Orangufriends

19 TAHUN COP DI DUNIA KONSERVASI ORANGUTAN

Semangat kolaborasi lintas sektor terasa kuat dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-19 Centre for Orangutan Protection (COP) yang digelar di Camp APE Warrior COP di Jogjakarta. “Protecting the Orangutan and Beyond” menjadikan spesies Orangutan sebagai pintu masuk perlindungan satwa liar dan dan penguatan respons terhadap kejahatan serta bencana ekologis yang berdampak pada satwa, adalah sebuah momentum refleksi perjalanan panjang sekaligus penguatan komitmen bersama menghadapi tantangan konservasi ke depan.

Acara ini dihadiri oleh bapak Tutut Heri Wibowo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, bapak Ardi Andono sebagai Kepala Balai TN Ujung Kulon, perwakilan dari Balai KSDA Yogyakarta, Gakkum Wilayah Yogyakarta, Badan Nasional Daerah (BPBD) Sleman, Dinas Pertanian dan Pangan Sleman, Puskewan Sleman, Perangkat Desa setempat, Orangufriends Jogja, berbagai komunitas dan lembaga konservasi di Yogyakarta, Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Direktur COP, Daniek Hindarto dalam sambutannya menegaskan, bahwa usia 19 tahun adalah waktu untuk memperkuat konsistensi gerakan, bukan sekedar merayakan capaian. “Srmbilan belas tahun adalah perjalanan panjang yang ditempuh dengan komitmen dan kolaborasi. Kami percaya, perlindungan satwa liar tidak bisa dilakukan sendiri. Butuh keberanian untuk bersinergi, membuka ruang dialog, dan bergerak bersama”, ujar Daniek.

Ia juga menambahkan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perdagangan ilegal satwa, perburuan, hingga dampak krisis iklim dan bencana terhadap habitat. “COP akan terus berdiri di garis depan untuk mendukung upaya penyelamatan satwa dan memperkuat jejaring dengan pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, dan masyarakat. Konservasi adalah kerja jangka panjang dan hari ini kita menegaskan kembali komitmen itu”, tambahnya.

Dalam momentum istimewa ini, COP menganugerahkan Setia Bhakti Award 2026 kepada 14 staf yang dinilai menunjukkan loyalitas, integritas, dan dedikasi tinggi dalam mendukung misi organisasi. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa kerja-kerja konservasi adalah hasil dari dedikasi tim yang solid dan penuh komitmen. Selain itu, COP juga memberikan Orangufriends Award 2026 kepada lima tokoh yang secara konsisten mendukung gerakan konservasi, yaitu Kylie Bullo – Conservation Project Manager di The Orangutan Project, Peter Pratje – Program Manager di Frankfurt Zoological Society, Sudomo Mergonoto – CEO PT Kapal Api Global, Ardi Ardono – Kepala Balai TN Ujung Kulon, serta Danang Anggoro – Dosen dan Peneliti di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kelima tokoh ini merupakan bagian penting dari jejaring Orangufriends dan memiliki peran signifikan dalam dunia konservasi. Penghargaan ini menjadi bentuk penghormatan atas kontribusi nyata mereka dalam memperkuat advokasi, edukasi, serta dukungan moral bagi upaya perlindungan satwa liar.

Melalui peringatan ini COP menegaskan kembali komitmennya untuk terus menjadi bagian dari gerakan kolektif perlindungan satwa liar di Indonesia. Kolaborasi adalah kunci, karena menjaga alam dan satwa liar bukan hanya kewajiban satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama. (DIT)

ENRICHMENT DURIAN SIANG HARI: ANTUSIASME DAN STRATEGI ORANGUTAN DI SRA

Siang itu, aroma durian mulai menyebar di area Sumatran Rescue Alliance (SRA). Bukan sekadar buah biasa, durian menjadi bagian dari kegiatan enrichment yang dirancang untuk melatih kemampuan motorik, kecerdasan, serta mempertajam insting alami setiap individu orangutan.

Pemberian enrichment diawali di kandang karantina bersama Raiking dan Noon. Begitu durian diberikan, Raiking langsung menunjukkan dominasinya. Tanpa ragu, ia menggigit dan membelah kulit durian yang berduri dengan cepat. Dalam waktu singkat, isi buah sudah habis dinikmatinya. Antusiasme dan kekuatan rahang terlihat jelas.

