Circus. An entertaining performance. Amusing. Making laugh. Inviting admiration. Have you ever asked how those animals can do such amazing attractions? How can an elephant stands on a beam with one leg? How can a lion pass through the circle of fire without getting hurt? How can an orangutan rides a bike? Not many do knows how a handler trains those animals to do such kind of circus attractions. Nobody know how a lion can pass through the circle of fire. We don’t know the process behind it.

Basically, a lion can never pass through a circle of fire in the forest. So does orangutan that can never ride a bike in the jungle. So, how do they do it? It’s because they are trained by the handler. These animals are trained to do what the handler wants them to do. Ride a bike, pass through a fire circle, sit on a beam with one leg, till perform a magic show. How does the handler train them?

Those animals are made hungry and scared. Believe it or not,, they made the animals hungry and scared so that they will do what the circus handler commands. The circus animals will not be fed before they carry out the orders from handler. If in a starving condition the animal still doesn’t want to do the order, they will make them afraid. Feared by being beaten by blunt object, kicked, pierced by sharp object, and so on. So in the end, the animal does the handler commands with hunger and fear. Very cruel.

Therefore, when we watch the circus attraction, we are watching the animals starve and fear. The animals do the attraction with pressure. With hunger and fear. And we who watch have supported all those cruel actions. Support the torture given by the handlers to these animals.

Several countries have issued regulation to ban circus attractions. Because they felt it is a cruel attraction to animals. When is Indonesia? Do we have the heart to watch the cruelty committed to animals? Do we have the heart to laugh when they feel the hunger and the fear? (SAR)

Sirkus. Tontonan yang menyenangkan. Menghibur. Membuat ketawa. Mengundang decak kagum. Pernahkah kita bertanya bagaimana hewan-hewan tersebut dapat melakukan atraksi sehebat itu?. Bagaimana seekor gajah dapat berdiri di atas sebuah balok dengan satu kaki?. Bagaimana seekor singa dapat melompat di lingkaran api dapat terluka sedikit pun? Bagaimana Orangutan dapat mengendarai sepeda dengan lincah?. Tak banyak yang tau apa yang terjadi di belakangnya. Tak ada yang tau bagaimana seekor pawang melatih hewan-hewan tersebut untuk melakukan aktraksi sirkus. Tak ada yang tau bagaimana seekor singa dapat melewati lingkaran api. Kita tak ada yang tau bagaimana proses di balik semua itu.

Pada dasarnya, seekor singa tidak akan pernah melewati lingkaran api di hutan. Begitu juga orangutan, dia tidak akan pernah mengendarai sepeda di hutan. Jadi, bagaimana mereka dapat melakukannya? Dilatih oleh pawang. Para hewan tersebut dilatih agar dapat melakukan apa yang diinginkan oleh para pawang tersebut. Mengendarai sepeda, melewati lingkaran api, duduk di atas balok dengan satu kaki, hingga melakukan atraksi sulap. Bagaimana cara pawang tersebut melatih hewan-hewan sirkus?

Para hewan tersebut dibuat lapar dan takut. Percaya atau tidak, hewan-hewan sirkus tersebut dibuat lapar dan takut agar dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para pawang sirkus. Para hewan sirkus tidak akan diberi makan sebelum mereka melakukan perintah dari pawang. Jika dalam kondisi lapar hewan tersebut masih tidak mau melakukan perintah dari pawang, maka hewan tersebut akan dibuat takut. Dibuat takut dengan cara dipukuli dengan benda tumpul, ditendang, ditusuk dengan benda tajam, dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya para hewan tersebut melakukan perintah pawang dengan rasa lapar dan takut. Sangat kejam.

Jadi ketika kita menonton aktraksi sirkus, maka kita sedang menonton para hewan tersebut kelaparan dan ketakutan. Para hewan tersebut melakukan atraksi dengan penuh tekanan. Dengan rasa lapar dan takut. Dan kita yang menonton telah mendukung semua tindakan tersebut. Mendukung siksaan yang diberikan para pawang kepada hewan-hewan tersebut.

