SEKOLAH HUTAN DALAM BAYANG-BAYANG KEBAKARAN HUTAN

Di tengah hutan hujan yang lebat, tersembunyi di antara pohon-pohon tinggi dan flora yang beragam di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Berau ada sebuah sekolah bagi orangutan yang disebut “sekolah hutan”. Sekolah hutan merupakan kesempatan kedua bagi orangutan muda yang diselamatkan dari konflik maupun kejahatan manusia untuk dapat eksplorasi dan belajar kemampuan bertahan hidup secara langsung di habitat alaminya. Dalam pengawasan para perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang penuh dedikasi, orangutan-orangutan yatim yang penuh penasaran ini mempelajari banyak keterampilan penting yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup, mulai dari mencari makan, membuat sarang , hingga bergelantungan di antara liana dan dahan pohon dengan lincah. Sekolah hutan layaknya sebuah simfoni dari gemuruh dedaunan yang tertiup angin, goyangan dahan yang diraih tangan-tangan orangutan, kicauan burung yang saling bersahut-sahutan, nyaring suara owa yang terdengar dari kejauhan dan saling berpadu dalam rimbunnya kanopi hutan.

Namun simfoni alam yang indah ini sedang menghadapi ancaman serius yang membuat kami harus waspada. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami fenomena El Nino yaitu peristiwa pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal yang rentan memicu kekeringan dan kemarau panjang di sejumlah wilayah, hingga potensi kebakaran hutan khususnya di Kalimantan. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luas total area terbakar pada peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada tahun 2019 yang juga turut dipengaruhi oleh fenomena El Nino mendekati satu juta hektar lahan, tidak terkecuali di KHDTK Labanan.

“Tiba-tiba banyak abu daun yang berjatuhan dari udara, bau asap tercium hingga dekat area kandang”, kata Indah, ahli biologi BORA sambil menunjukkan bukti foto dan sebagian abu daun yang ia bawa di tangannya saat kembali ke camp BORA. Ia menyaksikan kejadian itu saat sedang melakukan observasi sore di sekitar kandang rehabilitasi BORA pada 7 Agustus 2023.

Asap dan abu ini diperkirakan terbawa angin dari pembakaran ladang yang lokasinya tidak jauh dari kawasan BORA. Ancaman kebakaran hutan kembali menghantui para staf BORA, mengingat peristiwa karhutla 2019 yang hampir mencapai area BORA dan membuat mereka turut berjuang siang dan malam dalam usaha memadamkan api.

Semoga potensi karhutla pada tahun ini adapat diantisipasi dengan baik, karena dampak buruk dari kebakaran hutan tidak hanya mengancam keberlangsungan rehabilitasi dan sekolah hutan bagi orangutan di BORA namun lebih dari itu. Saat nyala api berkobar di hutan, simfoni kehidupan dibungkam, meninggalkan jejak kehancuran yang mengganggu keseibangan ekosistem, memusnahkan spesies tumbuhan dan hewan yang tak terhitung jumlahnya. Dari serangga kecil hingga primata yang berayun tinggi di puncak pepohonan, mengikis jaring-jaring kehidupan yang menompang keberlangsungan planet kita, bumi. Musnahnya keanekaragaman hayati tidak hanya mengancam keindahan alam, namun juga mengurangi manfaat vital yang disediakan ekosistem bagi kehidupan manusia. Upaya mendesak dan terpadu diperlukan untuk mencegah, mengelola, dan memulihkan hutan untuk melindungi kekayaan kehidupan tak tergantikan yang dimiliki oleh hutan, serta memastikan koeksistensi yang lebih harmonis antara alam dan kehidupan manusia. (RAF)

KATA RIDWAN, ORANGUTAN PUNYA TINGKAH YANG UNIK

Sore ini, usai aktivitas feeding di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), saya duduk di dapur BORA untuk memikirkan pengalaman apa yang bagus saya ceritakan setelah beberapa bulan bekerja di BORA. Setelah merenung sejenak, saya memikirkan ada banyak tingkah unik dan lucu orangutan yang sering saya jumpai selama ini.

