BELAJAR PERCAYA DI TENGAH PROSES ADAPTASI

Perjalanan Felix selama periode ini menunjukkan kombinasi antara perkembangan dan tantangan adaptasi. Secara kesehatan, kondisi Felix telah membaik setelah sempat mengalami gejala pilek di awal bulan. Saat ini, ia sudah kembali aktif mengikuti sekolah hutan, meskipun dalam beberapa kesempatan masih menunjukkan keraguan untuk keluar dari kandang.

Dalam aktivitas di sekolah hutan, Felix cukup sering beraktivitas di atas pohon, terutama saat merasa nyaman. Ia terlihat aktif mencari makan, mengonsumsi buah mentah, kambium, dan bagian tumbuhan lainnya. Bersama Pansy, Felix juga kerap melakukan aktivitas bersama, seperti berpindah dari pohon ke pohon dan megeksplorasi area hutan, menunjukkan adanya ikatan sosial yang cukup kuat.

Namun, Felix masih menunjukkan sensitivitas terhadap kehadiran manusia tertentu, khususnya animal keeper laki-laki. Hal ini terkadang membuatnya enggan keluar kandang atau ingin kembali lebih cepat saat sesi sekolah hutan berlangsung. Ia juga cenderung mengikuti pergerakan babysitter sebagai bentuk rasa aman, yang menjadi bagian penting dalam proses adaptasinya.

Meski demikian, Felix tetap menunjukkan potensi yang baik dalam pembelajaran keterampilan alami. Dengan kondisi fisik yang stabil dan pola fese normal, fokus selama periode ini adalah membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga ia dapat lebih konsisten dalam mengikuti kegiatan sekolah hutan. (RAF)

MELEPASLIARKAN BUKAN SEKEDAR MENGEMBALIKAN

Pada 26 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatra Barat, KPHP Pasaman Raya, dan Centre for Orangutan Protection menggagalkan upaya perdagangan ilegal satu individual Tapir Asia. Ia ditemukan di atas kendaraan dalam perjalanan panjang menuju Sumatera Utara menuju sebuah tujuan yang tidak pernah ia pilih.

Tubuhnya bercerita lebih dulu sebelum siapa pun bertanya. Luka di pergelangan kaki menunjukkan bekas jerat. Tali yang terlalu lama mengikat meninggalkan jejak yang dalam. Di bagian kepala dan tubuh, luka lain terlihat jelas. Ia tidak dalam kondisi baik. Ia tidak siap untuk apa pun kecuali bertahan. Dan bertahan saja tidak cukup.

Selama kurang lebih 14 hari, tapir itu dirawat. Bukan sekedar diberi makan dan obat, tetapi dipulihkan perlahan. Di kantor BKSDA Sumatera Barat Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, tim medis bekerja tanpa banyak sorotan. Dokter hewan dan perawat satwa memastikan luka-luka itu mengering, infeksi tidak menyebar dan tubuhnya kembali cukup kuat untuk berdiri.

Merawat dalam konteks ini, bukan tindakan heroik. Ia adalah kerja rutin. Berulang. Kadang membosankan. Tapi justru di situlah letak pentingnya. Karena tanpa perawatan, penyelamatan berhenti di tengah jalan. Namun ada satu hal yang membuat proses ini tidak sederhana, karena statusnya sebagai barang bukti.

Tapir itu bukan hanya korban. Ia juga bagian dari perkara hukum. Artinya, setia[ langkah terhadap dirinya harus melalui koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, dengan sistem yang tidak selalu bergerak cepat. Bersama Kepolisian Resor Pasaman dan Kejaksaan Negeri Pasaman, keputusan akhirnya diambil. Tapir itu tidak harus menunggu persidangan. Ia bisa dilepasliarkan lebih cepat. Sebuah keputusan yang terdengar sederhana, tetapi menentukan. Karena waktu, bagi satwa liar bukan sekedar angka.

