Orangufriends

TAK PERLU TAKUT, ULAR JUGA MENJAGA ALAM

Ular sering kali dipandang sebagai satwa yang menakutkan, padahal mereka memiliki peran besar bagi alam dan kehidupan manusia. Di sawah dan perkebunan, ular membantu petani dengan memangsa tikus dan hewan pengerat lain yang dapat merusak tanaman. Tanpa disadari, kehadiran ular ikut menjaga keseimabgnan ekosistem dan membantu mengurangi hama secara alami, tanpa bahan kimia.

Saat musim hujan dan banjir, ular kadang terlihat di sekitar pemukiman karena habitatnya tergenang air. Hal ini bukan karena ingin menyerang manusia, melainkan karena mereka mencari tempat yang lebih aman dan kering. Dengan mengenal jenis ular dan memahami perilakunya, kita bisa tetap waspada tanpa harus bersikap kasar atau menyakiti satwa yang sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan hidup.

COP juga beberapa kali turut membantu penanganan ular di kawasan permukiman. Salah satunya adalah ular yang terlihat pada foto ini, ular sanca kembang (Phyton reticulatus) berjenis kelamin betina yang diperkirakan masih berusia di bawah satu tahun. Ular tersebut ditemukan di salah satu rumah warga dalam kondisi baik dan sehat, dengan panjang kurang lebih 1,5 meter. Setelah dievakuasi dengan aman, ular ini dikembalikan ke habitat alaminya agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai pengendali keseimbangan ekosistem. Saat dilepaskan, ular tersebut sempat beradaptasi sejenak dengan lingkungan sekitarnya sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang lebih aman.

Kisah tentang ular mengingatkan kita untuk lebih peka terhadap lingkungan di sekitar. Alam terus berubah, dan satwa liar kerap menjadi pihak yang paling terdampak. Dengan menumbuhkan rasa empati, belajar memahami peran setiap makhluk hidup, serta menjaga keseimbangan alam, kita turut menciptakan ruang hidup yang lebih aman dan harmonis bagi manusia maupun satwa liar. (DIM)

MENANAM HARAPAN DI HUTAN: CERITA PENANAMAN POHON BAYUR UNTUK ORANGUTAN

Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.

Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.

Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.

Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.

Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)

SEMPIDAN BIRU, SANG PENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.

Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.

Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.

Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.

Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.

Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)

CATATAN AKHIR TAHUN APE WARRIOR 2025

Tahun 2025 menjadi perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus penguatan komitmen bagi APE Warrior dalam memperjuangkan keselamatan dan keberlanjutan satwa. Sepanjang satu tahun terakhir APE Warrior hadir di berbagai situasi krisis, konflik antara manusia dan satwa, hingga ruang edukasi publik, memastikan bahwa satwa tidak lagi menjadi pihak yang terabaikan dalam setiap bencana dan perubahan lingkungan.

Pada September 2025, APE Warrior melakukan asesmen dampak banjir di Bali sebagai upaya menyelamatkan satwa yang membutuhkan pertolongan serta menghadirkan kehidupan yang lebih baik, termasuk memberikan kesempatan kedua untuk kembali hidup bebas di alam liar. Selanjutnya pada November, tim terjun langsung menangani satwa terdampak erupsi Gunung Semeru. Ada sekitar 300 satwa terdampak, sterilisasi bangkai ternak untuk mencegah risiko kesehatan, distribusi pakan darurat baik untuk ternak maupun satwa kesayangan, pembangunan kandang komunal, serta layanan medis kolaborasi dinas terkait, Orangufriends, dan relawan lokal untuk mempercepat penanganan.

Konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi isu berulang, khususnya di kawasan urban, Sepanjang tahun 2025, APE Warrior menerima dan menangani 8 laporan konflik satwa liar dari masyarakat. Dari penanganan terebut, dilakukan evakuasi dan pelepasliaran terhadap 5 ekor monyet panjang. Edukasi kepada masyarakat, upaya mitigasi konflik, serta advokasi perlindungan satwa terus dilakukan agar keselamatan manusia dan satwa dapat berjalan beriringan.

