AKHIR DARI PEDAGANG OPSETAN SATWA DILINDUNGI

Purwokerto, Kisah penjualan opsetan atau awetan satwa dilindungi lewat media sosial facebook berujung pada kurungan penjara. Oleh Pengadilan Negeri Purwokerto, terdakwa M. Syaefudin terbukti secara sah bersalah karena melakukan tindak pidana dengan sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

Setelah melewati 4 kali sidang selama 29 hari, pada Rabu (25/8) Majelis Hukum PN Purwokerto juga menjatuhkan pidana penjara selama 9 (sembilan) bulan dan denda sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan.

Vonis yang dijatuhkan terhadap terdakwa masih jauh dari hukuman maksimal, sementara kerugian ekologis akan terus terakumulasi. Berdasarkan Pasal 21 ayat (2) dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya ancaman hukuman bagi pedagang satwa liar dilindungi adalah 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,00. Walaupun begitu, kami mengucapkan Terimakasih pada tim Polda Jawa Tengah atas kerja kerasnya dalam mengungkap kejahatan ini.

Sebelumnya, Kamis (3/6) tim Ditipiter (Direktur Tindak Pidana Tertentu) Mabes Polri dan BKSDA Jateng dibantu oleh Centre for Orangutan Protection melakukan tindakan penegakkan hukum operasi tangkap tangan pedagang bagian tubuh satwa yang dilindungi. Barang bukti yang diamankan, empat lembar kulit kijang (muntiacus muntjak), dua lembar kulit macan tutul (panthera pardus melas), dua potongan ekor macan tutul, tujuh buah kuku beruang madu (helarctos malayanus) dan empat buah taring anjing hutan/ajag (cuon alpinus).

Operasi ini dilakukan pada pukul 10.29 WIB di rumah tersangka sendiri, diketahui pelaku berusia 50 tahun beralamatkan di Desa Kebocoran, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Selanjutnya kasus dilimpahkan ke Polda Jawa Tengah.

Selain kerugian atas hilangnya aset satwa negara yang langka, perdagangan kulit macan ini juga menimbulkan kerugian ekolaogis. Kerugian itu kita rasakan ketika satwa tersebut punah. Betapa ruginya negara, terlebih jika itu satwa endemik. Dampak dari hilangnya satwa dalam konteks ini, hilangnya macan tutul akan memberikan efek kompleks pada ekosistem hutan. Satwa karnivora ini sejatinya adalah top predator di dalam hutan. Ia berperan menjaga populasi hewan herbivora atau omnivora tetap stabil, misalnya kancil, rusa atau babi hutan. Ini berdampak pada ketersediaan tumbuhan dan produk tumbuhan seperti buah. Hutan akan jadi rusak dan mempengaruhi kehidupan di bumi seperti berkurangnya udara, air bersih, penyerbukan hingga pengaturan suhu. (SAT)

EMPAT SATWA LIAR SELAMAT DARI PERDAGANGAN DI LAMPUNG

Jumat (3/9) pukul 22.04 WIB Tipidter Polda Lampung bersama dengan COP dan JAAN berhasil melakukan operasi penangkapan perdagangan satwa liar kategori dilindungi di Sukarame, Bandar Lampung. Pedagang tersebut berinisial ME. Dari operasi penangkapan tersebut telah diamankann empat (4) satwa liar dilindungi yaitu satu Elang Bondol (Haliastur indus) dan tiga Elang Brontok (Nisaetus Cirrhatus).

Pedagang ini menjual satwa dari tangkapannya sendiri. Berdasarkan penuturan pelaku, ia berburu elang tersebut di hutan dan sudah menandai spot-spot sarang-sarang elang tersebut. Ketika telur elang sudah menetas, ia mengambil anakan dan diperjual-belikan hingga ke luar pulau.

Usaha utama pedagang ini adalah membuat vas pohon dan tanaman bonsai. Tidak sedikit satwa yang sudah ia jual di balik kedok bisnis tanamannya. Saat ini pelaku sudah diamankan ke Polda Lampung. Proses penyidikan dan pengambangan masih dilakukan pihak Tipidter.

