November 2017

JAMBORE ORANGUFRIENDS 2017 DI OMAH PARI

Ini adalah sebuah tradisi. Para relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends akan bertemu, berkumpul, berdiskusi di Jambore Orangufriends. Sebuah reuni para relawan yang pernah saling mengenal bahkan berkenalan dengan relawan yang baru kenal. Pertemuan ini juga mengumpulkan kembali lintas angkatan COP School. Untuk COP School angkatan terakhir seperti COP School Batch 7, pada saat Jambore akan dilakukan wisuda ala COP.

Jambore Orangufriends 2017 akan diisi para orangufriends yang berkegiatan di daerahnya masing-masing. Kegiatan kolektif dengan orangufriends lainnya atau kegiatan individu seperti bergabung menjadi relawan di COP Borneo maupun disaster relief gunung Agung. Bercerita… berbagi… dan merencanakan kembali.

Ini adalah acara untuk saling menguatkan sebagai agen perubahan satwa liar Indonesia yang masih sangat langka. Sabtu, 9 Desember 2017, pukul 10.00 WIB bertempat di Omah Pari, Jl. Gito-Gati, Sleman, Yogyakarta atau berjarak sekitar 300 meter di utara camp APE Warrior Yogyakarta. Acara akan berakhir keesokan harinya pada hari Minggu, 10 Desember 2017 pukul 15.00 WIB.

Cukup dengan kontribusi Rp 100.000,00 dengan fasilitas menginap, makan, camilan, permainan dan tanda kelulusan khusus siswa COP School Batch 7, akan membuat energi mu kembali penuh. Suasana santai di lingkungan persawahan Omah Pari yang dikelola alumni COP School tentu akan sangat berbeda dengan Jambore sebelumnya. Jadi kalau kamu mau ikut lagi, silahkan! Mari berbagi tawa, senang dan haru di Jambore Orangufriends 2017. Daftar ke Ramadhani dengan mengirim sms/wa 081349271904 dengan cara ketik JO17_Nama lengkap_Nama kota sebelum tanggal 5 Desember 2017. Sampai ketemu di Yogyakarta… (DAN)

MICHELLE TERPAKSA MASUK KANDANG

“Mereka tumbuh menjadi lebih besar… kuat… dan pintar. Kami semakin kesulitan menangani Icel. Dua bulan terakhir ini, Icel terpaksa tidak ke sekolah hutan.”, ujar Wety dengan sedih. Michelle atau lebih sering dipanggil Icel adalah orangutan betina yang berusia 7 tahunan. Dengan tubuhnya yang semakin besar, Icel semakin sulit dikontrol bahkan menyerang animal keeper. Icel juga sering menyakiti orangutan lainnya yang jauh lebih kecil darinya.

Inilah kenyataan di orangutan. Saat masih bayi, semua orang berkeinginan untuk memeliharanya, seperti boneka. Saat orangutan tumbuh besar dan kuat dengan munculnya insting liarnya, maka kebebasannya pun harus berakhir.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang terletak di kabupaten Berau, Kalimantan Timur hanya memiliki pulau orangutan pra-rilis untuk orangutan jantan. Orangutan-orangutan jantan yang semakin besar dan mandiri, akan dilepaskan di pulau itu. Sementara untuk orangutan betina, belum memiliki pulau. Para animal keeper secara bergantian memberikan enrichment pada Michelle agar dia tetap senang dan tidak bosan selama di kandang.

Bantu COP untuk berbuat yang terbaik untuk orangutan-orangutan betina yang semakin besar. Selain itu ada orangutan-orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan kembali ke alam yang membutuhkan tempat terbaik selain kandang karantina. Mereka tidak bisa dilepasliarkan lagi karena penyakit yang bisa menularkan ke orangutan liar lainnya seperti Memo yang menderita hepatitis.

APE CRUSADER DISKUSI RINGAN BERSAMA SISWI SMA 1 KUMAI

Awal November 2017, 37 siswi SMA 1 Kumai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah melakukan kunjungan rutin dalam pembelajaran materi penyemaian bibit untuk penanaman pasca kebakaran hutan yang terjadi tahun 2015. Siswi binaan dari program FNPF ini tergabung dalam ekstra kulikuler MIPA yang bernama Water Air Forest School Conservation (WAFSC). APE Crusader bergabung untuk diskusi orangutan, konflik satwa liar dan habitatnya.