Selain respons darurat, APE Warrior secara konsisten melawan perburuan, perdagangan, dan kepemilikan ilegal satwa melalui kerja investigasi, penegakan hukum, serta upaya konservasi dan pemulihan lingkungan. Sepanjang 2025, APE Warrior mengumpulkan 17 data investigasi dan melaksanakan 4 kasus penegakan hukum yang berhasil mendorong proses hukum hingga para pelaku kejahatan satwa liar dijatuhi hukuman penjara.

Upaya perlindungan ini juga diwujudkan melalui translokasi satwa dilindungi sebanyak 3 kali. Pada Januari 2025 dilakukan translokasi 1 ekor owa sumatra. Pada Juli 2025, APE Warrior melakukan translokasi 1 individu orangutan Kalimantan yang telah dipelihara selama 25 tahun. Selanjutnya, pada November 2025 dilakukan penegakan hukum atas laporan kepemilikan ilegal 2 ekor owa jawa di salah satu bangunan di Malang, Jawa Timur. Sebagai bagian dari upaya pencegahan perdagangan satwa liar, APE Warrior juga melaksanakan survei pasar burung di 16 lokasi serta melakukan kunjungan pemantauan ke 15 kebun binatang.

Berbagai kegiatan edukasi dan kampanye penyadartahuan publik dilaksanakan dengan rincian, siaran radio sebanyak 10 kali, kelas bulanan Dating APES sebanyak 9 kali, latihan perahu sebanyak 2 kali, serta kali kunjungan ke sekolah. Selain itu, APE Warrior turut berpartisipasi dalam berbagai acara publik dengan total audien lebih dari 300 orang. Pada tahun ini pula, APE Warrior menyelenggarakan event tahunan COP School Batch 15 serta Animal Disaster Relief Training Batch 3 sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan komunikasi dalam isu perlindungan satwa dan kebencanaan.

Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, APE Warrior membuka stand merchandise di berbagai acara komunitas dan konser amal sepanjang tahun. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana, tetapi juga menjadi sarana memperluas jejaring, memperkenalkan isu perlindungan satwa kepada audiends yang lebih luas, serta mengajak publik terlibat langsung dalam upaya perlindungan satwa.

Menutup tahun 2025, APE Warrior menyadari bahwa perjuangan ini masih panjang. Setiap operasi lapangan, penegakan hukum, edukasi, dan kampanye menjadi pengingat bahwa satwa membutuhkan suara yang konsisten dan tindakan nyata. Dengan dukungan relawan, mitra, dan masyarakat, APE Warrior melangkah ke tahun berikutnya dengan komitmen untuk menghadirkan respons yang lebih cepat, advokasi yang lebih kuat, serta masa depan yang lebih aman bagi satwa dan alam. (DIT)

PAKAN TERNAK UNTUK BENCANA GALODO DI PALEMBAYAN, SUMBAR

Palembayan menyambut kami tanpa banyak pilihan jalan. Banjir bandang dan galodo meninggalkan batu-batu besar dan batang pohon yang berhenti begitu saja di tengah akses warga, memisahkan satu kampung dengan kampung lainnya. Kami masuk ke ruang yang terputus, mengikuti langkah tim Animal Rescue COP yang lebih dahulu bergerak. Bersama bergerak dari apa yang bisa dijangkau, dari cerita yang lebih dulu kami dengar di lapangan.

Di antara rumah yang masih berdiri, kehidupan tetap berjalan meski dengan ritme yang berbeda. Sapi dan kambing terlihat bertahan, sementara kucing dan anjing banyak yang tertatih, kakinya terinfeksi lumpur dan basah. Penanganan dilakukan, dibantu dokter hewan yang ikut turun langsung. Di sela-sela itu, suasana tidak terlalu berat, mencuri istirahat sejenak. Candaan kecil muncul dari warga, dari relawan, juga dari kawan-kawan patroli dari Sontang Cibadak yang biasanya menjaga hutan Pasaman, dan kali ini ikut membantu di kampung. Obrolan singkat, tawa yang muncul kala-kala, lalu kembali bekerja lagi. Begitulah hari-hari kami berjalan di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat tepat di titik bencana.

