WHOEVER YOU ARE, LET’S JOIN COP SCHOOL BATCH 7

Halo! My name is Zahra and I am an employee of a private company in Jakarta. I am an alumni of COP School Batch 6 which was held last year. Since I was a kid, I have always loved animals. But since I do not have any background related to animal conservation, I thought all I can do was just watch animal planet, donate, and like and share some posts in social media.

I was wrong! Last year, I saw a facebook post about COP school, and I thought this was perfect for me. At first I was a bit scared. I did not know anybody in the program! I did not have background and experience related to animal conservation. I was completely new on this field. I also had to spend some time writing the pre-program tasks between works. But with determination, I managed to get picked as one of COP school student.

When I arrived at COP camp, I met new friends which were very open and welcome. COP school students had various backgrounds, age, and even nationality! All those differences did not stop us to feel like home.

During COP school, I learned and experienced a lot of new things: outside class (for example how to build tent, long march along with friends) and inside class. The classes were presented by experts from well-known animal and environmental conservation organizations. What a chance of a lifetime!
COP school was only for a few days, but it gives me a lot of things: new experiences, new knowledge, new friends, and the most important thing was a channel to get involved more about animal conservation, wherever you are, whatever your background is. For example, I can help with translating some COP activities articles for publication.

So whoever you are, as long as you have passion for animal conservation, let’s join COP school batch 7! (Zahra_Orangufriends)

SIAPA PUN KAMU, IKUT COP SCHOOL BATCH 7

Halo! Perkenalkan, namaku Zahra dan saat ini berprofesi sebagai karyawan di perusahaan swasta di Jakarta. Aku adalah siswa COP School Batch 6 yang diadakan tahun 2016 lalu. Sejak kecil aku punya kecintaan terhadap satwa. Tapi berhubung aku tidak punya latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan pelestarian satwa dan aku tinggal di Jakarta, aku sempat berpikir passion-ku terhadap pelestarian satwa tidak bisa disalurkan selain dengan nonton animal planet, berdonasi, atau like dan share post di media sosial.

Ternyata aku salah! Tahun lalu, aku lihat post di facebook tentang COP School, dan aku merasa ini adalah sarana yang tepat untuk aku. Memang awalnya agak takut, aku belum kenal siapa pun! Aku benar-benar baru di bidang ini.  Belum lagi ada tugas-tugas saat proses seleksi, yang membuat aku harus pintar-pintar membagi waktu dengan pekerjaan di kantor. Tapi, dengan tekad (dan nekad) aku maju terus dan ternyata berhasil lolos seleksi.

Ketika aku sampai di camp COP, aku langsung bertemu dengan teman teman baru yang sangat open dan welcome. Siswa COP School juga sangat beragam, berbagai background, umur, bahkan kewarganegaraan! Semua perbedaan tersebut tidak menghalangi kita untuk merasa seperti berada di rumah. Selama COP School berlangsung, aku mempelajari dan mengalami banyak hal baru, mulai dari hal di luar kelas (contohnya cara mendirikan tenda, long march bersama teman – teman), hingga materi yang disampaikan di kelas. Materi pun dibawakan langsung oleh ahli dari berbagai organisasi besar. Betul betul pengalaman sekali seumur hidup.

COP School memang hanya berlangsung beberapa hari, tapi bekal yang aku bawa pulang rasanya banyak sekali. Pengalaman baru, ilmu baru, teman-teman baru, dan yang terpenting adalah ruang yang tepat bagi setiap alumninya untuk membantu pelestarian satwa, dimanapun mereka berada dan apapun profesi mereka. Contohnya aku yang berprofesi sebagai karyawan swasta, bisa membantu pelestarian satwa melalui penerjemahan beberapa tulisan untuk publikasi kegiatan COP.

Jadi siapapun kamu, selama kamu punya passion untuk pelestarian satwa, ayo segera daftar ke COP School Batch 7.

SAYA DAYAK DAN IKUT COP SCHOOL

Saya dilahirkan di kota Sintang dan menjalani masa kecil di kampung Laung, Kapuas Hulu. Saya besar di kaki bukit Merangat dan mandi di sungai Batang Seberuang. Sejauh ini saya masih hafal bau getah karet yang menempel di punggung saat kami memikulnya dari kebun dan dibawa ke desa Seneban. Saya meninggalkan kampung Laung hanya supaya saya bisa menerjemahkan cover buku Sinar Dunia 32 lembar.