Yang pertama ada Astuti. Astuti adalah nama orangutan korban perdagangan internasional di Gorontalo. Orangutan yang masih kecil ini memiliki rambut yang lebat dan berdiri alias jigrak dengan kepala bagian depan yang masih belum terlalu banyak ditumbuhi rambut alias botak sehingga mengingatkan kita pada gaya rambut “Albert Einstein”. Ada satu hal unik yang paling saya ingat dari si Astuti, kebiasaan dia memutar badan seperti menari balet saat dia sedang menunggu perawat satwa memberi dia makanan.

Orangutan kedua adalah Popi yang memiliki tubuh lebih besar dibanding postur dan umur Astuti tadi. Popi tergolong orangutan manja terhadap perawat satwa di BORA. Terlihat dari kebiasaan Popi saat diajak untuk sekolah hutan. Orangutan lain yang ada di BORA pada umumnya saat menuju lokasi sekolah hutan cukup dengan dituntun, dipegang tangannya dan mereka akan berjalan sendiri. Namun Popi lebih senang digendong di bandingkan berjalan sendiri menuju lokasi. Sekolah hutan adalah salah satu kegiatan yang ada di pusat rehabilitasi orangutan BORA untuk mengembalikan insting liar orangutan, mengenalkan kembali mereka kepada alam liar sehingga saat mereka nanti dilepasliarkan, mereka sudah siap dengan kondisi yang ada karena perlahan-lahan mereka telah dibiasakan sejak di pusat rehabilitasi. Ini adalah salah satu tugas perawat satwa yaitu bagaimana Popi bisa kembali mandiri tidak ketergantungan dengan manusia karena di alam bebas nanti mereka dituntut mandiri, tidak ada lagi perawat satwa yang bakal memperhatikan makanan mereka dan kesehatan mereka. Popi juga suka ngambek saat perawat satwa melakukan candaan, seakan tidak mau memberi makanan kepada Popi, Popi akan menunjukkan gestur ngambek dengan menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Itulah beberapa tingkah unik orangutan yang ada di BORA, masih banyak tingkah unik orangutan yang ada di BORA… nantikan cerita selanjutnya ya. (RID)

PACEKLIK BUAH HUTAN DI SEKOLAH HUTAN BORA

Musim pohon hutan di KHDTK Labanan berbuah, sudah berlalu. Saat ini sebagian besar pohon-pohon yang ada di lokasi sekolah hutan tidak berbuah. Hal ini berpengaruh pada perilaku mencari makan orangutan selama sekolah hutan berlangsung. Ketika musim berbuah, orangutan-orangutan yang mengikuti sekolah hutan sangat aktif mencari makan di atas ketinggian pohon, berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain. Namun sekarang, mereka harus belajar menyiasati kelangkaan buah di hutan dengan strategi mencari pakan lain. Daun, kulit kayu, bunga, umbut, tunas, dan serangga dapat menjadi alternatif pakan bagi orangutan.

Orangutan bernama Bagus dan Devi teramati memiliki stategi mencari pakan yang berbeda dengan menyiasati kelangkaan buah di hutan. Bagus memakan beragam jenis daun-daunan. Bahkan pada data bulan Mei 2023, ia merupakan orangutan dengan frekuensi memakan daun paling tinggi dibandingkan orangutan lainnya. Sementara Devi lebih aktif memakan tunas dan umbut tumbuhan yang berada di permukaan tanah. Umbut tumbuhan tepus, pacing, dan rotan teramati menjadi pilihan pakan alaminya yang dimakan oleh Devi.

