DARI ABU MERAPI KE GARIS DEPAN BENCANA

Bencana selalu datang dengan urutan yang sama, sirene – evakuasi – angka korban – lalu senyap. Tapi di balik daftar penyita manusia, ada barisan nyawa lain yang nyaris tak pernah masuk laporan satwa. Letusan, banjir, gempa, kebakaran, hingga angin ekstrem terus berulang, memperlihatkan pola lama yang tak kunjung dibenahi. Ketika manusia menyelamatkan diri, hewan ditinggalkan. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing, mereka menjadi korban bisu dari sistem tanggap darurat yang belum menganggap nyawa non-manusia sebagai prioritas.

Kesadaran itu mencapai titik balik pada letusan besar Gunung Merapi 2010. Ribuan ternak mati bukan hanya karena awan panas dan abu, tetapi juga karena kelaparan dan ketiadaan penanganan setelah pemiliknya mengungsi. Negara sibuk menghitung kerugian infrastruktur, sementara kandang-kandang kosong dipenuhi bangkai dan hewan yang sekarat. Di celah itulah, Centre for Orangutan Protection (COP) yang dikenal lewat konservasi orangutan memutuskan turun tangan ke desa-desa terdampak, mengevakuasi ternak, mendistribusikan pakan hijau, serta merawat anjing dan kucing yang ditinggal menjaga rumah dan kandang.

Dari pengalaman lapangan itulah APE Warrior lahir, sebuah tim tanggap darurat satwa yang hadir ketika perhatian publik dan kebijakan sering berhenti pada manusia. APE Warrior bukan sekadar relawan, melainkan sistem respons berbasis data satwa, logistik pakan, penanganan medis, hingga sterilisasi bangkai untuk mencegah wabah. Dan satu hal yang kerap disalahpahami, kami tidak berjalan sendiri. Setiap langkah dilakukan secara resmi, berkoordinasi dan berada di bawah arahan Dinas Peternakan setempat agar kerja penyelamatan berjalan aman, terukur, dan bertanggung jawab.

Lima belas tahun setelah Merapi 2010, APE Warrior masih berdiri di garis depan. Bukan karena bencana berhenti datang, melainkan karena ia terus berulang. Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat yang tak nyaman, selama sistem tanggap darurat masih memandang satwa sebagai urusan sampingan. APE Warrior akan tetap turun bersama negara, di lapangan. Dan selama bumi terus memberi peringatan, pertanyaannya tetap sama, “Apakah kita masih mau berpura-pura lupa bahwa keselamatan seharusnya tidak hanya milik manusia?”. (DIT)

DI TENGAH ABU LERENG SEMERU, COP BERGERAK UNTUK SATWA!

Selama dua minggu berada di lereng Gunung Semeru, tim APE Warrior hidup dalam ritme yang ditentukan oleh abu, suara relawan, dan panggilan warga yang menemukan satwa terluka. Setiap langkah membawa jejak debu vulkanik tetapi juga menghadirkan harapan kecil bahwa masih ada nyawa yang bisa diselamatkan. Di Sumbersari, Gumuk Mas, Kamar A, dan Kandang Komunal Huntap, tim bergerak dengan satu keyakinan yang sama, yaitu tidak meninggalkan siapa pun, termasuk satwa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Hari-hari pertama dipenuhi temuan ternak yang sudah tidak diselamatkan. Sterilisasi bangkai menjadi tugas paling berat, bukan hanya jumlahnya tetapi karena setiap hewan pernah menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang kini harus merelakan. Setiap bangkai menyimpan kisah kehilangan yang tidak terlihat dan tim belajar menghadapi duka itu dengan ketenangan dan rasa hormat.

Di sela kesedihan, harapan perlahan muncul dari distribusi pakan. Hijauan, konsentrat, dan pakan untuk satwa liar dibawa ke titik-titik yang masih dihuni ternak dan satwa yang bertahan. Ada kambing yang berlari kecil saat mencium aroma hijauan segar, ada kucing yang akhirnya mau makan setelah berhari-hari menggigil ketakutan. Momen kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tetap berusaha bertahan meski dikelilingi abu dan ketidakpastian.