Keempat satwa liar tersebut dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Centre for Orangutan Protection berharap proses hukum ini bisa berjalan dengan transparan hingga vonis dijatuhkan. Kami berharap putusan pada sidang pengadilan nantinya berpihak pada konservasi elang”, tegas Satria Wardhana, Anti Wildlife Crime COP. (SAT)

HARI ORANGUTAN SEDUNIA: PERDAGANGAN ILEGAL 2021

Sepanjang 2021, kasus perdagangan orangutan masih terus terjadi. Penilaian Centre for Orangutan Protection (COP) kejahatan menggunakan metode lebih modern (via online) dan terorganisir baik. Dalam catatan satu tahun terakhir sedikitnya 5 kasus perdagangan orangutan terjadi di Indonesia dari 7 individu orangutan yang berhasil diselamatkan, 6 diantaranya Orangutan Sumatera dan 1 Orangutan Kalimantan.

Semakin berkembangnya teknologi bagaikan dua mata pisau berbeda, bisa berbahaya mendukung kejahatan dan sebaliknya bisa membantu mendukung konservasi satwa. COP menyatat bisnis perdagangan orangutan sangat besar, sistematis dan terorganisir baik. Contoh harga bayi orangutan ketika masih di pulau Kalimantan atau Sumatera berkisar Rp 4 juta hingga Rp 6 juta. Kalau sampai di Jawa harga bisa menyentuh nilai puluhan juta. Akan beda lagi jika diseludupkan ke luar negeri, harganya bisa 10 kali lipat. Jadi, bisnis ini subur karena perputaran uang sangat besar.

Sepanjang 2021, COP bersama penegak hukum beberapa kali operasi penyitaan dan mendorong penegakan hukum seperti pada 21 Februari 2021 silam. Balai Besar BKSDA Yogyakarta dibantu COP mengevakuasi 2 individu bayi orangutan di Semarang, Jawa Tengah. Dua Orangutan Sumatera ini disinyalir adalah korban perdagangan orangutan lintas pulau.

Selain itu kasus perdagangan orangutan di Samarinda, kalimantan Timur pada tutup bulan April 2021, Ditreskrimsus (Direktorat Reserse Kriminal Khusus) Mabes Polri dibantu COP dan OIC menggerebek pedagang satwa di Samarinda. Tim menangkap pedagang bernama Max dan mengamankan 1 individu bayi orangutan betina yang ditaruh dalam ember kecil di bagasi mobil. Saat ini kasus masih berjalan di pengadilan. Untuk orangutan tersebut kini telah mendapatkan perawatan penuh di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Berau, Kalimantan Timur.

Praktik perburuan dan perdagangan orangutan hingga kini terus terjadi di Indonesia. Utamanya satwa tersebut dijadikan peliharaan atau hewan koleksi oleh orang-orang dari kalangan berkantong tebal. “Pengawasan dan penegakan hukum yang lebih tegas dan berani adalah satu-satunya cara agar kasus kejahatan pada satwa liar berkurang”, kata Satria Wardhana, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

“Perdagangan satwa liar yang dilindungi merupakan usaha yang menguntungkan dan beririsan dengan tindak pidana pencucian uang. Pelaku kejahatan perdagangan satwa liar dilindungi sering menyamarkan hasil tindak pidananya dari aparat hukum. Penegak hukum lebih sering menuntut sanksi pidana maksimal saja tidak mencantumkan sanksi minimal. Penggunaan Undang-Undang lain seperti UU tentang pencucian uang bisa menjadi alternatif tambahan untuk memberitakan tuntutan yang lebih berat kepada para pelaku kejahatan ini”, jelas Satria lagi.