Pelepasliaran sering kali dipahami sebagai akhir. Padahal, ia adalah kelanjutan. Apa yang terjadi setelahnya tidak selalu bisa dipantau, tidak selalu bisa dikendalikan. Tapi setidaknya, ia diberi kesempatan. Di luar sana, perdagangan satwa liar masih berlangsung. Jaringan yang sama masih bergerak. Permintaan yang sama masih ada. Tapir ini mungkin selamat, tapi banyak yang lain tidak.

Di titik ini, pelepasliaran menjadi lebih dari sekadar tindakan konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa setiap penyelamatan selalu datang terlambat bagi sebagian yang lain. Dan hanya merawat dalam segala keterbatasan adalah cara paling nyata untuk melawan. Bukan dengan cara yang besar. Bukan dengan cara yang cepat. Tetapi dengan memastikan bahwa satu nyara tidak hilang sia-sia. (APE Protector)

MAXIMUS KINI BERADA DI AMBANG BABAK BARU

Maximus telah tumbuh dari sosok kecil yang dulu lebih sering mengikuti langkah temannya, yang terkesan menjadi bayangan dari orangutan Agam kini telah berdiri tanpa Agam di sisinya. Tidak ada lagi jarak yang ia jaga karena lagu, tidak ada lagi gerak yang tertahan karena menunggu. Yang ada hanyalah hutan yang terbentang luas dan dirinya sendiri dan kepercayaan dirinya untuk sekolah hutan.

Begitu kakinya menyentuh tanah lembab, Maximus mengangkat wajahnya ke arah kanopi. Seolah membaca peta yang tergambar dalam cahaya, ia memilih satu pohon tinggi di sisi utara enclosure. Dulu ia memanjat dengan ritme hati-hati, sering memastikan posisi Agam sebelum berani bergerak lebih jauh. Namun hari ini, ada ketegasan baru di setiap ayunan lengannya. Ia memanjat bukan untuk mengejar, melainkan untuk menemukan.

Di bawahnya, baby sitter orangutan yang baru saja masuk, Filzah Nadira, berjalan perlahan menyusuri lantai hutan. Langkahnya ringan, tatapannya awas. Ia menjaga jarak yang cukup, cukup dekat untuk memastikan keselamatan, cukup jauh untuk memberi ruang bagi Maximus belajar dari pengalamannya sendiri. Kehadirannya bukan untuk menggantikan naluri liar, melainkan menjadi jembatan sunyi menuju kemandirian.

Di ketinggian, Maximus berhenti sejenak. Angin menyentuh rambut di punggungnya. Aroma buah tercium samar. Ia bergerak menyusuri cabang, menemukan buah-buahan yang menggantung di antara daun. Tangannya cekatan memetik, giginya menggigit daging buah dengan mantab. Kulitnya jatuh berderak ke lantai hutan. Tidak ada yang mengarahkan, tidak ada yang menunjukkan. Ia menemukan sendiri.

Filzah mendongak, menyaksikan bagaimana Maximus kini tidak lagi “ragu” dan takut jika jauh dari Agam. Dulu, ia kerap berhenti lama sebelum melangkah, seperti menimbang keberanian di dalam dirinya. Kini, ia bergerak dengan perhitungan yang lebih matang. Ia tanpa ragu menguji kekuatan ranting, menyesuaikan keseimbangan tubuhnya, lalu menggantung dengan luwes sebelum berpindah pohon.

Sesekali Maximus mencoba mengupas kulit pohon tipis dan menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil yang dulu ia lakukan karena meniru, kini menjadi bagian dari nalurinya sendiri. Area sekolah perlahan menjadi gurunya memberi pelajaran tanpa suara, tanpa instruksi, hanya melalui pengalaman.

Sesekali Filzah tetap mengawasi dengan tenang. Ia memahami bahwa momen seperti ini adalah capaian penting dalam rehabilitasi. Ketika orangutan tidak lagi terdistraksi oleh rangsangan sesaat, tetapi mampu kembali pada tujuan alaminya mencari makan, menjelajah, bertahan, dan belajar.

Menjelang siang, ketika matahari semakin tinggi, Maximus berhenti di ketinggian sedang. Ia mulai mencoba melipat beberapa ranting, menyusunnya perlahan. Belum sempurna, belum kokoh seperti sarang orangutan dewasa, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa insting membangun tempat istirahat mulai tumbuh.

