APE GUARDIAN THE NEWEST TEAM

Centre for Orangutan Protection hari ini, 17 Juli 2016 memberangkatkan satu tim barunya. Tim ini membawa perbekalan dan keperluan pusat rehabilitasi orangutan COP BORNEO yang sulit ditemukan di Kalimantan. Kedua kru nya berangkat dari camp APE Warrior sore hari dengan perkiraan keesokkan paginya dilanjutkan dengan kapal laut ke Kalimantan.
Tim baru ini diberi nama APE Guardian. APE sendiri merupakan singkatan dari Animal(Satwa), People (Masyarakat) dan Environment (lingkungan). Guardian adalah malaikat pelindung orangutan. Tim ini membantu kedua tim terdahulunya yang berada di Kalimantan untuk melindungi orangutan dari kejahatan dan kekejaman.

UPGRADING COP STAFF FOR THE BETTER RESULT

Minggu kedua ini adalah minggu dimana staf COP melakukan peningkatan kapasitas stafnya. Pelatihan internal tentang pemetaan sederhana menjadi salah satu materi, selain fotografi dan videografi. Ketiga materi ini merupakan kekuatan COP sebagai organisasi yang berada di lapangan, tepatnya garis depan konflik orangutan.

Pengambilan data primer dari narasumber utama adalah suatu keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. Semua itu harus diperkuat dengan bukti. Bukti tidak hanya diperoleh serta merta dengan mudah tanpa usaha. Kemampuan staf yang sudah berpengalaman pun disegarkan kembali dengan diadakannya pelatihan ini.

COP optimis, di semester kedua tahun 2016 ini akan lebih baik lagi. Terimakasih atas kepercayaan para pendukung COP.

BORNEO KU BERPIJAK

Perjalanan pertama ke pulau Kalimantan atau Borneo adalah sebuah pengalaman yang mungkin paling berkesan dari perjalanan-perjalanan berpetualang lainnya. Jumat 18 Juni 2016 saya berkesempatan tuk singgah di pulau nan kaya akan hasil hutannya yang sangat berlimpah, khususnya Kalimantan Timur. Tepatnya di Pusat Perlidungan Orangutan COP Borneo di KHDTK Labanan, Kabupaten Berau – Kalimantan Timur. Setelah kegiatan COP School di bulan Mei 2016 kemarin, selama lima hari di Yogyakarta yang menjadi daerah pusat COP School dan selebihnya selama satu bulan masih menetap di Jogja. Saya memang berniat untuk menjadi Volunteer dan berbekal materi yang diberikan sewaktu COP School mengenai konservasi Orangutan dan satwa liar serta konflik lapangan yang terjadi, pengalaman di sinilah yang menjadi pembelajaran sebenarnya, karena langsung bersentuhan dengan kegiatan yang hanya disampaikan pada saat COP School saja. Keberangkatan saya ditemani dengan seorang rekan bernama Vian asal Yogyakarta. Setiba di Berau, kami dijemput siswa COP School Batch #6 yang tingel di Berau. COP School menjadikan kami punya keluarga dimana-mana.

Minggu pagi 19 Juni 2016, pukul 05.30 WITA terdengar hembusan angin dan suara kicauan burung yang saling bersautan dengan berbagai suara-suara yang sangat indah serta matahari yang masih belum menampakkan sinarnya hanya bias cahaya yang terselip dari tingginya rerimbunan pohon yang di sekitaran camp.

Setelah kesibukan pagi membereskan camp sekitar 08.00 WITA kami sempatkan untuk berbincang sejenak untuk pembagian kinerja dalam aktivitas di COP Borneo. Saya mendapatkan tugas sebagai teknisi yang menjalankan pembuatan enrichment, kebersihan kandang 1 dan 2, jadwal disinfestasi kandang, kebersihan klinik dan gudang pakan, serta beberapa kinerja lainnya di area COP Borneo. Vian mendapatkan pembagian kinerja sebagai keeper yang bertugas untuk membawa Orangutan ke Sekolah Hutan dan menyiapkan susu serta pakan Orangutan.

