Pada pertengahan September, tim APE Guardian COP melakukan patroli menuju salah satu ladang masyarakat. Ladang itu dilaporkan mengalami interaksi negatif dengan orangutan. Pemilik ladang menceritakan bahwa dua hari sebelumnya terdengar suara patahan ranting di sekitar lokasi, meskipun orangutan tidak terlihat langsung. Dari penelusuran ditemui ranting yang patah, “Sepertinya benar, ini bekas lintasan orangutan”, ujar Igo, ranger APE Guardian. Dedi menambahkan bahwa di tanah juga terlihat jejak yang kuat mengarah ke ladang. Meskipun orangutan tidak terlihat saat patroli, tapi temuan ini menjadi bukti bahwa satwa tersebut sempat melintas di sekitar area ladang.
Setelah melakukan pemeriksaan, tim melanjutkan kepitan dengan mencari pakis di sekitar hutan untuk dijadikan sayur. Suasana patroli hari itu cukup tenang, memberi kesempatan tim memanfaatkan hasil hutan secara sederhana sambil tetap menjaga kewaspadaan.
Keesokan harinya, tim melanjutkan patroli, kali ini menuju pondok milik Pak Nisa. Minggu sebelumnya, ladangnya sempat kedatangan orangutan, sehingga tim kembali melakukan pengecekan ulang. Perjalan ditempuh dengan menyusuri jalan setapak di hutan. Sesampainya di pondok, tim berbagi lokasi penyisiran. Dari pengamatan hari itu, tidak terlihat tanda baru, tidak ada jejak, tidak ada ranting patah, dan tidak ada tanda aktivitas orangutan. Situasi ladang terpantau aman.
Tim pun melanjutkan ke arah hilir Muara Sungai Menyuk. Di sana Dedi menemukan dua sarang orangutan di pepohonan tinggi. Belum bisa dipastikan individu mana yang membuat sarang itu. Tak jauh dari muara, tim berjumpa dengan segerombolan berang-berang. “Jarang-jarang kita bisa menyaksikan momen seperti ini”, ujar Angka Wijaya. Berang-berang Kalimantan yang biasanya dimasukkan dalam genus Lutra ini pun menambah keanekaragaman hayati Ekosistem Busang. (ENG)
APE Guardian adalah nama Tim COP (Centre for Orangutan Protection) yang melindungi kawasan pelepasliaran orangutan di Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tak hanya memastikan orangutan yang telah dilepasliarkan di Ekosistem Busang ini dalam kondisi baik, dengan melaksanakan patroli maupun inventarisasi, tapi juga segara menanggapi laporan konflik manusia dengan satwa liar di kawasannya. Tentu saja mencegah akan lebih baik melalui edukasi ke sekolah-sekolah.
Akhirnya, APE Guardian pun menghampiri SMK 1 Kongbeng. Suasana kelas dipenuhi lebih dari 110 siswa yang bersemangat mengikuti sesi edukasi tentang orangutan. Andika, Orangufriends Samarinda mengenalkan apa itu morfologi, perilaku, serta kemiripan genetik orangutan dengan manusia.
Antusiasme semakin terasa ketika siswa berebut menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan tim. Diskusi juga menyentuh kasus orangutan di India yang tengah diperjuangkan kepulangannya ke tanah air melalui petisi internasional. Ajakan untuk ikut menandatangani petisi itu disambut serius, menumbuhkan kesadaran kolektif bawah perlindungan satwa liar adalah tanggung jawab bersama.
Sebagai penutup, seluruh peserta diajak keluar kelas untuk bermain. Gelak tawa dan sorak-sorai mewarnai lapangan, menjadikan kunjungan ini bukan hanya sesi belajar, melainkan juga perayaan semangat muda dalam menyambut Bulan Orangufriends, bulan para relawan orangutan berperan. (YUS)
Hari Badak Sedunia 2025 kembali dirayakan, namun bukan dengan berita suka cita, melainkan dengan realita yang mengiris hati. Di balik perayaan, ada data yang bagai tamparan keras dari kolaborasi Centre for Orangutan Protection (COP), Kepolisian Republik Indonesia, dan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) yaitu tiga kasus perdagangan cula badak terungkap dalam setahun terakhir, melibatkan sembilan pelaku. Angka ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan kejahatan satwa liar masih jauh dari kata usai.
