ASTUTI, MURID BARU PENCURI PERHATIAN

“Tuti nih orangutan paling cantik”, kata Indah, biologist BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) saat hendak membawa Astuti ke sekolah hutan. Wajah orangutan Astuti memang menggemaskan sepeti boneka dan rambut keritingnya unik menarik hati. Belum ada orangutan di pusat rehabilitasi BORA yang rambutnya keriting sepeti Astuti. Kalau rambutnya basah, keritingnya lebih terlihat menggemaskan lagi. Mungkin karena rupa imutnya itu penjahat pedagang satwa liar berusaha menyeludupkannya dan menjualnya. Astuti berhasil diselamatkan saat hendak dikirim ke luar negeri melalui Sulawesi tahun 2022. Ia kemudian dipindahkan ke BORA dan menjalankan masa karantina selama 3 bulan.

Pada bulan Maret, setelah hasil tes kesehatannya keluar dengan hasil baik, ia resmi menjadi murid baru di sekolah hutan. Sebagai murid baru, ia berhasil mencuri perhatian kami dan membuat kami kagum akan kemampuannya. Pada hari pertama sekolah hutan saja ia sudah memanjat setinggi 18 meter. Ia tidak sesering berada di tanah seperti Jainul, murid orangutan sebaya nya yang selalu berguling-guling di tanah dan masih sudah sekali disuruh memanjat pohon. Sekali-kalinya ia berguling di tanah, tubuhnya akan ditempeli banyak daun kering dan ranting. Rambutnya yang panjang membuat benda-benda di tanah lebih mudah menyangkut. Kami sering menertawakannya ketika tubuhnya sudah sangat kotor. Rupanya yang paling lucu adalah ketika dia baru saja berguling-guling di tanah dan tubuhnya ditempeli lumpur. Kami para perawat satwa dibuat terpingkal-pingkal melihat rambutnya yang menjadi gimbal.

Akhir-akhir ini, Astuti semakin jago menjelajah dan seringkali keasyikan. Suatu hari saat sekolah hutan (29/04), ia mengikuti orangutan Charlotte yang usianya sekitar lima tahun lebih tua dan sudah lebih piawai menjelajah. Mereka makan bersama-sama di satu pohon dan sulit sekali dipanggil untuk turun dan pulang dari sekolah hutan. Bima dan Syarif, Perawat satwa yang bertugas saat itu terus memanggil mereka dan memancing dengan buah. Sayangnya, Astuti dan Charlotte tetap asyik makan di atas pohon. Mereka akhirnya kekenyangan dan turun sendiri setelah satu jam waktu sekolah hutan usai. Meski harus repot menunggu dan memanggil-manggilnya, kami bangga sekali dengan perkembangan pesat murid baru yang berhasil mencuri perhatian kami ini. Terus berkembang ya, Astuti! (NAD)

AWAS ADA JOJO

“Aaa Ayo lari!”, suara Indah berhasil membangun alarm panikku dan Gavrila yang hari itu membawa orangutan Jojo, Jainul, Bagus, dan Astuti ke sekolah hutan. Aku yang sedang fokus menghindari gigitan orangutan Jainul seketika refleks berlari menjauhi suara Indah tanpa melihat ke belakang. Jainul yang ada dalam gendonganku pun ikut panik dan bingung hingga ia berhenti menggigit dan terdiam. Di belakangku, Gav sempoyongan menggendong Astuti sambil berseru, Tungguuu! Jangan tinggalin aku”, begitulah kehebohan yang ditimbulkan Jojo hari itu saat sesi sekolah hutan. Membawa orangutan Jojo bersekolah hutan memang jadi teror tersendiri. Jojo sudah terkenal usil dan nakal, terutama pada keeper baru atau keeper perempuan. Belum ada dua bulan menjadi keeper, aku sudah kena jambak hingga rambutku lepas segenggam. Jas hujanku juga pernah ditariknya hingga compang-camping saat membersihkan kandang di hari hujan.

