LOWONGAN DOKTER HEWAN

Centre for Orangutan Protection membutuhkan 1 (satu) orang Dokter Hewan. Anda akan menjadi anggota tim untuk berkeliling Kalimantan menjalankan operasi penyelamatan orangutan. Operasi ini tidak terbatas pada orangutan saja, namun juga berbagai jenis satwa liar lainnya.

Kirimkan Surat Lamaran anda ke: info@orangutanprotection.com segera. Lamaran akan segera ditutup segera setelah kami mendapatkan kandidat yang tepat.

PROSECUTORS PLAY A KEY ROLE IN WILDLIFE CONSERVATION

Why do criminals receive light sentences?  Because prosecutors demand light sentences. Since the 5th Laws in 1990 were enforced, not one person who has committed crimes against wild life has received more than a 2 year jail term. In general, they only serve 8 months in jail, however there are those that receive only 3 months probation. This means that the criminal is never actually incarcerated, but merely monitored for 3 months. If they are found to sell again in that 3 month period, then officials can put them into jail. This is the reason why crimes against wildlife continue to occur in Indonesia. Those who have been incarcerated, return to sell again and even to challenge BKSDA through social networking

Because of this experience, the COP started to focus on the Attorney General.  On the 7th of September 2015 the COP delivered a formal letter to the Attorney Generals office.  The COP requested that the Attorney General oversee legal proceedings in the case of the trading of 3 infant orangutans in Aceh. This was aimed to demand the maximum penalty so that the heaviest sentence would be given and the work of the police and BKSDA would not be in vain. So that the community support would not be in vain. So that the criminal would truly be punished and wildlife would no longer be threatened.

Come on prosecutors, play your part in the conservation of wildlife in Indonesia.

 

JAKSA MAINKAN PERAN KUNCI DALAM KONSERVASI SATWA LIAR

Mengapa penjahat dihukum ringan? Karena Jaksa menuntutnya ringan. Sejak Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 diberlakukan, tidak ada satupun pelaku kejahatan terhadap satwa liar dihukum penjara lebih dari 2 tahun. Umumnya hanya diganjar 8 bulan penjara, bahkan ada yang dihukum 3 bulan masa percobaan. Artinya, si penjahat tidak pernah benar – benar dipenjara. Dia hanya diawasi selama 3 bulan. Kalau dia ketahuan jualan lagi dalam 3 bulan tersebut, maka petugas bisa langsung menjebloskannya. Inilah sebabnya kenapa kejahatan terhadap satwa liar semakin menjadi – jadi di Indonesia. Yang sudah pernah dihukum penjara, langsung jualan lagi dan bahkan menantang BKSDA di jejaring sosial.

Berangkat dari pengalaman tersebut, COP mulai memfokuskan diri ke Kejaksaan. Pada tanggal 7 September 2015 COP melayangkan surat resmi ke Kejaksaan Agung. COP meminta agar Kejaksaan Agung mengawasi proses hukum kasus perdagangan 3 bayi orangutan di Aceh. Ini bertujuan agar tuntutan hukum bisa maksimal. Agar hukuman yang dijatuhkan bisa seberat – beratnya. Agar kerja polisi dan BKSDA tidak sia – sia. Agar dukungan masyarakat tidak sia – sia. Agar para penjahat benar – benar kapok, sehingga satwa liar tidak lagi terancam.

Ayo para Jaksa, mainkan peran anda dalam konservasi satwa liar Indonesia.

APE WARRIOR DEPARTS TO SUMATRA TO SUPPORT OPERATION NOCTURNO

After succeeding to catch a trader in Aceh and rescue 3 infant orangutans on the first of August 2015, the COP continues to fight against wildlife trade in Sumatra. Today, the APE warrior team departed to Sumatra with teams from Animals Indonesia. They will travel to south Sumatra, Bengkulu and west Sumatra. They will build the basic facilities of the Sumatra Wildlife Rescue Centre in Palembang and evacuate several species of wildlife so that they have a second opportunity for a better life.

