WATCH OUT FOR THE SNAKE

During forest school, the animal keepers must help baby orangutans to learn to behave like other orangutan in their natural habitat in the forest. Beside climbing and making nest, they also have to introduce the orangutan to the predators  in the wild. One of them that often seen and encountered is snakes.

Usually, animal keepers will bring a rubber snake toy to scare the orangutan who are lazy to climb up the trees. One of the target is Popi who usually lazy to climb high. Every time Popi wants to climb down, the animal keeper ready with the rubber snake in their hand and Popi will soon rush to flee and climb up again.

But after few days meet the snake, it looks like Popi was immune and no longer afraid to the rubber snake. Indeed orangutan are smart, they know which snake is real and which is the fake one. Maybe this time we have to use a new snake that can move and hiss so it looks more similar with the real snake.

Finally, the rubber snake toy which didn’t scary anymore is stored and hung just like that in the food storage. Even though the snake failed the orangutan, it always succeed to make every staff who worked in the storage jump and suprised. (LDS)

AWAS ADA ULAR

Selama sekolah hutan, para perawat satwa harus membantu orangutan-orangutan kecil untuk belajar berperilaku seperti orangutan lainnya yang hidup secara alami di hutan. Selain memanjat dan membuat sarang, mereka juga harus mengenalkan para orangutan dengan predator-predator di alam. Salah satunya yang sering ditemui adalah ular.

Biasanya para perawat satwa akan membawa ular mainan yang terbuat dari karet untuk menakut-nakuti para orangutan yang malas memanjat. Salah satunya yang sering menjadi target adalah Popi yang terkadang malas memanjat. Setiap kali Popi hendak turun dari pohon, perawat satwa sudah siap dengan ular di tangan dan Popi pun akan segera memanjat terbirit-birit kabur ke atas pohon.

Namun setelah beberapa hari selalu bertemu dengan ular karet itu, sepertinya Popi sudah kebal dan tidak takur lagi. Memang orangutan itu pintar, mereka bisa mengetahui mana ular yang asli dan mana yang palsu. Mungkin kali ini kami harus memakai mainan ular jenis baru yang bisa bergerak dan bersuara sehingga lebih mirip dengan aslinya. Adakah?

Akhirnya ular karet mainan yang sudah tidak menakutkan itu disimpan dan digantung begitu saja di gudang pakan. Meski sudah gagal menakuti para orangutan, ular mainan itu selalu berhasil membuat jantungan siapapun yang bertugas memotong buah di gudang pakan. (LDS)

SHARE STORIES AT ACICIS 2020

ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies) once again held the NGO Fair to accommodate the Australian students who wanted to look for internship or volunteering program while they stay in Indonesia. So, on February 13, 2020, at the corridor of Social and Politics Faculty of Gadjah Mada University (UGM), COP and other NGOs was invited to open a booth as a place to share our works as in previous years.

Not only participated by the Australian students, the NGO Fair also attract Indonesian students, especially the ones who were studying in UGM. There are enough students who interested with COP work. They just found out that Indonesia also have an NGO that focused in saving orangutan. Some of them also interested to join and participated in COP works by being a volunteer or an intern in COP office.

One student from Australia enthusiastically told us in Bahasa that he had once participated in an orangutan conservation program in Indonesia. He also said that he is so interested in conservation works. Some other student also supported us by buying our merchandise that we brought at that time.

Although the event didn’t last long, we glad that we can share some information with people from Indonesia and other countries. We are also grateful when we realize that there are still a lot of young people who interested and aware of the importance of protecting and saving orangutan in Indonesia. Through this event we hope that there will be more people who support and also became involved directly in the conservation works in Indonesia.

