POACHING IS NOT ONE OF ASIAN GAMES SPORT BRANCHES

Shooting will be one of sport branch of Asian Games 2018. But you know, that doesn’t mean that poaching is also a sport that will be contested. It’s because poaching is an activity of chasing, hunting or even killing wild animals for fun, to eat, to sell, or to take advantage of its product.

Cases of wildlife death, especially orangutan with evidence of air rifle bullets continuously happening. Even though Regulation of The Chief of Police No 8 of 2012 regarding Supervision and Control of Firearm for Sport Purposes, air rifle uses is limited to shoot a target (article 4, paragraph 3) and can only be used in the location of games or excercises (article 5, paragraph 3), have existed. This regulation isn’t strong enough to be enforced. So, death cases of protected wildlife as in Act No 5 of 1990 regarding Conservation of Living Resources and Their Ecosystem which its implementation is still far compared to its loss.

Of course, athletes of shooting will not want to be equated to hunters or poachers, will they? The numbers that will be competed in shooting are Pistol, Rifle, Running Target and Skeet and Trap. Three Asian Games 2018 mascots named Bhin-bhin, Atung and Kaka obviously wouldn’t be willing to see their friends are being targeted. “Asian Games 2018, poaching is not sport!.”

BERBURU BUKAN CABANG OLAHRAGA DI ASIAN GAMES
Olahraga menembak akan jadi cabang olahraga di Asian Games 2018. Tapi bukan berarti berburu juga sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan loh. Karena berburu adalah aktivitas mengejar, menangkap atau membunuh hewan liar untuk dimakan, rekreasi, perdagangan atau memanfaatkan hasil produknya.

Kasus-kasus kematian satwa liar terutama orangutan dengan barang bukti peluru senapan angin terus-menerus terjadi. Walaupun Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk kepentingan Olahraga, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3) sudah ada. Perkap ini tidak cukup kuat untuk ditegakkan. Sehingga kasus kematian satwa liar yang dilindungi Undang-undang menggunakan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang pada pelaksanaannya masih jauh dari kerugian yang terjadi.

Tentu saja para atlit menembak tidak mau disamakan dengan pemburu kan? Nomor-nomor yang akan dipertandingkan di cabang olahraga menembak adalah Pistol, Rifle, Running Target dan Skeet and Trap. 3 maskot Asian Games 2018 yang bernama Bhin-bhin, Atung dan Kaka tentunya tidak akan rela saat target tersebut adalah teman-teman mereka juga. “Asian Games 2018, berburu bukan olahraga!”.

TAMAN HEWAN SIANTAR OUGHT TO RETURN TWO ORANGUTANS

Taman Hewan Siantar/ Siantar Animal Park (THS) in North Sumatera alleged to have two Sumatran orangutans obtained by poaching. The orangutans are estimated at approximately 15-20 years old for the mature and 4-5 years old for the infant. “this is a violation of the Indonesian policy and commitment in the regulation of minister of forestry number P.53/Menhut-IV/2007 on Strategy and Orangutan Conservation Action Plan 2007-2017, that all orangutans confiscated from illegal pet and trade should be set in rehabilitation program to prepare them back for the wild.”, said Panut Hadisiswoyo, Director of YOSL-OIC in Medan.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Norh Sumatera had tried to take the orangutans but THS refused and asked permission to take care if them.

“North Sumatera has orangutan rehabilitation center in Batumbelin, Simbolangin. There is no reason for THS to take care the orangutans themselves, the orangutans will lost their chance to get back wild in their habitat. The two orangutan should undergo a rehabilation!”, Ramadhani, Manager of Orangutan and Habitat Protection program boldly said.

“Pematang Siantar Animal Park or previously known as Pematang Siantar Zoo is a zoo that still need to fight to address their animal welfare issue.”, Ramadhani added.

TAMAN HEWAN SIANTAR HARUS KEMBALIKAN DUA ORANGUTAN
Diduga ada dua individu orangutan Sumatera hasil perburuan berada di Taman Hewan Siantar (THS), Sumatera Utara. Kedua individu orangutan ini diperkirakan berusia 15-20 tahun dan anakan yang berusia 4-5 tahun. “Ini adalah pelanggaran terhadap komitmen dan kebijakan pemerintah Indonesia yang ditetapkan dalam Permenhut P.53/Menhut-IV/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2007-2017, bahwa semua orangutan sitaan dari perdagangan hewan dan peliharaan harus dimasukkan dalam program rehabilitasi untuk dikembalikan ke hutan.”, Panut Hadisiswoyo, direktur YOSL-OIC di Medan.

Pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara sudah berupaya untuk mengambil orangutan tersebut namun THS menolak dan meminta izin untuk merawat orangutan tersebut.

“Sumatera Utara itu memiliki pusat rehabilitasi orangutan di Batumbelin, Sibolangit. Tidak ada alasan, kenapa orangutan tersebut harus dirawat di THS yang menyebabkan orangutan tersebut tidak memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. Kedua orangutan tersebut harus menjalani rehabilitasi!”, tandas Ramadhani, manajer program perlindungan habitat dan orangutan COP.

“Taman Hewan Pematang Siantar atau sebelumnya lebih dikenal dengan Kebun Binatang Pematang Siantar adalah sebuah kebun binatang yang masih harus berjuang untuk mengatasi persoalan kesejahteraan satwanya.”, tambah Ramadhani.

JOJO IS CURIOUS OF LUWING

Jojo, orangutan who have to go through another medical test because the previous result reported that she’s infected by Hepatitis B. So now she just can play in the playground, climb and swing from one rope to another to train her leg and hand muscles.

Vet Flora looked away from her for a second and Jojo had inserted something into her mouth. There’s no such beans as that, look like rubber seed but bigger, Flora thought. Hahahaha apparently that is a luwing or milipede!

An anthropod belongs to diplopoda class called milipede will immediately protect itself by coil its body like a ball when being touched unusually or being threaten. It turns out fascinated her. Is that a food? Jojo tried to bite that luwing. Could not…and she threw away.

Just like human, at the stage of childhood orangutan has such a great curiosity. Yeah.. human shares 97% of their DNA with orangutan.

JOJO PENASARAN DENGAN LUWING
Jojo, orangutan yang masih harus menjalani tes kesehatan lanjutan karena hasil tes sebelumnya menyatakan bahwa Jojo menderita hepatitis B hingga saat ini hanya bisa bermain di playground. Memanjat, berayun dari satu tali ke tali yang lain untuk terus melatih otot-otot tangan maupun kakinya.

Baru saja sesaat, drh. Flora mengalihkan pandangannya, Jojo sudah memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Tak ada biji yang seperti itu batin Flora, seperti biji karet tapi koq besar. Hahahaha… ternyata itu luwing atau kaki seribu.

Antropoda kelas Dipiopoda yang disebut milipede akan segera bertahan dengan cara melingkarkan tubuhnya seperti bola saat ada sentuhan tak biasa maupun ancaman. itu ternyata menarik untuk Jojo. Apakah itu makanan? Jojo pun mencoba untuk menggigit luwing hutan itu. Tak bisa… dan akhirnya dibuangnya.

Orangutan seperti juga anak manusia, pada usia anak-anak adalah usia dimana rasa ingin tahu menjadi begitu besar. Ya… manusia berbagi 97% DNA yang sama dengan orangutan.

TIME FOR PINGPONG TO BACK TO SCHOOL

His name is Pingpong. This male orangutan has an uncomfortable story when he had to go back and forth like pingpong ball because the man who found him didn’t know where to hand him over. Until finally, APE Defender team met him and took care of him. The cage become his barrier to express himself and school become his place to training.

In the middle of 2016, Pingpong moved to sanctuary island managed by COP Borneo Center of Orangutan Rehabilitation. “We hope Pingpong forced to be more independent by the circumstances and see other male orangutans develope. But unfortunately, living in sanctuary island is too hard for him. March 2017, We had to took Pingpong back to the cage because he was suffering from malnutrition.”, says Reza Kurniawan, COP’s primate anthropologist.

Both COP’s vets take turn to watch over his health. “Not much improvement, his behaviour hasn’t changed much either. Even when we took him back to the forest school, he was likely to be on the ground. It took a lot of effort to got him climbed the tree and stayed for a while.”, says drh. Flora.

Pingpong also often attacks the animal keeper by bitting them. “We dont’ want to lose hope, even Pingpong has the right to go back to his nature habitat.” says Idham, animal keeper who was watching him that day. Every orangutan is an unique individual, has their own characteristics that can’t be generalized with other orangutans. Help COP Borneo takes care of them through

SAAT PINGPONG KEMBALI SEKOLAH
Pingpong namanya. Orangutan jantan ini punya cerita yang tidak mengenakan, saat dia harus mondar-mandir seperti bola pingpong karena yang menemukannya tak tahu harus diserahkan kemana orangutan ini. Hingga akhirnya tim APE Defender bertemu dengannya dan merawatnya. Kandang menjadi pembatas untuknya berekspresi, dan sekolah menjadi tempatnya berlatih.

