INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (2)

Seperti kebanyakan orangutan liar yang masuk ke pusat rehabilitasi, Mauliyan masih dengan sifat agresif segera mengusir jika ada yang mendekati area kandang. Sebagai induk orangutan, dia terlihat sangat melindungi anaknya. Setiap ada yang mendekat, anaknya langsung bersembunyi dalam pelukannya bahkan ditarik paksa olehnya. Mauliyan juga masih dalam masa adaptasi dengan pakan yang diberikan, beberapa jenis pakan masih belum mau dimakannya.

Mauliyan dan anaknya adalah orangutan yang diselamatkan dari kawasan pertambangan di Kalimantan Timur. Viralnya ibu dan anak orangutan menyeberangi jalanan mengantarkan tim menyelamatkan keduanya. Sayang, hanya induknya yang bisa diselamatkan, sementara anaknya yang sudah cukup besar tidak berhasil ditemukan. Tim melakukan penyisiran dan menemukan Mauliyan beserta anaknya, Ariandi.

Kini, Mauliyan sedang kritis. Tim medis berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan induk orangutan ini. Setelah 6 jam menjalani perawatan intensif, suhu tubuhnya naik perlahan dan kembali normal. Beberapa kali menunjukkan respon tubuh mencoba membalik badan namun Mauliyan belum sadar.

“Menunggu, berdoa, dan terus melakukan pengecekan hanya itu yang bisa dilakukan. Berharap Mauliyan pun berusaha untuk bertahan dengan kondisinya. Ariandi terlihat tak lepas memeluknya. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Seorang anak yang masih membutuhkan ibunya yang tak berdaya”, ujar drh. Ellise Balo.

Pada 17.32 WITA terjadi hal baik. Mauliyan perlahan mulai sadar dan diputuskan untuk melepas infusnya. Dengan cepat, dibantu animal keeper untuk menahan tangannya yang kekuatannya mulai pulih. Infusnya berhasil dilepas. Perlahan-lahan, Mauliyan mencoba untuk duduk. Pemberian air gula sedikit demi sedikit berhasil masuk. Dua puluh menit kemudian, seperti tidak terjadi apa-apa, Mauliyan duduk dan memakan habis pakan sisa Ariandi yang ada di sekitar kandang. Tim pun segera memberikan pakan tambahan dan kemudian habis dimakannya. Sejak saat itu, Mauliyan tidak lagi pemilih makanan. Pakan yang dikasih, habis dimakannya sampai saat ini. (LIS)

PERAWAT SATWA TERBAIK DI BORA SEPTEMBER 2023

Perawat satwa Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA pada penghujung bulan September ini mendapat kejutan dan apresiasi dari kinerja nya selama ini. Penyematan perawat satwa terbaik BORA kali ini jatuh pada perawat satwa yang telah bergabung sejak 2017 silam. Dia adalah warga lokal yang merupakan bapak dari sepasang anaknya. Selain mampu melakukan pekerjaan perawatan orangutan dengan baik, dirinya mampu menjalin komunikasi dengan rekan kerjanya baik dengan perawat satwa lainnya maupun dengan tim medis.

“Dia menanamkan nilai inisiatif yang tinggi di dalam pekerjaan, selain mengerjakan pekerjaan utama merawat orangutan, ia juga tampak melakukan pekerjaan lainnya dengan sukarela. Perawat satwa lain boleh belajar hal baik dari Amir, bapak dua anak ini”, ungkap Widi Nursanti, manajer Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA).

Menjadi perawat satwa adalah pekerjaan yang dewasa ini banyak digandrungi dan Amir membuktikan meski dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan yang bersinggungan dengan satwa liar, namun dirinya mampu menjadi figur perawat satwa orangutan terbaik di BORA. Selamat, Amir! (WID)

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (1)

Mauliyan! Itu nama salah satu individu orangutan yang berada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Orangutan betina dewasa yang juga seorang ibu dari orangutan Ariandi. Keduanya dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah II (BKSDA SKW II Tenggarong) bersama Centre for Orangutan Protection (COP) pada 27 September 2023.

“Kondisi induk sangat memprihatinkan, BCS (Body Condition Score) nya 1 dari 5, perkiraan berat badannya sekitar 19 kg, jauh dari angka ideal apalagi untuk individu indukan yang masih harus menyusui anaknya”, papar drh. Ellise Balo

Tiga hari setelah tiba di BORA, Mauliyan ditemukan hanya berbaring, tidak berpindah bahkan setelah didekati perawat satwa. Tim medis berusaha membalikkan tubuh Mauliyan dan mendapati induk orangutan ini sedang menggigil dan mencoba menggigit dirinya sendiri. Setelah itu kepalanya mengarah ke bawah bahkan mulutnya berada di antara jeruji kandang. Kali ini Mauliyan terlihat menggigit besi kandang.

