SARANG BARU INI MILIK SIAPA YA?

Pertengahan tahun 2025 menjadi bulan-bulan yang cukup mencekam di Busang. Bagaimana tidak, setiap hari hujan mengguyur dengan deras, air sungai naik dan angin kencang menyertai hari-hari tim APE Guardian di Pos Monitoring Orangutan. Pada tanggal 27 Juni yang bertepatan dengan hari Jumat, akhirnya matahari menampakkan sinarnya, setelah seminggu penuh langit diselimuti awan hitam. Tim APE Guardian akhirnya bisa sedikit leluasa untuk melakukan patroli rutin di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Paagi hari ditemani cuaca yang cerah, ranger bersiap dengan peralatannya, siap tempur untuk patroli.

Sebelum semakin panas, kami berangkat menyusuri Sungai Menyuq menggunakan perahu, kami pun bergerak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengecek kembali temuan-temuan sarang lama yang pernah kami jumpai. Setelah kurang lebih 30 menit , tim menjumpai sebuah sarang kelas 2, terlihat dari bagian daunnya yang masih hijau. Tim berhenti sebentar dan mendekat ke pohon dimana terdapat sarang. “Wah ada orangutan bang di atas”, ucap Nigo, salah satu ranger APE Guardian. Tak disangka, dari balik dedaunan yang rimbun tersebut kami menjumpai individu orangutan liar induk dan anak yang sedang memakan buah Dracontomelon dao atau orang lokal menyebutnya buah baran.

Selayaknya seorang ibu, induk orangutan sangat sensitif apabila ada gangguan yang dirasa bisa mengancam anaknya. Ketika kami mencoba semakin mendekat ke arah pohon yang mereka tempati, sang induk mengeluarkan kiss-squeak dan mematahkan ranting-ranting pohon. “Awas Igo!”, teriak Yusuf anggota tim APE Guardian yang lain, karena orangutan tersebut melemparkan ranting pohon yang cukup besar dan hampir mengenai badan. Supaya kondisi orangutan tidak terganggu, tim perlahan melangkah mundur ke perahu dan mengamati dari kejauhan.

Kurang lebih 20 menit telah berlalu, induk orangutan dan anak teramati masuk kembali ke dalam Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Sangat senang rasanya berjumpa dengan orangutan di kawasan pelepasliaran ini dengan kondisi yang baik. Tim APE Guardian bertekad untuk menjaga salah satu rumah yang tersisa bagi orangutan untuk tetap hidup dan lestari. (YUS)

PANSY: GROWING MORE CONFIDENT AND INDEPENDENT

July 2025 was a colorful chapter for Pansy at the BORA rehabilitation center. Almost every day, she showed renewed enthusiasm, climbing higher and exploring further in forest school. At the beginning of the month, Pansy still appeared cautious, often observing from a distance, especially when the sound of an excavator from the island enclosure construction site could be heard. However, after being moved to a quieter location, Pansy began to reveal her more explorative side, climbing up to 20 meters high and joining other orangutans to eat san fruit (Dracontomelon dao) in the treetops.

As the days passed, Pansy became increasingly active in social interactions, particularly with Cinta and Mabel. She often followed them while foraging and traveling through the canopy, as if she found a sense of safety and comfort in their presence. She also began to show curiosity toward Ruby from a distance and made a few attempts to approach, though she still kept some space. This interest is an important sign that Pansy is beginning to understand and build healthy social relationships within her environment.

Pansy also became more skilled in identifying and utilizing natural food sources. She ate bark, san fruit, as well as shoots and wild flowers. When a light rain fell in mid-month, Pansy even broke off branches and leaves to cover herself, a simple act, yet one that reflected her growing natural adaptability.

Outside of forest school hours, Pansy also showed great interest in the enrichment activities provided. She was enthusiastic in solving small challenges and occasionally competed with Felix for her favorite treats. Even though she sometimes took items from Felix, Pansy wasn’t aggressive, it showed that she had the courage to stand her ground for what she wanted.

