NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (1)

Perburuan liar dan perambahan hutan merupakan salah satu alasan penyebab menurunnya populasi orangutan secara drastis. Ditambah lagi konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan dan industri lain sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup dan populasi orangutan. Pembukaan lahan hutan secara ilegal dan dengan cara semena-mena sudah pasti mempengaruhi kelestarian populasi orangutan dan habitatnya. Pembukaan lahan tersebut juga menyebabkan fragmentasi habitat dan menyebabkan terpecahnya kelompok orangutan.

Akhir minggu pertama April 2021, tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection melakukan survei keberadaan orangutan di kecamatan Bengalon, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penelusuran di sepanjang jalan Poros Bengalon merupakan respon COP mengenai informasi yang beredar di media sosial dan laporan dari masyarakat yang melihat keberadaan orangutan di Bengalon serta menindaklanjuti survei sebelumnya.

Pada hari pertama, tim menemukan satu individu orangutan jantan dewasa yang tertidur pulas di sarangnya. Orangutan tersebut membangun sarang di atas pohon Puspa (Schima wallichii) setinggi kurang lebih 7 meter dari tanah. Sarang tersebut masuk kategori tipe kelas A dengan ciri semua daun masih muda dan segar, serta terlihat baru. Posisi sarang termasuk posisi 1, yaitu sarang berada di pangkal percabangan pohon utama dan menempel pada batang pohon utama.

Orangutan tersebut membangun sarang tidak jauh dari ruas jalan, sekitar 30 meter saja. Hal ini dikarenakan luasan hutan yang merupakan habitatnya sudah berkurang drastis dan beralih fungsi menjadi kawasan pertambangan batubara. Orangutan tersebut tertidur begitu lelap hingga tidak peduli dengan keberadaan drone yang sedang mendokumentasikannya dan baru bangun pukul 07.23 WITA.

“Perubahan prilaku alami orangutan liar sangat mengkawatirkan. Aktivitas pertambangan yang hampir 24 jam disinyalir merusak jam biologis orangutan tersebut. Tidak ada pilihan lain untuk orangutan jantan tersebut, beradaptasi dalam kebingungan”, ujar Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat COP. (FEB)

ORANGUTAN DIHIMPIT PERTAMBANGAN TERBESAR DI KALTIM

Besok kita harus sudah di lokasi sebelum matahari terbit, begitulah malam ini di akhiri. Satwa liar adalah makhluk hidup yang memiliki kebiasaan. Orangutan liar memiliki kebiasaan bangun pagi, makan dan bergerak hingga menjelang siang. Selanjutnya… biasanya dia akan membangun sarang untuk beristirahat bahkan tidur siang. Saat matahari sudah tidak begitu terik, dia biasanya mulai menjelajah lagi sambil makan dan dapat diperkirakan menjelang sore dia akan mencari tempat untuk membangun sarang yang lebih kokoh untuk tidur malamnya.

“Itu, ada sarang orangutan. Daun-daunnya bahkan belum mengering. Dan ada orangutan yang masih tidur!”, bisik Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat COP. Matahari sudah muncul dari tadi namun orangutan dewasa itu masih saja tertidur. Benar, dia masih tidur, bukan sekedar berhenti karena sudah selesai makan pagi.

Pohon dimana sarang orangutan adalah pohon tertinggi yang ada di hutan tersebut. Tentu saja, orangutan bisa mengamati hamparan lahan terbuka yang dulunya hutan, tempat tinggal dan tempatnya mencari makan. Hamparan itu terlihat terang benderang walaupun matahari telah berganti bulan. Sesekali terdengar keributan kendaraan alat berat saat angin mengarah ke sarangnya. Sementara di sisi lainnya, suara kendaraan lalu lalang dari jalan provinsi.

Di sekitar pohon yang menjadi sarangnya, hanya ada merkubung, mahang, puspa dan sejenis tanaman polong-polongan di antara semak belukar. Beberapa batang pohon terlihat dengan kulit yang mengelupas, orangutan berusaha memakan kambiumnya. Ini adalah habitatnya untuk bertahan hidup. “Orangutan survival. Mereka terpaksa memakan apa yang ada untuk bertahan hidup. Gila!”, begitulah Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat orangutan menyimpulkan.

Di kawasan ini, ada sekitar 8 (delapan) orangutan yang bertahan hidup. Orangutan terpaksa berdamai. Inikah yang dimaksud para peneliti, orangutan bisa hidup di multi lansekap? Layakkah orangutan, si reboisasi terbaik diperlakukan seperti gelandangan? Pertambangan menghancurkan rumah orangutan.

