February 2018

DILAN… YANG BERAT ITU ANGKAT PLAT BESI

“Bilang sama Dilan… yang berat bukan rindu, tapi angkat plat besi.”, ujar Wety Rupiana dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Demam film Indonesia berjudul Dilan 1990 tak hanya milik perkotaan saja. Tapi di dalam hutan hujan tropis Kalimantan, kata-kata mutiara film Dilan juga menjadi waktu jeda yang sangat menghibur.

Beratnya lebih 100 kg dengan panjang 240 cm tinggi 120 cm dengan ketebalan 3 mm. Bukan benda yang mudah untuk dibawa sendiri. Butuh minimal 2 orang dengan kerjasama tim yang baik untuk membawanya.

Membawa beban seberat itu di jalanan hutan sehabis hujan adalah ujian dari kesabaran. Harus pelan-pelan agar tidak terpleset. Sekali saja terjatuh, kulit akan tergores oleh besi dan tentunya perih sekali.

Namun jalanan becek bukanlah menjadi alasan untuk tidak membawa plat besi dari parkiran ke kandang. Beruntung jalan titian yang dibuat tim Angles dari With Compassion and Soul meringankan perjalanan ini. “Sayang titian belum menghubungkan hingga kandang karantina yang baru dibangun ini. Tapi titian ini sungguh sangat membantu.”, ujar Saifulloh atau bang Ipul yang menjadi relawan COP Borneo selama pembangunan kandang karantina ke-2 ini. (WET)

DIARY VOLUNTEER: PUSAT REHABILITASI MILIK ANAK NEGERI ITU BERNAMA COP BORNEO

Hari masih gelap meski pagi telah menjelang meninggalkan subuh, ketika lamat-lamat ku dengar suara tebasan demi tebasan datang dari arah gudang pakan memecah kehentingan belantara Hutan Penelitian Labanan pagi itu. Aku baru saja terjaga dari tidur indahku setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan dari Padang, Sumatera Barat. Camp COP Borneo! Bergegas aku menuju asal suara. Ya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur, aku bertekad untuk tidak melewatkan momen apapun terkait kegiatan operasional di satu-satunya Pusat Rehabilitasi Orangutan milik anak negeri alias 100% Indonesia ini.

Dengan takjub, aku menyaksikan sebuah pemandangan yang tidak biasa. Ditemani pelita yang masih menyala, Amir salah satu animal keeper sudah memulai aktivitas hari itu dalam keremangan pagi. Pagi ini dia bertugas menyiapkan makan pagi orangutan berisi nenas, pepaya, semangka, kedondong, pisang dan beberapa jenis sayuran hijau untuk 8 orangutan dewasa, 4 orangutan balita dan 1 bayi orangutan. Tak lupa tambahan susu untuk orangutan kecil dibuatkan oleh Herlina.

Sementara di sisi lain, si “Penguasa Dapur” yaitu Santi tengah sibuk berjibaku mengolah bahan makanan menjadi menu sarapan pagi untuk disantap oleh seluruh penghuni camp sebelum memulai pekerjaan hingga siang nanti. Sungguh terampil dia mengolah bahan makanan sederhada yang ada di persediaan logistik hingga menjadi makanan. Saatnya semua berkumpul… dan sarapan pagi bersama. Menikmati sarapan pertama dengan penuh kehangatan dan kekeluargaan di tempat paling eksotis di Indonesia. Ya, pedalaman Kalimantan. Camp penuh ukiran dayak pun terlihat semakin bersinar saat sinar matahari mencoba menerobos lebatnya dedaunan pohon besar, semakin artistik.

Hari benar-benar telah terang, sesuai daftar menu dan timbangan yang telah diberikan drh. Ryan, Amir dan Daniel akan menuju kandang orangutan. Steven dan Jevri menyalakan mesin pompa air untuk membersihkan kandang. Aku pun tak sabar lagi bertugas seperti mereka. (Novi_Orangufriends)

PALANGKARAYA: BANANA NOT BULLET

Sendiri bukan berarti menghalangi kita berkegiatan, begitu kata Diska, orangufriends dari Palangkaraya yang merupakan alumni COP School Batch 7. Hari ini sangat menyenangkan sekali. walau sempat hopeless karena kurang personil. “Tiba-tiba dihubungi Rumah Baca Bahijau dan mereka mau ikutan aksi Banana not Bullet.”, ujar Diska.

Ini adalah aksi serentak di hari kasih sayang bahwa ada 32 kasus orangutan dengan 769 peluru senapan angin yang tertanam di tubuh orangutan hingga Februari 2018 ini. Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru senapan angin di Kalimantan Timur adalah kasus terbaru dan peluru terbanyak yang menghujam orangutan. “Kebayangkan kalau tubuh kita dihujam peluru senapan angin sebanyak itu.”, jelas Diska lagi.

Tanggapan positif dari orang-orang yang menerima pisang dengan tulisan “Banana not Bullet”, sungguh menggembirakan. Malah tadei ada yang sempat bertanya tentang perkembangan kasus orangutan dengan 130 peluru tersebut. “Kaget, ternyata ada yang peduli loh. Banyak bahkan.”, tambah Diska lagi.