Ruang medis lapangan menjadi tempat lain dimana harapan dirawat dengan sungguh-sungguh. Beberapa kambing yang terluka dan sejumlah kucing yang lemah menerima perawatan intensif. Salah satunya adalah seekor kucing yang masih sangat kecil dan hampir tidak bersuara. Ketika matanya akhirnya terbuka dan iii mulai menyusu dengan tenang, seluruh tim merasakan kelegaan yang sulit digambarkan, seolah semangat mereka ikut hidup kembali.

Bagian terakhir dari perjalanan ini adalah proses evakuasi. Puluhan kambing dan beberapa kucing berhasil dibawa keluar dari zona berbahaya satu per satu dengan perjuangan yang tidak ringan. Ketika status tanggap darurat berakhir pada 2 Desember, tim berdiri di bawah langit Semeru dalam keadaan lelah dan berdebu tetapi penuh rasa bangga. Tim pulang dengan keyakinan bahwa di tengah bencana mereka telah membantu menjaga kehidupan yang mungkin tidak terdengar oleh banyak orang namun sangat berarti bagi mereka yang berhasil selamat. (DIT)

SEMERU 2025, HEWAN PUN MENJADI KORBAN YANG TERABAIKAN

Awan panas itu naik seperti gelombang hitam yang tidak punya belas kasihan. Dalam menit-menit yang terasa seperti kamera slow-motion, Pronojiwo berubah dari desa hidup menjadi landskap kelabu tanpa suara. Rumah rubuh, kandang ternak hilang bentuk, dan bau abu bercampur belerang menggantung seperti ancaman. Manusia berlari, beberapa sempat menyelamatkan kambing atau menggenggam kucing kesayangan, tapi tidak semua hewan punya kesempatan yang sama. Banyak yang tertinggal, terjebak, atau kalah cepat dari panas yang datang lebih dulu.

Di tengah kekacauan itu, Rabu malam hampir tengah malam, ponsel saya bergetar. Pesan singkat, “Gabung COP? Kita butuh orang buat asesmen”. Tidak ada waktu untuk mikir panjang. Saya jawab, “Siap” dan tanpa sadar melangkah ke dunia yang tidak pernah saya rencanakan, dunia relawan satwa. Esok paginya saya sudah berada di lapangan bersama dua orang lainnya. Mas Mamat yang memimpin asesmen, serta Imdad sebagai pencatat, dan saya mendokumentasikan apa yang tersisa dari kehidupan yang baru saja disapu bencana.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan tanpa henti. Pertanyaan orang-orang di lapangan “Hewannya diapakan, Mas?”, seolah tamparan yang membuka mata saya. Selama ini fokus bencana selalu tentang manusia dan bangunan, padahal banyak hewan juga kehilangan rumah, keluarga, bahkan hidup. Hari ketiga, bantuan semangat dari Jogja datang, tanpa banyak bicara mereka bekerja seperti mesin yang sudah dilatih bertahun-tahun. Bersama mereka, kami menyisir desa demi desa, mengevakuasi kambing terjebak, memberi pakan kucing yang bersembunyi di rumah-retak, dan menangani luka bakar pada sapi yang masih mencoba berdiri.

Setiap langkah terasa berat, abu menempel di kulit seperti racun halus, suara letusan kecil dari puncak membuat napas tercekik, dan bau bangkai bercampur panas vulkanik jadi pengingat bahwa kami bukan hanya bekerja, namun kami bertahan. Tapi di tengah semua itu ada momen-momen kecil yang menghantam emosional, pemilik ternak yang menangis melihat sapi yang ia rawat bertahun-tahun harus dikubur, kucing kecil yang tetap mengeong meski seluruh badannya kotor abu, kambing yang masih mencoba mengikuti pemiliknya meski kakinya gemetar. Bencana membuat semuanya telanjang, rasa takut, rasa sayang, rasa kehilangan.