Palembang is a point of contact for the wildlife trade in Indonesia, in the western part along with Pontianak and Medan.  The focus of the teams work is nocturnal wildlife, especially pangolins and lemurs. Because of this, #sumatramission this year has been labelled #operationnocturno .

Follow the latest developments on the website and through social media. Don’t forget to contribute. The success of this operation depends on the support of all of you.

 

APE WARRIOR DIBERANGKATKAN KE SUMATERA GUNA MENDUKUNG OPERASI NOCTURNO

Setelah berhasil membekuk seorang pedagang di Aceh dan menyelamatkan 3 bayi orangutan pada tanggal 1 Agustus 2015, COP terus bergerak memerangi perdagangan satwa liar di Sumatra. Pada hari ini, tim APE Warrior diberangkatkan ke Sumatra bersama dengan tim Animals Indonesia. Mereka akan menjelajahi Sumatra Selatan, Bengkulu dan Sumatra Barat. Mereka akan membangun fasilitas dasar Pusat Penyelamatan Satwa Liar Sumatra / Sumatra Wildlife Rescue Centre di Palembang dan mengevakuasi beberapa jenis satwa liar agar mereka memiliki kesempatan ke dua dalam hidupnya untuk hidup yang lebih baik.

Palembang adalah titik hubung perdagangan satwa liar di Indonesia bagian barat bersama dengan Pontianak dan Medan. Fokus kerja tim saat ini adalah satwa liar malam atau nokturnal, terutama trenggiling dan kukang. Karenanya, #sumatramission tahun ini dilabeli dengan #operationnocturno .
Ikuti terus perkembangan terbaru di website dan jejaring sosial. Jangan lupa untuk menyumbang. Kesuksesan operasi ini bergantung pada dukungan anda semua.

300 + 100

The clock hand strikes midnight. The APE Warriors camp is still full of people. Members of Orangufriends Yogya are still busy, packaging 300 T-shirts, to be mailed out to those who have purchased them. The sales of this limited line of T-shirts will fund Sound for Orangutan (SFO), an annual music performance run by COP. The funds from this concert will be used to build a COP Orangutan Rehabilitation Center in East Kalimantan.
COP volunteers battle exhaustion; it is vital that this work is completed on time and customers are not let down. So that they will be happy to become customers again, next time T-shirts are on offer. This effort is for orangutans, for all wildlife.
Tonight, it appears members of Orangufriends will have to work harder again. 100 more shirts must now be packaged. Not for orangutans this time, but for the release of wild animals, caged in the Banjarbaru,City Gardens in South Kalimantan. These poorly-designed cages must be modified, so that these animals are no longer bound by chains. There must be investment in these facilities, so that these animals may prosper. All of this requires money. In the purchasers of these T-shirts we trust. In our members we trust.
With that, goodnight. To the Orangufriends members, now returning to their homes, remain firm – firm and alert. I know you are all exhausted, but the work of COD is not yet finished.

 

300 + 100

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Camp APE Warrior di Yogya masih ramai. Para anggota Orangufriends masih sibuk mengemas 300 kaos untuk dikirimkan ke para pemesannya. Kaos yang diproduksi terbatas itu untuk mendanai pertunjukan musik tahunan Sound For Orangutan (SFO). Keuntungan dari konser musik tersebut akan digunakan untuk membangun Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur.

Capek dan ngantuk harus dilawan. Pekerjaan harus diselesaikan tepat waktu, agar para langganan tidak kecewa. Agar mereka dengan senang membeli kaos yang ditawarkan di kemudian hari. Hasilnya untuk orangutan. Hasilnya untuk satwa liar.

Malam ini, nampaknya para anggota Orangufriends harus bekerja lebih keras. Ada 100 lagi kaos yang harus dikemas. Kali ini bukan untuk orangutan, tetapi untuk membebaskan satwa – satwa yang kini dirantai di Taman Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kandang yang salah desain di sana harus dimodifikasi, agar binatang – binatang di sana tidak perlu dirantai. Kandang mereka harus diperkaya fasilitasnya agar mereka bisa hidup lebih baik dan sejahtera. Semua butuh duit. Pada para penggemar kaos bergambar binatang kami berharap. Pada para anggota kami berharap.