Filzah tetap berjalan di bawah, menjaga dalam diam. Maximus di antara dahan-dahan tinggi menuliskan satu bab penting dalam hidupnya, bahwa kemandirian bukan berarti sendiri, melainkan mampu memilik jalan dengan yakin, bahkan ketika yang menemani hanyalah bayangan pohon dan seorang baby sitter yang percaya padanya dari kejauhan. (NAB)

APRESIASI INTERNASIONAL DARI USFWS TEGASKAN PENTINGNYA PERLINDUNGAN SATWA LIAR

Surabaya – Penghargaan yang Centre for Orangutan Protection (COP) terima atas upaya dalam memerangi kejahatan terhadap satwa liar menjadi pengingat bahwa kerja-kerja perlindungan yang kami lakukan selama ini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas, melampaui batas wilayah dan kepentingan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan United States Fish and Wildlife Service (USFWS) di Indonesia dan diterima oleh Direktur COP, Daniek Hindarto.

Bagi COP, momen ini bukan sekedar seremoni, melainkan bentuk dukungan terhadap berbagai upaya yang terus berjalan di lapangan. Hingga saat ini, COP telah menangani sedikitnya 76 kasus kejahatan terhadap satwa liar, yang mencerminkan bahwa praktik ilegal tersebut masih terus terjadi dan membutuhkan penanganan yang berkelanjutan. Kerja-kerja perlindungan yang kerap berlangsung tanpa sorotan publik tetap memiliki dampak nyata, baik ditingkat nasional maupun global.

Menanggapi penghargaan tersebut, Direktur COP, Daniek Hendarto menegaskan pentingnya menjaga konsistensi dalam upaya perlindungan satwa liar. “Penghargaan ini bukan tentang kami sebagai organisasi, tetapi tentang kerja kolektif yang libatkan banyak pihak. Ini menjadi pengingat bahwa setiap upaya memiliki arti, dan selama kejahatan terhadap satwa liar masih terjadi, kami tidak punya alasan untuk berhenti”, ujarnya.

Perlindungan satwa liar di Indonesia sejatinya telah memiliki landasan hukum yang jelas, sehingga kejaran terhadap satwa liar bukan hanya persoalan etika, tetapi juga pelanggaran hukum. Tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan implementasi di lapangan dapat berjalan secara konsisten dan efektif, seiring dengan kompleksitas praktik kejahatan yang terus berubah.

Perlindungan satwa liar tidak hanya berkaitan dengan satu spesies atau kasus, tetapi merupakan bagian dari menjaga keseimbangan ekosistem yang juga menopang kehidupan manusia. Penghargaan ini bukanlah titik akhir, melainkan pengingat bahwa upaya ini harus terus berjalan. Selama kejahatan terhadap satwa liar masih terjadi, maka komitmen untuk menghentikannya tidak boleh berhenti. (DIT)

AWALNYA DISANGKA MBG, BERUJUNG CINTA PADA ORANGUTAN

Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.

“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.

Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.

Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.

Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.

Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.

Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.

Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)

PIPA, KUACI, DAN CARA HUTAN DIAJARKAN KEMBALI

Di dalam kandang, “hutan” tidak benar-benar hilang. Ia dihadirkan ulang dalam bentuk yang lebih kecil, lebih sederhana, lebih sunyi, namun tetap menyimpan satu tujuan: mengajarkan kembali cara bertahan hidup. Hari itu, hutan hadir dalam sebuah pipa kuaci, menuntut usaha, kesabaran, dan cara berpikir yang berbeda pada setiap individual orangutan.

Bow memahami itu dengan caranya sendiri. Ia membawa pipa ke atas hammock berbentuk keranjang sebuah pilihan yang tampak sederhana, tetapi menyimpan strategi: agar kuaci yang jatuh tidak hilang ke lantai. Ia menghisap lubang-lubang pipa dan menggoyangkannya perlahan. Saat ruangnya terasa terlalu dekat dengan manusia, ia memberi batas mengusir dengan gerakan tangan. Enrichment, bagi Bow bukan hanya soal mendapatkan makanan, tetapi juga tentang menjaga ruangnya tetap utuh.

