PISANG MOLI NENEK NUN UNTUK ORANGUTAN

Orang-orang di kampung Merasak, Berau, Kalimantan Timur, memanggilnya Pouy Nun. Pouy dalam bahasa Dayak Kenyah bisa diartikan kakek ataupun nenek. Setiap hari saat cuaca cerah, nenek Nun menghabiskan waktunya di kebun walau sekedar membersihkan rumput ataupun mengambil sayur untuk dimasak.

Orang bilang tanah kita, tanah surga… sepertinya benar. Hampir semua warga kampung Merasa memiliki kebun dan di kebun mereka banyak tumbuh pohon buah-buahan, tidak terkecuali di kebun nene Nun. Pisang, pepaya, rambutan, durian, langsat dan buah-buahan lainnya. Tapi anehnya, pohon buah di kebun nenenk Nun tidak semuanya ditanam, misalnya pepaya. “Pepaya yang tumbuh di depan pondok nenek ini, bukan nenek yang tanam. Burung terbang bawa makanan lewat di atas kebun nenek, tidak sengaja menjatuhkannya, kalau tumbuh dan berbuah berarti rejeki nenek.”, cerita nenek Nun gembira.

Bermacam jenis pisang tumbuh di kebun nenek Nun, salah satunya pisang Moli. Buahnya yang manis, dengan panen yang cepat membuat pisang Moli jadi idola. Dulu pisang Moli hanya dijadikan hidangan untuk keluarga di rumah. Sekarang karena banyak tumbuh di kebun, nenek Nun memilih berbagi pisang Moli dengan para orangutan di COP Borneo. “Setiap 2 minggu sekali nenek Nun akan memberitahu kami kalau ada pisang yang sudah siap panen di kebunnya dan tidak tanggung-tanggung, sekali panen biasanya sampai 10 tandan, cukup untuk persediaan orangutan selama satu minggu lebih.”, ujar Wety Rupiana.

Nenek Nun sengaja menanam banyak pisang Moli di kebunnya untuk disajikan ke orangutan. Sebuah perbuatan sangat mulia, semoga kesehatan selalu menyertainya, Amin. (WET)

AUTOPSY RESULT OF ORANGUTAN KALAHIEN: SHOT AND BEHEADED

On Thursday evening, January 18th, 2018, held an autopsy or necropsy of an orangutan that found dead four day ago in the Barito river, Buntok Distik, Central Kalimantan. An Autopsy was conducted by the Central Kalimanta Regional Police by deploying its forensic team and assisted by the BOSF medical team, Center for Orangutan Protection (COP). The Autopsy was conducted at the site, the location of the orangutan was buried.

From an autopsy that ran for about two hours, the autopsy team revealed:

1. Confirmed it was an adult male orangutan.
2. At the neck, found 3 more injuries caused by sharp objects and makes the neck broke or cut.
3. Found 17 air rifle bullet: 1 bullet in left thigh, 14 bullets in the front of the body and 2 bullets at the back of the body.
4. There are 7 broken ribs on the left side.
5. Estimated death when found on Monday it’s have been 3 days prior.
6. The hull broke because of air rifle bullets.
7. The Heart is exposed to air rifle bullets
8. Lungs hit by the bullets
9. The chest on the left there is a bruise due to blunt object that cause the broken ribs.
10. The losses of hair caused by the flow of water.
11. No Microchip or clarified as wild orangutans.
12. Digestion is Normal, there are bark and leaves that have not been digested perfectly.

“Today’s autopsy result have proven that orangutan death due to humans, as evidence by the discovery of many air rifle bullets. Our strong suspicion of the death is because it was shot using an air rifle that went through the heart, lungs and stomach. Then the head was cut. Broken ribs and the cut of the head due the trim should make the Police and especially KLHK to be more excited about revealing this case. The authority of KLHK in this case is at stake, “said Ramadhani, COP’s Habitat Protection Manager.
The bodies of the orangutan after the autopsy were taken and buried in BOSF Nyaru Menteng for security reasons.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

HASIL OTOPSI ORANGUTAN KALAHIEN: DITEMBAK DAN DIPENGGAL
Kamis petang tanggal 18 Januari 2018 telah dilakukan otopsi atau nekropsi terhadap mayat orangutan yang ditemukan tanpa kepala di sungai Barito, Kab. Buntok, Kalimantan Tengah setelah empat hari lalu ditemukan. Otopsi dilakukan oleh Polda Kalimantan Tengah dengan menurunkan tim forensiknya dan dibantu oleh tim medis BOSF, Centre for Orangutan Protection (COP). Otopsi dilakukan di tempat, dimana lokasi orangutan dikubur.

