AKHIRNYA KOLA BISA TURUN SENDIRI

Kola, orangutan berusia 11 tahun akhirnya bisa menuruni pohon dengan kemampuannya sendiri pada kegiatan sekolah hutan, Jumat, 14 Mei 2021 di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Pada sekolah hutan sebelumnya, Kola tidak mampu turun sendiri dari ketinggian pohon yang ia panjat. Sehingga dengan terpaksa harus ditembak bius oleh perawat satwa dan dokter hewan BORA untuk bisa menurunkannya.

Pada hari itu (14/5), Kola mengikuti program sekolah hutan bersama dengan tiga orangutan lainnya, Aman, Bagus dan Septi. Sejak awal tiba di lokasi sekolah hutan, Kola langsung menaikipohon hingga ketinggian 25 meter dan tidak berpindah posisi hingga tiba waktu sekolah hutan usai. Berbeda dengan tiga orangutan lainnya yang aktif berpindah-pindah posisi dan mudah ketika diajak turun dari pohon.

Beberapa jam berlalu, Kola masih saja betah berdiam di posisi ketinggian yang sama sejak pagi hari. “Kola, turun Kola”, ujar para perawat satwa BORA memanggil Kola untuk turun karena waktu sekolah hutan telah selesai. Namun Kola tetap bertahan di posisinya. Aman, Bagus dan Septi pulang terlebih dahulu ke kandangnya. Satu jam berlalu semenjak ketiga orangutan lainnya telah pulang ke kandang terlebih dahulu. Saat keadaan sudah sepi, barulah kola bisa turun sendiri dari pohon tanpa perlu ditembak bius lagi. (RAF

SEPTI MEMBUAT REKOR BARU

“Terharu aku”, ujar Widi Nursanti, manajer pusat rehabilitasi Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) saat melihat foto Septi yang sedang memanjat pohon saat mengikuti program sekolah hutan yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Maret 2021. Pada hari itu, Septi berhasil memecahkan rekor pribadinya dalam hal ketinggian memanjat pohon.

Septi akhirnya mau memanjat pohon lebih tinggi dari biasanya. Septi merupakan orangutan betina berusia 15 tahun yang sedang menjalani rehabilitasi di BORA. Pada hari itu, Septi ke sekolah hutan bersama orangutan Aman, Bagus dan Kola. Dibandingkan dengan Aman, Bagus dan Kola yang senang memanjat pohon sampai tinggi, Septi lebih suka berada di permukaan tanah dan sangat jarang memanjat pohon. Ketinggian maksimal yang biasa dicapai Septi sebelumnya hanya 6 meter dengan frekuensi memanjat yang sangat jarang. Namun pada hari itu, Septi mampu memanjat pohon hingga ketinggian 11 meter di atas permukaan tanah. Ketinggian tersebut hampir dua kali dari rekor pribadi Septi sebelumnya.

Pengalaman bertahun-tahun hidup di luar habitat alaminya membuat Septi dan banyak orangutan lainnya kehilangan insting dan kemampuan alami mereka, seperti keahlian memanjat pohon, mencari makan, membuat sarang serta berlindung dari bahaya maupun cuaca. Kemampuan dan insting tersebut dapat hilang karena umumnya orangutan yang hidup di luar habitatnya tidak dapat mengekspresikan perilaku alaminya karena berbagai keterbatasan dan hambatan. Program sekolah hutan bertujuan untuk melatih dan mengembalikan kemampuan serta insting alami orangutan untuk dapat hidup mandiri dan bertahan hidup di alam liar sebagai habitat alaminya. (RAF)

KOLA KE SEKOLAH HUTAN LAGI!

Apakah kamu mengenalinya? Dia adalah Kola, orangutan repatriasi Thailand pada akhir tahun 2019 yang lalu. BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) adalah tempat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kalimantan Timur memiliki kurikulum sekolah hutan terunik yang ada. Setiap orangutan dipantau perkembangannya dan diberi tantangan lebih lagi jika berhasil melaluinya. Jika gagal, orangutan akan tetap diberi kesempatan untuk mencoba lagi.

