LOWONGAN JURU MASAK.

Dapur yang terletak di dalam hutan Labanan yang indah ini butuh seorang juru masak yang handal, yang mampu melayani 10 orang setiap harinya. Jika kamu hobby masak dan petualangan, segeralah melamar ke: hery@cop.or.id. Paling lambat tanggal 20 April 2015.

Sebagai penguasa dapur, kamu akan memastikan bahwa semua orang mendapatkan makanan yang baik, bersih dan bergizi, termasuk memastikan ketersediaan stok logistik. Kamu akan berbelanja, memasak dan menentukan menu setiap harinya.

Sebagai anggota tim di Pusat Reintroduksi Orangutan Labanan, kamu juga akan tinggal di asrama di dalam hutan yang telah disediakan.

PATTY SHENKER: CONNECTING PEOPLE

3 months ago we had to pause our work as we have to conduct search and rescue operation. 2 students lost while doing field research in Labanan forest. The SAR operation become more complicated as our radio are broken already. 3 days later we found them.  The problem will not till we have proper radio. Our site size is 10 hectares. We still have to work around 7900 hectares . It is impossible to communicate with mobile phone. No BTS tower there. The only solution is radio. Thanks to Patty Shenker for providing solution. Now we have Handy Talky Radio. Communication is much more easier now. We are all well connected now. We plan to improve it to DSTAR, a digital system that allow us to connect with internet. Let see.

 

3 bulan yang lalu kami harus menghentikan kerja kami karena harus melaksanakan operasi pencarian dan penyelamatan. 2 orang siswa hilang dalam penelitian lapangan di hutan Labanan. Operasi SAR menjadi makin rumit karena radio kami sudah rusak. 3 hari kemudian kami menemukan mereka. Masalah tidak akan berhenti sampai kami memiliki radio yang memadai. Ukuran situs kami seluas 10 hektar dan kami masih bekerja di kawasan seluas 7900 hektar. Tidak mungkin berkomunikasi dengan telepon genggam karena tidak ada menara BTS. Solusi satu satunya adalah radio. Terima kasih kepada Patty Shenker yang memberikan solusi. Kini kami memiliki radio radio HT. Komunikasi menjadi semakin mudah. Kami semua terhubung satu sama lainnya. Kami berencana meningkatkannya menjadi DSTAR, sebuah system digital yang memungkinkan kami tersambung dengan internet. Lihat saja nanti.

 

We are developing COP Campus

For about 5 years, we rely on the generosity of the Daniek’s family that provide us free house for office and camp for the APE Warrior Team and COP School in Yogya. As it is located in the middle of neighbourhood, off course we often disturb environment. Can you imagine how bad the noise from many youngsters everyday? That is why we feel that we need to develop our own, away from kampong. Again, the Daniek’s family show their generosity. They provide us land in the middle of paddy field. Wow! A Javanese traditional house in a beautiful place. Today, we set up main frames. Hopefully, the main building will be settled within two week. For the students of the COP School Batch #5, you will be there!

Selama kurang lebih 5 tahun, kami mengandalkan kebaikan dari keluarga Daniek yang menyediakan kami rumah gratis untuk kantor dan kamp bagi APE Warrior dan COP School di Yogya. Dikarenaan terletak di tengah pemukiman, tentu saja kami sering menyebabkan gangguan. Daptkah kamu membayangkan suara berisik yang ditimbulkan oleh banyak anak muda setiap hari? Karena itulah kami merasa bahwa kami perlu membangun sendiri tempat kami, jauh dari Kampung. Lagi, keluarga Daniek menunjukkan kebaikannya. Mereka menyediakan lahan di tengah sawah padi. Wow! Akan berdiri sebuah rumah tradisional Jawa di tempat yang indah. Pada hari ini kami memasang kerangka bangunan utama. Diharapkan, akan selesai dalam waktu 2 minggu. Bagi para siswa COP School Batch #5, kamu akan berada di sana!

RESCUED: UNYIL.

Following report from the COP’s APE Crusader Team, a team from Wildlife Authority and COP’s APE Defender Team rescued Unyil, a 4 years old who live inside a toilet. Once he arrived in the centre, our vet Imam do several check. Unyil have to be quarantined for a while until we determine wether he is free or not from any contagious diseases like Tuberculin and Hepatitis.