“Tidak semua orangutan rehabilitasi di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) dapat menyiasati kelangkaan buah di sekolah hutan yang berada di KHDTK Labanan ini. Biasanya kegiatan mereka di sekolah hutan menjadi terbatas pada travelling atau menjelajah bahkan kembali ke perawat satwa yang membawanya”, jelas Raffi Ryan Akbar, asisten manajer BORA sekaligus ahli biologi COP. Kemampuan Bagus dan Devi dalam menyiasati kelangkaan buah di hutan menjadi secercah harapan bahwa mereka dapat bertahan hidup dengan baik ketika dilepasliarkan nanti. (RAF)

KAGET DIBERI RAYAP, HAPPI LARI KE POJOK KANDANG

“Hari ini enrichmentnya sarang rayap aja”, usul bang Amir, salah seorang animal keeper saat briefing pagi hari itu. Macam-macam enrichment makanan biasa diberikan untuk menghibur orangutan di luar jadwal makan pagi dan sore. Selain memakan daun dan buah hutan, orangutan juga terkadang memakan serangga seperti rayap, semut bahkan juga ulat. Aku sendiri pernah melihat Mabel, bayi orangutan yang sedang karantina memakan ulat-ulat kecil dengan lahap. “Biasa kita tuh cari di hutan. Tapi aku lihat di jalan dekat klinik ada”, jawab bang Amir ketika kutanyakan bagaimana cara mendapatkan sarang rayap.

Setelah berganti wearpack dan mengambil cangkul, aku, bang Amir, Syarif, Bima, dan Gavrila yang hari itu bertugas menjadi animal keeper segera berangkat ke lokasi sarang rayap yang dimaksud bang Amir. Saat sampai dan ditunjukkan, aku sempat tak percaya bahwa itu adalah sarang rayap. Yang kulihat dihadapanku hanyalah gundukan tanah liat setinggi sekitar 1,5 m. Bima dan bang Amir memberi aba-aba agar kami mundur. Kemudian mereka mulai mengacangkul gundukan tanah liat itu. Lapisan tanahnya cukup tebal dan butuh berkali-kali cangkulan hingga sarang rayap di dalamnya tampak. “Waaah berarti ini gede banget ya sarangnya?”, aku dan Gav terkagum melihat sarang rayap yang terlihat seperti bangunan yang sangat kompleks. Lalu kami memasukkan potongan-potongan sarang rayap ke keranjang.

Setelah sekitar 40 menit, keranjang sudah penuh dengan sarang rayap dan kami pun menuju kandang orangutan untuk membagikannya. Lucu sekali memperhatikan respon mereka yang bermacam-macam. Jainul terlihat penasaran dan pelan-pelan memperhatikan sarang rayap di tangannya. Ketika ada rayap yang keluar, dia tidak memakannya. Justru sarangnya yang ia masukkan ke mulutnya. Yang lain terlihat memakan sang rayap. Ada juga yang membuangnya bahkan terlihat tidak tertarik sama sekali.

Namun yang reaksinya membuat kami tertawa terpingkal-pingkal adalah reaksi orangutan Happi. Ketika kami meletakkan potongan-potongan sarang di tempat makannya, ia mendekat tanpa ragu da langsung memegang satu potong sarang. Ia begitu penasaran dan memperhatikan lekat-lekat sarang itu. Tiba-tiba, ia menjatuhkan sarang dalam genggamannya dan lari pontang-panting ke pojok kandang seperti manusia yang terkejut. Sepertinya ia terkejut ketika ada rayap yang muncul dari lubang-lubang sarang dan berpindah ke tangannya. Setelah puas tertawa, kami mencoba kembali memanggil-manggil Happi, berusaha memberitahunya bahwa rayap dan sarangnya tidak berbahaya. Untungnya Happi masih mau mendekat. Mungkin rasa penasarannya belum terpuaskan. Ia kembali memandangi dan memegang sarang rayap itu. Kemudian ia memain-mainkannya dan mulai memakannya. Kami ikut senang melihat Happi seperti terhibur dengan enrichment yang kami bawa. Jerih payah kami tidak sia-sia.