Akhirnya setelah berlari, aku, Gav, dan Indah berhasil menjauh dari Jojo. Ketika kutengok ke belakang, Jojo memandangi kami di tanah. Mungkin ia juga heran melihat tingkah manusia yang tiba-tiba berlarian, padahal ia hanya diam saja. Hari itu memang kami sedikit lebih waspada pada Jojo. Karena ia baru saja merebut dan mematahkan pensil dan pulpen yang kami gunakan untuk mencatat perilaku murid sekolah hutan. Butuh waktu yang lama, berbagai trik, serta kesabaran agar kami mendapatkan kembali alat tulis kami. “Lio! Jojonya nih”, aku berteriak memanggil Lio, keeper lama yang bertugas mencatat aktivitas Jojo di sekolah hutan. Jojo hanya takut dan menuruti keeper laki-laki yang berbadan besar. Karena itu setiap sekolah hutan, biasanya keeper tertentu yang dipilih untuk membawa Jojo. Akhirnya setelah Lio datang dan menggandeng Jojo, kami kembali ke kandang dan memasukkan mereka ke dalamnya.

Saat kembali ke lokasi camp untuk beristirahat, kami menceritakan kembali kehebohan Jojo di sekolah hutan tadi. Setelah itu kami saling mengingat-ingat kelakuan nakal Jojo yang pernah ia lakukan. “Ih aku dulu pernah kerudung aku ditarik ama si Jojo. Terus dimain-mainkan ampe robek mah sama dia. Diludahin juga pernah aku mah sama dia”, ujar Indah. Kami tertawa-tawa mendengar kesialannya. “Inget nggak Nad, waktu itu kan kita pernah juga dilemparin tai sama dia pas bersih kandang?”, tanya Gav. Aku mengangguk sembari mengingat masa-masa awal menjadi keeper dan dibuat terkejut dengan kelakuan orangutan Jojo. Ya begitulah kenakalan Jojo. Kalau ada Jojo, selalu ada kejadian mengenaskan yang berubah menjadi lucu ketika diceritakan. Kenakalannya seperti kenakalan anak manusia yang membutuhkan kesabaran dan pengertian dalam menghadapinya. Tetapi meski kami sering dinakali, kami tetap berharap agar Jojo semakin pintar bersekolah hutan dan semakin acuh pada manusia agar cepat lulus. Doakan Jojo ya! (NAD)

PERUT ORANGUTAN SEPTI KEMBUNG (LAGI)

“Dung… dung… dung…”
Tata menepuk perlahan perut Septi yang pagi itu tidak beranjak sedikit pun dari hammock.
“Kembung lagi nih”, jawab Tata ketika kutanya ada apa dengan Septi. Ini baru kali kedua aku bertemu Septi dan di perjumpaan pertama kami, Septi sungguh berbeda. Ia sangat aktif dan bahkan sempat membuatku shock di hari pertamaku menjadi perawat satwa. Pada hari itu, ketika dokter Elis hendak mengeluarkan Mabel, bayi orangutan yang tinggal satu kandang dengan Septi, justru Septi yang bersemangat keluar kandang.

“Nanti dulu Septi! Astaga ini belom waktunya sekolah hutan”, uyar dokter Elis sambal menahan pintu kandang. Ia langsung berguling-guling di tanah, memanjat pohon durian di depan klinik yang belum terlalu besar hingga hampir roboh, dan menggulingkan tiang permainan untuk anak orangutan yang tentu saja tidak bisa menahan berat tubuh Septi yang besar. Bujukan susu, madu, dan buah tidak berhasil. Ia justru mengejar dan menggigit sepatu dokter Elis dan paramedis Tata, mengajak mereka berdua bermain. Saat itu aku hanya berani berdiam di pojokan dan untungnya Septi sepertinya belum merasa kenal denganku dan tidak mengajakku bermain.

Benar-benar berbeda dengan hari ini, ia terlihat malas dan lemas sekali. Buah-buahan kesukaannya justru dikerubungi lebah-lebah yang berisik dan Septi tidak meliriknya sama sekali. Ia malah menutupi wajahnya dengan selimut. Sulit mengajaknya keluar kandang untuk berjemur. Berkali-kali ia kembali menaiki hammock dan menutup kepalanya dengan selimut seperti enggan terkena matahari.
Ternyata, ii bukan kali pertama Septi mengalami perut kembung. Ini sudah seperti penyakit kambuhan bagi Septi selama bertahun-tahun. Ia memang didiagnosa memiliki pencernaan yang sensitif. Septi pernah menjalani pemeriksaan x-ray oleh tim medis BORA. “Banyak kemungkinan faktornya sih, Nad. Bisa karena perubahan suhu dan kelembaban. Kan lagi sering hujan”, jelas dokter Elis. “Bisa juga karena perubahan pakan. Pencernaannya sangat sensitif”, tambah dokter Yudi.

