HARI-HARI ORANGUTAN REPATRIASI BERADA DI SRA

Genap sudah 21 hari Raiking, Noon, Jay, dan Bow berada di SRA (Sumatran Rescue Alliance) di balik kandang karantina sejak tiba di tanah air pada 24 Desember 2025 lalu. Selama di SRA setiap satwa yang masuk karantina diamati, selain perilakunya ini penting juga untuk kesehatan satwanya ketika dikarantinakan. Oke pertama-tama kita mulai dari si Raiking.

Raiking, si kecil ber-cheekpad adalah orangutan yang paling aktif dan menjadi yang pertama terbangun, bukan karena “morning person” tapi ia terlihat dari awal sebagai pejantan alfa dikarenakan cheekpad-nya yang sudah tumbuh. Raiking selalu mengamati sekeliling sambil terkadang bermain dengan Noon (teman sekandangnya). Para perawat satwa mencatat bahwa Ranking menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, namun tetap tenang. Ia sudah mampu merangkai dedaunan dan ranting untuk menjadi sarang sederhana, sebuah perilaku alami yang menandakan insting liarnya masih terjaga dengan baik.

Teman sekandangnya si Noon sama seperti Raiking, bedanya Noon paling cerewet dan manja ketika jadwal makan dan pemberian susunya datang. Ia sering terlihat bermain dengan karung kain yang menjadi selimut tidurnya yang disediakan perawat sebagai enrichment. Noon dan Raiking dari awal sudah dapat beradaptasi terutama dari segi pakan yang saat ini mulai dirubah dari buah-buahan menjadi banyak sayur-mayur, hal ini menjadi baik ketika orangutan terbiasa memakan makanan yang tidak terasa manis dan matang, hal ini akan memudahkan mereka dikemudian hari ketika dilepasliarkan.

Jay, dikenal paling playful. Ia kerap bergelantungan, menjatuhkan buah dengan sengaja, lalu mengambilnya kembali sambil bermain. Para perawat satwa dan dokter hewan mencatat Jay memiliki response positif terhadap interaksi lingkungan dan perubahan pakan. Proses penyesuaian makanan sedang dilakukan secara bertahap, meskipun saat ini mereka masih diberikan susu untuk perkembangan tubuhnya tetapi tetap diberikan pakan berupa variasi buah, sayuran, dan dedaunan dan Jay dapat mengikuti seiring berjalannya waktu mencoba semua jenis pakan yang diberikan.

Sementara itu Bow, menunjukkan kepekaan yang tinggi meskipun terkadang tantrum tidak mau jauh dari Jay. Bow adalah orangutan karantina yang lebih sensitif dibandingkan yang lain, hal ini dimungkinkan diulurnya yang terbilang masih sangat muda seharusnya masih dalam lindungan dan gendongan sang induk, meskipun begitu Bow sering membuat sarang dan berlatih bergelantungan bersama Jay ketika perawat satwa dan dokter hewan tidak di dekat kandang. Hal ini memperlihatkan kemajuan signifikan. Bow kini mampu menyusun sarang kecil di malam hari dan memilih tempat tidur yang sama secara konsisten, sebuah tanda kenyamanan di lingkungan barunya.

Selama 21 hari ini, semuanya bekerja tanpa henti. Pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin, susu, dan kebutuhan pakannya diperhatikan secara seksama, pemantauan perilaku, serta penyesuaian pakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keempat orangutan menunjukkan perilaku yang sangat baik di kandang tidak ada tanda stres, agresivitas, maupun gangguan makan yang berarti.

Bagi Ranking, Noon, Jay, dan Bow, SRA bukalah akhir perjalanan, melainkan tempat belajar kembali menjadi orangutan seutuhnya. Setiap sarang yang mereka buat, setiap buah yang mereka kupas sendiri, dan setiap pagi yang mereka jalani dengan tenang adalah langkah kecil menuju satu tujuan besar, kembali ke hutan Sumatra, rumah sejati yang menanti mereka. (NAB)

DONASI UNTUK ORANGUTAN SRA DI KITABISA YUK

Saat ini ada 6 Orangutan Sumatra dan 1 Orangutan Tapanuli yang sedang berada di Sumatran Rescue Alliance, suatu pusat rehabilitasi orangutan di desa Bukit Mas, kecamatan Besitang, kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Badai Senyar menghantam pulau Sumatra bagian Utara yang melumpuhkan tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lokasi SRA yang berada di antara Aceh dan Sumut ini terkena banjir dan longsor yang merusak infrastruktur di SRA.