Sesungguhnya, sarang rayap bukanlah enrichment yang baru untuk Happi. Namun Happi selalu mengekpresikannya dalam bentuk yang berbeda-beda. Orangutan kecil memang selalu lucu karena itu juga banyak orang berpikiran untuk memeliharanya. Tapi orangutan bukanlah satwa peliharaan, rumahnya ya di hutan. Happi pun saat ini sedang menjalani karantina untuk masuk pulau pra-pelepasliaran. Tujuh tahun di BORA, saatnya kembali ke habitatnya. (NAD)

POPI MASUK KLINIK, SEMUA ORANG PANIK

Hari ini murid-murid orangutan di sekolah hutan sedang aktif-aktifnya. Popi, Astuti, Jainul, dan Charlotte semakin pintar mencari makan dan menjelajah kesana-kemari hingga lokasi hutan yang cukup jauh. Artinya perkembangan mereka sangat baik walaupun kami para perawat satwa harus berjuang menerabas tumbuhan lebat dan berduri untuk mengikuti dan mengawasi mereka.

Bahkan Popi yang biasanya hanya memanjat pohon sebentar lalu turun mengikuti kami dan mengincar keranjang buah, hari itu betah di atas pohon. “Dia pinter banget dari tadi cari makannya. Sekarang lagi makan daun muda. Sebelumnya selama setengah jam dia habisin buah ini”, ujarku pada Gavrila, kawan perawat satwa sambil menunjuk buah hutan yang berserakan di tanah. Buah itu bulat seperti bola batu sebesar genggaman orang dewasa. Warnanya coklat dan tekturnya sangat keras seperti kayu. Butuh waktu 20 menit bagi Popi untuk menghabiskan buah itu.

Setengah jam sebelum waktu sekolah hutan berakhir, Popi sempat turun lama dan memakan daun-daunan dari tumbuhan pendek. Aku sempat lega melihatnya sudah turun ke bawah, artinya aku tidak perlu menunggu, membujuk dan memanggilnya turun ketika sesi sekolah hutan berakhir. Namun aku seperti diberi ujian sabar. Lima menit lagi sebelum sesi sekolah hutan berakhir, Popi justru naik lagi. Selama 15 meit aku memanggil dan membujuknya pulang. Lalu ketika akhirnya ia berhasil turun dan kutuntun hingga depan kandang, ia tiba-tiba turun dari gendongan dan berlari menjauh.

Aku yang sudah kelelahan sekolah hutan dan menggendongnya hingga kandang jadi lebih kalah cepat dengannya. Tenaganya belum juga habis walau sudah sangat aktif di sekolah hutan. Aku berusaha menarik tangan Popi tapi ia lebih kuat dariku walaupun tubuhnya lebih kecil. Ia terus menjauh dan aku mengikutinya hingga kami sampai di depan klinik dan aku dilanda panik. Ia naik ke wastafel cuci tangan! Benar saja dugaanku, ia penasarang dengan sabun cuci dan mengacak-acaknya. Untung saja sabun yang kami pakai di situ adalah sabun cuci food grade yang lebih aman apabila Popi tidak sengaja menelannya. Melihatku mendatanginya dan segera mengambil sabun itu, Popi langsung menjauh lagi dan menuju pintu klinik. Aku segera mengangkat tempat sampah di dekat pintu sebelum ia meraihnya lebih dulu. “Tata, Lala, tolongin aku!”, teriakku memanggil kawan-kawan paramedis yang biasa bertugas di klinik. Kulihat di dalam Popi sudah meraih bungkus deterjen dari rak penyimpanan. Untungnya Tata dan Lala segera datang. Lalu kami bersama-sama berhasil menghalau Popi dan menuntunnya kembali masuk ke kandang. Butuh tiga orang untuk membawanya kembali ke kandang. Popi… Popi… Bisa-bisanya sampai masuk klinik dan bikin panik! (NAD)

ENRICHMENT ORANGUTAN DARI BORA UNTUK SRA

Dua orang perawat satwa BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) membuatkan enrichment selang pemadam yang berisi potongan buah jambu sebanyak 30% dan 70% dedaunan ditambah dengan madu untuk orangutan di SRA (Sumatran Rescue Alliance). Pemberian enrichment ini untuk mengisi waktu luang Asto dan Asih di kandang ketika hujan lebat atau saat panas terik jika sekolah hutan ditiadakan.

