SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)

SOUND FOR ORANGUTAN 2025 EDISI BORNEO

Sound For Orangutan 2025 kembali mengguncang Samarinda dengan tema “Born to be Wild” bertempat di Temindung Creative Hub. Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas seni, aktivis lingkungan, dan masyarakat yang peduli pada masa depan orangutan.

Tahun ini, semangat kolaborasi terasa kuat. Para penggiat lingkungan dan komunitas kreatif menyatukan energi mereka untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap konservasi orangutan serta habitatnya. SFO menjadi momentum langka di Samarinda yang menggabungkan musik, seni, dan pesan lingkungan dalam satu panggung. Deretan band lokal seperti Swankscum, Outlier, GNR, Roots Side Up, Louise, dan Grossfuss tampil penuh energi. Komunitas graffiti ‘warga sekitar hood’ dan aktivis setempat yang juga memperkaya pengalaman acara dengan karya dan pesan mereka.

Lebih dari 80 orang hadir dan memberikan respons positif. Banyak penonton dan performer berharap SFO bisa digelar kembali tahun depan dengan skala lebih besar, mengingat konser amal bertema orangutan seperti ini merupakan yang pertama di Samarinda.

Sound For Orangutan 2025 mengukuhkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga suara yang mampu menyatukan komunitas untuk menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang menjadi rumah mereka. (WIB)

AMBULAN SATWA LIAR COP SIAP MENJANGKAU TITIK KONFLIK ORANGUTAN

Hanya butuh setengah tahun, akhirnya Ambulan Satwa Liar COP ini menyeberangi laut Jawa lewat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada 19 November 2025. Selama 36 jam di lautan, mobil ambulance ini pun tiba di Pelabuhan Balikpapan dan segera melanjutkan perjalanan darat menuju Samarinda. Kehadirannya di Kalimantan Timur menandai babak baru dalam penguatan respons penanganan satwa liar di wilayah tersebut.

Setelah resmi mengaspal di Tanah Borneo, ambulan ini langsung digunakan untuk menangani situasi darurat di area konflik orangutan. Dengan mobilitas dan fasilitas yang lebih memadai, tim APE Defender dan APE Crusader dapat bergerak cepat mengevakuasi orangutan yang berada dalam kondisi berisiko, memastikan mereka sehat dan dapat dipindahkan ke habitat yang lebih aman.

Kehadiran ambulan ini menjadi langkah baru yang penuh harapan. Dukungan banyak pihak membuat perjalanan penyelamatan satwa liar terasa semakin laju. Centre for Orangutan Protection (COP) menyambut masa depan ini dengan optimisme, siap menjalankan lebih banyak misi penyelamatan dan membawa kabar baik dari kantong-kantong habitat orangutan. Terima kasih The Orangutan Project yang telah mewujudkan mimpi tahunan COP memiliki ambulan penyelamat satwa liar Indonesia”. (DIM)

EDUKASI KONSERVASI ORANGUTAN HADIR DI SMAN 5 SAMARINDA

Pada 23 September yang lalu, Tim APE Crusader bersama SKW 2 BKSDA Kalimantan Timur serta Orangufriends Samarinda melaksanakan kegiatan School Visit di SMAN 5 Samarinda. Tujuannya adalah untuk mengedukasi para pelajar mengenai pentingnya konservasi orangutan serta mengampanyekan upaya pelestarian satwa yang semakin terancam punah ini. Sebanyak 40 siswa hadir, ada tips untuk generasi muda mengambil peran menjaga kelestarian alam.
Menariknya, Orangufriends Samarinda yang merupakan relawan orangutan mengajak siswa bermain permainan edukatif. Aktivitas ini membuat pembelajaran terasa menyenangkan dan interaktif. Tawa dan semangat siswa memenuhi ruangan, menandakan pesan konservasi tersampaikan dengan cara yang hangat. Yang mengejutkan, beberapa siswa mengungkapkan ketertarikan mereka untuk terjun ke dunia konservasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi sejak dini dapat menumbuhkan kesadaran, rasa memiliki, serta keinginan untuk ikut berperan dalam menjaga lingkungan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran siswa SMAN 5 Samarinda akan semakin tumbuh bahwa menjaga orangutan berarti menjaga hutan dan kehidupan itu sendiri. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dan hari itu, langkah dimulai bersama APE Crusader. (WIB)