Beberapa negara telah mengeluarkan peraturan untuk pelarangan atraksi sirkus. Karena mereka merasa itu adalah atraksi kekejaman untuk hewan. Indonesia kapan?. Apakah kita tega menonton kekejaman yang dilakukan untuk hewan?. Apakah kita tega tertawa diatas rasa lapar dan takut hewan-hewan tersebut? (RYN)


Sound for Orangutan charity music event is the sounds of wildlife, especially orangutans and their habitat. Since 2010 at MU Cafe, Sarinah, Central Jakarta, Shaggydog band is the first music group that sincerely campaign for orangutans through Centre for Orangutan Protection. Not only enthusiastically campaign through social media, they even didn’t hesitate to set aside the profit of the concert for orangutans.

Continued in 2012 at Rolling Stone Cafe, Jakarta then this activity became an annual crowdfunding event to support orangutans and their habitat protection, that this is shared responsibility not only in the hands a of government. Since that year, many musicians and artists had took their time to perform at the charity music event, Sound for Orangutan, like Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, and many more.

Sound for orangutan will be held for the 8th time with the theme of “Extinction is Forever”. the extinction of one animal species is a loss, both ecologically and its role in nature. Orangutans are great apes that an only found in the Asian continent and most of them are in Indonesia, precisely in Sumatera and Kalimantan island. Through musics, the orangutan protection campaign is spread out. The profit from this event will be donated to COP Borneo orangutan rehabilitation center, east kalimantan. The only rehabilitation center founded by Indonesian people. (SAR)

Acara Musik Amal Sound for Orangutan adalah suara satwa liar khususnya orangutan dan habitatnya. Sejak 2010 di MU Cafe, Sarinah, Jakarta Pusat, band Shaggydog adalah grup musik pertama yang berkampanye untuk orangutan lewat Centre for Orangutan Protection dengan tulus. Tak hanya rajin berkampanye lewat media sosial, mereka pun tak segan-segan menyisihkan keuntungan dari konsernya untuk orangutan.

Berlanjut di tahun 2012 di Rolling Stone Cafe, Jakarta hingga menjadi acara tahunan untuk menggalang dukungan publik terkait dukungan perlindungan orangutan dan habitatnya bahwa ini adalah tanggung jawab bersama bukan hanya di tangan pemerintah. Sejak tahun itu pula, para artis seperti Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, dan masih banyak lagi band indie yang menyempatkan diri tampil di acara musik amal Sound For Orangutan ini.

Sound For Orangutan akan digelar untuk kedelapan kalinya dengan tema “Extiction is Forever” atau kepunahan adalah selamanya. Kepunahan satu spesies satwa merupakan sebuah kerugian baik secara ekologi dan peran akan satwa liar tersebut di alam. Orangutan merupakan kera besar yang hanya bisa ditemukan di benua Asia dan mayoritas di Indonesia tepatnya di pulau Sumatera dan Kalimantan. Lewat musik, kampanye perlindungan orangutan disebarkan. Keuntungan dari penyelenggaraan musik amal ini akan disumbangkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan putra putri Indonesia.

Kamu pun bisa bantu orangutan Indonesia lewat pembelian kaos SFO Hijau. Hubungi SMS/ Whatsapp : 081293248403 harga berkisar Rp 100.000,00 sampai Rp 120.000,00 Pre-Order ditutup pada 25 Agustus 2018. Buruan!!!(NIK)


On Sunday, I paid a visit to SDN 3 Syamsudin NOOR, Banjar Baru, South Kalimantan, to commemorate world orangutan day that has been set on August 19th every year.  I got the chance to give a subject matter for 6th grade students which devided into 4 classes. Luckily, there was a friend who were willing to help me and two homeroom teachers. At 12.30 WITA sharp, 106 students enthusiastically run into the hall.

I was nervous, afraid that i could not delivered the material clearly. With the help of slides and video, I opened the session by describing what is Centre for Orangutan Protection. And then, the importance of preserving orangutan and the forest that is a habitat for various kind of wildlife, including Indonesian native plants that are already rare.

Beyond expectation, they listened very well. Question and answer session was something that made me stunned, because of their critical question. Even when the activity was over, many of them approached me to ask more about the topics. That I almost forgot about my nervousness.

