UNYIL AND UNTUNG ARE TAKEN OUT FROM THE ORANGUTAN ISLAND

This morning, the APE Defender team has prepared to take out Untung and Unyil from the orangutan island. Orangutan Island is an island inhabited by orangutan that are ready to be released. Orangutans living on this island, must be able to live with very minimum help from humans. Human intervention is only limited to providing additional food in the morning and evening. The rest, they have to find their own food on the island.

Untung, with his imperfect fingers is able to do the same activities with other orangutans. Physical disability does not prevent him from being released back into his habitat. Since December 2015, Untung has been living on the orangutan island with other male orangutans. Some have been released to the wild, and now it is his turn.

Unyil’s background was raised by residents in a toilet in his house and treated like humans both in terms of diet and behaviour. Finally he got his chance to return to his habitat. His abilities are not as good as other male orangutans on the island of orangutan, Berau, East Kalimantan. But he managed to convince the team, to become a release candidate.

The anesthesia has stuck in Untung’s body. Before it is actually working and makes him fell asleep, Untung climbed a tree, and stayed at a height of 10 meters. Now what? “We are forced to pick him up. Jhonny and Jefri, both climbed the tree quickly, Yes, we must be quick, then carry unconscious Untung. “, Vet Flora reminded the possibility of Untung to regain consciousness. “Untung!!! this is the last time ok. I will not pick up and carry you again!”, Jhonny said a little furiously.

The physical and health checks were again carried out by the medical team. Task division between vet Flora, vet Satria and vet Kiki made this process run fast. After the two orangutans entered the transport cage, the team proceeded by boat. The boat from the Sound For Orangutan charity music also delivered Untung and Unyil to his house. (EBO)

APE DEFENDER MENARIK UNTUNG DAN UNYIL DARI PULAU

Pagi ini, tim APE Defender sudah mempersiapkan diri untuk menarik kembali orangutan Untung dan Unyil dari pulau orangutan. Pulau orangutan adalah pulau yang dihuni para orangutan kandidat pelepasliaran. Orangutan yang tinggal di pulau ini, harus bisa hidup bertahan dengan bantuan manusia seminimal mungkin. Campur tangan manusia hanya sebatas memberi tambahan makanan di pagi dan sore hari. Selebihnya, mereka harus mencari makanan sendiri di pulau.

Untung dengan jari yang tidak sempurna (difabel) mampu melakukan aktivitas yang sama dengan orangutan yang lain. Cacat fisik tak menghalanginya untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sejak Desember 2015, Untung hidup di pulau orangutan bersama orangutan jantan lainnya. Beberapa sudah dilepasliarkan kembali, dan sekarang adalah gilirannya.

Latar belakang Unyil, orangutan yang dipelihara warga di sebuah toilet rumahnya dan mendapat perlakuan seperti manusia baik secara makanan dan tingkah laku akhirnya mendapatkan kesempatannya untuk kembali ke habitatnya. Kemampuannya tak sebaik orangutan jantan lainnya di pulau orangutan, Berau, Kalimantan Timur. Tapi dia berhasil menyakinkan tim, untuk menjadi kandidat pelepasliaran. 

Bius sudah menancap di tubuh Untung. Sebelum benar-benar bekerja membuatnya tertidur, Untung memanjat pohon, dan bertahan di ketinggian 10 meter. Bagaimana ini? “Kita terpaksa menjemputnya ke atas. Jhonny dan Jefri, mereka berdua memanjat pohon dengan cepat, Ya harus cepat, lalu menggendong Untung yang tak sadarkan diri.”, drh. Flora mengingatkan kemungkinan Untung untuk sadar kembali. “Untung!!! ini terakhir kalinya ya. Aku tidak akan menjemput dan menggendong kamu lagi!” ujar Jhonny sedikit geram.

Pemeriksaan fisik dan kesehatan kembali dilakukan tim medis. Pembagian tugas drh. Flora, drh. Satria dan drh. Kiki membuat proses ini berjalan dengan cepat. Setelah kedua orangutan masuk kandang angkut, tim melanjutkan perjalanan dengan perahu. Perahu hasil musik amal Sound For Orangutan pun mengantarkan Untung dan Unyil ke rumahnya.