Seperti Kola, yang awal tahun 2021 yang lalu sempat membuat para perawat satwa menginap di hutan karena dia tak kunjung turun dari pohon yang dipanjatnya. Kola terpaksa dibius keesokan harinya untuk bisa membawanya turun dari pohon. Saat itu, Kola tidak berani turun bahkan untuk mengambil makanannya.

Kola mendapatkan kembali kesempatannya berkembang, kali ini para perawat satwa dengan perseiapan terburuk harus menginap lagi di hutan dan bersiap memanjat pohon untuk menjemputnya. Persiapan dan skenario matang akhirnya hanya sekedar rencana. Saatnya kembali ke kandang usai waktu sekolah hutan, Kola pun turun.

“Lega!!! Walau tak semudah itu”, ujar Linau, kordinator perawat satwa di BORA.

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (4)

Tim APE Crusader juga mengecek lokasi video viral orangutan menyeberang jalan. Video yang sempat ramai di media sosial ini dibuat pada akhir Februari 2021 yang lalu. Menurut saksi, orangutan tersebut menyeberang jalan dari arah kawasan konsesi pertambangan milik PT. KPC menuju kebun masyarakat di balik bukit. Orangutan tersebut memporak-porandakan kebun pepaya, mangga dan pisang warga.

Konflik seperti ini memang sulit dihindari. PT. KPC sendiri memiliki kebijakan untuk meminimalisir konflik satwa liar, salah satunya dengan mengganti rugi kerusakan yang disebabkan orangutan tersebut. Namun karena kebun yang dirusak posisinya sudah di seberang jalan, PT. KPC menolak untuk mengganti ruginya. Padahal, orangutan tidak pernah tahu, kebun siapa dan masih berbatasan langsung dengan pertambangan atau tidak. Orangutan hanya mencari makan di habitatnya. Saat habitatnya menjadi pertambangan, bukankah seharusnya tanggung jawab perusahaan?

Usaha PT. KPC yang menyelamatkan orangutan karena ada orangutan yang terluka juga bukanlah solusi jangka panjang. “Tapi saya pikir KPC omong kosong juga itu. Hutannya aja dihabisinya, gimana mau orangutannya selamat”, kata warga sekitar jalan Poros Bontang, Kalimantan Timur.

Selama penelusuran, tim APE Crusader juga menemukan satwa lain. Sepasang Elang Bondol (Haliastur indus) sedang bertengger di cabang kayu yang sudah kering. Selain itu, sepasang rangkong (Rhinoplax sp) sedang bertengger di ujung ranting pepohonan tinggi dan berjarak sekitar 70 meter dari jalan aspal. Kawanan Beruk juga dengan mudah terlihat di pinggir jalan. Beruk-beruk ini tidak takut dengan aktivitas manusia. Ketika didekati, mereka tidak lari menjauh. Selain karena sifat alami beruk yang agresif, tentu saja karena mereka sudah terbiasa dengan lingkungan sekitar.

“Kita seharusnya sadar bahwa pentingnya menjaga kelestarian habitat satwa liar. Satwa liar tidak butuh gedung tinggi, uang maupun materi. Investasi bagi mereka adalah habitat yang lestari. Mungkin mereka bisa bertahan hidup di antara lahan-lahan hutan yang semakin hari tergantikan menjadi lahan tambang, perkebunan dan pemukiman. Tapi apakah kehidupan mereka layak? Bumi diciptakan untuk kepentingan semua makhluk, bukan hanya manusia. (FEB)

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (3)

Kondisi habitat orangutan di kawasan tambang batubara ini merupakan hutan sekunder karena tidak ditemukan lagi pohon besar. Macaranga gigantea, Macaranga triloba dan beberapa jenis Macaranga spp lainnya, Puspa (Schima wallichii), Dipterocarpaceae, Fabaceae, serta banyak ditemukan tumbuhan liana dan perdu. “Bisa sih orangutan hidup di hutan sekunder seperti ini, namun paling baik ya hutan primer”, ujar Febrina Mawarti Andarini, tim APE Crusader yang merupakan ahli Biologi COP.