PERILAKU MENYIMPANG ORANGUTAN DI SEKITAR PERTAMBANGAN BATUBARA

Drone yang terbang di atas sarang orangutan tak juga mengusik tidurnya. Tim APE Crusader menemukan orangutan di dalam sarang yang berada di batang dahan pohon puspa pada pukul 06.48 WITA. Orangutan jantan tersebut memiliki badan yang cukup besar. “Sekitar pukul 08.00 WITA, dia mulai bangun dan bersin-bersin. Tak lama kemudian dia bergerak ke arah yang berlawanan dari datangnya tim”, ujar Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat orangutan COP.

Lalu kami juga menemukan satu orangutan yang berada di semak-semak. “Lokasi yang sama dengan penemuan orangutan pada bulan September 2020 yang lalu”, kata Sari lagi. Orangutan terlihat sedang memakan daun di semak-semak dan bersembunyi di rimbunnya semak saat sadar bahwa pergerakannya sedang dimonitor.

Keesokan harinya, tim APE Crusader masih berjumpa dengan orangutan tersebut. Kali ini pergerakannya cukup lambat dan ternyata ia menggendong bayinya. “Perjumpaan tiga orangutan dengan kondisi hutan seperti ini sangat memprihatinkan. Aktivitas pertambangan yang terus-menerus sepanjang hari bisa saja membuat orangutan maupun satwa liar yang berada di sekitar kawasan tambang mengalami prilaku menyimpang. Tidak heran, jika konflik satwa liar dengan pertambangan nantinya akan muncul. Seperti bulan Februari yang lalu, viralnya video orangutan berada di kawasan tambang terbesar di Kaltim”, jelas Sari Fitriani lagi.

Terhitung sejak September 2020 telah ada 7 (tujuh) perjumpaan orangutan oleh tim APE Crusader di kawasan tersebut. Dimana di antaranya adalah 2 (dua) induk orangutan beserta anaknya dan 5 (lima) individu orangutan dewasa lainnya. Perilaku yang ditunjukkan oleh orangutan tersebut cukup berbeda dengan orangutan liar pada umumnya. Mereka cenderung bangun siang, bersin-bersin, terkesan tidak takut dengan kebisingan dan cenderung memakan kambium kayu di pohon atau daun di semak-semak.

Benarkah orangutan termasuk makhluk yang adaptif? Apakah orangutan mampu bertahan hidup di beberapa lanskap (multiple landscape)? (SAR)

SELAMAT HARI WANITA SEDUNIA

Aku mau mengenalkan Gisel, orangutan yang bikin gemas tapi juga takut, yang beberapa minggu yang lalu ditemukan menetap di pemukiman warga selama berminggu-minggu. Gisel beruntung. Dia disenangi dan dimanjakan sama masyarakat sekitar. Sampai akhirnya Gisel mulai merusuh di rumah-rumah warga, mematahkan ini dan itu sehingga masyarakat sabel dan melaporkan Gisel ke yang berwajib.

Lokasi ditemukannya Gisel ada di dekat Taman Nasional di Kutai Timur. Makanya, waktu translokasi cuma butuh satu jam buat sampai ke tempat translokasinya. Waktu itu ada lebih dari 10 orang yang mengangkat dan memindahkan kandang yang beratnya lebih dari 50 kg hanya untuk memastikan Gisel aman. Rasanya senang sekali bisa lihat Gisel akhirnya aman di rumah barunya, sampai lupa rasa capeknya.

Tapi kasihan dia, karena sudah terbiasa berinteraksi sama manusia, Gisel tetap mendekati manusia yang ada di sekitarnya. Berharap diberi makanan. Sekarang Gisel ada di pusat rehabilitasi BORA bersama orangutan-orangutan yang beruntung tapi tidak beruntung lainnya.

Gisel, orangutan liar yang cuma kehilangan sedikit naluri liarnya, diselamatkan dari pemukiman masyarakat, dipindahkan kewasan lindung tapi berakhir di pusat rehabilitasi. Saat kawasan lindung tidak bisa melindungi orangutan dan kawasan bukan lindung lebih parah lagi, dimana kita bisa menemukan tempat aman untuk mereka? Semoga jawabannya bukan di kandang.

