba menggigit mereka. Namun, ini justru semakin memancing Arto dan Harapi untuk terus bermain sampai Felix menangis dan mencari perlindungan pada babysitter. Awalnya, ia hanya disatukan beberapa jam sehari, tetapi pada hari kelima, Arto dan Harapi mulai kehilangan rasa penasarannya, membiarkan Felix lebih bebas. Bahkan, Felix berani merebut makanan mereka dan tak lagi menangis saat babysitter menjauh.

“Ya, kami memang sedang berusaha agar Felix bonding dengan orangutan lainnya. Kami berharap, Felix mengenal dan bisa belajar dari dua orangutan lainnya yang tidak terpaut jauh usia dengannya. Sebaliknya, Arto dan Harapi juga mau bermain dan berkembang bersama dengan Felix juga. Ikatan emosional ketiganya semoga bisa membantu tumbuh kembangnya.”, jelas Ara, babysitter BORA. “Bahkan setiap orangutan juga bonding dengan babysitter maupun animal keeper nya. Sehingga saat ada kejadian di luar kebiasaan, babysitter atau animal keeper itulah yang mendampingi orangutan tersebut”, tambahnya lagi. (ARA)

DARI LEMAH KEMBALI KUAT: PERJUANGAN FELIX SI BAYI ORANGUTAN

Bayi orangutan itu namanya Felix, dia datang ke Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) pada awal Januari lalu. Saat itu kondisi Felix tidak baik, banyak luka i jari dan kepalanya. Tubuhnya kecil dan lemas, ia hanya bisa tertidur dan banyak minum di gendongan babysitter. Bahkan ketika pengambilandarah untuk Medical Check-Up, Felix hanya diam tidak bereaksi saat jarum suntik untuk mengambil darah dimasukan ke lengannya. Setiap hari, dokter hewan dan paramedis mengunjunginya untuk membersihkan luka dan memberi obat. Banyak miligram obat yang ia telan, hingga babysitter dan tim medis perlu bergantian menjaganya sepanjang malam hingga esok pagi.

Sekarang Felix sudah semakin kuat. Suara tangisan yang kencang, minat makan yang akhirnya datang bahkan sekarang hampir semua pakan yang diberikan dimakan habis oleh Felix. Keinginannya untuk bermain dan eksplorasi juga semakin tinggi, beberapa kali Felix terlihat berusaha meraih gagang pintu atau benda-benda yang ada di sekitarnya. Genggaman kuatnya terlepas dari babysitter dan merangkak menjauh sekedar membayar rasa penasaran atau mengambil makanan.

Meski kini lebih kuat, Felix tetaplah bayi yang mencari kehangatan, yang masih lebih suka menempel pada babysitter dan ketika sudah menempel Felix akan sulit sekali dilepas meskipun sudah dipancing menggunakan makanan favoritnya, seperti pisang agar mau naik ke pohon. Ketika akhirnya harus melepaskan genggamannya, ia akan merengek dengan suara khasnya, seolah mengatakan bawa pelukan babysitter masih menjadi tempat ternyamannya. (JAN)

EDUKASI ORANGUTAN DI SEKOLAH BERSAMA APE CRUSADER

Para siswa memasang wajah penasaran atas kedatangan empat orang dengan atribut Centre for Orangutan Protection (COP) di pagi yang cerah. Semakin penasaran lagi ketika guru-guru memanggil mereka untuk berkumpul di lapangan SDN 010 Muara Wahau yang kemudian diarahkan untuk masuk kelas. Saat masuk, siswa mendapati tim APE Crusader sedang sibuk menyalakan proyektor, laptop, serta sound system. Mereka keheranan, lalu hal tersebut dipatahkan dengan sambutan hangat, “Halo semuanya, apa kabar?”. “Baik Kak”, sahut para siswa dengan nada antusias. “Di sini kakak mau cerita nih tentang hewan yang istimewa, kira-kira ada yang tahu gak, hewan apa yang bakal diceritain”, ucap Fedriansyah, kapten APE Crusader, salah satu tim di COP yang punya tanggung jawab menyelamatkan habitat orangutan.

Kunjungan edukasi di SDN 010 Muara Wahau, Kalimantan Timur ini dikemas dengan menarik. Tim sudah memperhitungkan betul, ketika cerita tentang orangutan beralih ke materi serius, para siswa mulai murung dan kurang fokus. Saat inilah, permainan tepuk orangutan diselipkan. “Memang tidak terbayangkan untuk menjadi seorang guru SD. Saya kira bekerja di konservasi ya berhadapan dengan alam saja, nyatanya edukasi apa yang kita kerjakan adalah usaha kita menyelamatkan orangutan dan habitatnya juga”, jelas Fedri.

Memasuki jam pelajaran kedua, biasanya 1 jam pelajaran itu 40 sampai 45 menit, para siswa memasang muka terkejut. Tidak disangka, ternyata ada orangutan yang mengetuk pintu kelas. Dengan riang gembira serta gelak tawa, para siswa menyambut kedatangan Otan yang membawa hadiah di tangannya. Para siswa diajak berbicara dengan Otan dan berfoto bersama di penghujung kegiatan. “Kakak-kakak kapan kembali? Aku ingin melihat si Otan lagi”, tanya salah satu siswa dengan wajah cemberut. “Ayo toss dulu sama kak. Sampai jumpa lagi ya!”, sembari melambaikan tangan ke siswa-siswa dengan perasaan bahagia. (AGU)

MARI BELAJAR DAN MENJELAJAH DI RIHAS RIMBO PANTI

“Pagi ku cerah… matahari bersinar”, lagu sepanjang masa ini pun terngiang-ngiang menyambut kedatangan 35 siswa SDIT Baitul Qur’an Panti di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatra). Penjelajahan akan sulit kalau dilakukan banyak orang, karena itu APE Protector (tim Centre for Orangutan Protection yang berada di Sumatra Barat) membaginya menjadi 4 kelompok. Halo Harimau, Badang, Singa, dan Monyet, keempat kelompok ini pun dibekali modul pembelajaran, alat pengamatan, serta kantong sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Petualangan dimulai! Setiap kelompok menjelajahi jalur berbeda, mengamati alam, mencatat temuan, dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. Kelompok Singa bahkan meneriakkan yel-yel mereka, “Aummm!”, membuat suasana semakin seru. Di tengah perjalanan mereka menemukan berbagai keunikan alam seperti daun dengan bentuk aneh, serangga kecil yang sibuk bekerja, dan jejak kaki hewan yang misterius. Beberapa anak tertawa saat melihat serangga dari dekat menggunakan lup atau kaca pembesar, sementara yang lain sibuk menulis catatan di lembar kerja mereka.

Setelah petualangan selesai, semua kelompok kembali berkumpul di ruang edukasi. Sesi review dimulai, dan kuis pun diberikan untuk menguji ingatan mereka. Tangan-tangan kecil langsung terangkat, berebut menjawab dengan penuh semangat. Tepuk tangan dan gelak tawa memenuhi ruangan setiap kali ada jawaban yang benar. Hari itu berakhir dengan perasaan bangga dan bahagia. Mereka telah menjelajahi alam sekaligus belajar untuk peduli terhadap lingkungan. Sebelum pulang, seorang anak berbisik kepada temannya, “Seru banget! Besok kita ke sini lagi ya!”. (DIM)