Guessing game with pieces of  animal puzzles and some rewards in the form of snacks were the closing of today’s school visit. At 13.30 WITA all activities already ended. I am so grateful that everything was going smoothly and enthusiastically welcomed by the students, also got the positive support from the Principal. (Nurul_COPSchool8)

Senin ini, saya melakukan kunjungan ke SDN 3 Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan untuk memperingati hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus pada setiap tahunnya. Saya mendapat kesempatan memberikan materi untuk anak-anak kelas 6 yang terdiri dari 4 kelas. Beruntung ada seorang teman yang bersedia membantu saya dan 2 orang guru wali. Tepat pukul 12.30 WITA, ada 106 siswa yang berlarian memasuki aula dengan antusias.

Saya sempat gugup, takut tidak bisa menyampaikan materi dengan jelas. Dengan mengandalkan slide dan video, saya membuka pertemuan ini dengan menjelaskan apa itu Centre for Orangutan Protection. Selanjutnya pentingnya menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang merupakan habitat berbagai macam satwa liar termasuk tanaman-tanaman khas Indonesia yang sudah mulai langka.

Di luar ekspetasi saya, ternyata mereka menyimak dengan sangat baik, saat sesi tanya jawab menjadi sesuatu yang membuat saya tercengang karena pertanyaan mereka yang kritis. Bahkan saat kegiatan selesai, banyak dari mereka yang menghampiri saya untuk bertanya. Sampai lupa saya dengan kegugupan saya tadi.

Permainan tebak gambar dengan menggunakan potongan gambar dari beberapa satwa dan beberapa reward berupa snack menjadi penutup kegiatan school visit hari ini. Tepat pukul 13.30 WITA seluruh kegiatan berakhir. Saya sangat bersyukur, semua bisa berjalan dengan lancar dan disambut dengan antusias oleh para siswa serta mendapat dukungan postif dari Kapala Sekolah. (Nurul_COPSchool8)


Tropical rainforests are known for its high canopies and various kind of wildlife that coexist. Lesan River Protective Forest is one of them which located in Berau district. This forest which is rich in biodiversity that is a haven for flora and fauna life. Not less than 200 species of plants, 52 species of mamals, and 118 species of birds can be found here. 

The interesting thing about the Lesan River Protective Forest is the monitoring tower in the middle of the forest. This tower is approximately 40 meters tall and about 10 years old. Made from the Bangkirai woods and attached to Red Meranti tree as a support. This tower can be used to see the beauty of the canopies in Lesan River Protective Forest from above, to see how magnificent the giant trees that stand tall around the tower. Also, this tower can be used for monitoring activity.

Of course, it takes a lot of courage and braveness to climb the tower. If you lucky, you can also see orangutan nest from the top of the tower. To go to this monitoring tower, first you have to go to Lejak research camp, this camp can be reached approximately 1 hour from Lesan Dayak village using Katinting boat. This camp is right at the riverside of Lesan river. Compared to the large Kelay river, Lesan river is only 10-20 metres wide and there are large stones with diameter up to 5-10 metres. 

There are also small river rocks (gritstone) which fairly expanse that when the river recedes that wide expanse of gritstone will looks colorfull. Other than that, there will be some rapids with quite strong current found there and Katinting boat of visitors will be sunk due to the swift current and long rapids if it’s not an expert who steers the boat in the rainy season. 

After arriving at Lejak Research Camp, you have to continue your journey by walking in the middle of the jungle trees for approximately 1,5 hours to reach the monitoring tower. This walk will be decorated by quite steep incline and make you feel the fatigue in the first 30 minutes. But unfortunately, this tower has to be renovated because some of the woods has looked a little weathered. Hopefully, there will be renovations for this 40 meters tall tower. (SAR)

Hutan hujan tropis terkenal dengan kanopi yang tinggi dan berbagai macam satwa liar yang hidup berdampingan. Salah satunya adalah Hutan Lindung Sungai Lesan yang berada di kabupaten Berau. Hutan yang kaya akan keanekaragaman hayatinya ini, merupakan surga bagi kehidupan flora dan fauna unik dan langka. Tidak kurang dari 200 jenis tumbuhan, 52 jenis mamalia, dan 118 jenis burung dapat ditemukan di sini.