“Lalu jika penyakit Septi ini sudah bertahun-tahun dan masih sering kambuh, bagaimana ya kalau dia dilepasliarkan di hutan?’, aku bertanya lagi.
“Aku yakin Septi masih bisa rilis sih. Tapi dia harus belajar cari cara supaya tubuhnya tetap hangat di cuaca dingin. Misal dengan membuat sarang yang lebih tebal. Pasti bisa deh”, dok Yudi menjelaskan dengan optimis.

Untuk sementara waktu, Septi diberikan terapi berupa jus buah-buahan yang dimasukkan dalam botol, dibaluri minyak penghangat, dan diajak keluar kandang ketika cuaca cerah. Sayangnya, beberapa hari terakhir ini cuaca di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) hujan sepanjang hari. Untuk menyiasati hal itu, Septi diberikan sinar infra merah yang dapat menghangatkan tubuhnya. Ini jadi pekerjaan yang cukup berat untuk para keeper karena Septi enggan bergerak dan harus dipaksa.
Doakan Septi agar cepat sembuh dan aktif kembali ya! (NAD)

MENENGOK ASTUTI DI KANDANG KARANTINA BORA

Sejak kedatangannya tanggal 25 Januari 2023 lalu di Klinik dan Karantina New BORA, Astuti orangutan yang ditranslokasi dari Menado, Sulawesi Utara masih berada dalam kandang karantina. Ia masih menjalani masa karantina hingga 14 hari. Selanjutnya, Astuti akan menjalani pemeriksaan kesehatan dengan uji laboratorium oleh tim medis BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Perjumpaan saya dengan Astuti di kandang karantina, ia yang sebelumnya menyibukkan diri di atas tumpukan daun, tiba-tiba terdistraksi dengan kehadiran saya. Astuti nampak mulai mendekati, tetapi ketika hendak dipegang dia sontak mundur. Seperti belum menaruh kepercayaan penuh kata paramedis Tata.

Dokter Theresia menyampaikan jika Astuti saat ini masih proses bounding dan pengenalan dengan petugas medis maupun keeper. Astuti juga sering teramati senang bermain sendiri di dalam kandang. Jika diberikan browse enrichment dari daun dan ranting dia bisa menjadikannya mainan. Tidak jarang dia juga memakan bagian daun yang muda. Selama di kandang, semua jenis pakan yang diberikan dimakan tak tersisa kecuali tomat, dia hanya memakan bagian dalam tomat dan menyia-nyiakan bagian luarnya. (WID)

TIGA BULAN MABEL DI BORA

Mabel, bayi orangutan yang baru genap berusia satu tahun yang bulan November lalu diselamatkan dari kepemilikan ilegal di Tenggarong, Kutai Kartanegara. Setibanya di Klinik dan Karantina New BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), kondisi fisiknya cukup memilukan. Tubuhnya yang terlampau mungil untuk kisaran usia bayi orangutan satu tahun. Perutnya membesar sesuai dugaan tim rescue BORA, Mabel mengalami malnutrisi. 

Tim Medis BORA fokus melakukan perbaikan gizi pada orangutan Mabel. Mulai pemberian susu dan buah-buahan yang paling Mabel sukai untuk membangkitkan nafsu makan. Mulai adaptasi, kini semua jenis buah dan sayur yang diberikan dilahap habis meski dengan sangat pelan, Jika cuaca terik, Mabel berkesempatan menyantap makanan di dahan pohon kecil. Sambil mencicipi kambium dan serangga kecil di ujung daun.