Dari otopsi yang berjalan sekitar dua jam, tim otopsi mengungkapkan :
1. Dipastikan adalah satwa jenis orangutan berjenis kelamin jantan dewasa.
2. Pada bagian leher ditemukan lebih 3 luka yang disebabkan oleh benda tajam sehingga leher putus atau tebasan
3. Ditemukan 17 peluru senapan angin : 1 peluru senapan angin di paha kiri, 14 peluru senapan angin di badan bagian depan dan 2 peluru senapan angin dibagian belakang badan atau punggung.
4. Terdapat 7 tulang rusuk sebelah kiri yang patah.
5. Perkiraan kematian ketika ditemukan pada hari Senin sudah 3 hari.
6. Lambung pecah karena peluru senapan angin.
7. Jantung terkena peluru senapan angin.
8. Paru-paru terkena peluru senapan angin.
9. Bagian dada sebelah kiri terdapat luka lebam akibat benda tumpul yang menyebabkan tulang rusuk patah.
10. Hilangnya rambut atau bulu disebabkan oleh arus air.
11. Tidak ditemukan adanya microchip atau dipastikan orangutan liar.
12. Pencernaan normal, terdapat kulit kayu dan daun-daunan yang belum tercerna sempurna.
“Hasil otopsi hari ini telah membuktikan bahwa kematian orangutan karena manusia, itu dibuktikan dengan ditemukannya banyak peluru senapan angin. Dugaan kuat kami kematian orangutan ini karena ditembak menggunakan senapan angin menembus jantung, paru-paru dan lambung. Kemudian kepala ditebas. Patah tulang iga dan putusnya kepala karena tebasan harusnya membuat Kepolisian dan terutama KLHK untuk bisa lebih bersemangat mengungkap kasus ini. Kewibawaan KLHK dalam kasus ini dipertaruhkan.”, kata Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP.

Mayat orangutan setelah otopsi dibawa dan dikubur di BOSF Nyaru Menteng untuk alasan keamanan.

Informasi dan Wawancara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

HERCULES, SANG PELINDUNG ORANGUTAN LECI

Ini dia orangutan yang cinta damai… namanya Leci. Dia memang orangutan yang paling kecil di pulau pra-rilis. Tapi dia bisa berdekatan dengan siapa saja, mulai dari Nigel, Hercules, Untung dan lainnya. Memang, Leci paling sering terlihat bersama Hercules. Hercules sendiri terlihat seperti menjaga Leci. Leci terlihat tidur bersama Hercules beberapa kali.

Perkelahian antar orangutan jantan memang tidak bisa dihindari. Perbutan makanan pastinya yang memicu perkelahian. Saat yang mendebarkan seperti itu, Leci dengan santainya mendekati mereka dan bersikap manja dengan menjatuhkan badannya dan berguling-guling di situ. Mereka yang berkelahi, biasanya satu persatu akan pergi. Apakah ini kode etik tidak berkelahi di depan anak kecil? Hahaha… yang pasti, kami yang mengawasi dari seberang pulau menjadi lega. Perkelahian lebih hebat tertunda.

Leci juga sudah bisa mengekspresikan dirinya. Beberapa kali terlihat melakukan vokalisasi marah. Sayangnya, Leci tidak takut pada manusia. Dia sering nongkrong di dermaga pakan orangutan, menunggu makanan dilemparkan. Kemampuan Leci membuat sarang akan terus berkembang, saat ini dia membuat sarangnya di ketinggian 15 meter. Leci… semoga usia dan tubuh mu tidak menghalangi mu kembali ke habitatmu ya. Bantu COP Borneo menjalankan pusat rehabilitasi orangutan dengan donasi ke Terimakasih.

COMPLETE THE CASE OF KALAHIEN ORANGUTAN CORPSE

There is still time to dismantle the cemetery and perform an autopsy on the corpse of the orangutan.
Do not let BKSDA Central Kalimantan regretting this in the future. The results of the autopsy will assist BKSDA to conduct further investigation. It will be known whether this is a wild orangutan or ex-rehabilitation. Why can his head be decapitated ?. Was there a bullet in his body? And many other questions that can be answered from the autopsy results.