 

MIKI RAN AND DISAPPEARED IN THE DENSE JUNGLE

Since 2011, Miki (the name of a gibbon) had been illegally kept by a resident of Long Beluah, Bulungan, North Kalimantan. During that time Miki never held trees, moved from one tree to another, and even ate his natural diet. Bananas and tomatoes became so familiar to him. Exploring the jungle was a dream that would never be realized.

March 26, 2019, BKSDA Section I East Kalimantan, assisted by the APE Defender COP team took this Bornean Gibbon. “Ten hours of commuting with a hope. What would Miki do when the door to the transport cage is opened? “, Asked vet Satria at Flora Felisitas. “Just wait and see later,” answered Flora.

When the Chief of KSDA Section I, Aganto Seno prepared to go up to the transport cage and open the cage door, there was no sound at all. Slowly the door was lifted. “Gibbons are very agile. Yes, Miki immediately came out and ran… disappeared,” said Pak Seno.

Wild animals live in the forest. Every wildlife has a role. Bornean gibbons are increasingly threatened with extinction with the decreasing forest as their habitat. Bornean Gibbons are typical Borneo animals that is endangered. Bornean gibbons need help from all parties to save them. (EBO)

MIKI PUN BERLARI MENGHILANG DI LEBATNYA HUTAN
Sejak tahun 2011, Miki (nama owa) berada dalam pemeliharaan ilegal seorang warga Long Beluah, Bulungan, Kalimantan Utara. Miki tak pernah lagi memegang pohon, berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, bahkan makan makanan alami lainnya. Pisang dan tomat menjadi begitu akrab dengannya. Menjelajah menjadi mimpi yang tak kan pernah terwujud.

26 Maret 2019, BKSDA Seksi I Kalimantan Timur dengan dibantu tim APE Defender COP mengambil Owa Kalimantan ini. “Sepuluh jam perjalanan pulang pergi menjadi harapan tersendiri. Apa yang akan dilakukan Miki saat pintu kandang angkut dibuka ya?”, tanya drh. Satria pada drh Flora Felisitas. “Lihat saja nanti.”, jawab Flora.

Saat Kepala KSDA Seksi I, Aganto Seno bersiap naik ke kandang angkut untuk membuka pintu kandang, tak ada suara sama sekali. Perlahan pintu diangkat. “Owa sangat lincah, ya Miki langsung keluar dan berlari… menghilang.”, ujar pak Seno.

Satwa liar hidupnya di hutan. Setiap satwa liar memiliki peran. Owa Kalimantan semakin terancam punah dengan semakin berkurangnya hutan sebagai habitatnya. Owa Kalimantan adalah satwa khas Kalimantan yang berstatus genting atau endangered. Owa Kalimantan membutuhkan bantuan semua pihak untuk menyelamatkannya. (NIK)

TWO SUN BEARS TAKE A MEDICAL TEST

There are two sun bears at the office of Natural Resources Agency (BKSDA) Berau, East Kalimantan. The APE Defender team has just taken their blood samples for the lab test. The team did not face any difficulties during anesthesia so the sampling process can run quickly.

Barbie, the female sun bear, has been kept illegally for more than five years. She was still a baby when being pet and grown up for five years with humans. It has made Barbie become so tame. After being confiscated from Bulungan resident and limited human contact in the BKSDA enclosure, currently, Barbie is very difficult to be touched.

The same thing happens for the male sun bear from Kayan Mentarang National Park, Tanjung Selor, East Kalimantan. When arriving at BKSDA Berau, Jantan (the bear name) is still wild. “The condition of the small cage seems to make him stressed. The fur around his face falls down. This has happened since the end of December 2018, “said vet Flora.

The condition of the sun bears is quite good. It prompted the APE Defender team to conduct a deeper medical test for the preparation of their release. The number of Kalimantan sun bears continues to decline, as the forest loss continues. Center for Orangutan Protection together with BKSDA Berau hope that the release of these sun bears can maintain the ecosystem balance. “We believe that every individual of wildlife has an important role in nature,” said Reza Kurniawan, coordinator of the APE Guardian team, a team formed to release wildlife back into their habitat.