Penangkapan sembilan orang ini memang sebuah keberhasilan, tetapi di saat yang sama, ia mengungkap kerentanan badak di alam liar. Kenapa perdagangan ini terus terjadi? Jawabannya klasik, “ada permintaan, pasti ada pasokan”. Cula badak, benda yang sepintas terlihat tidak berharga, di pasar gelap bisa dihargai hingga ratusan juta rupiah per kilogram, bahkan mengalahkan harga emas.
Mengapa bisa semahal itu? Karena ada mitos yang sudah mendarah daging, yang menyatakan bahwa cula badak memiliki kekuatan penyembuhan. Di beberapa negara Asia, cula dipercaya bisa mengobati demam, sakit kepala, bahkan kanker.Tapi mari kita luruskan, ini hanyalah bualan belaka. Secara ilmiah, cula badak terbuat dari keratin, materi yang sama dengan kuku dan rambut kita. Coba bayangkan, adakah orang yang sembuh dari kanker dengan memakan kuku manusia? Tentu tidak. Mitos inilah yang jadi bahan utama perdagangan brutal ini.
Perburuan yang dipicu mitos ini tidak hanya mengancam kelangsungan hidup badak, tetapi juga merusak tatanan ekosistem. Badak bukan sekadar satwa besar, mereka adalah ‘insinyur ekosistem’. Dengan memakan tumbuhan dan menyebarkan benih lewat kotorannya, mereka membantu menjaga hutan tetap sehat dan beragam. Ketika populasi badak berkurang, keseimbangan alam terganggu. Regenerasi hutan terhambat, keanekaragaman hayati menurun, dan ekosistem menjadi lebih rentan terhadap ancaman seperti perubahan iklim.
Kita tidak bisa membiarkan kebodohan yang berakar dari mitos merenggut masa depan badan dan hutan kita. Penangkapan para pelaku ini adalah langkah penting, tetapi perjuangan sesungguhnya ada di tangan kita semua. Edukasi harus digencarkan untuk membasmi mitos, dan penegakan hukum harus diperkuat untuk memutus mata rantai perdagangan ilegal.
Hari Badak 2025 harus menjadi momentum bagi kita untuk sadar, bahwa melindungi badak sama dengan melindungi diri kita sendiri. (DIT)
Ketika kita melakukan pencarian di mesin pencari, nama Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat memang masih sangat sedikit yang mendeskripsikannya. Bahkan kalangan akademisi seperti dosen di kampus saya belum begitu mengetahuinya. Jika dibandingkan dengan kawasan konservasi yang populer di Kalimantan Timur seperti Hutan Lindung Sungai Wain, HL Gunung Batu Mesangat masih terdengar asing di telinga banyak orang. Keasingan tersebut memicu rasa ingin tahu saya untuk menelusuri lebih lanjut. Hai, saya Andika Widiyanto Ramadhani, selamat menikmati kisah perjalanan praktik kerja lapangan saya menelusuri surga hayati “asing’ di Kalimantan Timur.
Perjalanan dimulai dari rumah “kedua” saya, apalagi kalau bukan kampus tercinta FMIPA Universitas Mulawarman. Setelah berpamitan dengan dosen serta teman-teman, saya membawa barang bawaan saya yang sudah seperti pindah rumah itu ke mobil travel. Layaknya kegiatan outdoor, mobil yang saya tumpangi melewati beragam halang rintangan terutama kontur jalan. Perjalanan darat Samarinda-Busang melewati jalan perkebunan hingga tambang yang “mood-mood-an” mulai dari berlubang, becek, hingga licin. Beberapa kali terlihat pengendara motor yang terjatuh akibat jalan basah diguyur hujan. Setelah melalui 8 jam rintangan dengan aman dan selamat saya menginjakkan kaki di Desa Long Lees, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.