The finding of orangutan corpses with unusual conditions is not the first thing that happened in Central Kalimantan. Based on records from the Center for Orangutan Protection (COP) at least there are about 5 (five) cases occurred. And that successfully revealed until the court process is the last case that occurred in PT. SP, Tumbang Puroh Village, Kapuas District, Central Kalimantan where one orangutan is killed and then cooked.

“The case of orangutan death should be a priority by conducting a serious investigation and make it a deterrent effect against the perpetrators so that in the future it will not happen again. Past deaths cases of orangutans are not complete. Not to mention the case of shooting of orangutans. Nothing is running. The authority of BKSDA Central Kalimantan is at stake in this case, “said Ramadhani, Manager of Habitat Protection Program of COP.

Field observations from the COP team on Tuesday, January 16, 2018 is known where the orangutan corpse is found in some oil palm plantation concessions. The orangutan habitat area overlaps with the permits of oil palm plantation companies. The loses are certainly on orangutans side.

We appreciate the actions of the South Dusun Kapolsek AKP Budiono by ordering Babinkamtibmas to socialize and explore information related to the discovery of the orangutan carcass to three villages in Mampun Bay, Tanjung Java and Kahalien.

For Information and Interviews:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
HP : 081349271904
Email : ramadhani@orangutan.id

USUT TUNTAS KASUS MAYAT ORANGUTAN KALAHIEN
Masih ada waktu untuk membongkar kuburan dan melakukan otopsi terhadap mayat orangutan tersebut. Jangan sampai dalam hal ini BKSDA Kalimantan Tengah menyesal dikemudian hari. Hasil otopsi akan membantu BKSDA untuk melakukan penyelidikan selanjutnya. Akan diketahui apakah ini orangutan liar atau eks rehabilitasi. Kenapa kepalanya bisa terlepas?. Apakah ditemukan peluru dalam tubuhnya? Dan banyak pertanyaan lainnya yang bisa terjawab dari hasil otopsi.

Temuan mayat orangutan dengan kondisi tidak wajar bukanlah hal yang pertama terjadi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan catatan dari Centre for Orangutan Protection (COP) paling tidak ada sekitar 5 (lima) kasus terjadi. Dan yang berhasil diungkap sampai proses pengadilan adalah kasus terakhir yang terjadi di PT. SP, Desa Tumbang Puroh, Kab. Kapuas, Kalteng yang mana satu orangutan dibunuh kemudian dimasak.

“Kasus kematian orangutan sudah seharusnya menjadi prioritas dengan melakukan penyelidikan secara serius dan menjadikannya sebagai efek jera terhadap pelakunya agar dikemudian hari tidak terulang lagi. Kasus-kasus temuan kematian orangutan yang telah lalu banyak tidak tuntas. Belum lagi kasus penembakan terhadap orangutan. Tidak ada yang berjalan. Kewibawaan BKSDA Kalimantan Tengah dipertaruhkan dalam kasus ini.”, kata Ramadhani, Manager Program Perlindungan Habitat dari COP.

Hasil pengamatan lapangan dari tim COP hari Selasa 16 Januari 2018 ialah diketahui memang dimana lokasi ditemukan mayat orangutan terdapat beberapa konsesi perkebunan kelapa sawit. Kawasan habitat orangutan menjadi tumpang tindih dengan ijin-ijin perusahaan perkebunan kelapa sawit. Yang kalah dipastikan ialah orangutan.

Kami mengapresiasi tindakan dari Kapolsek Dusun Selatan AKP Budiono dengan memerintahkan Babinkamtibmas melakukan sosialisasi dan menggali informasi terkait penemuan bangkai orangutan tersebut untuk tiga desa di Teluk Mampun, Tanjung Jawa dan Kahalien.

Informasi dan Wawancara hubungi:
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
HP : 081349271904
Email : ramadhani@orangutan.id

ANTAK AKAN KEMBALI KE PULAU ORANGUTAN

Hampir setahun, orangutan Antak berada di kandang. Kalah bersaing dengan orangutan jantan lainnya adalah penyebab utama dia harus kembali ke kandang. Awalnya adalah laporan dari teknisi yang mengawasi pulau orangutan. “Sudah tiga hari Antak tidak terlihat. Biasanya Antak akan muncul saat pakan orangutan diberikan pada pagi maupun sore hari. Ini sama sekali tidak muncul.”, ujar Danel. Pencarian Antak pun segera dilakukan. “Sebelumnya, Antak terlihat berkelahi dengan Nigel.”, tambah Danel, taknisi orangutan yang mengawasi pulau pra-rilis COP Borneo.