In her social interactions, Pansy began to show that she was not only independent, but also capable of becoming part of a group. She no longer simply avoided others, but started opening herself up to their presence. These small daily steps form a crucial foundation for her future in the forests of Borneo. (RAF)

PANSY: SEMAKIN PERCAYA DIRI, SEMAKIN MANDIRI
Bulan Juli 2025 menjadi babak penuh warna bagi Pansy di pusat rehabilitasi BORA. Hampir setiap hari ia menunjukkan semangat baru, memanjat lebih tinggi, dan menjelajah lebih jauh di sekolah hutan. Di awal bulan, Pansy masih terlihat berhati-hati dan lebih sering mengamati dari kejauhan, terutama ketika suara ekskavator dari tempat pembangunan pulau enclosure terdengar. Namun, setelah dipindahkan ke lokasi yang lebih tenang, Pansy mulai menunjukkan sisi eksploratif nya, memanjat hingga ketinggian 20 meter dan bergabung dengan orangutan lain untuk makan buah san (Dracontomelon dao) di atas pohon.
Semakin hari, Pansy terlihat makin aktif berinteraksi, terutama dengan Cinta dan Mabel. Ia sering mengikuti keduanya saat mencari makan dan berpindah-pindah di kanopi, seolah menemukan rasa aman dan kenyamanan dalam kebersamaan itu. Ia juga mulai tertarik mengamati Ruby dari kejauhan dan beberapa kali mencoba mendekat, walau tetap menjaga jarak. Ketertarikan ini adalah sinyal penting bahwa Pansy mulai belajar memahami dan membentuk hubungan sosial yang sehat di lingkungannya.
Pansy juga terlihat semakin mahir dalam mengenali dan memanfaatkan sumber pakan alami. Ia memakan kulit kayu, buah san, hingga tunas dan bunga liar. Saat gerimis turun di pertengahan bulan, Pansy bahkan mematahkan ranting dan dedaunan untuk melindungi dirinya, tindakan sederhana, namun menggambarkan kemampuan adaptasi alaminya yang terus berkembang.
Di luar waktu sekolah hutan, Pansy juga menunjukkan ketertarikan besar terhadap enrichment yang diberikan. Ia antusias menyelesaikan tantangan-tantangan kecil, dan kadang berebut dengan Felix untuk mendapatkan makanan favorit. Meskipun kadang merebut milik Felix, Pansy tidak agresif, lebih menunjukkan bahwa ia punya keberanian untuk mempertahankan keinginannya.
Dalam interaksi sosialnya, Pansy mulai menunjukkan bahwa ia tidak hanya mandiri, tetapi juga bisa menjadi bagian dari kelompok. Ia tidak lagi sekadar menghindar, tetapi mulai membuka diri terhadap kehadiran individu lain. Langkah-langkah kecil yang ia ambil setiap hari adalah fondasi penting menuju masa depannya di hutan Kalimantan. (RAF)

BELAJAR MEMBUAT ENRICHMENT UNTUK ORANGUTAN

Di bawah langit mendung sore, halaman Camp APE Warrior mendadak ramai. Puluhan peserta COP School Batch 15 tampak antusias merangkai potongan selang pemadam kebakaran bekas menjadi sesuatu yang luar biasa penting untuk orangutan yaitu hammock dan bola kotak enrichment. Kegiatan ini bukan sekedar prakarya biasa, tapi merakan sesi praktek tentang enrichment, sebuah teknik penting dalam rehabilitasi orangutan agar tetap aktif secara fisik dan mental selama di pusat rehabilitasi. Dalam dunia orangutan, hammock bukan hanya tempat istirahat, tetapi juga arena bermain, berayun, dan berlatih keseimbangan, terutama bagi bayi-bayi orangutan yang sedang tumbuh dan belajar mengenali lingkungannya.