Berbeda dengan Raiking, Noon membutuhkan waktu lebih lama. Ia mengamati, mutar, dan mencoba membuka durian dengan lebih hati-hati. Saat menyadari durian Raiking telah habis, Noon mengambil keputusan cepat membawa duriannya naik ke hammock, seolah mengamankan “harta berharganya” dari potensi rebutan.

Raiking yang masih penasaran terus memperhatikan Noon dan mencoba mendekat. Situasi mulai memanas, hingga Anas (perawat satwa), segera turun tangan untuk menjaga jarak keduanya. Raiking sempat menunjukkan ekspresi kesal, namun Anas memberikan potongan durian tambahan. Dengan kecerdasannya, Raiking menyadari potongan tersebut masih menyimpan isi, lalu kembali membelahnya hingga tuntas. Sementara itu, Noon memegang erat duriannya dengan tangan dan kaki, menikmati hasilnya dengan lebih tenang di atas hammock.

Di kandang lain, dinamika tak kalah menarik terjadi pada Bow dan Jay. Bow tampak paling agresif membuka durian, langsung menggigit dan membelahnya. Jay memanfaatkan situasi dengan memakan bagian yang telah terbuka. Namun setelah durian Bow habis, Bow mencoba beralih ke durian milik Jay. Anas kembali sigap mengamankan situasi dan mengembalikan durian tersebut kepada Jay. Kali ini, Jay berhasil membuktikan kemampuannya dengan membuka dan menghabiskan durian sendiri.

Sementara itu, Maxim dan Agam menunjukkan reaksi berbeda. Keduanya tampak kebingungan saat pertama kali menerima durian. Mereka mengamati buah berduri tersebut cukup lama, seolah sedang menganalisis cara membukanya. Setelah Anas membantu membuka bagian atas keduanya mulai memahami tekniknya. Perlahan tapi pasti, mereka berhasil melanjutkan proses membuka dan menikmati durian secara mandiri sebuah pembelajaran baru yang penting bagi perkembangan mereka.

Momen unik juga terlihat pada Tami yang menerima durian saat sesi bonding bersama keeper Arfan. Setelah mendapatkan buahnya, Tami langsung memanjat ke hammock. Alih-alih membelah seperti individu lain, Tami memilih strategi berbeda, ia melubangi bagian tengah durian dan memakan isinya dari dalam. Cara ini terlihat menggemaskan sekaligus menunjukkan karakter dan preferensi individunya. Asih dan Robert pun tak ketinggalan. Dengan cekatan dan penuh pengalaman, keduanya mampu membelah durian dalam waktu singkat dan menghabiskannya tanpa kesulitan berarti.

Kegiatan enrichment durian ini lebih dari sekadar pemberian pakan tambahan. Di alam liar, orangutan harus menghadapi buah berduri, berkulit tebal, dan terkadang sulit dibuka ini. Melalui enrichment ini, mereka dilatih untuk menggigit, menekan, memutar, hingga menemukan celah terbaik untuk mengakses isi buah. Proses ini melibatkan kekuatan rahang, koordinasi dengan tangan dan kaki, serta kemampuan problem solving yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Selain melatih fisik, enrichment juga menstimulasi mental dan mengurangi stres akibat keterbatasan ruang. Setiap durian yang diberikan bukan hanya makanan, tetapi simulasi kecil dari tantangan hutan yang sesungguhnya mempersiapkan mereka agar tetap tajam, cerdas, dan adaptif ketika kembali ke habitat alaminya (Nabila_Orangufriends)

GORESAN WARNA UNTUK GENERASI SIAGA DARI KB TUNAS MULIA

Anak-anak biasanya mengenal hewan peliharaan dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mereka yaitu warna bulunya, mangkuk makanannya, kalung di lehernya, atau rumah kecil tempat ia tidur. Dari titik itulah kegiatan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana di Kelompok Bermain (KB) Tunas Mulia, Kecamatan Mlati terasa relevan. Bersama BPBD Sleman dan mahasiswi magang Pendidikan Geografi FISIP Universitas Negeri Yogyakarta, guru dan peserta didik belajar siaga lewat simulasi gempa, praktik berlindung, hingga berjalan bersama menuju titik kumpul yang telah ditentukan.

