COP BORNEO VOLUNTEER FROM COP SCHOOL BATCH#7

COP School is your gateway to work in the conservation world. Since June 26th 2017, COP BORNEO Orangutan Rehabilitation Centre in Berau, East Borneo welcomes two volunteer which are student from COP SChOol Batch#7. Want to know what are they doing?

“It’s good to see orangutan up close. Understanding more what they do in their daily life that is no different from us human. But…. We’re not just sitting around.” Said Aga. Then? Yes, Aga and Hedi in their daily routine there must cleanup orangutan manure at the quarantine and socialization cages. They also to be responsible on orangutan additional diet . Their creativity is also challenged by making orangutan enrichment, to make orangutan a busy. Especially orangutan at the quarantine cage. As for the orangutan at the socialization cage, enrichment are given to them when they are forced to stay in their cage because the downpour.

Already? That is all? Of course is not over yet. They should also assist in the activity at the post-monitor orangutan Pre-release island. Patrol and wash the boat after use. Anything else?

Yes, Aga and Hedi have to go to the village to give education. Wait for their next stories. (Dhea_Orangufriends)

RELAWAN COP BORNEO DARI COP SCHOOL BATCH 7
COP School adalah pintu gerbang kamu untuk berkarya di dunia konservasi. Sejak 26 Juni 2017 yang lalu, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur kedatangan 2 relawan yang merupakan siswa COP School Batch 7. Mau tau, mereka ngapain aja?

“Enak sih, bisa lihat orangutan dari dekat. Lebih paham keseharian mereka yang tak beda dengan manusia. Tapi… kita bukan duduk-duduk aja loh.”, ujar Aga. Lalu? Ya, Aga dan Hedi dalam kesehariannya harus membersihkan kotoran orangutan yang berada di kandang karantina dan sosialisasi. Mereka juga bertanggung jawab untuk pakan tambahan orangutan. Kreatifitas mereka juga ditantang dengan membuat enrichment orangutan, agar orangutan menjadi sibuk. Terutama orangutan yang berada di kandang karantina. Sementara untuk orangutan yang berada di kandang sosialisasi, enrichment diberikan saat mereka terpaksa berdiam di kandang karena hujan deras.

Sudah? Itu saja? Tentu saja belum berakhir. Mereka juga harus membantu kegiatan di pos pantau pulau pra-rilis orangutan. Ikut patroli dan mencuci perahu usai digunakan. Ada lagikah?

Ya, Aga dan Hedi juga harus ke desa untuk edukasi. Tunggu cerita selanjutnya ya. (WET)

WE SEND A TEAM

Media sosial kembali dihebohkan dengan orangutan yang terlihat berada di pinggir jalan di Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah Berau memutuskan untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Siang, 7 Juli 2017, empat orang COP dengan 2 orang staf BKSDA SKW 1 Berau meluncur ke lokasi.

Semoga kami beruntung!
Bantu kami dengan berdonasi melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

ORANGUTAN BEG FOR FOOD

Begging for food by street as forest keep going for oil palm plantation in Borneo.
Menurutmu, pantaskah si raja rimba Kalimantan, ikon konservasi alam Indonesia ini menjadi pengemis di pinggir jalan demi perutnya? Apakah hutan yang tersisa sudah tidak cukup memberikan pakan pengganjal perut?
#conflictpalmoil

FRESH FRUITS FROM THE FIELD FOR ORANGUTAN

More than 60% of orangutan activity is eating. Nearly 90% of orangutan diet consists fruits. To meet the needs of the orangutans at the orangutan rehabilitation center, the COP Borneo team purchased it at ‘Adji Dilayas’ market in Tanjung Redeb, Berau, East Borneo. Meanwhile, the logistics department also toured the village near the rehabilitation center to look for additional fruit variations.

“We usually pick right from the tree in the village. After harvesting, we weigh, make notes and pay according to the existing price.” Said Ibnu Ashari or often called Inoy, who is responsible for the logistics needs of COP Borneo.

Fruit storage is adjusted with the fruit ripeness. Giving fruits to orangutans is regulated from the ripeness level. The rhythm is must be managed. “Ensuring good food, fresh and sage is a priority in meeting the needs of orangutans diet with attention to medical direction of course,” explained Inoy.

The fruits prices direct from farmers in the fields is usually cheaper than in the market. The freshness, too. COP Borneo is lucky, being near a village that has a fertile soil with a farming community, especially fruits bearing trees. “This is very helpful, to meet the need of orangutan diets. We are also happy to be able to help the community by buying their farm produce,” Inoy said. (WET)

BUAH SEGAR DARI LADANG UNTUK ORANGUTAN
Lebih dari 60% aktivitas orangutan adalah makan. Hampir 90% pakan orangutan terdiri dari buah-buahan. Untuk mencukupi kebutuhan buah orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan, tim COP Borneo membelinya di pasar subuh Adji Dilayas kota Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Sementara itu, bagian logistik juga berkeliling desa di dekat pusat rehabilitasi untuk mencari variasi tambahan buah.

“Kita biasanya memetik langsung dari pohon di desa. Setelah memanen, kita timbang, membuat catatan dan membayar sesuai dengan harga yang ada.”, ujar Ibnu Ashari atau sering dipanggil Inoy yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan logistik COP Borneo.

Penyimpanan buah disesuaikan dengan kematangan buah. Pemberian buah pada orangutan diatur dari tingkat kematangan buah. Ritme inilah yang harus kita atur. “Memastikan pakan yang baik, segar dan aman adalah prioritas dalam pemenuhan kebutuhan pakan orangutan dengan memperhatikan arahan medis tentunya.”, jelas Inoy.