Ketika status tanggap darurat dicabut tanggal 2 Desember 2025, kami tahu pekerjaan di Semeru sementara berhenti. Tapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang. Dua pekan itu seperti membuka lapisan baru dalam hidup saya bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tapi juga memaksa kita melihat bahwa semua makhluk, manusia atau bukan, sama-sama ingin bertahan hidup. Relawan mungkin datang dan pergi, tapi pengalaman itu menetap, bahwa empati tidak punya spesies. (Bayu Surahmat_Orangufriends Lumajang)

AIR MATA TERNAK DAN CERITA PARA RELAWAN

Gunung Semeru batuk keras pada 19 November 2025, mengirimkan kolom abu hitam yang membuat langit seperti sedang menahan amarah. Saat banyak orang memilih mengunci pintu sambil berdoa, saya justru menerima pesan singkat dari seseorang yang suaranya seperti selalu muncul ketika bencana memanggil, Mbah Monyok. Hanya satu instruksi, “Turun ke Penanggal”. Tidak ada konteks, tidak ada waktu untuk ragu. Saya tidak tahu bahwa perintah malam itu akan membawa saya memasuki hari-hari dimana hidup dan mati hanya dibedakan oleh lapisan debu tipis.

Besok paginya, di bawah semburat abu yang masih turun, kami memulai tugas utama, mencari bangkai. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing semuanya tersebar di kamar A, Gumukmas, Sumbersari. Tugas kami bukan sekadar menemukan, tetapi memastikan mereka tidak menjadi sumber penyakit di tengah pengungsian. Di antara kandang yang runtuh dan bau hangus yang menusuk, saya belajar memandang tubuh-tubuh itu bukan sebagai bangkai, tapi sebagai korban yang sama sekali tidak pernah diberi peluang menyelamatkan diri. Yang paling membuat dada sesak adalah permintaan seorang anak kecil, Putri yang ingin kambing kesayangannya dikuburkan, bukan dibakar. Bagi dia, itu bukan aturan medis, itu penghormatan terakhir.

Ketika tim COP dari Jogja tiba, ritme kerja berubah drastis. Mereka datang membawa ketenangan, APD lengkap, dan langkah-langkah yang selalu terukur. Bersama mereka kami melakukan prosedur sterilisasi, mengumpulkan bangkai, membuat lubang kubur, atau membakarnya hingga tuntas agar tidak ada bakteri, virus, atau parasit yang lolos di balik abu Semeru. Di tengah kobaran api yang memakan habis tubuh-tubuh itu, saya melihat betapa pentingnya ilmu di balik tindakan yang secara emosional begitu berat. Mereka mengajarkan saya bahwa merawat satwa juga berarti memahami risiko penyakit yang bisa menghantam manusia dan ternak yang masih hidup.

Beberapa hari kemudian, tim dari Kalimantan datang, membawa filosofi COP yang lebih luas. Dari mereka saya mendengar soal ekologi, rantai penyakit, dan bagaimana satu bangkai yang tidak ditangani bisa berdampak pada kesehatan satu desa. Saat kami menyusuri ladang yang sepi, mencari sisa-sisa tubuh yang tersembunyi di balik tumpukan abu, saya menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekedar “membersihkan”. Ini bagian dari menjaga keseimbangan bahkan wujud pekerjaannya adalah memikul, mengubur, dan membakar mereka yang tak lagi bernapas.