Perjalanan mengantarkan saya lebih dalam dan jauh ke dunia yang bahkan saya tidak pernah bayangkan. Semua dimulai dari taik/kotoran ayam di kandang yang jumlahnya 20 karung setiap hari yang saya ambil. Namun karena joroknya taik ayam saya dipercaya untuk membersihkan kandang orangutan setiap hari, alasannya sederhana karena saya tidak jijik dengan banyak macam jenis taik. Bersama taik-taik di kandang saya mulai belajar banyak hal, mulai dari penanganan orangutan, membangun kandang, sekolah hutan orangutan, hingga politik konservasi.

2011 masih berbekalkan kemampuan menangani permasalahan taik, saya mengikuti COP School Batch 1. Saya hanya berani duduk di pinggir ruangan karena memang tidak ada yang saya pahami selain taik di kandang dan hutan tempat saya tinggal dulu. Sampai saya menyadari bahwa hutan tempat saya tinggal sedang dihancurkan. Bermodalkan pengalaman tentang taik saya bersumpah akan menyelamatkan hutan yang sudah menyelamatkan saya sewaktu kecil melalui sebuah ladang yang menjadi beras, lewat sungai yang mengantarkan saya ke SD, melalui ikan lauk yang saya sukai, dan melalui karet yang membelikan buku dan baju sekolah saya.

Saya menjelajahi Borneo untuk menceritakan kepada siapa pun, bah orang dayak kita harus menyelamatkan roh hutan kita sebelum ia hilang bersama ekskavator perusahan. Saya mengabdikan hidup saya untuk masyarakat, hutan dan isinya karena saya masih orang DAYAK. Oleh karena itu saya berharap ada lebih banyak orang dayak bisa ikut COP School. Malu kita yang bilang penyelamatan hutan Kalimantan selalu orang Jawa. (NUS)

ORANGUFRIENDS YOGYA MERAMAIKAN ACICIS YOGYAKARTA

Ada puluhan LSM dengan fokus kemasyarakatan, pendidikan, anak dan satwa yang berada di kota Yogyakarta meramaikan Non Goverment Organization (NGO) Fair di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jumat siang.

Acara ini adalah usaha Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies untuk memperkenalkan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) kepada mahasiswa baru yang sedang melakukan studi di Indonesia terutama yang berasal dari beberapa negara seperti Australia, Selandia Baru, Inggris dan Belanda.

Selama tiga tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection bersama Orangufriends Yogyakarta secara rutin memenuhi undangan ACICIS untuk berpartisipasi. Acara yang berlangsung selama dua jam ini memberi kesempatan seluas-luasnya pada LSM untuk memperkenalkan kinerjanya dan para mahasiswa bebas memilih akan membantu di LSM yang cocok dengan dirinya. ACICIS berharap para mahasiswa tidak hanya menjalani studinya, tetapi juga bisa berkembang dan bergabung dengan LSM yang ada.

Terimakasih Orangufriends Yogya, Kharin, Shinta, Syaidar, Bukhori, Okto dan Zainuri yang telah membantu NGO Fair ini. (DAN)

BERANI DAN BANGGA BERSAMA COP SCHOOL

Nama saya Kharina Waty, Alumni COP School Batch 6. Di tahun 2015 saat membuka Facebook, muncul poster tentang COP School Batch 5. Ya… Saat itu, saya tertarik ikut COP School, tetapi baru ikut di COP School Batch 6 tahun lalu. Waktu itu yang terlintas dibenak saya adalah orangutan terancam punah dengan habitat yang benar-benar akan hilang. Seharusnyalah saya berada di depan untuk melawan kekejaman dan kejahatan satwa liar terutama orangutan, karena saya lahir dibesarkan di Pulau Kalimantan dan sekarang sedang kuliah di Yogyakarta.