Hal yang menarik dari Hutan Lindung Sungai Lesan ialah Menara Pantau yang berada di tengah-tengah hutan. Menara ini menjulang setinggi 40 meter. Menara ini sudah berumur kurang lebih 10 tahun lamanya. Dibuat dari Kayu Bangkirai dan menempel dengan Pohon Meranti Merah sebagai penyangganya. Menara ini bisa digunakan untuk melihat keindahan kanopi di Hutan Lindung Sungai Lesan dari atas, betapa megahnya pohon-pohon raksasa yang berdiri di antara menara bisa kita lihat. Selain itu, menara ini juga digunakan untuk pengamatan.

Tentu saja dibutuhkan nyali dan keberanian untuk menaiki menara ini. Jika beruntung, kalian juga bisa melihat sarang orangutan dari atas menara. Untuk menuju ke Menara Pantau ini, kita harus menuju ke camp penelitian Lejak terlebih dahulu, camp ini bisa dicapai kurang lebih 1 jam dari kampung Lesan Dayak menggunakan perahu bermesin ketinting. Camp ini berada tepat di pinggir Sungai Lesan. Dibanding Sungai Kelay yang besar, Sungai Lesan lebarnya hanya sekitar 10-20 meter dan terdapat batu-batu besar berdiameter mencapai 5-10 meteran. Di pinggiran sungai ini juga tampak bebatuan kecil (kersik) yang menjadi hamparan yang lumayan luas, bahkan saat sungai surut hamparan kersik yang luas di sungai akan terlihat dengan aneka warna. Selain bebatuan yang besar dan kecil, dalam perjalanan ini juga akan ditemukan beberapa beberapa titik jeram dengan arus yang cukup deras, bahkan jika bukan ahlinya dan saat musim hujan di jeram ini tidak sedikit katinting pengunjung akan karam karena derasnya arus dan jeram yang panjang.

Setelah sampai di Camp Penelitian Lejak, kita diharuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki diantara pohon-pohon rimba selama kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke lokasi menara pantau. Perjalanan ini akan dihiasi dengan tanjakan yang sedikit curam dan bisa membuat kelelahan di 30 menit pertama. Namun sayangnya menara ini sudah saatnya untuk direnovasi, karena beberapa kayu nya Sudah terlihat sedikit lapuk. Semoga segera ada renovasi pada menara setinggi 40 meter ini.


Leci break the twigs and make noise when he find out there is a technician (people in charge of caring orangutan on the island of COP Borneo) who come to bring the food. That is the way little Leci shows his territory.

On the pre-release island, Leci is the smallest orangutan among the others. But, in terms of ability and intelligence, Leci dares to be aligned with Novi the orangutan who is much bigger than him.

It has been a week since Leci moved to the pre-release island, after five months stayed in quarantine cage. He does not lose his natural instincts such as foraging and making nest. “In the past, Leci often slept on other orangutan nest, but now Leci has dared to sleep on his own nest and the nest is usually still close to other orangutan nests.”, said Idham, monitoring post technician of COP Borneo orangutan island. (SAR)

Leci mematah-matahkan ranting dan mengeluarkan suara saat mengetahui ada teknisi (orang yang bertugas merawat orangutan di pulau orangutan COP Borneo) yang datang membawa buah. Itu adalah cara Leci kecil menunjukkan wilayah teritorialnya.

Di pulau pra-rilis, Leci memang orangutan yang paling kecil diantara yang lainnya. Tetapi dari segi kemampuan dan kepintaran, Leci berani disejajarkan dengan orangutan Novi yang jauh lebih besar darinya.

Sudah seminggu Leci di pulau pra-rilis, setelah lima bulan di kandang karantina. Dia tidak kehilangan naluri alaminya seperti mencari makan dan juga membuat sarang untuk istirahat. “Kalau dulu Leci sering menumpang tidur di sarang orangutan yang lain, kini Leci sudah berani tidur sendiri di sarangnya dan biasanya sarangnya masih dekat dengan sarang orangutan lainnya.”, ujar Idham, teknisi pos pantau pulau orangutan COP Borneo. (WET)


In 2003, Safari World, Bangkok, Thailand held a “Boxing Show” in their zoo. Boxing show is a boxing show using orangutan as the object. Besides boxing show, Safari World, Bangkok, Thailand, there are several zoos in Indonesia that still performs entertainment involving orangutan. The performance is held as a way to attract visitors.