Di sela kegiatan, anak-anak diajak memahami bahwa saat bencana terjadi, manusia harus lebih dulu dipastikan aman. Namun setelah itu, satwa yang juga butuh kasih sayang, bisa panik dan terdampak, perlu ikut diperhatikan. Pesan ini disampaikan secara sederhana agar mudah dicerna, menyayangi hewan berarti juga memikirkan keselamatannya, bahkan sebelum situasi darurat benar-benar terjadi.

Lewat warna-warna yang dituangkan anak-anak ke gambar-gambar itu, tersimpan lebih dari sekedar kreativitas. Guru dapat melihat bagaimana mereka memahami perlengkapan dasar peliharaan sekaligus membayangkan proses evakuasi satwa. Dari lembar-lembar bergambar itulah tumbuh harapan. Ketika suatu hari sulit datang, anak-anak ini tak hanya ingat cara menyelamatkan diri, tetapi juga tergerak untuk memastikan anjing, kucing, dan satwa kesayangan mereka tidak tertinggal. (VID)

DUA SIAMANG DISELAMATKAN DARI KERANJANG BUAH DI JAMBI

Jambi, 26 Januari 2026 – Praktik lama yang tak pernah benar-benar hilang kembali terungkap. Dua bayi siamang (Symphalangus syndactylus) yang bahkan belum genap setahun, ditemukan disembunyikan di dalam keranjang buah yang telah dimodifikasi. Dua bayi siamang yang seharusnya masih bergantung pada induknya di kanopi hutan Sumatra justru ditemukan tersembunyi di dalam wadah sempit di Kota Jambi. Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Polres Jambi dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengamankan dua individual tersebut dari seorang pedagang berinisial BS di Jl. Lingkar Selatan, Kelurahan Talang Gulo, Kecamatan Kota Baru, Jambi.

Dari keterangan awal, satwa dilindungi itu diperoleh melalui transaksi daring dari wilayah Pelembang. Pola ini menegaskan bahwa perdagangan satwa liar tidak lagi selalu berlangsung di pasar terbuka, tetapi bergerak lewat ruang digital sunyi, cepat, dan sulit dilacak. Di balik satu unggahan dan satu transaksi, ada proses panjang yang sering kali tak terlihat: perburuan di habitat alami, pemisahan paksa bayi satwa dari induk, dan putusnya satu generasi di alam.

Siamang merupakan primata kecil di Pulau Sumatra yang berstatus terancam punah (endangered) menurut Daftar Merah IUCN dan dilindungi penuh oleh hukum di Indonesia. Mereka hidup di kanopi hutan, bergerak lincah dari pohon ke pohon, dan berperan sebagai penyebar biji yang membantu regenerasi hutan tropis. Hilangnya individual muda bukan hanya soal angka populasi, tetapi juga soal masa depan hutan itu sendiri. Ketika satu bayi siamang keluar dari ekosistemnya, ada rantai ekologis yang ikut terputus dan ada masa depan yang dipertaruhkan.

Saat ini, pelaku dan barang bukti telah diamankan di Polres Jambi untuk menjalani proses hukum. Dua bayi siamang tersebut telah dititipkan kepada BKSDA Jambi utuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis. COP mengapresiasi langkah cepat aparat penegak hukum dalam menangani kasus ini. Penegakan hukum yang konsisten menjadi kunci untuk memastikan bahwa satwa liar tidak terus-menerus menjadi korban dari permintaan pasar dan menegaskan bahwa Hutan Sumatra masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup, bukan hanya di cerita, tetapi di kenyataan. (DIT)

SISWA SD ISLAM AL-AZHAR 55 YOGYAKARTA BELAJAR MITIGASI BENCANA BERSAMA

Sebanyak 87 peserta didik kelas 1 SD Islam Al-Azhar 55 Yogyakarta bersama 10 guru pendamping mengikuti kegiatan edukasi kebencanaan di Kantor BPBD Pakem, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kloter untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan interaktif.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara BPBD Sleman, dan Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan empat mahasiswa relawan dari Pendidikan Geografi FISIP UNY. Kolaborasi lintas institusi ini bertujuan memberikan pemahaman sejak dini tentang pentingnya kesiap-siagaan bencana, termasuk perlindungan satwa dalam situasi darurat.

