VIRAL KARYAWAN KEBUN BINATANG DENGAN ORANGUTAN

Belum lama sejak viralnya seorang pengunjung kebun binatang yang diserang orangutan karena diketahui bersama, ia terbukti salah dan sengaja membuat konten media sosial dengan melanggar peraturan yang ada yaitu mendekati kandang dan orangutan yang berada di dalam kandang menariknya.

Baru-baru ini terjadi lagi kasus yang sama. Kali ini terjadi di Serulingmas Zoo yang berada di Purbalingga, Jawa Tengah. Dalam video yang berdurasi kurang lebih 20 detik, nampak karyawan pria itu berjoget tiktok dan tidak memperdulikan keselamatan diri di depan kandang orangutan. Bahkan tak sekali tangan orangutan menjulur keluar dan memegangi badan maupun kepala karyawan tersebut.

Kasus seperti ini tidak hanya sekali terjadi di Kebun Binatang Serulingmas. Jika ditelusuri lewat akun jejaring sosial karyawan tersebut. Nampak beberapa unggahan yang memperlihatkan prilaku karyawan kebun binatang yang tidak aman ditujukan ke satwanya. Belum lagi dengan kasus perawat satwa yang meninggal karena diterkam harimau, juga satwa gajah meninggal tersengat arus listrik.

Hal tersebut dapat memberikan gambaran bahwa terdapat permasalahan manajemen kebun binatang yang tidak terselesaikan. Baik dalam edukasi karyawan hingga ke perawatan satwanya. Walaupun dalam kasus ini karyawan dan pihak Serulingmas Zoo sudah mengklarifikasi dengan meminta maaf, kesalahan ini segera dievaluasi menyeluruh agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti sebelum-sebelumnya. 

“Orangutan adalah satwa liar. Kami di pusat rehabilitasi saja selalu menjaga jarak sekalipun orangutan tersebut kami rawat sejak bayi. Karena kemampuan atau kekuatan orangutan tersebut bisa 5-8 kali kekuatan manusia terlatih pada usia tersebut. Mari bijak menjadi pengunjung dan tetap waspada pada satwa liar!”, himbau Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP. (SAT)

ADA APE SENTINEL DI SUMUT SELAMA SETAHUN INI

Waktu begitu cepat berlalu, ternyata tim termuda Centre for Orangutan Protection telah satu tahun ini berkantor di Medan, Sumatra Utara. “Kalau berkegiatan, COP sudah ada di pulau Sumatra sejak tahun 2011. Keberadaan COP di Sumatra diawali Sumatran Mission 2011 yang didukung para relawannya, menyusuri ujung Selatan pulau Sumatra hingga paling Barat membantu satwa yang membutuhkan pertolongan tak terkecuali yang berada di kebun binatang”, ujar Daniek Hendarto, direktur COP. 

Keberadaan Sumatran Rescue Alliance (SRA) sebagai Pusat Konservasi Orangutan dan Primata Lainnya serta Beruang melahirkan tim termuda yang disebut APE Sentinel. APE Sentinel mengawali perjalanan perdananya sejak menyeberang pulau Jawa. Di Lampung, APE Sentinel berhasil menyelamatkan satwa liar yang di perdagangkan. Awal yang luar biasa yang tentu saja didukung para relawan orangutan.

Setiap provinsi yang memiliki kebun binatang tak luput dari zoo check. Sebuah penilaian dengan dasar 5 kebebasan satwa yang membicarakan satwa liar harus sejahtera sekalipun di balik jeruji. Kebun Binatang Sawahlunto di masa pandemi COVID-19 mengalami kesulitan memberi makan satwanya. APE Sentinel hadir untuk membantu pemberian pakannya. Setiap minggu, para Orangufriends Padang membeli dan mengantarkan pakan untuk tiga orangutan di sana.

Perdagangan kulit trenggiling pun berhasil tim ini ungkap bersama organisasi lain di Sumatra. “Bekerja bersama adalah kunci dari konservasi. Pola kerja di Sumatra yang unik sedikit banyaknya membawa warna tersendiri untuk APE Sentinel. Tapi kami yakin, kita semua bekerja untuk satwa yang membutuhkan”, ungkap Daniek lagi.

Terimakasih Orangufriends di Sumatra yang telah mendukung penuh tim ini. Tim yang hanya beranggotakan tiga orang ini tidak akan mungkin bisa bekerja maksimal tanpa dukungan Orangufriends. Selanjutnya, apalagi ya kegiatan APE Sentinel? Cari tahu yuk!