Pada akhirnya, Semeru tidak hanya memuntahkan lava dan abu, tapi ia membuka mata saya terhadap sisi bencana yang jarang disorot kamera. Bahwa mencari bangkai satwa dan membakarnya bukanlah pekerjaan yang dingin, itu bentuk paling sunyi dari kemanusiaan. Semeru menjadi guru yang keras, mengajarkan bahwa memuliakan kehidupan kadang berarti menghadapi kematian secara langsung. Kalau nanti ada rezeki, saya ingin ikut COP School. Bukan lagi sebagai “Agen Dosa”, tapi sebagai seseorang yang paham bahwa menjaga satwa bukan hanya menyelamatkan yang hidup, tetapi juga bertanggung jawab pada yang sudah tiada. (Imdad Ervianto_Orangufriends Lumajang)

AYAH ORANGUTAN MENGAJAR DI KELAS ANANDA

Selasa pagi bercampur mendung, suara lengkingan anak-anak Sekolah Dasar Mutiara Persada, Yogyakarta membicarakan logo orangutan yang ada di kemeja ayahnya Malika, salah satu siswa. Acara tahunan sekolahan yaitu Parent Teaching atau orang tua murid mengajar untuk mengenalkan berbagai macam profesi kepada anak-anak. Ramadhani, Manajer COP Sumatra yang merupakan orang tua Malika Khatulistiwa dengan bangga menceritakan pekerjaan yang telah digelutinya selama lima belas tahun terakhir.

Memulai cerita orangutan dan kehidupannya menarik perhatian anak-anak yang memiliki energi luar biasa aktif. Lebih dalam lagi pekerjaan di dunia konservasi khususnya pusat rehabilitasi orangutan meliputi peran dokter hewan, biologis, dan tentu saja profesi yang mereka sukai yaitu animal keeper karena dari video dan foto yang ditampilkan animal keeper yang sangat dekat dengan orangutan. Abel berteriak memilih menjadi animal keeper ketika saya tanya kalau besar ingin bekerja di penyelamatan orangutan, ingin menjadi siapa.

Di akhir sesi “orangutan” masuk kelas untuk bisa berfoto bersama, tapi ternyata malah menjadi sesi yang cukup lama karena hampir semua siswa ingin bermain dengan orangutan. Bahkan beberapa siswa laki-laki memblokade pintu keluar agar orangutan tidak bisa pulang.

“Mungkin sudah 13 tahun, saya tidak pernah lagi bercerita di depan kelas. Saya selalu mendorong relawan-relawan COP atau yang sering disebut Orangufriends untuk menjadi pemateri di setiap edukasi. Tapi hari ini, saya diminta di depan dan menceritakan kerjaan saya di depan Malika dan teman-temannya. Ternyata perjalanan yang cukup panjang dan menarik.”, ujar Ramadhani sambil tersenyum. (DAN)

KISAH DARI GARIS DEPAN PENYELAMATAN SATWA

Di tengah teriknya dataran tinggi Yogyakarta, tawa dan obrolan terdengar bersahutan di Camp APE Warrior. Tapi sore itu, udara terasa sedikit berbeda. Camp yang biasanya riuh dengan suara sawah dan canda relawan, kini menyambut tamu-tamu istimewa dari perwakilan KSSL UGM, BKSDA Yogyakarta, Aksi Konservasi Yogyakarta, Sekber PPA DIY, hingga mahasiswa dan warga yang penasaran dengan “Kelas Bulanan” COP, yaitu Dating Apes.

Pada hari Sabtu sore, 18 Oktober 2025, Dating Apes ke-11 ini bukan seperti biasanya. Di antara para tamu, hadir sosok yang membuat suasana mendadak terasa lebih “global”, Jennifer Gardner, Senior Program Disaster dari International Fund for Animal Welfare (IFAW). Ia datang jauh-jauh dari Amerika hanya untuk berbagi satu hal yang jarang dibicarakan, yaitu bagaimana rasanya menjadi penyelamat satwa di tengah bencana.

Tanpa banyak basa-basi, Jennifer memutar sebuah video dokumenter. Di layar kecil di tengah hamparan sawah itu, terpampang potongan realitas dari berbagai penjuru dunia, badai di Karibia, kebakaran di Australia, gempa, banjir, dan kehancuran. Semua orang di camp mendadak hening. Yang terlihat di sana bukan hanya manusia yang kehilangan, tapi juga hewan-hewan yang menjadi korban, tanpa suara, tanpa daya, hanya menunggu tangan yang mau menolong.