Orangutan is one of the great apes in the world and only spread in Sumatera, Kalimantan, and some parts of Malaysia. Other great apes are found in Africa (Simpanse, Gorilla, and Bonobo). Futhermore, orangutan has DNA similarity with humans as great as 97%. Orangutan is also classified as critically endangered and protected animals by Indonesian government (IUCN). It is a pity to treat orangutan as an animal for human entertainment.

Departing from that matters, COP initiated an #OrangutanBukanMainan or #OrangutansAreNotToys campaign. COP thinks that orangutans should not be treated as entertainment objects, but as animals we should protect. Remembering its status is critically endangered and protected by law.

Some of developed countries has made a regulation to ban animals shows (circus), whether at zoos or other places. The aim is to protect these animals from being exploitation objects by various parties. The Indonesian government has not yet established any regulations to ban animal shows (circus). This is very unfortunate, we still lose at animal welfare with other countries. We still use animals as entertainment objects to gain money for certain parties benefit. Without knowing, indirectly, we who watch the show have supported animal exploitation carried out by various parties.

As a good citizen, let’s stop watching animals show and support the government to immediately make regulations that prohibit animal shows. Indeed, #OrangutansAreNotToys let them free living peacefully in the forest. Not in cages that are used for many people’s entertainment.(SAR)

Pada tahun 2003, Safari World, Bangkok, Thailand pernah menggelar “Boxing Show” di kebun binatang mereka. Boxing Show adalah pertunjukan olahraga tinju yang menggunakan orangutan sebagai obyeknya. Selain Boxing Show, Safari World, Bangkok Thailand juga mempertontonkan pertunjukan lainnya yang melibatkan orangutan. Tidak hanya Safari World, Bangkok, Thailand, di berbagai kebun binatang Indonesia, masih terdapat pertunjukan hiburan yang melibatkan orangutan. Pertunjukan itu digadang sebagai cara untuk menggaet pengunjung untuk datang ke Kebun Binatang tersebut.

Orangutan adalah salah satu kera besar yang terdapat di dunia dan hanya tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Malaysia. Kera besar lainnya terdapat di Afrika (Simpanse, Gorila, dan Bonobo). Selain itu, orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia hingga 97%. Orangutan juga diklasifikasikan sebagai hewan yang dilindungi pemerintah Indonesia dan terancam punah (IUCN). Sungguh sangat disayangkan, jika kita memperlakukan orangutan sebagai hewan untuk hiburan.

Berangkat dari hal tersebut, COP menggagas kampanye #OrangutanBukanMainan. COP merasa orangutan seharusnya tidak diperlakukan sebagai obyek pertunjukan, melainkan hewan yang seharusnya kita lindungi. Mengingat statusnya sudah terancam punah dan dilindungi oleh Undang-Undang.

Beberapa negara maju telah membuat peraturan untuk melarang pertunjukan satwa (sirkus), baik di kebun binatang atau tempat-tempat lainnya. Tujuannya adalah agar satwa-satwa tersebut tidak menjadi obyek eksploitasi oleh berbagai pihak. Pemerintah Indonesia hingga sekarang belum menetapkan peraturan untuk pelarangan penyelenggaraan pertunjukan satwa (sirkus). Hal ini sangat disayangkan, kita masih kalah dalam perlakukan yang baik terhadap hewan dengan negara lain. Kita masih menjadikan satwa untuk hiburan yang menarik pundi-pundi rupiah untuk keuntungan pihak tertentu. Tanpa kita sadari, secara tidak langsung, kita yang menonton pertunjukan tersebut telah mendukung eksploitasi satwa yang dilakukan oleh berbagai pihak.

Sebagai warga negara yang baik, mari kita berhenti menonton pertunjukan satwa dan mendukung pemerintah agar segera membuat peraturan yang melarang penyelenggaraan pertunjunkan satwa. Sejatinya #OrangutanBukanMainan, biarkan mereka bisa hidup bebas dengan tenang di hutan. Bukan di kandang yang menjadi hiburan bagi orang-orang. (RYN)


Centre for Orangutan Protection (COP) appreciates the Central Kalimantan Regional Police (Polda Kalteng) for the death of orangutan case. Determination of the two suspects carried out by Polda Kalteng for the death of orangutan named Baen found at PT. WSSL II subsidiary of Best Agro, Hanau district, Seruyan, right after 40 days of the case were found. Two suspects were charged under the Emergency Law until the DNA test result released.