Saat kebutuhan paling mendesak mulai terlihat, kami membuka posko pembagian pakan untuk ternak dan makanan pendamping bersama Puskewan Palembayan. Bantuan tersalurkan sembari cerita yang terus mengalir, tentang apa yang hilang dan apa yang masih bisa disyukuri. Beruntungnya, Palembayan sedang berada di musim panen. Lansat, jambu, dan durian yang cukup melimpah masih bisa ditemukan, ikut menompang kebutuhan pangan warga pasca bencana. Dari tempat ini, ami melanjutkan langkah ke lokasi lain dengan satu catatan sederhana, dalam situasi darurat, hadir tepat waktu dan bekerja bersama sering kali jauh lebih berarti daripada rencana yang terdengar sempurna. (VID)

DARI ABU MERAPI KE GARIS DEPAN BENCANA

Bencana selalu datang dengan urutan yang sama, sirene – evakuasi – angka korban – lalu senyap. Tapi di balik daftar penyita manusia, ada barisan nyawa lain yang nyaris tak pernah masuk laporan satwa. Letusan, banjir, gempa, kebakaran, hingga angin ekstrem terus berulang, memperlihatkan pola lama yang tak kunjung dibenahi. Ketika manusia menyelamatkan diri, hewan ditinggalkan. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing, mereka menjadi korban bisu dari sistem tanggap darurat yang belum menganggap nyawa non-manusia sebagai prioritas.

Kesadaran itu mencapai titik balik pada letusan besar Gunung Merapi 2010. Ribuan ternak mati bukan hanya karena awan panas dan abu, tetapi juga karena kelaparan dan ketiadaan penanganan setelah pemiliknya mengungsi. Negara sibuk menghitung kerugian infrastruktur, sementara kandang-kandang kosong dipenuhi bangkai dan hewan yang sekarat. Di celah itulah, Centre for Orangutan Protection (COP) yang dikenal lewat konservasi orangutan memutuskan turun tangan ke desa-desa terdampak, mengevakuasi ternak, mendistribusikan pakan hijau, serta merawat anjing dan kucing yang ditinggal menjaga rumah dan kandang.

Dari pengalaman lapangan itulah APE Warrior lahir, sebuah tim tanggap darurat satwa yang hadir ketika perhatian publik dan kebijakan sering berhenti pada manusia. APE Warrior bukan sekadar relawan, melainkan sistem respons berbasis data satwa, logistik pakan, penanganan medis, hingga sterilisasi bangkai untuk mencegah wabah. Dan satu hal yang kerap disalahpahami, kami tidak berjalan sendiri. Setiap langkah dilakukan secara resmi, berkoordinasi dan berada di bawah arahan Dinas Peternakan setempat agar kerja penyelamatan berjalan aman, terukur, dan bertanggung jawab.

Lima belas tahun setelah Merapi 2010, APE Warrior masih berdiri di garis depan. Bukan karena bencana berhenti datang, melainkan karena ia terus berulang. Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat yang tak nyaman, selama sistem tanggap darurat masih memandang satwa sebagai urusan sampingan. APE Warrior akan tetap turun bersama negara, di lapangan. Dan selama bumi terus memberi peringatan, pertanyaannya tetap sama, “Apakah kita masih mau berpura-pura lupa bahwa keselamatan seharusnya tidak hanya milik manusia?”. (DIT)

COP HADIR PADA DISKUSI PUBLIK MONYET EKOR PANJANG DI PAKEM

Aula Kelurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman menjadi lokasi digelarnya Dialog Bersama Masyarakat pada Selasa 11 November 2025. Kegiatan ini diadakan sebagai respons meningkatnya laporan gangguan monyet ekor panjang di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta dan desa penyangganya. Konflik yang hampir terjadi setiap bulan ini dinilai semakin merugikan masyarakat, terutama dari sisi perekonomian.

Empat narasumber dari berbagai lembaga hadir memberikan pandangan lintas perspektif. Lenny Hapsari Dewi dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kemenhut, Prof. Sena Adi Subrata dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Heri Wijayanto dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, serta Satria Wardhana dari Centre for Orangutan Protection memaparkan kondisi habitat, perilaku satwa, aspek kesehatan hewan, dan kebutuhan intervensi berbasis kolaborasi. Diskusi berlangsung aktif, terutama saat warga menyampaikan bahwa upaya yang mereka lakukan kerap tidak cukup tanpa dukungan kebijakan yang kuat. Desakan agar pemerintah menindaklanjuti rekomendasi forum pun mengemuka.