Thank you ACICIS for the opportunity given for us to share our story with our friends from Australia. See you again next year. 🙂 (LDS)

ADA CERITA DI ACICIS 2020

ACICIS (The Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies) kembali mengadakan kegiatan NGO Fair untuk mewadahi para mahasiswa dari Australia yang ingin melakukan magang atau menjadi sukarelawan selama berada di Indonesia. Pada 13 Februari 2020, bertempat di selasar FISIPOL UGM, COP kembali diundang untuk membuka stand dan berbagi informasi bersama dengan beberapa NGO atau LSM lainnya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tak hanya diikuti oleh para mahasiswa dari Australia, mahasiswa Indonesia terutama yang sedang berkuliah di UGM juga ikut meramaikan kegiatan ini. Cukup banyak mahasiswa dari ACICIS dan UGM yang tertarik pada kegiatan COP. Mereka baru mengetahui ada juga NGO terkait penyelamatan orangutan yang berasal dari Indonesia. Beberapa juga tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan COP dengan menjadi relawan ataupun melakukan magang di kantor COP.

Seorang pengunjung dari Australia juga dengan antusias bercerita menggunakan Bahasa Indonesia bahwa ia sebelumnya pernah mengikuti kegiatan konservasi orangutan. Ia mengatakan bahwa ia memang tertarik dan senang dengan kegiatan konservasi. Beberapa pengunjung lainnya juga turut mendukung dengan membeli merchandise-merchandise yang kami bawa saat itu.

Meski kegiatan tidak berlangsung lama, kami senang karena bisa berbagi informasi dengan orang-orang dari dalam ataupun luar negeri. Kami juga bersyukur karena ternyata masih ada anak-anak muda yang tertarik dan menyadari pentingnya usaha perlindungan serta penyelamatan orangutan di Indonesia. Kami harap melalui kegiatan ini semakin banyak orang yang mendukung dan juga mau ikut terlibat langsung dalam usaha konservasi di Indonesia. 

Terima kasih ACICIS atas kesempatan yang diberikan bagi kami untuk berbagi dengan teman-teman dari Australia. Sampai jumpa lagi tahun depan. 🙂 (LDS)

MEMO THE GREAT PITCHER OF COP BORNEO

One time when the animal keepers were on their holiday, we (the volunteers) were asked to help clean the septic tank in each cage area. One of the septic tank is placed right next to the Memo’s cage. With a curious mind, Memo watched the five of us with Flora as the vet took turns in digging and moving the dirt from the septic tank.

However, when we were busy with cleaning, suddenly we heard something.

“Duk…”

A red tomato rolled next to us. It turns out that Memo threw us with some left over fruits.

Indeed, Memo is famous as a great pitcher in COP Borneo. Some of us have tasted her sharp shot of tomatoes or eggplants. And we usually try to remind her not to threw away and waste her foods.

Memo is a clever orangutan, but unfortunately Memo can not be released to the wild because she has a history of Hepatitis B. That’s why she tried to do anything to amused herself and to reduce her boredom and curiosity.

Only this time it seemed that Memo was trying to attract our attention so we did not just pay attention to the almost empty septic tank but also play with her.

Okay Memo, please be patient, we will immediately pay attention to you after we finish clean the septic tank. (LDS)

MEMO SI PELEMPAR JITU DI COP BORNEO

Suatu kali ketika para perawat satwa sedang libur, kami para relawan diminta untuk membantu membersihkan septic tank di setiap area kandang. Salah satu septic tank berada tepat di samping kandang Memo. Dengan penasaran Memo memperhatikan kami berlima bersama drh. Flora yang sedang bergantian menggali dan memindahkan kotoran dari dalam septic tank.

Namun ketika sedang sibuk-sibuknya dan khusyuk membersihkan septic tank, tiba-tiba terdengar sebuah suara.

“Duk…”

Sebuah tomat merah menggelinding terjatuh di dekat kami. Ternyata Memo dengan isengnya melempari kami dengan buah-buah yang beum dimakannya.

Memang, Memo terkenal sebagai pelempar ulung. Beberapa dari kami sudah merasakan tomat atau terong lemparannya yang jitu. Dan kami sering kali berusaha mengingatkannya untuk tidak membuang-buang makanannya.

Memo adalah orangutan yang pintar, namun sayangnya Memo tidak dapat dilepasliarkan karena memiliki riwayat penyakit Hepatitis B. Oleh karena itu, berbagai cara ia lakukan untuk sekedar mengurangi rasa bosan dan penasarannya.

Hanya kali ini, sepertinya Memo memang berusaha menarik perhatian kami agar tidak hanya memperhatikan septic tank yang sudah hampir kosong itu dan bermain dengan dirinya.

