PIPA, KUACI, DAN CARA HUTAN DIAJARKAN KEMBALI

Di dalam kandang, “hutan” tidak benar-benar hilang. Ia dihadirkan ulang dalam bentuk yang lebih kecil, lebih sederhana, lebih sunyi, namun tetap menyimpan satu tujuan: mengajarkan kembali cara bertahan hidup. Hari itu, hutan hadir dalam sebuah pipa kuaci, menuntut usaha, kesabaran, dan cara berpikir yang berbeda pada setiap individual orangutan.

Bow memahami itu dengan caranya sendiri. Ia membawa pipa ke atas hammock berbentuk keranjang sebuah pilihan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan strategi: agar kuaci yang jatuh tidak hilang ke lantai. Ia menghisap lubang-lubang pipa dan menggoyangkannya perlahan. Saat ruangnya terasa terlalu dekat dengan manusia, ia memberi batas mengusir dengan gerakan tangan. Enrichment, bagi Bow bukan hanya soal mendapatkan makanan, tetapi juga tentang menjaga ruangnya tetap utuh.

Di sisi lain, Ranking berhadapan dengan kesulitan yang sama, namun dengan pendekatan berbeda. Ia sempat mencoba mengambil dari yang lain, sebelum akhirnya kembali pada pipanya sendiri. Ia mengamati, mencoba menggunakan ranting, lalu mengubah strategi. Pipa itu diangkat ke atas kepala, digoyangkan, dan dibiarkan kuaci jatuh langsung ke mulutnya. Enrichment memaksanya berpindah dari satu cara ke cara lain, sebuah proses belajar yang tidak selalu mulus.

Tami memperlihatkan dinamika yang lain. Dalam jarak tertentu, ia antusias. Namun ketika batas itu berubah, ia memilik menjaga jarak. Enrichment menjadi ruang yang lebih aman baginya untuk terlibat. Ia aktif, dan menyelesaikan tantangannya dengan caranya sendiri tanpa tekanan, tanpa kedekatan yang belum siap ia terima.

Sementara itu, Noon menunjukkan bahwa ketenangan juga bagian dari strategi. Ia fokus pada pipanya sendiri, hingga gangguan datang. Saat itu, responsnya tegas suara dan gestur yang cukup untuk mempertahankan apa yang ia miliki. Setelahnya, ia kembali pada ritmenya: menghisap, menggoyangkan, menarik bagian-bagian kecil dari dalam pipa. Dalam waktu yang relatif singkat, hasil mulai terlihat. Namun proses tidak berhenti di sana, ia terus mencari, terus mencoba.

Berbeda lagi dengan Jay. Enrichment tidak segera menjadi prioritasnya. Ia menyapa, lebih dahulu, mendekat, sebelum kembali pada pipa yang tetap ia jaga. Dengan jari-jarinya, ia mencungkil kuaci dari lubang kecil, menggoyangkannya secukupnya. Tidak terburu-buru, tidak tergesa. Bahkan ketika sebagian hasil sudah di dapat, ia tetap melanjutkan seolah memahami bahwa prosesnya sama pentingnya dengan hasilnya.

Di dalam satu jenis enrichment yang sama, muncul banyak cara. Tidak ada satu metode yang diajarkan. Tidak ada instruksi yang diberikan. Hanya sebuah tantangan kecil yang membuka kemungkinan besar: berpikir, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Enrichment bekerja dengan cara itu menunda kemudahan, memperpanjang proses, dan menghadirkan kembali fragmen-fragmen kecil dari kehidupan di hutan. Di dalam pipa berisi kuaci itu, kita tidak hanya memberi makan. Kita sedang mengingatkan kembali bagaimana cara hidup di alam. (NAB)

HUJAN TAK MENGHENTIKAN LANGKAH UNTUK MEMBONGKAR KAMERA JEBAK DI SM BARUMUN

Langit di atas Suaka Margasatwa Barumun masih menyisakan mendung tebal. Hujan sempat turun, membasahi jalan setapak dan membuat tanah menjadi licin. Keberangkatan tim pun harus tertunda. Namun semangat tidak ikut reda.

Pada bulan lalu, Tim BBKSDA Sumatera Utara Resort Barumun III dan Centre for Orangutan Protection menuju desa Pasar Ipuh, kecamatan Ulu Barumun, kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara untuk membongkar tiga unit kamera jebak di dua titik berbeda dalam kawasan SM Barumun.