Begitulah, selamat malam. Bagi para anggota Orangufriends yang kembali ke rumah masing – masing, tetap hati – hati dan waspada. Saya tahu kalian mengantuk, tapi tugas COD kaos dengan pembeli tetap harus diselesaikan.

YOUR REPORTS – SAVING THE ANIMALS

Thanks to the report of one caring person, an online wildlife trafficker has been arrested in Langsa, East Aceh. 3 infant orangutans were saved along with several other rare species of wild animals. The owner of the online account ‘Habitat Aceh’ is now facing 5 years jail time based on Regulation 5, 1990. This is not the first time an online user has saved wild animals by reporting such crimes to COP. Thanks to their awareness, at least 12 individuals trading wildlife via social networks such as Facebook have been jailed and 167 rare species have been confiscated – including orangutans, bears and clouded leopards. Not bad, eh?

 

Reports that come in to COP will be quickly followed up with more detailed information, after an investigation to ascertain the truth of the situation. Once the facts have been confirmed, COP will communicate the report to the acting authorities – in these cases the police and the Office of Natural Resource Conservation (BKSDA)/Forestry Ministry. With this correspondence we are hoping for enforcement of the law. Until the suspects are caught and successfully brought to the interrogation room, the COP team will keep their mouths shut. Everything will be done swiftly and silently.
So, COP will not brag, make it into some kind of competition, ask for information from the public or pretend like we are chasing suspects. COP will not just turn your reports into a statistic like “online wildlife trafficking has risen 70%”, or “we receive as many as 1000 reports of cases per year”. For COP, the indicator of success in this war on crime will be the number of criminals thrown into jail, not the amount of comments, shares, or likes on Facebook.
That’s the way law enforcement should be done.
And so, COP urges you, the online community, not to rave on about these perpetrators, condemning them and spreading their faces far and wide. This only lets the suspect know that they have become a target, and allows them to quickly cover their tracks, making law enforcement a much more complicated task. Simply report them to us and let us deal with them alongside the authorities.

Once again, remember: Your reports are saving the animals!

 

LAPORANMU, MENYELAMATKAN SATWA

Berkat laporan seorang netizen yang peduli, seorang pedagang satwa liar berhasil ditangkap di Langsa, Aceh Timur. 3 bayi orangutan berhasil diselamatkan bersama dengan beberapa jenis satwa liar langka lainnya. Pemilik akun “Habitat Aceh” itu kini menghadapi tuntutan penjara 5 tahun berdasarkan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990. Ini bukan pertama kalinya para netizen menyelamatkan satwa liar dengan cara melaporkannya ke COP. Berkat kepedulian mereka, setidaknya 12 orang yang berjualan melalui jejaring sosial seperti Facebook berhasil dipenjara dan 167 satwa langka disita termasuk orangutan, beruang dan macan dahan. Lumayan kan?

Laporan yang masuk ke COP akan segera ditindaklanjuti dengan pendalaman informasi, melalui sebuah penyelidikan untuk memastikan kebenarannya. Jika sudah pasti, COP akan memgkomunikasikannya dengan otoritas yang berwenang, dalam hal ini polisi dan BKSDA/ Kemenhut. Dalam komunikasi itu kami merencanakan operasi penegakan hukum. Sampai si tersangka ditangkap dan berhasil dibawa ke ruang interogasi, tim akan tutup mulut. Semua dilakukan dengan sunyi dan cepat.
Jadi, COP tidak akan berkoar – koar, semacam bikin sayembaralah, minta bantuan informasi ke masyarakatlah atau berpura – pura mengejar si tersangka. COP tidak akan menjadikan laporan anda sebagai bahan statistik seperti ini: perdagangan satwa online meningkat 70% atau kami menerima pengaduan sebanyak 1000 kasus per tahun. Bagi COP, indikator suksesnya perang melawan kejahatan adalah banyaknya orang dijebloskan ke penjara, bukan banyaknya komentar, bagi atau suka di Facebook. Begitulah seharusnya penegakan hukum dijalankan.
Bersama ini COP menghimbau kepada Netizen untuk tidak berkoar – koar mengutuk pelaku kejahatan dan menyebarluaskan secara sporadis dan brutal. Kegoblokan seperti ini hanya akan membuat si tersangka sadar bahwa dirinya sudah jadi target masyarakat dan lalu dia menghapus jejaknya. Maka penegakan hukum makin rumit dilakukan. Cukup laporkan kepada kami dan biarkan kami yang menyelesaikannya bersama otoritas yang berwenang.
Sekali lagi, ingatlah: Laporanmu menyelamatkan satwa!