Di sisi lain, Ranking berhadapan dengan kesulitan yang sama, namun dengan pendekatan berbeda. Ia sempat mencoba mengambil dari yang lain, sebelum akhirnya kembali pada pipanya sendiri. Ia mengamati, mencoba menggunakan ranting, lalu mengubah strategi. Pipa itu diangkat ke atas kepala, digoyangkan, dan dibiarkan kuaci jatuh langsung ke mulutnya. Enrichment memaksanya berpindah dari satu cara ke cara lain, sebuah proses belajar yang tidak selalu mulus.

Tami memperlihatkan dinamika yang lain. Dalam jarak tertentu, ia antusias. Namun ketika batas itu berubah, ia memilik menjaga jarak. Enrichment menjadi ruang yang lebih aman baginya untuk terlibat. Ia aktif, dan menyelesaikan tantangannya dengan caranya sendiri tanpa tekanan, tanpa kedekatan yang belum siap ia terima.

Sementara itu, Noon menunjukkan bahwa ketenangan juga bagian dari strategi. Ia fokus pada pipanya sendiri, hingga gangguan datang. Saat itu, responsnya tegas suara dan gestur yang cukup untuk mempertahankan apa yang ia miliki. Setelahnya, ia kembali pada ritmenya: menghisap, menggoyangkan, menarik bagian-bagian kecil dari dalam pipa. Dalam waktu yang relatif singkat, hasil mulai terlihat. Namun proses tidak berhenti di sana, ia terus mencari, terus mencoba.

Berbeda lagi dengan Jay. Enrichment tidak segera menjadi prioritasnya. Ia menyapa, lebih dahulu, mendekat, sebelum kembali pada pipa yang tetap ia jaga. Dengan jari-jarinya, ia mencungkil kuaci dari lubang kecil, menggoyangkannya secukupnya. Tidak terburu-buru, tidak tergesa. Bahkan ketika sebagian hasil sudah di dapat, ia tetap melanjutkan seolah memahami bahwa prosesnya sama pentingnya dengan hasilnya.

Di dalam satu jenis enrichment yang sama, muncul banyak cara. Tidak ada satu metode yang diajarkan. Tidak ada instruksi yang diberikan. Hanya sebuah tantangan kecil yang membuka kemungkinan besar: berpikir, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Enrichment bekerja dengan cara itu menunda kemudahan, memperpanjang proses, dan menghadirkan kembali fragmen-fragmen kecil dari kehidupan di hutan. Di dalam pipa berisi kuaci itu, kita tidak hanya memberi makan. Kita sedang mengingatkan kembali bagaimana cara hidup di alam. (NAB)

LEVEL UP: BAGUS GOES TO BAWAN ISLAND

Setelah bertahun-tahun menjalani program rehabilitasi dan menjadi murid sekolah hutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Bagus, individu orangutan betina yang pernah menjadi peliharaan ilegal dan sangat dekat dengan manusia, akhirnya naik level dengan pindah ke pulau pra-pelepasliaran di pulau Bawan. Kini Bagus semakin siap untuk kembali ke alam liar.

Di hari-hari pertamanya di pulau, Bagus tampak aktif mengekspor area hulu hingga tengah pulau, asyik memanjat dan bergelantungan di pepohonan rimbun, serta mencari pakan alami. Di sela-sela eksplorasinya, Bagus sesekali terlihat diam, seolah sedang merenung.
“Dia pasti kesepian dan bingung. Mungkin dia berpikir, Ini aku lagi sekolah hutan, tapi koq gak ada teman-teman yang lain” Koq gak ada yang panggil-panggil lagi untuk pulang ke kandang?”, ujar Ara, biologis COP yang ditugaskan untuk mengamati perkembangan Bagus selama minggu pertamanya di pulau.