Sepanjang jalan poros Bengalon banyak ditemukan sarang orangutan yang sudah mengering. Temuan ini bisa dibilang wajar karena dengan luasan kawasan yang tidak terlalu besar, orangutan tidak memiliki ruang jelajah yang luas, bahkan terbatas hutan sekunder sepanjang kanan dan kiri jalan karena bagian tengahnya sudah menjadi tambang batubara.

Di antara banyak sarang yang ditemukan terdapat 3 (tiga) sarang yang masih baru dengan tipe sarang A dan B dengan posisi 1 dan 2. Sarang yang masih baru ditandai dengan batang ranting dan daun yang masih hijau segar serta belum mengering. Salah satu sarang tersebut berada di atas pohon Trembesi (Samanea saman). Keberadaan sarang baru menandakan masih adanya aktivitas orangutan di kawasan tersebut.

Centre for Orangutan Protection menghimbau pengguna jalan Poros Bengalon untuk berhati-hati ketika melintas di jalan ini. Karena Orangutan bahkan satwa liar lainnya bisa saja sewaktu-waktu menyeberang. Tim APE Crusader berencana memasang beberapa papan peringatan di beberapa titik. “Jangan beri makan orangutan karena dikawatirkan orangutan akan terbiasa. Orangutan bukan hewan peliharaan. Jangan disakiti karena orangutan bukan hama”. (FEB)

PEMBANGUNAN GAPURA DAN POS JAGA KHDTK LABANAN SELESAI

Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan merupakan hutan penelitian yang berada di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Di lokasi ini juga ada Pusat Rehabilitasi Orangutan yang berfungsi sebagai tempat menampung dan merawat orangutan sitaan negara meupun serahan masyarakat kepada negara.

Untuk memperkenalkan lokasi keberadaan KHDTK Labanan, Balai Besar Penelitian Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) bekerja sama dengan Pusat Perlindungan Orangutan atau sering disebut COP (Centre for Orangutan Protection membangun sebuah gapura identitas masuk kawasan di KHDTK Labanan. Tak hanya itu, berdekatan dengan gapura juga dibangun pos jaga KHDTK Labanan yang berfungsi sebagai lokasi pendukung patroli pengamanan di KHDTK Labanan.

Gapura dan Pos jaga ini dibangun pada pinggir jalan poros Samarinda Berau pada kilometer 24 yang dapat dilihat masyarakat saat melintas di area tersebut. Gapura dan Pos jaga ini sebagai penanda bahwa pengendara mobil dan motor sudah memasuki area KHDTK Labanan.

Dengan adanya gapura dan pos jaga ini, diharapkan masyarakat dapat memahami dan semakin mengetahui keberadaan kawasan KHDTK Labanan sebagai ikon hutan hujan tropis di kabupaten Berau. KHDTK Labanan merupakan hutan yang dihuni banyak satwa liar seperti owa-owa, babi hutan, kancil, musang, ayam hutan dan juga burung-burung endemik Kalimantan yang keberadaannya wajib kita jaga bersama untuk kelestarian hutan dan isinya di masa depan. (NOY)

MISI PERTAMA DOKTER HEWAN YUDI DI KALTIM

Malam, 24 April saat sedang mempersiapkan nutrisi tambahan untuk orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi BORA, telepon camp berbunyi. Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection menanyakan kesiapan tim APE Defender untuk memindahkan orangutan dari Samarinda ke BORA yang berada di Berau, utaranya Kalimantan Timur. Setelah berdiskusi drh. Ray akhirnya menyuruh drh. Yudi untuk menjalankan tugas ini.

“Rasanya gak karuan, takut, cemas dan bersemangat, campur aduk. Ini adalah perjalanan pertama saya menyelamatkan orangutan”, gumam Yudi Ardianto, dokter hewan lulusan Universitas Brawijaya ini sembari mengecek kembali microchip, alkohol, meteran, obat bius dan peralatan medis lainnya. Tepat pukul 00.30 WITA tim APE Defender berangkat. Sekilas terlihat senyum drh. Ray melihat kepanikan drh. Yudi yang baru bergabung di COP pada akhir bulan Maret yang lalu. Jalan darat ini pun dimulai, mulai jalan aspal mulus seperti kemeja yang baru disetrika hingga jalan berlubang yang sering membuat kami melompat dan terbentur atap mobil.

