PEDAGANG TRENGGILING JAMBI DIVONIS TIGA TAHUN PENJARA

Tono alias Lelek atau Rudi Hartono dan Binsar, dua terdakwa kasus perdagangan sisik trenggiling telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “memperniagakan bagian-bagian lain satwa yang dilindungi” sebagaimana didakwa dalam dakwaan tunggal. Keduanya dinilai bersalah dan dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun dan 6 (enam) bulan. JPU juga menuntut ketiga terdakwa membayar denda sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan.

Pada bulan Agustus 2023 dari pihak kedua terdakwa mengajukan banding atas putusan pengadilan tersebut. Selama kurang lebih 1 bulan proses pengajuan banding, akhirnya pada akhir September putusan pidana terhadap terdakwa Lelek menjadi pidana penjara selama 3 (tiga) tahun serta pidana denda sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan. Sedangkan untuk terdakwa Binsar Sitinjak diputuskan penjara selama 3 (tiga) tahun dan pidana denda sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan sema 3 (tiga) bulan.

Minggu, 12 Maret yang lalu, Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutan (Gakkum) Jambi, Keolisian Daerah (Polda) Jambi bersama tim Centre for Orangutan Protection (COP) berhasil menggagalkan satu orang yang dengan sengaja memperniagakan bagian satwa liar yang dilindungi di kecamatan Merlung, kabupaten Tanjung Jabung Barat, provinsi Jambi. Atas ketelitian penyidik diketahui bahwa pemilik dari sisik trenggiling tersebut adalah salah satu warga yang berada di desa Keritang, kecamatan Kemuning, kabupaten Indragiri Hilir, provinsi Riau. Tersangka akhirnya diamankan pada tanggal 4 April 2023.

Apresiasi yang tinggi untuk para penegak hukum yang kini menggolongkan kejahatan terhadap satwa liar termasuk extraordinary crime. Dengan demikian, para pelaku dapat berpikir ulang untuk mengulangi kejahatannya dan yang sedang beraktivitas memperdagangkan satwa liar dilindungi maupun bagiannya dapat menghentikan usahanya. Hukuman tersebut bisa menjadi pembelajaran untuk semua pihak agar takmelakukan tindak kejahatan terhadap satwa liar. (SAT)

PENDAFTARAN COP SCHOOL BATCH 13 DIMULAI

Ada yang selalu menanyakan lewat media sosial COP, kapan COP School lagi? COP School adalah wadah belajar dan berbaginya orang-orang yang peduli pada dunia konservasi Indonesia terutama Orangutan Indonesia. Siapa pun kamu yang telah berusia 18 tahun, sehat jiwa dan raga yang menghargai kesetaraan gender dan multikultur bisa mengikuti COP School. Syarat terpenting lainnya, kamu bukan eksploitator seperti pemburu satwa, pedagang satwa liar, maupun hobi memelihara satwa liar.

Ya, Indonesia memanggil anda terlibat langsung dalam perlindungan satwa liar. Di COP School kita akan belajar pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi alam bersama para pakar dan praktisinya pada tanggal 14 hingga 19 Agustus 2023 di Yogyakarta.

Tunggu apa lagi? Langsung klik tautan pendaftaran ini bit.ly/COPSCHOOL13 ada formulir yang harus diisi dan dipahami. Perhatikan batas akhir pendaftaran ada di tanggal 10 Juli 2023. Selanjutnya akan ada proses seleksi dari calon siswa menjadi siswa COP School Batch 13. Seperti mengerjakan tugas lapangan dan tulis secara online mulai dari tanggal 15 hingga 30 Juli 2023 dari kota domisili masing-masing.

Info lebih lanjut email copschool@orangutan.id

PEDAGANG KULIT HARIMAU SUMATRA TERTANGKAP TANGAN

Harimau Sumatra atau Patera trigis Sumatrae merupakan raja hutan yang menduduki kasta tertingi di keluarga kucing-kucingan yang ada di Indonesia. Kini nasibnya makin memprihatinkan. Dalam satu pekan terakhir, lembaga penegakan hukum di Indonesia mengganggalkan 2 transaksi jual beli kulit harimau yang masih basah. Dalam arti, satwa ini belum lama dibunuh dan dikuliti oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Setelah gempar dengan berita penangkapan salah satu oknum pengiat konservasi yang menjual kulit harimau di Sumatera Barat. Pada tanggal 10 Mei 2023, digagalkan kembali transaksi jual beli kulit harimau utuh beserta dengan tulang-tulangnya yang masih merah. Dalam satu pekan, dua raja hutan ini mati dengan sia-sia.