Saya terbiasa memiliki satu kenalan saat ikut suatu acara, tetapi di COP School tahun lalu saya bertemu banyak teman baru. Menjadi siswa COP School adalah keberanian dan kebanggan tersendiri buat saya. Bagaimana tidak? Mayoritas siswa-siswi berasal dari luar Yogyakarta yang tak satu orang pun saya kenal. Memulai pertemanan dengan orang-orang baru, beradu argumen dan saling dukung yang bahkan watak aslinya masih kasat mata. Dalam waktu lima hari kami semua tersadar akan pentingnya menjaga satwa liar dan habitatnya dengan segala fakta dan data yang sudah kami ketahui.

COP School selesai dan masing-masing kota membawa rencana program kerja yang akan dilaksanakan 6 bulan ke depan. Rapat koordinasi teman-teman di Yogyakarta diselenggarakan beberapa hari kemudian untuk mematangkan rencana 6 bulan ke depan bersama Orangufriends Yogyakarta lainnya. Banyak kegiatan terlaksana seperti school visit, campus visit, fundraising, pameran Art for Orangutan, wildtrip, pameran Batik for Orangutan bahkan hal-hal di luar itu ikut kami laksanakan bersama Orangufriends lainnya.

Bagi yang beruntung punya banyak waktu akan ikut dalam Penugasan Mandiri bersama Orangufriends lain. Seperti yang pernah saya lakukan yaitu berkampanye tentang Justice Animal di Pengadilan Negeri Bantul, kampanye gabungan Senapan Angin dan penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Tentu saja saat belajar di COP School saya sudah mendapatkan materi berkampanye yang baik dan melakukan penangkapan bersama dengan aman.

Saya tidak akan pernah lupa operasi penangkapan pedagang satwa di Lamongan. Puji syukur, dalam tiga hari banyak hal saya pelajari termasuk kesabaran, rasa lelah, dan kebanggaan. Benar ada yang berkata, “Suatu hal yang dilakukan dengan perjuangan dan keikhlasan akan berbuah manis.”. Satu bayi lutung dan dua kukang berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal. Lutung dan kukang dibersihkan dan diberi buah-buahan, lalu diamankan di Polsek Lamongan.

Perjalanan masih menunggu untuk dua jenis satwa liar tersebut dimana akan diserahkan ke pusat rehabilitasi di Malang. Teman siswa COP School Batch 6 di kota lain berkegiatan dengan caranya masing-masing dan terus terhubung. Saya disini masih berproses bersama Orangufriends. Saya masih belajar dan mencari pengalaman, memantapkan hati menjadi seorang yang peduli akan satwa liar dan habitatnya.

Pelajaran ini tidak akan didapat jika usaha untuk belajar pun nol. Mencari dan berani terjun bersama aktivis lain menjadi keharusan, karena saat itulah kamu akan menemukan pembenaran atas apa yang kamu bela. Memulainya dari “pintu” COP School adalah jalan masuk terbaik. (Kharin_Orangufriends)

COP SCHOOL BATCH 7

“Indonesia memanggil anda untuk terlibat langsung dalam perlindungan satwa liar dan habitatnya. Di COP School kita akan belajar pengetahuan dan keterampilan dasar konservasi alam bersama para pakar dan praktisinya. Beasiswa tersedia bagi peserta yang lulus seleksi.”
10 – 16 Mei 2017, YOGYAKARTA, INDONESIA.
SIAPA SAJA YANG BOLEH IKUT ?
– Usia minimal 18 tahun, siap mengikuti seluruh sesi pelatihan
– Menghargai kesetaraan gender dan multikultur
– Bukan eksploitator satwa (pemburu, pedagang, dan hobi memelihara satwa liar).
– Membayar sebagian biaya pelatihan sebesar Rp 500.000,-. (makan, kaos, transportasi selama pelatihan). Tidak termasuk transportasi penjemputan.
BAGAIMANA CARA MENDAFTAR ?
– Formulir dan informasi di copschool@orangutan.id
– Pendaftaran 1 Februari s/d 10 Maret 2017.
– Pengumuman Calon Siswa yang diterima tanggal 11 Maret 2017.
– Calon Siswa yang tidak lolos seleksi, dana yang sudah ditransfer akan dikembalikan sebesar Rp 400.000,- dan terdaftar sebagai anggota Orangufriends dan mendapatkan kartu anggota dan newsletter.
#copschool7
SAVE THE ORANGUTAN FROM DELETE