Dengan penuh semangat, para peserta bekerja berkelompok, mengikat, dan menyusun potongan-potongan selang hingga membentuk hammock merah yang kuat dan aman. Di sisi lain, sekelompok peserta lain asik membuat bola kotak dari lilitan selang yang nantinya bisa diisi buah atau kacang-kacangan untuk mendorong perilaku mencari makan alami orangutan.

Walau tangan kotor dan peluh membasahi dahi, tawa dan obrolan hangat terus terdengar. Ada rasa bangga tersendiri ketika mereka membayangkan hammock buatan tangan mereka akan digunakan bayi orangutan sebagai tempat tidur, dan bola kotak yang ada membuat bayi orangutan penasaran dan sibuk mencari makanan yang tersembunyi di dalamnya.

Kegitan ini bukan hanya soal keterampilan teknis. Lebih dari itu, ini adalah momen penuh makna, sebuah pelajaran nyata bahwa bahkan bahan sederhana seperti selang pemadam bekas bis menjadi alat penting dalam upaya konservasi orangutan. Bagi para siswa COP School ini adalah bukti bahwa konservasi dimulai dari tangan kita sendiri, denga kreativitas, kerja sama, dan kepedulian. (DIM)

CHARLOTTE, CALON PENGHUNI BARU HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Di sebuah pulau hutan hujan tropis yang lebat, yaitu Pulau Dalwood-Wylie yang terletak di Busang, tim APE Guardian yang merupakan bagian dari Centre for Orangutan Protection (COP) kedatangan orangutan betina dari Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) bernama Charlotte.
Riwayat Charlotte bermula dari proses penyelamatan pada tahun 2021. Ia ditemukan di kolong rumah panggung dalam keadaan leher terikat. Kondisinya saat itu sangat memprihatinkan sebelum akhirnya diselamatkan oleh tim COP. Charlotte kemudian dibawa ke pusat rehabilitasi orangutan BORA di Berau. Di sana, ia mendapatkan perawatan intensif, diberi makanan bergizi, serta dipantau kesehatannya secara berkala. Selain itu, ia juga diajarkan keterampilan bertahan hidup di hutan, seperti membuat sarang, mencari makan, dan berinteraksi dengan orangutan lainnya.
Setelah melalui masa rehabilitasi selama beberapa tahun, pada awal bulan Mei Charlotte akhirnya dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran. Pulau ini merupakan tempat transisi bagi orangutan sebelum dilepasliarkan ke alam bebas. Charlotte adalah orangutan yang cerdas, ia cepat beradaptasi dengan lingkungan baru di pulau pra-pelepasliaran.
Pada pagi yang dingin, dengan langit berkabut dan dedaunan bergemuruh, saya segera mengambil kamera untuk memotret Charlotte yang sedang berayun di pohon. Selama pemantauan, Charlotte terlihat memakan berbagai jenis makanan alami yang tersedia di pulau, seperti buah ara, buah akar, buah bayur, kambium, dan daun muda. Kami juga beberapa kali melihatnya memakan bambu muda. Di luar itu, kami tetap memberinya makanan tambahan sesuai rekomendasi dokter hewan COP.
Di pulau pra-pelepasliaran, tim mencoba mengelilingi area untuk mengecek apakah Charlotte sudah mampu membuat sarang. Awalnya, tim hanya menemukan satu sarang kecil. Tiga hari kemudian, ditemukan empat sarang dengan ketinggian berbeda. Tim juga menemukan gundukan di tanah yang diduga sebagai alas tempat Charlotte duduk. Selama pemantauan, Charlotte tampak aktif berpindah dari hulu ke hilir pulau, dan sesekali muncul di depan pos monitoring.
Hingga saat ini, Charlotte terus menunjukkan perkembangan perilaku yang positif. Kini, ada dua sarang baru yang dibuat olehnya. Selain itu, Charlotte mulai lebih menyukai buah hutan yang diberikan oleh ranger dibandingkan dengan sayuran. Ia juga terlihat lebih aktif dibanding bulan sebelumnya, seakan menunjukkan bahwa dirinya siap untuk menjelajahi habitat yang lebih luas lagi. (LUT)