Sekitar lima puluh peserta dari berbagai instansi, seperti DLHK DIY, Dinas Kehutanan Kabupaten Sleman dan Magelang, BPBD Sleman, UPTD BPPTPH, Dinas Pariwisata Sleman, serta perangkat desa dan masyarakat sekitar turut hadir. Forum ini menghasilkan kesepahaman bahwa menyelesaikan konflik manusia dan satwa lereng Merapi memerlukan kolaborasi lintas sektor. Semua pihak sepakat bahwa langkah bersama perlu segera diwujudkan agar konflik tidak lagi menjadi kejadian bulanan, melainkan dapat dikelola menuju kondisi yang lebih seimbang antara masyarakat dan alam. (DIT)

DI TENGAH ABU LERENG SEMERU, COP BERGERAK UNTUK SATWA!

Selama dua minggu berada di lereng Gunung Semeru, tim APE Warrior hidup dalam ritme yang ditentukan oleh abu, suara relawan, dan panggilan warga yang menemukan satwa terluka. Setiap langkah membawa jejak debu vulkanik tetapi juga menghadirkan harapan kecil bahwa masih ada nyawa yang bisa diselamatkan. Di Sumbersari, Gumuk Mas, Kamar A, dan Kandang Komunal Huntap, tim bergerak dengan satu keyakinan yang sama, yaitu tidak meninggalkan siapa pun, termasuk satwa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Hari-hari pertama dipenuhi temuan ternak yang sudah tidak diselamatkan. Sterilisasi bangkai menjadi tugas paling berat, bukan hanya jumlahnya tetapi karena setiap hewan pernah menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang kini harus merelakan. Setiap bangkai menyimpan kisah kehilangan yang tidak terlihat dan tim belajar menghadapi duka itu dengan ketenangan dan rasa hormat.

Di sela kesedihan, harapan perlahan muncul dari distribusi pakan. Hijauan, konsentrat, dan pakan untuk satwa liar dibawa ke titik-titik yang masih dihuni ternak dan satwa yang bertahan. Ada kambing yang berlari kecil saat mencium aroma hijauan segar, ada kucing yang akhirnya mau makan setelah berhari-hari menggigil ketakutan. Momen kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tetap berusaha bertahan meski dikelilingi abu dan ketidakpastian.

Ruang medis lapangan menjadi tempat lain dimana harapan dirawat dengan sungguh-sungguh. Beberapa kambing yang terluka dan sejumlah kucing yang lemah menerima perawatan intensif. Salah satunya adalah seekor kucing yang masih sangat kecil dan hampir tidak bersuara. Ketika matanya akhirnya terbuka dan iii mulai menyusu dengan tenang, seluruh tim merasakan kelegaan yang sulit digambarkan, seolah semangat mereka ikut hidup kembali.

Bagian terakhir dari perjalanan ini adalah proses evakuasi. Puluhan kambing dan beberapa kucing berhasil dibawa keluar dari zona berbahaya satu per satu dengan perjuangan yang tidak ringan. Ketika status tanggap darurat berakhir pada 2 Desember, tim berdiri di bawah langit Semeru dalam keadaan lelah dan berdebu tetapi penuh rasa bangga. Tim pulang dengan keyakinan bahwa di tengah bencana mereka telah membantu menjaga kehidupan yang mungkin tidak terdengar oleh banyak orang namun sangat berarti bagi mereka yang berhasil selamat. (DIT)

SEMERU 2025, HEWAN PUN MENJADI KORBAN YANG TERABAIKAN

Awan panas itu naik seperti gelombang hitam yang tidak punya belas kasihan. Dalam menit-menit yang terasa seperti kamera slow-motion, Pronojiwo berubah dari desa hidup menjadi landskap kelabu tanpa suara. Rumah rubuh, kandang ternak hilang bentuk, dan bau abu bercampur belerang menggantung seperti ancaman. Manusia berlari, beberapa sempat menyelamatkan kambing atau menggenggam kucing kesayangan, tapi tidak semua hewan punya kesempatan yang sama. Banyak yang tertinggal, terjebak, atau kalah cepat dari panas yang datang lebih dulu.