Kita, Perempuan punyak banyak pilihan untuk mengambil peran dalam melindungi orangutan. Tidak peduli apa latar belakang pendidikan, sosial dan budaya bahkan ekonomi kamu. Tidak mesti langsung dengan orangutannya juga. Bijak dengan belanjaanmu, belilah seperlunya yang memang kamu butuhkan. Agar hutan kita tidak terus menerus tergerus untuk perkebunan maupun tambang. Selamat Hari Wanita Sedunia 2021, kamu bisa memilih! (SAR)

APA YANG DILAKUKAN ORANGUTAN DI TAMBANG KALTIM?

Minggu ini, kehadiran orangutan di kawasan tambang batubara Kalimantan Timur kembali ramai. Jika diperhatikan sejak September 2020 yang lalu, tim APE Crusader COP telah mendapatkan 12 laporan yang telah terkonfirmasi, sebagian besar telah viral di dunia maya. Tim langsung turun ke lapangan untuk mengecek kondisi dan tak bisa dipungkirin, orangutan terdesak aktivitas tambang tersebut.

Kemunculan orangutan di jalan poros Bengalon bukan hal yang baru. Tim APE Crusader mencari tahu penyebab kemunculan orangutan-orangutan tersebut. Tak hanya orangutan jantan dewasa yang terkenal sebagai penjelajah ulung, orangutan betina beserta anaknya pun ikut melintasi jalur tambang batu bara tersebut. Apakah benar orangutan bisa bertahan hidup di kawasan tambang? Benarkah orangutan bisa hidup di multi-landscape?

Penambangan sistem terbuka (surface mining) dengan mengubah bentang lahan biasanya menurunkan produktivitas tanah bahkan menghilangkan mutu lingkungan tersebut. Sepanjang Jalan Poros Bengalon seolah-olah menghadirkan hijaunya pepohonan, namun dibalik itu tambang raksasa penghasil devisa negara terus beroperasi. Pepohonan yang terlihat seperti hutan sudah tidak cukup kaya lagi. Keanekaragaman hayati terus tergerus. “Apa orangutannya cukup hanya makan kulit pohon saja? Apa mereka akhirnya harus hidup di semak belukar?”, ucap Sari Fitriani, Manajer perlindungan Habitat COP dengan prihatin.

“Centre for Orangutan Protection meminta tambang batubara yang beroperasi untuk memperbaiki pengelolaan lahannya (improve land management). Kami yakin, kita semua memiliki niat yang baik untuk Indonesia yang lebih baik lagi”, tambah Sari lagi. (SAR)

ORANGUTAN: KECIL JADI KAWAN, BESAR JADI LAWAN

Gisel, pendatang baru di BORA, bisa dibilang merupakan orangutan yang beruntung namun juga kurang beruntung. Gisel beruntung dalam kondisi sebat dan aman saat ditemui oleh tim penyelamat dari BKSDA SKW 1 Berau dan COP pada akhir Januari lalu meskipun ia sudah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan menetap di titik yang sama. Namun sayang, Gisel kurang beruntung karena meski sudah dipindah ke hutan, ia harus dipindah ke pusat rehabilitasi karena terus mendekati manusia akibat terbiasa dengan interaksi manusia.

Saat pertama kali tim COP menemui Gisel, ia sedang bergelantung di pohon mangga kecil yang berada persis diantara dua rumah warga. Terlihat anak-anak menggerombol mengelilingi Gisel, mengajak main dengan memberi makan, bersalaman dan memegang-megang Gisel. Gisel pun tidak menunjukan adanya rasa takut, malah terus merespon ajakan anak-anak tersebut. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang tinggal di sekitar pun turut berkumpul, beberapa berlomba menunjukan dan menjelaskan bagaimana Gisel sangat jinak dan bagaimana mereka merawat Gisel dengan memberi makan dan minum dengan rutin.

“Ini (orangutan) sudah lama di sini. Mungkin udah ada 3 bulan. Dia main sama anak-anak dan dikasih makan sama orang-orang di sini soalnya takut mati”, jelas Bu Titin, warga yang rumahnya berada di samping pohon mangga tersebut. “Orang-orang di sini pada senang solanya (orangutannya) lucu, tapi makin ke sini (masyarakat) kesel soalnya dia suka matah-matahin pipa dan ngacak-ngacak rumah. Jadinya kita lapor deh ke BKSDA. Sebenernya ada lagi yang besar yang suka datang, tapi kita gak ada yang berani. Takut”, tambah Bu Titin.