Air guns or air riffles weapon are as dangerous as other guns. which can kill lives. Because of that, the use of air guns can be charged under Emergency Law No 12 of 1951 concerning registration and granting of ownership for firearms. ” This will be a big step for the campaign of Air Guns/ Air Riffles Terror that has been published for the past seven years. We are looking forward for strict actions against all parties who do not have permits and misuse the weapons. ” , said Ramadhani, manager of COP Orangutan and Habitat Protection.

The death of Baen orangutan which located in palm oil plantations is inseparable from the forest conversion. ” The death of orangutan in PT WSSL in the early July 2018 is not the first to happen. In September 2015, four carcasses of orangutans found at PT WSSL II palm oil plantation. Is this only a coincidence?”, asked Ramadhani again.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Habitat Protection Manager
Phone : 081349271904
Email :

Centre for Orangutan Protection (COP) mengapresiasi Polda Kalteng atas kasus kematian orangutan. Penetapan dua tersangka yang dilakukan Polda Kalimatan Tengah atas kematian orangutan bernama Baen yang ditemukan di PT. WSSL II anak perusahaan dari Best Agro, kecamatan Hanau, Seruyan tepat setelah 40 hari penemuan kasus tersebut. Dua tersangka dijerat dengan Undang-Undang Darurat hingga menunggu hasil DNA keluar.

Senjata jenis air gun atau senapan angin sama berbahaya dengan senjata api lainnya, yaitu dapat menghilangkan nyawa. Karena itu penyalahgunaan senapan angin dapat dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang pendaftaran dan pemberian izin kepemilikan senjata api. “Ini akan menjadi langkah besar untuk kampanye Teror Senapan Angin yang sejak tujuh tahun terakhir ini dipublikasikan. Tindakakan tegas terhadap semua pihak yang tidak memiliki izin dan menyalahgunakan senjata tersebut, sangat kami tunggu pelaksanaannya.”, kata Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Kematian orangutan Baen yang berada di lokasi perkebunan kelapa sawit tidak terlepas dari alih fungsi hutan. “Kematian orangutan di PT WSSL pada awal Juli 2018 bukanlah yang pertama terjadi. Pada September 2015, empat bangkai orangutan ditemukan di perkebunan kelapa sawit juga. Apakah ini sebuah kebetulan?”, tanya Ramadhani lagi.

Centre for Orangutan Protection
Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat
HP : 081349271904
Email :


Just like our kids who just got into school, there are times when they don’t want to separate from us. Woke up late, took a bath and had breakfast along with cries and in the end didn’t want to separate from you when you had arrived at the school gate. What a full of drama morning!

Popi, the orangutan baby is just like that. This morning after breakfast in the cage, Popi was carried out to the forest school. Oh no!!! She grasped even tighter when we arrived at the forest school. And her eye looks was… Who have the heart to force her to climb the trees?

It’s not too cold this morning, even the weather is at its best. But what can i do, Popi the orangutan baby who has been in orangutan rehabilitation center COP Borneo since her umbilical cord cut, doesn’t loosen her arms a bit. Popi had to lose her mother. Her mother subtitute is only her keeper who is currently held tight by her. (SAR)

Seperti anakmu yang baru saja masuk sekolah. Ada kalanya tidak ingin berpisah darimu. Bangun terlambat, mandi dan sarapan diselingi tangisan dan akhirnya tidak mau lepas darimu saat sudah tiba di gerbang sekolah. Pagi yang penuh drama!

Popi, bayi orangutan ini pun seperti itu. Pagi ini usai sarapan di kandang, Popi digendong untuk ke sekolah hutan. Oh tidak!!! Pelukannya semakin erat saat tiba di sekolah hutan. Dan tatapan matanya… Tegakah memaksanya untuk memanjat pohon?

Pagi ini tidak terlalu dingin, bahkan cuaca sedang enak-enaknya. Tapi apa daya, Popi, bayi orangutan yang sejak pupak tali pusarnya sudah berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini tak juga mengendurkan pelukannya. Popi harus kehilangan induknya. Induk penggantinya, ya si penjaganya yang saat ini dipeluknya dengan erat saat ini.