Pada pertengahan tahun 2016, Pingpong dipindahkan ke pulau orangutan yang dikelolah pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. “Kami berharap, Pingpong terpaksa dengan kondisi yang ada untuk lebih mandiri dan melihat orangutan jantan lainnya berkembang. Namun sangat disayangkan, kehidupan di pulau orangutan terlalu berat untuknya. Maret 2017, kami terpaksa menarik Pingpong ke kandang kembali karena Pingpong mengalami mal nutrisi.”, ujar Reza Kurniawan, antropologis primata COP.

Kedua dokter hewan COP saling bergantian mengawasi kesehatan Pingpong. “Tidak banyak perkembangannya, untuk prilakunya juga tidak banyak berubah. Bahkan saat kami membawanya ke sekolah hutan kembali, dia masih lebih suka berada di tanah. Perlu usaha keras agar dia mau memanjat pohon dan bertahan agak lama di sana.”, ujar drh. Flora.

Pingpong juga lebih sering menyerang animal keeper dengan cara menggigit. “Kami tidak mau berhenti berharap, Pingpong pun berhak untuk kembali ke alamnya.”, ujar Idham, animal keeper yang mengawasinya hari itu. Setiap orangutan adalah individu yang unik, punya karakter sendiri yang tak bisa disama ratakan dengan orangutan lainnya. Bantu COP Borneo merawat orangutan-orangutannya yuk lewat

REST IN PEACE MR. TORAN APUI

Centre for Orangutan Protection team in orangutan rehab center COP Borneo, East Borneo is in grief. A father who has always been a place of comfort, tell stories, and ask for advice is gone. On Wednesday night, July 11, 2018, we received a sad news that Sir Toran Apui had passed away because of the illness he suffered for the past weeks.

Toran Apui is the elder of Merasa village who was very helpfull to COP team back in 2014, the first time COP Borneo orangutan rehab center built in Merasa village, Berau, East Borneo. “Good bye, SIr. We who work and volunteer at COP Borneo will miss how determined you were when telling the story of Dayakness life around Kelay river stream in the past accompanied with a glass of coffee and peanuts.”

Hopefully, we can continue the determination of Toran Apui to bring Merasa village forward.

SELAMAT JALAN TORAN APUI
Rasa duka sedang dialami tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan di COP Borneo, Kalimantan Timur. Seorang Bapak yang sering dijadikan tempat untuk berlindung, bercerita dan meminta nasehat sudah tiada. Rabu malam, 11 Juli 2018, kabar duka itu kami terima bahwa bapak Toran Apui sudah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya selama beberapa minggu ini.

Toran Apui adalah kepala adat kampung Merasa yang sangat membantu tim COP di tahun 2014 saat memulai pembangunan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo di kampung Merasa, Berau, Kalimantan Timur. “Selamat jalan pak Toran, kami yang bekerja dan menjadi relawan di COP Borneo akan merindukan bagaimana semangatnya bapak bercerita tentang kehidupan orang Dayak di aliran sungai Kelay di masa lalu dengan ditemani segelas kopi dan kacang.”

Semoga, semangat Toran Apui untuk memajukan kampung Merasa bisa kami teruskan.

COURT DECISION IN ORANGUTAN KILLED IN CENTRAL BORNEO CASE

January 30, 2018, South Barito Resort Police confirmed 2 men as suspects accused over the death of orangutan found decapitated in Kalahien bridge, South Barito district, Central Borneo. After several trials, on Sunday, May 14, 2018,  Buntok District Court affirmed the conviction of M bin Landes and T bin Ribin for killing critically endangered animal, sentenced to 6 months in prison and fined 500,000 (IDR) with subsidiary 1 month imprisonment as stated in Case Number 26/Pid.B/LH/2018/PN BNT and 27/Pid.B/LH/2018/PN BNT.

In addition to the orangutan case in Central Borneo at the beginning of 2018, the case of orangutan died with 130 bullets in Teluk Pandan Village, East Kutai, East Borneo finally met the final round after East Kutai Resort Police previously confirmed 4 suspects namely A bin Hambali, R Bin H. Nasir, M bin Cembun, and H. N bin Sakka. It takes 70 days and undergoes 9 trials until Tuesday, July 3, 2018, the Sangatta District Court ruled the four suspects were found guilty by sentenced each of them 7 months imprisonment and a Rp50,000,000(IDR) fine with subsidiary 2 months imprisonment. The verdict stated in Case Number 130/Pid.B/LH/2018/PN Sgt and 131/Pid.B/LH/2018/PN Sgt.