Kecil jadi kawan, ketika besar menjadi lawan. Cerita seperti ini bukanlah cerita yang asing lagi tentang orangutan. Saat orangutan yang ditemukan masih kecil, mereka dianggap lucu dan disayang layaknya anak manusia. namun ketika sudah mulai besar dan menunjukkan sifat agresifnya, orangutan tidak lagi dianggap sebagai kawan, melainkan lawan yang dapat membahayakan keselamatan manusia. Gisel beruntung tidak mendapatkan kekerasan akibat rasa takut manusia. Di tempat dan waktu yang berbeda, orangutan lain tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan Gisel.

Orangutan yang Februari lalu ditemukan di persawahan di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah contohnya. Ia ditemukan dengan luka bacok yang parah sehingga perlu dijahit sebanyak sembilan jahitan. Atau orangutan Kaluhara 2 yang pada tahun 2018 ditemukan di perkebunan yang berjarak kurang dari 30 km dari tempat ditemukannya Gisel. Ia bernasib nahas hanya dapat bertahan hidup selama 14 jam dari setelah ditemukan karena 130 peluru senapan angin yang bersarang ditubuhnya. (SAR)

ORANGUTAN MUNCUL LAGI DI SANGATTA SELATAN!

Kamu masih ingat orangutan Gisel? Orangutan yang beberapa waktu lalu ditranslokasi dari perkampungan masyarakat di Sangatta Selatan ke Taman Nasional kutai namun kemudian terpaksa dibawa ke pusat rehabilitasi BORA karena terus kembali mendekati manusia. Gisel sebelumnya ditemukan di suatu perkampungan di Jalan Santai, Sangatta Selatan.

“Ada beberapa orangutan yang suka muncul di sini, tapi cuma orangutan ini yang gak kemana-mana soalnya sering diajak main sama anak-anak dan dikasih makan”, jelas Pak Darmadi, salah satu warga Jalan Santai, yang pendapatnya kemudian dibenarkan oleh masyarakat lainnya saat translokasi berlangsung (29/1). Kesaksian tersebut kemudian dibuktikan oleh Pak Darmadi pada Selasa sore (2/3) dengan melaporkan kemunculan orangutan betina dewasa disertai dengan bukti foto di lokasi yang sama dengan ditemukannya Gisel. “Sudah dua hari ini orangutannya muncul di pohon-pohon tempat yang kemarin. Biasanya siang muncul, tapi menjelang magrib gitu udah hilang lagi”, jelasnya saat dikonfirmasi atas laporannya (3/3).

Dengan adanya laporan tersebut, setidaknya dalam 7 bulan terakhir sudah ada 3 orangutan yang berkeliaran di Sangatta Selatan, yang dua diantaranya sudah ditranslokasi oleh BKSDA Kalimantan Timur. Dari citra udara, terlihat bahwa daerah tersebut dikelilingi oleh pemukiman dan kebun-kebun masyarakat dan jauh dari kawasan berhutan. “Di sini memang (dekat) TNK, tapi hutannya jauh banget dari sini. Orangutan biasanya munculnya dari arah sungai”, ujar Pak Darmadi.

“Munculnya orangutan ke pemukiman merupakan resiko yang harus ditanggung saat pemukiman berada di areal yang sama atau berbatasand engan kawasan lindung yang juga merupakan habitat orangutan. Perlu adanya upaya untuk meminimalisasi resiko tersebut, selain upaya translokasi”, tegas Sari Fitriani, Manajer Program Habitat COP.

195 BIBIT UNTUK 18 KEPALA KELUARGA LONG LANUK

“Kami senang masyarakat Nyapa dengan semangat menerima bibit tanaman yang kami bagikan. Semoga tumbuh dan menghasilkan,” ujar Muhammad Iqbal Rivai dari tim APE Guardian COP. Sabtu, akhir Januari menjadi hari penuh semangat. Bibit berjumlah 195 habis dibagikan untuk masyarakat Dusun Nyapa Indah Desa Long Lanuk yang merupakan kemitraan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterocarpa (B2P2EHD) Samarinda. Total ada 18 Kepala Keluarga yang hadir dan menerima bibit tanaman.

Bibit yang dibagikan adalah jenis yang disukai masyarakat seperti duku ada 48 pohon, rambutan binjai 20 pohon, durian montong 37 pohon, durian musang king 7 pohon, mangga gadung 20 buah, langsat tanjung 33 pohon, kelengkeng 30 pohon. Selain itu, APE Guardian juga membagikan 50 botol herbisida dan 50 botol pembasmi gulma.