“Panik, tentu saja! Ada perasaan khawatir sembari berpikir apa yang menyebabkan Mauliyan menjadi seperti ini. Karena di hari kemarin, dia masih tampak aktif, sibuk mencoba berbagai pakan yang diberikan, bahkan terlihat mengajari anaknya untuk lepas dari gendongan. Ariandi diajarkan bergelantung pada kandang, memanjat bahkan diajarkan untuk berjalan dan duduk”, jelas drh Ellis.

Tim medis pun segera mengecek suhu tubuh, namun terbaca Lo (suhu di bawah 32° C), walaupun lemas, kondisi Mauliyan masih sadar. Hal pertama yang dilakukan adalah mencoba mengembalikan suhu tubuhnya. Sejam kemudian Mauliyan kehilangan kesadarannya. Mauliyan pun dipindahkan dari kandang karantina ke kandang perawatan yang ada di samping klinik BORA. Meskipun dalam keadaan tidak sadar, masih ada refleks tubuhnya. Beberapa kali tangannya ditarik, sehingga selang infus terlepas dan harus dipasang kembali. Dan berulang kali juga tim medis kesulitan memasangnya karena pembuluh darahnya bengkak. Tim mencari tahu kondisi glukosa Mauliyan dan mendapati jumlahnya yang di bawah dari normal. Mauliyan hipoglikemi. (LIS)

INDUK ORANGUTAN VIRAL DI MEDSOS, MASUK BORA

Orangutan masih menjadi satwa yang sangat menarik perhatian publik. Viral sebuah video induk orangutan bersama anaknya menyeberang jalan dalam kondisi yang sangat kurus. Centre for Orangutan Protection membantu tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong mengevakuasi orangutan tersebut.

Senin, 23 September, dari pemeriksaan Body Condition Score (BCS) induk orangutan memiliki nilai 2 yang berarti kurus. Tulang rusuk, tulang belakang, dan tulang panggul yang menonjol. Semua terlihat seperti tulang berbalut kulit. Perut orangutan betina tersebut besar namun saat dilakukan palpasi atau perabaan tidak ditemukan adanya benjolan maupun fetus atau calon bayi di dalamnya, hal ini bisa menjadi salah satu indikasi bahwa orangutan mengalami malnutrisi. Orangutan juga mengalami dehidrasi, turgor atau tingkat elestisitas kulitnya tergolong tidak baik karena saat diperiksa dengan cara dicubit, kulit tidak langsung kembali seperti semula dan waktu kembalinya kulit seperti semula lebih dari dua detik. Kulit orangutan tersebut sangat kering hingga kulitnya terkelupas.

Saat ini orangutan berada di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) tepatnya di Klinik dan Karantina Orangutan yang dikelola Centre for Orangutan Protection di bawah otoritas Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan dukungan penuh The Orangutan Project. Orangutan akan menjalani perawatan intensif hingga kondisi kesehatannya membaik. Perilaku orangutan masih cukup agresif dan sering mengusir dengan cara melakukan kiss squeaks. Nafsu makan orangutan baik dan masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru. Apabila kondisi kesehatannya sudah baik, orangutan tersebut akan dipindahkan ke kawasan hutan dengan ketersediaan pakan yang cukup bagi kehidupan orangutan tersebut sehingga diharapkan orangutan dapat bertahan hidup di rumah barunya kelak. (TAT)

PERUBAHAN ORANGUTAN BAGUS BUAT SEDIH PERAWAT SATWA

Ada orangutan bernama Bagus di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Bagus adalah orangutan yang cukup pintar dalam hal mencari makan. Saat sekolah hutan, dia itu sangat aktif menjelajah atau beraktivitas di hutan untuk mencari makan. Selain itu, dia aktif berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Bagus juga sangat jarang ikut bermain bersama dengan orangutan lainnya hanya karena dia sangat fokus dalam mencari makan dan menjelajah hutan.

Orangutan juga seperti kita, ada mood ketika ingin bermain dengan orangutan lainnya tapi ada waktunya dia bermalas-malasan. Dia juga memiliki sifat yang sering ingin balik ke kandang ketika dibawa ke sekolah hutan, karena sekarang dia cepat bosan. Bagus sangat berbeda dengan Bagus yang dulu ketika dibawa sekolah hutan sangat aktif berjalan dan menjelajahi sekolah hutan. Sekarang, dia lebih aktif di tanah dan sesekali beraktivitas di pepohonan.