KILAU BIRU DI LANTAI HUTAN

Pagi itu, sekitar pukul tujuh, suasana di pusat rehabilitasi BORA teduh di bawah langit mendung. Saat itu saya sedang di dalam kantor COP. Dari dapur yang terbuka ke arah hutan belakang kantor, Agung, anggota tim APE Crusader tiba-tiba berseru, “Kang, ada burung biru di tanah!”. Saya segera mengambil kamera dan melangkah ke teras dapur di sisi belakang kantor. Kantor ini berbentuk rumah panggung khas Kalimantan, lantai kayunya ditopang tiang ulin yang kokoh, sementara area dapurnya terbuka langsung menghadap hutan kecil. Dari sana, pandangan saya jelas, hanya enam meter di depan, burung Sempidan Biru jantan (Lophura ignita) sedang mengais serasah basah sisa hujan malam.

Kepalanya biru pucat, dihiasi jambul hitam mungil di atasnya, kontras dengan tubuh berbalut bulu gelap berkilau kebiruan. Ekor cokelat keemasan dan semburat merah didada dan punggung belakangnya semakin menegaskan keanggunan burung ini. Sesekali cahaya redup pagi memantul di sayapnya, menciptakan kilau singkat di antara bayangan pohon. Tak jauh darinya, dua betina dengan bulu cokelat samar menyusuri lantai hutan, nyaris menyatu dengan dedaunan kering dan serasah. Mereka bertiga bergerak pelan, seolah menimbang setiap langkah di tanah yang lembab.

Burung Sempidan Biru Kalimantan adalah satwa endemik yang cukup jarang terlihat. Spesies ini termasuk dalam daftar merah IUCN dengan status Rentan (Vulnerable), terancam oleh hilangnya habitat hutan dataran rendah. Melihat mereka di hutan sekitar kantor menjadi pengingat kuat bahwa hutan di area BORA bukan hanya menjadi zona perlindungan bagi orangutan, tetapi juga bagi satwa liar lain yang sama berharganya.

Dari teras dapur sederhana itu, saya menyaksikan momen istimewa, seekor jantan mencolok ditemani dua betina yang tersamarkan serasah, bergerak bersama dalam senyap pagi hari. Sejenak, halaman belakang kantor berubah menjadi panggung kecil keanekaraman hayati Kalimantan. Momen ini menegaskan satu hal, hutan yang terjaga akan selalu menyimpan kejutan, bahkan sudut yang paling tak terduga. Sempidan biru dengan keindahan dan keberadaannya yang rapuh, menjadi saksi bahwa menjaga ruang alami berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (RAF)

CRUSADER COP DENGAN MISI EDUKASI ORANGUTAN DI SMAN 1 KONGBENG

Sore yang tenang di Miau Baru dan para siswa yang baru saja selesai berolahraga dengan keringat masih menempel di wajah membuat suasana sedikit lesu. Meski lelah, siswa-siswi SMAN 10 Kongbeng, Kalimantan Timur berkumpul di aula sekolah. “Gawat, waktunya tidur siang ini”.

Suara anggota tim Crusader COP, Agung pun terdengar keras, “Siapa yang pernah melihat orangutan?”. Tak disangka, ternyata beberapa anak mengangkat tangannya, ternyata yang mengantuk tidak semuanya. Agung pun segera menghampiri siswa yang mengacungkan tangannya.
“Saya melihatnya, di kawasan wisata hutan Selei Sagum”,
“Saya melihatnya kak, di sekitar jalan poros menuju Sangatta”.
Agung pun menimpali, “ Wow, hebat! Kalian beruntung bisa melihat mereka di habitat aslinya, Kalimantan dimana kita lahir dan besar. Tapi, kenapa ada orangutan di jalan raya?”.
Salah satu siswa memberanikan diri menjawab walaupun dengan tatapan lesu namun tetap bersuara lantang, “karena hutannya udah pada habis ditebang orang”.

Kemudian Agung pun melanjutkan, “Wah, kasihan banget ya… Orangutan sudah kehilangan rumahnya sampai-sampai bisa kita lihat di jalan raya. Tapi tahukah kalian, memelihara orangutan itu juga tidak boleh? Mereka adalah satwa liar yang dilindungi. Habitat mereka semakin sempit karena manusia. Makanya, kita harus menjaga hutan dan alam sekitar kita”.