Setiap cerita yang Jennifer bagikan membuka mata, bahwa di balik setiap bencana, selalu ada makhluk hidup lain yang berjuang untuk tetap hidup. Bahwa empati bukan sekadar rasa iba, tapi tindakan nyata untuk tidak berpaling.

Sesi tanya jawab pun berjalan panjang, bukan karena waktunya, tapi karena rasa ingin tahu yang seolah tak habis-habis. Bahkan setelah acara selesai, para peserta masih bertahan. Ada yang ingin tahu lebih dalam tentang cara kerja relawan satwa di luar negeri, ada yang sekadar ingin mengucap terima kasih.

Di antara obrolan ringan dan senyum yang tak kunjung pudar, satu hal terasa jelas sore itu, yaitu cinta pada satwa tidak butuh paspor. Hanya butuh hati yang siap turun ke lapangan, bahkan ketika dunia sedang runtuh. (DIT)

DATING APES BATCH 9, DARI PEMUDA DESA UNTUK BUMI JOGJA

Camp APE Warrior kembali dipenuhi obrolan hangat dan diskusi lingkungan pada Jumat, 26 September 2025. Kelas bulanan COP yaitu Dating APES kembali digelar dan kali ini sudah memasuki edisi ke-9. Tamu istimewa, Rifka Agnes dari KPHI (Koalisi Pemuda Hijau Indonesia) Jogja, hadir untuk berbagi cerita tentang konservasi serta bagaimana anak muda bisa mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan sekitar.

Sore itu terasa akrab sejak awal. Teman-teman dari berbagai komunitas, mulai dari Orangufriends, Vetpagama, Teman Berjalan, 4K, Relung Indonesia, KSSL UGM, alumni COP School dan Orangufriends Yogyakarta berkumpul. Tidak ada jarak antara pemateri dan peserta. Seperti biasa, diskusi mengalir begitu saja, seolah semua duduk di satu lingkaran besar yang terbuka untuk siapa pun. Rifka membawa sudut pandang yang segar, ia menjelaskan tentang jenis-jenis pohon yang mereka fokuskan untuk penanaman dalam program restorasi, khususnya pohon-pohon penyerap air seperti pohon kepuh. “Namanya saja mungkin baru pertama kali didengar sebagian beserta peserta”. Penjelasan ini membuka wawasan bahwa memilih jenis pohon untuk rehabilitasi hutan bukan sekadar menanam, tapi harus memahami fungsi ekologis nya.

Berbagai pertanyaan menarik pun muncul. “Kalau di desa kami, anak muda ingin memulai aksi konservasi dari nol, tantangan paling besar biasanya apa ya, Kak?”, tanya seorang peserta. Rifka tersenyum, “Tantangan terbesar biasanya justru membangun kepercayaan. Tapi kalau kita konsisten, masyarakat akan melihat kesungguhan kita”. Pertanyaan lain menyusul, “Setelah pohon ditanam, bagaimana cara memastikan program ini benar-benar terpantau, apalagi kalau lahannya dikelola pihak lain?”. Rifka menjawab penuh semangat, “Kuncinya kolaborasi. Kita perlu menjalin komunikasi dengan pengelola setempat, membuat sistem monitoring bersama, bahkan sekecil laporan rutin sekalipun bisa menjadi kontrol yang efektif”.

Diskusi berjalan dengan penuh energi hingga waktu acara berakhir. Namun sangking semangatnya, banyak peserta tetap bertahan di lokasi meski acara sudah resmi ditutup. Obrolan kecil berlanjut di Joglo Camp APE Warrior, membuktikan bahwa ruang-ruang seperti ini bukan hanya ditunggu, tapi juga selalu dirindukan. (DIM)

GUNUNG MERAPI BERGOLAK, APE WARRIOR SIAGA

Asap tipis dan guguran material vulkanik masih keluar dari puncak Gunung Merapi. Dalam sebulan terakhir, gunung paling aktif di Indonesia ini lagi-lagi menunjukkan amarahnya. Data resmi BPPTKG mencatat ada 88 kali guguran lava pijar yang meluncur sejauh dua kilometer ke arah Kali Bebeng dan Kali Krasak. Status jelas di Level III (Siaga).