Centre for Orangutan Protection berharap, pemerintah menetapkan kejahatan satwa liar menjadi prioritas penanganan juga. Kejahatan terhadap satwa liar adalah kejahatan serius. (SAT)

APE WARRIOR BANTU TERNAK TERDAMPAK COVID-19

Puluhan warga dusun Suruh, Argomulyo, Cangkringan, Sleman dikabarkan terpapar COVID-19. Keputusan lockdown dusun pun diambil oleh perangkat desa setempat. Beberapa warga tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari karana harus melakukan isolasi mandiri. Para peternak pun kebingungan untuk menghidupi hewan ternaknya yang harus tetap diberi makan setiap hari. Tujuh peternak beserta keluarganya yang terpapar COVID-19 dengan jumlah total 62 kambing, 1 sapi dan 300 itik membutuhkan dukungan dalam menjalani isoman.

Dinas Peternakan Sleman bersama tim APE Warrior COP yang biasa turun saat bencana alam terjadi tidak bisa tinggal diam begitu saja. Jumat, 13 Agustus 2021 dengan dibantu Orangufriends Jogja melakukan droping pakan hijau ke dusun tersebut. “Kami membantu hewan ternak yang secara tidak langsung terdampak pandemi COVID-19 ini. Kurang lebih 4 kuintal pakan telah didistribusikan ke warga untuk memenuhi kebutuhan hewan-hewan peliharaannya selama 1 hari”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior.

Dampak dari pandemi COVID-19 tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, satwa-satwa yang hidup berdampingan dengan manusia juga dapat imbasnya. Kegiatan ini akan berlangsung terus untuk beberapa hari ke depan sampai warga selesai menjalani isoman dan dapat kembali beraktivitas.

Centre for Orangutan Protection sejak tahun 2010 memiliki tim yang selalu siap membantu masyarakat khususnya satwa baik itu peliharaan atau liar dalam menghadapi bencana alam, tim APE Warrior namanya. Tugas pertama APE Warrior saat itu adalah membantu warga dan satwa terdampak meletusnya gunung Merapi di daerah Sleman, Yogyakarta. Sepanjang sepuluh tahun terakhir ini tak hanya membantu paska letusan gunung Merapi, Kelud, Sinabung dan Agung saja. Pada saat tsunami dan likuifaksi di Palu, gempa di Aceh, banjir maupun tanah longsor di Jawa Barat hingga Jawa Timur serta bencana alam lainnya di tanah air.

“Wabah virus Corona menjadikan tim ini lebih solid dan matang. Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Protokol yang harus dijalankan juga tidak bisa disama-ratakan. Ada rambu-rambu yang wajib di setiap bencana yang harus tim patuhi. Komunikasi lintas pihak juga harus dibangun. Terimakasih atas kepercayaan berbagai pihak pada Centre for Orangutan Protection sehingga kami bisa terus membantu satwa dan menjalankan misi kemanusiaan ini”, tambah Satria Wardhana lagi. (SAT)

WORLD HEPATITIS DAY 2021

Peneliti peraih Nobel, Dr Baruch Blumberg, tanggal kelahirannya dipilih untuk memperingati Hari Hepatitis Seduani. Dia adalah yang menemukan virus Hepatitis B (HBV) dan menciptakan tes diagnostik dan caksin untuk virus tersebut. Peringatan setiap tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran dan pengertian tentang virus hepatitis sebagai prioritas global dengan tema tahun ini “Hepatitis tidak bisa menunggu”.

Hepatitis artinya terjadi kondisi peradangan pada hati, yang seringkali disebabkan oleh infeksi virus, ada juga beberapa kemungkinan lain penyebab termasuk autoimun dan hepatitis sebagai akibat sekunder dari pengibatan, obat, toxin dan lain-lain. Pada manusia, ada lima jenis virus hepatitis yaitu hepatitis A, B, C, D dan E. Hepatitis B dan C adalah yang paling sering menjangkiti yang dapat mengakibatkan 1,1 juta kematian dan 3 juta infeksi baru per tahun.