WAFSC aktif dalam kegiatan biopori, pembuatan kompos organik, karya ilmiah remaja dan penanaman kembali hutan. Basuki Budi Santoro, manajer FNPF Kalimantan mengapresiasi semangat siswi binaannya yang aktif berkegiatan konservasi, “Kepedulian akan lingkungan untuk menjaga dan melestarikan hutan adalah modal dasar untuk mencapai tujuan jangka panjang konservasi berkelanjutan.”.

Peran aktif para siswi ditunjukkan pada semakin banyaknya pertanyaan mengenai dunia konservasi satwa liar, mulai dari habitatnya yang semakin tergusur dan hilang akibat alih fungsi hutan, perluasan atau pembukaan baru perkebunan kelapa sawit, kebakaran, perburuan liar, perdagangan dan pemeliharaan satwa liar secara ilegal.

Jesika, salah satu siswi SMA 1 Kumai menuturkan, “Kami di sini hidup berdampingan dengan hutan dan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Kami sangat butuh informasi apa, kenapa dan bagaimana kami memperlakukan satwa liar khususnya orangutan ini. Diskusi kali ini, semoga menambah peran aktif kami dalam perlindungan lingkungan.”.

Kesempatan dalam diskusi santai kali ini menjadi semangat tersendiri untuk tim APE Crusader. “Selalu ada ide baru saat kunjungan edukasi dan penyadartahuan. Semangat mereka yang muda seperti vitamin untuk kami, menyelamatkan orangutan dan habitatnya.”, ujar Faruq, kapten APE Crusader. (PETz)

UNTUNG ‘THE LUCKY’ IN COP BORNEO

A while ago, that little 18-months-old baby had to live inside a prison.. We called him ‘Untung’ – Indonesian word for lucky – because he was lucky he could survive since he’s lost some part of his fingers. He was also lucky to survive since he suffered from Hepatitis, but he still has got chance to go back where he came from, the wild. He was lucky he was small, since his cage was a bird cage. Untung was found by orangufriends Samarinda, COP Borneo volunteers that never got tired, running away from campus activities and work, to care for orangutans at Mulawarman University park, Samarinda. Untung ‘the lucky’ is lucky now he has grown into his adolescent.

His hesitation to climb trees is not unreasonable, his fingers are not perfect therefore it makes him difficult to hold on to branches. Untung can only perch on the branches like birds.. sitting.. crying. Once.. twice.. we don’t give up on him and take him to the trees. Come on Untung, you can climb it! Get your food! Bananas are the prize for him for climbing.

6 years later, Untung is not a baby anymore. No one is brave enough to go near him. Untung is one of the resident of pre-release island in COP Borneo. He is frequently seen on top of the tree. Sitting there and monitoring the situation. When he finds orangutan Novi, he’d chase her and start a fight. That is Untung, the lucky one.

UNTUNG YANG BERUNTUNG DI COP BORNEO
Saat itu, bayi yang berumur 18 bulan itu harus tinggal dalam penjara kecil… Menyebutnya dengan Untung karena beruntung tanpa jarinya yang sempurna dia masih bisa hidup. Beruntung juga walaupun menderita hepatitis tapi itu berasal dari alam dan Untung pun masih punya harapan untuk kembali ke alam. Beruntung dengan tubuh kecilnya meskipun diletakkan di kandang burung, Untung bertemu kami, relawan COP (Orangufriends) Samarinda yang tak kenal lelah, melarikan diri dari kampus maupun kerjaan ke KRUS untuk merawat orangutan-orangutan di Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda. Beruntung lah Untung yang tanpa harapan kini tumbuh menjadi orangutan remaja.