“Medannya pasti berat setelah hujan”, ujar salah satu anggota tim sambil mengencangkan tali tas punggung. “Yang penting data aman, kameranya kembali”, jawab yang lainnya. Perjalanan menuju titik pertama bukan tanpa tantangan. Jalur menjadi lebih licin, ranting-ranting basah dan beberapa bagian tanah berubah menjadi lumpur. Namun kamera-kamera yang dipasang sebelumnya telah menjalankan tugas pentingnya yaitu merekam pergerakan satwa liar dan mendokumentasikan aktivitas di dalam kawasan.

Kamera jebak bukan sekadar alat. Ia adalah “mata” yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam. Dari perangkat inilah tim dapat memantau keberadaan satwa, membaca pola pergerakan, hingga mendeteksi potensi ancaman terhadap kawasan konservasi.

Setibanya di lokasi pertama, tim segera membagi peran. Ada yang mendokumentasikan, ada yang memastikan titik koordinat, ada yang memeriksa kondisi perangkat sebelum dilepas. Kamera pertama pun berhasil dibongkar dengan aman. “Masih utuh. Semoga datanya lengkap”, ucap salah satu anggota tim sambil memasukkan perangkat ke dalam tas. Lokasi kedua menuntut tenaga ekstra. Jalur menanjak dan basah memperlambat langkah. Namun menjelang siang, dua unit kamera di titik tersebut berhasil diamankan.

Kegiatan ini bukan akhir, melainkan bagian dari rangkaian monitoring. Besok, tim akan kembali menyusuri hutan untuk membongkar enam unit kamera tambahan di tiga lokasi berbeda. Langkah-langkah di bawah rimbun hutan Barumun hari itu, mungkin tampak sederhana melepas perangkat dari batang pohon, mencatat koordinat, menyimpan memori. Namun dibaliknya ada kerja kolaboratif antara mitra lapangan dan pihak pengelola kawasan, ada komitmen untuk memastikan setiap data yang terkumpul dapat mendukung upaya perlindungan satwa dan habitatnya.

Hujan boleh saja turun. Jalur boleh saja licin. Tetapi upaya menjaga kawasan tidak pernah menunggu cuaca menjadi sempurna. Dari SM Barumun, kerja-kerja sunyi seperti ini terus berjalan perlahan, konsisten, dan penuh dedikasi. APE Patriot bersama para mitra di lapangan membuktikan bahwa perlindungan hutan bukan hanya tentang patroli dan penindakan, tetapi juga tentang memastikan setiap informasi terekam, setiap jejak terbaca, dan setiap langkah kecil membawa dampak besar bagi kelestarian alam. (UZI)

ENRICHMENT SARANG SEMUT: KETIKA NALURI LIAR DIUJI DI BALIK JERUJI KARANTINA

Di balik kandang karantina yang sunyi, proses menjadi “liar” kembali sedang berlangsung. Rehabilitasi orangutan bukan hanya soal pakan bergizi dan pemeriksaan kesehatan rutin. Ada hal yang jauh lebih rumit dan tak kasatmata yaitu mengembalikan naluri. Naluri untuk mencari, memilih, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Naluri untuk bertahan hidup.

Karena itu, enrichment atau pengayaan lingkungan menjadi bagian penting dalam keseharian orangutan karantina. Bukan sekedar hiburan, melainkan simulasi kecil tentang bagaimana hutan bekerja. Tentang bagaimana makanan tidak selalu datang dalam bentuk yang mudah. Tentang bagaimana setiap gigitan punya konsekuensi.

Untuk pertama kalinya, empat orangutan karantina (Raiking, Noon, Jay, dan Bow) diperkenalkan pada satu tantangan baru yaitu sarang semut. Di hutan, serangga adalah bagian dari menu alami orangutan. Mereka tahu cara membongkar, menjilat, menggigit, dan bersiasat menghadapi ribuan semut yang mempertahankan rumahnya. Di karantina, pengalaman itu harus dilatih kembali.

Begitu sarang semut diletakkan, Raiking menjadi yang pertama mendekat. Rasa ingin tahunya mengalahkan ragu. Ia mengangkat sarang itu, mengupasnya perlahan. Namun saat semut mulai keluar semakin banyak, langkahnya terhenti. Ia mundur, mengamati, menghitung risiko. Lalu kembali lagi.

Noon memilih strategi yang berbeda. Ia tidak terburu-buru. Dari jarak aman, ia memperhatikan Raiking. Bukan sarang utamanya yang ia incar, melainkan pecahan-pecahan kecil hasil bongkaran Ranking. Noon seperti sedang belajar membaca situasi sebelum mengambil keputusan.

