CATATAN AKHIR TAHUN 2025 APE GUARDIAN COP: ORANGUTAN, HUTAN, DAN HARAPAN MASA DEPAN

Di hulu sungai Busang, hutan masih berdiri sebagai rumah bagi orangutan dan beragam satwa liar lainnya. Di balik rimbun pepohonan dan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara burung, tahun 2025 menjadi tahun penuh cerita tentang penyelamatan, penjagaan, dan harapan.

Sepanjang tahun ini, Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat sebagai habitat orangutan Busang, kembali menerima tujuh individu orangutan hasil rehabilitasi. Setelah melalui perjalanan panjang. Mereka akhirnya kembali ke habitat alaminya. Salah satu di antaranya lebih dulu menjalani masa habituasi di Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar, sebuah tahap penting untuk belajar kembali hidup liar sebelum benar-benar menjelajahi rumahnya.

Busang juga menjadi tempat aman bagi 20 orangutan hasil translokasi. Mereka dievakuasi dari lokasi konflik dan kawasan yang tidak lagi aman. Setiap proses translokasi bukan hanya soal memindahkan satwa, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua bagi orangutan untuk hidup dengan aman dan nyaman, serta bagi manusia untuk belajar hidup berdampingan dengan alam.

Namun, melepasliarkan orangutan saja tidak cukup. Hutan harus mampu menyediakan pakan dan perlindungan. Karena itu, tim lapangan menanam kembali pohon-pohon buah hutan sebagai sumber pakan alami. Patroli pengamanan kawasan dilakukan secara rutin menyusuri sungai dan jalur darat, sekaligus menjalankan mitigasi konflik untuk mengantisipasi interaksi negatif antara masyarakat dis editor kawasan dan orangutan.

Di sela-sela aktivitas tersebut, HL Gunung Batu Mesangat Busang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kamera jebak yang dipasang di dalam dan sekitar kawasan merekam momen langka, satu induk orangutan (Pongo pygmaeus) bersama anaknya turun ke lantai hutan. Sebuah pemandangan sederhana namun bermakna, seakan mengabari kami bahwa hutan di sini masih cukup aman untuk dijelajahi orangutan.

Malam hari diisi dengan kegiatan herping, yaitu mencari dan mengamati reptil serta amfibi di alam liar yang dilakukan dengan menyusuri lantai hutan yang kebab. Dari kegiatan ini, tim menemukan katak tanduk hidung panjang (Megophtys nasuta), salah satu satwa kecil yang menjadi indikator sehatnya ekosistem hutan. Sementara itu, langit dan tajuk pohon menjadi panggung bagi burung-burung hutan. Melalui kegiatan birdwatching, kami berhasil mendokumentasikan beberapa jenis burung dilindungi, seperti kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut putih (Antracoceros albirostris) dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Cerita Busang tidak hanya hidup di dalam hutan, tetapi juga dibawa ke ruang-ruang kelas sekolah. Sepanjang 2025, tim melakukan school visit ke beberapa sekolah di Busang, berbagi cerita tentang orangutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga hutan. Dari sinilah harapan tumbuh untuk mencetak generasi yang peduli dan berani menjaga alamnya.

Cerita yang sama juga disampaikan di bangku perguruan tinggi melalui campus visit ke Universitas Mulawarman. Di sana, mahasiswa diajak terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya, khususnya orangutan.

Meski demikian, tantangan masi nyata. Di luar kawasan pelepasliaran, ditemukan aktivitas tambang emas ilegal dan praktik pembalakan liar. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa hutan Busang masih rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama.

Dari pelepasliaran orangutan hingga suara anak-anak di ruang kelas, dari kamera jebak hingga diskusi di kampus, tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia dan masa depan yang diperjuangkannya. (PEY)

MENANAM HARAPAN DI HUTAN: CERITA PENANAMAN POHON BAYUR UNTUK ORANGUTAN

Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.

Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.

Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.

Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.

Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)

SEMPIDAN BIRU, SANG PENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.

Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.

Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.

Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.

Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.

Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)

INFORMASI UNTUK KONSERVASI

Debu dan lubang di jalan poros Wahau-Berau, Kalimantan Timur menjadi saksi bisu perjalanan tim APE Crusader dalam menjalankan tugasnya. Pekerjaan ini bukan hanya tentang patroli atau operasi penyelamatan yang mengharuskan kami keluar-masuk hutan, tetapi juga tentang mengumpulkan informasi krusial dari masyarakat setempat. Banyak dari mereka membuka ladang di dekat hutan, rumah bagi orangutan.