Keragu-raguan mengajaknya memanjat pohon bukanlah tanpa alasan. Jarinya tak sempurna, bagaimana menggenggam dahan yang akan menjadi tumpuan. Untung pun hanya bisa bertengger seperti burung… diam… menangis. Sekali… dua kali tak putus asa mengajaknya ke pohon… “Ayo panjat! Ambil makananmu!”. Pisang pun menjadi iming-iming agar Untung mau berusaha memanjat, meraih makanannya.

Enam tahun berlalu, Untung bukanlah bayi lagi. Tak seorang pun berani mendekatinya. Untung adalah penghuni pulau pra-rilis COP Borneo. Dia lebih sering terlihat di atas pohon. Duduk-duduk di sana dan mengamati sekitarnya. Jika dia berhasil menemukan orangutan Novi, Untung akan mengejarnya dan mengajaknya berkelahi. Itulah Untung yang akan terus beruntung seperti namanya.

SANTRI PEDULI ORANGUTAN

Selasa, 31 Oktober yang lalu, APE Crusader melakukan kegiatan Ponpes Visit dalam rangka penyadartahuan dan pengenalan tentang orangutan dan satwa liar lainnya. Pondok Pesantren SMP IT Al-Huda Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah dengan 83 santrinya diajak untuk lebih peduli pada satwa liar yang terancam kepunahan akibat tergusurnya habitat satwa tersebut.

Melalui slide materi dan pemutaran video tentang orangutan dan habitatnya, APE Crusader mengisi sore hingga malam hari kegiatan di Ponpes Al Huda ini. “Mari kita berikan perhatian lebih pada satwa liar yang dilindungi khususnya orangutan yang menjadi satwa khas pulau Borneo ini.”, ujar Gusti Samudra, SE sebagai ketua Yayasan Ponpes SMP IT Al-Huda.

Rasa ingin tahu tentang sifat dan karateristik orangutan menjadi pertanyaan para santri paling banyak. Hilangnya habitat orangutan menjadikan kunjungan kali ini menjadi lebih berarti. Seperti kata salah seorang santri yang bernama Yudha, ”Menjaga dan melestarikan lingkungan dan menyelamatkan orangutan adalah salah satu cara kita bersyukur dan bertaqwa kepada Allah SWT.”. (PETz)

THE CALM SEPTI

Her name is Septi. This 13-year-old female orangutan is a very calm orangutan, never attacks or hurts the keeper. Septi will only pay attention to the animal keeper when the cage is cleaned. Septi will also wait for the animal keeper to finish putting her food in her place, then she takes the food.

Septi is an orangutan who entered the COP Borneo orangutan rehabilitation center at the end of October 2015. That means, for the past two years, Septi has been at the COP Borneo quarantine cage. However, lately, Septi is seen often bumping her legs into the cage next to her. Maybe she wants to invite other orangutan to communicate.

“I like watching Septi the most when coconut enrichment time. Septi really enjoyed it. Yes … she really likes coconut. Septi will eat all the contents of the coconut until it’s finished with her horrible teeth. “Said Wety Rupiana. “I can’t imagine if those teeth landed in my arms … will be torn apart,” added Wety spooky. (WET)

SI KALEM SEPTI

Septi namanya. Orangutan betina yang berusia 13 tahun ini adalah orangutan yang sangat kalem, tidak pernah melakukan penyerangan atau melukai keeper. Septi hanya akan memperhatikan animal keeper saat kandangnya dibersihkan. Septi juga akan menunggu animal keeper selesai meletakkan makannya di tempatnya, baru dia mengambil makanannya.

Septi adalah orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo pada akhir Oktober 2015. Itu berarti, sudah dua tahun ini, Septi berada di kandang karantina COP Borneo. Namun, akhir-akhir ini, Septi terlihat sering membentur-benturkan kakinya ke kandang sebelahnya. Mungkin dia ingin mengajak komunikasi orangutan lainnya.

“Aku paling suka mengamati Septi saat enrichment kelapa. Septi sangat menikmatinya. Ya… dia memang suka sekali dengan kelapa. Septi akan memakan seluruh isi kelapa sampai habis dengan giginya yang mengerikan.”, ujar Wety Rupiana. “Tak terbayangkan kalau gigi itu sampai mendarat di tangan ku… pasti koyak.”, tambah Wety seram. (WET)

Page 2 of 212