Di orangutan, sebagai spesies primata yang mempunyai kemiripan perkembangan dengan manusia diketahui juga mempunyai kemungkinan terinfeksi oleh sejenis hepadnavirus yang berbeda dari Hepatitis B di manusia, tetapi masih berhubungan. Pada beberapa kasus yang diamati oleh para peneliti, tes laboratorium tidak menunjukkan bukti penyakit hepatitis yang nyata pada hewan terinveksi dengan OHV (Orangutan Hepadnavidrus).

Hepatitis B manusia, juga dikawatirkan akan dapat menjangkiti orangutan, eiring dengan makin intnsifnya kontak manusia hewan, terutama pada orangutan-orangutan yang dipelihara sebagai pet, yang di-kandang-kan dengan kandang sempit dan dengan sanitasi hygiene buruk serta mengalami kontak yang erat dengan manusia penderita hepatitis B. Dengan kondisi inilah, kemudian pada proses rehabilitasi orangutan di Indonesia dilakukan pemeriksaan terhadap hepatitis B manusia walaupun secara klinis belum pernah dilaporkan.

Perubahan sosial dan ekologi yang berkaitan dengan penyebaran populasi manusia serta perubahan lingkungan dan globalisasi dapat berimplikasi pada kemunculan penyakit yang dapat bertransmisi dari hewan ke manusia dan sebaliknya dan pastinya pada setiap era kehidupan manusia akan selalu disertai kemunculan penyakit baru seiring dengan perkembangan dunia yang semakin pesat. Menempatkan satwa liar tetap pada habitat aslinya dan melestarikan kehidupan ekologi dan lingkungan akan serta merta melindungi satwa liar termasuk orangutan dan manusia ari penyakit-penyakit yang berkembang di antaranya. (DTK)

HARI ZOONOSIS SEDUNIA 2021

Setiap 6 Juli diperingati sebagai Hari Zoonosis Sedunia. Tanggal ini adalah sejak Louis Pasteur sukses menyuntikkan vaksin rabies (yang merupakan penyakit zoonosis) pertama kali di dunia, tahun 1885. Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Zoonosis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit atau bahkan fungi (jamur). Zoonosis dapat ditularkan mel;alui kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan sakit, melalui vector penyakit maupun melalui food-born dan water-born.

Banyak sekali contoh penyakit yang merupakan penyakit zoonosis diantaranya adalah Rabies, Antrax, Leptospirosis, Human Hepatitis B, Toxoplasmosis, Herpes simplex, virus Nipah, demam tifoid (Typus), Malaria dan masih banyak lagi.

Berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), disebutkan bahwa 6 dari 10 penyakit pada manusia berasak dari hewan domestik dan satwa liar, sementara 3 dari 4 penyakit baru/EID (Emerging Infectious Deseases) pada manusia juga berasal dari hewan.

Satwa liar mempunyai peran penting pada sebagian besar zoonosis dan berfungsi sebagai reservoir utama untuk transmisi agen zoonosis ke hewan domistik dan manusia. Penularan agen penyakit seperti virus, bakteri dan lain-lain dari hewan ke manusia terjadi ketika satwa liar yang diambil dari habitatnya lalu dikandangkan dan berinteraksi dengan hewan domestik maupun dengan manusia. “Melindungi alam dan lingkungan sebagai habitat utama satwa liar dan melindungi satwa liar tetap di habitatnya akan berkontibusi pada pencegahan zoonosis. Mari menyebarkan kepedulian tentang penyakit zoonosis karena resikonya tidak bisa diperkirakan!”, kata drh. Dian Tresno Wikanti. (DTK)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (3)

Hanya drh. Putri Larasati yang bisa satu pesawat dengan kedua orangutan untuk penerbangan Semarang ke Cengkareng. Dua orang BKSDA Jateng bersama tiga orang Centre for Orangutan Protection terpaksa terbang dengan maskapai yang berbeda karena pada tanggal tersebut tiket penerbangan telah habis. Untungnya, waktu kedua penerbangan tersebut tidak terpaut jauh, bahkan karena sempat tertunda, kedua maskapai mendarat dalam waktu yang bersamaan.