Siang ini, Mabel ditemani paramedis Tata sambil bergelantungan di pohon dekat Klinik New BORA. “Berapa berat badan Mabel sekarang”, tanya saya ke paramedis Tata. Bobotnya naik setengah kilo dari berat badan awal Mabel di sini”, pungkas Tata. “Perutnya juga sudah tidak berbunyi lagi, seperti sebelumnya jika ditepuk”, tambahnya. Jika bobotnya terus bertambah, maka akan memudahkan tim medis untuk melakukan pengambilan sampel darah untuk uji penyakit dan virus. (WID)

KIRIK-KIRIK BIRU ADA DI KAWASAN PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI BUSANG

Kirik-kirik biru atau Blue-throated Bee-eater merupakan jenis burung yang cukup sering ditemukan di kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, Kalimantan Timur. Satwa ini sering teramati bertengger bersama kelompoknya sembari berburu serangga terbang yang ada. Mereka jarang terbang dan lebih menyukai berburu serangga dengan cara menunggu di tenggeran, terkadang menyambar serangga dari permukaan air atau tanah (Taufiqurrahman dkk. 2022). Pulau pra-pelesliaran Dalwood Wylie adalah yang paling sering dikunjunginya sebagai lokasi berburu pakan alaminya yaitu serangga. Mereka sering dijumpai pada pagi serta siang menjelang sore bertengger di pohon ara di hulu dan hilir pulau. Hilangnya pohon besar sebagai tempat bertengger karena penebangan atau tumbang serta berkurangnya jumlah serangga sebagai pakan alaminya akan berdampak besar terhadap jumlah populasi satwa ini. 

Satwa ini tersebar dari Sumatra, Kalimantan hingga Jawa, namun agak jarang di Jawa bagian barat. Menghuni beragam area terbuka seperti di sekitar aliran sungai, kawasan pesisir, hutan bakau, bukaan di tengah hutan, serta perkebunan, dan pedesaan. Warna biru i tenggorokan merupakan ciri khas burung ini dari spesies kirik-kirik lainnya. Topi dan mantel berwarna coklat serta adanya bulu ekor tengah yang memanjang (tidak dijumpai pada remaja). Menurut Taufiqurahman dkk.  2022 ada spesies lain yang memiliki banyak kemiripan dengan kirik-kirik biru yaitu spesies kirik-kirik senja dan kirik-kirik laut. Kirik-kirik senja memiliki mantel dan topi yang berwarna coklat serta sayap berwarna hujau, namun tidak ada pemanjangan ekor tengah serta tenggorokan tidak berwarna biru, persebarannya juga tidak ada di Kalimantan yang merupakan lokasi yang kami amati. Kirik-kirik laut lebih hijau serta perpanjangan ekor tengah lancip, bukan hitam dengan ujung menebal.

Kirik-kirik biru merupakan salah satu dari beragamnya biodiversitas satwa yang ada di kawasan pelepasliaran orangutan. Pulau Dalwood Wylie dan sekitarnya juga merupakan habitat alami satwa liar yang menunggu untuk disingkap keberadaannya. Melestarikan hutan serta menjaga daerah aliran sungai menjadi tugas penting untuk menusia guna kelangsungan hubungan simbiosis antar makhluk hidup dan alamnya. Upaya kecil APE Guardian tidak akan berdampak apabila tidak adanya bantuan dari khalayak luas, baik masyarakat sekitar maupun orang-orang yang peduli akan kelestarian alam. (BIN)

BAYI ORANGUTAN BERNAMA MABEL YANG PENUH CINTA

Mabel namanya. Ada harapan di setiap nama yang disematkan pada orangutan yang masuk di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Mabel artinya loveable atau orang yang dicintai. Katanya Mabel adalah nama untuk bayi yang sangat populer di Amerika. Siapapun yang melihatnya akan jatuh hati dan akan mencintainya tanpa pamrih.

Hampir sebulan bayi orangutan ini di rawat di BORA. Kesehatannya semakin membaik, perut kembungnya berangsur hilang dan kekuatannya perlahan bertambah. Tatapan Mabel mulai bersinar dan penuh harapan. Jeritan kesakitan saat disentuh pun menghilang.

“Awalnya Mabel sempat dikira berusia 4 bulan, tapi setelah kita memeriksa gigiya, orangutan ini berusia 11 bulan”, kata drh. There dengan prihatin. Tim medis pun ekstra hati-hati memberi jenis buah untuknya agar kondisi perutnya yang kembung tidak semakin parah. Pepaya yang benar-benar matang sedikit demi sedikit diberikan dan pemberian susu ditunda dulu.

“Syukurlah Mabel berhasil berjuang hingga waktu ini. Bayi pendiam ini semakin aktif. Dalam 1-2 minggu ini, tim medis akan mengambil darahnya untuk diperiksa, apakah Mabel sehat dan bisa melanjutkan rehabilitasi di BORA seperti digabungkan dengan orangutan lain dan masuk kelas sekolah hutan. Doakan Mabel ya…”, pinta Theresia Tinenti. 