Terkenal dengan sifatnya yang manja, saat tim monitoring datang untuk memberi pakan harian, Bagus buru-buru mendekat sambil mengeluarkan suara merengek, “I… i… i…”, sebagai tanda indin dipwluk dan digendong. Namun tim segera menjaga jarak agar Bagus belajar untuk lebih mandiri. Di hari-hari berikutnya, Bagus mulai mengerti dan tidak lagi mendekat sambil merengek.

Sempat diterpa hujan deras, Bagus tampak belum mampu memilih tempat untuk berteduh. Begitu pula ketika malam tiba, Bagus memilih tidur sambil memeluk batang pohon tanpa membuat sarang.

“Bagus tidurnya kayak panda.”, kata Ara.

Kemampuan membuat sarang merupakan salah satu indikator penting kesiapan individual orangutan untuk dilepasliarkan. Dilihat dari kebiasaan Bagus selama di BORA, Bagus sebenarnya cukup terampil membuat sarang, hanya saja ia melakukannya di tanah dan di lantai kandang, bukan di atas pohon.

“Gak apa-apa, nanti juga Bagus pelan-pelan belajar buat sarang di atas pohon”, sahut Amir, animal keeper yang telah mengenal Bagus sedari masuk BORA. Dia optimis, jika kini Bagus tidur tanpa sarang, jika saatnya perlu membuat sarang, Bagus tentu akan melakukannya.

Bagus masih memiliki waktu untuk terus mengasah keterampilan dan kemampuannya dalam bertahan hidup. Pelan tapi pasti, kami percaya Bagus akan berproses dan menunjukkan bahwa ia siap kembali ke habitat aslinya. And when the time comes, she will truly be the young, wild, and free orangutan she was meant to be! (SIN)

TAPIR MUDA DI ATAS PICK UP DALAM PESANAN

Bukan panda. Bukan pula hewan eksotis yang bisa dipelihara sesuka hati. Ia adalah Tapir Asia, satwa yang hidup diam-diam di hutan, berjalan pelan, dan lebih sering menghindar dari pada melawan. Tapi justru karena itu, ia menjadi korban.

Tubuhnya hitam putih, kontras, mudah dikenali. Banyak orang menyebutnya “Panda Asia”. Padahal ia tidak punya hubungan kekerabatan dengan panda yang ternyata sekeluarga dengan beruang. Ia lebih dekat dengan kuda dan badak. Moncongnya yang lentur seperti belali pendek digunakan untuk meraih daun, buah, dan tunas muda. Dalam ekosistem hutan, tapir bukan sekadar penghuni. Ia adalah penyebar biji yang membantu hutan tumbuh kembali, diam-diam, tanpa pernah meminta perhatian. Ironisnya keunikan ini menjadi hal yang dicari orang.

27 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, KPHL Pasaman Raya, bersama dengan Centre for Orangutan Protection menggagalkan transaksi ilegal satu individu tapir di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Tapir muda jantan ditemukan dalam kondisi hidup, namun terluka, terikat, dan terjebak dalam rantai perdagangan yang tidak pernah ia pilih.

Tim memulai operasi dan bergerak menuju Jorong Sungai Baluik, Nagari Muara Tais, Kecamatan Mapat Tunggul pada dini hari. Sebuah mobil pick up dihentikan dan ditemukan tersangka bersama seekor tapir yang terikat lemah dengan luka-luka. Dari keterangan pelaku, tapir itu akan dikirim ke Medan dengan tujuan “mini zoo”. Upah yang dijanjikan enam juta rupiah ditambah bonus jika sampai tujuan.

Pada kaki depan kiri dan kaki belakang kanan tapir terlihat bekas jeratan menganga. Tali yang melilit terlalu lama telah merobek kulitnya. Di bagian kepala, luka lain terlihat jelas. Ia tidak melawan, ia hanya bertahan. Kini, tapir dalam perawatan dokter hewan di BKSDA SKW 1 Bukittinggi. Pasalnya ini tidak hanya satu kali terjadi, dua peristiwa berbeda, satu pola yang sama yaitu satwa liar terus menjadi korban.