Bukan tanpa alasan desa ini dikatakan sebagai jantung dari Kecamatan Busang, karena seluruh pusat pemerintahan memang terletak di Desa Long Lees. Meski didominasi suku lokal seperti Dayak, kehidupan di sini rukun dengan masyarakat pendatang dari beragam suku, ras, dan agama yang menetap hingga pencari rupiah. Setiap pagi, terdengar doa-doa serta renungan pagi dari gereja yang terletak di dekat mess Centre for Orangutan Protection (COP). Belajar secuil bahasa lokal pun tak terhindari, “uman ading”, ya ini adalah yang paling saya ingat yang berarti ‘ayo makan”. Saya pun terkejut dengan perjalanan menyusuri sungai menggunakan perahu ketinting yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam menuju Pos Monitoring APE Guardian, bahkan merasakan cuaca cerah hingga hujan deras menjadi pelengkapnya. Meskipun di tengah rimbanya hutan belantara, pos APE Guardian sudah dilengkapi beragam teknologi pendukung seperti listrik, panel surya, genset, hingga jaringan internet yang akan menyala pada waktu tertentu saja.
Keesokan harinya, penelusuran surga hayati asing pun dimulai, kembali lagi saya menaiki ketinting, mengarungi deras dan dangkalnya sungai di hulu. Namun pesona jernihnya air benar-benar membuat perjalanan terasa menyegarkan. Pemasangan camera trap sebagai mata-mata untuk mengamati penduduk satwa hutan lindung pun menjadi tugas pertama. Selanjutnya, saya mengamati para ranger yang bertugas memberi makanan tambahan untuk orangutan yang berada di dalam pulau Dalwood Wylie dari ketinting. Beruntung sekali bisa melihat langsung orangutan yang merupakan calon penjaga hutan dengan jelas, tidak terlalu jauh dari posisi saya, sebelumnya saya hanya pernah melihatnya di dunia maya.
Merupakan suatu kebagian tersendiri buat saya ketika terlibat dalam pelepasliaran orangutan bernama Popi. Popi yang telah diselamatkan dan menjalani rehabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tim Post Release Monitoring (PRM) kocar-kacir mengikuti pergerakannya. Daun demi daun, buah demi buah disantap dengan lahap oleh Popi. Beruntungnya lagi, saya menyaksikan reuni orangutan yang awal tahun lalu dilepasliarkan terlebih dahulu, yaitu Bonti dengan Popi.
Tugas tim APE Guardian COP ternyata tidak hanya itu saja, laporan adanya orangutan memakan hasil kebun milik warga desa Long Lees pun harus segera ditanggapi. Kami pun segera ke kebun Tamen Nisa, melihat kehadiran kami, orangutan tersebut bergegas pergi menjauh. Tim pun melakukan patroli untuk memastikan keberadaannya. Kami pun menemukan sarang yang dibangun orangutan tersebut. Syukurlah, dia semakin masuk ke lebatnya hutan.
Selain patroli, saya pun menikmati beragamnya makhluk indah bersayap melalui kegiatan birdwatching dan pesona hewan amfibi dan melata melalui kegiatan herping. Dari kedua kegiatan tersebut, herping menjadi salah satu kegiatan unik. Di saat yang lain istirahat, pada malam hari kami harus berangkat masuk ke HL Gunung Batu Mesangat. Satu makhluk yang menjadi perhatian saya adalah katak bertanduk. Mata menyalanya yang berwarna merah membuatnya semakin sangar dengan badan yang berukuran sebesar kepalan tangan saya. Semoga ke depannya, surga hayati ini semakin dikenal dengan keindahan dan pesona penduduk di dalamnya. (Andika_volunteer)
Giliran SMP 1 Kongbeng yang menjadi tujuan School Visit Tim APE Guardian COP (Centre for Orangutan Protection). Sebanyak 50 siswa mengikuti sesi interaktif yang mengupas banyak hal, mulai dari jenis-jenis orangutan di Indonesia, fungsi hutan sebagai habitat penting, hingga ajakan mendukung kampanye perlindungan satwa liar.