Selang pemadam kebakaran menjadi pilihan wadah karena bahan yang kuat. Asto dan Asih berusaha menggapai enrichment bentuk baru ini. Aroma madu yang tercium dan menetes keluar selang secara alamiah membuat mereka menghisap-hisap ujung-ujung selang. Ketika sudah tidak ada lagi tetesan yang tersisa, keduanya mulai mencongkel dan menggigit enrichment tersebut.

Perilaku bertukar enrichment pun terjadi. Asih mengambil selang milik Asto, begitu pula sebaliknya. Keduanya bertukar enrichment yang tak mengeluarkan cairan lagi. Tapi keduanya menyadari, masih ada sesuatu di dalamnya. Berulang kali, mereka mengendus, menggigit, dan mencongkel ujung selang yang dijahit tali. Asto yang memiliki tubuh sedikit lebih besar mulai bertugas sebagai “penghancur” dan membesarkan lubang. Sementara Asih sebagai “penerus” nya, membuat lubang semakin besar agar seluruh isi enrichment berhasil dikeluarkan dan dinikmati.

Apakah mereka saling bekerja sama? Atau kah Asto selalu menjadi tempat meminta tolong Asih? Saatnyakah mereka berdua berpisah kandang agar bisa lebih mandiri? Ahmad Nabil kembali membuka catatan lama Asto dan Asih yang telah dua tahun menghuni pusat konservasi orangutan SRA yang berada di Besitang, Sumatra Utara ini. Sebagai biologist, perilaku keduanya terpantau dan menjadi evaluasi untuk program rehabilitasi orangutan tersebut. Program ini adalah usaha untuk merangsang perilaku alami dan kemampuan orangutan agar siap dilepasliarkan pada waktunya. (BIL)

AWAS ADA JOJO

“Aaa Ayo lari!”, suara Indah berhasil membangun alarm panikku dan Gavrila yang hari itu membawa orangutan Jojo, Jainul, Bagus, dan Astuti ke sekolah hutan. Aku yang sedang fokus menghindari gigitan orangutan Jainul seketika refleks berlari menjauhi suara Indah tanpa melihat ke belakang. Jainul yang ada dalam gendonganku pun ikut panik dan bingung hingga ia berhenti menggigit dan terdiam. Di belakangku, Gav sempoyongan menggendong Astuti sambil berseru, Tungguuu! Jangan tinggalin aku”, begitulah kehebohan yang ditimbulkan Jojo hari itu saat sesi sekolah hutan. Membawa orangutan Jojo bersekolah hutan memang jadi teror tersendiri. Jojo sudah terkenal usil dan nakal, terutama pada keeper baru atau keeper perempuan. Belum ada dua bulan menjadi keeper, aku sudah kena jambak hingga rambutku lepas segenggam. Jas hujanku juga pernah ditariknya hingga compang-camping saat membersihkan kandang di hari hujan.

Akhirnya setelah berlari, aku, Gav, dan Indah berhasil menjauh dari Jojo. Ketika kutengok ke belakang, Jojo memandangi kami di tanah. Mungkin ia juga heran melihat tingkah manusia yang tiba-tiba berlarian, padahal ia hanya diam saja. Hari itu memang kami sedikit lebih waspada pada Jojo. Karena ia baru saja merebut dan mematahkan pensil dan pulpen yang kami gunakan untuk mencatat perilaku murid sekolah hutan. Butuh waktu yang lama, berbagai trik, serta kesabaran agar kami mendapatkan kembali alat tulis kami. “Lio! Jojonya nih”, aku berteriak memanggil Lio, keeper lama yang bertugas mencatat aktivitas Jojo di sekolah hutan. Jojo hanya takut dan menuruti keeper laki-laki yang berbadan besar. Karena itu setiap sekolah hutan, biasanya keeper tertentu yang dipilih untuk membawa Jojo. Akhirnya setelah Lio datang dan menggandeng Jojo, kami kembali ke kandang dan memasukkan mereka ke dalamnya.