Berlokasi di Taman Pasuk Kameluh Palangkaraya, Kalimantan Tengah mulai pukul 20.00 WIB, Diska bersama teman-teman dari Rumah Baca Bahijau berkeliling membagikan pisang penuh makna ini, ajakan untuk semakin peduli pada Teror Senapan Angin.

SAMARINDA: BANANA NOT BULLET

This is how orangutan lovers celebrate Valentine’s Day! All of us in major cities across Indonesia today were giving away Bananas with slogan “Banana Not Bullet” to people on the street. It’s a peaceful campaign against the brutal killings of the Orangutans which has been increasing lately. (The latest one was an Orangutan which was shot 130 times with the same amount of bullets found lodged inside his body during the autopsy and the vets can’t take all of them out before they had to bury him, I can’t imagine the pain and the agony that he must have endured before he died) We want to give people awareness and to teach them to care a little more about our closest relative; the Orangutans. So our message as for today is “Shoot Bananas not Bullets, people!” And happy Valentine’s everybody! (Inggrid_Orangufriends)

KANDANG KARANTINA II HAMPIR SELESAI

Ini adalah minggu ke-3 pembangunan kandang karantina untuk empat orangutan yang akan dilepasliarkan ke habitat di tahun 2018. “Hari ini atap sudah terpasang.”, kata Ipul yang menjadi relawan pada pembangunan ini. Untuk menekan biaya pembangunan kandang karantina, COP Borneo mempekerjakan satu orang tukang dan dibantu relawan COP.

“Kami sangat menghargai dedikasi para relawan COP yang bersedia membantu pembangunan kandang karantina ini. Mereka rela jauh dari keluarga. Ditambah lagi di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini, tidak terdapat sinyal telepon apalagi internet.”, ujar Daniek Hendarto, manajer program Eks-Situ COP dengan haru.

Plat besi pemisah satu kandang-dengan kandang yang lain akan segera dilas. Pemasangan pintu kandang, pengecatan dan pemasangan instalasi air akan dilanjutkan minggu depan. Mari bantu pembangunan kandang karantina tahap dua ini lewat Kami masih membutuhkan dana untuk membuat jalan titian di depan kandang.

SAATNYA SENAPAN ANGIN DILARANG DI INDONESIA

Penyalahgunaan senjata senapan angin sudah semakin brutal dan tidak terkendali. Setidaknya 40 orangutan dan satwa lainnya yang tidak terhitung sudah menjadi korban di Kalimantan dan Sumatra. Meskipun sudah ada Peraturan Kapolri Nomor 8 tahun 2012 namun karena lemahnya kontrol maka penyalahgunaannya terus menyebabkan korban terus berjatuhan, termasuk satwa liar langka dan dilindungi di kawasan konservasi.

COP bersama 7 organsisasi perlindungan satwa liar mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk memperketat pengawasan peredaran dan penggunaan senapan angin yang secara umum menyalahi aturan jika merujuk Peraturan Kapolri Nomor 8 tahun 2012, ”Senapan angin hanya boleh digunakan untuk kegiatan olahraga menembak sasaran dan di lokasi yang sudah ada izinnya. Kepemilikan senapan angin harus ada izin dari Polda setempat dengan beberapa persyaratan.”

Selain Centre for Orangutan Protection, berikut ini organisasi – organisasi yang turut serta dalam kampanye ini:
1 Animals Indonesia
2 Borneo Orangutan Survival Foundation
3 Orangutan Information Centre.
4 Jakarta Animal Aid Network
5 Yayasan Jejak Pulang
6 Sumatera Orangutan Conservation Program
7 Orangutan Land Trust

Untuk informasi dan wawancara, harap menghubungi:
Hery Susanto
081284834363
hery@orangutan.id

BANANA, NOT BULLET

Centre for Orangutan Protection (COP) dari tahun 2004 hingga sekarang mencatat paling tidak ada 32 kasus orangutan yang bermasalah, dengan 769 peluru senapan angin. Data yang dihimpun dari beberapa lembaga yang menangani orangutan baik yang di Sumatera dan Kalimantan cukup mengkhawatirkan.

Perhatian dunia sekarang tertuju kepada Indonesia setelah ramai adanya kasus orangutan mati dengan 130 peluru senapan angin di Kalimantan Timur awal minggu lalu.

Banana, Not Bullet.

Kita kabarkan pada dunia kalau kita warga Negara Indonesia peduli dan bergerak. Bahwa orangutan membutuhkan kasih sayang (pisang/banana) bukannya peluru.

Tepat pada hari Rabu, 14 Pebruari 2018 yang bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, Orangufriends di beberapa kota di Indonesia seperti :

1. Jakarta,
2. Bandung,
3. Yogyakarta,
4. Malang,
5. Surabaya,
6. Karawang,
7. Padang,
8. Palangka Raya,
9. Samarinda,
10. Berau

Membagikan pisang kepada masyarakat umum sebagai simbol bahwa yang dibutuhkan orangutan adalah kasih sayang bukan peluru.