Ketika sedikit madu dioleskan pada sarang, dinamika berubah. Aroma manis itu memancing keberanian. Ranking kembali menjilat dan menggigit sedikit demi sedikit. Noon tetap setia pada caranya, menunggu hingga jumlah semut berkurang, lalu mengambil bagian yang lebih aman. Baru ketika sarang utama hampir tandas, ia berani mengambil sisa terakhir yang ditinggalkan.

Di kandang lain, cerita berbeda berlangsung. Jay menggigit sarang semut dengan cepat, lalu berlari. Semut-semut mengerubungi mulutnya. Ia membersihkan diri, lalu kembali lagi. Gigit. Lari. Bersih-bersih. Ulangi. Sebuah pola belajar yang mentah, jujur, dan penuh determinasi.

Bow hanya menonton pada awalnya. Tatapannya mengikuti setiap gerakan Jay. Seolah ia sedang bertanya, “Seberapa jauh risiko ini sepadan?”. Ketika Jay berkali-kali kembali, Bow akhirnya mencoba. Tapi ia tidak meniru sepenuhnya. Ia menghempaskan sarang itu sedikit demi sedikit sebelum memakannya, suatu cara cerdas untuk mengurangi perlawanan semut.

Dalam waktu sekitar 20 menit, sarang itu habis. Bukan tanpa drama, bukan tanpa gigitan, bukan tanpa keraguan. Dari luar, ini mungkin tampak seperti aktivitas sederhana. Orangutan memakan sarang semut. Selesai. Namun bagi tim rehabilitasi, setiap detik adalah data. Setiap langkah mundur adalah proses berpikir. Setiap keberanian kecil adalah kemajuan.

Siapa yang impulsif, siapa yang penuh perhitungan. Siapa yang belajar lewat pengalaman langsung, siapa yang belajar lewat observasi. Semua itu adalah potongan puzzle yang menentukan kesiapan mereka suatu hari nanti ketika tidak ada lagi perawat, tidak ada lagi pagar, tidak ada lagi madu yang dioleskan untuk menarik minat.

Enrichment bukan sekedar pengisi waktu. Ia dalah latihan. Karena pada akhirnya, hutan tidak menawarkan kemudahan. Ia menawarkan tantangan. Dan hanya mereka yang mampu membaca, beradaptasi, dan bertahan yang akan benar-benar pulang. Selangkah demi selangkah, melalui sarang semut yang dibongkar dengan hati-hati dan gigitan yang sempat membuat mundur, naluri itu dibangun kembali. (FAN)

ENRICHMENT DURIAN SIANG HARI: ANTUSIASME DAN STRATEGI ORANGUTAN DI SRA

Siang itu, aroma durian mulai menyebar di area Sumatran Rescue Alliance (SRA). Bukan sekadar buah biasa, durian menjadi bagian dari kegiatan enrichment yang dirancang untuk melatih kemampuan motorik, kecerdasan, serta mempertajam insting alami setiap individu orangutan.

Pemberian enrichment diawali di kandang karantina bersama Raiking dan Noon. Begitu durian diberikan, Raiking langsung menunjukkan dominasinya. Tanpa ragu, ia menggigit dan membelah kulit durian yang berduri dengan cepat. Dalam waktu singkat, isi buah sudah habis dinikmatinya. Antusiasme dan kekuatan rahang terlihat jelas.

Berbeda dengan Raiking, Noon membutuhkan waktu lebih lama. Ia mengamati, mutar, dan mencoba membuka durian dengan lebih hati-hati. Saat menyadari durian Raiking telah habis, Noon mengambil keputusan cepat membawa duriannya naik ke hammock, seolah mengamankan “harta berharganya” dari potensi rebutan.

Raiking yang masih penasaran terus memperhatikan Noon dan mencoba mendekat. Situasi mulai memanas, hingga Anas (perawat satwa), segera turun tangan untuk menjaga jarak keduanya. Raiking sempat menunjukkan ekspresi kesal, namun Anas memberikan potongan durian tambahan. Dengan kecerdasannya, Raiking menyadari potongan tersebut masih menyimpan isi, lalu kembali membelahnya hingga tuntas. Sementara itu, Noon memegang erat duriannya dengan tangan dan kaki, menikmati hasilnya dengan lebih tenang di atas hammock.