Saat kembali ke lokasi camp untuk beristirahat, kami menceritakan kembali kehebohan Jojo di sekolah hutan tadi. Setelah itu kami saling mengingat-ingat kelakuan nakal Jojo yang pernah ia lakukan. “Ih aku dulu pernah kerudung aku ditarik ama si Jojo. Terus dimain-mainkan ampe robek mah sama dia. Diludahin juga pernah aku mah sama dia”, ujar Indah. Kami tertawa-tawa mendengar kesialannya. “Inget nggak Nad, waktu itu kan kita pernah juga dilemparin tai sama dia pas bersih kandang?”, tanya Gav. Aku mengangguk sembari mengingat masa-masa awal menjadi keeper dan dibuat terkejut dengan kelakuan orangutan Jojo. Ya begitulah kenakalan Jojo. Kalau ada Jojo, selalu ada kejadian mengenaskan yang berubah menjadi lucu ketika diceritakan. Kenakalannya seperti kenakalan anak manusia yang membutuhkan kesabaran dan pengertian dalam menghadapinya. Tetapi meski kami sering dinakali, kami tetap berharap agar Jojo semakin pintar bersekolah hutan dan semakin acuh pada manusia agar cepat lulus. Doakan Jojo ya! (NAD)

PEMERIKSAAN INFESTASI DI BORA

Pemeriksaan feses pada orangutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) secara berkala dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya infestasi parasit pada saluran pencernaan pada orangutan. Pemeriksaan feses ini menggunakan metode natif yaitu metode yang digunakan untuk pemeriksaan kualitatif. Dari hasil pemeriksaan kali ini didapatkan adanya infestasi telur cacing Trichuris sp, telur cacing tipe Strongyloides dan tipe Strongyloid.

Hal ini bisa terjadi karena infeksi cacing yang berasal dari pakan yang kurang bersih, bisa dari air untuk mencuci pakan sehingga dapat terjadinya penularan parasit pencernaan. Infeksi parasit juga bisa terjadi saat orangutan bermain di tanah saat sekolah hutan juga.

Berdasarkan observasi, orangutan yang fesesnya terdapat telur cacing tidak menunjukkan gejala kecacingan karena infeksi parasit pencernaan yang sangat rendah. Selanjutnya akan dilakukan deworming (pemberian obat cacing) pada setiap individu orangutan dan menjaga kebersihan kandang, mencuci buah dan sayur sebelum diberikan kepada orangutan.

Bagaimana dengan perawat satwanya? Tentu saja ikut minum obat cacing secara berkala. (TER)

PERUT ORANGUTAN SEPTI KEMBUNG (LAGI)

“Dung… dung… dung…”
Tata menepuk perlahan perut Septi yang pagi itu tidak beranjak sedikit pun dari hammock.
“Kembung lagi nih”, jawab Tata ketika kutanya ada apa dengan Septi. Ini baru kali kedua aku bertemu Septi dan di perjumpaan pertama kami, Septi sungguh berbeda. Ia sangat aktif dan bahkan sempat membuatku shock di hari pertamaku menjadi perawat satwa. Pada hari itu, ketika dokter Elis hendak mengeluarkan Mabel, bayi orangutan yang tinggal satu kandang dengan Septi, justru Septi yang bersemangat keluar kandang.