Baiklah Memo, sabar ya… setelah selesai kami akan segera memperhatikan dirimu lagi. (LDS)

KOLA TAK BISA MEMBUKA MANGGIS

Pandangan pertamanya jatuh pada manggis. Namun… Kola membuangnya dan mengambil cempedak untuk dinikmati. Ternyata Kola tidak bisa membuka buah manggis. Kerasnya kulit manggis tanpa tahu cara membukanya tak cukup membuat penasaran orangutan repatriasi Thailand ini. Kola menyerah. 

Perawat satwa mendekati Kola sambil membawa manggis, menekan manggis dengan kedua tangannya. Kola berhenti memakan cempedaknya dan meletakkannya di bagian dalam kandang. Kola memperhatikan tangan perawat satwa dengan seksama dan menjulurkan tangannya. 

Jari telunjuknya mengutik bagian putih dari manggis. Kola memakannya dan… semua manggis bagiannya habis. Perawat satwa membukakan lagi manggis berikutnya. Kola menyukai manggis. Sampai Kola mencari sisa-sisa di kulit manggis yang baru saja dimakannya.

“Baiklah Kola, selanjutnya kamu harus bisa membuka manggis sendiri ya! Manggis ini termasuk buah hutan loh. Di hutan lebih banyak buah lainnya yang membutuhkan cara untuk menikmati buahnya. Jangan menyerah Kola!”. (WET)

DOLPHIN CIRCUS ARE STOPPED

So if you still see the publication about Dolphin Circus, let us know immediately. Because on February 6, 2020, dolphin display outside the Conservation Institution’s environment (Dolphin Circus) was stopped. The Director of Biodiversity Conservation has issued letter number S. 989/KKH/AJ/KSA.2/9/2018 dated September 10, 2018 concerning the Demonstration of this Animal.

Do you still remember the sympathetic actions of Malang Orangufriends in 2016? Rifqi, who is Cop School Batch 5, paints his body blue and acts as dolphin which forces humans to perform. This Stop the Dolphin Circus Demo held at Malang City Hall is a demand from Orangufriends to stop the circus or a demonstration around this mammal.

“Thank God, finally the dolphin display permit which expired, cannot be extended again and there will never be a dolphin tour again. Congratulations to the entire community, organisations and friends who have continued to fight for the ‘STOP CIRCUS SURROUNDING SPIRITS’. Director of KKH, you’re cool!”, said Daniek Hendarto, director of the Center Orangutan Protection.

The Center for Orangutan Protection believes that the Indonesian government’s move is getting better. Its natural wealth and contents are no longer underestimated, especially its wild animals. Let us guard with this police, for a better Indonesia. (LRS)

 

SIRKUS KELILING LUMBA-LUMBA DIHENTIKAN

Jadi kalau kamu masih melihat publikasi akan ada peragaan keliling atau juga sirkus keliling lumba-lumba, segera beritahu kami. Karena sejak tanggal 6 Februari 2020, peragaan lumba-lumba di luar lingkungan Lembaga Konservasi dihentikan. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati telah menerbitkan surat nomor S.989/KKH/AJ/KSA.2/9/2018 tertanggal 10 September 2018 perihal Peragaan Satwa Lumba-Lumba ini.

Masih ingat aksi simpatik dari Orangufriends Malang di tahun 2016 yang lalu? Rifqi yang merupakan COP School Batch 5 mengecat tubuhnya dengan warna biru dan berperan sebagai lumba-lumba yang memaksa manusia untuk beratraksi. Demo Stop Sirkus Lumba-Lumba yang digelar di Balaikota Malang ini merupakan tuntutan Orangufriends untuk menghentikan sirkus atau peragaan keliling satwa mamalia ini. 

“Syukurlah, akhirnya izin peragaan lumba-lumba yang berakhir masa berlakunya, tidak dapat diperpanjang kembali dan tidak akan pernah ada peragaan keliling lumba-lumba lagi. Selamat untuk seluruh masyarakat, organisasi dan orangufriends yang telah terus menerus memperjuangkan ‘STOP SIRKUS KELILING LUMBA-LUMBA’. Direktur KKH, anda keren!”, kata Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection. 