Help COP through this site https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan for the release process. (IND)

DUA BERUANG MADU JALANI TES MEDIS
Ada dua beruang madu sebagai penghuni kantor BKSDA Seksi 1 Berau, Kalimantan Timur. Tim APE Defender baru saja mengambil contoh darah untuk diperiksa. Tim tidak begitu mengalami kesulitan saat pembiusan sehingga proses pengambilan sample bisa berjalan dengan cepat.

Beruang madu berjenis kelamin betina yang kami sebut Barbie adalah beruang madu yang telah dipelihara warga secara ilegal selama lebih lima tahun. Lamanya masa pemeliharaan ini dan usianya yang waktu itu masih bayi membuat beruang Barbie menjadi jinak. Namun setelah diserahkan dari warga Bulungan dan terbatas bertemu manusia di kandang BKSDA Berau, Barbie semakin sulit untuk didekati.

Begitu pula dengan beruang madu jantan yang berasal dari Taman Nasional Kayan Mentarang, Tanjung Selor, Kalimantan Timur. Saat tiba di BKSDA SKW 1 Berau, Jantan (panggilannya) hingga saat ini masih sangat liar. “Kondisi kandang yang kecil sepertinya membuat dirinya mulai stres, rambut disekitar mukanya rontok. Ini sudah terjadi sejak akhir Desember 2018 yang lalu.”, ujar drh. Flora prihatin.

Kondisi beruang madu cukup baik ini lah yang mendorong tim APE Defender melakukan pemeriksaan lebih dalam, untuk keperluan pelepasliarannya. Jumlah beruang madu Kalimantan terus mengalami penurunan, seiring semakin hilangnya hutan. Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Berau berharap, kembalinya sepasang beruang madu ini ke alam, dapat menjaga keseimbangan alam. “Kami percaya setiap individu satwa liar memiliki peran penting di alam.”, ujar Reza Kurniawan, kordinator tim APE Guardian, tim yang terbentuk untuk melepasliarkan satwa kembali ke habitatnya.

APE DEFENDER SAVED ONE BABY ORANGUTAN

Finally, the APE Defender team with the Berau BKSDA succeeded in rescuing a female orangutan in the village of Long Beliu, East Kalimantan. This 1-2 year old baby has been under illegal captive of a resident since November 2018. According to the resident, the small orangutan was found on the roadside of Wahau when crossing the road alone. Feeling sorry, this baby orangutan was brought home and kept in a 1.5 x 1 meter wooden cage.

In April, July and August 2017, APE Defender has carried out translocation of adult male orangutans entering community palm oil plantations and eating palm oil seedlings. Other male orangutans were also found entering residents’ settlements and the last one was the orangutan with a wounded head was found on the roadside of the Muara Wahau, East Kalimantan.

What happened along the Muara Wahau road that forced the orangutans who usually avoid busy road to be there? COP’s fast-moving team to protect habitats as orangutan homes do not just remain silent. “Maybe there is something wrong with the habitat, so the orangutans are pushed into the settlements or plantations. Orangutans are explorers. They will continue to move and make a nest during the day and evening to rest. With instincts they look for food to survive.”

Inform us via email to info@orangutanprotection.com or COP social media (IG:@orangutan_cop), (FB page: @saveordelete), (Twitter: @orangutan_cop). Orangutan protection is our shared responsibility. (EBO)

APE DEFENDER SELAMATKAN SATU BAYI ORANGUTAN
Akhirnya, tim APE Defender bersama BKSDA Berau berhasil menyelamatkan satu anak orangutan betina di kampung Long Beliu, Kalimantan Timur. Bayi berusia 1-2 tahun ini berada dalam pemeliharaan ilegal seorang warga sejak November 2018 yang lalu. Menurutnya, orangutan kecil tersebut ditemukan di pinggir jalan poros Wahau saat menyebrang jalan sendirian. Karena merasa kasihan, orangutan yang masih bayi ini dibawa pulang ke rumah dan dipelihara di kandang kayu berukuran 1,5 x 1 meter.