“Nanti dulu Septi! Astaga ini belom waktunya sekolah hutan”, uyar dokter Elis sambal menahan pintu kandang. Ia langsung berguling-guling di tanah, memanjat pohon durian di depan klinik yang belum terlalu besar hingga hampir roboh, dan menggulingkan tiang permainan untuk anak orangutan yang tentu saja tidak bisa menahan berat tubuh Septi yang besar. Bujukan susu, madu, dan buah tidak berhasil. Ia justru mengejar dan menggigit sepatu dokter Elis dan paramedis Tata, mengajak mereka berdua bermain. Saat itu aku hanya berani berdiam di pojokan dan untungnya Septi sepertinya belum merasa kenal denganku dan tidak mengajakku bermain.

Benar-benar berbeda dengan hari ini, ia terlihat malas dan lemas sekali. Buah-buahan kesukaannya justru dikerubungi lebah-lebah yang berisik dan Septi tidak meliriknya sama sekali. Ia malah menutupi wajahnya dengan selimut. Sulit mengajaknya keluar kandang untuk berjemur. Berkali-kali ia kembali menaiki hammock dan menutup kepalanya dengan selimut seperti enggan terkena matahari.
Ternyata, ii bukan kali pertama Septi mengalami perut kembung. Ini sudah seperti penyakit kambuhan bagi Septi selama bertahun-tahun. Ia memang didiagnosa memiliki pencernaan yang sensitif. Septi pernah menjalani pemeriksaan x-ray oleh tim medis BORA. “Banyak kemungkinan faktornya sih, Nad. Bisa karena perubahan suhu dan kelembaban. Kan lagi sering hujan”, jelas dokter Elis. “Bisa juga karena perubahan pakan. Pencernaannya sangat sensitif”, tambah dokter Yudi.

“Lalu jika penyakit Septi ini sudah bertahun-tahun dan masih sering kambuh, bagaimana ya kalau dia dilepasliarkan di hutan?’, aku bertanya lagi.
“Aku yakin Septi masih bisa rilis sih. Tapi dia harus belajar cari cara supaya tubuhnya tetap hangat di cuaca dingin. Misal dengan membuat sarang yang lebih tebal. Pasti bisa deh”, dok Yudi menjelaskan dengan optimis.

Untuk sementara waktu, Septi diberikan terapi berupa jus buah-buahan yang dimasukkan dalam botol, dibaluri minyak penghangat, dan diajak keluar kandang ketika cuaca cerah. Sayangnya, beberapa hari terakhir ini cuaca di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) hujan sepanjang hari. Untuk menyiasati hal itu, Septi diberikan sinar infra merah yang dapat menghangatkan tubuhnya. Ini jadi pekerjaan yang cukup berat untuk para keeper karena Septi enggan bergerak dan harus dipaksa.
Doakan Septi agar cepat sembuh dan aktif kembali ya! (NAD)