Di kandang lain, dinamika tak kalah menarik terjadi pada Bow dan Jay. Bow tampak paling agresif membuka durian, langsung menggigit dan membelahnya. Jay memanfaatkan situasi dengan memakan bagian yang telah terbuka. Namun setelah durian Bow habis, Bow mencoba beralih ke durian milik Jay. Anas kembali sigap mengamankan situasi dan mengembalikan durian tersebut kepada Jay. Kali ini, Jay berhasil membuktikan kemampuannya dengan membuka dan menghabiskan durian sendiri.

Sementara itu, Maxim dan Agam menunjukkan reaksi berbeda. Keduanya tampak kebingungan saat pertama kali menerima durian. Mereka mengamati buah berduri tersebut cukup lama, seolah sedang menganalisis cara membukanya. Setelah Anas membantu membuka bagian atas keduanya mulai memahami tekniknya. Perlahan tapi pasti, mereka berhasil melanjutkan proses membuka dan menikmati durian secara mandiri sebuah pembelajaran baru yang penting bagi perkembangan mereka.

Momen unik juga terlihat pada Tami yang menerima durian saat sesi bonding bersama keeper Arfan. Setelah mendapatkan buahnya, Tami langsung memanjat ke hammock. Alih-alih membelah seperti individu lain, Tami memilih strategi berbeda, ia melubangi bagian tengah durian dan memakan isinya dari dalam. Cara ini terlihat menggemaskan sekaligus menunjukkan karakter dan preferensi individunya. Asih dan Robert pun tak ketinggalan. Dengan cekatan dan penuh pengalaman, keduanya mampu membelah durian dalam waktu singkat dan menghabiskannya tanpa kesulitan berarti.

Kegiatan enrichment durian ini lebih dari sekadar pemberian pakan tambahan. Di alam liar, orangutan harus menghadapi buah berduri, berkulit tebal, dan terkadang sulit dibuka ini. Melalui enrichment ini, mereka dilatih untuk menggigit, menekan, memutar, hingga menemukan celah terbaik untuk mengakses isi buah. Proses ini melibatkan kekuatan rahang, koordinasi dengan tangan dan kaki, serta kemampuan problem solving yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Selain melatih fisik, enrichment juga menstimulasi mental dan mengurangi stres akibat keterbatasan ruang. Setiap durian yang diberikan bukan hanya makanan, tetapi simulasi kecil dari tantangan hutan yang sesungguhnya mempersiapkan mereka agar tetap tajam, cerdas, dan adaptif ketika kembali ke habitat alaminya (Nabila_Orangufriends)

SEMAKIN PERCAYA DIRI, AGAM DAN DAN MAXIMUS BERADA DI ENCLOSURE UTARA

Cuaca pagi yang cerah meliputi kawasan sekolah hutan dengan cahaya keemasan yang perlahan menembus kanopi. Embun masih menggantung di ujung-ujung daun, memantulkan sinar matahari yang hangat namun lembut. Pagi seperti ini selalu menghadirkan energi baru dan pagi itu, semangat tersebut terasa jelas pada Agam dan Maximus bahkan sebelum mereka benar-benar dilepas dari gendongan keeper.

Begitu kaki mereka menyentuh tanah, keduanya langsung bergerak tanpa ragu. Seolah telah menyusun rencana sejak dalam perjalanan, Agam dan Maximus berpisah arah. Di enclosure bagian selatan, Asih memulai harinya sendiri. Sementara itu, di enclosure utara, Agam dan Maximus bersiap menjalani sesi sekolah hutan dengan penuh antusias. Meski terpisah pagar dan jarak, ketiganya tetap berada dalam lanskap hutan yang sama terhubung oleh suara dedaunan dan aroma pepohonan liar yang khas.

Agam dengan percaya diri, segera memanjat pohon terdekat. Gerakannya lincah dan tegas mengarah langsung ke pucuk pohon seakan ingin menaklukkan ketinggian. Di atas yang sama, Maximus memilih pohon di sebelahnya. Ia memanjat dengan ritme yang sedikit lebih hati-hati, namun tak kalah mantap. Perbedaan pilihan ini bukan sekadar arah, melainkan tanda bahwa keduanya memulai membangun kemandirian berani menentukan jalur masing-masing.