Pada April, Juli dan Agustus 2017, APE Defender telah melakukan translokasi orangutan jantan dewasa yang memasuki perkebunan kelapa sawit warga dan memakan bibit sawit. Orangutan jantan lainnya juga ditemukan memasuki pemukiman warga dan terakhir orangutan dengan kepala terluka ditemukan di pinggir jalan poros Muara Wahau, Kalimantan Timur.

Apa yang terjadi sepanjang jalan Muara Wahau ini, hingga orangutan berada di jalan yang biasanya mereka hindari karena ramainya kendaraan melintas? Tim gerak cepat COP untuk perlindungan habitat sebagai rumah orangutan tak hanya tinggal diam. “Mungkin ada yang salah dengan habitatnya, sehingga orangutan terdesak masuk ke pemukiman ataupun perkebunan. Orangutan adalah satwa penjelajah. Dia akan terus bergerak dan membuat sarang saat siang maupun sore hari untuk istirahatnya. Dengan nalurinya dia mencari makanan untuk bertahan hidup.”.

Informasikan kami lewat email info@orangutanprotection.com atau media sosial COP (IG: @orangutan_cop), (FB page: @saveordelete), (Twitter: @orangutan_cop). Perlindungan orangutan adalah tanggung jawab kita bersama.

PLEASE HELP US BUYING A KETINTING MACHINE

Orangutans on the island are those who ready to be released. They are learning to live independently without human intervention. But the limitations of natural food on the island makes the team in monitoring post need to send food every morning and evening. The monitoring team is there to keep observing on the existence and development of orangutans on the pre-release island.

Routine patrols are carried out using a motorized boat or often called ketinting. Unfortunately, the ‘way back home’ boat continues to have leaks. Maybe because of the boat age and relentless use to send food and to patrol. “It’s time to buy a new one. But the team is still trying to patch it because the price of the boat is quite expensive,” said Danel, assistant logistics officer for the COP Borneo Rehabilitation Center.

Not only the boat is broken but also the boat machine. The monitoring team is not losing their minds. They were tinkering the machine. Two machines from different years, manufactured in 2015 and 2017, are transformed into one usable machine. “It’s a pleasure, the two broken machines can produce one machine that can deliver orangutan food to the pre-release island,” said Danel again.

But sadly, a month later, the machine has a problem again. This time the piston ring is replaced. If the ketinting machine really can’t be used like before, the team was forced to rent a machine to the local residents. Of course, this will inhibit our team activity. Please help the COP Borneo Rehabilitation Center to buy a new ketinting machine. Donations can be sent to https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. Thank you. (IND)

BELIKAN MESIN KETINTING DONK!
Orangutan yang berada di pulau adalah orangutan yang siap dilepasliarkan. Mereka adalah orangutan-orangutan yang sedang belajar mandiri tanpa ikut campur tangan manusia. Tapi keterbatasan pakan alami yang berada di pulau, menjadwalkan tim Pos Pantau untuk mengirim makanan pada pagi dan sore hari. Ini dilakukan untuk terus mengawasi keberadaan dan perkembangan orangutan yang berada di pulau pra-rilis.

Patroli berkala dalam satu hari dilakukan dengan menggunakan perahu bermesin atau sering juga disebut ketinting. Tapi sayang, perahu ‘way back home’ terus menerus mengalami kebocoran. Mungkin karena usia dan penggunaan tanpa henti untuk kirim pakan dan patroli. “Sudah satnya beli yang baru. Tapi tim masih berusaha menambalnya, karena harga perahu yang cukup mahal.”, ujar Danel, asisten Logistik pusat rehabilitasi COP Borneo.

Tak hanya perahu/ketinting yang mengalami kerusakan. Mesin yang menggerakkan perahu pun kembali rusak. Tim pos pantau tak kehilangan akal. Utak-atik mesin dilakukan. Dua mesin dari berbeda tahun yaitu pembelian mesin 2015 dan mesin tahun 2017 disulap menjadi satu mesin yang bisa digunakan. “Senang sekali, kedua mesin rusak bisa menghasilkan satu mesin yang bisa mengantarkan pakan orangutan ke pulau pra rilis orangutan.”, ujar Danel lagi.