Materi disampaikan dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami siswa. Antusiasme mereka terlihat dari rasa penasaran yang muncul sepanjang diskusi. Saat penutup, tim mengajak siswa ke lapangan untuk bermain “orangutan, pemburu, dan penebang pohon”, yang membuat suasana semakin meriah.
Di akhir kegiatan, seorang siswi bernama Aida menyampaikan kesannya, “Dengan adanya kegiatan semacam ini, kami jadi tahu jenis-jenis orangutan di Indonesia dan bahwa mereka dilindungi oleh Undang-Undang. Ke depannya saya berharap orangutan tetap lestari dan dapat dilindungi dengan baik di alam.”. Ucapan Aida menjadi pengingat bahwa semangat menjaga alam bisa lahir dari suara sederhana seorang pelajar. (YUS)
Musim hujan telah tiba, intensitas hujan lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Orangutan Asto dan Asih tetap sekolah sebagai rutinitas harian agar mereka semakin terbiasa mandiri di alam liar. Harapannya mereka bisa mencari makan sendiri, membuat sarang, lebih pintar menghindari sesuatu yang membahayakan diri sendiri. Agar mereka lebih kreatif, lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Untuk mendukung secepat mungkin terjadinya tujuan-tujuan tersebut, maka durasi sekolah hutan harian diperpanjang. Sebelumnya durasi sekolah hutan hanya maksimal 4-6 jam sehari, sekarang durasi sekolah hutan dibuat 8 jam setiap harinya.
Pagi hari jam 08.00 WIB keeper membawa Asto dan Asih ke area sekolah hutan. Asto langsung berlari ke pohon terdekat untuk memanjat pohon, kemudian berkeliling di area sekolah hutan, berpindah dari pohon ke pohon untuk mencari makan. Selama sekolah hutan, Asto lebih senang berada di atas pohon. Bahkan hanya untuk menuju pintu keluar kandang, Asto akan memilih jalan melewati pohon ke pohon dibanding berjalan di atas tanah. Perilaku Asto berbaring terbalik dengan Asih yang lebih senang berjalan di atas tanah. Asih teramati sangat penasaran dan juga penuh akal kreatif. Asih sering mencoba kabur melewati pagar listrik. Asih pernah mencoba kabur melewati selokan, pernah mencoba kabur dengan merangkak di bawah kawat listrik dan bahkan pernah mencoba kabur dengan memanjat tiang-tiang pagar listrik.
Saat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, Asto dan Asih akan bermain di sekitar pintu keluar. Namun dikarenakan durasi sekolah hutan lebih panjang dari biasanya, keeper tidak datang untuk menjemput. Asto dan Asih terlihat kebingungan dikarenakan tidak diajak pulang padahal biasanya jam segitu sudah balik ke kandang. Asto dan Asih kembali asyik bermain bersama dikarenakan belum dipanggil untuk pulang. Keduanya pun kembali beraktivitas. Asto naik ke atas pohon untuk beristirahat siang sambil makan di atas pohon, sementara Asih kembali mencari cara untuk kabur dari area sekolah hutan yang dibatasi pagar listrik. (RID)
Beberapa bulan terakhir, patroli tim APE Guardian COP di sekitar kawasan pelepasliaran orangutan menemukan pemandangan berbeda. Di jalur yang dulunya hutan lebat, kini banyak ladang warga yang ditanami sayur buah, hingga sawit. Tak heran kalau orangutan yang sedang menjelajah kadang ikut mampir. Seperti hari itu, dari seberang sungai, tim melihat satu individu orangutan asik memetik pepaya matang dan lahap memakannya, mirip anak kecil yang ketahuan jajan di kebun tetangga! Sayangnya, pemilik ladang yang curiga segera mengusirnya, membuat pertemuan singkat itu harus berakhir lebih cepat.