Bukan hanya itu, Bagus juga terlihat banyak pikiran. Dia terlihat murung di dalam kandang dan tak ingin bermain dengan orangutan lainnya. “Entah apa yang dipikirkannya sekarang ini”, ujar Lio, perawat satwa dengan prihatin. Bagus lebih banyak diam dan mengamati sekeliling kandang dan ketika keluar kandang pun, dia tidak terlalu bersemangat. “Apakah masa anak-anaknya sudah berakhir dan menuju remaja?”. (LIO)

SEMUA ADA WAKTUNYA, POPI BERKEMBANG DENGAN BAIK

Orangutan yang bernama Popi di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) adalah orangutan termuda usianya saat dia masuk pusat rehabilitasi ini. Kondisi pusarnya yang baru saja lepas (pupak) membuatnya sangat tergantung dengan kehadiran manusia terutama baby sitter nya. Mungkin Popi juga tidak memiliki ingatan pada induknya dan tidak tahu bagaimana harus bertahan hidup sebagai orangutan.

Tujuh tahun sudah Popi di BORA. Popi tumbuh dan berkembang bersama orangutan malang namun beruntung lainnya. Rasa ingin tahu alaminya terus tumbuh dan ia mulai banyak mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan keberanian yang mengangumkan. Tidak lagi bergantung pada manusia, walau sesekali masih mengamati animal keeper yang bertugas mengawasinya, hanya sekedar memastikan dia baik-baik saja.

Popi, si orangutan yang tak pernah dibayangkan akan mencapai kondisi seperti saat ini. Beberapa bulan yang lalu masih membuat semua orang khawatir, mungkinkah ia dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Ahli biologi COP mencoba mengevaluasi perkembangannya yang masih terlihat sangat manja dan seolah-olah tak bisa lepas dari manusia. “Tapi tepat di tujuh tahun kedatangannya di BORA membuat kami optimis, masih ada waktu dan masih ada kesempatan itu”, ujar Raffi Akbar, asisten manajer pusat rehabilitasi BORA.

Terima kasih atas dukungannya pada BORA, terima kasih para orang tua asuh Popi. (RAF)

KABAR HUTAN LABANAN AGUSTUS 2023

Bulan Agustus ini suara burung di sekitar camp BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) mendadak lebih ramai dari biasanya. Namun semakin ramainya suara burung ini menimbulkan rasa curiga dalam benak saya, yang dalam dua tahun terakhir tinggal dan bertugas di hutan Labanan. Saya menduga suara burung ini berasal dari burung-burung “pengungsi” yang berasal dari habitat sekitar kawasan BORA yang sedang menghadapi banyak tantangan akibat aktivitas manusia. Selain pembalakan liar dan tambang batubara ilegal, kebakaran hutan menjadi tantangan terbesar menjadi tantangan terbesar di KHDTK Labanan pada musim kemarau ini.

Selasa pagi, dalam 700 meter pertama perjalanan meninggalkan camp BORA saya berjumpa sepasang rangkong gading, burung dengan status konservasi kritis, terbang sekitar lima meter di atas kepala, menyeberang dari sisi hutan di kiri jalan menuju sisi hutan di kanan jalan. Tak lama kemudian, tepat 1 km radius dari camp BORA, saya menemukan sebuah luasan hutan yang sudah habis terbakar, yang tersisa hanya tanah yang menghitam dipenuhi oleh abu dan sisa-sisa kayu yang sudah menjadi arang. Kabut putih tipis terlihat masih menyelimuti sebagian besar hutan Labanan pagi itu, sayangnya kabut ini bukan dihasilkan oleh peristiwa evapotranspirasi air oleh tumbuhan, namun berasal dari asap hasil pembakaran lahan yang terjadi di beberapa titik.

Sepanjang perjalanan, cukup banyak pemandangan kerusakan hutan yang saya saksikan. Dalam sekejab, vegetasi hutan yang dahulu hijau, kini pada banyak titik sudah berubah memerah layaknya musim gugur di belahan bumi bagian utara, namun merahnya daun di sini terjadi akibat kering oleh panasnya api, dengan tanah yang dipenuhi noda hitam sisa pembakaran.