Akhir Januari 2017, Antak ditemukan dalam kondisi kurus dengan luka-luka di bagian kepala, pinggul dan bibirnya. “Perkelahian antar orangutan jantan.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Selanjutnya tim medis COP Borneo akan mengobati luka-luka pada Antak dan memperbaiki berat badannya yang menurun drastis.

Awal tahun 2018 ini, tim medis memutuskan untuk mengembalikan Antak kembali ke pulau. Berat badannya sudah kembali, luka-lukanya sudah pulih. Jika Antak lebih lama lagi di kandang ini akan semakin membuatnya mundur. Bagaimana pun, kandang sangat membatasi geraknya.

Pulau pra-rilis orangutan adalah bagian dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Di pulau ini, orangutan nyaris tidak bertemu dengan manusia. Pemantauan orangutan dari seberang pulau dan patroli mengelilingi pulau dengan perahu untuk mengecek aktivitas orangutan, selain pada pagi dan sore hari saat memberi pakan orangutan. Ini adalah tahapan akhir orangutan sebelum dilepasliarkan kembali ke hutan.

AUTOPSY NEEDED FOR ORANGUTAN BODY

Once again, an orangutan body was found in Barito River, Buntok, Central Kalimantan. The body’s condition was heartbreaking to see: no head, no hair all over the body.

This is the second time a body of orangutan was found floating in a river, the first case was back in May 2016 in Sangatta River, East Kalimantan. Back then, the body was secured by the local police and a necropsy was conducted to investigate the cause of death, however it won’t reveal who did it.

Today, the body found in Barito River by BKSDA Central Kalimantan was burried, no necropsy conducted. This is very unfortunate, since a thorough examination by veteranarians would be highly beneficial to investigate what was the cause of death, especially when the body found was in a very unsual condition.

Centre for Orangutan Protection dissatisfied with the swift action taken by BKSDA, burrying the adult male orangutan body found floating with no head in Kalahien back in January 15th 2018. It is expected for BKSDA Central Kalimantan to act proactively to solve this serious crime. Autopsy is the first step to solve the crime, and BKSDA have the qualified partners such as BOSF, OFI and COP. COP has involved in similar case in the past, supporting BKSDA East Kalimantan and Bontang Police.

“The immediate burrial sent a message as a hurried burrial to make it impossible to investigate the possible suspects,” said Ramadhani, Program Manager of Habitat Protection COP.

Information and Interview contact:
Ramadhani, COP Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email: ramadhani@orangutan.id

MAYAT ORANGUTAN PERLU OTOPSI
Lagi, ditemukan satu mayat yang diduga adalah satwa liar yang dilindungi yaitu orangutan di Sungai Barito, Buntok, Kalimantan Tengah. Kondisi yang sangat mengenaskan ialah mayat ditemukan tanpa kepala, rambut atau bulu diseluruh tubuh sudah tidak ada.

Penemuan mayat orangutan ini menjadi catatan yang kedua ditemukan mengapung di sungai, yang mana pada bulan Mei 2016 ditemukan juga satu mayat orangutan di Sungai Sangatta, Kalimantan Timur. Saat itu mayat diamankan oleh pihak Kepolisian dan dilakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematiannya. Namun tidak bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhannya.

Hari ini mayat yang ditemukan di Sungai Barito oleh pihak BKSDA Kalimantan Tengah tidak dilakukan nekropsi namun langsung dikubur. Sangat disayangkan sebenarnya karena dengan pemeriksaan mayat oleh dokter hewan akan menjadi data tambahan yang sangat ilmiah dalam mengungkap penyebab kematian. Apalagi mayat yang ditemukan sangat tidak wajar.

Centre for Orangutan Protection menyesalkan gerak cepat BKSDA Kalteng dalam menguburkan jenazah 1 (satu) orangutan jantan dewasa yang ditemukan tewas mengapung tanpa kepala di Kalahien pada tanggal 15 Januari 2018. Sudah seharusnya BKSDA proaktif untuk membongkar kasus kejahatan serius ini. Otopsi adalah langkah awal untuk itu dan BKSDA Kalteng memiliki mitra – mitra yang memiliki kemampuan dalam hal ini seperti Yayasan BOSF, OFI dan COP. COP sendiri pernah membantu aparat BKSDA Kaltim dan Polres Bontang dalam penanganan kasus kejahatan seperti ini.