Lantas apa yang jadi motif dasar para pelaku ini menjerat dan membunuh satwa ini. Dari keterangan para tersangka, bahwa harimau banyak diburu untuk diambil bagian organ tubuhnya seperti kulit, taring, daging, kuku bahkan kumisnya. Organ-organ tersebut diperjualbelikan di pasar gelap dengan harga tinggi karena dapat dimanfaatkan sebagai obat, kerajinan (tas, pakaian, sepatu, dll) bahkan tak sedikit permintaan memanfaatkannya sebagai jimat.

“Jaringan perburuan dan perdagangan bagian-bagian tubuh harimau sangat tertutup dan rapi. Harga jualnya yang fantastis juga menjadi salah satu faktor perburuan, marak terjadinya. Kulit harimau basah dibandrol dengan harga di atas 60 juta rupiah, sedangkan dengan bagian tubuh lainnya seperti kuku, taring kumis berkisar 3 sampai 5 juta rupiah per item. Tergantung kualitas dan ukuran”, jelas Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP yang fokus memerangi perdagangan satwa liar sejak sepuluh tahun terakhir.

Harimau merupakan satwa yang berperan sebagai konsumen puncak. Satwa ini berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsanya seperti babi hutan. Dalam konteks hilangnya harimau, akan memberikan efek kompleks pada ekosistem hutan. Ini juga akan berdampak pada ketersedian tumbuhan dan produk tumbuhan seperti buah. Hutan akan jadi rusak dan mempengaruhi kehidupan di bumi seperti berkurangnya udara bersih, air bersih, penyerbukan, hingga pengaturan suhu bumi. (SAT)

WIDYA, PEGAWAI DINAS PETERNAKAN SLEMAN YANG MENDAPATKAN ORANGUFRIENDS AWARD 2023

Banyak yang bisa kita kagumi dań pelajari dari sosok Widya Nuswantoro atau yang akrab disapa Pak Widya, seorang pegawai negeri dari Dinas Peternakan Sleman, Yogyakarta. Ketulusan dan kesiapsiagaannya untuk menyelamatkan dan melindungi satwa membuat COP yakin bahwa Pak Widya pantas dianugerahi Orangufriends Award dalam acara temu relawan tahunan atau Jambore Orangufriends yang digelar di Yogyakarta pada 4-5 Maret 2023.

Sejak erupsi gunung Merapi 2016 hingga 2021, tim Animal Rescue COP selalu melihat Pak Widya sibuk menangani ternak warga yang terkena dampak bencana. “Pak Widya selalu datang awal, tapi pulangnya belakangan. Di hari yang tidak dijadwalkan pun Pak Widya datang dan ikut membantu”, ujar salah seorang anggota Animal Rescue ketika menceritakan keterlibatan pak Widya. Tim Animal Rescue COP sendiri menangani evakuasi, penanganan medis, penyediaan kebutuhan pakan ternak, hingga penyadartahuan ke masyarakat untuk meminimalisir korban maupun kerugian ekonomi.

Selain bencana erupsi G. Merapi, Pak Widya juga selalu ada untuk ternak ketika terjadi pandemi COVID-19 yang menyebabkan satu desa diisolaso (lockdown) pada tahun 2021. Kepiawaiannya dalam berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak lain sangat melancarkan jalannya kegiatan di lapangan. Dari cara Pak Widya bekerja dalam tim, kita dapat memetik pellajaran bahwa saling menghargai dan berbagi peran dalam kerja tim tetaplah krusial dan harus menjadi perhatian dalam keadaan darurat sekali pun. Tidak diragukan lagi, ketulusan dan kegigihan Pak Widya selama bertahun-tahun inilah yang membuat COP yakin untuk memberikan Orangufriends Award 2023 pada beliau. (NAD)