Informasi mengenai interaksi negatif manusia-orangutan, pemeliharaan ilegal, serta berbagai kejadian terkait lainnya tidak luput dari perhatian kami. Tak jarang, bayi orangutan dipelihara sebagai hewan piaraan karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan. Data dan cerita seperti ini sangat penting untuk pemetaan hotspot interaksi negatif, penyusunan program edukasi, hingga perencanaan operasi penyelamatan bersama BKSDA jika diperlukan.

Seperti biasa, saya memulai dengan mendatangi lokasi-lokasi yang disinyalir masih memiliki keberadaan individu orangutan. Bertamu ke rumah-rumah warga, duduk di teras, mengobrol ringan, hingga makan bersama orang-orang yang sebelumnya bahkan belum saya kenal. Awalnya suasana ramah. Namun begitu saya mulai melempar pertanyaan tentang konflik dengan orangutan, atmosfer langsung berubah. Tatapan mata menghindar, jawaban menjadi singkat dan kabur.

“Jarang lihat, Mas” atau “Sudah lama gak ada”.

Saya paham betul alasannya, takut. Takut dianggap terlibat, takut memicu konflik dengan tetangga, atau takut pada hukum yang tegas dalam perlindungan satwa liar.

Saat patroli, saya sering melihat di kebun sawit pohon-pohon muda yang rusak. Bukan buah sawitnya yang dimakan, melainkan umbut muda yang baru tumbuh – sumber makananbagi orangutan yang kelaparan karena habitatnya kian menyempit. Hutan yang dulu menyediakan beragam pakan kini berubah menjadi perkebunan monokultur dengan sangat sedikit pohon pakan alami.

Petani pun frustasi. Mata pencaharian mereka terancam. Beberapa kali saya menangkap cerita-cerita tersirat tentang orangutan yang “hilang”, mungkin diusir dengan parang atau bahkan sesuatu yang lebih buruk. Namun detil lokasi, waktu kejadian, maupun pelakunya hampir selalu disembunyikan atau benar-benar tidak diketahui. Budaya saling melindungi di desa-desa kecil membuat dinding informasi itu semakin tebal.

Ketika pertama kali turun ke lapangan, yang kami miliki hanyalah potongan-potongan cerita dan dugaan. Namun itulah realitas kerja lapangan. Bekerja dengan informasi setengah-setengah adalah hal yang biasa, sekaligus tantangan dan bagian paling menarik. Bagaimana kami menyusun kepingan-kepingan informasi itu menjadi sebuah puzzle, lalu merangkainya menjadi peta aksi yang valid untuk langkah konservasi orangutan.

Basah kuyup diguyur hujan, terjatuh dari motor saat melintasi jalan berlumpur, hingga tapir tersasar di tengah perkebunan kelapa sawit atau hutan rimba adalah risiko yang sudah biasa kami hadapi. Namun setiap kali teringat bahwa satu potong informasi dapat menyelamatkan satu nyawa orangutan, kami terus melangkah maju.

Di Kalimantan Timur, orangutan bukan sekadar satwa. Mereka adalah penjaga sekaligus petani hutan yang perannya sangat penting bagi keseimbangan bumi ini. (WIB)

JEJAK SUNYI, MENELISIK SATWA LIAR DI MALAM HARI

Malam itu, kabut menggantung rendah di antara pepohonan ketika tim APE Guardian melangkah masuk ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Berbekal headlamp, kamera, dan sepatu yang setia menemani perjalanan, kami kembali menyusuri hutan yang sudah akrab namun selalu menyimpan kejutan. Malam bukan sekedar waktu beristirahat bagi hutan, melainkan saat kehidupan lain perlahan menampakkan diri.

Kegiatan kali ini berfokus pada pengamatan reptil, amfibi, dan burung. Pada malam hari, banyak sekali burung sedang beristirahat sehingga lebih mudah diamati dan didokumentasikan. Kami berjalan perlahan menyusuri jalur setapak dan aliran anak sungai yang jernih, menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan satwa yang bersembunyi di balik rimbun dedaunan. Suara serangga berpadu dengan gemerisik air, menciptakan suasana sunyi yang hidup. Setiap gerakan kecil kami amati dengan seksama, seolah menjadi petunjuk keberadaan makhluk malam yang kami cari.