Beberapa minggu sebelumnya, dunia konservasi diguncang oleh kematian seekor gajah tanpa kepala di Riau. Umurnya 40 tahun. Dibunuh, dipotong, dan ditinggalkan. Tidak jauh dari sana, di Sumatra Barat, seekor tapir muda dijual untuk hiburan. Pengembangan kasus tersebut, dua pelaku lain berhasil diamankan yaitu sebagai seorang perantara dan pemburu yang menangkap tapir tersebut dari alam. Rantai perdagangan itu panjang. Dari hutan ke pemburu, dari pemburu ke perantara. Dari perantara ke pembeli. Semua bergerak karena satu hal yaitu permintaan.

Hukum sebenarnya sudah ada. Undang-undang tentang konservasi sumber daya alam hayati mengatur sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah. Tapi pada awal 2026, perubahan regulasi justru menghapus batas minimal hukuman. Artinya, pelaku bisa saja mendapat hukuman lebih ringan.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah hukum cukup kuat.

Tetapi, seberapa serius kita ingin melindungi yang satwa liar?

Tapir tidak akan protes. Ia tidak akan berbicara di pengadilan, tidak akan menuntut keadilan. Ia hanya akan kembali ke hutan jika ia selamat dan melanjutkan perannya sebagai penyebar kehidupan. Atau mati, tanpa benar-benar diketahui.

Perdagangan satwa liar bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia adalah cermin dari cara manusia memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dimiliki, diperjualbelikan, dan dikurung untuk hiburan. Dan selama cara pandang itu tidak berubah, akan selalu ada tapir lain yang menyusul (APE PROTECTOR)

HUJAN TAK MENGHENTIKAN LANGKAH UNTUK MEMBONGKAR KAMERA JEBAK DI SM BARUMUN

Langit di atas Suaka Margasatwa Barumun masih menyisakan mendung tebal. Hujan sempat turun, membasahi jalan setapak dan membuat tanah menjadi licin. Keberangkatan tim pun harus tertunda. Namun semangat tidak ikut reda.

Pada bulan lalu, Tim BBKSDA Sumatera Utara Resort Barumun III dan Centre for Orangutan Protection menuju desa Pasar Ipuh, kecamatan Ulu Barumun, kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara untuk membongkar tiga unit kamera jebak di dua titik berbeda dalam kawasan SM Barumun.

“Medannya pasti berat setelah hujan”, ujar salah satu anggota tim sambil mengencangkan tali tas punggung. “Yang penting data aman, kameranya kembali”, jawab yang lainnya. Perjalanan menuju titik pertama bukan tanpa tantangan. Jalur menjadi lebih licin, ranting-ranting basah dan beberapa bagian tanah berubah menjadi lumpur. Namun kamera-kamera yang dipasang sebelumnya telah menjalankan tugas pentingnya yaitu merekam pergerakan satwa liar dan mendokumentasikan aktivitas di dalam kawasan.

Kamera jebak bukan sekadar alat. Ia adalah “mata” yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam. Dari perangkat inilah tim dapat memantau keberadaan satwa, membaca pola pergerakan, hingga mendeteksi potensi ancaman terhadap kawasan konservasi.

Setibanya di lokasi pertama, tim segera membagi peran. Ada yang mendokumentasikan, ada yang memastikan titik koordinat, ada yang memeriksa kondisi perangkat sebelum dilepas. Kamera pertama pun berhasil dibongkar dengan aman. “Masih utuh. Semoga datanya lengkap”, ucap salah satu anggota tim sambil memasukkan perangkat ke dalam tas. Lokasi kedua menuntut tenaga ekstra. Jalur menanjak dan basah memperlambat langkah. Namun menjelang siang, dua unit kamera di titik tersebut berhasil diamankan.

Kegiatan ini bukan akhir, melainkan bagian dari rangkaian monitoring. Besok, tim akan kembali menyusuri hutan untuk membongkar enam unit kamera tambahan di tiga lokasi berbeda. Langkah-langkah di bawah rimbun hutan Barumun hari itu, mungkin tampak sederhana melepas perangkat dari batang pohon, mencatat koordinat, menyimpan memori. Namun dibaliknya ada kerja kolaboratif antara mitra lapangan dan pihak pengelola kawasan, ada komitmen untuk memastikan setiap data yang terkumpul dapat mendukung upaya perlindungan satwa dan habitatnya.