Materi diawali dengan pengenalan BPBD dan berbagai tugasnya dalam penanganan bencana. Anak-anak diajak memahami bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan memiliki berbagai jenis, seperti gempa bumi, erupsi gunung api, hingga banjir. Penyampaian dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik usia sekolah dasar.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah simulasi gempa. Anak-anak mempraktikkan langsung langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan saat terjadi gempa, mulai dari berlindung hingga evakuasi dengan tertib. Selain itu, peserta juga diajak mengenal transportasi operasional BPBD serta berbagai peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam respons kebencanaan.

Tim COP turut menghadirkan Galeri Animal Disaster Relief yang memperkenalkan pentingnya perlindungan dan penyelamatan satwa dalam situasi bencana. Melalui sesi ini, anak-anak belajar bahwa mitigasi bencana tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Kegiatan ditutup dengan kuis singkat untuk menguji pemahaman peserta sekaligus menambah semangat belajar.

Sebagai tindak lanjut, tim juga berkomunikasi dengan guru pendamping untuk membuka peluang edukasi lanjutan di sekolah. Harapannya, pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana dan perlindungan satwa dapat terus diperkuat sejak usia dini.

Edukasi hari ini menjadi langkah kecil namun penting dalam membangun generasi yang lebih pedelu, tanggap, dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan (VID).

“TEPUK SIAGA” PECAH DI SDN WATUPECAH

Jumat pagi itu, halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Watupecah terasa hidup dengan energi positif dan rasa ingin tahu peserta didik. Melalui kolaborasi Tim Disaster Centre for Orangutan Protection (COP) dan BPBD Sleman, school visit perdana ini memantik kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya soal menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga ingat pada satwa peliharaan dan termah hidup berdampingan dengan manusia. Anak-anak diajak memahami bahwa dalam situasi darurat satwa bukan untuk ditinggalkan begitu saja, mainkan bagian dari tanggung jawab kita untuk keselamatan bersama.

Kesadaran itu semakin terasa saat “Tepuk Siaga” menggema, “Awas-awas, nanti bencana, siap-siap, kita selamat!” Yang ditutup dengan lompatan gembira penuh keyakinan. Dukungan BPBD Sleman yang nyata terhadap keselamatan manusia dan satwa membuat kegiatan ini lebih dari sekadar presensi pemerintah ikut ambil bagian dalam mitigasi bencana yang lebih luas.

Dari ruang sederhana, pojok baca hingga diskusi tentang apa saja yang menjadi tanda tanya besar satwa di pikirannya, anak-anak semakin terwadahi dan semakin percaya diri. Dari halaman sekolah yang sederhana, tersampaikan pesan penting, edukasi kebencanaan yang menyeluruh, yang juga peduli pada satwa adalah bekal penting bagi generasi muda agar mereka siap menghadapi bencana dengan kepedulian, pengetahuan, dan kesiapan. (VID)

29 BAGIAN TUBUH SATWA DILINDUNGI DISITA, PELAKU PERDAGANGAN ILEGAL DIVONIS 8 BULAN PENJARA

Malang, Jawa Timur – Seorang pedagang satwa liar dilindungi diringkus di wilayah Pakisjajar, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Agustus 2025 lalu oleh Polda Jawa Timur bersama Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Jablnusra. Atas kasus perdagangan ilegal ini, pelaku telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara. Dalam perkara ini, aparat penegak hukum mengamankan total 29 bagian tubuh satwa liar dilindungi yang diperdagangkan secara ilegal.

Barang bukti yang disita meliputi 1 (satu) lembar kulit, 2 (dua buah tengkorak, 4 (empat) buah kuku, dan 1 (satu) buah gigi beruang madu (Helarctos malayanus); 1 (satu) lembar kulit buaya muara (Crocodylus porosus); 1 (satu) buah tengkorak macan dahan (Neofelis diari); 7 (tujuh) buah tengkorak dan 10 (sepuluh) taring babirusa (Babyrousa sp.), serta 2 (dua) buah gigi harimau sumatra (Panthera tigris Sumatra). Seluruh barang bukti telah melalui uji laboratorium forensik dan dinyatakan asli berasal dari satwa liar dilindungi, yang berarti setiap bagian tubuh tersebut berasal dari individual satwa yang dibunuh dari habitat alaminya.