Siswa-siswa mulai terlihat lebih tertarik. Ada yang bertanya, “Kenapa gak boleh dipelihara, Kak? Kan lucu?”

Agung pun menggelengkan pelan, “Orangutan bukan hewan peliharaan. Mereka butuh ruang yang luas untuk bergerak, mencari makan, dan bersosialisasi. Kalau dipelihara, mereka akan stres dan sakit. Selain itu, memelihara satwa liar juga melanggar hukum”.

Rina, salah satu siswa, teringat cerita dari pamannya yang bekerja di kebun sawit. “Paman saya bilang, kadang orangutan masuk ke kebun dan merusak tanaman. Apa yang harus dilakukan, Pak?”

“Itu pertanyaan bagus”, komentar Pak Budi. “Sebenarnya, orangutan masuk ke kebun karena habitat asli mereka terganggu. Solusinya adalah kita harus menjaga hutan agar mereka punya tempat tinggal yang cukup. Kalau mereka masuk ke kebun, sebaiknya kalian bisa laporkan ke nomor yang ada di slide ini atau ke pihak berwenang agar bisa ditindaklanjuti dengan aman”.

Sesi edukasi berlanjut dengan cerita-cerita menarik tentang perilaku orangutan, kecerdasan mereka, dan betapa pentingnya peran mereka dalam ekosistem hutan. Meski awalnya kurang aktif, perlahan siswa mulai terlibat dalam diskusi. Ada yang bertanya tentang cara menjaga hutan, ada pula yang ingin tahu lebih banyak tentang upaya konservasi yang dilakukan oleh COP (Centre for Orangutan Protection).

Saat sesi berakhir, Agung pun menutup dengan pesan kuat, “Ingat teman-teman, orangutan adalah sahabat kita di hutan. Mereka membantu menjaga keseimbangan alam. Jadi, mari kita jaga habitat mereka dengan tidak merusak hutan dan tidak memelihara satwa liar. Salam edukasi, salam konservasi!”. Di balik senja yang perlahan memudar, harapan pun muncul. Siswa-siswi SMAN 01 Kongbeng kini bukan hanya penonton, tetapi merupakan penjaga masa depan hutan dan satwa liar di sekitar mereka. (AGU)

MISTERI DAN DUKA DI JALAN POROS WAHAU KALTIM

Sabtu, 26 Juli 2025 sebuah video buram nyebar cepat di media sosial. Gambarannya menunjukkan satu individual beruang madu tergeletak tak bergerak di tepi Jalan Poros Wahau, Kalimantan Timur. Tubuhnya tampak lemah, di kelilingi semak liar, seolah menyimpan rahasia kelam. Postingan itu seketika membangkitkan gelombang keprihatinan. BKSDA Kaltim segera bertindak menghubungi tim APE Crusader COP untuk menyelami kejadian tersebut. Tanpa menunggu lama, tim meluncur.

Saat senja merona di langit Kalimantan dengan udara yang masih hangat, bau menyengat tiba-tiba mengusik perjalanan menuju Simpang Perdau. Aroma tajam ini membawa firasat buruk yang tak bisa diabaikan. Dengan langkah hati-hati, laju kendaraan pun melambat. Di balik rerimbunan semak, pemandangan mengerikan terhampar. Jasad beruang madu dengan tubuh membengkak, dikerubungi lalat dan belatung yang bergerak lincah di atas luka-luka menganga.

Cahaya senja yang temaram menerangi tubuh beruang itu, memperlihatkan detil mengerikan. Cakar-cakarnya hilang seolah dicabut paksa. Alat kelaminya pun tak lagi utuh, meninggalkan bekas potongan kasar yang tak wajar. Keadaan itu membawa hawa ngeri sekaligus amarah bagi tim. Jelas bahwa ini bukan kematian biasa. Ada tangan manusia yang tega mencincang tubuh itu, mungkin demi keuntungan gelap, tanpa menghiraukan nyawa yang telah padam. Luka besar di dada beruang tampak seperti akibat benturan keras, kemungkinan tertabrak kendaraan, namun mutilasi yang mengikutinya menyingkap kekejaman yang lebih dalam.