GTV HENTIKAN SIARAN PERANGKAP

Program Siaran “Perangkap” menuai kecaman dari para organisasi yang bergerak di bidang perlindungan satwa liar maupun perorangan. Stasiun televisi GTV dinilai dapat memancing masyarakat untuk menangkap satwa liar yang dilindungi yang berada di alam. Hal tersebut bisa merusak keseimbangan ekosistem di suatu kawasan.

Hery Susanto, koordinator Anti Wildlife Crime mengingatkan efek negatif dari acara tersebut. “Kami memohon Komite Penyiaran Indonesia (KPI) untuk memberikan teguran kepada stasiun televisi GTV dan menarik acara tersebut dari peredaran televisi maupun media sosial GTV.”, ujar Hery dengan tegas.

Senin, 12 Februari 2018 Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI Pusat) mengadakan Mediasi antara Centre for Orangutan Protection dengan GTV terkait program siaran “Perangkap” yang dimaksud. Dihadapan COP dan organisasi lain, GTV mengakui kesalahannya dan sepakat tayangan “Perangkap” dihentikan.

COP menyampaikan terimakasih kepada para seluruh orangufriends (kelompok pendukung COP) yang telah menyampaikan informasi awal dan ikut peduli pada efek negatif tayangan yang tidak mendidik ini. Orangufriends… informasi kalian sangat berharga!

PRO 1 RRI, SELAMATKAN SATWA KALTIM

Berita kematian dua orangutan dalam kondisi yang mengenaskan di awal tahun 2018 ini semakin menarik perhatian masyarakat. Kedua orangutan dengan lokasi yang berbeda, satu di Kalimantan Tengah ditemukan dengan kondisi tanpa kepala dan mengapung di sungai Barito dan satu lagi ditemukan dalam kondisi yang sudah sangat lemah di embung, Taman Nasional Kutai. Persamaannya, kedua orangutan mati dengan peluru yang banyak di tubuhnya.

Pro 1 RRI yang berada di jalan M Yamin Samarinda mengundang COP dan BKSDA pagi tadi. Topik ajakan ‘Selamatkan Satwa Langka Kaltim’ menjadi sangat diperlukan untuk menyadarkan kita akan peran satwa liar di alam. Jumlah yang terus menerus menurun seiring dengan semakin sempitnya hutan sebagai rumah dan tempat hidup satwa liar menjadi persoalan yang tidak dapat dipisahkan.

Seperti kata pepatah Indian yang sangat terkenal yaitu, “Only when the last tree has died and the last river been poisoned and the last fish been caught will we realise we cannot eat money.”. Peran orangutan di hutan adalah si ahli reboisasi. Ratusan jenis tanaman hutan yang dimakannya, buah-buahan hutan yang dimakan lalu bijinya berserakan di lantai hutan merupakan bibit alami yang akan tumbuh. Perjalanan orangutan dari satu pohon ke pohon yang lain, membuka kanopi-kanopi agar cahaya matahari bisa menembus lantai hutan untuk membantu bibit-bibit alami ini tumbuh. Itu, adalah peran orangutan di alam.

BANJIR KOMENTAR ORANGUTAN DENGAN 130 PELURU

Ratusan komentar di Instagram orangutan_COP terkait orangutan yang gagal diselamatkan Centre for Orangutan Protection. Foto wajah orangutan dengan mata terluka menarik simpatik para pemilik akun instagram.

Seperti kata akun @shelypris ”min, adanya organisasi sudah memberi dampak positif, akan tetapi masih adanya korban dari kekejaman manusia terhadap binatang, terutama orangutan. Dan adanya kasus ini lalu di share, bagaimana publik harus menyikapinya? Dan apa harapannya? Sedangkan realita media sosial hanya sekedar melewatkan foto tragis satwa dilindungi, bahkan seharusnya memiliki hak yang sama dengan manusia. Apakah memang sangat sulit melindungi satwa liar apalagi yang hidup di alam bebas? Bahkan kita bisa bicara soal wilayah. Tapi itu panjang…”.

Komentar panjang ini membuat kami yang berhadapan langsung dengan korban menjadi terdiam. “Ini adalah kegagalan konservasi orangutan Indonesia.”, ujar Ramadhani, Manajer Perlindungan Habitat Orangutan COP.

Akun @melvoysitorus “Jadi gak usah heran ya kalo akhir-akhir ini alam sedang marah. Itu semua karna keserakahan manusia yang merusak alam dan memusnahkan penghuninya. Mau sampe kapan lagi Tuhan marah dan mengirimkan karmanya? Tolong banget lebih peduli dengan alam dan lebih menghargai makhluk hidup lainnya. Ingat kita hidup tidak sendiri, tapi ada makhluk hidup lain juga! Jangan serakah!”

Akun @goldenfleecethief “I have less and less faith in humanity each time I see a story like this. These beings are so magical, peaceful and majestic. To kill them is to kill ourselves.”

Kamu… dimana pun berada. Sebarkan berita orangutan yang mati dengan 130 peluru senapan angin di tubuhnya. Kepedulian kamu akan mendorong kita semua bekerja lebih teliti dan lebih keras lagi untuk mengungkap kasus kematian orangutan ini.

Page 3 of 512345