Ada enclosure orangutan Robert termasuk kandang tidur dan pagar listrik mengalami kerusakan. Selain pohon-pohon tumbang yang menimpa, lumpur juga membenamkan kandangnya. Untung saja tim SRA dengan sigap memindahkan Robert di waktu yang tepat. Robert terlihat kaget dan meringkuk di hammock setelah pemindahan dadakan tersebut.

Kodisi kabupaten Langkat yang terkena banjir membuat jalur darat terputus, bahkan selama tiga hari, akses jalan utama Medan ke Besitang terputus. Suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Listrik yang padam semakin memperburuk keadaan. Logistik tim maupun pakan satwa hanya bisa untuk esok hari.

Centre for Orangutan Protection meminta bantuan untuk SRA lewat galang dana di KITABISA.COM perbaikan besar untuk Robert dan beberapa fasilitas SRA yang masih dalam pendataan akan segera disampaikan. Terima kasih orang baik.

DURASI SEKOLAH HUTAN DI SRA BERTAMBAH

Musim hujan telah tiba, intensitas hujan lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. Orangutan Asto dan Asih tetap sekolah sebagai rutinitas harian agar mereka semakin terbiasa mandiri di alam liar. Harapannya mereka bisa mencari makan sendiri, membuat sarang, lebih pintar menghindari sesuatu yang membahayakan diri sendiri. Agar mereka lebih kreatif, lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Untuk mendukung secepat mungkin terjadinya tujuan-tujuan tersebut, maka durasi sekolah hutan harian diperpanjang. Sebelumnya durasi sekolah hutan hanya maksimal 4-6 jam sehari, sekarang durasi sekolah hutan dibuat 8 jam setiap harinya.

Pagi hari jam 08.00 WIB keeper membawa Asto dan Asih ke area sekolah hutan. Asto langsung berlari ke pohon terdekat untuk memanjat pohon, kemudian berkeliling di area sekolah hutan, berpindah dari pohon ke pohon untuk mencari makan. Selama sekolah hutan, Asto lebih senang berada di atas pohon. Bahkan hanya untuk menuju pintu keluar kandang, Asto akan memilih jalan melewati pohon ke pohon dibanding berjalan di atas tanah. Perilaku Asto berbaring terbalik dengan Asih yang lebih senang berjalan di atas tanah. Asih teramati sangat penasaran dan juga penuh akal kreatif. Asih sering mencoba kabur melewati pagar listrik. Asih pernah mencoba kabur melewati selokan, pernah mencoba kabur dengan merangkak di bawah kawat listrik dan bahkan pernah mencoba kabur dengan memanjat tiang-tiang pagar listrik.

Saat jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, Asto dan Asih akan bermain di sekitar pintu keluar. Namun dikarenakan durasi sekolah hutan lebih panjang dari biasanya, keeper tidak datang untuk menjemput. Asto dan Asih terlihat kebingungan dikarenakan tidak diajak pulang padahal biasanya jam segitu sudah balik ke kandang. Asto dan Asih kembali asyik bermain bersama dikarenakan belum dipanggil untuk pulang. Keduanya pun kembali beraktivitas. Asto naik ke atas pohon untuk beristirahat siang sambil makan di atas pohon, sementara Asih kembali mencari cara untuk kabur dari area sekolah hutan yang dibatasi pagar listrik. (RID)

HARI PERTAMA MAXIMUS SEKOLAH DI SRA

Maximus, itulah nama yang diberikan oleh orang-orang yang merawatku dengan baik termasuk memberi makan yang cukup dan menjaga kesehatan. Orang-orang yang memberikan ku kesempatan kedua untuk dapat kembali ke rumah (hutan alami) nantinya setelah aku siap untuk kembali.

Kurang lebih setahun, aku di kandang. Kata perawatku, aku akan kembali ke rumah saat umurku 8 atau 9 tahun tapi mungkin saja lebih cepat jika pertumbuhan dan perkembanganku baik. Sedangkan saat ini aku baru berumur 2,5 tahun. Bagaimana agar penilaian nya baik, aku harus mengikuti sekolah hutan dan rapor ku harus terus meningkat dan baik. Selama aku berada di sini, aku belum pernah ikut sekolah hutan.

Hari ini adalah hari pertama ku sekolah hutan. Aku sangat gugup karena akan mencoba hal baru, Aku ditemani oleh Agam agar aku tidak terlalu takut. Agam bisa menjadi guruku untuk belajar memanjat, mencari makan dan membuat sarang. Agam sudah terlebih dahulu menjalani sekolah hutan. Aku sangat akrab dengan Agam karena aku satu kandang dengan Agam.