Centre for Orangutan Protection yakin, langkah pemerintah Indonesia semakin baik. Kekayaan alam dan isinya tidak lagi dipandang sebelah mata terutama satwa liarnya. Mari kita kawal bersama kebijakan ini, untuk Indonesia yang lebih baik.

EYANG WAS SENTENCED TO 1.5 YEARS IN PRISON

The Wonogiri City District Court sentenced 1.5 years to prison and a fine of IDR 15million to Eyang alias BH for being found guilty of trading wildlife. The trial for more than three months proved that BH was guilty of owning and trading part of a wildlife, namely the skin and head of a deer (Muntiacus muntjak).

Eyang himself was caught handed by the Gakkum team from KLHK assisted by the APE Warrior team from the Center for Orangutan Protection when they were going to make a sale and purchase transaction for the wildlife parts in the Baturetno area, Wonogiri in mid-October 2019. When the arrest was successfully secured evidence in the form of three skins and two deer heads. Eyang is a network of wildlife trade species of skin, heads, horns and other wildlife parts. the team had been monitoring his movements for around six months until finally being caught.

The deer itself is a wildlife protected by Law No. 5 of 1990 concerning Biodiversity and Ecosystems and is included in the Decree of the Ministry of Forestry and Environment No. 106 of 2018. (LRS)

 

EYANG DIHUKUM PENJARA 1,5 TAHUN

Pengadilan negeri kota Wonogiri menjatuhi hukuman penjara 1,5 tahun dan denda Rp 15.000.000,00 kepada Eyang alias BH karena terbukti bersalah memperdagangkan satwa dilindungi. Sidang peradilan selama kurang lebih tiga bulan ini membuktikan BH bersalah karena memiliki dan memperdagangkan bagian dari satwa dilindungi yaitu kulit dan kepala kijang (Muntiacus muntjak).

Eyang sendiri tertangkap tangan oleh tim Gakkum dari KLHK dibantu tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection ketika akan melakukan transaksi jual beli bagian satwa dilindungi tersebut di daerah Baturetno, Wonogiri pada pertengahan Oktober 2019 lalu. Ketika penangkapan berhasil diamankan barang bukti berupa tiga kulit dan dua kepala kijang. Eyang merupakan jaringan dari perdagangan satwa dilindungi spesiallis kulit, kepala, tanduk dan bagian satwa dilindungi lainnya. Tim sudah memantau pergerakan darinya sekitar selama enam bulan sampai akhirnya tertangkap. 

Kijang sendiri adalah satwa liar dilindungi oleh Undang-Undang No 5 tahun 1990 tentang Keanekaragam Hayati dan Ekosistemnya dan masuk daftar di Keputusan Kementian Kehutanan dan Lingkungan Hidup No 106 tahun 2018. (HER)

 

PERDAGANGAN SATWA LIAR MEMICU PENULARAN PENYAKIT

Munculnya virus Corona di kota Wuhan, Cina diyakini berasal dari satwa liar yang diperdagangkan dan dikonsumsi di kota tersebut. Sebelumnya juga ada virus Sars yang juga berasal dari satwa liar. Virus-virus ini menyerang manusia dikarenakan satwa-satwa liar ini, tidak pada tempatnya. Satwa-satwa liar tersebut tidak akan menularkan penyakit ke manusia kalau mereka tidak bersinggungan langsung dengan manusia karena fungsi mereka memang di alam, bukan di kandang rumah atau di meja makan sebagai lauk. 

Setiap satwa liar memiliki perannya masing-masing di alam. Ketika mereka diambil dari alam untuk diperdagangan dan dipelihara di kandang-kandang semput tentu saja mereka akan kehilangan perannya. Salah perlakuan dan stres di kandang akan memicu penyakit-penyakit berbahaya dari satwa liar tersebut yang selanjutnya dapat menularkan ke manusia.

