BERSAMA PADAMKAN API

Kemarau berhasil mengeringkan hutan hujan Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Tumpukan daun-daun mengering di lantai hutan bahkan mencapai lutut kaki. Kanopi hutan tak menyatu lagi, matahari mencapai akar pohon tanpa ada penghalang. “Api sekecil apapun akan sangat berbahaya.”, ujar Ramadhani, manajer area Kalimantan Centre for Orangutan Protection. 

Status Awas di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo meningkatkan kinerja tim. Pagi sesampai di camp, tanpa komando sudah ada yang memastikan headlamp (lampu kepala), senter, handy talkie (HT) dan GPS dalam kondisi dicas/diisi ulang. Rasa lelah yang menghantui juga telah membuat sebagian tertidur di camp. 

Bersyukur, api dapat dipadamkan dalam waktu tiga jam. Kedua puluh orang yang turun sore ini adalah penyelamat COP Borneo. Tim KPH, BKSDA Berau dan B2P2EHD bersama tim COP Borneo, bahu membahu memadamkan api. Sementara tim medis bersama perawat satwa sudah mempersiapkan diri untuk memindahkan orangutan dari kandang karantina ke kandang transport. 

Pagi ini… kabut asap masih menghampiri COP Borneo. Selamat istirahat semuanya. 

BANTU PADAMKAN API DI DESA MERASAK

Hujan tak kunjung turun. Labanan, Berau, Kalimantan Timur diperburuk dengan musim berladang yang membuat api menjalar semakin liar. Tak hanya ladang yang seharusnya dibuka untuk musim tanam selanjutnya, angin dan keringnya tanaman membuat api tak lagi terkontrol. “Kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bersiap untuk yang terburuk. Mencegah lebih baik, tapi apa daya, turun langsung membantu melokalisir kebakaran menjadi pilihan saat ini. Semoga tak berlanjut ke COP Borneo.”, ujar Ramadhani, manajer COP untuk Kalimantan. 

11 September 2019, kelas sekolah hutan dihentikan. Tim dibagi menjadi dua untuk segera membantu masyarakat desa Merasak, Berau, Kalimantan Timur untuk memadamkan api yang sudah terlanjur menyebar kemana-mana. Dengan berbekal 3 jet shooter, mesin air dan selang tim APE Defender menuju ke lokasi. Bersyukur sekali kami tidak hanya sendiri, masyarakat dan BNPB Berau juga sedang menuju ke lokasi. “Sayang, api sudah menjalar dan kebakaran semakin luas.”, ujar Linau, animal keeper yang turun ke lokasi kebakaran. 

Terimakasih atas dukungan para suporter COP dimana pun berada. Kebakaran lahan adalah bencana yang hampir setiap tahun terjadi. Panasnya suhu di kebakaran lahan juga membuat gerak tim menjadi lambat. “Kami harus memperhatikan keselamatan tim juga. Safety first, begitu yang harus diutamakan. Kami juga mengatur istirahat. Tetap dukung kami dan doakan kami.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter orangutan yang ikut turun di kebakaran lahan Merasak kali ini. 

OWI DAN BONTI KABUR DARI KANDANG

Kejadian itu bermula ketika salah seorang animal keeper lupa mengunci kembali gembok kandang setelah mengambil orangutan Annie yang memiliki jadwal masuk kelas sekolah hutan pada siang hari. Annie, Owi dan Bonti adalah orangutan yang berada di dalam satu kandang sosialisasi.

Hari itu bukan jadwalnya orangutan Owi maupun Bonti untuk masuk kelas sekolah hutan. Saat akan istirahat makan siang, ketika kami melewati kandang sosialisasi, kami dikagetkan dengan pintu kandang yang terbuka, dan keduanya tidak ada di dalam. Kami hanya saling pandang dan diam, lalu berpencar mencari keduanya. Tebakan kami, Owi dan Bonti pergi ke lokasi sekolah hutan yang lama. Dan ternyata benar!!! Kami menemukan mereka… sedang asik di atas pohon memakan buah hutan.