Harga buah dari petani langsung di ladangnya biasanya lebih murah dari pada di pasar. Kesegarannya juga. COP Borneo beruntung, berada di dekat desa yang memiliki tanah yang subur dengan masyarakat yang berladang terutama tanaman buah. “Ini sangat membantu sekali, untuk pemenuhan kebutuhan pakan orangutan. Kami juga senang bisa membantu masyarakat dengan membeli hasil ladang mereka.”, ujar Inoy. (WET)

ACKNOWLEDGED ORANGUFRIENDS FOR ‘YEAR OF FREEDOM’ T-SHIRT

The Center for Orangutan Protection proclaims 2017 as years of freedom. COP will relingquish the orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center in East Borneo.

Something different with COP release. As a roots organization entering its tenth year, COP invites the whole community to care about orangutans to participate in this activity. Through Orangufriends, an orangutan support groups raise funds from public participation through the sale of years of freedom series shirts. A T-shirt with a support theme for orangutan release in 2017.

“We are very happy to see the response. Seeing the support of Orangufriends is like encouraging us when we’re tired. Very proud, many people are concerned with this activity. We are confident that in the future, more people will participate in buying merchandise for orangutan release,” said Reza Kurniawan, COP APE Defender captain.

The sale of 107 ‘Year of Freedom’ merchandise in a very short time helped us to finance the operation of orangutans feeding on the pre-releae island. “Thanks to you who have donated through the purchase of ‘Year of Freedom’ T-shirts’”, said Weti Nurpiana with emotion. (Dhea_Orangufriends)

TERIMAKASIH ORANGUFRIENDS UNTUK KAOS ‘YEAR OF FREEDOM’
Centre for Orangutan Protection mencanangkan tahun 2017 sebagai years of freedom atau tahun kebebasan bagi orangutan. COP akan melepasliarkan kembali orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur.

Ada yang berbeda dengan pelepasliaran yang dilakukan COP. Sebagai organisasi akar rumput yang memasuki tahun kesepuluhnya, COP mengajak seluruh masyarakat peduli orangutan untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Melalui orangufriends, kelompok pendukung orangutan menggalang dana dari partisipasi masyarakat lewat penjualan kaos years of freedom series. Sebuah kaos dengan tema dukungan untuk pelepasliaran orangutan di tahun 2017.

“Kami bahagia sekali melihat respon yang muncul. Melihat dukungan orangufriends seperti memberi semangat saat kami lelah. Bangga sekali, ternyata banyak yang peduli dengan kegiatan ini. Kami yakin, untuk kegiatan ke depannya, akan lebih banyak lagi yang ikut serta membeli merchandise untuk pelepasliaran orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Terjualnya 107 merchandise ‘Year of Freedom’ dalam waktu singkat sangat membantu kami untuk membiayai operasional pemberian pakan orangutan di pulau pra pelepasliaran orangutan. “Terimakasih untuk kamu yang telah berdonasi lewat pembelian kaos ‘Year of Freedom’.”, ujar Weti Nurpiana dengan haru. (WET)

VET MEDICAL VISIT TO MERASA VILLAGE

The closest village to COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Borneo is the village of Merasa. A beautiful and friendly village that is an attractive nature tourism gateway. Once a week, the medical teams from COP Borneo visit the Merasa Village for the animal health program. But also not possible, the medical team called for an urgent event.
 
The selected day is Saturday. As on June 10th, 2017. The medical team followed up on a sick dog case report. “There are two patient types of dogs that we care for today. Skin diseases and itch in dogs were overcome by giving injections and ointments.”, Explain Vet Rian.
 
Animal data collection located in the village of Merasa is also equipped with check cards for health control the week after. “Wow, if more cases come, I was overwhelmed. But not every time. Very exciting and happy to help wildlife and pets. A little dream for me… to be able to help other living creatures,” said Rian Winardi again.
 
Keep the spirit Vet Rian… (Dhea_Orangufriends)

KUNJUNGAN MEDIS SATWA KE DESA MERASA
Desa terdekat dengan Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur adalah desa Merasa. Sebuah desa yang asri dan ramah yang merupakan pintu gerbang wisata alam yang menarik. Setiap seminggu sekali, tim medis dari COP Borneo berkunjung dalam program kesehatan hewan di desa Merasa. Tapi juga tidak menutup kemungkinan, tim medis dipanggil pada kejadian yang mendesak.

Hari yang dipilih adalah hari Sabtu. Seperti di tanggal 10 Juni 2017. Tim medis menindaklanjuti laporan kasus anjing yang sakit. “Ada 2 pasien jenis anjing yang kami rawat saat ini. Penyakit kulit dan gatal pada anjing pun diatasi dengan pemberian injeksi dan salep.”, demikian penjelasan drh. Rian.

Pendataan hewan yang berada di desa Merasa ini pun dilengkapi dengan kartu periksa untuk kontrol kesehatan minggu berikutnya. “Waduh kalau lagi banyak kasus, saya sempat kewalahan. Tapi ngak setiap saat. Bener-bener seru dan senang bisa membantu satwa liar maupun hewan peliharaan. Suatu mimpi kecil saya… untuk bisa membantu mahkluk hidup lainnya.”, ujar Rian Winardi lagi.

Tetap semangat drh. Rian… (NIK)

Page 3 of 3123