Tempat pembibitan APE Guardian yang berada di dekat parkiran Bornean Orangutan Rescue Alliance seketika menjadi kosong. Tawa dan senyum warga berada di balik masker. Pandemi COVID-19 cepatlah berlalu, bercerita dan bercanda tanpa masker pasti lebih akrab. Mari menanam pohon, mari menanam harapan kelak suatu saat dapat memanen dan menikmati buah hasil dari menanam di ladang. (BAL)

GELANDANGAN ORANGUTAN DI JALAN POROS WAHAU

Masih di waktu yang sama dengan temuan orangutan yang kemarin, di pinggir jalan kami menemukan ada 1 individu orangutan yang sedang bergelantungan di cabang pohon. Orangutan tersebut berukuran lebih kecil, mungkin masih remaja. Tidak lama, orangutan tersebut langsung masuk ke dalam dan menghilang ke balik dedaunan. Kami langsung bergegas naik ke bukit untuk memantau pergerakan orangutan. Ternyata terlihat ada dua pergerakan di dua tempat yang berbeda dan pergerakan tersebut menuju satu pohon dimana ada sarang besar yang masih baru. Ada dua orangutan terlihat naik ke pohon tersebut namun tidak terlalu jelas tertutup daun-daun yang cukup rimbun. Setelah itu, satu orangutan terlihat di dalam sarang, seperti menambah patahan kayu dan daun di dalamnya. Namun tidak lama, orangutan tersebut turun dari pohon, kemungkinan terganggu dengan suara drone.

Lokasi masih berada di poros Bengalon ke arah Wahau. Dari seberang jalan tempat kami berhenti, terdapat jejak orangutan berupa patahan batang kayu serta kulit kayu yang terkelupas. Sedangkan di sekitar titik temuan orangutan yang sedang bergantung, terdapat tumpukan sampah seperti botol-botol, sisa sayuran, plastik dan sebagainya. Di belakang tumpukan sampah terdapat bukit dimana dari bukit tersebut terlihat jelas ada 2 sarang lama dan 1 sarang baru tempat orangutan tersebut bersarang. Dan di belakangnya terlihat jelas aktivitas pertambangan batu bara yang mungkin hanya berjarak sekitar 50-100 m dari sarang.

Jadi dalam 4 bulan terakhir, tim APE Crusader menjumpai adanya 5 individu orangutan dari pinggir jalan poros Wahau-Bengalon, di kawasan pertambangan batu bara KPC. Sejak Agustus 2020, setidaknya ada 5 laporan warga terkait orangutan yang ditemukan di pinggir jalan di area pertambangan yang sama dan 3 diantaranya viral di media sosial. (SAR)

TOLONG, ADA ORANGUTAN DI PINGGIR JALAN

Hari ini, 30 Januari 2021 pada pukul 17.30 WITA, tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection kembali menemukan adanya orangutan di pinggir jalan saat melintasi jalan poros Bengalon di area pertambangan KPC. Saat itu terlihat orangutan di atas pohon yang berada tepat di pinggir jalan, mengupas kulit kayu untuk dimakan kambiumnya. Orangutan tersebut merupakan orangutan jantan dewasa yang ditandai dengan adanya cheekpad dan bertubuh besar.

Saat didekati untuk mengambil gambar, orangutan tersebut terlihat panik dan terburu-buru untuk turun dan pergi menjauh masuk ke arah dalam. Lokasi temuan kurang lebih hanya berjarak 1 km dari temuan orangutan sebelumnya di bulan September 2020 (orangutan tidur).

Kondisi tutupan lahan merupakan semak belukar dan kurang lebih 500 m ke dalam berhutan masih cukup luas. Namun sekitar 1 km arah barat laut sudah merupakan area bukaan untuk tambang KPC. Secara keseluruhan, sarang-sarang yang ditemukan dari pinggir jalan poros Bengalon hingga Sangatta tidak sebanyak pada survei bulan September lalu. Bahkan hanya ditemukan kurang dari 10 sarang dan semuanya sarang lama.

“Tolong, segera laporkan jika ada yang melihat keberadaan orangutan tersebut. Jangan disakiti. Cukup laporkan. Besok tim APE Crusader akan mencari orangutan tersebut. Keselamatan orangutan tersebut mungkin saja terancam. Begitu pula para pengguna jalan poros Kalimantan Timur ini,” ujar Sari Fitriani, kapten APE Crusader. (SAR)