Masih maraknya perdagangan satwa liar berarti kemungkinan penularan penyakit dari satwa liar ke manusia masih sangat mungkin terjadi. Penularan penyakit dari satwa liar tidak hanya melalui daging atau bagian satwa yang dikonsumsi, satwa liar yang dipelihara di rumah tanpa disadari juga bisa menularkan penyakit. TBC, hepatitis, herpes adalah beberapa contoh yang bisa ditularkan satwa liar yang dipelihara di rumah. Penularannya bisa melalui udara, sentuhan, ludah atau gigitan. Penularan penyakit ini tidak hanya dari satwa ke manusia, tapi bisa juga sebaliknya dari manusia ke satwa atau yang lebih dikenal dengan istilah zoonosis. (HER)

KOLA: A CEMPEDAK (Artocarpus integer) OR MANGOSTEEN?

Guess the mangosteen…does she laugh sweetly? This time we have a new fruit for Kola, a Thai repatriated orangutan. New fruit for Kola? Because for a month at the COP Borneo Rehabilitation Center in KHDTK Labanan, the only fruits she knew were bananas, pineapples, papayas, tomatoes and oranges. This time, we tried to introduce Cempedak and Mangosteen fruits for Kola.

From his first glance, it was seen that Kola glanced at the mangosteen more than Cempedak. Itself are seasonal local fruits. If it’s not time to bear fruits, so there is no fruit. However, after taking the mangosteen, Kola threw it away and took Cempedak.

“Suprised…Kola suddenly took a splash from the hands of the animal keeper on duty in quarantine cages.”, said Wety Rupiana. Kola brought the choke up, opening it with her big teeth and long fingers. Bananas are his favourite so far be ignored. While lying on his hammock…Kola sucked in Cempedak.(LRS)

 

KOLA: CEMPEDAK ATAU MANGGIS?

Tebak-tebak buah manggis… apakah dia tertawa manis? Kali ini kami punya buah baru untuk Kola, orangutan repatriasi Thailand. Buah baru untuk Kola? karena selama sebulan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, buah yang dikenalnya hanyalah pisang, nanas, pepaya, tomat dan jeruk. Kali ini, kami mencoba memperkenalkan buah Cempedak dan Manggis untuk Kola.

Dari pandangan pertamanya, terlihat Kola lebih melirik manggis dibandingkan cempedak. Manggis dan Cempedak sendiri adalah buah lokal musiman. Kalau tidak waktunya berbuah, ya buah itu tidak ada. Namun, setelah mengambil manggis, Kola membuangnya dan mengambil Cempedak.

“Kaget… Kola tiba-tiba saja mengambil cempedak dari tangan perawat satwa yang bertugas di kandang karantina.”, ujar Wety Rupiana. Kola membawa cempedak ke atas, membukanya dengan gigi-giginya yang besar dan jari-jarinya yang panjang. Pisang yang menjadi kesukaannya selama ini tidak dipedulikannya lagi. Sambil tiduran di hammock nya… Kola mengulum cempedak. (WET)

PENANGANAN SATWA SAAT BENCANA, PENTINGKAH?

Sebagai salah satu provinsi dengan potensi bencana yang cukup besar, khususnya bencana ekologi akibat buruknya pengelolaan sumber daya alam, sudah saatnya Sumatera Barat tak lagi hanya fokus pada penyelamatan manusia bila terjadi bencana. Tapi juga mulai memperhatikan penanganan satwa. Berkenaan dengan ini, dalam sesi berbagi di “Pelatihan Kader” tentang bagaimana mengoptimalkan peran MAPALA sebagai relawan yang diadakan oleh WALHI Sumbar bekerjasama dengan BPBD, Orangufriends Padang pun mencoba menginisiasi perlunya penanganan satwa saat terjadinya bencana. 

Novi Fani Rovika, Orangufriends Padang yang menjadi relawan untuk penanganan satwa di bencana gempa dan tsunami Palu, berbagi pengalaman tentang pentingnya penanganan satwa saat bencana terjadi. Centre for Orangutan Protection dalam setiap kesempatan ketika bencana terjadi, bersama orangufriends bekerja langsung di titik bencana terdampak letusan gunung Merapi-Jawa Tengah, gunung Sinabung-Sumatera Utara, gunung Kelud-Jawa Timur, gunung Agung-Bali, gempa Aceh, maupun tsunami Selat Sunda.