Peluk Popi yuk… dengan terus menyumbang. Popi sama seperti anak-anak kita, yang punya mimpi untuk kembali liar ke habitat aslinya.


OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) Workshop 2018 was held at Veterinary Faculty – University of Syiah Kuala in Banda Aceh. This year. drh. Flora represented COP Borneo orangutan rehabilitation center to attend the annual event that has been going on for 10 years.

One of the main concerns of the case studies on the third day were several cases of orangutans such as Melioidosis, Bronchioectasis, and other respiratory diseases also abscesses of teeth. Malioidosis itself is a disease that just got the attention in Indonesia. It is caused by Burkholderia pseudomallei bacteria which turns out to be endemic in Kalimantan. The bacteria lives beneath the ground during ground season, but can be found in surface water and soil when precipitation got intense.

This disease becomes pretty serious because there are no specific symptoms that follow (fever, loss of appetite, cough) however the mortality rate is high (2-3 days after initial symptoms are seen). Further research will be carried out to handle this disease. (SAR)

Workshop OVAG (Orangutan Veterinary Adisory Group) 2018 dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Tahun ini drh. Felisitas Flora Sambe mewakili pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo untuk menghadiri acara tahunan yang sudah berlangsung selama 10 tahun.

Salah satu yang menjadi perhatian utama studi kasus di hari ketiga adalah beberapa kasus pada orangutan seperti Melioidosis, Bronchioectasis dan penyakit pernafasan lain serta abses pada gigi. Malioidosis sendiri adalah suatu penyakit yang baru mendapat perhatian di Indonesia. Penyebabnya adalah bakteri Burkholderia pseudomallei yang ternyata endemik di pulau Kalimantan. Bakteri ini hidup di bawah permukaan tanah pada musim kemarau, akan tetapi dapat ditemukan dalam air permukaan dan lumpur saat curah hujan tinggi.

Penyakit ini menjadi cukup serius karena tidak ada gejala khas yang mengikuti (demam, hilang nafsu makan, batuk) akan tetapi tingkat kematian tinggi (2-3 hari setelah gejala awal terlihat). Untuk penanganannya masih akan dilakukan penelitian lebih lanjut. (FLO)


After being in quarantine cage for 5 months, the four orangutan release candidates are now back to the orangutan island. The return aims for the orangutan to get used to their natural characters before release. Those four candidates had gone through the last rehab process before return back to their original home, the rainforest of East Borneo.

Leci, Unyil, Untung, and Novi are the four lucky orangutans this year. “Transfering without anesthesia turned out to be quite difficult. These  four orangutans are already on wild stage, the animal keeper couldn’t avoid getting bitten by orangutan and got injured.”, said Rian Winardi, vet of COP.

Transportation from quarantine cage to the island was taken for 1 hour. This time the transfer was done very carefully so that the orangutans wouldn’t got stressed during the trip. As they came to the island,  and shortly after transportation cage was opened, the orangutans immediately ran towards the nearest trees. “That was a happy moment, looking at the orangutans climbing trees of their choice, in orangutan sanctuary island.” (SAR)

Setelah berada di kandang karantina selama 5 bulan, kini keempat kandidat orangutan pelepasliaran dikembalikan ke pulau orangutan. Pengembalian ini untuk membiasakan kembali sifat alami orangutan sebelum dilepasliarkan. Keempat kandidat tersebut telah menjalani proses terakhir sebelum dikembalikan ke rumah aslinya, hutan hujan Kalimantan.

Leci, Unyil, Untung dan Novi adalah keempat orangutan yang beruntung tahun ini. “Pemindahan tanpa bius ini ternyata cukup sulit. Keempat orangutan ini sudah pada tahap liar, animal keeper tak luput dari gigitan orangutan dan mengalami luka-luka.”, ujar Rian Winardi, dokter hewan COP.

Transportasi dari kandang karantina ke pulau orangutan ditempuh selama satu jam. Pemindahan kali ini dilakukan dengan sangat hati-hati agar orangutan tidak mengalami stres selama perjalanan. Sesampai di pulau, dan sesaat setelah kandang transport dibuka, orangutan pun langsung berlari menuju pepohonan terdekat. “Itu adalah momen yang membahagiakan, melihat orangutan kembali memanjat pohon pilihannya, di pulau orangutan.”. (RYN)

Page 2 of 3123