COP expresses its gratitude for the Police’s fast response in investigating thoroughly the case of orangutan killing occurred in the early 2018, but on another subject the punishment on these two cases are way too low that it may not reduce recidivism for offenders or other communities to do so. Moreover, The Judge did not consider the economic cost of biodiversity loss of orangutan conservation efforts which has been done for a long time in Kutai National Park.

“Act of The Republic of Indonesia No. 5 of 1990 concerning Conservation of Living Resouces and their Ecosystem should be seen as a highly important law to maintain the sustainability of conservation in Indonesia.”, Ramadhani said.
 
Contact:
Ramadhani (+62 813 4927 1904)
Habitat Protection Project Manager

PUTUSAN PENGADILAN ORANGUTAN DIBUNUH DI KALIMANTAN
Tanggal 30 Januari 2018 Kepolisian Resort Barito Selatan berhasil menetapkan 2 tersangka atas kasus pembunuhan orangutan tanpa kepala di Jembatan Kalahien, Kab. Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Setelah beberapa kali persidangan Senin, 14 Mei 2018 Pengadilan Negeri Buntok menyatakan terdakwa M bin Landes dan T bin Ribin terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana membunuh satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) subsider 1 bulan yang tertera pada Nomor Perkara 26/Pid.B/LH/2018/PN BNT dan 27/Pid.B/LH/2018/PN BNT

Selain kasus Orangutan di Kalimantan Tengah diawal tahun 2018, kasus pembunuhan orangutan dengan 130 peluru di Desa Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur juga menemui babak akhir setelah di mana sebelumnya Kepolisian Resort Kutai Timur telah menetapkan 4 tersangka yaitu A Bin Hambali, R Bin H. Nasir, M Bin Cembun dan H. N Bin Sakka. Dibutuhkan 70 hari dan menjalani 9 kali persidangan hingga pada Selasa 3 Juli 2018 pengadilan Negeri Sangatta memutuskan bahwa ke empat tersangka di nyatakan bersalah dengan menjatuhkan pidana terhadap para terdakwa tersebut masing-masing dengan pidana penjara 7 (tujuh) bulan dan denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) subsider 2 bulan Putusan tersebut tertera dalam Nomor Perkara 130/Pid.B/LH/2018/PN Sgt dan 131/Pid.B/LH/2018/PN Sgt.

COP mengucapkan terimakasih atas kerja cepat pihak Kepolisian dalam mengusut tuntas kasus pembuhan orangutan yang terjadi awal tahun 2018 ini, namun juga menjadi catatan tersendiri adalah putusan yang sangat ringan pada kedua kasus tersebut sehingga menimbulkan kekhawatiran tidak adanya efek jera bagi pelaku maupun masyarakat lainnya. Serta Hakim tidak mempertimbangkan efek kerugian nilai dari upaya pelestarian orangutan di Taman Nasional Kutai yang dilakukan sudah sejak lama.

“Semestinya UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai Undang-Undang yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan konservasi di Indonesia.”, ujar Ramadhani.

Kontak :
Ramadhani (+62 813 4927 1904)
Manager Perlindungan Habitat COP

7 MONTHS OF PRISON PUNISHMENT FOR DECAPITATED ORANGUTAN KALAHIEN CASE

Floating body case in Barito river, Kalahien, Central Borneo on January 15, 2018 was quite shocking. Turned out that corpse was a headless orangutan corpse. Its death invited suspicion so that the grave had to be dug up and the autopsy was conducted.

Necropsy report stated that 17 air gun bullets found in its body, one bullet in left thigh, two in the back, and fourteen in the front body. There’s more than three wounds by sharp object found causing its neck cut off, got slashed. Seven left ribs broken. Its stomach ruptured, bruises on left side of the chest struck by blunt object. While the hair was lost in the flow of water.

Only 14 days after the finding, Central Borneo Regional Police arrested two suspects along with the evidence. “Such an outstanding hard work of the police!”, says Ramadhani, COP Manager of Orangutan Protection program.

And on Monday, May 14, 2018, Buntok District Court declared that the defendants, M bin Lades and T bin Ribin, proven to be legally guilty and convincingly commit the crime of killing protected animal alive and imposed to 6 months prison and RP 500,000 (IDR) subsidiary 1 month imprisonment.