COP LAUNCH SUMATRA MISSION #3

image001

Today, the Centre for Orangutan Protection dispatched 2 members of the APE Warrior team to Sumatra. The aim of this journey is gather public support in the fight against poaching and wild life trade along with helping zoo officials to achieve ex situ conservation goals which are mandated by The Ministry of Forestry especially in regards to the welfare of wildlife and education of society.

APE Warrior, Daniek Hendarto, who lead this Sumatran mission provided and the following statement:

“This is our 3rd routine mission. The first was undertaken at the start of 2013. In the first mission, we helped 4 zoos with handling 6 orangutans and several other species of primates. We also will campaign to close zoos which cannot be improved and relocate the animals to other zoos. In our second mission, we focussed on Aceh, helping local authorities relocate orang-utans and a diverse variety of other animals which were illegally kept’.

“This mission is quite unique because we are partnering with other organisations such as Animals Indonesia. This mission is titled Operation Nocturno. The aim is to fight crime against nocturnal animals especially lemurs and pangolins. The second APE Warrior team will depart in on the second of August.”

“The team will also visit schools and community groups to galvanise support in the fight against poaching and wild life trade. A large proportion of animals in Sumatran zoos are donated from the community. This means they are victims of poaching, trade and the illegal pet industry. There needs to be joint efforts to end this cycle.

The Sumatran mission will last for 30 days and will go to south Sumatra, Riau and North Sumatra. The Centre for Orangutan Protection thanks the Orangutan Information Centre for its support.

 

Centre for Orangutan Protection pada hari memberangkatkan 2 anggota tim APE Warrior ke Sumatra. Misi dari perjalanan ini adalah menggalang dukungan publik untuk memerangi perburuan dan perdagangan satwa liar serta membantu para pengelola kebun binatang untuk mencapai tujuan – tujuan lembaga konservasi ex situ yang diamanatkan oleh Kementerian Kehutanan, terutama dalam hal kesejahteraan satwa liar dan pendidikan masyarakat.

Daniek Hendarto, kapten APE Warrior yang memimpin Misi Sumatra ini memberikan pernyataan sebagai berikut:

“ Ini adalah misi rutin kami yang ke 3. Yang pertama dijalankan di awal tahun 2013. Dalam misi pertama tersebut kami membantu 4 kebun binatang dengan jumlah total orangutan yang  ditangani adalah 6 orangutan dan beberapa jenis primata lainnya. Kami juga akan mengkampanyekan penutupan kebun – kebun binatang yang secara teknis tidak mungkin diperbaiki. Satwanya harus dievakuasi ke kebun binatang lain. Dalam misi kami yang ke 2, kami memfokuskan diri di Aceh, membantu otoritas setempat mengevakuasi orangutan dan beragam jenis liar lainnya yang dipelihara illegal.”

“Misi kali sangat unik karena kami bermitra dengan organisasi lain, yakni Animals Indonesia. Misi ini bertajuk Operation Nocturno. Bertujuan memerangi kejahatan terhadap satwa liar nokturnal terutama kukang dan trenggiling. Tim ke 2 APE Warrior akan diberangkatkan pada minggu ke 2 Agustus.”