Dari atas pohon, aktivitas mencari makan pun dimulai. Buah Manarung yang mulai matang menjadi santapan pagi mereka. Dengan cekatan, jari-jari mereka memetik dan menggenggam buah, menggigit dagingnya, lalu membiarkan kulit dan serpihannya jatuh ke lantai hutan. Sesekali, Maximus terlihat penasaran mengupas kulit pohon, mencoba menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil ini adalah bagian penting dari proses belajar mengenali variasi pakan alami yang kelak akan menopang hidup mereka di alam liar.

Semakin pagi beranjak, semakin terlihat perubahan pada Maximus. Jika sebelumnya ia cenderung mengikuti Agam dari dekat, kini ia mulai berani menjaga jarak. Ia menjelajah cabang demi cabang tanpa terus-menerus memastikan posisi Agam, selama Agam tidak berada dalam gendongan keeper. Kepercayaan dirinya tumbuh perlahan, namun pasti. Inilah salah satu capaian penting dalam proses rehabilitasi, kemampuan untuk berdiri sendiri, meski tetap merasa aman.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi ini tidak teramati aktivitas membuat sarang. Biasanya, menjelang siang mereka akan melipat ranting dan daun untuk membentuk tempat beristirahat sederhana. Namun hari ini, fokus mereka sepenuhnya tertuju pada pencarian pakan. Musim buah yang mulai hadir seakan memanggil naluri alami mereka untuk memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Ketika perut mulai terisi dan energi kembali terkumpul, perhatian mereka mendadak teralihkan. Di sisi lain pagar, Asih terlihat bergerak di dalam enclosure bagian selatan. Kehadirannya menjadi magnet yang kuat. Agam dan Maximus segera turun dari pohon, langkah mereka cepat namun tetap waspada.

Agam tampak paling bersemangat. Ia mendekati pagar pembatas, matanya tak lepas dari Asih. Ada dorongan kuat untuk mendekat, mungkin untuk bermain, mungkin sekadar memastikan keberadaan temannya. Namun di antara mereka terdapat pagar listrik yang menjadi batas keamanan. Saat Agam mencoba mencari celah untuk menyerang, keeper dengan sigap menariknya menjauh. Tindakan cepat ini bukan sekadar pencegahan, melainkan bagian dari pembelajaran tentang batas dan keselamatan.

Sesaat, Agam menunjukkan rasa ingin tahun yang belum terjawab. Namun tak lama kemudian, ia kembali mengalihkan perhatian pada lingkungan sekitarnya. Maximus pun mengikuti, kembali menjelajah tanah dan pepohonan di sekitarnya. Interaksi singkat melalui pagar itu tetap menjadi stimulasi sosial yang penting mengingatkan bahwa mereka adalah individu sosial yang kelak harus mampu berinteraksi secara sehat di alam liar.

Di bawah cuaca yang tetap cerah, sesi sekolah hutan pagi itu, menunjukkan perkembangan yang jelas pada Agam dan Maximus. Keduanya semakin aktif mencari pakan alami tanpa banyak bergantung satu sama lain. Mereka mampu memanjat, memilih sumber pakan dan berpindah pohon dengan koordinasi tubuh yang semakin baik. Respons keeper yang cepat saat Agam mendekati pagar listrik juga menjadi bagian penting dari pembelajaran batas aman di dalam enclosure. Interaksi visual dengan Asih tetap memberikan stimulasi sosial, namun fokus utama mereka hari itu tetap pada eksplorasi dan pencarian makan (RID)

BONDING YANG SEMAKIN KUAT ANTARA TAMI DAN KEEPERNYA DI BULAN FEBRUARI

Proses bonding adalah salah satu tahapan penting dalam rehabilitasi. Bukan sekadar membangun kedekatan, tetapi juga membentuk rasa aman, kepercayaan, dan komunikasi dua arah antara individual dan keeper. Pada bulan Februari ini perkembangan Tami menunjukkan sinyal yang menggembirakan.

Bulan ini, Tami terlihat cukup kooperatif. Saat namanya dipanggil, ia datang menghampiri sambil membawa sayur buncis yang telah disiapkan keeper lain di tempat pakannya. Respons ini menjadi indikator positif bahwa Tami mulai mengenali panggilan dan mengaitkannya dengan interaksi yang aman. Ia makan dengan tenang, tanpa menunjukkan tanda-tanda stres atau penolakan.

Namun, sikapnya berubah ketika mulai menikmati buah. Saat memakan mangga, Tami terlihat lebih protektif terhadap makanannya. Ia cenderung cuek dan tidak merespons ketika disenggol. Perilaku ini bukan hal yang negatif, melainkan bagian dari insting alaminya dalam mempertahankan sumber pakan. Sikap tersebut menunjukkan karakter dan preferensi individual yang semakin jelas terbaca oleh keeper.