Meminta mereka untuk turun, kembali ke kandang membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Lapar, haus sudah melanda kami. Owi dan Bonti selalu lari menjauh, memanjat pohon berpindah pohon dan membuat kami berlarian mengikuti bahkan hingga tersandung akar pohon. “Lebih dari satu jam, kami kejar-kejaran dengan mereka, hingga akhirnya mereka berhasil kembali ke kandang.”, ujar Wety Rupiana.

“Mungkin mereka merasa bosan di kandang dan ketika pintu kandang tidak terkunci mereka segera lari mencari tempat untuk bermain.”, kata Jeckson lega. (WET)

HAPPI BERHASIL MEMBUKA DURIAN HIJAU

Aroma durian hijau saat matang tak sekuat durian pada umumnya. Kulitnya yang berduri, selalu berwarna hijau dan lebih panjang. Musim buah durian hijau tak dibiarkan berlalu begitu saja. Orangutan di pusat rehabilitasi COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur pun dapat menikmatinya. 

Untuk orangutan dewasa, dengan jari-jarinya yang kuat dan besar, tentu saja membuka durian bukanlah hal yang sulit. Lalu bagaimana dengan orangutan-orangutan kecil yang menjadi penghuni terbanyak COP Borneo? Membuka dengan tangan, duri terlalu tajam menusuk telapak tangannya. Menggigitnya, itu juga merupakan usaha orangutan-orangutan kecil. Tapi mereka berhenti saat bibir mengenai duri yang tajam. Membanting-banting durian, juga sudah dicoba. 

Dan akhirnya mereka memilih untuk melihati durian hijau sapai sesekali menyentuhnya. Hanya satu orangutan kecil yang berhasil. Happi berhasil membukanya. Bahkan Annie yang lebih besar dan garang darinya hanya duduk di samping… sambil bersiap merampasnya dari Happi. 

Kalau kamu, jadi Happi atau Annie saja? (WET)

DARI PADANG UNTUK INDONESIA (ORANGUTAN DAY)

International Orangutan Day, suatu hari yang diperingati karena orangutan semakin terancam punah akibat berkurangnya hutan sebagai habitatnya untuk perkebunan maupun pertambangan dengan turunan penyebabnya perdagangan, kepemilikan ilegal dan perburuan. Kelompok pendukung orangutan yang tergabung dalam Orangufriends Padang, Sumatera Barat mengemas serangkaian acara dengan berkolaborasi dengan komunitas maupun perorangan.

Novi Fani Rovika, orangufriends Padang, seorang ibu yang telah menjadi relawan diberbagai kesempatan COP mengatakan bahwa setiap keinginan memang hanya tinggal menunggu waktu untuk terwujud dan diwujudkan. Yang penting itu adalah jangan pernah berhenti dan lelah untuk menemukan jalannya. Ya, jalan (hidup) kita itu kita sendiri yang bisa menentukan. Mau jadi apa kita memang hanya kita sendiri yang tahu. 

Sementara Ana Neveria Zuhri, orangufriends yang baru saja menikah 21 Agustus 2019 yang lalu juga tak mau ketinggalan dalam memperingati Hari Orangutan yang jatuh pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya. Ana menjadi salah satu pembicara di Dialog Musikal yang dilaksanakan di Sunday Coffee Padang. “Monyet, Kera dan Manusia.”, katanya dalam menggali kearifan lokal dalam dunia konservasi.

Sabtu, 24 Agustus 2019 dari pukul empat sore musikalisasi puisi dan kelompok gambar dengan goresan jari mencuri perhatian pengunjung. “Melihat semangat anak-anak muda yang hadir dan berkolaborasi malam itu… sungguh membuat perasaan di dada semakin membuncah! Bahwa ternyata, saya dan mereka memiliki kesamaan. Bahwa ternyata rasa ingin selalu bersatu padu itu ada dan nyata!”, tulis Novi di status media sosialnya. Terus semangat Orangufriends… tanpa kalian tentu saja ini menjadi sulit. 