Saat pertama kali aku keluar kandang dan dibawa oleh perawatku ke area sekolah hutan bersama dengan Agam. Aku sangat takut dan hanya bisa memeluk Agam. Saat diletakkan di pohon, aku melihat Agam langsung memanjat pohon untuk beraktivitas di atas pohon. Aku bergegas mengikuti Agam ke atas pohon. Aku masih kaku dalam hal memanjat pohon, berbeda dengan Agam yang sudah mahir memanjat dan berpindah pohon dari ranting ke ranting. Terkadang aku menangis karena posisi Agam yang jauh dari posisiku. Sesekali aku mencoba pisah dari Agam untuk mencoba menjelajah area sekolah hutan sendiri. Sesekali aku melihat lokasi Agam, hanya untuk memastikan Agam masih berada dalam jarak pandangku karena aku cukup panik jika tidak melihat keberadaan Agam.

Sekian dulu ceritaku hari ini, sampai jumpa di ceritaku selanjutnya. (RID)

PAKET DARI GOCOP UNTUK ORANGUTAN

Hari Senin adalah awal memulai minggu setelah libur, bagi sebagian orang, Senin adalah hari dimana kita harus menatap tanjakan terjal yang harus dilalui, bagi sebagain orang lainnya, Senin adalah semangat baru setelah melewati hari-hari yang melelahkan untuk lebih baik lagi. Hal ini juga terjadi pada Asto dan Asih.

Asto dan Asih, setiap pagi harus memulai sekolah hutan yang terik, melelahkan, dan juga menyenangkan. Tidak heran terkadang setelah waktu sekolah hutan selesai, keduanya beristirahat bahkan tidur siang di kandang. Biasanya mereka akan mendapatkan enrichment pakan. Untuk kami animal keeper nya, enrichment orangutan adalah enrichment untuk kami juga. Kali ini, karung akan diisi daun dan akar

“Pakeeetttt”, sesederhana itu idenya. Kerinduan suara pengiriman barang yang tidak mungkin sampai di Sumatran Rescue Alliance (SRA). Semua keeper langsung menuju dapur, menemukan karung berisi beras yang baru saja dibuka. “Kita pindahkan saja isinya”, ujar Ryan, animal keeper yang telah 2 tahun lebih mengurus orangutan di SRA.

Karung dicuci bersih berikut dedaunan dan kami potong kecil-kecil seolah kami sedang memasak pakan tersebut seperti dalam pengiriman paket “Makananmu sedang dalam proses masak”. Setelah pakan siap dan sudah terbungkus rapi di dalam dedaunan, lalu kami masukan ke dalam karung tadi “Makananmu sudah siap, menunggu kurir untuk mengirim paket ke alamut mu” (begitu status yang diterima Asto dan Asih jika mereka menggunakan gawai. Kami ikat ujung karung dengan akar dan kembali ada notifikasi “Kurir sedang mengirim paketmu, paket dalam perjalanan menuju rumahmu”, kami pun yang membuat enrichment ini sedikit tertawa. Lepas sudah lelah dengan canda gurau seperti ini.

Setibanya di depan kandang, respon yang kami terima dari Asto dan Asih adalah ucapan, “Terima kasih bang kurir, paketnya sampai”, hahaha canda kami. Asto dan Asih merespon aneh dengan enrichment ini, namun mereka langsung mengambil ‘paket’ tersebut. Asto dengan lihai melakukan unboxing paket. Tali akar yang mengikat karung dengan perlahan dibukanya. Berbeda dengan Asih yang terlihat tidak sabar. Asih menggigit dan merobek karung tersebut dari tengah-tengah, tidak seperti Asto yang membukanya perlahan, satu per satu hingga menemukan potongan buah di dalamnya. Hayo… siapa yang kalau terima paket seperti ini? Terima kasih telah menggunakan layanan GOCOP. (YAN-FAN-DIN-NAB)

MAKAN APA DI SEKOLAH HUTAN SRA

Ketika BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) menyebutkan bahwa area sekolah hutannya mengalami kelangkaan buah karena musim buah telah berlalu. Sumatran Rescue Alliance (SRA) berbeda, mengapa? Selain pepohonan yang kian menipis dan tumbang akibat aktivitas sekolah hutan Asto dan Asih, pepohonan di SRA tak lagi menghasilkan buah-buahan yang dapat memberikan asupan energi untuk Asto dan Asih, namun hal ini tidak membuat mereka menyerah. 