“ Tim juga akan berkunjung ke sekolah – sekolah dan kelompok swadaya masyarakat untuk menggalang dukungan pada perang melawan perburuan dan perdagangan satwa liar. Sebagian besar koleksi kebun binatang yang ada di Sumatra adalah sumbangan masyarakat, artinya mereka adalah korban dari perburuan, perdagangan dan pemeliharaan illegal. Harus ada upaya bersama untuk menghentikan siklus ini. “

Misi Sumatra akan berlangsung selama 30 hari, menyinggahi Sumatra Selatan, Riau dan Sumatra Utara. Centre for Orangutan Protection mengucapkan terima kasih atas dukungan Orangutan Information Centre.

SURABAYA ZOO STOP ANIMAL SHOW

Centre for Orangutan Protection applaud the decision of the Surabaya Zoo for no longer use orangutans for entertainment show. Thanks to the Orangufriends Network and our allies such as Animals Indonesia, OIC and JAAN for campaigning against this cruelty. #orangutanbukanmainan. Please follow this link for more detailed information.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/07/18/nrodmx-kebun-binatang-surabaya-hapus-pertunjukan-orangutan

A CERTIFICATE IS NOT ENOUGH, COMMIT NOW !

The Centre for Orangutan Protection (COP) believes that a certificate is not enough for a company to claim that a palm oil product is environmentally friendly. In reality, certificates are often merely a document on a table and do not reflect the actual conditions in the field. Based on the COP watch list which was started in 2007, companies who are members of RSPO are intentionally not meeting the principles and criteria of the RSPO to the extent that their operations often sacrifice forest and orangutans. Although it started in 2001 and has been going for 14 years, violations still continue.  Strangely, companies who commit violations, are not removed from the RSPO. The RSPO has become a green shield which protects palm oil companies who commit crimes. The RSPO could lose its credibility if it fails to act decisively.

Commitment is needed for the palm oil industry to become an industry which is friendly to the forests and orangutans and that commitment must be monitored. The COP asserts that it is ready to provide real information to players in the palm oil businesses to ensure the ‘greenness’ of their business.

COP thanks The Palm Oil Investigation and The Forest Trust who have already facilitated this important meeting to open the eyes of the palm oil industry in Australia and formulate actions which are required to help the conservation of orangutans and their habitat.

 

SERTIFIKASI SAJA TIDAK CUKUP, KOMITMEN SEKARANG

Pusat Perlindungan Orangutan (COP) menekankan bahwa sertifikasi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa sebuah produk kelapa sawit bisa dikatakan sebagai produk yang ramah lingkungan. Pada kenyataannya, sertifikasi seringkali berupa dokumen di atas meja yang tidak memcerminkan kondisi sesungguhnya di lapangan. Berdasarkan pantauan COP sejak tahun 2007, perusahaan – perusahaan anggota RSPO secara sengaja tidak menjalankan Prinsip dan Kriteria sehingga operasinya seringkali mengorbankan hutan dan orangutan. Meskipun dimulai sejak tahun 2001 atau sudah berjalan selama 14 tahun, namun pelanggaran – pelangaran masih terus terjadi. Anehnya, keanggotaan mereka dari RSPO tidak dicabut. RSPO telah dijadikan tameng hijau untuk melindungi kejahatan perusahaan sawit yang nakal. RSPO dapat kehilangan reputasinya jika tidak bertindak tegas.

Dibutuhkan komitmen untuk menjadi sebuah industri yang ramah bagi hutan dan orangutan. Dan komitmen itu harus dipantau. COP menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan informasi yang sesungguhnya bagi para pelaku bisnis kelapa sawit guna memastikan ke-hijau-an mitra bisnisnya.

COP mengucapkan terima kasih kepada Palm Oil Investigation dan The Forest Trust yang telah memfasilitasi pertemuan penting ini guna membuka mata industri kelapa sawit di Australia dan merumuskan tindakan yang dianggap perlu untuk membantu perlindungan orangutan dan habitatnya.