Menariknya, setelah mangga yang dimakannya habis, Tami justru berubah lebih terbuka. Ia mulai mendekat dan mengajak bermain. Ketika kembali dipanggil, Tami menghampiri dengan gerakan yang lebih santai. Bahkan, ia menggulingkan tubuhnya ke arah keeper sebuah gestur yang menunjukkan rasa nyaman dan ajakan interaksi.

Meski sempat muncul rasa waspada, terutama karena pengalaman sebelumnya di mana Tami masih menunjukkan kecenderungan defensif, hari itu terasa berbeda. Tami tampak lebih terkendali. Tidak ada gestur agresif atau ancaman gigitan seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam proses adaptasi dan kepercayaan.

Kepercayaan tidak terbentuk dalam semalam. Konsistensi kehadiran keeper, interaksi yang stabil, dan pendekatan yang tepat secara perlahan membangun hubungan yang lebih positif. Tami kini terlihat semakin mengenali sosok yang rutin masuk untuk mengajaknya bermain dan berinteraksi. Ada response timbal-balik yang mulai terbentuk.

Perkembangan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam proses rehabilitasi, setiap perubahan perilaku memiliki arti besar. Dari datang saat dipanggil, menjaga makanan dengan insting alami, hingga akhirnya menggulingkan tubuh sebagai bentuk kepercayaan semua adalah langkah kecil menuju kestabilan emosi dan sosial yang lebih baik.

Bulan Februari 2026 menjadi catatan penting dalam berjalan Tami. Sebuah hari yang menunjukkan bahwa proses bonding berjalan ke arah yang positif, dan kepercayaan yang dulu terasa jauh kini mulai terbangun dengan lebih nyata (FAN).

MENEMBUS MALAM, MENJEMPUT AIR: MISI SENYAP DI BELANTARA SIRANGGAS

Panggilan tugas itu datang tanpa aba-aba pada Senin siang 19 Januari 2026. Area camp-site SM Siranggas membutuhkan penanganan darurat akibat pohon tumbang merusak pipa saluran air dan atap bangunan, memaksa kami bergerak cepat melawan waktu untuk melakukan penanganan. Sore itu juga, saya bersama APE Sentinel bergegas ke SRA untuk menjemput gergaji mesin dan Abang Manik selaku tokoh kunci di kawasan SM Siranggas. Persiapan dilakukan ringkas namun taktis, karena kami sadar pekerjaan berat menanti. Tanpa membuang waktu, tim membelah malam meninggalkan Medan, menempuh perjalanan panjang dan melelahkan hingga akhirnya Siranggas menyambut kami dengan kabut tipis menjelang subuh.

Selasa dan Rabu menjadi hari di mana kemampuan improvisasi kami diuji. Setelah sempat turun gunung demi melengkapi peralatan yang kurang, kami membagi tim menjadi dua unit kerja. Sementara satu tim membersihkan area kandang dan bangunan, saya dan Abang Manik mengambil risiko menembus hutan menuju hulu air terjun. Di ketinggian tersebut, kami merakit instalasi pipa secara presisi demi menangkap aliran deras. Kerja keras itu terbayar lunas ketika sore harinya, gemericik air akhirnya terdengar mengalir deras mengisi penampungan air seolah menghidupkan kembali denyut nadi tempat itu.

Kamis 22 Januari 2026, menjadi babak akhir dari operasi singkat ini. Sisa tenaga kami kerahkan untuk pembersihan atap, perbaikan paralon, hingga sterilisasi jalur setapak menuju kandang. Siang harinya, saat kami meninggalkan Siranggas bukan hanya dalam kondisi lebih rapi, tetapi juga berfungsi penuh kembali. Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa tugas lapangan tak melulu soal kekuatan fisik menebas semak atau memotong kayu, melainkan tentang kecepatan mengambil keputusan dan soliditas tim untuk bertahan serta menyelesaikan masalah di tengah keterbatasan fasilitas hutan. (Ndaru_Orangufriends)