Waktu makan siang, hampir semua tempat makan di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta penuh bahkan habis. Tim akhirnya menuju Periplus BookCafe and Playground. Kebetulan chef Juna (junior Rorimpadey) sedang makan juga. Sedikit ulasan dari nya, makanan yang disajikan enak termasuk cara penyajiannya yang menarik. Tapi terbilang mahal untuk kami yang biasa bekerja di lapangan.

Waktu transit telah usai. Penerbangan dari bandara Cengkareng ke Kualanamu akan ditempuh hampir tiga jam. Kali ini, semua tim satu pesawat dengan kedua orangutan. Bedanya hanya letaknya saju, orangutan berada di kargo. Dokter hewan kembali mengingatkan pramugari agar suhu ruangan untuk kargo disesuaikan dengan suhu ruangan pada umumnya. Tentu saja agar membuat kedua orangutan nyaman selama perjalanan.

Tepat saat azan magrib berkumandang, tim telah keluar dari Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan. Perjalanan Rambo dan Rimbi belum selesai. Setelah dilepas Bapak Sugeng (Kepala Resort Bandara Kualanamu), tim translokasi dikawal BBKSDA Sumatera Utara untuk melakukan perjalanan darat menuju Besitang, kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Tepat pukul 00.00 WIB, Minggu, 11 April 2021, Rambo dan Rimbi berpindah dari kandang angkut ke kandang klinik Sumatran Rescue Alliance. Keduanya dalam keadaan sehat. Selanjutnya, kedua orangutan akan menjalani masa karantina di SRA. Keduanya akan menjalani tes medis lengkap untuk mengetahui sejarah kesehatan medisnya. Kedua orangutan akan menjalani rehabilitasi yang waktunya tergantung kemampuan keduanya. Rambo dan Rimbi akan mengenal pakan alaminya, berlatih membuat sarang dan bertahan hidup atau mengenali predatornya.

“O iya, Rambo dan Rimbi berganti nama menjadi Asto dan Asih ya. Nama yang diberikan Menteri KLHK, ibu Siti Nurbaya. Semoga Asto dan Asih bisa lekas kembali ke habitatnya, bebas bertualang di antara pepohonan di hutan Sumatera”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection. (RIS)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (2)

Jumat 9 April 2021, tim translokasi dua bayi Orangutan Sumatera batal berangkat. Kemarin malam tim gagal mengumpulkan dokumen legal untuk mengangkut dan memindahkan satwa yang telah ditetapkan Balai Karantina setempat.

Rapid Antigen untuk kedua orangutan malam itu juga dilakukan setelah berhasil menyajikan dokumen dengan lengkap. “Ini syarat tambahan untuk mencegah penyebaran wabah Corona”, ujar drh. Larasati Putri sembari mengambil darah orangutan Rimbi.

Sabtu, 10 April, usai subuh, Rimbi dan Rambo berpindah kandang ke kandang angkut. Kedua orangutan akan masuk Kargo Garuda Indonesia terlebih dahulu. Setelah melalui pemeriksaan, tim segera bergeser ke Bandara Udara Internasional Ahmad Yani, masih satu kawasan. Tas medis dokter hewan Sumatran Rescue Alliance (SRA) sempat tertahan dan harus dibongkar karena ada beberapa perlengkapan yang tidak diperbolehkan naik ke pesawat.

Kendala tak hanya sampai di situ. Penerbangan Garuda yang seharusnya terbang lebih dahulu terlihat tertahan di landasan karena pengecekan dari pihak maskapai. Tim yang menggunakan penerbangan lain pun hampir membatalkan penerbangan agar ada yang mengurus orangutan nantinya jika gagal terbang hari itu. Tim APE Warrior beserta relawan yang ikut mengurus orangutan selama di Semarang pun menunda kepulangan mereka ke Yogyakarta. “Syukurlah, akhirnya kami mendapat kepastian Garuda siap terbang”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection.