Tim segera menyebar, menyisir area di sekitar jasad. Mata mereka tajam mencari petunjuk, jejak kaki, bekas ban, atau apapun yang bisa menyingkap pelaku. Namun hujan yang turun beberapa hari sebelumnya telah menghapus banyak tanda. Alam seolah turut menyembunyikan kebenaran, meninggalkan misteri yang semakin pekat. Dari tingkat pembusukan jasad, tim memperkirakan beruang telah mati sejak hari Jumat. Kejadian ini bukan sekedar kematian seekor hewan, tetapi pengingat pahit akan ancaman terhadap satwa liar. Setiap makhluk berhak hidup dan tugas melindunginya tak perah ringan. (AGU)

KISAH PENYELAMATAN ORANGUTAN ANSHAR YANG MENGGETARKAN HATI

5 Februari 2025, sebuah video pendek menyebar seperti api di media sosial. Gambar buram orangutan besar yang berjalan di tengah kawasan tambang membuat banyak orang tersentak. Di tengah landskap tambang yang gersang, kehadiran makhluk berambut itu terasa seperti seruan permintaan tolong dari alam. Orangutan, spesies yang terancam punah dan dilindungi, tak seharusnya berada di sana. Hutan yang dulu menjadi rumahnya kini berbatasan dengan perkebunan sawit dan kawasan tambang, sebuah dunia yang asing dan penuh bahaya baginya.

Melihat video tersebut, BKSDA Kaltim tak membuang waktu. Dengan sigap, tim WRU SKW II Tenggarong berangkat menyelamatkan makhluk luar biasa ini dari nasib tak pasti. Tim bertemu dengan warga setempat yang pertama kali merekam video viral itu. “Dia muncul di pagi hari, biasanya sendirian”, ujar salah seorang warga dengan mata penuh kekhawatiran. Dari cerita mereka, tim tahu bahwa orangutan ini bukan tamu biasa. Ia adalah individual jantan besar, mungkin tersesat atau terdesak dari habitat aslinya oleh perluasan tambang dan kebun sawit. Ditambah lagi informasi penampakan orangutan tersebut sedang memakan umbut sawit di dekat hutan karet, sebuah tanda bahwa ia berjuang mencari makanan di lingkungan yang tak ramah.

Hutan karet yang lebat dengan tanah basah menyambut mereka, namun tak menghentikan kesigapan tim untuk menyelamatkan orangutan tersebut. Di antara pepohonan, orangutan jantan perkasa dengan bobot lebih dari 70 kg membuat tim terkagum-kagum, tapi bukan saatnya. Orangutan adalah satwa cerdas dan kuat, menyelamatkannya bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan koordinasi yang matang untuk memblokir pergerakan orangutan. Senjata bius disiapkan, jaring diatur, dan setiap anggota tim penyelamatan mengambil posisi. Jantung mereka berdegup kencang saat menunggu momen yang tepat. “Sekarang!”, seru salah seorang anggota tim dan sebuah peluru bius melesat mengenai sasaran dengan presisi. Ketegangan belum usai, Orangutan itu memanjat pohon dengan gerakan pelan lalu dengan keadaan tidak sadarkan diri terjatuh pada jaring yang sudah ditarik tegang anggota tim. Usianya sekitar 17 tahun, masih muda, tanpa luka namun cukup besar untuk menjadi simbol kekuatan alam yang rapuh di tangan manusia. Evakuasi selesai, tetapi misi belum berakhir. Anshar begitu namanya, akhirnya dibawa menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah kawasan yang masih hijau dan liar, tempat ia kembali menjadi bagian dari alam.

Rabu, 12 Februari pukul 13.00 WITA, di tengah lebatnya hutan, kandang angkut Anshar dibuka. Matahari siang menyelinap melalui kanopi hutan, menerangi rambutnya yang bercahaya. Dengan langkah ragu namun penuh makna, Anshar melangkah keluar. Udara segar hutan memenuhi paru-parunya dan suara burung serta gemerisik daun seolah menyanyikan lagu penyambutan. Ia menoleh sekilas ke arah tim yang telah menyelamatkannya, lalu menghilang ke dalam lebatnya hutan, kembali ke tempat ia seharunya berada. Translokasi Anshar bukan sekedar akhir dari sebuah operasi penyelamatan, di bawah naungan pohon-pohon tinggi, Anshar melangkah menuju kehidupan barunya. Mungkin suatu hari, anak-anaknya akan mengisi hutan dengan kehidupan. Dan mungkin, cerita ini akan terus menginspirasi kita untuk tidak menyerah pada pelestarian alam, satu orangutan pada satu waktu.