SETELAH 4 ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAH

Haru dan bahagia ketika empat orangutan yaitu Antak, Hercules, Ucokwati  dan Mungil berhasil melewati proses yang panjang untuk kembali pulang ke rumah (hutan). Keempat orangutan ex-rehab ini akhirnya dilepasliarkan kembali ke hutan pada akhir Oktober 2022. Tahap demi tahap telah mereka lalui mulai dari rescue, karantina, pemeriksaan kesehatan, program sekolah hutan untuk mengembalikan insting alami, program pulau pra-pelepasliaran dengan tujuan melatih kemampuan bertahan hidup mereka dan akhirnya rilis. Hal ini memakan waktu yang tidak sebentar dan melibatkan kerja keras staf dari berbagai bidang ilmu dan keahlian yang saling bekerja sama untuk kesejahteraan hidup orangutan. Bahkan pemantauan terhadap orangutan terus dilakukan setelah dilepasliarkan untuk mencatat perilaku harian dan menjaga orangutan dari perburuan.

drh. Yudi yang dalam perjalanan kembali ke Berau setelah mengikuti monitoring pada minggu pertama setelah pelepasliaran harus putar balik haluan untuk kebali ke pos monitoring karena orangutan Hercules yang tiba-tiba sudah berada di pos mengancam staf yang ada. Hercules pun dibius kemudian dilepaskan jauh ke dalam hutan untuk mencegah agar tidak kembali ke pos pantau. 

Pengalaman luar biasa ketika diberi kesempatan untuk monitoring minggu kedua paska rilis. Hari pertama sudah dikejutkan orangutan Antak yang menyeberang sungai dan masuk ke dalam pos monitoring. Orangutan ex-rehab kadang memiliki kecenderungan mendekati manusia. Tim APE Guardian dengan berbagai cara mengalihkan perhatian Antak supaya mau naik ke atas perahu. Antak dipancing menggunakan buah, setelah Antak di perahu, tim menarik perahu menuju lokasi pelepasliarannya. Cara ini terlihat seperti wahana bermain untuk Antak. Tidak hanya sampai di situ, orangutan Hercules yang sudah dibawa jauh sebelumnya dan beberapa kali digiring oleh tim ke dalam hutan seolah memiliki peta diotaknya, ia kembali lagi ke pinggir sungai Menyuk dan terpantau selalu berjalan dipinggir sambil sesekali memantau kondisi air. Tentu saja ini membuat tim monitoring khawatir ditambah lagi kondisi air sungai yang surut karena tidak kunjung hujan. Pengambilan keputusan untuk orangutan yang menyeberang ke pos pantau maupun yang mendekati manusia harus ilakukan dengan berbagai pertimbangan, bahkan jalan terakhir yaitu pembiusan hanya dilakukan apabila orangutan mengejar atau mengancam keberadaan staf.

Mengamati orangutan paska pelepasliaran berbeda ketika mengamati orangutan di kandang maupun saat mengikuti sekolah hutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Monitoring dilakukan mulai jam 7 pagi saat orangutan turun dari pohon tempat beristirahat hingga jam 5-6 sore saat orangutan akan membuat sarang untuk tidur. Segala aktivitas yang dilakukan orangutan sangat menarik, seperti Hercules yang tanpa sadar membuat jalan setapak karena selalu melewati jalan yang sama setiap hari dan kadang beraktivitas sambil membawa dan memakan buah hutan. Mengamati tanaman dan buah hutan yang dikonsumsi orangutan seperti Mungil yang memakan tanah dan selalu aktif bergerak dari satu pohon ke pohon lain dan pernah terlihat berjemur. Antak yang menyeberang sungai sambil mengangkat kedua tangannya, Hercules yang mengikuti Mungil bahkan sempat terlihat kontak fisik. Bahkan mengamati proses defakasi Mungil dan memeriksa fesenya menjadi hal yang sangat menarik. Selain itu dalam proses pencarian orangutan, kadang tim menemukan sisa-sisa buah bekas dimakan hewan dan bekas cakaran di batang pohon. Tim juga mencoba memakan buah hutan yang dimakan orangutan. Terkadang… tim pun kehilangan jejak orangutan saat melakukan pengamatan. (TER)

