Perjalanan menyusuri lingkar Suaka Margasatwa (SM) Barumun pada pertengahan November 2025 awalnya membawa satu misi besar yaitu melacak jejak orangutan yang diyakini bersembunyi di balik rimbunnya hutan Padang Lawas. Bersama tim gabungan COP dan BBKSDA Sumut, kami menyisir desa demi desa, mulai dari Pagaran Bira hingga Kecamatan Sosopan, membawa pertanyaan yang sama kepada warga. Namun, jawaban yang kami terima seragam yaitu gelengan kepala. Bagi masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan, orangutan tak ubahnya mitos yang tak pernah mewujud sepertinya hutan mereka riuh oleh lutung, owa, dan beruk, namun sunyi dari kehadiran orangutan.
Ironisnya, di tengah nihilnya jejak orangutan, kehadiran penguasa lain justru terasa begitu nyata. Di Kecamatan Barumun dan Barumun Baru, warga tidak berbicara tentang orangutan, melainkan tentang harimau sumatra yang kerap turun menyapa ladang hingga meninggalkan jejak di pemukiman. Yang mengagumkan, respons warga terhadap potensi konflik ini mematahkan stigma umum. Alih-alih membalas ancaman dengan jerat atau senapan, mereka memeluk kearifan lokal dengan menganggap harimau sebagai “Opung” atau leluhur penjaga. Gangguan satwa dimaknai sebagai teguran moral yang diselesaikan melalui ritual ziarah, doa, dan tabuhan gong pusaka yang merupakan sebuah potret harmoni langka dimana manusia memilih menunduk hormat daripada menantang alam.
Harapan untuk menemukan target utama kami, baru muncul setitik di ujung perjalanan, tepatnya di Desa Hapung pada Jumat 21 November 2025. Kepala desa setempat, Musriyadi yang juga merupakan seorang pencari madu menyatakan pernah melihat kawanan orangutan. Namun harapan itu segera terbentur realitas geografis seperti lokasi perjumpaannya berada jauh di perbatasan Sumatra Barat, bukan di pusat kawasan SM Barumun. Temuan ini sejalan dengan pantauan udara drone kami yang menyingkap wajah asli kawasan, hutan yang kini terjepit dan terkepung oleh ekspansi perkebunan sawit yang masif. Lanskap yang terfragmentasi ini membuat ruang gerak satwa arboreal seperti orangutan nyaris mustahil tersisa.
Misi empat hari ini akhirnya bermuara pada sebuah simpulan yang realistis sekaligus reflektif. Prediksi awal kami tentang populasi orangutan di SM Barumun memang meleset, namun kawasan ini terbukti masih menjadi benteng pertahanan terakhir bagi satwa kunci lain seperti harimau dan beruang madu. Kami pulang bukan hanya membawa data ekologis tentang habitat yang kian tergerus, tetapi juga pelajaran berharga dari warga desa tentang etika hidup berdampingan dengan alam. Barumun mungkin sepi dari orangutan, tetapi ia tetaplah hutan bernyawa, dijaga oleh mitos “Opung” di tengah desakan zaman yang terus menggerus. (Ndaru_Orangufriends)