DARI BAU CAT HINGGA TAWA ANAK-ANAK, WAJAH BARU PUSAT INFORMASI ANECC

Perjalanan menuju Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Simalungun pada Jumat, 5 Desember 2025, bukanlah sekadar kunjungan biasa bagi saya bersama tim APE Sentinel. Kami datang dengan misi spesifik yaitu menyulap sebuah bangunan tua menjadi pusat informasi gajah yang layak. Malam pertama langsung menyambut kami dengan tantangan nyata seperti aroma cat yang menyengat beradu dengan udara dingin dinding lembap, menemani kerja lembur kami hingga larut. Waktu yang terbatas memaksa kami bekerja dalam ritme cepat, mengubah target awal tiga hari menjadi empat hari penuh peluh demi memastikan setiap sudut bangunan mendapatkan sentuhan perbaikan yang pantas.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja fisik yang menuntut ketelatenan. Ketika ditemukan plafon yang lapuk, keputusan diambil cepat tanpa banyak diskusi yaitu bongkar dan ganti. Pembagianan tugas ada yang memanjat mengganti atap, ada yang mengecat teralis, hingga membersihkan dinding luar secara manual. Meski lelah, melihat bangunan yang semula kusam perlahan memancarkan wajah baru memberikan kepuasan tersendiri. Lantai yang baru divernis tepat saat azan magrib berkumandang di hari keempat menjadi penanda selesainya tahap pertama, namun kami tahu napas bangunan ini belum sepenuhnya utuh.

Napas kehidupan itu ditiupkan pada kunjungan lanjutan tanggal 13 dan 27 Desember 2025. Kali ini, dengan bantuan personil tambahan, fokus kami beralih dari konstruksi ke estetika dan fungsi. Ruang yang telah direnovasi mulai diisi dengan poster edukasi dipasang, gorden digantung, dan dokumentasi profil gajah-gajah ANECC mulai menghiasi dinding. Sentuhan akhir ini menjadikan ruangan gagah bercerita yang hidup, siap menyambut siapa saja yang ingin belajar tentang konservasi gajah sumatra.

Puncak dari segala lelah itu akhirnya terbayar lunas pada tanggal 17 Januari 2026. Saat peresmian Pusat Informasi ANECC, bangunan tersebut langsung menyambut tamu pertamanya yaitu rombongan anak-anak TK dari Sekolah Alam Asahan. Melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang terpancar dari wajah mereka saat mengisi ruangan, kami sadar bahwa misi ini telah berhasil. Renovasi ini bukan sekadar tentang memperbaiki tembok atau mengecat jendela, melainkan tentang menyediakan ruang agar pesan pelestarian gajah dapat terus bergema ke generasi selanjutnya. (Ndaru_Orangufriends)

HARI-HARI ORANGUTAN REPATRIASI BERADA DI SRA

Genap sudah 21 hari Raiking, Noon, Jay, dan Bow berada di SRA (Sumatran Rescue Alliance) di balik kandang karantina sejak tiba di tanah air pada 24 Desember 2025 lalu. Selama di SRA setiap satwa yang masuk karantina diamati, selain perilakunya ini penting juga untuk kesehatan satwanya ketika dikarantinakan. Oke pertama-tama kita mulai dari si Raiking.

Raiking, si kecil ber-cheekpad adalah orangutan yang paling aktif dan menjadi yang pertama terbangun, bukan karena “morning person” tapi ia terlihat dari awal sebagai pejantan alfa dikarenakan cheekpad-nya yang sudah tumbuh. Raiking selalu mengamati sekeliling sambil terkadang bermain dengan Noon (teman sekandangnya). Para perawat satwa mencatat bahwa Ranking menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, namun tetap tenang. Ia sudah mampu merangkai dedaunan dan ranting untuk menjadi sarang sederhana, sebuah perilaku alami yang menandakan insting liarnya masih terjaga dengan baik.

Teman sekandangnya si Noon sama seperti Raiking, bedanya Noon paling cerewet dan manja ketika jadwal makan dan pemberian susunya datang. Ia sering terlihat bermain dengan karung kain yang menjadi selimut tidurnya yang disediakan perawat sebagai enrichment. Noon dan Raiking dari awal sudah dapat beradaptasi terutama dari segi pakan yang saat ini mulai dirubah dari buah-buahan menjadi banyak sayur-mayur, hal ini menjadi baik ketika orangutan terbiasa memakan makanan yang tidak terasa manis dan matang, hal ini akan memudahkan mereka dikemudian hari ketika dilepasliarkan.