Seperti kata keeper Jeuri dan Rosel, orangutan Michelle dan Pingpong lebih agresif bila ada orang baru yang datang, lain halnya dengan orangutan Uci. Beda lagi dengan Owi, bayi yang masih berumur sekitar satu tahunan, ingin selalu dipeluk. Aku menjadi ibu untuknya. (PETz)

SLOW LORIS GIPSY GAVE UP

KUKANG GYPSI TIDAK DAPAT BERTAHAN

“Dia datang dalam keadaan kurus dan kaki sebelah kanan belakang terluka serta telapak kanan yang tidak dapat digerakkan lagi.”, jelas Paulinus Kristanto, manajer COP Borneo. BKSDA Seksi I Berau menitipkan Kukang tersebut untuk dirawat di klinik COP Borneo pada 25 Juni yang lalu.

Kukang yang memiliki kebiasaan hidup aktif di malam hari atau sering disebut juga satwa nocturnal. Salah satu satwa yang memiiki tingkat stres tinggi. Seperti kukang Gypsi yang masuk ke klinik COP Borneo ini. drh. Ade Fitria memberikan antibiotik dan anti nyeri, namun Gypsi masih juga menjilati lukanya, sekalipun dia makan dan minum yang banyak.

Gypsi sempat menjalani amputasi pergelangan kaki kanannya. Namun, Gypsi colapse pasca operasi. Sungguh disayangkan, kita terpaksa kehilangan satu satwa yang tidak mudah dijumpai lagi. Berhentilah berkeinginan untuk memelihara satwa liar. Kukang Gypsi adalah salah satu korban perdagangan satwa liar.

“He was very skinny and there was wound on his right foot when he came, and his right hand could not move.” Paulinus Kristanto, the Manager of COP Borneo explained. BKSD Seksi I Berau has handed over the slow loris to be nursed in the clinic of COP Borneo on June, 25.

Slow loris is active in the night, or normally called nocturnal animal. It is one of the animals that have a high stress level, just like this Gipsy.  Even though Vet Ade Fitria has given him antibiotic and pain killer and Gypsi has eaten well, but he kept licking the wound.

Gypsi’s right foot was then amputated, but he collapsed after the surgery. Unfortunately, we had to let go this very rare animal. Please stop your desire to own and keep wildlife. This slow loris Gypsi is one of the victim of wildlife trafficking.

ENRICHMENT KUPATAN

The point is, Enrichment makes them busy, think, learn, and find out how to enjoy their food, especially for orangutans in enclosure or cage. A simple way with a little creativity and media can enrich the variation to serve the food.
There is always Ketupat in Idul Fitri. It is a tradition. Ketupat filled with fruit slices, jam and honey could be a uniqe enrichment. From this enrichment orngutans can learn about problem solving, natural behavior, it can also stimulate their sense of smell and better their phisical creativity to enjoy various kind of foods inside the Ketupay and the fruit slices of Ketupat Ramadhan edition.
‪#‎enrichment‬
Intinya, Enrichment itu membuat mereka sibuk, berpikir, belajar dan mencari cara bagaimana menyantap hidangan, khususnya Orangutan yang berada dalam enclosure atau kandang. Cara-cara sederhana dengan sedikit kreativitas memperkaya variasi penyajian dan media yang dipakai untuk makanannya.
Tradisi Ramadhan pada saat Idul Fitri tak lepas dari ketupat lebaran. Enrichment berbentuk ketupat menjadi hal yang unik, tenta såja isinya potongan buah-buahan, selai dan madu. Selain bertujuan agar tidak jenuh, Enrichment ini juga memberikan problem solving, prilaku alamiah, merangsang indra penciuman dan melatih kerativitas fisik dalam menyantap berbagai jenis makanan yang ada dalam Enrichment ketupat dan menikmati potongan buah-buahan edisi ketupat Ramadhan.
Selamat Kupatan…

KUKANG, NEW COMER AT COP BORNEO

New comer at the COP Borneo. It has big wound in the hand, and it is very skinny and looked very stressed. The Wildlife Authority confiscated him from trader couple days ago.
Pendatang baru di COP Borneo. Dia memiliki luka besar di tangannya, sangat kurus dan terlihart stress. BKSDA menyitanya dari seorang pedagang satwa.