KISAH PENYELAMATAN ORANGUTAN ANSHAR YANG MENGGETARKAN HATI

5 Februari 2025, sebuah video pendek menyebar seperti api di media sosial. Gambar buram orangutan besar yang berjalan di tengah kawasan tambang membuat banyak orang tersentak. Di tengah landskap tambang yang gersang, kehadiran makhluk berambut itu terasa seperti seruan permintaan tolong dari alam. Orangutan, spesies yang terancam punah dan dilindungi, tak seharusnya berada di sana. Hutan yang dulu menjadi rumahnya kini berbatasan dengan perkebunan sawit dan kawasan tambang, sebuah dunia yang asing dan penuh bahaya baginya.

Melihat video tersebut, BKSDA Kaltim tak membuang waktu. Dengan sigap, tim WRU SKW II Tenggarong berangkat menyelamatkan makhluk luar biasa ini dari nasib tak pasti. Tim bertemu dengan warga setempat yang pertama kali merekam video viral itu. “Dia muncul di pagi hari, biasanya sendirian”, ujar salah seorang warga dengan mata penuh kekhawatiran. Dari cerita mereka, tim tahu bahwa orangutan ini bukan tamu biasa. Ia adalah individual jantan besar, mungkin tersesat atau terdesak dari habitat aslinya oleh perluasan tambang dan kebun sawit. Ditambah lagi informasi penampakan orangutan tersebut sedang memakan umbut sawit di dekat hutan karet, sebuah tanda bahwa ia berjuang mencari makanan di lingkungan yang tak ramah.

Hutan karet yang lebat dengan tanah basah menyambut mereka, namun tak menghentikan kesigapan tim untuk menyelamatkan orangutan tersebut. Di antara pepohonan, orangutan jantan perkasa dengan bobot lebih dari 70 kg membuat tim terkagum-kagum, tapi bukan saatnya. Orangutan adalah satwa cerdas dan kuat, menyelamatkannya bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan koordinasi yang matang untuk memblokir pergerakan orangutan. Senjata bius disiapkan, jaring diatur, dan setiap anggota tim penyelamatan mengambil posisi. Jantung mereka berdegup kencang saat menunggu momen yang tepat. “Sekarang!”, seru salah seorang anggota tim dan sebuah peluru bius melesat mengenai sasaran dengan presisi. Ketegangan belum usai, Orangutan itu memanjat pohon dengan gerakan pelan lalu dengan keadaan tidak sadarkan diri terjatuh pada jaring yang sudah ditarik tegang anggota tim. Usianya sekitar 17 tahun, masih muda, tanpa luka namun cukup besar untuk menjadi simbol kekuatan alam yang rapuh di tangan manusia. Evakuasi selesai, tetapi misi belum berakhir. Anshar begitu namanya, akhirnya dibawa menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah kawasan yang masih hijau dan liar, tempat ia kembali menjadi bagian dari alam.

Rabu, 12 Februari pukul 13.00 WITA, di tengah lebatnya hutan, kandang angkut Anshar dibuka. Matahari siang menyelinap melalui kanopi hutan, menerangi rambutnya yang bercahaya. Dengan langkah ragu namun penuh makna, Anshar melangkah keluar. Udara segar hutan memenuhi paru-parunya dan suara burung serta gemerisik daun seolah menyanyikan lagu penyambutan. Ia menoleh sekilas ke arah tim yang telah menyelamatkannya, lalu menghilang ke dalam lebatnya hutan, kembali ke tempat ia seharunya berada. Translokasi Anshar bukan sekedar akhir dari sebuah operasi penyelamatan, di bawah naungan pohon-pohon tinggi, Anshar melangkah menuju kehidupan barunya. Mungkin suatu hari, anak-anaknya akan mengisi hutan dengan kehidupan. Dan mungkin, cerita ini akan terus menginspirasi kita untuk tidak menyerah pada pelestarian alam, satu orangutan pada satu waktu.