Hujan boleh saja turun. Jalur boleh saja licin. Tetapi upaya menjaga kawasan tidak pernah menunggu cuaca menjadi sempurna. Dari SM Barumun, kerja-kerja sunyi seperti ini terus berjalan perlahan, konsisten, dan penuh dedikasi. APE Patriot bersama para mitra di lapangan membuktikan bahwa perlindungan hutan bukan hanya tentang patroli dan penindakan, tetapi juga tentang memastikan setiap informasi terekam, setiap jejak terbaca, dan setiap langkah kecil membawa dampak besar bagi kelestarian alam. (UZI)

MUD, SLOPES, AND A SNAPPED ROPE

Fieldwork isn’t always about clean data and neat reports. Sometimes, it’s mud in your face, engines screaming on steep slopes, and figuring things out when everything falls apart. Recently, me and my partner spent a week assessing areas around coal mining sites and palm oil plantations. One motorcycle. Extreme muddy terrain. Brutal slopes. Not a single day without being completely covered in dirt.

On the very last day, our motorcycle broke down. Broken gear. Remote location. No signal. No tools. Just us and the silence of nowhere. After struggling to get reception, we finally reached the backup team who had just arrived from another town. With no proper equipment to fix the bike, we had improvised. Tied a rope from the car and towed the motorcycle 20 km to the nearest village.

Simple in theory. Terrifying in practice.

The road was full of potholes and steep descents. The car had to keep the perfect speed while the bike fought to stay balanced. Then gravity took over on a downhill stretch, the motorcycle almost slammed into the car. My partner braked, the rope tangled under the wheel, and snapped.

That moment was a reminder that fieldwork is never “just fieldwork”. It test your wit, resilience, and teamwork in real time. We slowed down, coordinated through walkie-talkie, and carefully finished the 20 km journey. Rough? Absolutely. Worth it? Every single time. (DIM)

KETIKA LAPANGAN MENGUJI KAMI

Kerja lapangan tidak selalu soal data rapi dan laporan yang tersusun manis. Beberapa waktu lalu, saya dan satu rekan kerja melakukan assesmen di sekitar area tambang batubara dan perkebunan sawit. Dengan satu motor, jalur berlumpur tanpa akhir dan tanjakan ekstrem yang setiap hari menguji keseimbangan dan kesabaran. Tidak ada satu hari pun, kami tidak dipenuhi debu dan lumpur. Sampai di hari terakhir, rasa lelah sudah terasa dan motor kami akhirnya menyerah. Gigi rusak. Lokasi terpencil. Sinyal nyaris tidak ada. Tanpa alat. Hanya kami dan kenyataan bahwa ini tidak akan mudah.

Setelah susah payah mencari sinyal, kami berhasil menghubungi Tim backup yang baru tiba dari kota lain. Tanpa peralatan yang memadai, kami harus berimprovisasi dengan mengikatkan tali dari mobil untuk menarik motor sejauh 20 kilometer ke desa terdekat. Terdengar sederhana. Kenyataannya tidak. Jalan penuh lubang dan turunan curam. Di salah satu turunan, motor melaju terlalu cepat mendekati mobil. Pengendara motor pun panik, menarik rem, dan tali sempat terlilit sebelum akhirnya putus. Dalam hitungan detik, kami sadar betapa cepat situasi bisa berubah menjadi berbahaya.

Momen ini jadi pengingat bahwa kerja lapangan bukan sekedar kerja lapangan. Ia menguji kecerdikan, ketahanan, dan kerja sama tim secara nyata. Setelah itu kami melaju lebih pelan, berkomunikasi lewat HT, dan akhirnya menyelesaikan 20 km itu dengan aman. Berat dan penuh tantangan? Selalu. Tapi justru di perjalanan seperti itulah kita belajar seberapa kuat sebenarnya tim kita. (DIM)