Tapi apa daya, sebulan kemudian, mesin pun kembali bermasalah. Kali ini ring pistonnya yang diganti. Jika mesin ketinting benar-benar tidak bisa digunakan seperti kemarin, tim terpaksa menyewa mesin ke warga. Tentu saja ini sangat menghambat aktivitas. Bantu pusat rehabilitasi COP Borneo beli mesin ketinting yang baru yuk. Donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan Terimakasih…

DELAYED ONE DAY, THIS ORANGUTAN FINALLY GOT RESCUED

His body is skinny, just look at him, he has no muscles and fats mass. This male orangutan is being kept in a wooden box with size of 100 cm x 100 cm x50 in cm. Previously, the orangutan was put in a larger cage, but he destroyed it and then he moved to a box without a door.

The 6-hours journey was taken by APE Defender team to Meratak village, Bengalon, East Kutai, East Kalimantan. Without stopping, the team was hoping they could immediately took the orangutan. But what could they say, the team from Samarinda suffered a tire break. Therefore, we had to stayed the night.

The day after, APE Defender team from Berau and BKSDA team from Samarinda were be able to meet and evacuate the orangutan that had been kept by the locals since 2014. The locals story that the orangutan was dangerous didn’t make the team anaestize him in hurry. The team slowly approached the orangutan, fed him, and stole his trust. Slowly, until finally he wanted to be carried by one of COP’s founder, Hardi Baktiantoro. “Very thin, hopefully he can get better and get his second chance to go back in nature.”, said Hardi.

Taking care orangutan as pet is illegal. If you know about orangutan being kept as pet, contact nearest KSDA or Centre for Orangutan Protection. Email or chat as on our social media. If you want to donate, you can go through kitabisa.com/orangutan4Indonesia (SAR)

TERTUNDA SEHARI, ORANGUTAN INI AKHIRNYA DAPAT DIEVAKUASI
Tubuhnya sangat kurus, lihat saja otot dan lemak antara kulit dan tulangnya, tidak ada. Orangutan jantan ini dipelihara di dalam kotak kayu berukuran 100cm x 100cm x 50 cm. Sebelumnya, orangutan ini berada di kandang yang lebih besar, namun dia merusaknya hingga akhirnya dimasukkan ke dalam kotak tanpa pintu.

Perjalanan 6 jam pun ditempuh tim APE Defender ke desa Meratak, Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tanpa henti, tim berharap bisa segera membawa orangutan tersebut. Tapi apa daya, tim dari Samarinda mengalami pecah ban. Kami pun terpaksa bermalam.

Keesokan harinya tim APE Defender yang dari Berau dan BKSDA dari Samarinda bisa bertemu dan mengevakuasi orangutan yang sejak 2014 yang lalu dipelihara warga. Cerita warga bahwa orangutan ini membahayakan tak membuat tim buru-buru membiusnya. Tim perlahan mendekati orangutan, memberikan buah dan mencuri kepercayaannya. Perlahan, hingga akhirnya mau digendong oleh salah seorang pendiri COP, Hardi Baktiantoro. “Kurus sekali, semoga dia bisa lebih baik dan mendapatkan kesempatan keduanya untuk kembali ke alam.”, kata Hardi.

Pemeliharaan orangutan adalah perbuatan yang melawan hukum. Jika kamu mengetahui pemeliharaan orangutan, hubungi KSDA terdekat atau Centre for Orangutan Protection, email kami atau chat kami di media sosial COP. Jika kamu ingin donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

ORANGUTAN SHOULD NOT BE LIVING IN THAT WOODBOX

APE Defender team (18/10/18) check on the baby orangutan found by locals of Tepian Baru village, East Kutai, East Kalimantan at his rice field that was just cleared in 2014. Temporary examination shows that the orangutan is a 4-5 year old male orangutan.

“Condition of the orangutan is so skinny. Mistreatment can be the main factor that causing the bad condition of this orangutan.”, drh. Felicitas Flora said. The habits to feed him human food i.e rice with side-dishes will be a special notes on its rehabilitation process. “The little finger of his right foot is missing.” added the vet of APE Defender team.