Asto dan Asih sering terlihat mengunyah dan mengemil beberapa jenis pakan yang dapat dijumpai di bagian bawah sekolah hutan. Seperti bunga-bungaan dan beberapa daun muda segar yang muncul usai minggu lalu dipetik oleh mereka. Asto juga terlihat memakan kulit pohon hingga menghisap kambiumnya. Jika sudah tak menemukan yang menarik lagi, dengan mengendap-endap Asto dan Asih sudah berada di tanah dan kabur ke area pulau yang sedang diistirahatkan. 

Aktivitas sekolah hutannya Asto Asih didominasi bermain bersama. Perawat satwa di SRA juga membantu pergerakan kedua orangutan ini dengan memasang tali yang menghubungkan satu pohon dengan pohon yang lain. Kondisi sekolah hutan di SRA bukanlah hutan primer seperti di BORA dan menjadi konsen tersendiri buat SRA untuk merimbunkan kembali kawasan tersebut agar bisa menyerupai hutan yang akan menjadi rumah berlatih untuk kedua orangutan tersebut. Yuk bantu Asto Asih dapatkan pohon! (BIL)

ENRICHMENT ORANGUTAN DARI BORA UNTUK SRA

Dua orang perawat satwa BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) membuatkan enrichment selang pemadam yang berisi potongan buah jambu sebanyak 30% dan 70% dedaunan ditambah dengan madu untuk orangutan di SRA (Sumatran Rescue Alliance). Pemberian enrichment ini untuk mengisi waktu luang Asto dan Asih di kandang ketika hujan lebat atau saat panas terik jika sekolah hutan ditiadakan.

Selang pemadam kebakaran menjadi pilihan wadah karena bahan yang kuat. Asto dan Asih berusaha menggapai enrichment bentuk baru ini. Aroma madu yang tercium dan menetes keluar selang secara alamiah membuat mereka menghisap-hisap ujung-ujung selang. Ketika sudah tidak ada lagi tetesan yang tersisa, keduanya mulai mencongkel dan menggigit enrichment tersebut.

Perilaku bertukar enrichment pun terjadi. Asih mengambil selang milik Asto, begitu pula sebaliknya. Keduanya bertukar enrichment yang tak mengeluarkan cairan lagi. Tapi keduanya menyadari, masih ada sesuatu di dalamnya. Berulang kali, mereka mengendus, menggigit, dan mencongkel ujung selang yang dijahit tali. Asto yang memiliki tubuh sedikit lebih besar mulai bertugas sebagai “penghancur” dan membesarkan lubang. Sementara Asih sebagai “penerus” nya, membuat lubang semakin besar agar seluruh isi enrichment berhasil dikeluarkan dan dinikmati.

Apakah mereka saling bekerja sama? Atau kah Asto selalu menjadi tempat meminta tolong Asih? Saatnyakah mereka berdua berpisah kandang agar bisa lebih mandiri? Ahmad Nabil kembali membuka catatan lama Asto dan Asih yang telah dua tahun menghuni pusat konservasi orangutan SRA yang berada di Besitang, Sumatra Utara ini. Sebagai biologist, perilaku keduanya terpantau dan menjadi evaluasi untuk program rehabilitasi orangutan tersebut. Program ini adalah usaha untuk merangsang perilaku alami dan kemampuan orangutan agar siap dilepasliarkan pada waktunya. (BIL)

SEGERA PULIH ORANGUTAN TAPANULI, KEMBALILAH SECEPATNYA

Satu orangutan dari Tapanuli Selatan masuk ke Sumatran Rescue Alliance (SRA). Orangutan berjenis kelamin betina ini memasuki usia dewasa namun sayang memiliki tubuh yang kurus. Kondisi malnutrisinya teramati menjadi penyebab tidak aktifnya dia selama diperjalanan bahkan di awal kehadirannya di SRA. Ini diperparah dengan diare yang dideritanya.

Orangutan Tapanuli adalah spesies orangutan baru, yang secara resmi dipublikasikan pada November 2017. Bahkan tim di SRA tak seorang pun pernah melihatnya secara langsung. “Sesungguhnya kami tidak pernah berharap ada orangutan tapanuli masuk pusat rehabilitasi kami. Ini membuat kami prihatin, apalagi melihat kondisinya yang malnutrisi serta stres”, ujar Ahmad Nabil, biologist SRA dengan sedih.

Pengamatan prilaku di awal kedatangan, orangutan terlihat berkeliling kandang dan berputar-putar cukup banyak. Sembari menggelantung, dia melakukan kiss squek cukup sering karena banyaknya orang yang memperhatikannya, hal ini membuat tim medis di SRA kesulitan saat melakukan treatment. Untungnya, orangutan tersebut memiliki nafsu makan yang mulai membaik. Tapi tidak dengan dedaunan dan jenis sayur yang tim berikan, dia bahkan tidak menyentuhnya. Buah-buahan saja yang dihabiskannya.

