DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Hingga akhir bulan Oktober 2015, jumlah titik panas yang terdeteksi di atas peta Taman Nasional Tanjung Puting adalah 2.366. Luasan kawasan yang terbakar mencapai 91.000 hektar, 7000 diantara merupakan kawasan berhutan yang kaya akan keanekaragaman hayati. Kerusakan ini merupakan yang terbesar yang pernah ada, setara dengan kombinasi kebakaran tahun 1997 dan 2006. Titik api diperkirakan berasal dari luar kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional. Sudah seharusnya Kementerian Kehutanan melakukan investigasi mendalam atas kasus ini.

Diperkirakan, setidaknya 6000 orangutan mendiami kawasan konservasi seluas 400.000 hektar ini. Menyempitnya habitat sebagai dampak langsung kebakaran telah menjadikan kompetisi untuk ruang dan makanan menjadi semakin berat. Diperkirakan, kedepannya akan semakin banyak orangutan yang keluar dari kawasan dan mencari makan di areal masyarakat, terutama orangutan jantan yang tidak dominan. Konflik dengan manusia menjadi tak terhindarkan. Tim – tim rescue orangutan seperti dari Orangutan Foundation International (OFI) dan Centre for Orangutan Protection (COP) dipastikan akan bekerja lebih keras agar korban orangutan dapat dicegah. Orangutan yang terluka harus dirawat agar bisa bertahan hidup. Pusat Penyelamatan terdekat, yang dikelola oleh Orangutan Foundation di Pasir Panjang, saat ini dihuni oleh 330 orangutan.

Upaya instan untuk menyelamatkan orangutan yang berkonflik adalah dengan translokasi, yakni memindahkan mereka dari kawasan konflik ke kawasan berhutan yang jauh dari pemukiman masyarakat. Upaya ini sangat sulit dan berbiaya tinggi.

Kebakaran ini berdampak sangat buruk pada perekonomian setempat yang bergantung pada industri ekowisata. Sepanjang tahun 2014, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 16.689 orang, yangmana 10. 986 diantaranya adalah wisatawan asing. Jumlah kunjungan wisatawan asing selama kebakaran terjadi turun drastis hingga ke titik nol. Bandara Pangkalan Bun seringkali ditutup karena kabut asap yang ditimbulkan. Akibatnya, perjalanan – perjalanan wisata yang sudah dipesan oleh wisatawan harus dibatalkan. Kerugian yang diderita oleh para pelaku ekowisata di Tanjung Puting diperkirakan sejumlah 6 milyar rupiah selama 2 bulan terakhir.

Upaya pemadaman telah dilakukan dengan sangat keras oleh Balai Taman Nasional dengan dukungan dari Friends of National Park Foundation (FNPF), Orangutan Foundation International (OFI) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan seperti Sekonyer dan Teluk Pulai juga membantu upaya pemadaman. Centre for Orangutan Protection (COP) memberikan dukungan teknologi untuk menginventarisir kerusakan.

Komitmen FNPF sejak tahun 2003 untuk merestorasi kawasan di dan sekitar Taman Nasional Tanjung Puting tidak akan berubah, meskipun ancaman kebakaran terus terjadi. COP berkomitmen untuk melakukan kerja – kerja advokasi agar orangutan di TNTP terlindungi dari ekspansi perkebunan kelapa sawit dan kegiatan ekonomi yang kontraproduktif dengan misi konservasi dan ekonomi kerakyatan. OFI tetap berkomitmen mendukung Balai TNTP untuk melindungi orangutan kawasan konservasi TNTP.

Untuk wawancara dan informasi lebih mendalam, silakan berkomunikasi dengan:

Basuki Budi Santoso, Manager FNPF Kalimantan.

Telepon : 08125490673

Email : b4s_uki@yahoo.com

Fajar Dewanto, Manager Orangutan Foundation International

Telepon : fajarmadani@yahoo.com

Email : 081349749208

Hardi Baktiantoro, Ketua Centre for Orangutan Protection

Telepon : 08121154911

Email : orangutanborneo@mac.com

ORANGUTAN AT AFA 2015

Asia for Animals conference starting October 6th-10th in Kuching on the island of Borneo, with a packed programme of presentations covering a huge range of issues. More than 400 delegates from 26 countries are attend that event. But so many of delegates can’t come because to much hazz and some of airport just closedown. Some of speaker just cancel to come in last day because the airport close specialy has plan transit at Pontianak west Borneo, Indonesia.
To much scedule change in firstday of conference.

This Conference talk about animal wildlife trade and some of them talk about animal farm, animal right and animal welfare in many place of this world. There have 3 speaker talk about orangutan, 2 from International Animal Rescue and 1 from Centre for Orangutan Protection.

Paulinus Kristianto from the Centre for Orangutan Protection in East Kalimantan on Indonesian Borneo called for an end to the ravages being caused to orangutan habitat by palm oil companies. Paulinus say, enough is enough no more palm oil, RSPO is biggers lie there is no sustainable in palm oil. Forest conservation by palm oil and recomendation by RSPO in reality is nothing. He say forest conservation recomendation by rspo just make legal palm oil company can distroy more and more high conservation forest in borneo.

Juanisa Andiani from International Animal Rescue Indonesia spoke about habitat destruction and told delegates that orangutans were being pushed onto rubber and oil palm plantations because they are desperate for fruit and water. “There used to be a lot of forest around the rubber plantations in Ketapang, but the trees have burnt down and suddenly the orangutans have to come and eat the rubber trees,” she said.

Adi Irawan, also from International Animal Rescue Indonesia, said there had been a 50 percent decline in orangutan populations in Indonesia over the past 60 years and most of the animals were now living outside protected areas. There are more than 1,000 orangutans in rescue and rehabilitation centres in Indonesia, Adi says. Hundreds of the animals are displaced or killed every years

This conference close at October 9th night and October 10th all delegate  have trip to some of rescue centre at Kuching.

APE CRUSADER TO FIGHT FIRES

Forest fires rage across Borneo, causing systemic disaster for animal, people and environment. COP decided its APE Crusader Team to assist our ally FNPF around Tanjung Puting National Park in Central Kalimantan. The FNPF has replanting program to rehab the designated area for orangutan release. This area burnt very bad. They in urgent need for help. Our team drive for about 50 hours non stop from its base in North East Borneo. We teamed up with Hutan Group from Japan also. Once we arrive, we fight the fires. We do everything what we can do. We are just nothing when fighting against nature amok. It is test for our ego. It is doesn’t matter what is your organisation and no matter how important your in your organisation, we are all just nothing in the mid of smokes and fires. We forced to pause our work as we have very bad news. The house of Paulinus, our APE Crusader captain has burt down in West Kalimantan. His beloved grandpa also died in the accident.

Forest fires kills wildlife and human, also devastated the life of our team member. We do not give up. We will never stop our crusade. We will keep fighting to save wildlife. We would like to say thank you for your support.