APE CRUSADER HEADING TO THE WEST

It has been almost two years that APE CRUSADER did not range to the west. In the beginning of June, APE Crusader, which is a rapid response team of COP was upset of their findings. They found five orangutans owned illegally. Four of them have been successfully rescued and are waiting to be relocated.

A finding of 18 corpses of pangolins made the journey more challenging. The corpses probably were disposed by pangolin trafficker because they perished. This case is being handled by Polsek Sampit.
Besides, APE Crusader has to go back to the muddy road to defend the orangutan habitat in Central Borneo.

Hampir dua tahun APE Crusader tidak melakukan perjalanan ke barat. Awal bulan Juni 2016 ini, APE Crusader yang merupakan tim gerak cepat Centre for Orangutan Protection ini pun terkejut dengan temuannya. Mereka menemukan lima orangutan yang dipelihara secara illegal dalam sebulan perjalanannya. Empat orangutan berhasil diselamatkan, satu lagi sedang menunggu untuk dipindahkan.

Penemuan delapanbelas bangkai trenggiling membuat perjalanan ke baratnya APE Crusader menjadi semakin menarik. Trenggiling tersebut diduga dibuang oleh pedagang trenggiling karena mulai membusuk. Kasus ini ditangani Polsek Sampit.

Tidak hanya itu saja, APE Crusader pun harus berlumpur lagi mempertahankan hutan habitat orangutan di Kalimantan Tengah.

DUYU IS THE 5TH ORANGUTAN FOR THIS MONTH

She is Duyu. She is kept illegally by a local in Central Kalimantan. It is not always easy to deal with locals. They may fight us back whenever we force them to hand over their orangutan. Sometimes we need to set back to get bigger support from police and forest rangers. Your APE Crusader Team has back to town to local Wildlife Authority for this purpose. She is the 5th orangutan for this month. Please support the only mobile team in Borneo. Please support this team through: https://redapes.org/projects-partners/cop/
Dia bernama Duyu. Gadis kecil ini dipelihara illegal oleh seseorang di Kalimantan Tengah. Tidak selalu mudah berurusan dengan masyarakat. Mereka bisa menyerang balik jika kami memaksa mereka untuk menyerahkan orangutan. Kadang kami harus kembali untuk mendapatkan bantuan lebih besar dari polisi dan jagawana. Tim APE Crusader anda saat ini sudah kembali ke kota untuk keperluan ini. Ini adalah orangutan ke-5 dalam bulan ini. Mohon dukungannya pada satu – satunya tim keliling satu-satunya di Kalimantan ini. Dukunglah melalui tautan di atas.