SCHOOL VISIT PERTAMA DI TAHUN 2017

APE Crusader membuka tahun 2017 dengan kunjungan ke sekolah. Lewat kunjungan ke sekolah atau biasa disebut school visit, APE Crusader mengedukasi dan menyadartahukan siswa tentang satwa liar khususnya orangutan dan habitatnya. Tiga kelas Rekayasa Perangkat Lunak, Pemasaran dan Akutansi dari SMKN 1 Sampit, Kalimantan Tengah ini diajak untuk memahami kondisi lingkungan mereka. Orangutan dan hutan yang dalam kesehariannya berada dekat sekali dengan kehidupan mereka.

Pagi ini, siswa kelas XI dan XII diajak bermain tentang habitat. Koran bekas menjadi media, diumpamakan sebagai habitat ataupun hutan sebagai tempat tinggal satwa liar. Seiring waktu, habitat berkurang dan lembaran koran pun dilipat oleh pemateri. Semakin lama, semakin sempit dan kecil. Satu per satu siswa pun tidak kebahagian tempat dan terpaksa keluar dari permainan tersebut. “Seperti itulah hutan yang ada di sekitar kita, nasib orangutan dan satwa liar lainnya yang menghuni hutan tersebut terpaksa keluar, bahkan mati.”, ujar Septian, anggota baru dari tim APE Crusader.

Rasa ingin tahu para siswa mendorong mereka bertanya. Bagaimana dunia konservasi, habitat satwa liar, ancaman yang dihadapi orangutan sampai kenapa kita melindungi orangutan. Manusia butuh hutan dan hutan butuh satwa liar di dalamnya untuk terus meregenerasi, sehingga dapat terus produktif untuk keberlangsungan hidup peradaban manusia.

“Kami berharap pada kalian generasi penerus, untuk peduli akan habitat satwa liar, menjaga populasi dan ekosistem di dalamnya, agar anak cucu kita nanti dapat melihat langsung kehidupan alami satwa liar di habitat aslinya, bukan cerita kepunahannya. Ayo… kita SAVE the orangutan from DELETE!”, ajak Satria Wardhana, kapten APE Crusader. (PETz)

MUSIM KAWIN PREDATOR SUNGAI

Tiba-tiba seekor buaya bermoncong pendek menyerang pak Sahran (56 tahun) warga desa Hanaut, Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah pada 27 Desember 2016. Korban sempat terseret ke sungai dan segera dibawa ke Rumah Sakit Umum Murjani Sampit. Jari tengahnya terpaksa diamputasi akibat serangan buaya itu.

Kurun waktu 2013 – 2016 dari data yang ada, korban luka dan mati akibat serangan Buaya terjadi pada bulan Januari hingga Mei di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, data yang diperoleh dari Kepala Balai Konservasi dan Sumber daya Alam (BKSDA) Sampit Pak Muriansyah, total jumlah warga yang meninggal ada 5 orang dan 6 orang menderita luka serius. Dan rata-rata kejadian terjadi pada pagi hari dan sore menjelang malam. Ini adalah sebuah permasalahan yang sangat serius yang sedang dihadapi oleh BKSDA Sampit, terlebih lagi banyak yang angkat tangan dengan persoalan ini, seolah-olah ini adalah permasalahan yang harus di tanggung oleh BKSDA Sampit saja.

Dari olah lapangan, ada beberapa penyebab buaya menjadi ganas. Tim BKSDA Sampit memperkirakan habitat yang menjadi tempat satwa yang dilindungi yaitu Buaya telah rusak. Sumber makanan buaya di darat seperti babi, rusa dan lainnya menghilang. Ikan berkurang dikarenakan pencari ikan yang menyalahi aturan menangkap menggunakan zat kimia dan alat setrum diduga menyebabkan sungai Sampit tercemar. Sementara itu bulan Januari hingga Mei adalah musim dimana musim kawinnya predator sungai yaitu Buaya.