Betul, tulisan ini akhirnya dibuat setelah video orangutan berada di areal tambang bulan Februari kembali ramai lagi di awal bulan Juni 2025 ini. Terima kasih atas kepedulian warga net, kini Anshar sudah aman. (AGU)

BANJIR MEMBUAT COP PUTAR BALIK UNTUK KUNJUNGI SMAN 2 BUSANG

Beberapa hari lalu, Busang diguyur hujan terus-menerus dan mengakibatkan kenaikan debit air sungai yang tinggi. Beberapa desa dari Kecamatan Kutai Timur mengalami imbas dari air pasang yang mencapai tepi jalan desa. Debit air yang tinggi adalah salah satu permasalahan yang sering dihadapi, saat kondisi air sungai meluap. Beberapa akses jalan tertutup dikarenakan banjir dan membuat beberapa agenda aktivitas kerja terhenti.

Terik mulai kembali, tetapi air tetap tak kunjung surut menutupi jalan utama. Tim APE Guardian bergegas memastikan jalan menuju desa Rantau Sentosa dimana SMAN 2 Busang berada. Usaha mencari informasi akses jalan yang bisa dituju hingga batas Desa Long Lees dan Long Pejeng yang merupakan jalan utama pun menemukan titik terang. “Coba kalian lewat gunung jalan baru yang tembus ke tugu”, kata Eka salah satu warga Long Lees. “Banjir bukan halangan, tapi jika sepinggang? Kita pulang”, kata Rindang Angka, anggota tim APE Guardian dengan nada tawa bercanda.

Beberapa menit telah terlewat, putaran ban mobil mulai melambat, kami pun tiba di depan desa Rantau Sentosa dengan penuh dugaan, dengan adanya beberapa kendaraan yang berlawanan arah, dugaan itu pun semakin kuat dan benar saja, air terlihat di atas permukaan jalan. Satu titik banjir berhasil dilewati dengan jarak yang tidak terlalu jauh dan dalam. Titik lokasi banjir kedua berusaha tetap dilanjutkan, setelah semakin maju ternyata cukup jauh dan dalam hingga lebih sepinggang orang dewasa. Berhenti sejenak merencanakan rencana lanjutan, sembari menunggu informasi dari pihak sekolah, tidak lama pihak sekolah memberi kabar dikarenakan banjir, murid-murid diliburkan.

Hari pun berganti, di keesokan harinya, kami pun kembali menuju ke desa Rantau Sentosa. Cuaca yang cerah serta cahaya matahari memulai senyum dari sambutan hangat guru dan murid saat tiba di sekolah. Perkenalan 56 remaja dari kelas 2 SMA pun dimulai, semakin kenal dan bertambah bobot dengan materi, “Orangutan dalam naungan konservasi”, mari ambil peranmu! (Guardian).

KABAR CERIA DARI BABY HOUSE: PETUALANGAN KECIL PARA ORANGUTAN MUDA

Sabtu pagi di Baby House BORA kembali dipenuhi semangat belajar dari para orangutan muda yang sedang menapaki tahap awal kehidupan liar. Di bawah pengawasan penuh kasih dari babysitter Rara dan Fara, mereka menunjukkan perkembangan perilaku yang menjanjikan. Mulai dari eksplorasi, interaksi sosial, hingga kemampuan mencari makan sendiri.