Transit di Jakarta, tim Garuda telah siap menyambut dokter hewan yang bertugas mengecek orangutan Rimbi dan Rambo. “Luar biasa Garuda. Kemarin, COP juga menerbangkan dua orangutan ke Kalimantan. Hari ini, dua orangutan lagi ke Sumatera Utara. Crew Ground Garuda juga memastikan selama 5 jam transit, orangutan bahkan drh. Laras dan BKSDA Jateng tidak kekurangan suatu apa pun”, kata Daniek Hendarto lagi. (RIS)

APE WARRIOR BERSAMA MENTARI INTERCULTURAL SCHOOL BINTARO

Perlindungan hutan dan konservasi orangutan menjadi materi Virtual Community Study Day pada Rabu,14 April 2021 yang diikuti 83 peserta yang berasal dari kelas 11 Mentari Intercultural School Bintaro. Kegiatan kunjungan sekolah yang sering dilakukan Orangufriends (kelompok pendukung COP) sebagai bagian dari kegiatan edukasi hanya dapat terlaksana beberapa kali dan itu pun secara virtual. Pandemi COVID-19 banyak mengubah cara dan kebiasaan kita, salah satunya kunjungan ke sekolah. Sekolah sendiri juga kesulitan melaksanakan proses belajar-mengajar secara virtual karena keterbatasan peralatan maupun kemampuan internet.

Para siswa yang ikut dalam Virtual Community Study Day cukup antusias mengikuti materi yang ada. Keadaan orangutan saat ini dan hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk melestarikan hutan serta menjaga keberlangsungan orangutan menjadi fokus pertanyaan. Para siswa menanyakan bagaimana peran siswa untuk menjaga lingkungan dan orangutan, bagaimana cara menangani kebakaran hutan dan ilegal logging dan bagaimana pelajar bisa mengambil peran untuk konservasi di Indonesia.

“Semoga para peserta yang mengikuti Virtual Community Study Day dapat memahami mengenai konservasi orangutan dan habitatnya dan dapat ikut aktif dalam mensosialisasikan informasi mengenai konservasi khususnya orangutan melalui sosial media”, ujar Meylanda P. Sari menutup kegiatan pagi ini. (MEY)

SEPENGGAL KISAH KEPULANGAN RAMBO DAN RIMBI (1)

Siang yang sumuk dan terik diselingi angin sepoi-sepoi dari balik kerangkeng besi pelan-pelan kedua kelopak matanya turun dan terlelap. Rimbi, begitu kami menamainya. Satu individu orangutan betina. Tak jauh dari tempatnya terlelap, Rambo juga tengah menopang kepala dengan lengan kirinya dan tampak merasai rasa kantuk yang juga menyerang.

Jumat, 9 April 2021, siang itu tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection (COP) melakukan shift berjaga menemani Rimbi dan Rambo yang sehari sebelumnya berhasil dipindahkan dari kandang di Agrowisata Sidomuncul menuju Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Dua hari sebelumnya BKSDA Jateng menyita kepemilikan ilegal kedua orangutan tersebut berdasarkan laporan tim APE Warrior COP pada 27 Maret 2021 di salah satu vila di daerah Bandungan, kabupaten Semarang.

Usia kedua orangutan Sumatera ini berkisar 2-5 tahun. Usia yang masih sangat muda dan memiliki peluang besar untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Pertimbangan konservasi inilah yang mengantarkan BKSDA Jateng melakukan translokasi ke pusat rehabilitasi orangutan dan primata dilindungi lainnya yang bernama Sumatra Rescue Alliance (SRA) yang berada di Besitang, Langkat, Sumatera Utara. SRA yang baru beroperasi Januari 2021 ini dikelolah oleh BBKSDA Sumatera Utara bersama Orangutan Information Center dan Centre for Orangutan Protection (COP).

Setelah tertunda satu hari karena ada dokumen legal yang menjadi acuan dalam proses pengangkutan dan pemindahan satwa yang harus dipenuhi, akhirnya Sabtu 10 April, Rimbi dan Rambo berhasil terbang ke Medan. (RIS)