Tak lama berselang, seekor Paok delima terbang melintasi saat tersorot cahaya headlamp. Kami segera mematikan lampu dan menunggu dengan sabar. Benar saja, burung itu kembali hinggap di sebuah ranting, memberi kami kesempatan untuk mendokumentasikannya. Beberapa langkah kemudian, suara ranger memanggil dari depan, “kini unsuwi”, dalam bahasa Dayak Kenyah yang berarti “ke sini ada burung”. Kami segera menghampiri dan di hadapan kami tampak seekor Seriwang asia bertengger tenang di atas liana. Burung ini jarang terlihat di siang hari, lebih sering melintas cepat dan menghilang di balik semak.

Perjalanan berlanjut menyusuri aliran sungai kecil yang menjadi rumah bagi katak dan ular. Dengan langkah pelan, kami menyusuri air dingin yang membasahi pinggang. Di tepian sungai yang sunyi, dua ekor katak bersahut-sahutan, suaranya lembut seperti nyanyian alam yang mengiring turunnya hujan malam. Suasana hutan terasa semakin rapat, seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Tiba-tiba, langkah kami terhenti. Di balik anyaman akar pohon tua, tampak seekor ular kobra bersembunyi dalam diam. Anggun dan waspada, sisiknya yang gelap berkilau lembut terkena cahaya senter. Dalam momen itu, waktu seakan melambat. Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa di hadapan kami berdiri salah satu penjaga sunyi hutan malam, hadir tanpa suara namun penuh wibawa. (LUT)

ORANGUTAN, DURIAN, DAN TUGAS APE GUARDIAN

Di kedalaman Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat yang masih berselimut kabut pagi, tim APE Guardian sudah siap dengan teropong-teropongnya dan buku catatan. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah puncak musim buah, dan aroma yang memenuhi udara tak lain adalah aroma durian. Sang raja buah sedang dicari oleh penghuni hutan, termasuk orangutan.

Di bawah langit hutan yang lembab, terekam satu individual orangutan betina tengah menggendong anaknya. Mata cokelatnya yang sayu tertuju pada sebuah durian yang tergeletak di tanah, buahnya sudah mulai merekah tanda matang. Bagi orangutan, durian adalah sumber energi yang luar biasa. Rasanya manis dan kaya nutrisi. Dengan jemari dan gigi yang kuat, ia membuka buah berduri tajam itu tanpa kesulitan, lalu dengan lap menikmati daging buah berwarna kuning mentega bersama buah hatinya.

Dari layar kamera, tim mengamati perilaku orangutan tersebut dengan sasana. Tugas kami sangat krusial bagi kelestarian primata ini. Setiap gerak-geriknya dicatat, mulai dari jenis pakan yang dimakan, titik koordinat, hingga lokasi tempat orangutan menikmati durian itu.

“Lihat itu, Lut”, bisik Igo sambil menunjuk ke pohon bayur di sebelah pohon durian. Di sana terlihat sebuah sarang orangutan yang diindikasikan sebagai sarang kelas 3, ditandai dengan daun-daunnya yang sudah layu. “Dia tidak akan pindah sebelum buah durian ini habis”, ujar Igo. Kami tersenyum samba mencatat koordinat dan mendokumentasikan sarang tersebut. “Itulah indahnya tugas kita. Dengan menjaga pohon durian ini, kita sebenarnya sedang menaga rumah dan masa depan orangutan”.

Di sekitar lokasi, kami menemukan lima buah durian yang sudah habis dimakan, jaraknya tidak jauh dari pohon induk. Orangutan adalah petani hutan. Ia berpindah dari satu dahan ke dahan lain, lalu menjatuhkan biji durian yang telah bersih dari daging buah ke lantai hutan. “Itu poin penting”, ujar kami memotret sisa kulit buah di bawah pohon. Tanpa orangutan, regenerasi pohon di area seluas ini akan berjalan sangat lambat. Dialah yang membawa dan menyebarkan benih durian untuk tumbuh dan kelak kembali menjadi sumber pakan.

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga di sela-sela dedaunan pohon menggerus yang menjulang tinggi. Tanda-tanda kehadiran satwa diurnal perlahan menghilang, dan kami pun berkemas. Tugas hari ini terasa berat, namun menemukan jejak kehadiran orangutan serta hasil foto dari kamera jebak memberi kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Besok kita kembali lagi. Kita pasang kamera di sini dan di pohon durian lainnya”, ujar salah satu dari kami. “Kami pastikan petani hutan ini bisa menyebarkan benihnya lebih jauh”. (LUT)

MENGENAL ORANGUTAN LEBIH DEKAT BERSAMA SDN 001 TASUK

Pada 9 Desember 2025 dalam rangkaian aksi Green Innovation Week (GROW) dari kelompok Rambu_etam.id dan tim APE Defender melaksanakan kegiatan edukasi orangutan di kantor Centre for Orangutan Protection yang berada di kampung Tasuk, Berau. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas 4 SDN 001 Tasuk sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap pelestarian orangutan sejak usia dini. Meski sederhana, edukasi seperti ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang memahami dan mencintai satwa liar.