Felix menjadi bintang hari ini. Ia mengikuti sesi sekolah hutan pagi sendirian dan menunjukkan jiwa eksplorasinya yang semakin kuat. Tanpa kehadiran orangutan lain yang lebih dominan ataupun stimulasi intensif dari babysitter, Felix mulai lebih percaya diri menjelajahi area hutan di barat daya karantina. Ia memanjat sendiri di pohon-pohon rendah, mencari makan dari pohon mati, daun, hingga buah kopi mentah. Meski sempat tampak cuek, suara dari animal keeper lain yang sedang memantau sekolah hutan membuatnya tertarik, ia langsung mengamati dan mendekati babysitter.

Sementara itu, di dalam kandang, Arto dan Harapi menunjukkan interaksi sosial yang erat. Mereka saling membersihkan diri dan makan bersama. Arto tampak banyak belajar dari Harapi, dari jenis daun yang bisa dimakan hingga mengamati proses makan daun langsung dari mulut Harapi. Momen ini menjadi cerminan proses belajar sosial yang sangat penting bagi orangutan muda.

Ochre mengisi waktunya dengan bermain ranting dan daun. Ia tertarik pada batang berlumut dan mencoba mengupas kulitnya perlahan, menunjukkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan enrichment berupa bola berisi potongan sayuran yang mendorong mereka untuk berpikir dan mencari solusi.

Siangnya, giliran Harapi yang mengikuti sesi sekolah hutan sendiri. Ia tampak senang mengunyah kulit kayu dan kambium, baik dari atas pohon maupun yang ia jatuhkan ke lantai hutan. Menariknya, kemampuan berpindah antar pohonya kini semakin baik. Ia bisa membedakan mana batang yang kuat, mana yang rapuh, menunjukkan kemajuan dalam penilaian risiko. Saat turun ke tanah pun, Harapi tak lagi meluncur sembarangan, melainkan memanjat turun dengan aman.

Di area kandang baby house, Arto yang biasanya rewel jika ditinggal Harapi, siang ini tampil lebih tenang. Di area playground baby house, Pansy dan Felix sibuk menjelajah dan mencari makan, sambil sesekali mengamati gerak-gerik babysitter. Pansy pun tampak nyaman dengan lingkungannya, bergerak aktif dan menjelajahi area sekitar dengan percaya diri.

Dari interaksi sosial yang hangat hingga keberanian menjelajah hutan, anak-anak orangutan penghuni baby house terus memperlihatkan kemajuan yang membanggakan. Setiap daun yang dicicipi dan setiap dahan yang dipanjat menjadi bagian dari proses panjang mereka menuju kehidupan liar yang mandiri. (RAF,FAR,RAR)

PENANAMAN DI BORNEO ORANGUTAN RESCUE ALLIANCE

Penghijauan dan pengayaan pohon pakan alami di sekitar area rehabilitasi orangutan Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) merupakan perbaikan kualitas lingkungan sekitarnya, tidak hanya sebagai langkah pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan langsung terhadap kebutuhan ekologis orangutan yang tengah menjalani proses rehabilitasi. Tidak hanya animal keeper tetapi tim COP (Centre for Orangutan Protection) lainnya yang sedang mampir di BORA ikut terlibat.

Proses penanaman diawali dengan pembuatan lubang tanam di titik-titik yang telah direncanakan. Setelah itu, bibit-bibit pohon ditanam secara bersama-sama. Setiap bibit kemudian diberi pupuk kompos yang berasal dari hasil olahan sampah organik kandang orangutan. Penggunaan kompos ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah organik di BORA, sekaligus sebagai cara alami untuk memperkaya nutrisi tanah di lokasi penanaman.