PROSECUTE CASE 18 PANGOLIN CORPSES

On Thursday (23/6) BKSDA Sampit, Mangala Agni Sampit and the Centre for Orangutan Protection (COP), evacuated 18 pangolin corpses (manis javanica) at JL. Housing Betang Kingdom, Sampit. The corpses were floating in shallow marshes, some were still wrapped in plastic, ready for sale. Most corpses were surrounded by maggots, some of them have even only skeletons. Evacuation is carried out at 9.30 pm. The corpses were also directly buried there. “The process of burial was quick, this should be done to anticipate the society to come.”, said one of the team of Mangala Agni.
According to Muriansyah, the commander of BKSDA Sampit, eighteenth corpses were reported by one of the residents around the site. “Someone has phoned me on Wednesday morning. He said that he saw a pile of cardboard boxes and smelt something bad like corpses at Jalan Perum Betang Kingdom. In wednesday morning, we sent a team of Mangala Agni to check the location and they found the corpses. ” explained him. He also explained that the eighteen corpses intentionally discarded by one of the collectors of pangolin meat in Sampit. He might have kept the them for a long time and and there was no buyer, so the meat started to rot. Seen from the size, the weight of the corpses are estimated approximately 4-5 kg. He also explained the price range of pangolin meat in Sampit. The price is 250.000 rupiah/ Kg. The price of the shell can reach up to 2-3 million / Kg. The price can greatly affect the manhunt of Pangolin in Sampit, particularly in East Kotawaringin in which the manhunt rate is very high.
“The case of this pangolin corpses finding is currently being reported into the Police Kutim. We have to wait then, “said Reza, a staff of COP who took part in the burial process. He also explained that, “the rate of hunting of protected wildlife Kutim is already high, considering that Sampit is one of the cities which have an access to other islands. This strongly causes the hunting of wild animals out of control.”, he said.
Previously, Pangolin is in the list of mammals that protected by the law in the Republic of Indonesia. As outlined in the annex of PP RI No. 7 1999 and in UU No 5 of 1990 that: Anyone who deliberately captures, injures, kills, keeps, possesses, maintains, transports, and sells or trades protected animals/wildlife alive or dead. (Article 21 paragraph (2)) shall be punished with 5 years imprisonment and a fine of 100 million rupiah (one hundred million rupiah) (Article 40 paragraph (2)).
BKSDA Sampit, Manggala Agni Pos Sampit dibantu Centre for Orangutan Protection (COP), mengevakusai 18 bangkai Trenggiling (manis javanica) yang berada dipinggir JL. Perumahan Betang Raya, Sampit, Kalimantan Tengah. Posisi bangkai mengapung di rawa-rawa dangkal, beberapa masih terbungkus rapi dalam kemasan plastik siap jual. Kondisi bangkai sebagian besar sudah dikerumuni belatung, bahkan ada yang hanya tinggal tulang belulang. Evakuasi ini dilakukan pada pukul 9.30 WIB. Bangkai-bangkai tadi langsung juga dikubur di tempat. “Proses penguburan berjalan dengan cepat, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi ramainya masyarakat berdatangan.”, ujar salah satu tim Manggala Agni.
Bedasarkan penuturan Muriansyah selaku Komandan Pos BKSDA Sampit, kedelapan belas mayat ini dilaporkan oleh salah satu warga di sekitar lokasi. “Pas itu saya ditelpon dari salah seorang warga, pada Rabu dini hari. Bilangnya dia melihat tumpukan kardus dan bau busuk seperti bangkai di ruas jalan Perum Betang Raya. Rabu pagi kami turunkan tim Manggala Agni untuk kroscek lokasi dan menemukan bangkai-bangkai terebut.”, jelasnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa diduga delapan belas bangkai ini sengaja dibuang oleh salah satu pengepul daging Trenggiling di Sampit. Karena sudah lama disimpan dan tidak ada pembeli, daging-daging mulai membusuk. Jika dilihat dari besarnya bangkai, kemungkinan beratnya kurang lebih 4-5 kg. Beliau juga menjelaskan kisaran harga daging Trenggiling di pasaran Sampit. Harganya Rp 250,00 per Kg. Kalau sisiknya sampai 2-3 Juta/Kg. Dengan pasaran harga ini sangat mempengarui faktor pemburuan Trenggiling di Sampit, Khususnya di Kotawaringin Timur sangat tinggi.
“Saat ini kasus penemuan bangkai Trenggiling sedang dimasukkan ke Polres Kotim. Untuk selanjutnya tinggal menungu penyelidikan lebih lanjut oleh pihak Polres Kotawaringin Timur.”, ungkap Reza salah satu staff COP yang ikut proses penguburan. Ia juga menjelaskan bahwa perburuan satwa liar dilindungi di Kotim sudah di level yang bisa dikatakan tinggi. Mengingat kota Sampit merupakan salah satu kota pelabuhan yang mempunyai jalur antar pulau. Hal ini sangat mendukung perburuan satwa-satwa liar sangat tidak terkendali.
Sebelumnya, Trenggiling termasuk satwa liar mamalia yang dilindungi Undang Undang Republik Indonesia. Sebagai mana tertuang dalam lampiran PP RI No. 7 tahung 1999 dan tertuang dalam UU No. 5 Tahun 1990 bahwa, “Barang siapa dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan atau memperjualbelikan binatang/hewan yang dilindungi dalam keadaan hidup maupun mati (Pasal 21 ayat (2). Diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000 rupiah (seratus juta rupiah) (Pasal 40 ayat (2).” (SAT)