VONIS 7 BULAN PENJARA UNTUK KASUS ORANGUTAN TANPA KEPALA KALAHIEN
Kasus mengapungnya mayat di sungai Barito, Kalahien, Kalimantan Tengah pada 15 Januari 2018 cukup menggemparkan. Ternyata mayat yang dimaksud adalah mayat orangutan tanpa kepala. Kematiannya mengundang kecurigaan hingga kuburan terpaksa digali kembali dan otopsi pun dilakukan.

Hasil nekropsi, ditemukan 17 peluru senapan angin di tubuh orangutan tersebut, satu peluru di paha kiri, dua di punggung, dan empatbelas peluru di badan depan. Ada lebih dari tiga luka yang disebabkan benda tajam sehingga lehernya putus, kena tebasan. Tujuh tulang rusuk kiri patah. Lambungnya pecah, bagian dada kiri terdapat luka lebam akibat benda tumpul. Sementara rambutnya hilang akibat arus air.

Hanya dalam waktu 14 hari dari ditemukannya mayat, Polda Kalteng berhasil menangkap 2 tersangka beserta barang buktinya. “Suatu kerja keras luar biasa dari pihak kepolisian.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan COP.

Dan pada hari Senin, 14 Mei 2018 Pengadilan Negeri Buntok menyatakan terdakwa M bin Landes dan T bin Ribin terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana membunuh satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup dan menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan denda sejumlah Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) subsider 1 bulan.

ORANGUTAN DIED WITH 7 AIR RIFLE BULLET

From the microchip implant on the dead body of orangutan found in PT. WSSL, Seruyan, Central Borneo, known that the orangutan was named Baen. Baen was an orangutan who was being translocated back in 2014.
When found on Monday, July 2, 2018, many wounds found on the leg, arm, back, and his thumbnail was gone. While the abdoment and neck was found riddled by 7 bullets in his body. “Two bullets in the left waist, one in left leg middle finger, two in the head, and two in the right arm.” Fajar Dewanto explained.

Fajar Dewanto also explained that, “The right arm thumb was gone, open wounds on right hand index finger, left wrist, left and right sole, left foot index finger, back of right hand, waist and left side of body, left side of the back, left arm, left calf, ligature marks on back of right hand, and stab wound on right side of the back.”.

Likely, Baen Orangutan was dead due to violence that occured 1 to 2 weeks. “The existence of airgun bullets trapped in the orangutan body can be confirmed caused by human. Once again, air gun has been a terror for orangutan.” said Ramadhani, Manager of Orangutan and Habitat Protection Program COP.

Based on The Chief of Police Regulation No. 8 of 2012 regarding Supervision and Control of Firearms for Sport Interest, air rifles are only used for shooting target purpose (article 4, paragraph 3) and are only used in the location of games and excercises (article 5, paragraph 3). “Thus, all activities of wildlife hunting by using air rifles are against The Chief of Police Regulation.” Ramadhani affirmed. Since 2003, Centre for Orangutan Protection has been campaigned on air rifles terror because of increasing number of orangutan and other wildlife affected by its bullets. “This regulation should be improved, for the survival of Indonesian wildlife.”

ORANGUTAN TEWAS DENGAN 7 PELURU SENAPAN ANGIN
Dari microchip yang ada di mayat orangutan yang ditemukan di PT WSSL, Seruyan, Kalimantan Tengah diketahui bahwa orangutan ini bernama Baen. Baen adalah orangutan yang pernah ditranslokasi pada tahun 2014 yang lalu.

Saat ditemukan pada hari Senin, 2 Juli 2018, terdapat luka pada bagian kaki, tangan, punggung dan jempol sudah tidak ada. Sementara bagian perut dan leher ditemukan berlubang dengan tujuh butir peluru bersarang di sekujur tubuhnya. “Dua peluru di pinggang kiri, satu di jari tengah kaki kiri, dua di kepala dan dua peluru di lengan kanan.”, jelas Fajar Dewanto, direktur lapangan OFI.

Fajar Dewanto juga menjelaskan bahwa, “Jempol tangan kanan hilang, luka terbuka di jari telunjuk tangan kanan, luka terbuka di pergelangan tangan kiri, luka terbuka di telapak kaki kiri, luka terbuka di telunjuk kaki kiri, ada bekas ikatan di punggung tangan kanan, luka terbuka di telapak kaki kanan, luka terbuka di punggung tangan kanan, luka terbuka di pinggang dan tubuh bagian kiri, luka terbuka di punggung kiri, luka terbuka di lengan kiri, luka terbuka di betis kiri, luka tusukan di punggung kanan.”.