Semua orang tahu apa artinya manusia harus siap-siap evakuasi. Tapi yang sering luput kepayang adalah nasib hewan di lereng Merapi. Sapi, kambing, ayam, sampai anjing dan kucing ikut terdampak. Padahal, buat petani, ternak bukan sekadar hewan, tapi tabungan hidup. Masalahnya, begitu bencana datang, mereka sering jadi korban pertama yang ditinggalkan.

Kondisi ini bukan hal baru. Waktu letusan besar Merapi tahun 2010, ribuan ternak musnah, juga kelaparan karena ladang tertutup abu dan pemiliknya terpaksa mengungsi. Hampir gak ada yang peduli kecuali Centre for Orangutan Protection (COP). Organisasi yang biasanya fokus pada konservasi orangutan ini justru turun ke desa-desa, bantu evakuasi ternak, bantu dropping pakan hijau segar yang sulit ditemukan, sampai feeding dan rawat satwa domestik (anjing dan kucing) yang ditinggal pemiliknya untuk menjaga rumah maupun kandang mereka. Dari pengalaman itulah lahir APE Warrior, tim tanggap darurat yang dibentuk untuk satu tujuan “menyelamatkan satwa di tengah bencana”.

Sejah saat itu, APE Warrior selalu hadir di berbagai bencana besar mulai dari erupsi Kelud (1013), SInabung (2014), Gunung Agung (2017), erupsi Merapai (2020 dan 2021), Semeru (2021 dan 2022), hingga erupsi Lewotobi (2024). Kini, 15 tahun setelah letusan Merapi 2010, APE Warrior kembali berjaga di jalur Merapi. Relawan siaga dengan data satwa di desa-desa rawan bencana, siap turun kalau ada satwa terancam. Karena pada akhirnya, bencana selalu cerita tentang kehilangan. Tapi dengan APE Warrior, satu hal bisa dipastikan, satwa gak lagi jadi korban yang terlupakan. Yuk, gabung bareng APE Warrior dan jadi bagian dari garda depan penyelamatan satwa di tengah bencana”! (DIT)

DI BALIK ANGKA DI HARI BADAK 2025, MITOS, KEJAHATAN, DAN ANCAMAN NYATA DI UJUNG TANDUK

Hari Badak Sedunia 2025 kembali dirayakan, namun bukan dengan berita suka cita, melainkan dengan realita yang mengiris hati. Di balik perayaan, ada data yang bagai tamparan keras dari kolaborasi Centre for Orangutan Protection (COP), Kepolisian Republik Indonesia, dan Balai Penegakan Hukum (Gakkum) yaitu tiga kasus perdagangan cula badak terungkap dalam setahun terakhir, melibatkan sembilan pelaku. Angka ini menunjukkan bahwa perjuangan melawan kejahatan satwa liar masih jauh dari kata usai.

Penangkapan sembilan orang ini memang sebuah keberhasilan, tetapi di saat yang sama, ia mengungkap kerentanan badak di alam liar. Kenapa perdagangan ini terus terjadi? Jawabannya klasik, “ada permintaan, pasti ada pasokan”. Cula badak, benda yang sepintas terlihat tidak berharga, di pasar gelap bisa dihargai hingga ratusan juta rupiah per kilogram, bahkan mengalahkan harga emas.

Mengapa bisa semahal itu? Karena ada mitos yang sudah mendarah daging, yang menyatakan bahwa cula badak memiliki kekuatan penyembuhan. Di beberapa negara Asia, cula dipercaya bisa mengobati demam, sakit kepala, bahkan kanker.Tapi mari kita luruskan, ini hanyalah bualan belaka. Secara ilmiah, cula badak terbuat dari keratin, materi yang sama dengan kuku dan rambut kita. Coba bayangkan, adakah orang yang sembuh dari kanker dengan memakan kuku manusia? Tentu tidak. Mitos inilah yang jadi bahan utama perdagangan brutal ini.