Menjelang siang, drh. Yudi telah siap untuk memeriksa kesehatan orangutan malang ini. “Orangutan ini sangat agresif, untuk ukuran orangutan kecil, tenaganya lumayan kuat. Pemeriksaan gigi untuk mengetahui perkiraan usia orangutan, dilanjut pemeriksaan apakah ada luka atau tidak dan tiba-tiba saja jari saya sudah berada disela-sela giginya. Ahrgg… rasanya lumayan!”, cerita Yudi lagi.

Tepat pukul 07.00 WITA keesokan harinya, tim APE Defender telah tiba di BORA. “Orangutan betina berusia 1-3 tahun ini akan menjalani masa karantina terlebih dahulu. Saya sendiri masih harus menjalani tes COVID-19 usai perjalanan jauh dan isolasi mandiri”, ujar Yudi. BORA menerapkan prosedur kesehatan yang cukup ketat untuk mencegah penyebaran virus Corona. Mencegah lebih baik daripada Mengobati. (YUD)

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (2)

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan primata terbesar di Indonesia yang hidup di hutan Kalimantan. Menurut IUCN Red-list 2016, primata ini masuk ke dalam kategori Critically Endangered (CR) atau kritis. Penemuan orangutan yang masih tertidur lelap di sekitar pertambangan pada pagi hari merupakan penyimpangan prilaku alami orangutan. Orangutan liar pada umumnya akan beraktivitas seiring dengan terbitnya matahari. Perpindahan harian dapat dilihat dari sarang yang dibuatnya pada siang dan sore hari. Penggunaan sarang yang sama, jarang terjadi.

Tak jauh dari jembatan hauling milik pertambangan batubara terbesar di Kalimantan Timur, satu individu Beruang Madu (Helarctos malayanus) dewasa melintas di depan mobil, menyeberangi jalan. Pergerakan beruang tersebut sangat gesit dan terlihat masih sangat liar. Hal ini mengindikasikan bahwa Beruang Madu di kawasan Bengalon masih belum terhabituasi.

Tim APE Crusader kembali menemukan satu individu orangutan dewasa betina yang sedang mencari makan di tengah hamparan semak belukar sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Orangutan tersebut terlihat sedang memakan tumbuhan liana berjenis Capologonium mucunoides. Selain memakan liana, ditemukan juga bekas makanan orangutan berupa kulit kayu di sepanjang jalan Poros Bengalon yang masuk kategori famili fabaceae.

Orangutan merupakan satwa frungivora yaitu pemakan buah, namun jika ketersediaan buah menurun atau tidak sedang musim buah, orangutan dapat memakan daun, kulit batang, liana, bunga dan serangga. Menurut penelitian referensi pakan orangutan yang disukai adalah buah dan daun. Berdasarkan temuan orangutan memakan liana dan kulit batang diperkirakan karena ketersediaan pohon pakan bagi orangutan sudah menurun karena pembukaan lahan dan konversi lahan. (FEB)

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (1)

Perburuan liar dan perambahan hutan merupakan salah satu alasan penyebab menurunnya populasi orangutan secara drastis. Ditambah lagi konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan dan industri lain sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup dan populasi orangutan. Pembukaan lahan hutan secara ilegal dan dengan cara semena-mena sudah pasti mempengaruhi kelestarian populasi orangutan dan habitatnya. Pembukaan lahan tersebut juga menyebabkan fragmentasi habitat dan menyebabkan terpecahnya kelompok orangutan.

Akhir minggu pertama April 2021, tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection melakukan survei keberadaan orangutan di kecamatan Bengalon, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penelusuran di sepanjang jalan Poros Bengalon merupakan respon COP mengenai informasi yang beredar di media sosial dan laporan dari masyarakat yang melihat keberadaan orangutan di Bengalon serta menindaklanjuti survei sebelumnya.