Fortunately, the keeper was aware that this orangutan can not be that box of 1m x 1m x 0.5 continually, as the orangutan is getting bigger. Hopefully, the orangutan will already be in rehabilitation center.

“It’s not easy to rehabilitate an orangutan. At an early stage, an orangutan will undergo a series of medical examinations. An orangutan will also undergo a quarantine period for two months until all the medical examinations are done. If the orangutan passes that period, he will be joining the forest school class. His development will always be monitored, and the result of it will determine whether he will continue to pre-release class, or even release class, or not. This all cost a great amount of money and quite a long time. Do not pet orangutan! Immediately report if you see any orangutan living around humans.” Wety Rupiana, coordinator of COP Borneo orangutan rehabilitation centre explained. (SAR)

ORANGUTAN TIDAK SEHARUSNYA DI KANDANG KAYU ITU
Tim APE Defender (18/10/18) memeriksa bayi orangutan yang ditemukan warga Tepian Baru, Kutai Timur, Kalimantan Timur di ladang padinya yang baru dibuka pada 2014 silam. Pemeriksaan sementara meliputi jenis kelamin orangutan yaitu jantan dengan usia 4-5 tahun.

“Kondisi orangutan saat ini kurus. Penanganan yang salah bisa saja menjadi penyebab utama kondisi buruk orangutan ini.”, ujar drh. Felisitas Flora. Kebiasaan memberi makanan seperti makanan manusia yaitu nasi beserta lauknya akan menjadi catatan tersendiri proses rehabilitasi orangutan ini nantinya. “Jari kelingking kaki kanannya, tidak ada.”, tambah dokter hewan tim APE Defender ini.

Syukurlah pemelihara menyadari, bahwa orangutan tersebut tidak bisa terus menerus berada dalam kotak kayu berukuran 1m x 1m x 0,5m, seiring dengan bertambahnya usia orangutan. Tim segera berkoordinasi dengan BKSDA untuk mengevakuasi orangutan tersebut. Semoga minggu depan, orangutan tersebut sudah bisa masuk pusat rehabilitasi.

“Memang tidak mudah merehabilitasi orangutan. Untuk tahap awal, orangutan akan melalui serangkaian pemeriksaan medis. Orangutan juga akan menjalani masa karantina selama 2 bulan hingga hasil pemeriksaan kesehatanannya tuntas. Jika orangutan bisa melalui masa karantina tersebut, dia akan dimasukkan ke kelas sekolah hutan. Perkembangan akan terus dalam pantauan, dan hasilnya akan membawanya bisa lanjut ke kelas pra-rilis bahkan ke kelas rilis nantinya. Ini semuanya memakan biaya yang besar dan waktu yang tidak sebentar. Jangan pelihara orangutan! Segera laporkan jika kamu mengetahui keberadaan orangutan di tengah manusia.”, jelas Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. (FLO)

PINGPONG BACK TO THE FOREST SCHOOL

Pingpong’s condition of being malnourished while on the orangutan island forced him to return to his cage. Pingpong is closely monitored by veterinarians of the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

It turned out that the withdrawal also made Pingpong do repetitive movements as a sign that an animal begins to experience depression. The APE Defender team quickly acted by scheduling Pingpong to return to forest school class.

“After undergoing treatment for malnutrition, Pingpong was taken to forest school. Unfortunately, Pingpong still prefers to approach animal nurse hammocks who are watching him. It is indeed not easy to rehabilitate orangutans from zoos that are very familiar with the presence of humans, “said Reza Kurniawan, COP primate anthropologist. (EBO)

PINGPONG KEMBALI KE SEKOLAH HUTAN

Kondisi Pingpong yang mengalami malnutrisi saat berada di pulau orangutan memaksanya untuk kembali ke kandang. Pingpong diawasi secara ketat oleh dokter hewan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. 

Ternyata penarikan itu juga membuat Pingpong melakukan gerakan berulang-ulang sebagai tanda satwa mulai mengalami depresi. Tim APE Defender cepat bertindak dengan menjadwalkan Pingpong kembali masuk kelas sekolah hutan.