PERJALANAN UNTUK SATWA ERUPSI MERAPI

Jumat, 17 Maret 2023, di bawah teriknya matahari Jogja, Tim Animal Rescue COP yang beranggotakan 6 orang (Daeng, Jogi, David, Zain, Dippy dan Disma) berangkat dari camp APE Warrior menuju daerah Pakem untuk mengangkut rumput kolonjono. Kami bahu-membahu menyusun rumput ke atas mobil pick up untuk dibagikan ke warga Dusun Tempel di Kecamatan Dukun, Jogjakarta. Tiga hari sebelumnya, tim Animal Rescue COP juga telah membagikan pakan hijauan untuk warga desa Krinjing secara bergantín. Setelah pakan tursusun rapi di mobil dengan tubuh yang basah oleh keringat, kami bergegas berangkat.

Saat sampai di daerah Muntilan hujan tiba-tiba turun dan puji syukur ternyata hujan turun hingga Desa Krinjing. Hujan yang turun cukup deras dan lama, hingga bisa membersihkan sisa abu dari erupsi Merapi beberapa hari lalu. Tumbuhan dan atap rumah yang sebelumnya berwarna abu-abu kini mulai terlihat hijau kembali.

Sesampainya di Dusun Tempel kami langsung menuju rumah bapak Kadus. Sambil menunggu hujan agak reda kami berkordinasi tentang teknis pembagian rumput. Rumput akan dibagikan untuk warga RT 3 yang berjumlah 35 KK. Rencananya rumput akan kami berikan secara bergiliran untuk RT lainnya di hari berikutnya. Hujan yang sempat reda dan kembali deras lagi memaksa kami berteduh di salah satu rumah warga, kami disambut segerombolan ibu-ibu yang sudah menanti kedatangan kami. Obrolan ringan dan candaan menemani kami menunggu hujan reda, rupanya Daeng menjadi idola ibu-ibu di sana karena kegemaran bercanda.

Gerimis tipis masih turun, karena sudah mulai sore tim Animal Rescue COP memutuskan untuk memulai pembagian pakan hijauan. Berkat bantuan warga pembagian rumput berjalan dengan tertib dan lancar. Selesai membersihkan mobil dari sisa pakan, kami diajak beristirahat di pos kamling dan ternyata sudah disajikan teh hangat dan camilan oleh salah satu warga. Pas sekali menghangatkan badan kami yang kedinginan terguyur hujan. Tidak lama kemudian kami disuguhi nasi beserta lauk pauknya. Rejeki anak sholeh dapat hidangan yang mengenyangkan. Sambil mengobrol ngalor-ngidul kami makan dengan lahap. Salah satu warga mewakili warga lainnya menyampaikan ucapan terimakasih kepada kami untuk menyalurkan bantuan pakan hijauan dan kami pamit pulang.

Berkat hujan di hari ini, rumput mulai bersih, tapi sayangnya rumput itu belum layak untuk diberikan pada ternak karena masih ada yang menempel di sela-sela dalam. Harapannya rumput segera bersih dan bisa diarit untuk pakan tak lama lagi. Setelah seharian kami bergelut dengan hujan dan tubuh yang menggigil kedinginan, malam ini kami layak untuk tidur dengan nyenyak dan penuh kehangatan. Karena esok kami harus melanjutkan misi kami. (Disma_COPSchool12)

HARI KEDUA ERUPSI MERAPI, SAPI WARGA TIDAK NAFSU MAKAN

Sejak dini hari (12/3), Gunung Merapi tercatat memuntahkan guguran awan panas sebanyak sembilan kali guguran. Guguran lava pijar juga tercatat keluar dari Merapi ke arah Barat Daya. Selain itu, Merapi juga mengalami 15 gempa guguran awan panas dan gempa vulkanik. Orangufriends (relawan COP) kembali bersiap-siap dan bergegas menuju lokasi terdampak pukul 09.00 WIB dari Camp APE Warrior.