Betul, tulisan ini akhirnya dibuat setelah video orangutan berada di areal tambang bulan Februari kembali ramai lagi di awal bulan Juni 2025 ini. Terima kasih atas kepedulian warga net, kini Anshar sudah aman. (AGU)

PENANAMAN DI BORNEO ORANGUTAN RESCUE ALLIANCE

Penghijauan dan pengayaan pohon pakan alami di sekitar area rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) merupakan perbaikan kualitas lingkungan sekitarnya, tidak hanya sebagai langkah pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan langsung terhadap kebutuhan ekologis orangutan yang tengah menjalani proses rehabilitasi. Tidak hanya animal keeper tetapi tim COP (Centre for Orangutan Protection) lainnya yang sedang mampir di BORA ikut terlibat.

Proses penanaman diawali dengan pembuatan lubang tanam di titik-titik yang telah direncanakan. Setelah itu, bibit-bibit pohon ditanam secara bersama-sama. Setiap bibit kemudian diberi pupuk kompos yang berasal dari hasil olahan sampah organik kandang orangutan. Penggunaan kompos ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah organik di BORA, sekaligus sebagai cara alami untuk memperkaya nutrisi tanah di lokasi penanaman.

Penanaman berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Cuaca yang mendukung turut memberikan suasana yang kondusif sepanjang kegiatan. Harapannya, bibit-bibit pohon yang ditanam ini kelak akan tumbuh menjadi bagian dari habitat pendukung yang penting bagi orangutan, sekaligus memperkuat keseimbangan ekosistem di area rehabilitasi. Ya, COP terus menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan alami bagi satwa yang tengah rehabilitasi, serta memperkuat kinerja antar tim dalam aksi nyata konservasi. (RAF)

KEAJAIBAN DI BALIK RENDA HUTAN

Di tengah rapatnya tegakkan pohon yang menjulang tinggi dan akar-akar yang memenuhi lantai hutan, saya dengan hati-hati melangkah menyusuri kawasan hutan yang terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kami sedang melakukan survei mencari lokasi yang cocok untuk pelepasliaran orangutan. Suara burung bersahutan, sementara gemerisik dedaunan menjadi latar alami perjalanan tim. Tiba-tiba, langkah salah satu anggota tim terhenti, “Eh, tunggu sebentar! Ini apa, ya?”, seru Raffi dengan mata berbinar, tangannya menunjuk ke tanah.

Yang lain segera mendekat. Di hadapan tim, di antara lumut dan dedaunan lembab, berdiri sebuah jamur unik. Tudung hijau kecil bertengger di atasnya, sementara jaring putih tipis menjuntai ke bawah, menyerupai renda halus. Dimi membungkuk, matanya berbinar penuh antusias. “Wah, ini Jamur Tudung Pengantin!”, serunya. “Jarang-jarang bisa lihat ini langsung di habitat aslinya!”. Jamur Tudung Pengantin (Phallus indusiatus) memang bukan jamur biasa. Bentuknya yang indah sering membuatnya tampak seperti keajaiban kecil di lantai hutan. Namun, lebih dari sekadar unik, jamur ini berperan penting sebagai dekomposer alami, membantu mengurai bahan organik yang jatuh dari pepohonan raksasa di hutan.

“Berarti kawasan ini benar-benar masih terjaga ya.”, ujar Dimi, suaranya penuh semangat. “Kalau jamur ini bisa tumbuh, berarti kondisi ekosistemnya masih sehat!”. “Betul sekali.”, Raffi pun mengangguk setuju. “Hutan primer seperti ini memang habitat yang ideal, mereka bukan hanya soal jamur, tapi juga buat orangutan yang akan kita lepas-liarkan.”.

Mereka saling berpandangan, senyum kecil tersungging di wajah mereka. Temuan kecil ini semakin menguatkan keyakinan tim bahwa hutan ini layak untuk menjadi rumah baru bagi orangutan. Dengan semangat yang lebih besar, mereka melanjutkan perjalanan, berjanji dalam hati untuk terus menjaga dan melindungi keajaiban yang tersembunyi di balik renda hutan. (DIM)