Acara dibuka dengan pemaparan materi mengenai orangutan dan peran penting konservasi, dipandu oleh drh. Rengga. Anak-anak mengikuti sesi ini dengan penuh antusias. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mampu membedakan antara kera dan monyet, pengetahuan dasar yang ternyata masih sering keliru di masyarakat umum.

Setelah penyampaian materi, siswa diajak mengikuti rangkaian aktivitas menarik seperti mewarnai, penanaman pohon, dan berbagai permainan outdoor. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu mereka memahami konsep konservasi melalui pengalaman langsung. Suasana ceria dan penuh energi tampak sepanjang acara.

Sebagai penutup, diadakan pameran kecil hasil mewarnai para siswa. Tiga karya terbaik dipilih sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan semangat mereka. Menurut wali kelas yang mendampingi, dari 33 murid hanya dua yang berhalangan hadir, dan seluruh peserta pulang dengan wajah gembira serta pengalaman baru yang bermanfaat.

Tentunya kami berharap edukasi seperti ini dapat terus diperluas, menjangkau lebih banyak sekolah dan kelompok masyarakat. Menjaga kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pelaku konservasi, tetapi tugas bersama yang dimulai dari pengetahuan, kepedulian dan tindakan nyata. (TAT)

SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)

SOUND FOR ORANGUTAN 2025 EDISI BORNEO

Sound For Orangutan 2025 kembali mengguncang Samarinda dengan tema “Born to be Wild” bertempat di Temindung Creative Hub. Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas seni, aktivis lingkungan, dan masyarakat yang peduli pada masa depan orangutan.

Tahun ini, semangat kolaborasi terasa kuat. Para penggiat lingkungan dan komunitas kreatif menyatukan energi mereka untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap konservasi orangutan serta habitatnya. SFO menjadi momentum langka di Samarinda yang menggabungkan musik, seni, dan pesan lingkungan dalam satu panggung. Deretan band lokal seperti Swankscum, Outlier, GNR, Roots Side Up, Louise, dan Grossfuss tampil penuh energi. Komunitas graffiti ‘warga sekitar hood’ dan aktivis setempat yang juga memperkaya pengalaman acara dengan karya dan pesan mereka.

Lebih dari 80 orang hadir dan memberikan respons positif. Banyak penonton dan performer berharap SFO bisa digelar kembali tahun depan dengan skala lebih besar, mengingat konser amal bertema orangutan seperti ini merupakan yang pertama di Samarinda.

Sound For Orangutan 2025 mengukuhkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga suara yang mampu menyatukan komunitas untuk menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang menjadi rumah mereka. (WIB)

AMBULAN SATWA LIAR COP SIAP MENJANGKAU TITIK KONFLIK ORANGUTAN

Hanya butuh setengah tahun, akhirnya Ambulan Satwa Liar COP ini menyeberangi laut Jawa lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 19 November 2025. Selama 36 jam di lautan, mobil ambulance ini pun tiba di Pelabuhan Balikpapan dan segera melanjutkan perjalanan darat menuju Samarinda. Kehadirannya di Kalimantan Timur menandai babak baru dalam penguatan respons penanganan satwa liar di wilayah tersebut.

Setelah resmi mengaspal di Tanah Borneo, ambulan ini langsung digunakan untuk menangani situasi darurat di area konflik orangutan. Dengan mobilitas dan fasilitas yang lebih memadai, tim APE Defender dan APE Crusader dapat bergerak cepat mengevakuasi orangutan yang berada dalam kondisi berisiko, memastikan mereka sehat dan dapat dipindahkan ke habitat yang lebih aman.

Kehadiran ambulan ini menjadi langkah baru yang penuh harapan. Dukungan banyak pihak membuat perjalanan penyelamatan satwa liar terasa semakin laju. Centre for Orangutan Protection (COP) menyambut masa depan ini dengan optimisme, siap menjalankan lebih banyak misi penyelamatan dan membawa kabar baik dari kantong-kantong habitat orangutan. Terima kasih The Orangutan Project yang telah mewujudkan mimpi tahunan COP memiliki ambulan penyelamat satwa liar Indonesia”. (DIM)