 

SETELAH COP SCHOOL… APA YA?

Halo anak muda? Sebenarnya tidak hanya anak muda, siapa pun yang berjiwa muda dan tentu saja tidak bisa diam, ingin terus berbagi dan berkarya untuk dunia konservasi Indonesia. COP School dengan rangkaian seleksinya yang diramu dengan tugas-tugas lapangan maupun laporan di atas kertas mempersiapkan pesertanya untuk menerima materi dari para ahlinya yang telah berkecimpung di dunianya lebih dari lima tahun. Setelah materi tatap muka selama seminggu penuh di Yogyakarta, para peserta dipersilahkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing untuk menerapkan apa yang telah didapat selama COP School. Di akhir tahun, tepatnya di Jambore Orangufriends, silahkan berbagi apa yang telah diterapkan usai dari Yogya.

Lalu… tim khusus akan memilih kamu, para alumni COP School untuk mengikuti Leadership Training Camp di Yogyakarta. Tahun ini, Leco Park Kulon Progo Jogjakarta menjadi tempat pelatihannya. Tidak selama COP School, pelatihan ini hanya memakan waktu dua hari. Ada lima belas orangufriends (relawan) yang terpilih. Mereka berasal dari Jakarta, Bandung, Lampung, Yogyakarta, Surabaya dan Bogor. 

Mau tahu lebih banyak tentang Centre for Orangutan Protection, organisasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia ini? Ikutan COP School Batch 10 ya… sampai ketemu di Yogya!

SEPTI DAN ALOUISE BERMAIN DI SEKOLAH HUTAN LAGI

Sekitar lima bulan yang lalu, di sekolah hutan kedatangan siswa baru yang merepotkan banyak keeper yaitu Alouise. Dua hari sekolah hutan, dua hari pula keeper harus bersabar menunggu dia turun dari pohon. Bahkan di hari keduanya sekolah hutan, Alouise menginap di pohon tinggi yang tidak dapat dipanjat oleh animal keeper. Hingga akhirnya keeper harus menunggunya di bawah pohon. Alouise masih terlalu kecil kalau harus menginap di hutan sendirian. Setelah kejadian itu, Alouise diperkenalkan pada Septi, Alouise pun berada dalam satu kandang dengan Septi untuk menenangkan Alouise yang terlihat sangat ketakutan.

Rabu, dua hari yang lalu, Alouise sekolah hutan lagi, namun kali ini bersama Septi yang menjadi ibu angkatnya. Tujuan dari sekolah hutan kali ini adalah ketika hasilnya bagus, mereka akan dipindahkan ke pulau pra-rilis bergabung dengan orangutan Michelle.

Namun, selama dua hari di sekolah hutan, Septi masih belum mau memanjat pohon. Berbeda dengan Alouise di hari pertamanya ke sekolah hutan dan berkesempatan terpisah dari Septi, dia langsung memanjat pohon tinggi dan tidak mau turun sementara Septi selalu berusaha untuk mencari jalan kembali ke kandang. Di hari kedua, Septi masih hanya bermain di tanah. Lalu Alouise tidak memanjat, dia hanya bermain di dekat Septi. Beberapa kali orangutan Annie mencoba mengajak Alouise bermain, tapi Alouise malah menggigit dan mencari perlindungan ke Septi. 

Ikuti terus perkembangan Alouise bersama Septi ya, dan jangan lupa donasi melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan (WET)

SATWA DI KUM KUM BELUM TERDAMPAK KEBAKARAN LAHAN KALTENG

Kebakaran lahan untuk wilayah Kalimantan Tengah di musim kemarau kembali terjadi. Sudah sebulan terakhir ini, Manggala Agni Palangkaraya bekerja keras memadamkan api. Ini bukan pekerjaan mudah, lahan gambut menyimpan bara di dalamnya. 