Di tengah kekacauan itu, Rabu malam hampir tengah malam, ponsel saya bergetar. Pesan singkat, “Gabung COP? Kita butuh orang buat asesmen”. Tidak ada waktu untuk mikir panjang. Saya jawab, “Siap” dan tanpa sadar melangkah ke dunia yang tidak pernah saya rencanakan, dunia relawan satwa. Esok paginya saya sudah berada di lapangan bersama dua orang lainnya. Mas Mamat yang memimpin asesmen, serta Imdad sebagai pencatat, dan saya mendokumentasikan apa yang tersisa dari kehidupan yang baru saja disapu bencana.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan tanpa henti. Pertanyaan orang-orang di lapangan “Hewannya diapakan, Mas?”, seolah tamparan yang membuka mata saya. Selama ini fokus bencana selalu tentang manusia dan bangunan, padahal banyak hewan juga kehilangan rumah, keluarga, bahkan hidup. Hari ketiga, bantuan semangat dari Jogja datang, tanpa banyak bicara mereka bekerja seperti mesin yang sudah dilatih bertahun-tahun. Bersama mereka, kami menyisir desa demi desa, mengevakuasi kambing terjebak, memberi pakan kucing yang bersembunyi di rumah-retak, dan menangani luka bakar pada sapi yang masih mencoba berdiri.

Setiap langkah terasa berat, abu menempel di kulit seperti racun halus, suara letusan kecil dari puncak membuat napas tercekik, dan bau bangkai bercampur panas vulkanik jadi pengingat bahwa kami bukan hanya bekerja, namun kami bertahan. Tapi di tengah semua itu ada momen-momen kecil yang menghantam emosional, pemilik ternak yang menangis melihat sapi yang ia rawat bertahun-tahun harus dikubur, kucing kecil yang tetap mengeong meski seluruh badannya kotor abu, kambing yang masih mencoba mengikuti pemiliknya meski kakinya gemetar. Bencana membuat semuanya telanjang, rasa takut, rasa sayang, rasa kehilangan.

Ketika status tanggap darurat dicabut tanggal 2 Desember 2025, kami tahu pekerjaan di Semeru sementara berhenti. Tapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang. Dua pekan itu seperti membuka lapisan baru dalam hidup saya bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tapi juga memaksa kita melihat bahwa semua makhluk, manusia atau bukan, sama-sama ingin bertahan hidup. Relawan mungkin datang dan pergi, tapi pengalaman itu menetap, bahwa empati tidak punya spesies. (Bayu Surahmat_Orangufriends Lumajang)

DONASI UNTUK ORANGUTAN SRA DI KITABISA YUK

Saat ini ada 6 Orangutan Sumatra dan 1 Orangutan Tapanuli yang sedang berada di Sumatran Rescue Alliance, suatu pusat rehabilitasi orangutan di desa Bukit Mas, kecamatan Besitang, kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Badai Senyar menghantam pulau Sumatra bagian Utara yang melumpuhkan tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lokasi SRA yang berada di antara Aceh dan Sumut ini terkena banjir dan longsor yang merusak infrastruktur di SRA.

Ada enclosure orangutan Robert termasuk kandang tidur dan pagar listrik mengalami kerusakan. Selain pohon-pohon tumbang yang menimpa, lumpur juga membenamkan kandangnya. Untung saja tim SRA dengan sigap memindahkan Robert di waktu yang tepat. Robert terlihat kaget dan meringkuk di hammock setelah pemindahan dadakan tersebut.

Kodisi kabupaten Langkat yang terkena banjir membuat jalur darat terputus, bahkan selama tiga hari, akses jalan utama Medan ke Besitang terputus. Suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Listrik yang padam semakin memperburuk keadaan. Logistik tim maupun pakan satwa hanya bisa untuk esok hari.

Centre for Orangutan Protection meminta bantuan untuk SRA lewat galang dana di KITABISA.COM perbaikan besar untuk Robert dan beberapa fasilitas SRA yang masih dalam pendataan akan segera disampaikan. Terima kasih orang baik.