Hari ini Daeng dan Zein berkordinasi dengan berbagai pihak, meninjau keadaan satwa ternak sekaligus mendata jumlah, dan memperhitungkan kebutuhan pakan untuk disalurkan. Kepala Desa Krinjung juga menyatakan bahwa warga telah siap bekerja sama apabila terjadi kemungkinan terburuk yang menyebabkan warga terpaksa mengungsi.

Pemandangan perkebunan sayur yang biasanya hijau segar kini terlihat kelabu tertutup abu. Sambil berjalan menuju kandang ternak, tim Animal Rescue COP pun menyapa warga yang masih beraktivitas seperti biasa. Sekelompok ibu-ibu melingkar di teras rumah memilah sayuran buncis dan beberapa pemuda mengangkut rumput pakan dan ranting dengan sepeda motor. Saat sampai di kandang, beberapa ternak sapi terlihat memakan sisa ruput di hadapan mereka dengan malas dan tidak nafsu makan. Saat tim menemui kelompok ternak Ngaglik dan Dadapan, mereka mengeluhkan sapi milik mereka tidak nafsu makan karena pakan yang diberikan kotor dengan abu. Masyarakat pun mengkhawatirkan kondisi kesehatan ternak mereka. Untuk sementara mereka menggunakan damen untuk pakan sapi-sapi mereka. 

Menindaklanjuti kekhawatiran warga yang disampaikan, tim Animal Rescue bergegas melakukan pendataan untuk menghitung kebutuhan pakan untuk disalurkan. Dari kedua kelopok ternak, terdapat 200 ekor sapi milik 83 kepala keluarga. Sementara sebagian warga yang tidak tergabung dalam kedua kelompok ternak di Desa Kerinjing tersebut memelihara rata-rata dua ekor sapi. “Sapi-sapi di situ pada nggak nafsu makan. Sementara ini warga membutuhkan pakan hijauan, damen, dan combor”, ujar Desita, staf COP yang turun bersama Orangufriends. Centre for Orangutan Protection masih menunggu arahan dari Dinas Peternakan dan menghubungi beberapa penyedia pakan hijau untuk kesediaan pakan yang dibutuhkan tersebut. (NAD)

MERAPI ERUPSI LAGI, RELAWAN ORANGUFRIENDS BERGEGAS KE LOKASI

Sabtu (11/03) siang, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dikejutkan dengan rangkaian erupsi gunung Merapi yang terjadi. Hingga sore hari, awan panas masih membumbung tinggi dan hujan abu mewarnai langit kelabu hingga mencapai wilayah Boyolali, Magelang, dan sekitarnya. Dikatakan oleh Agus Budi, kepala Balai Penyidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pers daring yang digelar sore harinya, erupsi kali ini tergolong efusif yang ditandai dengan aktivitas berupa pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran (CNN Indonesia). Awan panas guguran yang terjadi disebabkan oleh runtuhnya kubah lava di sebelah Barat Daya. Sementara aliran lava meluncur dengan jarak 1.500 meter ke Barat Daya. Ia melanjutkan dengan himbauan agar warga menjauhi daerah bahaya sepanjang 7 km dari puncak Gunung Merapi di alur Kali Bebeng dan Krasak.

Menindaklanjuti erupsi tersebut, tim Animal Rescue COP yang terdiri dari Orangufriends (relawan COP) bergegas mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan peninjauan ke daerah Krinjing, salah satu lokasi terdampak erupsi. “Saat ini kita lagi persiapan. Ini ada goggle, masker, helm, handuk, dan senter,” ujar Daeng, relawan Orangufriends yang juga merupakan alumni COP School batch 12. Ia dan Zain, salah seorang Orangufriends lainnya yang turut bersiap di Camp APE Warrior COP telah berpengalaman dalam menghadapi situasi bencana dan beberapa kali melakukan penyelamatan satwa. Tidak lama berselang, mereka bersama dua orang tim COP pun berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana, mereka langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kapolres Magelang untuk sementara mendapatkan informasi bahwa hingga saat ini belum ada instruksi agar warga mengungsi.