Kemudian, saya pun tiba di area dengan luasan kebakaran lahan terbesar, secara kasat mata terlihat jauh lebih besar dari empat kali ukuran lapangan sepakbola standar internasional, hanya sekitar 4,9 km dari camp BORA. Perjalanan ini seakan menjawab kecurigaan tentang semakin ramainya suara burung di BORA. Penyusutan habitat hutan, tentu akan membuat banyak satwa liar mengungsi menuju habitat yang masih tersisa, atau justru malah memasuki kawasan manusia. Jika dalam hitungan satu bulan ke belakang saja laju kehilangan hutan bisa sebegitu cepatnya terjadi di dalam kawasan konservasi, masikah ada hutan yang tersisa dalam 10-20 tahun ke depan jika kita terus membiarkan hal ini terjadi? (RAF)

SEKOLAH HUTAN DALAM BAYANG-BAYANG KEBAKARAN HUTAN

Di tengah hutan hujan yang lebat, tersembunyi di antara pohon-pohon tinggi dan flora yang beragam di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Berau ada sebuah sekolah bagi orangutan yang disebut “sekolah hutan”. Sekolah hutan merupakan kesempatan kedua bagi orangutan muda yang diselamatkan dari konflik maupun kejahatan manusia untuk dapat eksplorasi dan belajar kemampuan bertahan hidup secara langsung di habitat alaminya. Dalam pengawasan para perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang penuh dedikasi, orangutan-orangutan yatim yang penuh penasaran ini mempelajari banyak keterampilan penting yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup, mulai dari mencari makan, membuat sarang , hingga bergelantungan di antara liana dan dahan pohon dengan lincah. Sekolah hutan layaknya sebuah simfoni dari gemuruh dedaunan yang tertiup angin, goyangan dahan yang diraih tangan-tangan orangutan, kicauan burung yang saling bersahut-sahutan, nyaring suara owa yang terdengar dari kejauhan dan saling berpadu dalam rimbunnya kanopi hutan.

Namun simfoni alam yang indah ini sedang menghadapi ancaman serius yang membuat kami harus waspada. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami fenomena El Nino yaitu peristiwa pemanasan suhu muka laut di atas kondisi normal yang rentan memicu kekeringan dan kemarau panjang di sejumlah wilayah, hingga potensi kebakaran hutan khususnya di Kalimantan. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luas total area terbakar pada peristiwa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada tahun 2019 yang juga turut dipengaruhi oleh fenomena El Nino mendekati satu juta hektar lahan, tidak terkecuali di KHDTK Labanan.

“Tiba-tiba banyak abu daun yang berjatuhan dari udara, bau asap tercium hingga dekat area kandang”, kata Indah, ahli biologi BORA sambil menunjukkan bukti foto dan sebagian abu daun yang ia bawa di tangannya saat kembali ke camp BORA. Ia menyaksikan kejadian itu saat sedang melakukan observasi sore di sekitar kandang rehabilitasi BORA pada 7 Agustus 2023.

Asap dan abu ini diperkirakan terbawa angin dari pembakaran ladang yang lokasinya tidak jauh dari kawasan BORA. Ancaman kebakaran hutan kembali menghantui para staf BORA, mengingat peristiwa karhutla 2019 yang hampir mencapai area BORA dan membuat mereka turut berjuang siang dan malam dalam usaha memadamkan api.

Semoga potensi karhutla pada tahun ini adapat diantisipasi dengan baik, karena dampak buruk dari kebakaran hutan tidak hanya mengancam keberlangsungan rehabilitasi dan sekolah hutan bagi orangutan di BORA namun lebih dari itu. Saat nyala api berkobar di hutan, simfoni kehidupan dibungkam, meninggalkan jejak kehancuran yang mengganggu keseibangan ekosistem, memusnahkan spesies tumbuhan dan hewan yang tak terhitung jumlahnya. Dari serangga kecil hingga primata yang berayun tinggi di puncak pepohonan, mengikis jaring-jaring kehidupan yang menompang keberlangsungan planet kita, bumi. Musnahnya keanekaragaman hayati tidak hanya mengancam keindahan alam, namun juga mengurangi manfaat vital yang disediakan ekosistem bagi kehidupan manusia. Upaya mendesak dan terpadu diperlukan untuk mencegah, mengelola, dan memulihkan hutan untuk melindungi kekayaan kehidupan tak tergantikan yang dimiliki oleh hutan, serta memastikan koeksistensi yang lebih harmonis antara alam dan kehidupan manusia. (RAF)

KATA RIDWAN, ORANGUTAN PUNYA TINGKAH YANG UNIK

Sore ini, usai aktivitas feeding di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), saya duduk di dapur BORA untuk memikirkan pengalaman apa yang bagus saya ceritakan setelah beberapa bulan bekerja di BORA. Setelah merenung sejenak, saya memikirkan ada banyak tingkah unik dan lucu orangutan yang sering saya jumpai selama ini.