Upaya sudah dilakukan untuk meminimalisir korban dengan cara memasang papan peringatan daerah rawan Buaya dan masih perlu ada penambahan pemasangan papan peringatan, dilanjutkan dengan penyuluhan ke daerah rawan buaya. Pada rapat koordinasi bulan Mei tahun 2014 dari instansi daerah memutuskan kesepakatan untuk menanggapi serius permasalahan ini dikarenakan sudah banyak menelan korban jiwa berkaitan dengan satwa yang dilindungi. Beberapa solusi yang disepakati dalam rapat diantaranya menambah pemasangan papan peringatan, kemudin pemasangan jaring dipinggir sungai dan pembentukan tim khusus. BKSDA Sampit menyarankan untuk jangka panjang agar penyediaan air bersih untuk desa yang tinggal di tepi sungai Mentaya terutama untuk 3 Kecamatan (kecamatan mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut) sudah 2 tahun berlalu sampai sekarang hasil rapat tersebut belum menemui titik terang dari pihak pemerintah Provinsi. (PIL)

FOUR JAVAN LANGURS SAVED FROM TRADER

Seorang pedagang satwa liar tertangkap tangan dengan barang bukti 4 lutung jawa (Tranchypithecus auratus), 3 betina dan 1 jantan pada 6 Januari 2016 di depan stasiun Lawang, Jawa Timur. Operasi ini adalah operasi pertama di awal tahun 2017 bersama Gakkum Seksi II Jawa Timur dengan COP, Animals Indonesia. Orangufriends Malang membantu penanganan keempat lutung jawa tersebut. Perdagangan lewat media sosial terus berlanjut hingga awal tahun 2017. Kini pedagang (dengan nama akun facebook setan merah) sedang di proses hukum di polsek Lawang, Jawa Timur.

Suwarno dari Animals Indonesia, “Jawa Timur memang merupakan kantong-kantong satwa liar. Dapat dilihat dari kawasan konservasinya yang paling banyak dibandingkan provinsi lainnya. Sehingga perburuan liar banyak sekali dijumpai. Sementara itu, kelompok-kelompok yang menyatakan diri sebagai ‘pecinta satwa’ sudah semakin spesifik. Sehingga permintaan pada spesies tertentu seperti lutung jawa cukup tinggi.”

Center for Orangutan Protection sudah 5 tahun ini berperan aktif dalam setiap operasi bersama dengan pihak berwajib, baik itu kepolisian maupun kementrian kehutanan. Selama ini telah 26 kali operasi bersama dan 85 persen berakhir di hukuman penjara. Namun memang hukuman masih terlalu ringan sehingga tidak cukup membuat jera pelaku.

Ramadhani, dari Centre for Orangutan Protection, “Kami berharap Undang-undang No 5 tahun 1990 segera direvisi agar disesuaikan dengan kondisi saat ini, sehingga membuat efek jera bagi pelaku kejahatan.”

Penegakkan hukum di dunia satwa liar terasa semakin berat dengan kehadiran facebook maupun media sosial lainnya tanpa menerapkan security system atas kejahatan ini. “Facebook sebagai media sosial yang menjadi pasar dunia maya perdagangan satwa liar seharusnya segera menutup grup-grup pedagang bahkan ‘komunitas pecinta satwa liar’. Karena lewat facebook mereka saling bertemu dan bertransaksi secara bebas tanpa harus bertatap muka.”, tambah Ramadhani.

Untuk wawancara lebih lanjut, silahkan hubungi:

Ramadhani
Centre for Orangutan Protection
081349271904

Suwarno
Animals Indonesia
082233951221

TAHUN 2016 BERSAMA APE GUARDIAN

Pertengahan tahun 2016 adalah awal kiprah tim APE Guardian. APE yang merupakan singkatan dari Animal (Satwa), People (Masyarakat) dan Environment (Lingkungan) bergandengan dengan Guardian yang dapat diartikan sebagai malaikat pelindung orangutan. APE Guardian bekerja di Kalimantan Timur.

Satu bulan setibanya APE Guardian di Kalimantan Timur, langsung menyelamatkan orangutan Happi yang berasal dari Taman Nasional Kutai pada 29 Agustus 2016. Satu kawasan yang seharusnya cukup aman untuk induk dan bayi orangutan hidup. Namun Happi yang saat itu berusia 11 bulan tanpa induknya.