Tim Animal Rescue pun melanjutkan peninjauan lokasi. Daeng dan Zain melaporkan bahwa di lokasi tersebut, dampak yang paling dirasakan yaitu sektor pertanian dan peternakan. Mereka berjalan menyusuri lahan pertanian yang tertutup abu, menyaksikan pemandangan sayuran yang hancur dan busuk. Rumput-rumputan yang biasa diambil untuk pakan ternak pun tertutup abu dan rusak. Pak Subur, salah seorang warga yang ditemui tim mengatakan bahwa warga mulai kebingungan mencari rumput pakan ternak untuk keesokan hari. Beberapa warga pemilik ternak terpaksa turun ke daerah lain seperti Talun untuk mencari pakan. “Untuk ternak, mayoritas masyarakat memelihara sapi. Pada dusun Trono yang terdampak terdapat sekitar 150 kepala keluarga. Rata-rata satu keluarga bisa memelihara dua hingga tiga ekor sapi,” Desita, salah seorang staff COP yang turut serta mengikuti relawan tim Animal Rescue melaporkan keadaan lapangan.

Setelah meninjau lokasi dan menghimpun informasi, tim Animal Rescue pun berdiskusi dan menetapkan langkah yang akan dilakukan menindaklanjuti dampak khususnya terhadap satwa ternak di lokasi. Mereka berencana untuk berkoordinasi dengan Dinas Peternakan setempat dan juga kepala dusun untuk menginisiasi bantuan pakan satwa ternak. Dalam beberapa kasus bencana, relawan Orangufriends memang turut aktif berperan membantu penyelamatan satwa oleh tim Animal Rescue COP. Seperti saat erupsi Gunung Semeru pada bulan Desember lalu, atau saat terjadi gempa Cianjur pada bulan November. Tidak hanya menyelamatkan satwa ternak warga dan membantu memberi pakan, dalam kejadian-kejadian bencana mereka juga biasa melakukan feeding pada satwa-satwa liar yang turut terdampak bencana. Tanpa bantuan relawan Orangufriends, tim Animal Rescue tentu akan menghadapi lebih banyak tantangan pada saat bertugas. Terima kasih relawan Orangufriends! (NAD)

BANJIR TAWA, HARU DAN CERITA MENGINSPIRASI DI JAMBORE ORANGUFRIENDS 2023

Tanggal 4 dan 5 Maret yang lalu, Omah’e Simbhok di Petingsari, Yogyakarta berada di kaki Gunung Merapi yang dingin justru terasa hangat. Ada 60 orang berkumpul terdiri dari staf COP dan relawan orangutan yang tergabung di Orangufriends untuk menghadiri Jambore Orangufriends 2023. Perayaan ulang tahun COP yang ke-16 dan kilas balik perjalanan Centre for Orangutan Protection dilanjutkan penganugerahan penghargaan untuk tokoh inspiratif di dunia konservasi sekaligus sebagai prosesi wisuda COP School angkatan 11 dan 12.

Seperti reuni keluarga besar, gelak tawa dan candaan menghidupkan suasana selama acara. “Sangat hangat. Kita saling mengenal, jadi berteman dan saling silang ya. Silang pikiran, gagasan juga memperluas pertemanan,”ujar Wanggihoed, Orangufriends Bandung yang aktif berpartisipasi di kegiatan-kegiatan COP.

Jambore yang seyogyanya dilaksanakan setiap tahun terpaksa ditiadakan karena pandemi COVID-19. Bahkan COP School Batch 11 terpaksa menjalani karantina di tengah-tengah kegiatan karena ada yang positif COVID-19 waktu itu. Daniek Hendarto, direktur COP menyampaikan kegiatan COP semasa pandemi itu, sewaktu yang mewajibkan kita melaksanakan protokol dan pembiasaan baru. Perjalanan COP dari 2007 diceritakan kembali oleh Hardi Baktiantoro, pendiri COP. Semangat para alumni COP School menyampaikan pengalaman mereka berkegiatan dibagikan Zain nabil dan Daeng Hudayya.