Centre for Orangutan Protection dengan tim APE Crusader bergerak cepat ke provinsi Kalimantan Tengah. Tentu saja, keselamatan satwa yang terdampak kebakaran lahan menjadi fokusnya kali ini. “Kondisi asap yang dikawatirkan sampai ke lokasi Taman Wisata Kum Kum, Kalimantan Tengah ternyata tidak begitu berdampak pada satwa. Kum Kum terlihat sepi. Kandang satwa cukup bersih, kecuali kandang elang. Namun sayang miskin enrichment yang dapat membantu satwa berperilaku seperti satwa liarnya.

Dua binturong dan satu elang bondol tercatat sebagai satwa yang dilindungi UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dan tiga beruk, satu buaya muara dan satu monyet ekor panjang. Kondisinya masih jauh dari lima kebebasan kesejahteraan satwa. Bantu satwa liar di Taman Satwa Kum Kum yuk. (HER)

DIRGAHAYU INDONESIAKU DARI COP BORNEO

Damainya hutan penelitian Labanan, Berau, Kalimantan Timur tak sesunyi biasanya. Tawa dan jeritan silih berganti. Tak lama kemudian keheningan diikuti nyanyian lagu kebangsaan berkumandang. Upacara mengibarkan bendera merah putih di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo sangat berbeda dengan upacara di tempat lain. 

Hiduplah Indonesia Raya… mengheningkan cipta dan renungan atas peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia menjadi acara inti. Perbedaan agama maupun suku para staf maupun karyawan COP Borneo semakin mengingatkan kita, berbeda-beda tetap tetap satu jua, menyelamatkan orangutan Indonesia. 

Hebohnya saat perlombaan masa kecil kembali digelar pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia. Lomba makan kerupuk! Berusaha selebar-lebarnya membuka mulut dan memakan kerupuk yang diikat seutas tali dengan tangan kebelakang tanpa boleh menyentuh kerupuk tersebut. Rasa kesel ngak bisa menggapainya sekaligus lucu… benar-benar membuat tim tertawa lepas. Belum lagi lomba memasukkan paku ke dalam botol. “Paha dan betis sudah capek menahan tapi usaha masih belum berhasil juga.”.

Terimakasih para pahlawan, yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara. Kami akan melanjutkan perjuanganmu dan mengisi kemerdekaan ini untuk Indonesia yang lebih baik lagi. “Tahun depan kalian harus merayakan kemerdekaan Indonesia di COP Borneo.”. (DAN)

SAAT KALTENG BELUM JUGA MERDEKA DARI ASAP

Ada tiga titik panas indikasi api di sekitaran Palangkaraya pada 17 Agustus 2019, tepat saat sebagian besar masyarakat Indonesia sedang memperingati detik-detik kemerdekaan Indonesia 74 tahun yang lalu. “Sayang, Kalimantan Tengah masih harus berjuang memadamkan api. Palangkaraya masih juga belum merdeka dari asap.”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection di lokasi kebakaran lahan.

Jalan Soekarno, Palangkaraya, Kalimantan Tengah dengan dua titik lokasi kebakaran lahan dan satu titik kebakaran lahan di Jalan Mahir Mahar. Dari informasi yang dihimpun, hampir setiap tahun lahan tersebut terbakar. Dan ketika kami berada di lokasi kebakaran terbesar terjadi di Jalan Mahir Mahar dimana api hampir setinggi tiang listrik. 

Bekas lokasi yang terbakar menimbulkan asap yang cukup pekat. Semakin diperburuk dengan arah angin yang berubah-ubah. “Memang bukan di kota Palangkarayanya, lokasi kebakaran lahan menuju arah luar kota dari Palangkaraya. Sebaiknya masker dan pelindung mata tetap dipergunakan. Tapi bagaimana dengan nasib satwa? Untuk satwa yang terdampak, kami, tim APE Crusader berusaha menolong. Jika ada informasi satwa liar yang terdampak kebakaran lahan, mohon untuk menghubungi Cenre for Orangutan Protection melalui media sosialnya.”, ujar Daniek Hendarto lagi. (HER)