BONTI DAN TEMAN SEKANDANGNYA BOROS HAMMOCK

Kalau ditanya kandang siapa yang paling sering hammocknya rusak, pasti kandang orangutan Bonti dan kawan-kawannya. Hampir setiap bulan perawat satwa memperbaiki hammock mereka. Bagaimana tidak, hammock yang kebanyakan digunakan orangutan sebagai tempat beristirahat dan bersantai, justru dipakai Jojo, Popi, Mary terlebih Bonti untuk bergelantungwan bersama. “Beban hammock yang seharusnya untuk 1-2 orangutan kecil, digunakan beramai-ramai. Duh kelakuan bocah-bocah.”, gumam Widi Nursanti, manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Tolong… tak ada lagi bahan untuk buat hammock. “Biasanya kami mendapatkan selang bekas dari Dinas Pemadam Kebakaran Berau. BNPB juga bantu orangutan loh. Jadi selang-selang yang sudah tidak bisa dipakai Damkar Berau, kami gunakan untuk membuat hammock.”, jelas Widi.

Kenapa harus ada hammock? Orangutan liar biasanya menghabiskan aktivitasnya di atas pohon. Dua kali dalam sehari akan membuat sarang untuk beristirahat. Kami di pusat rehabilitasi juga berusaha untuk menyediakan hammock atau tempat tidur gantung yang bisa digunakan orangutan untuk membiasakan diri berada di atas. Bekas selang pemadam kebakaran yang masih cukup kuat namun sudah tidak bisa digunakan Damkar, kami buat menjadi hammock. Yuk, siapa nih yang mau bantu orangutan lagi? Saat ini kami membutuhkan bahan untuk membuat hammock.(WID)

ORANGUTAN AMAN DIUAP DENGAN NEBULIZER

Dua minggu terakhir ini, Aman terlihat sulit bernafas. Cairan yang menghambat di hidungnya menimbulkan bunyi saat malam hari. Iya, seperti orang ngorok. Terpaksa obat diberikan. Dan Aman sangat tidak menyukai obat. Ketika ada langkah kaki mendekati kandangnya, dia akan segera menuju sudut kandang menjauh dari pintu kandang.

Seperti anak kecil yang sulit sekali untuk minum obat. Bujuk rayu pun menjadi rayuan maut. Tapi Aman tetap saja mengunci mulutnya dengan rapat. Bulus obat sudah diracik sedemikan rupa, untuk menghilangkan bau obat, madu dan roti kering sudah digerus dengan halus, dicampur dan dipadatkan berbentuk bulat. Sekarang tinggal siapa yang paling tangguh dan paling cepat. Paling cepat memasukkan obat ke mulutnya saat ada celah di mulutnya. Atau Aman yang dengan lincah menghindar dari tim medis.

Hingga akhirnya, tim medis memutuskan untuk menguapkan hidungnya. Aman pun pasrah saat nebulizer dikenakan. Lambat laun dia mulai merasakan enaknya. Aman pun nurut. “Terapi dilakukan untuk menyembuhkan gejala hidung tersumbat yang dialami Aman. Semoga, Aman dapat bernafas dengan lega lagi setelah ini.”, ujar tim medis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Doa-kan Aman ya…

ENRICHMENT ORANGUTAN: LEMANG BUAH KEMBALI HADIR

Sudah lama tidak memberikan orangutan varian enrichment yang satu ini. Tantangannya adalah para perawat satwa harus mencari bambu hingga ke pelosok anak sungai. Belum lagi rasa gatal akibat terkena lapisan luar bambu.

Kami juga harus berbagi bambu dengan masyarakat sekitar. Ambil secukupnya untuk enrichment hari ini saja. Biasanya masyarakat memanfaatkannya untuk membuat lemang ketika hendak membuat perhelatan atau pesta tertentu di kampung.

Sedikit mencontoh cara masyarakat sekitar membuat lemang. Kami juga membuatkan lemang untuk orangutan. Salah satu ujung bambu dilubangi dengan diameter kecil, lalu ditambahkan irisan buah kecil-kecil, dedaunan dan tak ketinggalan dilumuri madu. Pasti orangutan akan menyukainya.

Bagi orangutan dewasa membuka bambu yang tebal dengan bermodalkan gigi cukup muda. Seperti Nogel, Ambon, Antak, Hercules dan Septi bisa membukanya dengan cepat. Yang lain, terutama bayi-bayi harus berusaha lebih keras agar bisa menilik isi dalam lemang. (WID)

MUSIM BAKAR LAHAN DI LABANAN TIBA

Siaga! Musim akan segera berganti. Dari tahun ke tahun, pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kalimantan Timur akan menghadapi musim ini. Tak ada asap kalau tak ada api. Ditambah dengan musim kemarau membuat lahan dan hutan semakin mudah terbakar, saatnya mengisi tandon-tandon air dan mengecek titik-titik keran air. Tak lupa selang-selang yang ada juga diperiksa.