Vonis 8 bulan penjara tersebut dinilai belum mencerminkan penegakan dan tujuan dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam pasal 40A di regulasi terbaru tersebut, ancaman pidana terhadap pelaku perburuan, perdagangan, penyimpanan, dan kepemilikan satwa dilindungi telah diperberat secara signifikan, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, serta denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah). Sanksi yang diperberat ini bertujuan untuk memperkuat efek jera dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pelaku mendapatkan keringanan hukuman dengan pertimbangan salah satunya kondisi istrinya sedang hamil tua. Namun demikian, pertimbangan tersebut dinilai tidak sebanding dengan dampak ekologis yang ditimbulkan. Perdagangan bagian tubuh satwa liar merupakan kejahatan serius yang tidak hanya menghilangkan individu satwa dilindungi dari alam, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem, terutama akibat berkurangnya predator kunci seperti harimau sumatra dan macan dahan. Minimnya predator menyebabkan ketidakseimbangan rantai makanan, meningkatnya populasi satwa mangsa secara tidak terkendali, serta terganggunya proses alami ekosistem hutan. Selain itu, rendahnya tingkat reproduksi dan lambatnya siklus perkembangbiakan satwa predator menjadikan dampak kejahatan ini bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan. Harimau sumatra, macan dahan, beruang madu, dan babirusa merupakan satwa langka yang masuk ke dalam daftar merah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List). Perburuan dan perdagangan ilegal dapat mempercepat kepunahan spesies-spesies ini.

Menanggapi putusan tersebut, Hery Susanto, Koordinator Penegakkan Hukum LSM Centre for Orangutan Protection (COP), menegaskan bahwa putusan pengadilan dalam perkara kejahatan satwa liar harus selaras dengan kerugian ekologis yang ditimbulkan. “Perdagangan bagian tubuh satwa liar dilindungi merupakan tindak pidana serius yang berdampak langsung pada keberlangsungan ekosistem alam. Setiap individu satwa yang hilang dari alam, khususnya predator kunci, akan memperlemah fungsi ekologis hutan dan mempercepat penurunan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, penerapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 harus dilakukan secara konsisten dan tegas, termasuk dengan menjatuhkan sanksi pidana yang maksimal guna memberikan efek jera yang nyata”, tegasnya.

COP menegaskan akan terus berada di garis depan dalam memerangi perburuan dan perdagangan gelap satwa dilindungi. Bersama aparat penegak hukum, komitmen untuk mengawal proses penegakan hukum secara konsisten dan mendorong penerapan sanksi maksimal akan terus diperkuat, sebagai bagian dari upaya nyata melindungi satwa liar Indonesia dari ancaman kepunahan serta menjaga keberlanjutan ekosistem alam. (DIT)

COP MENGUATKAN KESIAPSIAGAAN PENYELAMATAN SATWA DI SITUASI BENCANA

Dalam situasi darurat dan kebencanaan, satwa sering menjadi pihak paling rentan dan terabaikan. Penyelamatan mereka tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, komunikasi yang jelas, serta kepercayaan antar tim agar setiap tindakan di lapangan berjalan aman dan efektif.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Disaster COP menggelar latihan gabungan bersama BPBD Sleman dan Basarnas DIY pada Rabu (28/1) di Embung Kaliaji, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Latihan ini mempraktikkan kesiapsiagaan penyelamatan di air, mulai dari persiapan fisik, penggunaan perahu rescue, hingga simulasi evakuasi, sebagai bekal menghadapi situasi banjir, termasuk saat harus menyelamatkan satwa yang terjebak atau terdampak.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan di lapangan. Tidak semua kondisi mengharuskan penolong untuk langsung bertindak. Menjangkau dari jarak aman, menggunakan alat bantu, mendekat dengan perahu, atau bahkan menahan diri saat resiko terlalu tinggi adalah bagian dari strategi penyelamatan. Mengetahui kapan harus bergerak dan kapan tidak bertindak menjadi kunci untuk menjaga keselamatan penolong sekaligus satwa yang diselamatkan. 
Melalui kegiatan ini, COP berharap koordinasi dan kepercayaan dengan instansi kebencanaan dapat semakin erat, sehingga penanganan darurat di lapangan berjalan lebih cepat, aman, dan terukur. Ke depan, latihan gabungan seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya melibatkan instansi terkait, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi relawan kebencanaan satwa dan Orangufriends, agar semakin banyak pihak yang siap bergerak melindungi satwa saat bencana terjadi. (VID)