Melihat kenyataan tersebut, APE Guardian berdiskusi dan merancang pembangunan rumah bibit pohon buah hutan. Tujuannya adalah memastikan orangutan memiliki sumber pakan yang cukup serta menjaga kelestarian habitat di tengah ancaman pembukaan lahan, pembalakan liar, dan perburuan. Pembangunan persemaian ini dilakukan bersama UPT Pertanian Kecamatan Busang serta melibatkan masyarakat setempat dalam penyediaan bibit pohon buah hutan dan perawatannya.
Dengan semangat yang tidak pernah padam, di bawah terik matahari Desa Long Lees, Tim mulai menyiapkan kayu ulin, paranet, paku, chainsaw, parang, dan alat lainnya. Lahan seluas 32 m² dibersihkan dari gulma, kemudian ditandai dan dilubangi untuk tiang penopang paranet. Menjelang sore, awan hitam bergulung dan hujan turun. Di tengah gemercik hujan tim menyelesaikan pekerjaan terakhir, memasang plang rumah bibit.
Pada tanggal 9 September 2025, rumah bibit untuk orangutan akhirnya berdiri. APE Guardian bersama warga sekitar bergotong-royong membangunnya dan dalam waktu satu hari saja bangunan selesai. “Yeayy, sudah selesai!”. Basah oleh hujan, tim berdiri di depan bangunan sederhana bertiang ulin dan beratap paranet. Merenung bahwa rumah bibit ini bukan hanya tempat melindungi bibit pohon, tetapi juga sebuah harapan baru, menjadi pusat edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan dan satwa liar, khususnya orangutan. (LUT)
Pagi itu, sekitar pukul tujuh, suasana di pusat rehabilitasi BORA teduh di bawah langit mendung. Saat itu saya sedang di dalam kantor COP. Dari dapur yang terbuka ke arah hutan belakang kantor, Agung, anggota tim APE Crusader tiba-tiba berseru, “Kang, ada burung biru di tanah!”. Saya segera mengambil kamera dan melangkah ke teras dapur di sisi belakang kantor. Kantor ini berbentuk rumah panggung khas Kalimantan, lantai kayunya ditopang tiang ulin yang kokoh, sementara area dapurnya terbuka langsung menghadap hutan kecil. Dari sana, pandangan saya jelas, hanya enam meter di depan, burung Sempidan Biru jantan (Lophura ignita) sedang mengais serasah basah sisa hujan malam.
Kepalanya biru pucat, dihiasi jambul hitam mungil di atasnya, kontras dengan tubuh berbalut bulu gelap berkilau kebiruan. Ekor cokelat keemasan dan semburat merah didada dan punggung belakangnya semakin menegaskan keanggunan burung ini. Sesekali cahaya redup pagi memantul di sayapnya, menciptakan kilau singkat di antara bayangan pohon. Tak jauh darinya, dua betina dengan bulu cokelat samar menyusuri lantai hutan, nyaris menyatu dengan dedaunan kering dan serasah. Mereka bertiga bergerak pelan, seolah menimbang setiap langkah di tanah yang lembab.
Burung Sempidan Biru Kalimantan adalah satwa endemik yang cukup jarang terlihat. Spesies ini termasuk dalam daftar merah IUCN dengan status Rentan (Vulnerable), terancam oleh hilangnya habitat hutan dataran rendah. Melihat mereka di hutan sekitar kantor menjadi pengingat kuat bahwa hutan di area BORA bukan hanya menjadi zona perlindungan bagi orangutan, tetapi juga bagi satwa liar lain yang sama berharganya.