Unyil case is very common in Indonesia. People try to help animals from trade and be the hero in the wrong ways. They pay the proposed price from traders and look after them as family members. The ex owner of Unyil even celebrated Unyil’s “birthday” every Valentine Day, give him human food and shower him everyday.

Menindaklanjuti laporan dari tim APE Crusader, maka tim gabungan dari BKSDA dan APE Defender segera bergerak untuk menyelamatkan Unyil, anak orangutan berusia 4 tahun yang tinggal dalam sebuah toilet. begitu sampai di tempat kami, dokter hewan Imam melakukan beberapa test. Unyil harus dikarantina dulud beberapa waktu untuk menentukan apakah dia mengidap penyakit menular Tubercolusis dan Hepatitis.

Kasus seperti Unyil sangat umum terjadi di Indonesia. Orang – orang mencoba menolong satwa dari perdagangan dengan membelinya. Mereka membayar harga yang diatwarkan penjual dan memperlakukannya sebagai anggota keluarga. Pemilik Unyil bahkan merayakan “ulang tahun” Unyil setiap Hari Valentine, memberikannya makanan manusia dan memandikan setiap hari.

 

Who is in the toilet?

Sorry to this bad news. Our APE Crusader team just discovered this in a toilet. We have not enough words to tell his misery.

Maaf untuk berita buruk ini. Tim APE Crusader tim menemukan ini dalam sebuah toilet. Kami tidak punya cukup kata untuk menggambarkan penderitaannya.

I AM NESTING

Nesting is an essential skill for orangutan. They have to build a nest for sleep in the canopy, away from predators. They learn it from mom. For orphaned orangutans in the rehab centre, the will learn it from baby sitter or technician as surrogate mother. Many of them still remember the lesson they learnt when their mother still alive. So we just need to give them opportunities as much we can to develop their skill during forest school or even inside the cage. We provide leaves inside the cages before evening. Many of them are expert now, just like wild one. We confidence to release 3 of them to wild in the next semester. Keep support us to create second chance to them to be wild and free orangutan.

Membuat sarang adalah keahlian yang harus dimiliki orangutan. Mereka harus membuat sarang untuk tidur di tajuk pohon, jauh dari jangkauan pemangsa. Mereka mempelajari keahlian itu dari induknya ketika mereka masih hidup. Bagi orangutan yatim piatu, mereka mempelajarinya dari baby sitter atau teknisi sebagai ibu pengganti. Banyak diantara mereka masih ingat pelajaran yang didapat dari ibunya. Jadi kami hanya menyediakan sebanyak mungkin kesempatan untuk melatih keahliannya selama sekolah hutan atau bahkan di dalam kandang. Kami menyediakan dedaunan di dalam kandang sebelum malam. Banyak diantara mereka sudah sangat ahli selayaknya orangutan liar. Kami percaya diri bisa melepasliarkan mereka di semester depan. Tetap dukung kami menciptakan kesempatan kedua bagi mereka untuk hidup bebas di alam.

FROM BOSF WITH LOVE

Finally, all the 13 orangutans arrived in their new home at the COP Borneo. Labanan Forest is a prefect place for rehabilitation as well as sanctuary for Ambon, Debby and Memo. No more people intervene their privacy. This big job would not done without support from our ally Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). They deployed a vet and 6 keepers to assist COP. So, 50% percent of this success was belong to BOSF. It is impossible for us to do it alone as COP just a tiny organisation. We only have 1 vet and 6 keepers at the moment.

This is not the first time for COP and BOSF teams to work together. It was not difficult for COP and BOSF team together as team as we have similar standard. Our Principal, Hardi was the assistant for Lone Nielsen in BOSF Nyarumenteng several years ago. He just adopt and implement what he learn from the Guru. We show to the world that partnership is good to achieve our common goal.

Akhirnya, ke 13 orangutan itu tiba di rumah barunya di COP Borneo. Hutan Labanan adalah tempat yang sempurna untuk rehabilitasi dan pensiun bagi Ambon, Debby dan Memo. Tidak ada lagi orang yang bisa mengganggu privasi mereka. Kerja besar ini tidak akan beres tanpa dukungan dari sekutu kami Yayasan BOS. Mereka menerjunkan 1 dokter hewan dan 6 perawat to membantu COP. 50% dari sukses ini adalah milik mereka. Tidak mungkin bagi kami untuk melakukannya sendiri karena kami hanya organisasi mini. Kami hanya punya 1 dokter hewan dan 6 perawat saat ini.