Penanaman berjalan dengan lancar dan penuh semangat. Cuaca yang mendukung turut memberikan suasana yang kondusif sepanjang kegiatan. Harapannya, bibit-bibit pohon yang ditanam ini kelak akan tumbuh menjadi bagian dari habitat pendukung yang penting bagi orangutan, sekaligus memperkuat keseimbangan ekosistem di area rehabilitasi. Ya, COP terus menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan alami bagi satwa yang tengah rehabilitasi, serta memperkuat kinerja antar tim dalam aksi nyata konservasi. (RAF)

TALKSHOW KOLABORASI HARI BUMI DI LABORATORIUM BIOLOGI UGM

Langit Yogyakarta menguncup perlahan pada 9 Mei 2025, saat rintik hujan turun bak salam bumi kepada manusia yang berkumpul di Laboratorium Biologi UGM. Di sinilah talkshow “Cerita dari Jogja: Alam Bukan Warisan, Tapi Titipan” bergulir sebagai kelanjutan dari aksi Hari Bumi di Malioboro, sebulan sebelumnya. Para pembicara tak datang membawa materi kosong, mereka datang dengan napas hutan. Indira Nurul (COP) yang menyuarakan jeritan orangutan dari balik kabut api, Fara Dini (Javan Wildlife) yang menafsir ulang konservasi sebagai relasi hidup, dan Ignas Dwi Wardhana, sang fotografer satwa yang tak berbicara banyak karena fotonya sudah lebih dari cukup untuk mengguncang.

Di tengah guyuran hujan, suasana mendadak magis saat Pentas Tari Owa dibawakan langsung oleh keturunan asli Suku Mentawai. Tubuhnya menari bukan sekedar dengan gerak, tapi dengan jiwa. Ia menyampaikan kisah primata yang kehilangan hutan, rumah, dan waktu.Gerakan yang menyentak, patah, lalu perlahan mengalir seperti sungai di pedalaman. Senja pun tiba dan layar lebar menyala. Film-film dari Forum Film Dokumenter (FFD) Jogja dan 4K Jogja mulai bicara, tentang tanah yang digadaikan, hutan yang dipecundangi, dan manusia-manusia kecil yang bertahan melawan sunyi. Tak ada yang bergerak gegas, semua larut dalam perenungan yang lembab dan jujur.

Pukul 17.30 WIB, acara usai. Tapi bukan akhir yang terasa melainkan awal dari benih kecil yang tumbuh di kepala-kepala muda. Sebuah bisikan baru bahwa menjaga alam bukanlah proyek besar yang menunggu dana jutaan, tapi keputusan harian yang bisa dimulai hari ini. Di sore yang basah itu, Jogja menyampaikan satu pesan yang tidak mudah dihapurshujan. Bumi memang bukan warisan, ia adalah titipan dan sudah waktunya kita bersiap menjadi penjaganya. (DIT)

KATA FARA, BABYSITTER BORA TENTANG BAYI ORANGUTAN

Tiap lihat anakan orangutan, selalu menyempatkan 10 detik untuk memperhatikan ibu jari kaki mereka (karena unik). Ibu jari tangan mereka masih ada kukunya, sedangkan di kaki engga ada. Tapi ada juga individual yang ibu jari kakinya punya kuku kecil banget, setitik.

Ibu jari mereka berukuran jauh lebih pendek dan posisinya berlawanan daripada keempat jari lain (opposable thumb). Struktur jari ini mendukung aktivitas dan pergerakannya di atas pohon. Mulai dari genggaman ke batang, cabang, liana, atau akar gantung untuk pindah tempat, sampai memetik daun, tunas bahkan buah untuk dimakan.

Ternyata, anakan orangutan selalu pilih batang pohon berdiameter kecil atau akar gantung untuk dipanjat. Diameter substrat yang kecil lebih mudah untuk mereka menggenggam dan me-minimalisir tergelincir jatuh. Tapi di beberapa momen mereka masih sering merosot seperti meluncur dari atas pohon besar secara tiba-tiba. Kayak kalau digigit semut rang-rang, dengar suara asing yang keras, ada orang asing mendekat, atau ketika liat buah pancingan yang ranum.

Faradiva Zahra Maharani, seorang sarjana Biologi dari Universitas Diponegoro yang saat ini menjadi babysitter di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). (FAR)