Dari teras dapur sederhana itu, saya menyaksikan momen istimewa, seekor jantan mencolok ditemani dua betina yang tersamarkan serasah, bergerak bersama dalam senyap pagi hari. Sejenak, halaman belakang kantor berubah menjadi panggung kecil keanekaraman hayati Kalimantan. Momen ini menegaskan satu hal, hutan yang terjaga akan selalu menyimpan kejutan, bahkan sudut yang paling tak terduga. Sempidan biru dengan keindahan dan keberadaannya yang rapuh, menjadi saksi bahwa menjaga ruang alami berarti menjaga kehidupan itu sendiri. (RAF)
Tim APE Guardian bersama Orangufriends (relawan orangutan) mengunjungi SMA 1 Muara Wahau dalam rangkaian Bulan Orangufriends. Sejak awal masuk kelas, siswa-siswi sudah tampak antusias berdialog dengan Tim Centre for Orangutan Protection (COP) itu. Materi dimulai dengan pengenalan konservasi orangutan disambung dengan kisah Andika tentang pentingnya menjaga hutan sebagai rumah terakhir orangutan.
Suasana semakin seru ketika Shaila, salah satu siswi mengajukan pertanyaan unik, “Apakah orangutan bisa mengalami obesitas?’. Dokter hewan COP pun menjawab dengan singkat namun jelas, bahwa obesitas memang bisa dialami orangutan, terutama yang dipelihara manusia dengan pola makan berlebih, tetapi hampir tidak pernah terjadi di alam liar. Jawaban ini membuka wawasan baru bagi para siswa bahwa orangutan pun rentan pada permasalahan kesehatan, sama seperti manusia.
Kunjungan ditutup dengan permainan edukatif “orangutan, pemburu, dan penebang pohon” yang diikuti 50 siswa dengan penuh tawa. Dari sini, SMA 1 Muara Wahau belajar tentang konservasi bukan hanya teori, tetapi juga bagian dari kehidupan nyata yang menyenangkan untuk dipelajari. (YUS)
Sejak lebih dari satu dekade lalu, Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Gakkum Kehutanan dan Kepolisian menelusuri jalur panjang perdagangan trenggiling di Indonesia. Dari hasil operasi sejak 2012 hingga sekarang, sedikitnya 10 ekor trenggiling hidup berhasil diamankan. Selain itu, aparat juga menyita 374 kilogram sisik kering, barang bukti yang menjadi bukti nyata masih kuatnya permintaan di pasar gelap.
Kisah ini bukan hanya soal angka sitaan. Trenggiling, satwa yang kerap dijuluki penjaga senyap, memegang peran penting dalam keseimbangan hutan. Setiap malam, satu ekor trenggiling bisa memangsa puluhan ribu semut dan rayap. Tanpa mereka, populasi serangga perusak berpotensi meledak, merusak kesuburan tanah, melemahkan pohon, bahkan memengaruhi hasil panen masyarakat sekitar. Kehilangannya akan meninggalkan celah besar dalam rantai ekologi yang sulit digantikan.
Namun, nilai ekologis itu tak sebanding dengan harga di pasar gelap. Sisik trenggiling kering dianggap jauh lebih berharga ketimbang keberadaannya di alam. Untuk memperoleh sisik tersebut, seekor trenggiling harus mati. Hilangnya satu individu berarti satu pengendali alami hutan ikut terhapus, dengan dampak berantai yang berujung pada kerugian manusia sendiri.
Permintaan terbesar datang dari Tiongkok. Selama bertahun-tahun, sisik trenggiling dipakai dalam ramuan pengobatan tradisional. Tekanan inilah yang mendorong perburuan besar-besaran hingga menyentuh hutan-hutan di Indonesia. Akan tetapi, situasi mulai berubah. Pada 2020, pemerintah Tiongkok menghapus sisik trenggiling dari daftar resmi bahan baku pengobatan tradisional. Langkah lebih tegas menyusul pada 2025, ketika sisik trenggiling dan seluruh produk turunannya resmi dikeluarkan dari farmakope nasional yang berlaku mulai 1 Oktober 2025. Meski masih ada celah melalui klaim “stok legal”, kebijakan ini dianggap titik balik dalam menekan permintaan global.
Cerita trenggiling memberi pesan penting: perdagangan satwa liar tidak hanya mempercepat kepunahan, tetapi juga meruntuhkan fondasi ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan satu demi satu penjaga hutan ini lenyap, atau justru berani menghentikan rantai gelap yang mengancam keberlangsungan hidup kita sendiri? (DIT)