Ini bukan yang pertama bagi tim COP dan BOSF. Tidak sulit bagi tim COP dan BOSF dalam bekerja bersama karena kami punya standar yang mirip. Ketua kami, Hardi, dulunya adalah asisten Lone Nielsen di BOSF Nyarumenteng beberapa tahun lalu. Dia hanya mengadopsi dan menjalankan apa yang dipelajari dari gurunya.  Kami menunjukkan pada dunia bahwa kerjasama itu baik untuk mencapai tujuan bersama.

PLAYING IN THE TRANSPORT CAGE

Just like ordinary kids, Novi and Jabrik are really enjoy the trip. They play all the time. They are 2 of 13 orangutans who are on the way to COP BORNEO, a 5th Indonesian reintroduction centre. Thanks to the Orangutan Outreach to fund this big translocation.

Selayaknya anak – anak, Novi dan Jabrik sangat menikmati perjalanan. Mereka bermain sepanjang waktu. Mereka adalah 2 dari 13 orangutan yang sedang dalam perjalanan menuju COP BORNEO, Pusat Reintroduksi Orangutan ke 5 yang dimiliki oleh Indonesia. Terima kasih kepada Orangutan Outreach yang telah mendanai pemindahan besar ini.

A TRIP FOR BETTER FUTURE

Novi and Jabrik are the victim of oil palm plantation in East Kalimantan. We look after Novi since November 2014 and Jabrik since January 2015 in the facility of Wildlife Authority.  After months sitting in the cage, they will have better future soon. We take them Labanan Forest. They are among 13 orangutans in our list who will live in our reintroduction centre. All of them are departing tomorrow. Novi and Jabrik are in our Samarinda camp now.

Novi dan Jabrik adalah korban kelapa sawit di Kalimantan. Kami merawat Novi sejak November 2014 dan Jabrik sejak January 2015 di fasilitas milik BKSDA. Setelah berbulan – bulan duduk di kandang, mereka akan punya masa depan yang lebih baik. Kami membawanya ke hutan Labanan. Mereka adalah 13 orangutan yang akan tinggal di pusat reintroduksi kami. Mereka semua akan berangkat besok. Novi dan Jabrik sekarang berada di camp kami di Samarinda.

His name is NYATA

NYATA is a reality we have to face in Kalimantan nowadays. Just same shit different places: forest being cleared to make way for oil palm plantation or coal mining. The staffs of Kutai National Park brought him to Wildlife Authority facility in Samarinda, then we took him to their facility in Tenggarong. According to them, they confiscated from a local nearby park that kept it for 5 years already. We confidence that the story simply a hoax. NYATA is about 3 years old and still very wild. He looked nervous and mad when we approach him. He scream and smack food container and everything he can inside the cage. He try to warn us for not get closer. We decided to leave him alone today. However we promised to him to take to our centre soon once he is ready for a long land trip.

 

NYATA adalah kenyataan yang harus kami hadapi setiap hari di Kalimantan. Hanya masalah yang sama, tempatnya saja yan beda: hutan dibabat untuk membuka perkebunan kelapa sawit atau tambang batubara. Staff Taman Nasional Kutai membawanya ke kantor BKSDA di Samarinda lalu kami membawanya ke fasilitasnya di Tenggarong. Menurut mereka, dia disita dari seorang warga yang telah memeliharanya selama 5 tahun di dekat Taman Nasional. Kami yakin bahwa itu bohong. NYATA berusia sekitar 3 tahun dan masih sangat liar. Dia kelihatan sangat gugup dan marah ketika kami mencoba mendekatinya. Dia menjerit dan membanting wadah makanan dan apa saja yang bisa diraihnya dalam kandang. Dia mencoba peringatkan kami untuk tidak mendekat. Kami memutuskan untuk membiarkannya dulu hari ini. Bagaimanapun juga kami berjanji untuk kembali dan membawanya ke Pusat Reintroduksi kami segera setelah dia siap untuk perjalanan darat yang jauh.