Perburuan yang dipicu mitos ini tidak hanya mengancam kelangsungan hidup badak, tetapi juga merusak tatanan ekosistem. Badak bukan sekadar satwa besar, mereka adalah ‘insinyur ekosistem’. Dengan memakan tumbuhan dan menyebarkan benih lewat kotorannya, mereka membantu menjaga hutan tetap sehat dan beragam. Ketika populasi badak berkurang, keseimbangan alam terganggu. Regenerasi hutan terhambat, keanekaragaman hayati menurun, dan ekosistem menjadi lebih rentan terhadap ancaman seperti perubahan iklim.

Kita tidak bisa membiarkan kebodohan yang berakar dari mitos merenggut masa depan badan dan hutan kita. Penangkapan para pelaku ini adalah langkah penting, tetapi perjuangan sesungguhnya ada di tangan kita semua. Edukasi harus digencarkan untuk membasmi mitos, dan penegakan hukum harus diperkuat untuk memutus mata rantai perdagangan ilegal.

Hari Badak 2025 harus menjadi momentum bagi kita untuk sadar, bahwa melindungi badak sama dengan melindungi diri kita sendiri. (DIT)

TRENGGILING, PENJAGA SENYAP YANG TERDESAK PERDAGANGAN GELAP

Sejak lebih dari satu dekade lalu, Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Gakkum Kehutanan dan Kepolisian menelusuri jalur panjang perdagangan trenggiling di Indonesia. Dari hasil operasi sejak 2012 hingga sekarang, sedikitnya 10 ekor trenggiling hidup berhasil diamankan. Selain itu, aparat juga menyita 374 kilogram sisik kering, barang bukti yang menjadi bukti nyata masih kuatnya permintaan di pasar gelap.
Kisah ini bukan hanya soal angka sitaan. Trenggiling, satwa yang kerap dijuluki penjaga senyap, memegang peran penting dalam keseimbangan hutan. Setiap malam, satu ekor trenggiling bisa memangsa puluhan ribu semut dan rayap. Tanpa mereka, populasi serangga perusak berpotensi meledak, merusak kesuburan tanah, melemahkan pohon, bahkan memengaruhi hasil panen masyarakat sekitar. Kehilangannya akan meninggalkan celah besar dalam rantai ekologi yang sulit digantikan.
Namun, nilai ekologis itu tak sebanding dengan harga di pasar gelap. Sisik trenggiling kering dianggap jauh lebih berharga ketimbang keberadaannya di alam. Untuk memperoleh sisik tersebut, seekor trenggiling harus mati. Hilangnya satu individu berarti satu pengendali alami hutan ikut terhapus, dengan dampak berantai yang berujung pada kerugian manusia sendiri.
Permintaan terbesar datang dari Tiongkok. Selama bertahun-tahun, sisik trenggiling dipakai dalam ramuan pengobatan tradisional. Tekanan inilah yang mendorong perburuan besar-besaran hingga menyentuh hutan-hutan di Indonesia. Akan tetapi, situasi mulai berubah. Pada 2020, pemerintah Tiongkok menghapus sisik trenggiling dari daftar resmi bahan baku pengobatan tradisional. Langkah lebih tegas menyusul pada 2025, ketika sisik trenggiling dan seluruh produk turunannya resmi dikeluarkan dari farmakope nasional yang berlaku mulai 1 Oktober 2025. Meski masih ada celah melalui klaim “stok legal”, kebijakan ini dianggap titik balik dalam menekan permintaan global.
Cerita trenggiling memberi pesan penting: perdagangan satwa liar tidak hanya mempercepat kepunahan, tetapi juga meruntuhkan fondasi ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan satu demi satu penjaga hutan ini lenyap, atau justru berani menghentikan rantai gelap yang mengancam keberlangsungan hidup kita sendiri? (DIT)