“Penguburan segera jenazah orangutan terkesan seperti penguburan segera kasus ini sehingga tidak bisa dilacak lagi kemungkinan tersangkanya,” kata Ramadhani, Program Manager Perlindungan Habitat dari COP.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP
081349271904

RELAWAN COP BORNEO SAAT NATAL DAN TAHUN BARU 2018

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu liburan. Contohnya ya menjadi relawan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Jadi selama libur hari Natal, para karyawan COP Borneo ada yang libur untuk menjalankan ibadah. Sementara kegiatan di pusat rehabilitasi harus tetap berjalan. Untuk mengantikan tugas beberapa karyawan inilah para relawan sangat dibutuhkan.

Setelah melalui beberapa tahapan, baik secara administrasi maupun pemeriksaan kesehatan, para relawan akhirnya bisa bertugas di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Apa saja sih yang menjadi tanggung jawab mereka? Salah satunya ya menyediakan makanan orangutan. Mulai dari belanja pakan di pasar dan ladang masyarakat, menimbang buah, memotong-motong dan mengantarkan makanan tersebut ke pulau orangutan. Selain itu juga mengawasi aktivitas orangutan di pulau, apakah mereka bertingkah laku wajar, apakah mereka mendapatkan makanan semua sampai ada perkelahian atau tidak.

“Seru sih pastinya.”, ujar Nur dan Oniel yang merupakan orangufriends Samarinda. Yang pasti, kamu harus siap hidup tanpa signal telepon apalagi internet. Kamu juga harus siap hidup terbatas dengan aliran listrik. Terimakasih Nur, Oniel dan Danang (Surabaya). Semoga pengalaman kali ini menjadikan liburan akhir tahunmu lebih berarti dan mengajak teman-temanmu untuk ikut peduli pada kerabat kera besar kita yang satu ini.

CRUCIAL , ORANGUTAN IN LESAN RIVER PROTECTED FOREST

Deforestation of forested areas to open Palm Oil plantations around the Lesan Ricer Protected Forest allegedly threatened the orangutan population of the sub-species of Pongo Pygmaeus Morio. Recent surveys show that the orangutan population within the Lesan River Protected Forest continues to decline year by year.

The Lesan River Protected Forest covering 13,565 hectares is an important habitat for orangutans and various rare wildlife species and protected by laws such as sun bears, leopards and Grafts. Unfortunately, its conservation efforts are sabotaged by palm oil companies so that forested areas that should be the connecting corridor between Lesan River Protected Forest and other otangutan habitats are running out.

On July 8th and August 2nd 2017 the Center for Orangutan Protection (COP) together with the East Kalimantan BKSDAE section was forced to transplant orangutans in areas that were supposed to be corridors but had been cut off by palm oil plantation and settlement activities. Sadly, 1 (one) individual orangutan found on August 2nd 2017 suffered serious head injuries. Most likely hacked with sharp weapons such as machetes.

A Serious focused effort is absolutely necessary to maintain the remaining population. BKSDAE of East Kalimantan has released 1 (one) individual 15-year-old male orangutan ex-rehabilitation Center for Orangutan Protection on September 16th, 2017. The release was followed by monitoring and securing the area involving the local community. At least 5 (five) orangutans will again be released in the region. However, such efforts will be in vain if the palm oil companies around the area have no intention of participating in safeguarding Indonesia’s wildlife.

For Information and Interviews:

Ramadhani
Habitat Protection Program Manager
Email : ramadhani@orangutan.id
Mobile : 081349271904

GAWAT, ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN
Pembabatan kawasan berhutan untuk membuka perkebunan kelapa sawit di dan sekitar Hutan Lindung Sungai Lesan diduga kuat telah mengancam populasi orangutan Kalimantan sub spesies Pongo pygmaeus morio. Survey terbaru menunjukkan bahwa populasi orangutan di dalam kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan terus menurun dari tahun ke tahun.

Hutan Lindung Sungai Lesan yang luasnya mencapai 13.565 ha merupakan habitat penting bagi orangutan dan beraneka jenis satwa liar langka dan dilindungi undang-undang seperti beruang madu, macan dahan dan rangkok. Sayangnya, upaya konservasinya disabotase oleh perusahaan-perusahaan kelapa sawit sehingga kawasan-kawasan berhutan yang seharusnya menjadi koridor penghubung antara Hutan Lindung Sungai Lesan dengan habitat orangutan lainnya semakin habis.