DATING APES PERDANA 2026: KONSERVASI YANG TUMBUH BERSAMA MASYARAKAT

Hujan turun pelan membasahi Camp APE Warrior, Yogyakarta. Tanah lembab, udara dingin, dan sore yang biasanya menjadi alasan untuk pulang lebih cepat justru menjadi pembuka Dating Apes pertama di tahun 2026. Di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, Nurina Indriyani (Kak Nuri), Direktur Kanopi Indonesia, hadir membawa satu topik yang kerap dianggap sepele, namun sangat menentukan masa depan keanekaragaman hayati, yaitu peran masyarakat lokal dalam konservasi.
Dengan gaya bertutur yang tenang dan berangkat dari pengalaman lapangan, Kak Nuri mengajak peserta melihat konservasi dari jarak yang lebih dekat. Bukan dari balik laporan proyek atau peta kawasan lindung, melainkan dari kampung, ladang, dan relasi sehari-hari antara manusia dan alam. Di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, pelestarian tidak pernah berdiri sendiri; ia tumbuh dari pengetahuan lokal, praktik tradisional, serta keputusan-keputusan kecil masyarakat yang selama ini jarang masuk ruang diskusi formal.
Meski hujan belum reda, mahasiswa, relawan, dan perwakilan berbagai lembaga tetap berdatangan. Di antara gelas teh manis hangat serta cemilan rebusan kacang dan jagung sederhana, diskusi mengalir tanpa jarak. Tak ada panggung tinggi atau sekat akademik, yang ada adalah percakapan tentang bagaimana konservasi seharusnya berpihak, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dating APES kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati selalu bermula dari hal paling dekat: manusia yang hidup berdampingan dengannya. (DIT)

MENEMBUS MALAM, MENJEMPUT AIR: MISI SENYAP DI BELANTARA SIRANGGAS

Panggilan tugas itu datang tanpa aba-aba pada Senin siang 19 Januari 2026. Area camp-site SM Siranggas membutuhkan penanganan darurat akibat pohon tumbang merusak pipa saluran air dan atap bangunan, memaksa kami bergerak cepat melawan waktu untuk melakukan penanganan. Sore itu juga, saya bersama APE Sentinel bergegas ke SRA untuk menjemput gergaji mesin dan Abang Manik selaku tokoh kunci di kawasan SM Siranggas. Persiapan dilakukan ringkas namun taktis, karena kami sadar pekerjaan berat menanti. Tanpa membuang waktu, tim membelah malam meninggalkan Medan, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan hingga akhirnya Siranggas menyambut kami dengan kabut tipis menjelang subuh.

Selasa dan Rabu menjadi hari di mana kemampuan improvisasi kami diuji. Setelah sempat turun gunung demi melengkapi peralatan yang kurang, kami membagi tim menjadi dua unit kerja. Sementara satu tim membersihkan area kandang dan bangunan, saya dan Abang Manik mengambil risiko menembus hutan menuju hulu air terjun. Di ketinggian tersebut, kami merakit instalasi pipa secara presisi demi menangkap aliran deras. Kerja keras itu terbayar lunas ketika sore harinya, gemericik air akhirnya terdengar mengalir deras mengisi penampungan air seolah menghidupkan kembali denyut nadi tempat itu.

Kamis 22 Januari 2026, menjadi babak akhir dari operasi singkat ini. Sisa tenaga kami kerahkan untuk pembersihan atap, perbaikan paralon, hingga sterilisasi jalur setapak menuju kandang. Siang harinya, saat kami meninggalkan Siranggas bukan hanya dalam kondisi lebih rapi, tetapi juga berfungsi penuh kembali. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa tugas lapangan tak melulu soal kekuatan fisik menebas semak atau memotong kayu, melainkan tentang kecepatan mengambil keputusan dan soliditas tim untuk bertahan serta menyelesaikan masalah di tengah keterbatasan fasilitas hutan. (Ndaru_Orangufriends)