Sebulan setelah penyelamatan Happi, APE Guardian harus menyelamatkan bayi orangutan lagi. Kali ini masih berusia 8 minggu. Kami mnyebutnya bayi Popi, tanpa gigi dan sangat lemah. Bayi ini ditemukan warga di perkebunan sawit di desa Sempayau, kabupaten Kutai Timur, kalimantan Timur pada 20 September 2016.

“Dua bulan yang berat.”, begitu kata Eliz anggota tim yang baru bergabung. Emosi karena senang bisa menolong bercampur dengan sedih dan amarah melihat bayi yang harus terpisah dengan induknya ini. Di akhir November, APE Guardian terpaksa menyelamatkan orangutan Lana yang masih sangat liar. Lana pun tak berlama-lama singgah di COP Borneo, dan ditranslokasi ke Hutan Lindung Sungai Lesan pada 10 Desembernya.

APE Guardian adalah tim yang menangani proses pelepasliaran orangutan. 2017 adalah tahun kebebasan untuk orangutan-orangutan COP Borneo yang memenuhi syarat. Hidup di alam, adalah tempat terbaik bagi satwa liar. (YUN)

CATATAN APE CRUSADER TAHUN 2016

APE Crusader adalah tim gerak cepatnya COP yang berada di garis depan untuk perlindungan orangutan dan habitatnya. Sepanjang tahun 2016, APE Crusader menangani 16 orangutan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Selain itu kasus-kasus satwa liar lainnya seperti penemuan 18 tringgiling di Sampit, evakuasi Bekantan (monyet Belanda) dan mitigasi konflik dengan buaya juga menjadi catatan APE Crusader menutup tahun 2016.

Tahun 2016, APE Crusader harus menghadapi kematian 5 orangutan, termasuk di dalamnya kasus 3 orangutan di Bontang yang mati dalam kondisi terbakar. Kasus ini menarik dan menantang pihak kepolisian untuk melakukan proses penegakan hukum. Berawal dari postingan seseorang di Facebooknya, bahwa ada tiga orangutan yang mati. Proses ini berhasil membuktikan pelaku dengan sengaja membakar orangutan sehingga melakukan tindak kriminal terhadap satwa endemik asli Indonesia yang dilindungi oleh undang–undang ini. Terdakwa telah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 21 ayat (2) huruf a dan pasal 40 ayat (2) UU RI nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga terdakwa terjerat hukuman vonis penjara 1 tahun 6 bulan. Keberhasilan kasus ini tidak lepas dari dorongan orangufriends dan media.

Sementara itu kasus pemeliharaan orangutan ilegal dengan latar belakang rasa kasihan mendominasi. Sebagian besar orangutan tersebut adalah bayi. Sebagai contoh kepemilikan dan pemeliharaan illegal yang dilakukan oleh anggota TNI yang bertugas di Bontang. Menurut Pasal 40 ayat 2 UU No. 5 Tahun 1990, para pemelihara satwa dapat diancam dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) serta dikatagorikan sebagai tindak pidana kejahatan. Masih menjadi pertanyaan besar, bagaimana bayi-bayi orangutan tersebut sampai ke tangan manusia. Induk orangutan merawat anaknya hingga usia 6-8 tahun. “Dapat dipastikan, induknya mati.”, ujar Satria, kapten APE Crusader.

Seperti kasus orangutan Apung yang akhirnya berganti nama menjadi orangutan Bumi. Orangutan dengan tali pusar yang baru lepas ini diselamatkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Setiap kali tubuhnya diangkat dia menjerit kesakitan. Setelah dilakukan x-ray ditemukan peluru senapan angin di dadanya. Bayi orangutan berusia 2 minggu dengan peluru senapan angin di dadanya? Bagaimana nasib induknya?

APE Crusader bersyukur bisa memberikan kesempatan kedua bagi orangutan-orangutan yang bisa diselamatkan dalam kondisi hidup di tahun 2016. Namun juga harus mengatasi depresi yang mendalam saat menangani orangutan maupun satwa liar lainnya yang mati. Dan terus mencari jalan terbaik untuk orangutan-orangutan liar yang terjebak di hutan terfragmentasi akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit yang terjadi di PT AE, Kalimantan Timur. Dukungan anda semua adalah kekuatan tim ini untuk terus melakukan yang terbaik untuk orangutan dan habitatnya. (PET)