Pada tanggal 8 Juli dan 2 Agustus 2017 Centre for Orangutan Protection (COP) bersama seksi BKSDAE Kalimantan Timur terpaksa mentranslokasi orangutan di kawasan yang seharusnya menjadi koridor tetapi telah terpotong dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pemukiman. Yang menyedihkan, 1 (satu) individu orangutan yang ditemukan pada tanggal 2 Agustus 2017 mengalami luka serius pada bagian kepala. Kemungkinan besar dibacok dengan senjata tajam seperti parang.

Sebuah upaya terfokus untuk serius mutlak diperlukan untuk mempertahankan populasi yang tersisa. BKSDAE Kaltim telah melepasliarkan 1 (satu) individu orangutan jantan berusia 15 tahun eks-rehabilitasi Centre for Orangutan Protection pada tanggal 16 September 2017. Pelepasliaran tersebut diikuti dengan pemantauan dan pengamanan kawasan yang melibatkan masyarakat setempat. Setidaknya 5 (lima) orangutan lagi akan dilepasliarkan di kawasan tersebut. Namun demikian, upaya tersebut akan sia-sia jika perusahaan kelapa sawit di sekitar kawasan tidak memiliki niat untuk turut menjaga satwa liar kebanggaan Indonesia ini.

Untuk informasi dan wawancara:

Ramadhani
Manajer Program Perlingungan Habitat
email : ramadhani@orangutan.id
HP : 081349271904

MICHELLE BUTUH KELAS BARU

Memasuki bulan ke-delapan Michelle tidak mengikuti sekolah hutan lagi. Michelle tumbuh menjadi besar dan menunjukkan keliarannya. Icel panggilan akrabnya sulit untuk dikontrol dan cenderung sesukanya. Tidak mudah menyuruhnya untuk berlatih di hutan, malah sebaliknya dia mendekati animal keeper dan menyerang. Icel juga seperti memberi keburukan pada kelas sekolah hutan. Icel sering menyakiti orangutan kecil lainnya. Itulah sebabnya Icel harus menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi.

Namun… animal keeper semakin sering membuatkannya enrichment agar Icel tidak bosan selama di kandang. Bagaimana tidak, makanan harus selalu diberikan dalam bentuk penuh tantangan. Kalau tidak, Icel akan ngambek ketika animal keeper membawakan makanan ke kandang orangutan-orangutan kecil terlebih dahulu. “Kalau sudah begitu, Icel mulai menarik-narik sarung tangan siapa pun yang bisa dijangkaunya.”, ujar Jevri.

“Sangat memprihatinkan melihat orangutan-orangutan yang berada di kelas sekolah hutan tumbuh menjadi besar dan liar. Seperti Icel yang sudah bisa memanjat 35 meter, menyelesaikan panjatan pohon besarnya hingga ujung bahkan Icel lah satu-satunya orangutan di kelas sekolah hutan yang bisa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Kami tidak bisa lagi mengajaknya ke sekolah hutan karena dia semakin sering kembali ke kandang saat sekolah hutan dan Icel menganggu orangutan-orangutan kecil lainnya. Kami berharap ada pulau lagi yang bisa kami gunakan untuk orangutan betina seperti pulau pra-rilis yang dihuni orangutan jantan.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo penuh harapan.

Mari bantu kami untuk mencari pulau kecil yang bisa menjadi tempat orangutan betina berlatih sebelum dilepasliarkan kembali ke hutan. Sebarkan dan bantu kami lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

ARTI LIANA UNTUK ORANGUTAN

Bisakah kamu menemukan bayi orangutan di antara tumbuhan Liana? Inilah sekolah hutan untuk bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. “Kalau sudah bergelantungan di sini, mereka akan lupa waktu dan kami yang menunggu di bawah sini.”, ujar Wety Rupiana.
Liana adalah tumbuhan memanjat yang banyak ditemukan di hutan tropis. Liana adalah tumbuhan yang merambat, memanjat bahkan menggantung. Akar Liana akan tetap berada di tanah. Liana akan bersaing dengan pohon lainnya untuk mendapatkan cahaya matahari. Dan Orangutan akan semakin mudah berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain melalui batang Liana ini. “Popi suka sekali diajak ke sini.”, ujar Wety lagi.
Popi akan masih dalam perawatan COP Borneo untuk beberapa tahun ke depan. Kamu bisa mengadopsi Popi secara virtual lewat tautan http://www.orangutan.id/adopt/#4