“Setelah melalui terapi malnutrisi, Pingpong dibawa ke sekolah hutan. Sayang, Pingpong masih lebih suka mendekati hammock perawat satwa yang sedang mengawasinya. Memang tidak mudah merehabilitasi orangutan dari kebun binatang yang sangat terbiasa dengan kehadiran manusia.”, ujar Reza Kurniawan, ahli antropologi primata COP.

Bantu pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yuk, Pingpong juga berhak kembali ke habitatnya. Kamu bisa bantu melalui https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan

COP GOES TO SOLAR ELECTRICITY

We have completed the installation of the solar electricity in our monitoring post just across the pre release island. Now, the night getting more beautiful without noisy sound from gasoline generators. We will save a lot. No more money being burnt to buy gasoline for electricity.

The next plan is develop the same thing in our main camp. This is quite bigger power. We need at least 1500 dollar for it. Please donate through our website. We have paypal there: Donate

THE SECOND TRIAL OF ORANGUTAN DEATH CASE WITH 130 BULLETS

The case of orangutan death with 130 bullets in his body has entered the second trial. Wednesday, May 16, 2018 at the Sangatta District Court, East Kalimantan session with the agenda of listening to the testimony of expert witnesses presents drh. Felisitas Flora S.M from Center for Orangutan Protection and Yoyok Sugianto from BKSDA Kaltim.

The autopsy of orangutans on 6 February 2018 ensured that orangutans were male of 5-7 years old. From the results of x-rays found 74 bullets on the head, 9 bullets in the right hand, 14 bullets in the left hand, 10 bullets on the right leg, 6 bullets on the left leg and 17 bullets on the chest. But the autopsy team was only able to remove 48 bullets air rifle.

“This is the largest number of orangutan cases ever. The easy possession of this air gun is one of the causes of wildlife being the target of air rifle brutality. Terror air rifle occurs anywhere. The bullet of the air rifle is not directly deadly, but if the numbers are so much ends up making the orangutans helpless.”, said Ramadhani, manager of orangutan protection and habitat COP.

The orangutan is also shot in the area where it should be protected. Kutai National Park with the status of conservation area still can not protect wild animals protected by Law No. 5 of 1990. The four suspects will still undergo a follow-up trial which will be held next week with the agenda to hear the information of the suspect. (LSX)

SIDANG KEDUA KASUS KEMATIAN ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU
Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru di tubuhnya sudah memasuki sidang kedua. Rabu, 16 Mei 2018 di Pengadilan Negeri Sangatta, Kalimantan Timur sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ahli menghadirkan drh. Felisitas Flora S.M dari Centre for Orangutan Protection dan Yoyok Sugianto dari BKSDA Kaltim.

Kematian orangutan yang diotopsi pada tanggal 6 Februari 2018 yang lalu memastikan bahwa orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun. Dari hasil rontgen ditemukan 74 peluru pada kepala, 9 peluru pada tangan kanan, 14 peluru pada tangan kiri, 10 peluru pada kaki kanan, 6 peluru pada kaki kiri dan 17 peluru pada dada. Namun tim otopsi hanya mampu mengeluarkan 48 peluru senapan angin.

“Ini adalah kasus orangutan dengan peluru terbanyak yang pernah ada. Mudahnya kepemilikan senapan angin ini adalah salah satu penyebab satwa liar menjadi sasaran kebrutalan senapan angin. Teror senapan angin terjadi dimana saja. Peluru senapan angin tidak langsung mematikan, namun jika jumlahnya sebegitu banyak akhirnya membuat orangutan tak berdaya.”, ujar Ramadhani, manajer perlindungan orangutan dan habitat COP.

Orangutan tersebut juga ditembak pada kawasan dimana seharusnya dia terlindungi. Taman Nasional Kutai dengan status kawasan konservasi masih juga tak bisa melindungi satwa liar yang dilindungi UU Nomor 5 Tahun 1990. Keempat tersangka masih akan menjalani sidang lanjutan yang akan dilaksanakan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan tersangka. (REZ)