COP’S CAMPUS IS INAUGURATED

A new COP office complex in Yogya has recently been officially opened by Hardi Baktiantoro, Principal of the COP. The complex stands on 1200 square meters of land and it is planned to be used as the base for the APE Warrior team environmental education. At the moment, one building has been constructed, a wooden house in the Javanese style which is commonly referred to as Limasan. Uniquely the materials used in the construction of the house were almost entirely scrap material. Once inaugurated, this complex will be used for the COP school education program “animal activism”. The first building will be used as a classroom and the land around it will become grounds for camping.

Marked by the eruption of Mount Merapi, the COP with APE Warrior, have been formally located in Yogya since 2010,. The previous team, which was based in Jakarta and named The Mobile Education Unit, was then sent to Yogya and changed its name to APE Warrior and grew to spread fear amongst illegal wildlife traders. Since 2012, the COP has aligned itself with The Ministry of Forests and the Indonesian police to undertake 11 raids in which 146 protected wild animals have been rescued. At least 14 people have been interrogated and 8 amongst them have been imprisoned.  There is no doubt that the COP is one of the most effective groups in fighting the illegal wildlife trade in Indonesia.  Wildlife trading causes unnecessary suffering for the animals involved. This team are also effective in campaigning and raising public support.

 

KAMPUS COP DIRESMIKAN

Kompleks baru perkantoran COP di Yogya baru saja diresmikan penggunaannya oleh Hardi Baktiantoro, Principal COP. Kompleks yang berdiri di atas lahan seluas 1200 meter persegi tersebut rencananya akan digunakan sebagai pangkalan tim APE Warrior dan wahana pendidikan lingkungan hidup. Saat ini baru 1 bangunan yang sudah berdiri, sebuah rumah kayu dengan arsitektur Jawa yang biasa disebut degan Limasan. Uniknya, material yang digunakannya, hampir seluruhnya menggunakan bahan bekas. Begitu diresmikan, kompleks ini langsung digunakan untuk program pendidikan “animal activism” COP School. Bangunan utama digunakan sebagai ruang kelas dan tanah disekitarnya dijadikan lahan perkemahan.

COP dengan tim APE Warrior- nya hadir secara resmi di Yogya pada tahun 2010, ditandai dengan meletusnya Gunung Merapi. Tim yang sebelumnya bernama Mobile Education Unit, yang berpangkalan di Jakarta itu segera dikirim ke Yogya dan diganti namanya. APE Warrior tumbuh menjadi hantu bagi para pelaku perdagangan illegal satwa liar. Sejak tahun 2012, COP bersekutu dengan Kementerian Kehutanan dan Kepolisian Indonesia telah melaksanakan 11 kali operasi penggerebekan. 146 satwa liar langka yang yang dilindungi berhasil diselamatkan. Setidaknya 14 orang diinterigasi dan 8 diantaranya telah dipenjara. Tidak diragukan lagi COP adalah salah satu kelompok paling efektif dalam memerangi perdagangan satwa liar di Indonesia. Perdagangan menyebabkan penderitaan yang tak perlu pada satwa liar. Tim ini juga menjalankan perannya dengan baik sebagai lengan kampanye dan penggalangan dukungan publik.

COP SCHOOL BATCH #5 BERLANGSUNG

35 anak muda dari berbagai daerah di Indonesia telah tiba di kawasan Kampus COP di Yogya. Mereka telah lolos seleksi, mengalahkan 85 orang lainnya yang melamar program COP School Batch #5. Program pendidikan ini berlangsung selama 5 hari di Yogya dan 6 bulan penugasan di daerah masing – masing.

COP School diampu oleh para praktisi konservasi seperti Panut Hadisiswoyo (OIC), Jamartin Sihite (BOSF) dan Hardi Baktiantoro (COP). Pada Batch #5 tahun ini, International Fund for Animal Welfare menerjunkan 2 orang staffnya, Jennifer Gardner dan May Felix untuk menjadi pelatih.

Para siswa dan alumni COP School adalah energi segar untuk upaya perlindungan satwa liar di Indonesia. Selepas dari program ini, mereka membantu COP dan berbagai proyek konservasi di Indonesia. COP School telah diikuti oleh 170 anak muda. Selain dari Indonesia, beberapa siswa berasal dari Australia, Korea dan Malaysia.