Kemungkinan, orangutan Baen mati disebabkan kekerasan yang terjadi 1 sampai dengan 2 minggu. “Adanya peluru senapan angin yang bersarang di tubuh orangutan tersebut dapat dipastikan karena ulah manusia. Sekali lagi, senapan angin telah menjadi teror bagi orangutan.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dari COP.

Berdasarkan Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan menembak sasaran atau target (pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (pasal 5 ayat 3). “Dengan demikian, seluruh kegiatan perburuan satwa liar dengan menggunakan senapan angin adalah menyalahi Peraturan Kapolri.”, tegas Ramadhani lagi. Sejak tahun 2015, Centre for Orangutan Protection mengkampanyekan Teror Senapan Angin karena semakin bertambahnya korban orangutan maupun satwa liar lainnya yang terkena peluru senapan angin. “Sudah seharusnya Peraturan Kapolri ini ditingkatkan lagi, untuk kelangsungan hidup satwa liar Indonesia.”.

SUPPORT KLHK TO REVEAL THE DEATH OF ORANGUTAN BAEN

The finding of male orangutan rotten corpse at July 1, 2018 in PT WSSL II area, Central Borneo, with autopsy report from OFI states that there’s human cruelty factor as cause of the death. The necropsy report identifies that at least 7 (seven) airgun bullets and open wounds cause by sharp-edged object, dominantly found on the arm. The orangutan identified as Baen Orangutan, a translocated orangutan in 2014.

Center for Orangutan Protection (COP) is very sorry for the cruelty happened to this orangutan because we can certainly say that the cause of the death must be human activity. In COP’s note, at least there’s 14 orangutans found dead unusually ( in the form of corpse and bones) around Tanjung Puting National Park (TNTP). From the 14 orangutan found dead cases, not even a single case have completely revealed. 

“The finding of orangutans allegedly died unusually must be completely investigated to a litigation so that there will no more orangutan killing. The previous unusual orangutan death cases are mostly left unfinished, so finally the perpetrator think that there’s no law against it. Lets support The Ministry of Environment and Forestry of Indonesian Republic to reveal all those cases, including the death of this Baen Orangutan.’, Ramadhani, COP’s Manager of Orangutan and Habitat Protection Program says.

For more information and interview, please contact:
Ramadhani
Manager of Orangutan and Habitat Protection Program
HP: 081349271904
Email: info@orangutanprotection.com

DUKUNG KLHK UNGKAP KEMATIAN ORANGUTAN BAEN
Temuan mayat orangutan jantan dewasa yang sudah membusuk pada tanggal 1 Juli 2018 di PT WSSL II, Kalimantan Tengah dengan hasil otopsi yang dilakukan oleh OFI menyatakan penyebab kematian adanya faktor kekerasan oleh manusia. Hasil nekropsi memperlihatkan paling tidak ada 7 (tujuh) peluru senapan angin dan disertai luka terbuka oleh benda tajam yang dominan posisinya berada di tangan. Orangutan tersebut diidentifikasi sebagai orangutan Baen, orangutan translokasi di tahun 2014.

Centre for Orangutan Protection (COP) sangat menyayangkan kejahatan pada orangutan ini terjadi karena kematian orangutan dipastikan ulah manusia. Di catatan COP setidaknya sudah ada 14 (empatbelas) orangutan ditemukan mati tidak wajar (berupa mayat dan tulang belulang) dari sekitar Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Dari keempatbelas temuan mayat ini tidak ada satu pun yang berhasil diungkap sampai tuntas.

“Temuan-temuan mayat orangutan yang diduga mati tidak wajar sebelumnya harusnya diusut secara tuntas hingga proses peradilan agar tidak ada lagi kasus pembunuhan terhadap orangutan. Kasus-kasus temuan kematian orangutan yang telah lalu banyak tidak tuntas, akhirnya pelaku merasa tidak ada hukum yang berlaku. Mari dukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia untuk mengungkap kasus-kasus kematian orangutan tersebut, termasuk kematian orangutan yang bernama Baen ini.”, kata Ramadhani, Manajer Program Perlindungan Habitat dan Orangutan dari COP.

Untuk informasi dan wawancara silahkan hubungi:
Ramadhani
Manajer Perlindungan Habitat dan Orangutan
HP: 081349271904
Email: info@orangutanprotection.com

Page 2 of 212