KUKU IBU JARI KAKI ASTUTI NGGAK ADA

“Nad, kita adain Posyandu yuk”.
Aku terheran saat Tata berujar padaku seusai sesi feeding sore. Hari itu, hanya giliranku dan Tata, paramedis COP yang berjaga siang di klinik BORA. Jevri, penjaga satwa yang biasa menemani kami sedang bertugas ke lokasi lain.
Hah? Memangnya klinik di BORA bisa juga untuk manusia? Itu kan klinik Orangutan?
Dalam hati aku bertanya-tanya. Maklum saja, hari itu adalah hari ketigaku di klinik BORA dan ikut merawat orangutan. Seperti membaca raut bingungku, Tata menambahkan, “Haha, maksudnya Posyandu si Mabel sama Astuti, Nad”.
Aku mengangguk-ngangguk mengerti. Kemudian Tata menjelaskan padaku bahwa bayi-bayi orangutan yang ada di pusat rehabilitasi BORA secara berkala dilihat dan dicatat perkembangan serta pertumbuhannya. Persis seperti bayi-bayi manusia di Posyandu.
“Berarti nanti kita gantian? Aku ikut megang juga ya? Tata mengangguk.
Aku deg-degan membayangkan harus memeluk atau menggenggam Astuti dan Mabel. Pada hari itu, aku masih canggung saat harus bersentuhan dengan orangutan. Bukan karena takut digigit atau disakiti, tapi aku melihat perilaku bayi orangutan sangat mirip seperti bayi manusia. Selama ini aku merasa canggung saat berhadapan dengan anak-anak dan tidak terlalu pandai apalagi sabar saat harus mengasuh mereka. Meski takut, aku juga merasa tertantang. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk menghadapi kecanggunganku itu.
Setelah Tata mempersiapkan berkas pencatatan, alat timbang dan meteran, ia menjelaskan padaku apa saja yang akan kita lihat dan ukur dari Astuti dan Mabel.
“Kita timbang di sini. Terus ukur-ukur badan, tangan, kepala, kaki… Umm, semuanya deh sesuai daftar ini. Nanti kita lihat juga giginya dan kita cap jari-jarinya”, ujar Tata sambil membolak-balikkan kertas pencatatan. Kemudian kami bergegas ke kandang Astuti dan membawanya ke klinik. Benar saja, perilaku Astuti terlihat seperti bayi manusia bagiku. Ia naik ke tubuhku minta digendong dan harus dibujuk dengan madu agar mau naik ke timbangan. Aku berusaha tetap tenang. Akhirnya ia mau diam di atas timbangan. Beratnya menunjukkan 7,7 kg. Pantas saja lumayan berat. Kemudian kita mengukur lingkar kepala, panjang tubuh, jarak antar mata, panjang dan lebar tiap ruas tangan dan kaki, hingga ukuran telapak kaki. Sesekali Astuti tidak mau diam dan kami harus memegang tubuhnya dan dengan sabar menunggunya tenang. Saat hendak memeriksa giginya, Astuti sempat mengamuk dan tidak mau menunjukkan giginya. Tata dengan lembut membujuk Astuti hingga akhirnya kami sampai di rangkaian pencatatan terakhir, memeriksa jari-jari dan membubuhkan cap tiap jari Astuti di atas kertas. Wah, sabar banget si Tata, pikirku. Aku jadi kagum dengan Tata dan membayangkan tim medis lainnya yang juga harus sabar dalam bekerja.
“Catat di bagian keterangan Nad. Ini kuku ibu jari Astuti nggak ada. Kanan dan kiri”, ujar Tata sambil menahan tubuh Astuti yang mulai kabur ke sana ke mari. Aku terkejut mendengarnya, “Hah?! Koq bisa? Dilepasin sama pedagangnya dulu?”. Astuti adalah orangutan yang diselamatkan di Gorontalo saat hendak diseludupkan ke luar negeri oleh pedagang. Jadi kupikir kukunya sengaja dilepaskan dengan kejam.
“Bukan Nad. Emang ada orangutan yang lahir dengan kuku ibu jari kaki, tapi ada juga yang nggak. Normal koq. Bukan kelainan ini tuh”, jelasnya. Aku lega mendengar penjelasannya. Dari semua yang kami catat, Astuti tergolong baik pertumbuhan dan perkembangannya, Sykurulah. Akhirnya rangkaian ‘posyandu’ hampir selesai. Banyak hal baru tentang anatomi orangutan yang kupelajari saat itu. Selain variasi pada kuku ibu jari kaki, aku juga baru mengetahui bahwa orangutan memiliki sidik jari yang unik seperti manusia. Ternyata, mengidentifikasi orangutan bia juga dilakukan melalui sidik jari. Saat kami membubuhkan cap tiap jari tangan dan kaki Astuti di satu kolom dalam kertas pencatatan, aku nyeletuk, “Terus ini kita catat juga buat apa Ta? Buat dia bikin KTP ya?”, Tata tertawa. “Bukan Nad. Buat bikin surat permohonan utang”, balasnya. Kami berdua tertawa sementara Astuti masih sibuk berusaha merebut madu yang Tata sembunyikan di kantong bajunya. (NAD)