Untuk meminimalisir merambatnya api ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, para perawat satwa usai membersihkan kandang dan memberi makan orangutan langsung bergotong-royong membuat sekat bakar sekitar 1 meter. Kami sangat kesulitan membuat sekat bakar ini karena banyak sekali akar di ujung pohon yang tidak dapat dijangkau dengan parang ataupun gergaji mesin. Yang bisa kami lakukan hanyalah membersihkan di bagian tanah dan memotong-motong pohon-pohon jatuh yang melintang agar nantinya api tidak merambat mendekat ke camp.

Saat kecil menjadi kawan dan ketika besar menjadi lawan. Mencegah adalah jalan terbaik. Doakan kami agar kebakaran hutan dan lahan tak seperti tahun lalu. Dimana kandang-kandang angkut sampai berada pada posisi siap angkut. Dimana orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo siap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Bau asap tahun lalu masih belum juga hilang dari ingatan kami dan bantuan dari Orangufriends berupa tandon air, selang maupun mesin air masih dalam kondisi terawat dan siap pakai. Semoga alam bermurah hati pada kami.

OVAG 2020 SECARA VIRTUAL

OVAG 2020 – The Orangutan Veterinary Advisory Group tahun 2020 terasa berbeda. 11 tahun sebelumnya, pertemuan OVAG selalu dilakukan secara langsung, namun kali ini OVAG dilakukan secara virtual akibat pandemi COVID-19.

Tahun ini OVAG terdiri dari dua bagian, yaitu online course dan live webinar. OVAG kali ini benar-benar menjadi angin segar bagi semua peserta sebagai tempat belajar. “Empat bulan ini, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menutup diri dari orang luar. Bahkan COP Borneo menerapkan karantina ketat untuk perawat satwa yang bekerja dengan tidak keluar ataupun masuk selama sebulan penuh di awal pandemi. Saat ini tetap dilakukan selama dua minggu. Ini sebagai upaya untuk mencegah penyebaran COVID-19.”, ujar drh. Flora Felisitas.

OVAG 2020 menjadi tempat diskusi tentang pandemi COVID-19, disease risk analysis yang dapat diterapkan di tempat kerja, tentang manajemen nutrisi serta berbagai studi kasus dari beberapa pusat rehabilitasi. “Senang sekali bisa berkomunikasi dengan rekan se-profesi dari berbagai belahan bumi. Saling mendukung dan menguatkan, kesehatan orangutan menjadi tanggung jawab penuh kita, terutama yang berada di pusat rehabilitasi orangutan.”, tambah Flora lagi. 

Pandemi COVID-19 memaksa kita untuk meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu, memaksa kita memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Jarak menjadi tidak masalah, namun koneksi internet benar-benar menjadi kendala. Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo dengan jaringan internet terbatas, untuk bisa mengikuti OVAG 2020, drh. Flora harus mencari jaringan yang tidak cukup dibilang stabil di kampung Merasa, berkendaraan 30 menit dari camp. 

BERTIGA MEMBANGUN TANDON PEMBIBITAN COP BORNEO

Hujan cukup sering turun di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Waktu yang pas untuk bibit-bibit yang baru datang, donasi dari JATAN, Jepang. Tapi untuk jaga-jaga, dan pengalaman tahun lalu dimana kebakaran terjadi dan mendekati COP Borneo, tim APE Defender berinisiatif membangun tandon air di dekat pembibitan. “Berharap hujan yang tertampung bisa memenuhi kebutuhan pembibitan. Dan alam berbaik hati untuk tidak terjadi kebakaran tahun ini.”, ujar Wety Rupiana.

“Ini tandon donasi dari Orangufriends saat terjadi kebakaran tahun lalu. Tandon ini dipergunakan untuk membawa air ke lokasi kebakaran. Hufff kalau gak ada tandon ini, entah apa yang terjadi.”, ujar Simson, perawat satwa yang ikut membangun tempat tandon. 

Tandon air ini juga untuk mengisi tempat cuci tangan di tempat parkiran. Pandemi COVID-19 mengajak kita hidup lebih disiplin dan bersih. Setiba di COP Borneo, turun dari kendaraan diwajibkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Baru boleh ke camp. 

“Lumayan nih, cuman berdua bisa menyelesaikan tandon air ini. Semangat dan percaya diri itu intinya. Bersama pasti bisa.”, tambah Wety lagi. Untuk Orangufriends (pendukung COP) yang telah menyumbangkan tandon, terimakasih ya. Tandonnya kita gunakan untuk mengairi pembibitan.

KELEMBAPAN HUTAN MENUNTUT PERAWATAN ALAT

Hujan masih sering turun di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Pusat rehabilitasi yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan ini seperti Hutan Hujan Kalimantan lainnya yang memiliki kelembapan yang cukup tinggi. Kelembapan ini membuat tim APE Defender yang berada di COP Borneo bekerja ekstra keras dalam merawat peralatan dan perlengkapan kerja. Tak terkecuali penyimpanan masker medis. 

Sejak pandemi COVID-19, masker medis menjadi barang yang sangat langka. Jika ada, dalam jumlah sangat terbatas dan harga yang hampir tidak masuk akal. Sepuluh kali lipat harga normal bahkan lebih. Centre for Orangutan Protection sampai membuka donasi terbuka untuk memenuhi kebutuhan masker medis yang memang selalu digunakan di COP Borneo. 