Pada hari pertama, tim menemukan satu individu orangutan jantan dewasa yang tertidur pulas di sarangnya. Orangutan tersebut membangun sarang di atas pohon Puspa (Schima wallichii) setinggi kurang lebih 7 meter dari tanah. Sarang tersebut masuk kategori tipe kelas A dengan ciri semua daun masih muda dan segar, serta terlihat baru. Posisi sarang termasuk posisi 1, yaitu sarang berada di pangkal percabangan pohon utama dan menempel pada batang pohon utama.

Orangutan tersebut membangun sarang tidak jauh dari ruas jalan, sekitar 30 meter saja. Hal ini dikarenakan luasan hutan yang merupakan habitatnya sudah berkurang drastis dan beralih fungsi menjadi kawasan pertambangan batubara. Orangutan tersebut tertidur begitu lelap hingga tidak peduli dengan keberadaan drone yang sedang mendokumentasikannya dan baru bangun pukul 07.23 WITA.

“Perubahan prilaku alami orangutan liar sangat mengkawatirkan. Aktivitas pertambangan yang hampir 24 jam disinyalir merusak jam biologis orangutan tersebut. Tidak ada pilihan lain untuk orangutan jantan tersebut, beradaptasi dalam kebingungan”, ujar Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat COP. (FEB)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (3)

Hanya drh. Putri Larasati yang bisa satu pesawat dengan kedua orangutan untuk penerbangan Semarang ke Cengkareng. Dua orang BKSDA Jateng bersama tiga orang Centre for Orangutan Protection terpaksa terbang dengan maskapai yang berbeda karena pada tanggal tersebut tiket penerbangan telah habis. Untungnya, waktu kedua penerbangan tersebut tidak terpaut jauh, bahkan karena sempat tertunda, kedua maskapai mendarat dalam waktu yang bersamaan.

Waktu makan siang, hampir semua tempat makan di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta penuh bahkan habis. Tim akhirnya menuju Periplus BookCafe and Playground. Kebetulan chef Juna (junior Rorimpadey) sedang makan juga. Sedikit ulasan dari nya, makanan yang disajikan enak termasuk cara penyajiannya yang menarik. Tapi terbilang mahal untuk kami yang biasa bekerja di lapangan.

Waktu transit telah usai. Penerbangan dari bandara Cengkareng ke Kualanamu akan ditempuh hampir tiga jam. Kali ini, semua tim satu pesawat dengan kedua orangutan. Bedanya hanya letaknya saju, orangutan berada di kargo. Dokter hewan kembali mengingatkan pramugari agar suhu ruangan untuk kargo disesuaikan dengan suhu ruangan pada umumnya. Tentu saja agar membuat kedua orangutan nyaman selama perjalanan.

Tepat saat azan magrib berkumandang, tim telah keluar dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan. Perjalanan Rambo dan Rimbi belum selesai. Setelah dilepas Bapak Sugeng (Kepala Resort Bandara Kualanamu), tim translokasi dikawal BBKSDA Sumatera Utara untuk melakukan perjalanan darat menuju Besitang, kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Tepat pukul 00.00 WIB, Minggu, 11 April 2021, Rambo dan Rimbi berpindah dari kandang angkut ke kandang klinik Sumatran Rescue Alliance. Keduanya dalam keadaan sehat. Selanjutnya, kedua orangutan akan menjalani masa karantina di SRA. Keduanya akan menjalani tes medis lengkap untuk mengetahui sejarah kesehatan medisnya. Kedua orangutan akan menjalani rehabilitasi yang waktunya tergantung kemampuan keduanya. Rambo dan Rimbi akan mengenal pakan alaminya, berlatih membuat sarang dan bertahan hidup atau mengenali predatornya.

“O iya, Rambo dan Rimbi berganti nama menjadi Asto dan Asih ya. Nama yang diberikan Menteri KLHK, ibu Siti Nurbaya. Semoga Asto dan Asih bisa lekas kembali ke habitatnya, bebas bertualang di antara pepohonan di hutan Sumatera”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection. (RIS)