Penanganan konflik satwa liar memang menjadi perhatian utama tim APE Sentinal di Sumatra. “Dalam satu bulan ini saja, tim mendapatkan dua laporan konflik orangutan dan sempat menjadi viral di media sosial. Belum lagi laporan konflik dengan jenis satwa liar lainnya”, jelas Netu Damayanti dari tim APE Sentinel COP. Memasuki tahun ketiganya Centre for Orangutan Protection di Medan secara khusus, tim berharap kasus konflik satwa dan manusia tidak sampai berakibat fatal yang berujung pada kematian. (BIL)

ASTO DAN ASIH MENYADARI ANCAMAN

Kedua orangutan ini nyaris tak terpisahkan. Asto dan Asih, kedua orangutan anakan betina ini adalah orangutan yang diselamatkan tim APE Warrior dari kepemilikan ilegal di Jawa Tengah. Dua tahun menghuni pusat rehabilitasi orangutan SRA yang berada di Besitang, Sumatra Utara. Perjalanan keduanya penuh drama dan melelahkan. Kini keduanya memperoleh kesempatan mengasah kemampuannya untuk kembali ke alam. Apa saja kemampuan alami yang baru mereka kembangkan?

Di sela-sela mereka membuat sarang, sesekali Asto dan Asih bermain di pinggir area sekolah hutan yang berbatasan dengan area pulau orangutan. Entah mengepakkan air seperti sedang mengaduk hingga air tersebut keruh, meminumnya langsung, mencuci tangan, atau bermain-main dengan ikan yang berada di air tersebut. Asto dan Asih dengan suka ria bermain air sambil melepaskan dahaga mereka. 

Namun sesekali mereka terdiam seakan melihat sesuatu ke arah pulau orangutan. Keduanya terlihat waspada akan kedatangan sesorang atau waspada akan bahaya. Kejadian ini sering sekali. Karena penasaran, kami pun mengecek pulau orangutan dan menemukan jejak baru. “Bagus Asto dan Asih, kalian mengasah kewaspadaan pada predator tingkat tinggi di hutan Sumatra. Tapi ini membuat kami bergidik. Ternyata kami, Ryan sebagai perawat satwa, Nissa paramedis dan aku (biologist) tengah diintai si ‘nenek’. Seram!”. (BIL)

ASTO DAN ASIH BERLOMBA MEMBUAT SARANG YANG MENCEKAM

Jikalau kalian membaca judul cerita ini merupakan clickbait? tunggu dulu sampai akhir cerita. Beberapa hari ini, Asto dan Asih sedang banyak beraktifitas membuat sarang di area sekolah hutan. Ya, benar sekali. Asto dan Asih seperti sedang membuat perlombaan untuk membuat sarang terbanyak dan itulah pemenangnya (begitulah pikirku), mengapa? 

Saat Asto sedang sekolah hutan, terdapat enam sarang yang telah ia buat, itu pun terhitung sudah sarang yang telah dihancurkan oleh Asih. Ketika Asto sedang melakukan dan membuat sarang, Asih selalu menganggu dan tidak mau kalah, kalau bukan cuman Asto yang bisa membuat sarang. Yang jadi permasalahan adalah Asih tidak pernah berhasil membuat sarang di atas pohon satu pun, meski sudah belajar memperhatikan Asto bagaimana cara membuat sarang di posisi yang baik. Asih selalu kewalahan untuk membuat sarangnya itu kokoh, tapi bukan Asih kalau langsung menyerah. Akhirnya, Asih membawa dedaunan tersebut turun ke bawah untuk dijadikannya sarang di tanah yang merupakan satu di antara dua sarang yang Asih buat di area sekolah hutan. Memang terdengar lucu dan aneh jika orangutan membuat sarang di tanah, namun dengan begitu, Asih jadi tahu bagaimana sarang yang mungkin suatu hari akan ia gunakan. 

Khusus hari ini, Asto dan Asih tiba-tiba saja menghentikan aktivitas mereka. Keduanya diam dan memandang ke satu arah. Berulang kali, kami yang bertugas membawa keduanya ke area sekolah hutan pun mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan keduanya menghentikan kegiatannya. Asto memastikan  kembali sarangnya cukup kokoh dan Asih menumpang sarang itu saja. Usai sekolah hutan, tim pun mengecek lokasi yang membuat kedua orangutan waspada. Ada jejak satwa. (BIL)