TAK DIBERI PISANG, POPI NEKAT PANEN PISANG SENDIRI

Pisang sering digambarkan sebagai buah favorit sebagian besar primata. Primata seperti monyet, gorilla, simanse, owa hingga orangutan sangat sering diidentikan sebagai hewan penyuka pisang. Walaupun stereotip ini tidak sepenuhnya benar karena di alam liar orangutan memiliki ratusan jenis pilihan pakan yang terdiri dari beragam jenis buah, daun, bunga dan bagian tumbuhan lain hingga serangga. Namun sebagian besar orangutan yang ada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) memang sangat menyukai buah pisang. Hal ini karena buah pisang memiliki rasa yang manis serta tektur yang lembut.

Begitu pula dengan orangutan Popi, ia sangat menyukai pisang. Namun pada sekolah hutan kali ini, perawat satwa tidak membawa pisang karena kombinasi jenis pakan yang diberikan untuk para orangutan di BORA harus beragam dan bervariasi setiap harinya untuk memenuhi kecukupan gizi orangutan.

Setelah cukup lama beraktivitas dan menjelajahi ketinggian pohon, Popi nampaknya mulai lapar dan turun mendekati perawat satwa untuk meminta buah. Hanya buah terong yang diberikan, tidak ada buah-buahan manis seperti pisang yang diberikan perawat satwa.Hal ini dilakukan untuk mendorong orangutan mencari pakan alami di lokasi sekolah hutan.

Kecewa tidak diberi pisang, Popi berjalan pergi meninggalkan  perawat satwa, mengarah menuju pulang. Popi berjalan menyebrangi anak sungai kecil yang sedang surut. “Popi, Popi…”, panggil perawat satwa Bima yang menyangka Popi sudah ingin pulang. Setelah diikuti, ternyata Popi sedang memanjat pohon pisang yang saat itu sudah berbuah. Disana Popi memanen buah pisang dan langsung memakannya. Walaupun belum matang, namun ia terlihat puas dengan hasil panennya. Tidak lama kemudian orangutan Jojo mengikuti Popi lalu makan pisang bersama. (RAF)

TAKUT MELIHAT ORANGUTAN LAIN, KOLA BATAL POSYANDU

Hari ini jadwal posyandundu bagi orangutan Berani, Septi dan Kola. Kegiatan meliputi pengukuran biometrik dan penimbangan berat badan orangutan. Pagi-pagi, Berani telah selesai menjalani posyandunya. Tibalah giliran Kola untuk menjalani posyandu. Para perawat sudah bersiap di depan kandang Kola. Ketika pintu kandang dibuka, Kola tampak bersemangat untuk keluar kandang. Ia keluar kandang dengan tenang sambil berjalan dengan santai.

Namun ekspresinya mendadak berubah ketika ia melihat orangutan Pingpong, ia langsung berbalik arah dan berjalan menuju arah lain. Tapi justru ia malah melihat orangutan yang jauh lebih besar dari Pingpong, yaitu Ambon. Ketakutan melihat Ambon yang bertubuh sangat besar, Kola langsung berusaha menjauhi area kandang dan pergi ke arah hutan.

Para perawat satwa dengan sigap mengejar Kola. Keempat perawat satwa pun cukup kewalahan untuk menangkap dan membawa kembali Kola ke dalam kandang. Ia sesekali mencoba menggigit ketika para perawat satwa mencoba menggiringnya kembali ke kandang.

Melihat kondisi Kola yang sulit ditangani, drh. There memutuskan untuk membatalkan posyandu untuknya. “Udah gak bisa di-handle itu, masukin kandang saja”, kata There. Keempat perawat satwa lalu dengan susah payah berusaha mengendalikan dan membawa Kola kembali masuk ke dalam kandang. Setibanya di dalam kandang, Kola langsung memberi respon urinasi dan defakasi yang menandakan kondisi ketakutannya akibat melihat orangutan lain yang ukuran tubuhnya jauh lebih besar dibanding dirinya.

Kola memang cukup terbiasa melihat manusia, namun seringkali ketakutan dan menghindar ketika melihat orangutan lain terutama yang berbadan lebih besar dari dirinya. (RAF)