Jay, dikenal paling playful. Ia kerap bergelantungan, menjatuhkan buah dengan sengaja, lalu mengambilnya kembali sambil bermain. Para perawat satwa dan dokter hewan mencatat Jay memiliki response positif terhadap interaksi lingkungan dan perubahan pakan. Proses penyesuaian makanan sedang dilakukan secara bertahap, meskipun saat ini mereka masih diberikan susu untuk perkembangan tubuhnya tetapi tetap diberikan pakan berupa variasi buah, sayuran, dan dedaunan dan Jay dapat mengikuti seiring berjalannya waktu mencoba semua jenis pakan yang diberikan.

Sementara itu Bow, menunjukkan kepekaan yang tinggi meskipun terkadang tantrum tidak mau jauh dari Jay. Bow adalah orangutan karantina yang lebih sensitif dibandingkan yang lain, hal ini dimungkinkan diulurnya yang terbilang masih sangat muda seharusnya masih dalam lindungan dan gendongan sang induk, meskipun begitu Bow sering membuat sarang dan berlatih bergelantungan bersama Jay ketika perawat satwa dan dokter hewan tidak di dekat kandang. Hal ini memperlihatkan kemajuan signifikan. Bow kini mampu menyusun sarang kecil di malam hari dan memilih tempat tidur yang sama secara konsisten, sebuah tanda kenyamanan di lingkungan barunya.

Selama 21 hari ini, semuanya bekerja tanpa henti. Pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin, susu, dan kebutuhan pakannya diperhatikan secara seksama, pemantauan perilaku, serta penyesuaian pakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keempat orangutan menunjukkan perilaku yang sangat baik di kandang tidak ada tanda stres, agresivitas, maupun gangguan makan yang berarti.

Bagi Ranking, Noon, Jay, dan Bow, SRA bukalah akhir perjalanan, melainkan tempat belajar kembali menjadi orangutan seutuhnya. Setiap sarang yang mereka buat, setiap buah yang mereka kupas sendiri, dan setiap pagi yang mereka jalani dengan tenang adalah langkah kecil menuju satu tujuan besar, kembali ke hutan Sumatra, rumah sejati yang menanti mereka. (NAB)

TRANSFORMASI RUANG EDUKASI UNTUK GAJAH SUMATRA

Tak kenal maka tak sayang, kenalin wajah baru ANECC untuk mengenal gajah, si tubuh besar dengan ingatan terbaik. Aek Nauli Elephant Conservation Center (ANECC) di Sumatra Utara dalam renovasi tim APE Sentinel COP atas arahan BBKSDA Sumut. Perbaikan menyeluruh untuk mengembalikan fungsi dan estetika ruang. Atap dan langit-langit (plafon) yang bocor diganti, pengecatan ulang seluruh dinding kayu agar kembali segar, serta penggantian detail-detail kecil pun tak luput dari perhatian tim. Sanitasi untuk menjamin kebersihan dan kenyamanan penggunanya kelak. Transformasi ini berhasil mengubah ruang yang tadinya suram menjadi fasilitas yang terang, bersih, dan sipa menyambut pengunjung.

Pembaruan fisik ini kemudian disempurnakan dengan pengayaan materi edukasi. Di dalam ruangan yang kini nyaman tersebut, COP menambahkan instalasi papan informasi (information boards) mengenai konservasi gajah dan foto profil gajah-gajah yang terdapat di ANECC. Papan-papan ini menjadi jendela informasi visual yang memikat, menjelaskan segala hal tentang Gajah Sumatra mulai dari kehidupan gajah, kerajaannya, dan konservasi gajah di Sumatera Utara. Perpaduan antara ruang yang nyaman dan informasi yang kaya menjadikan proses belajar di ANECC kini jauh lebih menyenangkan dan efektif.

Selepas renovasi di ruang edukasi ANECC, Hardo, salah satu penjaga gajah berharap bahwa para pengunjung mengetahui bahwa gajah merupakan hewan yang memiliki perasaan, penting baginya untuk para pengunjung mengetahui perasaan-perasaan gajah terutama apabila habitatnya berkurang dan dirusak. Apabila sehabis edukasi ini, pengunjung akan memahami bahwa menjaga habitat gajah sama juga menjaga perasaan para gajah.

Sebagai langkah selanjutnya, sinergi antara COP dan ANECC tidak berhenti setelah renovasi selesai. Kedua belah pihak dapat melanjutkan kerja sama dalam aspek pemeliharaan agar fasilitas yang telah diperbaiki tetap terjaga kondisinya. Wajah baru ANEE+CC ini benar-benar memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pelestarian Gajah Sumatra dan satwa yang dilindungi lainnya. (AGU)