“Seperti ketika gunung Merapi meletus, masyarakat mengungsi dan untuk sementara tinggal di pengungsian. Namun mereka bisa dua atau tiga kali dalam sehari kembali ke rumahnya. Padahal zona rumahnya termasuk kawasan rawan bencana III, dimana tidak seorang pun diperbolehkan memasuki zona ini. Tapi karena warga tersebut masih meninggalkan ternaknya di atas, maka, warga tersebut akan bolak-balik memberi makan ternaknya. Inilah sebabnya, saat bencana, Centre for Orangutan Protection langsung turun menangani satwa yang terdampak. Ternak-ternak tersebut difasilitasi untuk turun ke tempat pengungsian ternah yang telah disediakan. Dan ini membutuhkan manajemn bencana satwa tersendiri. Semoga ini menjadi titik awal untuk Sumatera Barat dalam usaha siap tanggap bencana alam khusus satwa. (NOVI_OrangufriendsPadang)

CEMPEDAK (Artocarpus integer) MAKE ANNIE CONFUSION

Cempedak (Artocarpus integer) season is coming again. This fruit is an idol for orangutans at the COP Borneo Rehabilitation Center. The taste is sweet and also the fragrant smell is the main attraction for them.

In the market, Cempedak fruit has a price that is arguably higher than other fruits. Because this price is what makes us often miss this seasonal fruit. But…this time the price was a little shopper and there was a donation from good people through https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan . We immediately paid and put it in a sack of groceries to give to the orangutans at the Borneo Orangutan Rehabilitation Center.

Without chopping we took it to the forest school location. Initially we wanted to hide it from forest students, hoping they would find it. But it turns out that Annie’s sense of smell is very good, Annie trails the animal nuts who carries Cempedak in her basket and ignores her breakfast. Finally, we handed the basket of Cempedak to Linau, the animal keeper Annie feared. Successfully, Annie stayed away.

But not to stay away from Cempedak, but rather looking for ways to trim Linau. Annie spun around, climbed up, approacehed Linau then pulled away again, watching the surroundings so continuously. All her friends were quite while eating on a tree, only Annie looked very worried. The smell and taste of Cempedak really disturbed Annie’s mind. After struggling for fifteen minutes, Annie got her Cempedak coveted fruit without allowing her friend to taste 

Thank you for the donation… I am very happy to see Annie’s enjoying Cempedak, a seasonal fruit that is hard to come by. (LRS)

 

CEMPEDAK MEMBUAT ANNIE RISAU

Musim Cempedak datang lagi. Buah yang satu ini menjadi idola bagi para orangutan di Pusat Rehabilitasi COP Borneo. Rasanya yang manis dan juga baunya yang harum menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.

Di pasar, buah Cempedak memiliki harga yang bisa dibilang tinggi dibandingkan buah lainnya. Karena harganya ini lah yang membuat kami sering melewatkan buah musiman ini. Tapi… kali ini harganya sedikit lebih murah dan ada donasi dari orang baik melalui kitabisa.com Kami langsung membayar dan memasukkannya ke karung belanjaan untuk diberikan kepada orangutan-orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. 

Tanpa dipotong-potong kami membawanya ke lokasi sekolah hutan. Awalnya kami ingin menyembunyikannya dari para siswa sekolah hutan, dengan harapan mereka mencarinya. Namun ternyata indra penciuman Annie sangat bagus, Annie membuntuti perawat satwa yang membawa Cempedak di dalam keranjangnya dan mengabaikan makan paginya. Akhirnya, kami menyerahkan keranjang berisi Cempedak itu ke Linau, perawat satwa yang ditakuti Annie. Berhasil, Annie menjauh.

Tapi bukan untuk menjauhi Cempedak. melainkan mencari cara mengelabui Linau. Annie berputar, memanjat, mendekati Linau lalu menjauh lagi, mengamati sekeliling begitu terus menerus. Semua teman-temannya diam sambil makan di atas pohon, hanya Annie yang terlihat sangat risau. Bau dan rasa Cempedak benar-benar menganggu pikiran Annie. Setelah berjuang selama limabelas menit, Annie mendapatkan buah Cempedak incarannya tanpa memperbolehkan temannya untuk mencicipi. 

Terimakasih ya donasinya… bahagia sekali melihat Annie menikmati Cempedak, buah musiman yang sulit didapat. (WET)