Selain masker medis, sarung tangan medis pun ikutan menghilang dari pasaran. COP bersyukur sekali dengan bantuan dari masyarakat luas, baik itu perorangan maupun lembaga. Kiriman datang dan memenuhi kebutuhan untuk sebulan bahkan dua bulan kedepan. 

Kelembapan tinggi di tempat penyimpanan membutuhkan perawatan ekstra. sesekali gudang penyimpanan harus dibuka, diperiksa satu per satu dan dirapikan kembali. Masker, sarung tangan, pelindung wajah bahkan baju dekontaminasi tak luput dari pemeriksaan tim logistik. “Kami sangat menghargai usaha mereka yang telah mengirimkan peralatan untuk melindungi kami maupun orangutan dari berbagai penyakit. Kiriman dari Surabaya, Jakarta, Yogya, Sumatera, Bali, Jepang maupun Australia sangat membantu kami. Kami tidak sendiri.”, ujar Wety Rupiana dari tim APE Defender COP.

APE DEFENDER BERSIAP SELAMATKAN BAYI ORANGUTAN

Senja ini tim APE Defender mendapat telepon, “Ada orangutan kecil yang dipelihara warga dan kita harus menyelamatkannya.”, ujar kepala BKSDA  SKW I Berau, Kalimantan Timur. Tentu saja tidak mudah menyelamatkan orangutan di tengah pandemi COVID-19 ini. Banyak protokol kesehatan yang harus diperhatikan mulai dari kesehatan pribadi, tim dan orangutan.

Malam ini juga kordinasi berjalan cukup lancar, “Untung saja internet di camp COP Borneo sudah menyala dan berfungsi. Terimakasih The Orangutan Project, tanpa koneksi internet, mungkin informasi baru akan sampai keesokan harinya.”, ujar Widi, manajer Pusat Rehabilitasi COP Borneo.

Malam hari setelah mempersiapkan kandang di klinik berikut hammock untuk orangutan yang akan diselamatkan, dokter hewan Flora mengecek kembali tas rescue orangutan untuk memastikan tidak ada alat medis maupun obat-obatan yang tertinggal. Para perawat satwa pun mengangkat kandang angkut ke mobil APE Defender agar besok pagi bisa langsung berangkat. “Selamat malam… doa kan kami baik-baik saja dan semua berjalan dengan lancar besok.”, ujar drh. Flora Felisitas yang sudah tiga bulan ini berada di camp aja sebagai upaya mencegah penyebaran virus Corona. 

 

EVAKUASI TERBESAR APE DEFENDER: 35 BUAYA

Sejak tahun 1998 buaya-buaya yang dipelihara M. Irsani berada di belakang rumahnya yang beralamatkan gang Buaya Badas, desa Sambaliung, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tak hanya buaya dengan panjang 2 meter saja yang berhasil dipindahkan ke kandang angkut oleh tim APE Defender COP, tetapi buaya dengan panjang 2,5 meter hingga 3,5 meter.

Tiga hari berturut-turut, akhirnya tim yang terdiri dari APE Defender Centre for Orangutan Protection, BKSDA SKW-1 Berau, Kalimantan Timur dan Komunitas Reptil Berau berhasil memindahkan ketigapuluhlima buaya tersebut. Salah seorang anggota tim Pusat Perlindungan Orangutan, terpaksa beristirahat di hari keduanya karena sobek, tergigit.

Di tengah guyuran hujan deras, tim pun terpaksa menghentikan evakuasi terbesar ini. Tenaga pun sudah banyak terkuras. “Iya, kita akhirnya berhasil berhasil memasukkan 35 buaya ke kandang angkut. Selanjutnya BKSDA SKW-1 Kaltim akan membawa buaya-buaya tersebut ke Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan dengan menggunakan truk.”, ujar drh. Flora Felisitas, tim medis COP.

BERANI TAK BERANI TURUN

Memahami perilaku orangutan tak cukup hanya mengamatinya satu atau dua kali saja. Berani yang dari catatan sekolah hutan sering bermain di lantai hutan apalagi kalau sudah ketemu Annie yang menjadi temannya bergelut. Keduanya bisa berjam-jam berdua saling gigit, bergulung-gulung di tanah. Bahkan usaha untuk memisahkan keduanya terkesan sia-sia, karena ternyata mereka tidak berkelahi serius, tapi lebih ke bermain.

Dan suatu sore menjadi sore terlama untuk Amir saat hujan terus menerus menguyur hutan hujan Kalimantan yang menjadi kelas sekolah hutan COP Borneo. Berani naik ke atas pohon di depan kandangnya. Naik dan naik terus, tak menghiraukan teriakan untuk turun dan saatnya masuk kandang. 

Hari semakin gelap, Berani masih di atas. Menjemputnya ke atas semakin tak mungkin, licin karena hujan. Berani berdiam di atas… ternyata dia pun takut. Beberapa kali memberanikan diri untuk turun dengan berpegangan pada akar yang menggelantung, dan terpeleset. Berani pun memilih berdiam. Bermalam di atas pohon, di depan kandang.