Yang pertama ada Astuti. Astuti adalah nama orangutan korban perdagangan internasional di Gorontalo. Orangutan yang masih kecil ini memiliki rambut yang lebat dan berdiri alias jigrak dengan kepala bagian depan yang masih belum terlalu banyak ditumbuhi rambut alias botak sehingga mengingatkan kita pada gaya rambut “Albert Einstein”. Ada satu hal unik yang paling saya ingat dari si Astuti, kebiasaan dia memutar badan seperti menari balet saat dia sedang menunggu perawat satwa memberi dia makanan.

Orangutan kedua adalah Popi yang memiliki tubuh lebih besar dibanding postur dan umur Astuti tadi. Popi tergolong orangutan manja terhadap perawat satwa di BORA. Terlihat dari kebiasaan Popi saat diajak untuk sekolah hutan. Orangutan lain yang ada di BORA pada umumnya saat menuju lokasi sekolah hutan cukup dengan dituntun, dipegang tangannya dan mereka akan berjalan sendiri. Namun Popi lebih senang digendong di bandingkan berjalan sendiri menuju lokasi. Sekolah hutan adalah salah satu kegiatan yang ada di pusat rehabilitasi orangutan BORA untuk mengembalikan insting liar orangutan, mengenalkan kembali mereka kepada alam liar sehingga saat mereka nanti dilepasliarkan, mereka sudah siap dengan kondisi yang ada karena perlahan-lahan mereka telah dibiasakan sejak di pusat rehabilitasi. Ini adalah salah satu tugas perawat satwa yaitu bagaimana Popi bisa kembali mandiri tidak ketergantungan dengan manusia karena di alam bebas nanti mereka dituntut mandiri, tidak ada lagi perawat satwa yang bakal memperhatikan makanan mereka dan kesehatan mereka. Popi juga suka ngambek saat perawat satwa melakukan candaan, seakan tidak mau memberi makanan kepada Popi, Popi akan menunjukkan gestur ngambek dengan menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Itulah beberapa tingkah unik orangutan yang ada di BORA, masih banyak tingkah unik orangutan yang ada di BORA… nantikan cerita selanjutnya ya. (RID)

PACEKLIK BUAH HUTAN DI SEKOLAH HUTAN BORA

Musim pohon hutan di KHDTK Labanan berbuah, sudah berlalu. Saat ini sebagian besar pohon-pohon yang ada di lokasi sekolah hutan tidak berbuah. Hal ini berpengaruh pada perilaku mencari makan orangutan selama sekolah hutan berlangsung. Ketika musim berbuah, orangutan-orangutan yang mengikuti sekolah hutan sangat aktif mencari makan di atas ketinggian pohon, berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain. Namun sekarang, mereka harus belajar menyiasati kelangkaan buah di hutan dengan strategi mencari pakan lain. Daun, kulit kayu, bunga, umbut, tunas, dan serangga dapat menjadi alternatif pakan bagi orangutan.

Orangutan bernama Bagus dan Devi teramati memiliki stategi mencari pakan yang berbeda dengan menyiasati kelangkaan buah di hutan. Bagus memakan beragam jenis daun-daunan. Bahkan pada data bulan Mei 2023, ia merupakan orangutan dengan frekuensi memakan daun paling tinggi dibandingkan orangutan lainnya. Sementara Devi lebih aktif memakan tunas dan umbut tumbuhan yang berada di permukaan tanah. Umbut tumbuhan tepus, pacing, dan rotan teramati menjadi pilihan pakan alaminya yang dimakan oleh Devi.

“Tidak semua orangutan rehabilitasi di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) dapat menyiasati kelangkaan buah di sekolah hutan yang berada di KHDTK Labanan ini. Biasanya kegiatan mereka di sekolah hutan menjadi terbatas pada travelling atau menjelajah bahkan kembali ke perawat satwa yang membawanya”, jelas Raffi Ryan Akbar, asisten manajer BORA sekaligus ahli biologi COP. Kemampuan Bagus dan Devi dalam menyiasati kelangkaan buah di hutan menjadi secercah harapan bahwa mereka dapat bertahan hidup dengan baik ketika dilepasliarkan nanti. (RAF)