Jambore Orangufriends juga mengundang CEO BOS Foundation, Jamartin Sihite dan CEO OIC, Panut Hadisiswoyo untuk hadir dan ikut berbagi cerita sepak terjang mereka di dunia konservasi orangutan. Keduanya menekankan bahwa membentuk generasi muda yang peduli pada lingkungan adalah kunci penting dalam dunia konservasi. Mereka mengapresiasi kegiatan-kegiatan COP yang mendukung terbentuknya generasi muda yang aktif. “Tanpa generasi muda, gak ada masa depan orangutan,”, ucap Jamartin.

Di luar sesi terjadwal, semua yang hadir jugu turut berbagi cerita pengalaman lucu, mengharukan dan bahkan menegangkan di dunia konservasi. Permainan ice breaking serta melukis bersama di sela kegiatan membanjiri Omah’e Simbhok dengan tawa dan keceriaan. Ingin merasakan juga suasana menyenangkannya? Kami tunggu di Jambore Orangufriends tahun depan ya! Sampai Jumpa… (NAD)

SELAMAT DATANG COP ACADEMY BATCH 2

Setelah pelatihan pertama pada tahun 2022, Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menggelar pelatihan COP Academy Batch 2, dimana pada tahun ini diharapkan kembali menelurkan generasi yang akan meneruskan tradisi melindungi orangutan dan habitatnya.

Lebih dari 200 pendaftar, tim COP memilih 11 peserta untuk mengikuti COP Academy 2023. Pelatihan ini diadakan pada 11-12 Februari 2023 di Yogyakarta. Program ini memadukan materi kelas dan materi praktik dari para ahli konservasi alam dan satwa. Materi teknis yang diberikan oleh staf senior COP yang bermaksud untuk memperkuat kerja di semua situs COP. Selain itu di pelatihan ini juga diberikan pemahaman tentang membangun kerjasama, dimana hal ini sangat penting bagi siapa pun yang bekerja dengan COP.

Tim COP melatih para peserta dengan teori, praktik dan permainan. Metode ini sangat efektif untuk menilai karakter dan pola pikir mereka secara langsung. Setelah sesi kelas berakhir, setiap siswa akan melewati tahap wawancara terakhir. Satu per satu peserta diberikan waktu untuk mengeksplorasi minat dan keterampilan mereka.

Pengumuman peserta yang lolos sudah diumumkan oleh COP. Dalam waktu dekat ini mereka akan langsung terjun memperkuat tim lapangan COP di garis depan. Tambahan lulusan ini,  COP berharap aktivis baru akan tumbuh dan lulusan COP Academy Batch 2 akan meneruskan perjuangan dalam mendukung konservasi di Indonesia. (SAT)

OCW 2022: SCHOOL VISIT DI SMA BOPKRI 2 YOGYAKARTA

Orangufriends ambil bagian dalam “Orangutan Caring Week 2022” mulai dari tim APE Sentinel yang melangsungkan kegiatan lomba mewarnai untuk anak SD di Medan hingga tim APE Guardian yang mensosialisasikan keberadaan orangutan di Busang, Kalimantan Timur. Sementara tim APE Warrior bersama Orangufriends Yogyakarta melakukan kegiatan school visit di SMA BOPKRI 2 Yogyakarta.

“Tantangan banget ini menghadapi murid SMA kelas 3 yang akan segera menyelesaikan kegiatan belajar sekolah dan melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya. COP berharap setelah lulus, mereka dapat bekal pengetahuan tentang konservasi perlindungan orangutan dan habitatnya dan tergerak untuk menjadi generasi penerus dunia konserasi”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior. 

Kunjungan ke sekolah kali ini juga dikordinir COP School Batch 12. COP School adalah sekolah atau pelatihan tentang kerja koservasi yang diselenggarakan setiap tahun. Regenerasi adalah fokus utamanya. Randy yag baru saja selesai melakukan presentasi menyampaikan, “Semoga dengan kegiatan ini dapat terus berjalan sesuai dengan harapan kita. Penyadartahuan tentang perlindungan orangutan dan habitatnya harus dilakukan secara menyeluruh ke masyarakat luas”.

Minggu di bulan November memang selalu sibuk untuk orangufriends (relawan orangutan). Besok sekolah mana lagi ya? (SAT)